Untuk Arum

“I was here, I was there, and I was everywhere.”

Perjalanan bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Buatku, perjalanan adalah upaya memanggil kembali damai yang terenggut macet dan penat Ibukota.

            Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah, membuatku isi hidupku penuh riuh dan berwarna…

“Padi?” suara dari samping kanan membuyarkan lamunanku.

Seorang pria menyunggingkan senyum sambil mengulangi pertanyaannya, “Perjalanan-nya Padi, kan?”

Dahiku berkerut. Kulemparkan pandang penuh tanya padanya.

Earphone kamu jatuh sebelah.”

Ah, iya. Lagu lawas awal 2000-an, teman asyik bepergian.”

Aku tak terbiasa bercakap akrab dengan orang asing. Di dalam bus antarkota pula. Kuputuskan untuk diam dan meresapi Perjalanan ini, dengan harapan orang asing itu tak memaksaku menanggapinya lagi.

“Mau ngapain ke Dieng?”

            Duh, suara itu lagi!

“Ehem!”

“Perjalanan bus ini berakhir di Dieng.”

Sorry, may I just … sleep?””

“Oh, sure. Sorry.””

Cengir lebar terpahat sempurna di wajahnya.

Aku menyamankan dudukku, bersiap pura-pura tidur. Entah kenapa aku merasa sedang diawasi. Aku tetap pura-pura terpejam.

Kali ini saja, kumohon, bebaskan segalaku dari Mahendra. Dieng semestinya steril dari dia, dari kepekatan udara yang telah terkontaminasi oleh kenangan tentangnya. Batinku tanpa mengindahkan orang di sebelahku.

***

            “Mbak Arum!””

Toni melambai begitu melihatku turun dari bus. Di sebelahnya, Jeep Willys tua terparkir gagah. Aku tersenyum mendekat, sebelum suara lain membuat langkahku tertambat.

Hei, Bro!””

Pemuda asing itu merangkul Toni, meninggalkan aku yang memandang penuh tanya untuk kesekian kalinya.

“Wah, ternyata kalian barengan. Sudah saling kenal?”

“Reza.””

Pemuda itu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya ragu-ragu.

“Arum.””

Reza kembali menerbitkan senyumnya. Dengan sigap, dia lemparkan ransel hitam ke jok belakang.

Yuk, berangkat!””

“Sial! Kenapa harus barengan lagi, sih?””gerutuku.

Aku duduk di samping Toni. Aku lebih banyak diam. Antara lelah dan malas berbicara dengan lelaki yang, sejak dalam perjalanan, menggangguku dengan pertanyaan basinya.

Kulemparkan pandangan jauh, membiarkan angin pegunungan membelai pipiku dan mengisi peparuku. Aku memejamkan mata mencoba mengumpulkan keping bahagia yang ditebarkan semesta.

Woy! Kok bengong?””

Tepukan halus di pundak mengagetkanku, membuyarkan lamunan dan membuatku kesal.

Kualihkan pandangan sinis seolah berkata “”Senggol, bacok!”” ke arahnya. Perlahan, Reza pun langsung mundur dan mengangkat tangannya tanda tak akan menggangguku lagi. Semoga.

“Mba Arum kalau capek memang suka bengong dan agak galak. Santai aja, nanti juga terbiasa.”

Keterangan Toni kuhadiahi tatapan dingin.

“Memang Mba Arum ini punya kebiasaan mesam mesem sendiri ya, Ton?”

Pertanyaan Reza langsung diamini Toni sepenuh hati.

Brengsek!

            Aku memilih mengabaikan ledekan mereka, tenggelam dalam lagu yang terputar dari mp3 player milikku.

             Kau buat sempurna awalnya, berakhir bencana…

 Playlist ini seperti berkonspirasi dengan suasana hatiku saat ini. Karma milik Coklat ini sepantasnya kuhadiahi untuk Mahendra.

Entah sudah berapa lama sejak aku menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali kuingat, aku membawa pulang cukup banyak ‘perbekalan’ untuk bertahan hidup di Ibukota. Dieng memang selalu jadi tempatku ‘melarikan diri’ dari penat, entah karena pekerjaan, atau urusan cinta.

