Yang Mencoba Membunuhku Perlahan

Sore yang hangat, meski di luar hujan sedang mendekat. Tak banyak hal yang kulakukan selain merapatkan jaket tebal (duduk dekat ruang server bisa melatihmu hidup di Eskimo nantinya) dan memasang kaos kaki rajutan untuk mengahalau dingin.

Obrolan dengan seorang kawan di ujung Timur Pulau Jawa sore kemarin sukses membawa imajinasiku melanglang buana entah kemana. Pertanyaan kenapa aku menyukai senja sepertinya terjawab sudah olehnya tanpa perlu kujelaskan secara tertulis. Tapi sialnya, ia mulai membunuhku pelan-pelan.

Ya, ia membunuhku dengan cara sederhana. Mengirimkan rekam senja yang tertangkap dari lensa kameranya. Sial! Nafas seperti tertahan, lidahku kelu, mataku terbelalak berbinar mencoba membayangkan aku sedang berada di sana. Di tempat-tempat yang ia kirimkan untukkku.

Hah! Ia tertawa puas! Kurang ajar betul, tahu saja aku tak akan rela melewatkan senja di kota lain selain Jakarta. Puncaknya, ia mengirmkanku senja di Wamena. Untuk yang satu ini, aku tidak terima. Menikmati senja di Papua adalah mimpiku yang lainnya, berharap bersama Tuan (?) yang entah sedang ada di mana.

Dan inilah beberapa senja yang ia kirimkan. Kuharap bukan hanya aku saja yang sedang dibunuhnya pelan-pelan. Selamat kehilangan nafasmu, kawan! (Note: beberapa gambar hasil jepretan kamera ponselku).

Kemang, 5 Maret 2013

Advertisements

42 thoughts on “Yang Mencoba Membunuhku Perlahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s