Cuti Sakit Hati

“Ra, kamu sudah tahu gosip terbaru?”

“Gosip apa?”

“Ada anak baru di divisi design. Katanya sih orangnya ganteng, pindahan dari kantor cabang di Dubai.”

“O ya?”

“Dih! Kamu normal nggak sih? Ada makhluk oke tapi mukanya anteng begitu!”

Amara hanya membalasnya dengan senyum super malasnya. Ia enggan memikirkan persoalan anak baru –yang konon katanya ganteng – yang baru saja diinfokan Astri. Mungkin karena pekerjaan yang menumpuk sejak bulan lalu ditambah ujian tengah semester yang akan dihadapinya minggu depan.

“Sudah ah! Aku baru bisa yakin dengan omonganmu kalau sudah melihatnya langsung, Okey?!” Amara langsung meninggalkan Astri yang masih melongo dengan jawabannya.

***

“Lobi atau basement?”

“Ha?”

“Kamu turun di lobi atau basement?”

“Oh, anu umm.. di lobi.”

Deg. Jantung Amara terlonjak saat melihat pria yang berdiri di sampingnya. Tampan. Hanya itu yang bisa hatinya katakan. Ia tak sadar kalau sedari tadi ia tak memencet satupun tombol di dalam lift.

“Sudah di Lobi, Mbak,” ujar si pria yang langsung membuyarkan lamunan Amara.

“Oh iya, terima kasih.”

Bergegas ia keluar dari lift tanpa berani menoleh kembali ke dalam lift. Malu, mungkin itu alasannya.

“Duh! Kenapa aku jadi grogi sih tadi? Terus, dia itu siapa ya?” puluhan tanya menggantung di kepala Amara tepat ketika sebuah taksi melintas di depannya.

***

Dua minggu setelah kejadian di lift, tidak membuat Amara berhasil mendapatkan informasi siapa gerangan pria tampan itu. Belum lagi perihal ujian tengah semester yang membuatnya tak bisa memalingkan perhatian selain dari tugas dan setumpuk materi yang harus dipelajarinya.

“Ra, kamu bawa komaci nggak?” tanya Astri.

“Nggak Tri, nggak sempat masak pagi tadi. Mau makan di mana kita?”

“Di food court atas aja, yuk!” Amara mengamini ajakan Astri dengan langsung menyambar dompet serta telepon genggam dari dalam tasnya.

“Eh Ra, jangan langsung nengok ya. Arah jam 1 yang lagi makan sama Mas Dipo itu tuh anak baru yang tempo hari aku ceritain,” tukas Astri membuat Amara spontan mencari arah jam 1 yang dimaksud.

“Yee.. ONENG! Kan aku sudah bilang jangan langsung nengok!”

Omel Astri sambil tangannya menarik kepala Amara untuk tidak celingukan mencari orang yang ia maksud.

“Maaf..maaf..aku refleks! Hahaha…” ujar Amara sambil cengengesan tanpa rasa bersalah.

Setelah mengenyakkan diri di salah satu bangku foodcourt, Amara berusahan mencari orang yang Astri maksud. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati orang yang Astri maksud adalah si pria tampan yang membuat jantungya belingsatan saat di lift beberapa minggu lalu.

“Oh, shit!”

“Kenapa, Ra?”

“Itu cowok yang tempo hari ketemu aku di lift!” jelas Amara bersemangat.

“NAH! Aku bilang juga apa!”  mereka cekikian berdua, sepertinya akan ada bahan obrolan yang sama selama beberapa minggu ke depan.

***

“Tri, kamu lihat jurnal aku nggak?” teriak Amara panik seperti sedang kebakaran jenggot saja.

“Nggak. Memang terakhir kali kamu taruh di mana?” tanya Astri sambil ikutan mencari di laci dan meja kerjanya.

“Nah, itu masalahnya. Aku lupa!”

“DASAR ONENG! KEBIASAAN!”

“Parahnya lagi, form cuti yang sudah ditanda tangani HRD itu ada di dalamnya. Bisa gawat nih! Cutiku bisa terancam batal, padahal aku sudah merencanakan liburan ini sejak lama,” tuturnya sambil sibuk membongkar seluruh isi laci mejanya.

