Belakangan Ini

You can’t expect someone to stay if all you’re giving them reason to leave

Sudah empat hari terakhir, aku tak lagi ceria. Enggan menyunggingkan senyum jenaka seperti biasanya. Bahkan untuk membalas pesan di bbm pun aku enggan. Entah rasa malas apa yang begitu dewa menggayut manja pada diriku yang semakin meragu. Ragu pada diri sendiri, ragu pada orang disekitarku, ragu pada setiap pilihan yang dihadapkan dengan ku.

Malam tak lagi menyenangkan untukku. Dimana biasanya aku akan senantiasa bergelut dengan dunia maya, bersenda gurau dengan kawan-kawan ibu jari  yang sama-sama mencintai dunia malam hanya karena kami para nocturnal. Namun aku memilih untuk menarik diri dari kebiasaan. Bahkan untuk berbagi cerita dengan si pemilik Keenan pun aku enggan, bahkan aku cenderung malas dan sinis.

Belakangan ini, tidurku tak lagi nyenyak. Mimpi tak lagi sedap, bahkan sepertinya mereka enggan merayap, menelusup, menjawil ku untuk bermain di dunia para peri mimpi. Ada apa denganku?

Aku mencoba mencari jawaban dari setiap jengkal resah yang bercokol mantap di hati. Aku mencoba mengakrabi rasa marah hanya ingin mengetahui apa titik sulut kemarahan itu sendiri, agar aku tahu bagaimana cara memadamkannya. Dan aku mencoba menyelami setiap rasa takut yang menghujam hatiku bertubi-tubi hingga limbung rasanya tiap kali aku ingin berdiri pada rasa berani.

“Kamu takut karena aku akan menikah?”

Sebuah pertanyaan yang tepat langsung memanah hatiku, menancapkan mata panahnya yang tajam, sampai menimbulkan sebuah pertanyaan lagi. “Apa iya aku takut akan pernikahan nya?” Di satu sisi mungkin itu benar, tapi ada hal lain yang lebih mengganggu daripada itu.

“atau kamu marah karena ia meninggalkanmu dan memiliih bahagia dengan kekasihnya?”

Satu pertanyaan lagi datang. Kini lebih menusuk, tepat di jantung. Tunggu, ini bukan pertanyaan. Ini lebih mirip dengan tuduhan! Aku tidak marah, entah pada siapa ia memilih bahagia. Aku hanya kecewa. Sangat kecewa, bukan karena bahagia itu harus bersamaku. Hanya cara nya saja yang membuatku menyayangkan semuanya. Ia seperti lupa bagaimana pernah terpuruk karena rasa dan memilih berlari bersamaku demi mengeringkan luka. Dan kini ia berlari bersama bahagianya tanpa pernah berpamitan atau sekedar meninggalkan pesan singkat untukku yang harus menelan pil pahit bernama ‘kenyataan’. Iya, aku tahu, ini semua pilihan. Dia sudah memilih bahagianya. Hanya tinggal aku yang harus menata ulang kembali semua rasa dan membersihkan serpihan kecewa yang masih menyisa.

Aku, dengan semua resah yang ditinggalkan, dengan semua tangis yang dicurahkan, dengan semua marah yang diluapkan, berusaha bertahan. Memilin satu-satu rasa itu dan menggantinya dengan sebuah bahagia yang manis, meski tipis tapi selalu menyelimuti hati ini dengan apik. Tak peduli apa yang telah ditinggalkan mereka, aku siap berjalan menuju bahagiaku. Merentangkan tangan selebar-lebarnya dan mendekapnya hangat tanpa pernah ragu. Tidak sekalipun!

Advertisements

2 thoughts on “Belakangan Ini

  1. mendaki gunung memang seru,,, tetapi memandangi keindahannya dari bukit yang jauh akan terasa spesial. kau tidak akan kehilangan gunungmu itu, kau hanya perlu menikmatinya dengan cara yang berbeda.. nona senja!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s