Bahagia

Kamu tahu apa itu bahagia? Ah, aku rasa kamu lebih tahu arti bahagia sejak lama ketimbang aku yang baru saja merasakannya. Hmm..aku sedang berbahagia. Bahagia sekali. Sebahagia prajurit langit yang tengah mengehntakkan kakinya di bumi. Iya, sebahagia mereka.

Bahagia yang sederhana, bukan saja karena aku bertemu kembali dengan hujan, yang membuatku senang akan sebuah hangat dekapan, tapi aku bahagia karena tahu banyak kabar dari penjuru negeri ini datang di istanaku sore tadi.

Meskipun tak melulu kabar baik, walaupun ada cerca terselip, namun tetap saja membuatku senang membaca dan membayangkan mereka ketika menuliskannya. Hehe..

Ini bermula ketika sebuah surat kulayangkan untuk Bule yang ada di Indonesia Timur sana. Ia yang saat itu tengah haus akan sebuah dorongan menulis kreatif, sengaja kukirimkan surat itu. Awalnya hanya sekedar pemuas rindu dan penyalur hobi saja, tapi lama kelamaan ini jadi sebuah ritual yang jadi candu untuk aku dan dia.

Suatu ketika, aku lupa membalas suratnya. Seminggu, dua minggu, hingga sebulan. Sampai akhirnya ia melayangkan surat rindu lainnya. Membuatku merasa bersalah karena belum sempat membalas suratnya yang kini lebih cocok menjadi sarang laba-laba ketimbang kertas bertuliskan aksara.

Lalu, apa yang ia lakukan? Ia ‘mencambukku’ dengan sebuah tulisan pengakuan. Sebuah tulisan yang aku bacakan kepada seseorang si suatu malam. Dan ternyata, orang tersebut membalas surat itu. Di dalam surat itu, Bule memang menantang kami, para pejuang bahasa di dusun yang letaknya ribuan kilometer dari Jakarta.

Satu persatu, kamipun saling membalas surat dan menceritakan kegiatan kami kini. Bahkan untuk kawan-kawan yang katanya tak bisa menulis akhirnya pun tergerak untuk menuliskan bentuk rindu mereka. Mencoba merangkai aksara yang dulunya enggan direngkuh meski waktu berserakan tidak tersentuh. Kini, kesibukan datang merayap tapi memilin kata berusaha didekap.

Tak pernah terbayangkan kalau kami sebenarnya terpisah di penjuru negeri ini. Berbeda tanah yang di pijak, berbeda zona waktu, dan berbeda kesibukan. Hanya satu yang aku dan kawan-kawan lain tahu, bahwa rasa yang kami miliki masihlah sama. Rasa memiliki yang tak akan hilang meskipun jarak dan kesibukan menenggelamkan kami sedemikian rupa.

Kini, aku mencoba menyatukan semua rasa dalam cangkir kenangan yang akan selalu terisi kerinduan. Dan aku menyebut satu persatu kami ini sebagai penikmat secangkir rindu selain cangkir cangkir kopi yang telah tersesap dan pergi.

Dan aku bahagia karenanya. Bahagia karena tahu, kemana rindu akan selalu bermuara dan akan terobati sesudahnya. Bahagia karena ternyata kata-kata bisa mengubah seseorang jadi luar biasa. Dan menginspirasi mereka untuk terus berkarya seperti mereka yang telah menginspirasiku begitu rupa. Dan lagi-lagi, Bahagia Itu Sederhana bentuknya.

karena-bahagia-itu-sederhana

Jakarta, 14 Desember 2012

*ingin menikmati kumpulan rindu kami? kunjungi cangkir rindu kami dan sesap perlahan hingga rindu terobati dan pergi.

Foto dipinjam di sini

Advertisements

3 thoughts on “Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s