Maaf…

Untuk pertama kalinya, saya marah sama kamu. Untuk pertama kalinya saya tidak suka dengan arah pembicaraan kita semalam. Mungkin saya nya saja yang kelewat sensi dan akhirnya mencampurkan obrolan santai kita dalam emosi.

Kamu tentu masih ingat, rencana awal saya mengunjungi kamu di sincia tahun ini? Kamu tentu masih ingat saya yang masih berdarah Cina ini ingin menyaksikan sincia lebih dekat. Tidak lagi di Jakarta, karena sudah terlalu biasa. Oleh karenanya saya memilih kotamu dimana klenteng besar ada, Semarang.

Tapi, niat saya urung dilaksanakan karena saya sedang tidak ingin menjadi looner traveller kali ini. Entah bagaimana saya sedang tidak ingin sendirian. Kakak yang seharusnya menemani saya harus mengikhlaskan liburannya untuk tugas di Surabaya beberapa hari. Lagi-lagi, saya tidak ingin sendiri kali ini.

Penundaan keberangkatan saya menuju kotamu sepertinya disambut baik oleh kawan karibmu. Wanita yang selalu saja kamu bicarakan di tengah perbincangan kita. Tak pernah absen. Lantas saya harus bilang apa?

Saya memang tidak seperti dia. Tidak akan pernah. Saya tetaplah saya. Dulu sekali saya belum merasa risih karena namanya selalu jadi bumbu ceritamu. Tapi kalau sudah setiap hari, saya rasa ada muak juga mendengarnya.

Kamu mengidolakannya. Ya, tanpa pernah kamu sadari kamu mengidolakannya. Sampai-sampai ia selalu ada diantara kita. Diantara ribuan km jarak yang membentang yang hanya terhubung oleh frekuensi telepon yang kadang terganggu dengan cuaca. Kalau sudah begini saya harus bilang apa?

Mungkin ada baiknya kamu bertanya pada dirimu, siapa pemilik hati yang sebenarnya. Apakah saya masih menjadi ratu di sana, atau akan selalu ada bayang-bayang dia setiap harinya? Dan apabila saat itu kamu masih belum bisa memutuskan, maaf jika saya harus mengambil tindakan ini. Maaf jika saya harus meninggalkan hatimu yang masih meragu. Maaf untuk tidak bisa lagi mendampingimu karena kamu sendiri belum bisa memutuskan ingin didampingi oleh siapa. Sekali lagi, maaf…

 

Kemang, 3 Februari 2013
*hanya sebuah pemikiran random siang hari

 

Advertisements

One thought on “Maaf…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s