Senja di Ujung Kota

pendar jingga selalu meninggalkan jejak manis

Terlonjak senang  mendapati pendar warna jingga di ujung sana. Rona yang kian memerah bulat sempurna, tidak pernah kutemukan yang serupa di Jakarta. Hatiku seolah melompat berlari menujunya dan ingin mendekapnya erat agar petang tak segera menjemputnya. Aku memintamu memelankan aksi si panda, sahabat baikmu. Tapi sepertinya kau tak mengindahkan permintaanku kala itu.

Kamu tahu, kemana pun aku pergi, aku akan selalu  mencari senja. Senja yang berbeda di tiap kota yang kusinggahi. Dan pastinya senja itu akan memberikan cerita yang berbeda. Dimana aku menikmatinya, dengan siapa aku menghabiskan senja, tentu akan berbeda sensasinya.

Dan kini, disaat tujuh kali purnama telah terlewati agar aku dapat singgah sejenak di kota ini, kembali aku tidak bisa menangkap semburat jingga sang senja. Ia berlalu begitu saja. Karena memang waktu yang dimilikinya tidaklah banyak. Hanya hitungan menit yang menjepit detik hingga terhimpit. Aku berkejaran dengan petang yang ingin menelannya bulat-bulat tanpa sisa.

Sedangkan aku? Aku ingin menangkap senja dan mengabadikannya di dalam kotak mungil yang selalu kubawa kemanapun aku melangkah pergi. Berharap aku bisa menikmati senja kemanapun kaki kecilku melangkah, dimanapun senja kurindukan, atau ketika senja hilang tertelan awan hitam gembul yang berarak riang.

Atau mungkin ketika sebuah kenangan ingin kupanggil untuk sekedar menumpas rasa haus akan rindu yang berkepanjangan. Ya, itu alasan ku ingin menangkap senja dan menaruhnya dalam kotak mungilku.

Dan ketika senja sore itu tak bisa kutangkap, aku hanya bisa menatapnya lekat-lekat. Berusaha menyimpannya dalam benakku yang kian lama terkikis lupa yang kerap datang dengan kurang ajarnya. Kuharap senja ini tak juga ia makan dengan lahapnya. Setidaknya jangan sekarang!

Ada seuntai tipis damai yang menelusup ke dalam laci-laci hatiku yang sudah berselimut debu. Ia ibarat kemoceng rindu yang membersihkan semua laci kenangan yang enggan kubuka sejak dulu. Dan ia memilinnya dengan rapi sehingga tak ada alasanku tidak menyunggingkan senyum sore itu.

Aku berhasil merajut senja dalam ingatan. Menikmatinya dengan alat pemberian Tuhan ini ternyata lebih membuatku merasakan sejuknya damai dibandingkan aku harus melihatnya dalam bingkai berukuran 5×10 cm.

Aku tak menyesal tidak bisa menangkap senja, toh senja tidak akan pernah sama sejak Seno mengeratnya untuk diberikan kepada Alina. Dan aku tetap bersyukur karena senja kali ini aku menikmatinya bersama semilir angin yang selalu membisikkan senandung rindu setiap waktu.

Stasiun Tugu, Jogja, 27 Oktober 2012
Nona Senja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s