Pernikahan Impian

Lampu utama padam. Lampu sorot yang menyilaukan mengarah ke satu sudut ruangan. Iring-iringan telah bersiap di belakang, lengkap dengan tabuhan kendang dan alunan musik lainnya. Aku takjub berdiri di sudutnya saja, menggandeng si bocah yang tak bisa diam ingin berlarian ke tengah kerumunan.

Seorang wanita berkebaya merah tua membacakan susunan acara dalam bahasa yang tak kukenali artinya. Hanya saja terdengar syahdu di telinga dan makin hangat ketika kulihat satu-satu wajah penuh harap dan juga haru. Mungkin saja doa yang baru saja dibaca.

Pelan-pelan lampu mulai menyala, tapi ritual upacara belum usai semuanya. Masih ada lain-lainnya yang membuat si kecil di tanganku makin tak bisa diam dibuatnya. Celotehannya makin kencang dan membuat suasana yang seharusnya khidmat jadi sedikit bising olehnya. Toh tak menurunkan tingkat kesakralan upacara seluruhnya.

Lima belas menit sudah, semua berjalan seharusnya. Kini si kecil ‘kulepaskan’ untuk segera berlari ke pangkuan bundanya yang sudah selesai menjalankan tugasnya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sampai akhirnya, sebuah suara mampir dan menyapa di tengah riuhnya acara yang sudah berjalan setengahnya.

“Apa pernikahan impianmu?” itu katanya.

Aku hanya menoleh sekilas sebelum benar-benar kujawab pertanyaannya. Pria berkemeja hitam berdasi marun datang mengulas senyum paling rupawan.

Tak ada kata terucap, hanya diam yang makin lama menggantung di udara. Mataku menerawang jauh ke arah pengantin yang tengah bertugas menebar senyum entah pada tamu yang memang dikenalnya atau sekadar basa basi di hadapan kerabat orang tua.

“Tak ada,” pada akhirnya aku memecahkan tanya.

“Pernikahan impian itu hanya ada di dunia para puteri di negeri dongeng sana. Di sini, terlalu banyak benturan realita yang harus dihadapi. Impian ya sekadar mimpi saja,” itu jawabku.

Seperti tak puas dengan jawabanku ia melanjutkan bertanya ‘kenapa?’ yang tetap dijawab diam olehku awalnya.

“Pernikahanku hanya butuh restu. Tak perlulah megah acara kupersiapkan hanya untuk memuaskan keinginan orang saja. Dan yang pasti ketika saat itu datang, aku sudah tak perlu merisaukan adat apa yang harus kepersiapkan bahkan gereja atau masjid mana yang kupilih untuk meresmikan ikatan pernikahan dimata Tuhanku nanti.”

Ia hanya tersenyum menatapku. Menelusupkan jejari diantara jemariku, dan mengecup keningku alih-alih berbisik, “Akan ada waktu untuk kita bahagia dimana restu sudah diterima dan semesta mengamininya.”

Jakarta, 7 Januari 2013; 16.30

Advertisements

One thought on “Pernikahan Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s