Ah…

Ada rasa sakit yang menusuk pelan hatiku saat mengucap kata ‘cinta’. Apa iya aku sudah hilang rasa untuk urusan satu itu?

Mahendra. Ya semua ini karena Mahendra.”

Ada kilat benci di ingatanku. Ada rasa muak yang mengakar tiap kali menyebutkan nama itu. Juga ada jijik yang aku tak bisa hilangkan saat berjumpa dengannya.

Aaarrrggh!

“Mbak, kamu nggak apa-apa? Kita sudah sampai.”

Teguran Toni membawaku kembali ke dunia nyata. Saat kucoba menenangkan diri, kudapati Reza tengah memperhatikanku dengan tekun.

“Kamu unik,” celetuknya.

Kukernyitkan dahi, tak mengerti ucapannya.

“Kamu bisa mesam mesem persis kayak orang jatuh cinta. Tapi bisa berubah seperti ingin membunuh orang dalam waktu singkat. Benar-benar unik! Hanya pemain watak yang bisa melakukannya.”

Aku diam. Tidak ada gurat wajah mencela dari kata-katanya. Ia tidak sedang meledekku ataupun menggangguku.

Apa iya wajahku seperti orang yang ingin membunuh?

***

Aku hanya ingin berteman dengan tenang selama di Dieng. Membaur bersama kehidupan kampung, bercengkerama dengan kakek nenek, juga Toni. Guyonan sepupuku itu selalu berhasil membuat dunia senduku merekah.

Semestinya, liburanku tanpa pemuda bernama Reza ini. Dia penyusup ketenanganku. Aku sulit menyukai orang baru. Tapi, bukankah baru itu hanya sedetik? Setelah itu semuanya menjadi hal yang lama?

“Kalau kamu bawa masalahmu kemari, sia-sia semua liburan ini.”

Suara itu mengusik lamunanku, lagi. Aku tak berminat melirik sumber suara, meski kutahu dia tengah duduk berjarak dariku.

“Aku sering berkunjung ke Dieng setiap aku merasa kehidupan terlalu pongah.”

Reza masih saja berkicau. Kulirik sekilas. Cih! Dia senyam-senyum memandang perbukitan sambil sekilas memandangku.

“Di pemberhentian bus tadi, sudah kutanggalkan semua penatku. Dieng terlalu indah untuk diabaikan hanya karena hal-hal tak menyenangkan. Nanti, setelah aku kembali, penat tak akan mengikutiku lagi. Beres,” nadanya berubah enteng.

Hhh…

“Kamu sok tahu, nggak segampang itu!”

Monolog Reza akhirnya kusambar juga.

“Tentu saja mudah. Tinggal diikhlaskan, nggak perlu dibuat susah,” sahutnya.

Aku mendengus sebal. Dia benar-benar sok tahu! Aku semakin tidak suka padanya. Sedikit banyak, aku mulai tersindir kata-katanya.

“Wah, wah. Ternyata benar ‘kan yang aku duga?!”

Dia bertepuk tangan tiba-tiba, diiringi senyum sumringah.

Alisku mengerut memandang tingkahnya. Cowok ini selalu bicara nggak jelas juntrungannya.

“Gadis patah hati, gelagatnya selalu sama. Aku sudah hafal mati!”

Ia terkekeh sendiri mendengar kata-katanya. Tatapanku sengit ke arahnya.

Segitu terlihatkah?

“Aku sudah sering melanglang buana. Banyak manusia kutemui. Gelagat orang jatuh cinta dan patah hati itu … yah, semacam udara yang selalu bisa kutemui di belahan dunia mana pun juga.”

“Kamu backpacker?” tanyaku tiba-tiba.

Aku yakin ini bukan karena aku mulai tertarik dengan ocehan Reza. Ini hanya … semacam pengalihan dari topik yang sok dia kuasai semua.

Reza mengangguk bangga. Aku mendengus lagi.

“Paling kamu backpacker tipikal. Punya blog, pamer foto sana-sini. Ketemu si anu, si itu, semua dimuat dalam cerita,” sindirku.

Bukannya merasa, Reza malah tertawa-tawa.

“Sinisnya! Kamu backpacker nggak kesampaian, ya?”

