Hari Pertama? Siapa Takut!

Setelah perbincangan cukup lama dan aksi rayu merayu yang cukup alot, akhirnya Jumat malam kemarin aku mengiyakan ajakan seorang kawan untuk mengajar di sekolahnya. Dan hari pertama aku mengajar adalah esok harinya. *okesip! Rasa-rasanya mau paralayang*

Kadung mengiyakan, akupun mulai memutar otak kira-kira apa yang akan aku bawakan di hari pertama mengajar nanti.

O ya, di sekolah ini aku menjadi guru tamu setiap hari Sabtu. Menjadi guru ekstra kulikuler dalam menulis. Walah.. ini sebenarnya yang membuat aku maju mundur saat menerima tawarannya. Pasalnya, aku bukan seorang penulis terkenal apalagi sampai menelurkan buku. Aku baru seorang blogger yang mencoba konsisten dalam menulis, terangku saat itu.

Tapi justru kawanku ini kekeuh  bin ngeyel untuk merekrut aku menjadi salah satunya. Menurutnya, aku mungkin akan lebih diterima anak-anak muridnya ketimbang guru sebelumnya. Hmm.. rayuan yang menarik. *dem! Kemakan rayuan juga kan, hahaha*

Singkat kata, mulailah aku mengajar di sekolahnya Sabtu pagi. Beruntung, jalanan hari itu cukup bersahabat. Tidak ada kendala menuju sekolah yang memakan waktu satu jam jarak tempuh normal tanpa macet. Selama perjalanan aku tak bisa duduk tenang. Macam bisul di pantat yang mau pecah saja rasanya, resah!

Tiba di sekolah, ternyata sedang ada acara doa bersama untuk murid kelas 6. Tidak hanya murid-murid saja yang berkumpul tapi juga orang tua siswa turut bergabung dalam acara itu. Aku? duduk di salah satu meja kantin sambil menunggu kawanku yang terlambat datang.

Lima belas menit berselang, kelaspun di mulai. Baru ada 10 murid yang hadir. Bingung, itu sudah yang ada di kepalaku. Aku mencoba tersenyum dan melihat wajah mereka satu persatu yang aku sangatyakin penuh dengan tanda tanya, “ini siapa ya?”.

Aku mulai memperkenalkan diri, namun belum ada yang tertarik mendengarnya. Mereka menjawab pertanyaanku sekadarnya saja. Oh, dem! Aku bingung harus menceritakan apa. Akhirnya aku ajak mereka untuk menebak arti namaku. Mencoba menerka kapan aku ulang tahun dan kira-kira berapa usiaku. Di situ, mereka mulai tertarik. Syukurlah!

Makin seru saat aku bilang aku adalah anak tunggal. Mereka tidak ada yang percaya. Lantas mereka bertanya apakah enak menjadi aku, si anak tunggal yang tak kesepian. Aku juga menceritakan kegiatanku sehari-hari. Mereka langsung mengajukan banyak sekali pertanyaan. Hahaha..

Tak terasa waktu berjalan cukup cepat. Anak-anak yang hadir pagi itu kurang lebih ada hampir 20 orang dan kesemuanya perempuan. Hmm.. girl power sekali!

Aku mulai mengajak mereka bermain. Membuat cerita dengan mengawali membuat sebuah gambar yang saat itu mampir di kepala mereka. O ya, saat aku bilang “gambarkan satu binatang yang saat ini terlintas di kepala kalian”, Haura, si jail yang punya senyum manis kontan protes kepadaku “Kak, aku nggak punya kutu. Terus aku gambar apa dong?!”. Pertanyaannya saat itu bikin aku tertawa terpingkal-pingkal. Belum saatnya menggunakan perumpamaan itu, meskipun aku juga menjelaskan maksudnya.

Kuajak mereka untuk membuat cerita bersama. Kuberikan waktu untuk membuat satu kalimat, sampai akhirnya selesai sudah menjadi satu cerita utuh.

Ada yang senang dengan permainan ini, ada juga yang frustrasi karena kalimat sebelumnya yang dibuat teman sebelahnya sama sekali nggak nyambung. Ada juga yang mengisinya dengan hal-hal aneh.

Setelah selesai, aku ajak mereka membacakan cerita-cerita tadi di depan kelas. Masing-masing dari mereka harus memberikan penilaian apakah tulisan itu sudah memenuhi kriteria yang telah disepakati atau belum dan apakah sudah enak untuk di dengar atau belum.

Aku menilai anak-anak ini sangat pintar. Mereka sudah bisa membedakan mana kalimat utuh dan mana yang tidak. Mana yang masuk akal mana yang hanya imajinasi. Yaaa, meskipun konflik anatar teman tak bisa dihindari juga.

Belum lagi Awa, murid kelas dua yang petakilannya bikin sakit perut. Ia tiba-tiba saja masuk ke kolong meja tanpa aku sadari dan mulai ‘menggerayangi’ telapak kakiku pelan-pelan. Kontan saja aku menjerit kaget. Dan murid-murid lain pun tertawa melihat wajah kagetku.

Ada satu cerita yang manis untuk dibacakan. Aku mulai membacakan di depan kelas. Aku terkejut melihat wajah-wajah manis itu yang duduk tenang dan menyimak apa yang sedang aku bacakan. Arina, si chubby yang manis tiba-tiba saja berkata “Aku suka Kak Eka baca cerita, minggu depan baca cerita lagi ya Kak,”. Aaaak! Rasanya melayang-layang dipuji oleh Arina. Dia tidak tahu kalau aku sudah keringat dingin berdiri di hadapannya. Hihihi.. Tapi bukankah mereka juga tak perlu tahu?

Tak terasa, kelas pun selesai. Mereka berpamitan padaku untuk pulang dan tak lupa mengingatkanku untuk membacakan cerita untuk mereka minggu depan. Ada satu anak yang mendaratkan pelukan padaku sebelum ia pulang. Keisya namanya, si mungil yang ternyata sudah duduk di kelas tiga. Hihihi.. siapa menyangka?!

Pada akhirnya satu yang aku pelajari pagi itu. Kita tidak pernah bisa berbohong di depan anak-anak. Anak-anak memiliki cara yang unik untuk memilih siapa yang membuat mereka nyaman hingga memutuskan menerima untuk jadi bagian dari diri mereka.

Nama besar dan segudang prestasi bukan kunci untuk menjadi dekat dengan mereka, itu hanya sebagai nilai tambah untuk memberikan mereka ilmu. Dan saat ini tugasku baru sebatas menjadi teman bermain mereka, menumbuhkan kecintaan mereka dengan dunia menulis, hingga memiliki keberanian untuk tampil membawakan karya mereka sendiri nantinya. Itu sudah.

 

Depok, 16 Maret 2013

 

Advertisements

18 thoughts on “Hari Pertama? Siapa Takut!

  1. Seorang pengajar yang baik selalu merasa tugas utama mereka itu menumbuhkan mental, bukan menjejali anak didik dengan teori. Pintar itu hanya menjadi milik anak didik yang berani berfikir, dan keberanian itu perlu dibentuk. <– *tugas utama pengajar

    "Macam bisul di pantat yang mau pecah saja rasanya, resah!" <— saya sangat setuju! Resah, gundah, dan salah kaprah! *langganan bisul* (_ _!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s