Masih Tentang Russel

Pagi ini datang terlampau cepat. Aku yang semalaman tak bisa tidur karena memeriksa tugas anak kelas enam terpaksa mengambil jatah tidur malam. Dua gelas kopi hitam ternyata tak membuat mata ini berkompromi untuk tetap terjaga. Aroma teh chamomile milik Rendra- guru olah raga- menggelitik penciumanku untuk menyesapnya juga.

Untung saja pagi ini tidak ada kelas, kalau tidak entah bagaimana rupaku saat memasuki kelas nantinya. Aku masih ingat betul dua bulan lalu, ketika aku kekurangan tidur karena harus mengawal pementasan anak kelas 12 di GKJ. Tiba di rumah pukul 2 dini hari dan pagi hari aku harus mengajar anak kelas 1.

Sepagian mereka menyecarku dengan pertanyaan “Miss Tya matanya kenapa?” atau “Miss Tya are you okey? Are you galau miss?” yeah.. kata ‘galau’ sepertinya sudah merasuki murid-murid kecilku ini. Entah apakah mereka benar-benar tahu artinya atau hanya mengikuti tren di kalangan senior mereka di lingkungan sekolah.

Pertanyaan mereka tak kan berhenti sampai disitu saja. Mereka akan terus mencari tahu ada apa denganku dan mereka juga mencari tahu bagaimana membuat wajahku kembali ceria seperti semula.

Ada yang membelikan aku es krim, memberikan bekal makan siangnya, atau ada yang memberikanku apel dan cokelat. Bahkan, Terry, meminjamiku iguanannya yang tidak pernah absen masuk kelas. Rrrr.. aku memilih tersenyum selebar-lebarnya daripada harus mengelus-elus iguana miliknya sepanjang pelajaran.

Tapi terlepas dari semua itu, aku terharu dengan sikap mereka. Mereka begitu peduli dengan sekitarnya, dengan kawannya, dengan gurunya. Ah, semoga saja orang tua dan lingkungan tidak akan mengikis kepedulian mereka nantinya.

Karena pagi ini tidak ada kelas, aku memilih untuk menuju perpustakaan untuk mencari referensi materi mengajar, atau menikmati secangkir teh chamomile di belakang gedung perpus.

Untuk mencapai perpustakaan, aku harus melintasi dua lapangan basket yang luasnya lumayan untuk olah raga. Lapangan yang satu sedang digunakan anak-anak kelas empat untuk bermain basket sedangkan lapangan satunya dipersiapkan untuk anak kelas satu berolah raga.

Paling seru melihat anak-anak kelas satu ini berolah raga. Gayanya selalu ada saja yang bisa bikin perut sakit karena tertawa. Atau terbengong-bengong takjub karena sikap mereka yang kadang tak terpikirkan oleh nalar orang dewasa.

Sampai akhirnya, mataku menangkap sosok yang sangat akrab denganku.

“Russel,” gumamku.

Mengapa anak itu tak ikut kelas olah raga? Lalu apa yang ia lakukan di pinggir lapangan. Otakku berdialog sendiri, menerka-nerka apa yang dilakukan Russel kali ini. Apakah ia mulai berulah lagi? Ah, nanti saja aku tanyakan langsung padanya.

***

Pukul sepuluh, aku mulai mengajar di kelas satu. Suasana ramai terdengar dari ujung kelas. Teriakan Sean melengking seperti biasa. Kalau tidak Terry yang jail bersama iguananya, pastilah Russel yang mengganggunya. Selain itu, masih ada suara tawa Donny yang mirip-mirip Takeshi alias Giant di serial Doraemon. Ya, kelasku ini memang super bukan main! Super ramai, berisik, nakal, tapi sekaligus ngangenin.

Kalau mengajar di kelas ini, tidak hanya mempersiapkan materi pelajaran saja, tapi juga fisik dan mental yang berkali-kali lipat jumlahnya. Meskipun begitu, akan selalu ada serum bahagia yang terisi di pundi-pundi hati saat aku keluar dari kelas. Sederhana.

Saat aku memasuki kelas, anak-anak langsung berhamburan kembali ke bangkunya masing-masing. Remi, seorang bocah berperawakan mungil, berkacamat tebal, langsung berlari menujuku sambil menghamburkan pelukan setiap kali aku memasuki kelas. Berkali-kali aku memintanya untuk tidak melakukan hal itu kecuali jika pelajaran telah usai. Tapi ia enggan menuruti perintahku. Ini sudah seperti tradisi di keluarganya untuk memulai apapun dengan sebuah pelukan hangat. Pada akhirnya, aku berkompromi dengan itu.

Pelajaran berlangsung tanpa terasa. Kini saatnya mempersiapkan mereka untuk pulang dan sedikit memberikan ‘oleh-oleh’ untuk disantap di rumah.

Semua anak-anak berpamitan padaku. Jangan pernah bayangkan  akan ada adegan cium tangan saat pulang sekolah. Sepertinya tradisi itu hanya ada di sekolah negeri jaman aku bersekolah dulu. Sejak awal aku bergabung di sekolah ini, tidak ada kebiasaan itu. Tapi, ada beberapa anak yang selalu memberikanku pelukan serta kecupan saat pulang sekolah. Ah, hangat rasanya!

Selain Russel yang kuminta untuk tinggal di kelas, anak-anak lain sudah berpamitan. Russel tampak bingung ketika kuminta ia untuk tinggal di kelas sebentar saja. Raut wajah protes ia tampilkan seolah menolak permintaanku, tapi kuyakinkan ia ini hanya sebentar saja.

“Russel, tadi pagi kamu kenapa nggak ikut pelajaran olah raga?” tanyaku langsung padanya.

“Umm..aku..aku ikut kok Miss.”

“Hayoo, jangan bohong. Tadi pagi Miss lihat kamu duduk di pinggir lapangan sambil minum teh botol,” ujarku lagi.

“Nggak, Miss,” kilahnya.

“Kamu tahu kan, Miss Tya nggak suka kalau murid-murid Miss Tya bohong? Nah, kamu harus jawab jujur Russel,” jelasku lagi.

“Bener Miss, aku nggak bohong,” jawabnya berusaha meyakinkanku lagi.

“Lha terus, kalau bukan kamu siapa dong yang minum teh botol di pinggir lapangan? Miss Tya lihat kamu lho, Mr.  Rendra juga,”

“Iiihh..Miss Tya nggak percayaan banget sih?! Aku nggak minum teh botol! Aku minum estea tadi pagi,” penjelasannya kali ini dibarengi dengan wajah serius dan nada yang meninggi. Sedangkan aku, berusaha menahan tawa sekuat tenaga.

Oh Tuhan, Russelku ini bukannya meyakinkan aku kalau dia ikut olah raga, tapi meyakinkan aku kalau yang dia minum itu bukan teh botol seperti yang kutuduhkan padanya, melainkan estea. Hahaha…

Kemang, 29 April 2013

Advertisements

4 thoughts on “Masih Tentang Russel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s