Debar Untuk Bulan

Dan bukankah kegelapan tak pernah berdaya di hadapan setitik cahaya?

Sebuah pesan singkat yang kudapat malam ini sungguh kontras dengan pemandangan langit di atasku. Bulan bulat penuh dengan iringan awan hitam yang menaunginya perlahan tersapu angin yang bertiup ringan dari selatan.

Adalah aku yang selalu ingin menjelma malam untuk dapat menemanimu yang tengah bertugas malam ini, Bulan.

Kembali kubaca pesan lanjutan yang baru saja masuk ke dalam kotak surat elektronikku. Tak pernah kupungkiri, aku selalu senang menerima pesan-pesan yang dikirimkannya. Selalu penuh sanjung dan memujaku begitu rupa. Ah wanita.. Ya, aku masih wanita. Aku menyukai bentuk pujian yang membuatku merasa istimewa.

🙂

Hanya ikon itu yang kukirimkan untuknya. Untuk Banyu, pria yang tak pernah kutemui sejak kali pertama aku mengenalnya di dunia maya tiga bulan lalu. Aku tak pernah mengatakan kalau ini adalah sebuah kebetulan, tapi ini adalah rencana Tuhan yang mengenalkan aku padanya.

Seperti memilih menjadikannya rahasia, aku menyimpan sendiri senyumku sebab segala hal menyenangkan yang dilakukan Banyu. Jika pun ingin berbagi, aku memberikannya kepada cermin.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Banyu terus mengajakku berbincang apa saja yang bisa menggubah tawa dan menyulut semangat yang begitu hangat memeluki aku. Sepanjang hari, tanpa henti.

Terkadang aku dililit ingin yang melebihi bahagia yang aku nikmati sendiri. Aku ingin menatap lekat mata Banyu. Aku ingin menikmati pikat cara bicaranya sekali lagi. Namun, aku pun tak tahu apa yang bisa aku lakukan saat ini.

Kadang ada keinginan untuk mengajaknya bertemu tapi selalu saja ada yang membuatku meragu. Aku terlalu takut untuk memulainya lebih dulu. Aku tak pernah tahu, apakah ia hanya seorang pria yang memang senang menjual kata-kata sebagai senjata menaklukan wanita atau ia memang orang yang selalu penuh cinta?

Kepada Bulan Andina, adakah kau memiliki keinginan untuk bertemu denganku sekali saja?

Pesan yang masuk baru saja membuat tanganku gemetar. Ia seperti membaca hati dan pikiranku saat ini. Benakku seolah dibacanya. Ah, semua tanya aku hapus segera. Berkali-kali kuketikkan pesan balasan, tapi selalu saja kuhapus. Aku belum siap.

Aku yakin, wajahku pasti sudah memerah. Aku tak bisa bayangkan jika ini terjadi saat aku bertatap mata dengannya. Dengan pria yang sungguh telah membuatku didesak rasa penasaran. Bahkan kadang terlalu berlebihan.

Terima kasih Banyu Anggara. Rona merah di pipiku sepertinya berisyarat anggukan istimewa untukmu.

Entah mantra apa yang mendadak aku rapalkan hingga tiba-tiba saja aku berani mengirimkan balasan seperti untuknya. Aku menjamu derap jantung yang semakin kencang. Aku memejam dan meringis menahannya agar jantungku tak buru-buru meloncat keluar.

Ah, apakah ini kelelahanku yang terlalu lama bersembunyi dalam maya yang seharusnya bisa aku perjuangkan menjadi nyata?

Tuhan, adakah engkau sedang mempermainkan perasaanku saat ini? Kuharap engkau tidak sedang bermain dengan hatiku yang sepertinya sudah lama berselimut debu. Maaf, aku bukan sedang mengancamMu, tapi aku hanya inginkan sesuatu yang sedikit lebih nyata untukku angankan. Bukan sekadar mimpi yang membuat hari-hariku semakin dilanda sendu karena harapan itu terlalu semu.

“Mba Bulan… kok ngelamun lagi? Hayooo..mikirin siapa?” sebuah suara dari balik pintu mengagetkanku.

“Ah, kamu mengagetkanku saja Mel!” jawabku sambil berbalik menujunya.

