Saya Malu!

Berjalan dan memperhatikan setiap gerak gerik jemari seseorang di dunia maya memang menjadi candu yang sulit hilang sebagai kebiasaan. Dan tiap kali saya berperjalanan dan mampir ke ‘rumah-rumah’ mereka yang senang bermain dengan kata dan aksara, selalu membuat saya takjub dan tercenung.

Seperti pagi ini, saya berkubang di dalam kolam aksara seseorang yang membuat saya jatuh cinta,  sejak pertama. Bukan karena ia siapa, tapi karena ia mengubah semesta menjadi sangat hidup nyata hanya dengan merangkai kata-kata. Dan sekali lagi saya katakana, saya jatuh cinta!

Ia, dengan caranya berhasil memikat mata almond saya dan menjerat jemari ini untuk terus mengikuti jejaknya sampai habis tak tersisa. Saya tak ubahnya kerbau yang dicucuk hidungnya, menuruti setiap goresan kata yang tertoreh di dalam sarang laba-labanya.

Saya hanya berani menyapanya sekali, tanpa bisa berkata-kata lain lagi. Saya tak berani mengungkapkan apapun dihadapnya, takut yang keluar hanya muntahan menjijikan yang harus duduk sejajar dengan indahnya barisan kalimatnya yang tertata manis siap untuk disajikan untuk para pencinta.

Ia begitu puitis lagi manis. Tetiba saya merasa kecil. Oh, tidak, jangan bayangkan saya yang mengubah diri menjadi liliput. Saya masih tetap gendut seperti biasa. Aaaak! Saya malu! Berandai menuliskan sebuah buku namun dengan kualitas yang masih minim saya miliki saat ini, terlebih setelah membaca deret-deret imaji yang terpilin di dinding rumahnya.

Ya..saya malu!

Biarkan saya menikmati rasa malu dan kecil saat ini untuk bisa mengoreksi diri kembali dan mencambuk rasa malas dan meniupkan topan semangat dalam diri untuk bisa lebih baik lagi. Saya masih punya mimpi. Dan saya tidak mau kecil lagi.

Suatu hari nanti, saya akan bisa menyapamu dengan kepala tegak berdiri dan membuatku pantas duduk sejajar denganmu dengan menuntun barisan kata yang siap menemani barisan katamu dalam sebuah buku. Itu janji saya.

Jakarta, 22 November 2012, 10.40

Advertisements

6 thoughts on “Saya Malu!

  1. Kenapa harus malu? Justru itu bisa jadi cambuk untuk mewujudkan mimpi Mbak agar nantinya betul-betul bisa menyapanya dengan kepala tegak seperti yang tertuang dalam paragraf terakhir tulisan di atas.

  2. Saya juga lagi di fase malu mba… Malu sama tulisan sendiri… Tapi, ada sahabat yang suruh terus menulis.. Apa aja.. Sampai, menemukan karakter sendiri.. Apa bener gitu mba? Mohon petunjuknya…

    • Yups! Yang penting semangat untuk menulisnya harus terus ada. Kawan saya pernah bilang, setiap orang itu bisa menulis yang membedakan sering atau tidaknya berlatih.

      Yuk, semangat nulis! 😀

      Btw, terima kasih sudah mampir ya Dok! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s