Maafin Kak Fita

Dear Tifa, sedang apa kamu di sana? Aku di sini baik-baik, meskipun terkadang angin dingin masih suka iseng mampir di tubuhku. Kalau sudah begini, hanya kerokan maut Mba Ira yang bisa menghilangkannya. Tapi apa daya? Mbak Ira sudah kau sita dulu kala, memaksaku mengalah demi kamu, si bungsu kesayangan Ibu.

Kamu tahu? Sejak kehadiranmu di rumah, suasana rumah jadi ramai. Tak ada lagi sepi yang dulu sering menghinggapi aku yang selalu sendiri. Bahkan Ibu menghentikan aktivitasnya di kantor hanya karena kehadiranmu. Ah, betapa aku menyayangimu yang telah membawa pulang Ibu.

Waktu berganti, hari berlalu, setiap tahun usia kita pun bertambah satu. Kau tumbuh jadi gadis kecil nan lucu dan masih kesayangan Ibu. Tak apa, karena aku juga menyayangimu. Tawa ibu kembali sejak kehadiranmu. Tawa yang telah lama sekali hilang sejak Ayah pergi dan tak pernah kembali.

Kamu tahu Tifa, Ibu jadi pemurung sejak itu. Ia banyak mengurung diri di kamar dan menjadi ‘bisu’. Aku hanya ditemani Mbak Ira yang selalu mengusap rambutku dan mengatakan kalau Ibu hanya lelah karena bekerja dan menjagaku.

Aku ingin sekali segera tumbuh besar. Agar Ibu tak lagi lelah menjagaku dan tak perlu menjadi ‘bisu’ di kamar pengap, tempat Ayah sering menghabiskan waktu. Tapi sepertinya waktu tak ingin aku cepat menjadi dewasa, ia inginkan aku untuk beranjak dewasa perlahan, sesuai jadwalnya.

Untung saja kamu datang segera, dan menghadirkan tawa ceria seperti dulu kala. Meskipun sikap Ibu tak lagi sama, karena tak ada sapa manis saat ia pulang kerja. Aku tak pernah tahu, apa ada yang salah dengan sikapku? Yang aku tahu hanyalah Ibu terlampau mencintaimu.

Hingga suatu hari Ibu berpamitan padaku untuk pergi bersamamu dan Mbak Ira beberapa waktu, meninggalkanku di salah satu kerabat dekat Ibu. Aku marah padamu! Kamu mencuri Ibu! Padahal kamu tahu aku begitu menyayangimu. Gara-gara itu, aku membuat permintaan pada Tuhan untuk segera menjemputmu dan mengembalikan Ibu padaku  entah bagaimana caranya.

Dua bulan berlalu, Tuhan menjawab doaku tapi tak mengembalikan Ibu ke pelukku. Kata orang, Ibu, kamu, dan Mbak Ira tersapu air laut di sana. Tak mungkin pulang kembali ke rumah kita. Maafkan Kak Fita ya, karena dulu pernah menginginkan kamu untuk dijemput Tuhan. Setelah kamu benar-benar dijemput, aku malah kesepian. Tak punya harapan lagi untuk bertemu kamu. Tifa, jaga Ibu dan Mbak Ira baik-baik di sana ya. Aku percaya sama kamu, dan kalau bertemu Ayah nanti sampaikan peluk kangenku padanya. Hmm..suratku sampai di sini dulu ya, aku harus kembali bekerja. Majikanku tak bisa melihatku menganggur sebentar saja.

 

Salam Kangen,

Kak Fita

 

*ini merupakan surat ke-3 dalam #30HariMenulisSuratCinta, sebuah keluh kesah seseorang yang saya kenal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s