Tawanya kian jadi. Aku sekadar bergumam malas-malasan. Sampai akhirnya, suara tawanya mereda.

“Cuma backpacker kacangan yang menggunakan itu sebagai ajang pamer. Backpacker sejati menggunakannya sebagai peta perjalanan, sebagai warisan.”

Reza terdiam. Anehnya, aku menunggunya melanjutkan bicara.

Backpacker memiliki kemungkinan tinggi untuk mati di suatu tempat, tanpa kerabat yang tahu sama sekali. Hmm, kamu pernah nonton film 127 Hours, kan? Yah, semacam itu lah. Meski tokohnya nggak mati.”

Reza tersenyum menatapku.

Tanpa sadar, aku memandangi lamat-lamat pemuda gondrong ini. Dia memang berisik, suka basa-basi, tapi benar, tidak semua yang basa-basi itu basi.

Aku jadi teringat ucapan Mahendra, ‘Basa-basi itu hal sepele. Tapi, kalau untuk hal sesepele itu saja kamu tidak bisa, bagaimana kamu mengurus sesuatu yang lebih besar?’

            Ah, Mahendra.

Apa basa-basi juga yang selama ini diberikan padaku? Dia pria berkharisma, tak seharusnya dia menjatuhkan harga dirinya dengan perselingkuhan murahan. Bersama sahabatku pula.

***

Beberapa hari ini aku memikirkan apa yang Reza katakan, juga Mahendra. Mencoba mengaitkannya dengan sikapku selama ini.

Apa benar aku hanya menyakiti diri sendiri seperti yang Reza tuduhkan?

“Waktu bukan dokter. Obati sendiri lukamu.”

Itu yang Reza katakan sebelum aku meninggalkannya di Kawah Sikidang beberapa hari lalu karena sebal.

Aku memang membiarkan waktu menyembuhkan luka tanpa usaha dari dalam hatiku untuk sembuh. Kupejamkan mata, mencoba berdialog dengan semesta.

Tuhan, apa rencanamu?

            Bip..bip..

Sebuah pesan masuk.

            Arum, tolong jawab pesanku. Aku ingin menjelaskan semuanya.

Mahendra.

            Ah, aku tak perlu membalas pesannya. Toh sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Semua sudah terlalu jelas di mataku.

“Sepertinya orang yang mengirimkan pesan butuh dibalas segera,” tetiba ada suara mengagetkanku.

“Kasihan lho. Sedari tadi pesannya masuk, tapi dilirik isinya saja nggak,”” sambungnya lagi.

“Aku tak perlu memberikan balasan apalagi mendengar penjelasan dari pengkhianat,”” tuturku meluncur mulus yang membuat diriku sendiri terkejut.

Kenapa aku bisa curhat colongan dengan Reza?

Reza menempatkan diri di sampingku. Menatap jauh ke area persawahan yang padinya mulai menguning di beberapa tempat. Segerombolan burung tengah berebut pucuk-pucuk padi, mencoba mengambil gabahnya yang sesekali dikagetkan orang-orangan sawah.

Lanskap matari senja mempercantik riuh canda makhluk-makhluk Tuhan yang sedang bergembira bersama sayap-sayapnya itu.

“Kamu tahu, Rum? Kadang, berdamai dengan pengkhianat itu justru obat paling mujarab. Anggap saja, ini ujian kenaikan kelas dalam menjalani hidup,” jelasnya enteng.

Aku tak membantah. Aku diam, mendengar penjelasannya yang -sialnya- aku akui sangat dewasa.

            Hhh..

“Kalau dia memutuskan untuk berjalan dengan orang lain, mungkin orang itu lebih membutuhkan pengkhianat itu ketimbang dirimu. Lagipula kamu baru saja kehilangan seorang pengkhianat, seharusnya dia yang luar biasa kecewa, bukan kamu. Sederhana saja,” tutupnya.

Ada sesak yang mendesak ingin keluar dari dada. Aku menangis sejadinya. Reza memberikan bahunya untukku.

“Tuangkan saja, kalau menangis bisa membuatmu lebih lega,” ujarnya seraya menepuk-nepuk bahuku lembut.

