Obrolan Cangkir Kopi

“… kamu kayaknya perlu segelas kopi deh, Non. Blandongan?”

Kata-kata itu yang kerap kali dilontarkan olehnya kalau aku mulai mencurahkan emosi yang meluap-luap. Atau aku sedang ingin mengeluarkan secuil pemikiran yang mengganjal seharian.

Ia tak pernah menyambut emosiku dengan emosi lainnya. Ia justru akan meredam emosi ini dengan ajakan secangkir kopi dan obrolan panjang seharian. Aku tetiba teringat olehnya. Ia yang kini jauh berada di kota pelajar yang sedang melanjutkan studinya.

Aku jadi berpikir, apa yang menjadikan kopi begitu nikmat? Atau bagaimana obrolan begitu bersemangat dan mengalir dengan hangat dengan secangkir kopi?

Kalau banyak penikmat nikotin mengatakan kopi dan rokok adalah sahabat, buatku kopi dan sahabat adalah kawan karib yang melegenda. Bagaimana sebuah ide tercipta hanya karena obrolan warung kopi dan bagaimana masalah bisa terselesaikan hanya karena berbagi cerita dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lainnya.

Aku bukanlah pencinta kopi yang mengerti seluk beluk biji kopi hingga menjadi minuman lezat di pagi hari. Aku cukup menjadi penikmat kopi di mana saja, apapun bentuknya. Fresh atau siap saji, aku menikmatinya. Tak lupa seorang atau segerombolan kawan sebagai selingan saat menyesapnya.

Masih hangat dalam benakku, bagaimana perkenalan kami bermula. Secangkir kopi dan senja di sebuah kedai kopi di tengah sawah. Cerita bermula dari aku yang berkomentar tentang senja sore itu yang disambut oleh cerita tentangnya dan bagaimana ia mencintai kopi juga tembakau yang dihisapnya.

Tanpa terasa cerita demi cerita terangkai dengan manisnya dan selalu berakhir ketika senja nyaris tertelan gelapnya malam. Saat itu, aku menyudahi perjumpaan kami. Kucukupkan cerita sore itu dengan sebuah lambaian hangat sebelum kukayuh sepeda kumbangku dengan nada riang.

Begitu setiap hari. Setiap sore, kukayuh sepeda kumbang menuju kedai di tengah sawah. Di sana kutahu ia selalu menungguku dengan senyum dari bibir kehitaman dan nikotin yang terbakar di sela jemari kanan.

Dua cangkir kopi terseduh, menguarkan aroma harum yang memikat. Kusunggingkan senyum untuknya yang sudah bersabar menungguku. Sesapan pertama dan komentar tentang senja hari itu jadi pembuka. Dan menit-menit berikutnya mengalir begitu saja tentunya dengan cangkir kopi yang kembali terisi dari cangkir bergambar bunga mawar.

Aku, dia, dan cangkir-cangkir kopi merangkai cerita. Hanya dengan obrolan sederhana tentang rasa, tentang bagaimana hidup itu semestinya dimata kami, manusia. Tentang persahabatan dan juga cinta, yang terkadang jumlah duka tidak pernah seimbang dengan suka.

Tapi satu hal yang pasti, obrolan cangkir kopi ini akan terus mengalir meski kami tak lagi bisa menikmati cangkir-cangkir kopi di tengah sawah bersama senja. Meski kesibukan menenggelamkan rasa pada akhirnya. Mungkin ada waktunya nanti aku dan dirinya bisa menikmati kopi kami kembali sambil bernostalgia tentang senja, rasa, dan cinta sesama.

Dan soal kopi yang menjadi sahabat setia kala bercerita, aku masih bertanya-tanya. Kubiarkan ia tetap menjadi rahasia. Maka, nikmati saja!

cangkir kopi

 

Senin, 3 Deseber 2012
Lagi-lagi, tulisan ini saya temukan diantara file-file tulisan yang belum sempat ter-posting tahun lalu.
*foto dipinjam di sini

Advertisements

19 thoughts on “Obrolan Cangkir Kopi

  1. Saya pun pencinta kopi tanpa mengerti seluk beluk terciptanya kopi tapi selalu akan ada cerita yang diciptakan dari secangkir kopi.

    Ah senang sekali membaca tulisan ini. 🙂

    • Yup, masih dengan kopi. Belum menemukan kawan minum teh yang asyik dan teh yang pas di lambung 😀

      Ubud, kopi, sawah, seseorang. Ah, kamu bikin aku kebat kebit pengen ‘kabur’ ke ubud segeraaaaa!! 😥

      • Hihihi..mungkin belum nemu racikan teh yang ‘pas’. Nanti aku bikinin es teh lemon deh, enak lhooo.. *promo* :p

        Hmm.. gitu yaaa?? *siap2bukalowonganpemanduhati* #eaaa

      • mau dong mau nona, gratis aku lebih suka 😀

        eh iya kayanya, soalnya kan si ubud cocoknya buat mendinginkan hati dan pikiran, masa sendirian? ga cocok…
        harus ada ‘someone’ untuk melengkapi ketenangan itu..
        Teori ngaco ttg Ubud nih :p

      • Hahaha, tenang.. hratisan! 😉

        Kalau sendirian tandanya lagi galau :p *pengalamanpribadi* #makineaaaa

        Hmm.. boleh nih diagendakan ke Ubud bersama. Someone itu gak melulu Panglima hujan kan ya? ya? ya? 😀 *digetok

      • hahahahaaaa emang, sedih amat ke ubud sendiri, atau malah sama mantan pacar misalnya, eh curcol hahah :p

        engga jugaa nona, sama temen atau orang yang asik buat diajak ngobrol dan nulis 😀

      • dulu sih nggak sedih buat jalan sendirian. lagian belajar nari ngilangin galau juga hahaha.. :p

        nah! itu seru tuh.. ngobrol, ngopi, nulis.. hihihi 😀

      • hahahaaa
        dan alhamdulillah seminggu di bali berhasil menyembuhkan kegalauanku, walaupun kesana malah sama si ‘pembuat’ galau

        sayangnya, aku masih belum partner minum kopi sekaligus yang nemenin nulis 😦

      • Hahaha.. setidaknya berhasil menghalau galau yaaa, Kaz 😉

        Yuk, ngopi bareng.. boleh juga nulis bareng.. 😀
        tp kalau soal partner hidup, nanti tak bantu doa semoga ketemu segera 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s