“Ya sudah, kamu minta lagi aja. Mas Dipo pasti mau kasih kok,” usul Astri akhirnya membuat Amara berhenti mencari.

Tuuuutt..Tuuuttt…

“Ya mas Dipo?”

“Kamu bisa ke ruangan saya?”

“Oke, Mas. Kebetulan saya juga ada perlu sama Mas Dipo.”

***

Tok..tok..tok..

Masuk ke ruangan Mas Dipo, Amara dikejutkan akan kehadiran seseorang. Seorang pria yang membuat jantungnya kebat kebit tiap kali Amara melihatnya.

“Oke, Dip? Jangan sampai nggak dateng ya!” ujar si pria itu sambil berlalu meninggalkan ruangan.

“Hai Amara, aku duluan ya,” sapanya mengejutkan Amara.

“Dia tahu namaku?” batin Amara terlonjak gembira. Andai ia lupa sedang berada di ruangan Mas Dipo, mungkin saat ini ia sudah salto dan sujud syukur mendengar sapaan barusan.

“Oke Amara, silakan duduk,” kata-kata Mas Dipo membuyarkan lamunan Amara. Sejenak membawanya kembali ke alam nyata.

“Oh iya Mas. Mas Dipo panggil saya ada apa ya?”

Mas Dipo mengeluarkan sebuah jurnal bersampul kulit berwarna cokelat yang sangat ia kenal betul. Itu jurnal pribadi miliknya.

Deg.

“Saya menemukan jurnal ini terjatuh di lobi kantor semalam. Karena tidak ada pengenal, jadi saya membaca isi jurnal ini.”

Hening seketika. Ada beku yang membungkam Amara lekat-lekat. Keringat dingin mulai mengucur, hatinya mencelos.

“Mati aku!” batinnya.

“Saya tahu jurnal ini milik kamu karena surat ini.”

Mas Dipo menyodorkan selembar surat yang sejak pagi membuat Amara uring-uringan. Form cutinya.

“Ini jurnal dan surat cuti kamu,” Mas Dipo menyorongkan jurnal bersampul kulit berwarna cokelat plus selembar surat yang telah ia tanda tangani.

“Dan mohon maaf karena saya telah lancang membaca jurnal milikmu. Tapi, saya bisa kasih tahu sebuah jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam jurnalmu itu.”

Amara terpaku. Mas Dipo tiba-tiba menyodorkan sebuah amplop besar berwarna ungu berbalut emas yang cantik dan elegan. Amara tampak ragu saat mengambilnya.

“Undangan?”

“Iya. Undangan. Itu undangan milik Adit, pria yang barusan kamu temui di ruangan ini, yang ketemu kamu di lift, yang bikin jantung kamu kebat kebit,” penjelasan Mas Dipo membuat wajah Amara pasi.

“Shit!” umpatnya berkali-kali dalam hati.

“Minggu depan Adit akan menikah.”

“Oh..”

Kata-kata Mas Dipo menggantung di udara. Amara tidak tahu harus bereaksi apa. Otaknya terlalu sibuk menelaah apa yang baru saja terjadi. Ia masih berharap ini hanya sebatas mimpi. Tak mau Mas Dipo membaca resahnya terlalu lama, Amara memutuskan untuk kembali ke mejanya.

“Amara..”

Amara menghentikan langkahnya tepat ketika ia akan membuka pintu.

“Kamu baik-baik saja kan?”

Ia hanya menjawab dengan anggukan pelan dan senyum tipis yang ia paksakan .

“O ya, kalau kamu mau, saya bisa menambahkan jatah cuti kamu,” terang Mas Dipo.

“Cuti tambahan untuk apa, Mas?” tanya Amara penasaran.

“Untuk merasa sakit hati.”

“Sial!” batin Amara.

“Dan saya mau menemani kamu untuk menghilangkan rasa sakit itu.”

Kata-kata terakhir Mas Dipo masih terngiang di kepala Amara yang membuatnya semakin limbung saat meninggalkan ruangan HRD.

 

Jakarta, 16 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-4

Advertisements

5 thoughts on “Cuti Sakit Hati

  1. Pingback: Bales Kangenku Dong! « Nona Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s