Perjalanan Pagi Ini

Matahari pagi ini sedikit malu-malu menunaikan tugasnya. Mungkin ia terlalu asik membenamkan diri di peraduan karena dibuai oleh awan-awan kelabu nan gendut di atas sana. Aku memandang langit sekilas, tak menyilaukan. Aku tak perlu memicingkan mata untuk bisa menatap langit pagi ini. Dan aku tak perlu pusing memikirkan bagaimana melindungi punggung kakiku agar tidak terpanggang saat menunggu kopaja tua di ujung jalan. Kamu tahu? Lamanya serupa dijajah Belanda 350 tahun. Ya, kurasa selama itu rasanya. Dimana harap-harap cemas biasa menggayut manja.

Sebelum kulanjutkan perjalanan menggunakan kopaja, aku menggunakan angkot biru tua yang biasa menyambutku di mulut gang rumahku. Ada beda di perjalanan kali ini, aku tak mengisinya dengan tidur. Aku memilih mengedarkan pandanganku ke jalan raya yang pagi ini cukup bersahabat dengan lalu lintas hatiku. Tidak padat, tapi juga tidak lengang.

Ada aroma tanah basah yang tercium lamat-lamat oleh hidungku melalui celah jendela yang terbuka sedikit saja. Apakah pagi tadi hujan? Hmm..kurasa tidak. Ada aroma segar yang mengisi peparuku dengan cukup baik. Memberikan asupan rasa dalam kepala yang kini tengah kuolah agar tertuang dalam aksara tapi entah bagaimana menyebutnya.

Kuhirup lagi dalam-dalam aroma ini. Uhuuk! Ada bau polutan jahat yang sengaja ingin merusak pagiku. Segera kurapatkan celah jendela untuk sementara. Aku tak akan membiarkan ia masuk dalam paru-paruku dan menciutkan usaha peparu dalam menarik oksigen di udara. Tidak akan!

Mataku tertumbuk pada ruas-ruas jalan yang kini tampak berbeda. Daun-daun berserakan di sisi kiri jalan. Bukan daun kuning yang gugur karena pohon-pohon ini mulai meranggas di musim kemarau. Tapi daun ini memang sengaja dipangkas entah oleh siapa. Potongan balok-balok kayu tergolek tak berjauhan dari tumpukan sampah daun hijau di ruas kiri jalan.

Ada sedih yang tak bisa aku ungkapkan bagaimana rasanya. Pohon-pohon angsana rindang di sepanjang jalan raya Bogor kini mulai menghilang perlahan. Awalnya hanya dahan-dahan, tapi kini sudah dibabat habis hingga batang utamanya.

Mungkin ini memperhitungkan faktor keselamatan pengguna jalan raya. Aku masih ingat betul bagaimana salah satu pohon ini tumbang dan akhirnya menimpa salah satu mobil yang sedang melaju di jalan raya. Mobil yang berada tepat di depan angkutan yang sedang kugunakan.

Lantas bagaimana dengan konsep lahan hijau yang ingin diciptakan kalau semua pohon-pohon ini harus dipangkas habis? Bagaimana nasib peparu yang masih merindukan oksigen di udara? Jika setiap pagi saja sudah harus mencium polutan yang berterbangan dengan bebasnya. Bahkan merpati saja kini tak lagi terbang bebas, tak seperti lagu yang dibawakan Kahitna.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menikmati setiap oksigen yang mengisi peparu perlahan, meskipun ada saja orang yang merusak pagi dengan mengepulkan asap tembakau seenaknya. Tidakkah mereka pernah merasakan indahnya pagi tanpa harus memulainya dengan sebatang tembakau yang terhisap dalam-dalam di bibir kehitaman? Ah, aku terlalu nyinyir pagi ini.

Kopaja tua sudah terlihat di ujung jalan sana. Aku harus bersiap untuk turun. Menghentikan lamunan serta obrolan di kepala segera, jika tidak ingin tertinggal laju kopaja. Ya, pagiku tak seindah yang kulamunkan baru saja. Aku masih harus menjadi monyet kopaja untuk waktu yang entah berapa lama.

 

Pagi Semestaaa.. 🙂

Jakarta, 14 Februari 2013

Advertisements

20 thoughts on “Perjalanan Pagi Ini

  1. Kamu di Bogor? Bogor? Bogor? Kalau betul, kenapa harus di kota itu??? Kenapa harus di Bogor? Kota ini selalu membuat saya nyinyir sampai anyiiiirrrrrrrrr 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s