Senja kali ini tak seindah biasanya, pendar jingga yang terlukis terlalu kabur. Dua biji almond di mataku berkabut karena cairan basah yang menggenang. Anehnya, perlahan semua sesak yang mengganjal terkikis sedikit demi sedikit, seolah luruh bersama air mataku. Perasaan tenang menggantikan tempatnya.

***

            Kicau burung pagi ini serasa merdu. Aku bangun dengan perasaan seperti terlahir kembali, menjadi Arum yang baru.

“Selamat pagi, semuaaaa…..” sapaku riang.

“Tumben hari ini sumringah banget, Mbak,” pertanyaan Toni hanya kusambut dengan senyuman.

“Aku balik ke Jakarta siang ini.””

Semua orang menatapku heran. Tapi tak satupun dari mereka bertanya; ‘kenapa?’ Hanya Reza yang menyambut rencanaku dengan senyuman dan acungan jempol dari seberang meja makan.

Aku sudah berkemas. Ransel Consina merah milikku sudah tersandang mantap di bahu. Aku berpamitan dengan Kakek, Nenek dan Toni. Terakhir, kujabat erat tangan Reza.

Ia mengantarku sampai terminal.

“         “Hati-hati ya.””

“         “Terima kasih sudah ‘menamparku’ kemarin.”

“Hahaha.. Wajahmu terlalu manis untuk disinggahi sebuah tamparan, darlin’,”” kelakarnya.

Kuhadiahi ia sebuah pukulan ringan di lengan.

“Sekali lagi terima kasih. Aku berusaha berdamai dengan semua ini. Kuharap kau masih di sini saat aku kembali. Jadi, kita bisa berkenalan sebagai orang yang baru.”

“Tentu. Aku ingin bertemu dengan Arum yang baru. Bukan yang suka cemberut!” ledekannya menghantarku bertolak ke Jakarta.

            Suasana terminal tidak seasing biasanya. Deru mesin bis, yang biasanya terlalu bising itu, hilang ditelan nyanyian dalam kepala yang mengantarkan aku pulang.

—Dua Minggu Sebelumnya

 Bip..bip..

            Arum pergi ke Dieng. Tolong temani dia. Aku percayakan dia sama kamu.

 Sebuah pesan singkat dari Mahendra untuk Reza, sahabatnya. Reza mengenal Arum melalui cerita Mahendra bahkan hingga kronologis bagaimana Mahendra sampai pergi meninggalkan Arum.

“Bagaimana menurutmu?” Reza berharap solusi dari istrinya.

“Aku percaya kamu. Sepertinya kamu memang dilahirkan untuk itu.”

“Maksudmu?”

“Kamu sepertinya terlahir untuk mengobati sakit hati wanita. Seperti kamu menyembuhkan lukaku dulu.”

Hening merayapi perbincangan mereka. Usapan lembut Dina seolah meyakinkan Reza untuk mengiyakan Mahendra.

“Pria sejati dilahirkan untuk membereskan sampah yang ditebar oleh seorang pengecut.” Dina menatap lembut suaminya, dengan sorot yang sangat yakin.

Reza tersenyum.

            Aku penuhi pintamu. Untuk Arum, bukan untukmu!

Sent.

***

            Reza menatap kepulan asap hitam bus yang membawa Arum. Diambilnya ponsel dari saku kanannya.

           Sepertinya aku berhasil.

            Di Jakarta, Dina tersenyum membaca pesan dari suaminya.

Cerpen kolaborasi Septia Wulan dengan Ades Oriloval dalam rangka mengikuti #ALoveGiveaway.

Advertisements

16 thoughts on “Untuk Arum

    • Makasiii Olivee.. 😀

      Iya ya, 23 Juni ini. Sepertinya aku juga nggak bisa ikutan. Semoga bisa ikutan tahun depan dan siapa tahu kita bisa ketemu yaaa 😀 hehehe

    • seinget gue, descriptive modern grammar membenarkan bentuk ‘i was’ dan ‘i were’. Cuma penempatannya aja yang disesuaikan. Biasanya ‘were’ pada ‘i’ lebih formal aja sih.. hehehe.. Lha ini kenapa jadi ada kelas english?! *toyor reza*

      okelah, salam buat istrimu yaaa :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s