Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

(cerita sebelumnya di sini)

Perjalanan menuju Jakarta kali ini tidak meninggalkan tangis di mata Amara. Tidak meninggalkan jejak kehilangan di hati, ataupun merasa berat meninggalkan kota yang begitu berarti untuknya, Jogja. Meskipun hujan tak berhenti mengiringi kepulangannya yang terkesan sendu dengan langit kelabu yang masih menaungi tanpa ragu.

Amara justru merasakan bahagia sekembalinya ia ke Jakarta. Ada rasa senang membuncah di hati yang tak berhenti berkesinambungan membentuk lengkung tipis di bibir merah jambunya. Senyum bahagia yang sederhana rasanya.

Mas Dipo, adalah salah satu alasan senyum bahagia itu tersungging di bibir Amara. Ia memegang kata-kata yang pernah terlontar dari mulutnya beberapa waktu lalu. Bahwa ia akan menjadi penyembuh sakit di hati Amara saat itu. Dan ia benar-benar melakukannya. Membuat kabut ragu yang kemarin membumbung tinggi seakan sirna hari ini. Hanya dengan kehadiran Mas Dipo di Jogja dan menjemputnya untuk kembali ke Jakarta bersama-sama. Iya, hanya sesederhana itu.

“Hei.. kamu kenapa melamun?” teguran halus Mas Dipo membuyarkan bayangan yang terangkai manis di atas jendela kereta yang basah.

Amara hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum sambil mengaitkan lengannya ke dalam lengan Mas Dipo. Seolah mencari kehangatan dibalik lengan pria yang telah menemukan rindunya.

“Ra, sampai di Jakarta nanti aku mau mengenalkanmu pada seseorang.”

“Sama siapa, Mas?”

“Nanti kamu juga tahu. Ini kejutan,” tutupnya dengan meninggalkan jutaan tanya di benak Amara.

Stasiun Gambir tampak ramai orang-orang yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti lalu lintas di kepala Amara yang tak kalah ramai dengan kondisi stasiun petang itu. Mas Dipo berdiri sedikit menjauh darinya, menerima panggilan di telepon genggamnya. Entah siapa.

“Yuk!”

Mas Dipo menggamit lengan Amara mesra. Diajaknya wanita berparas ayu itu menuju pelataran parkir dimana seseorang telah menanti mereka berdua.

“Orang yang aku mau kenalin ke kamu ada di dalam mobil itu,” kata-kata Mas Dipo kontan membuat wajah Amara pasi. Hatinya kebat-kebit, otaknya tak bisa berpikir jernih. Siapa gerangan orang yang akan ditemuinya ini?

Tok..tok..

Mas Dipo mengetuk kaca pintu depan Avanza silver yang terparkir tak jauh dari pintu keluar. Kaca mobil yang tak tampak dari luar turun perlahan.

“Papaaaaaaa….” Seorang gadis kecil berambut ikal langsung berdiri dan mengalungkan pelukan melalui kaca jendela yang sudah terbuka seluruhnya. Amara hanya bisa bengong melihat pemandangan di hadapannya.

“Langit sayang, Papa sekarang mau memenuhi janji Papa,” ujar Mas Dipo sambil mendaratkan kecup halus di pipi gembil Langit, gadis kecil berambut ikal. Mata Langit membulat memancarkan binar indah serupa senja sore itu.

“Itu tante Amara. Hadiah yang pernah kamu minta sama papa,” tangan Dipo mengarah ke Amara yang sejak tadi diam membisu.

“Mama Amaraaaaa…” teriak polos si gadis kecil. Senyum Amara mengembang dipaksakan, tak siap menerima kejutan dari Mas Dipo yang sangat tiba-tiba, terlebih mendengar sapaan barunya.

Jakarta, 20 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Advertisements

3 thoughts on “Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

  1. Pingback: Menanti Lamaran « Nona Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s