“Masih sakit, mbak?”

Ada getir halus menelusup perlahan memudarkan senyum yang sejak tadi terkembang di ujung bibirku.

“Umm.. sudah mendingan. Pain killer aku boleh ditambah dosisnya?”

“Jangan mbak, dokter bilang dosis itu sudah cukup untuk kondisi mbak Bulan sekarang,”ujarnya sambil merapikan beberapa mangkuk obat yang sudah kuhabiskan baru saja.

“Mbak Bulan harus terus semangat ya! Ini bukan akhir dari segalanya, Mbak,” kata-kata Mela, suster yang merawatku menggantung di udara.

Aku hanya mendengar kata-katanya sekilas sambil melihat wajahku dalam cermin dan sesekali melihat balutan putih yang membebat kaki kananku.

Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku hanya menikmati gerimis manja yang sore itu menemani perjalananku. Tak juga terlalu gontai langkahku. Namun, kemudian aku tak ingat lagi. Kabarnya, sebuah sepeda motor tak lagi bisa dikendalikan sang pengemudi. Aku menyeberang tanpa melihat kanan kiri.

Mungkin, aku terlalu bersemangat memenuhi janjiku. Mungkin, aku terlalu bersemangat menuruti rasa penasaranku. Mungkin, aku sangat ingin menggemakan tawa atas pertemuanku dengannya. Iya, seorang yang telah memiliki janji menemuiku. Banyu.

Hatiku pilu jika mengingat kejadian itu. Terlebih harus menerima kenyataan bahwa aku harus merelakan kaki kananku untuk selamanya. Aku marah. Aku kecewa. Kadang ada sesal yang menggayut manja perlahan. Apakah ia begitu layak untuk mendapatkan sebuah pengorbanan seperti ini?

Tapi lagi-lagi entah mantra apa yang membuatku tidak pernah bisa melayangkan benci padanya. Tidak sedikitpun. Ternyata diam-diam aku bergantung padanya. Ada jutaan semangat dan senyum yang selalu ia kirimkan melalui pesan singkat ke nomorku. Sederhana, tapi aku merasakan cinta yang tulus darinya. Oh Tuhan, semoga ini bukan rasaku saja.

Telepon genggamku berdering. Satu nama yang aku tunggu akhirnya kunjung menghubungiku. “Selamat sore, Nona,” sapanya dari seberang. Ada tenang yang menghangat di sekujur tubuhku. Banyu, iya Banyu. Aku tak pernah berpura-pura tersenyum menyambut sapanya. “Oke, aku akan datang, menemuimu sebentar lagi ya.”

Satu jam, dua jam, aku menantikan kedatangan Banyu, menjengukku. Senja sudah menepi. Ada yang mengetuk pintu kamar rawatku. Aku mengangkat sedikit kepalaku. Menengok siapa yang datang. Aku tersenyum. Senyuman istimewa yang kujanjikan pada diriku sendiri untuk kuberikan kepadanya, yang menjanjikan pertemuan itu. Banyu. Senyum untuk Banyu. “Hai, masuklah. Terima kasih sudah datang menjengukku,” aku melihat Banyu melangkah mendekat ke arah pembaringanku.

Tapi kemudian aku mengernyit. Ada kejut yang semena-mena menyapa. Seorang gadis berjalan di samping Banyu. Aku bertanya-tanya siapa gadis yang bersamanya itu. “Bulan, kenalkan, ini Aluna,” aku menyambut uluran tangan gadis itu. Pikiranku berkelana, menerka-nerka apa hubungan Banyu dengan gadis itu. Pandanganku tertumbuk pada kalung yang menggantung di leher Aluna. Liontin membentuk nama Banyu ada di sana. Apa ini maksudnya? Aku menggigit bibirku. Jadi, aku tetaplah akan membayangkan Banyu dalam gelap? Tak akan pernah ada terang. Tak akan pernah menjadi nyata.

Aku tak ingat lagi. Seketika semuanya menjadi gelap. Aku biarkan semua impian itu terlelap.

Kemang, 27 Februari 2013

Ini adalah project pertama saya di #AWeekofCollaboration with Wulan Martina

Advertisements

6 thoughts on “Debar Untuk Bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s