Sekeping Salut, Setangkup Lelah, dan Sepotong Maaf

Sebelum saya mulai bercerita, saya ingin memberikan hormat saya pada semua editor, guru-guru bahasa. Kenapa? Cerita berikut ini yang menjadi alasan saya memberikan penghormatan sedalam-dalamnya.

Kalian tentu masih ingat saat saya bercerita tentang kegiatan saya mengajar? Eh ralat, jadi teman belajar tema-teman kecil di salah satu sekolah dasar di bilangan Bekasi, kan? Nah, tentu kalian juga masih ingat kalau saya menjadi teman mereka dalam menulis. Semoga ingat. *siapin pentungan kalau nggak ingat*

Nah, rencananya di akhir tahun ajaran, yang akan berakhir minggu depan, semua hasil karya teman-teman kecil saya itu akan dibukukan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini cerita dimulai.

Saya yang memiliki latar belakang pendidikan dunia teknik, tentu tidak begitu ‘akrab’ dengan dunia mengajar apalagi tulis menulis (sampai detik ini saya mencoba terus belajar dan mengakrabinya), tapi saya justru mendapat mandat untuk menjadi ‘penasihat’ pembuatan buku. Tentu kalian bisa bayangkan betapa kalang kabutnya saya, kan?

Lha wong saya ngedit tulisan saja nggak pernah. Kecuali tulisan saya sendiri tentu saja. Kalaupun pernah ngedit tulisan, itu tulisan orang-orang dewasa yang sudah tahu penggunaan huruf besar, kata sambung, kata depan, serta tulisan tangan yang sudah rapi juga cerita yang runut dan logis.

Sedangkan di sini, saya tidak hanya berjuang membaca tulisan mereka yang terkadang lebih mirip huruf paku, tetapi juga khilafnya mereka menggunakan spasi antara satu kata dengan kata lain. Lupa menggunakan tanda baca, huruf besar, bahkan lupa dengan cerita yang ditulisnya di awal!

Saya bagai bermain puzzlle. Ngutak ngatik tulisan dan mencoba mencerna apa yang ingin mereka sampaikan tanpa mengurangi sisi kanak-kanan mereka dalam tulisan itu. Meskipun seorang editor berhak mengubah tulisan tapi bukan berarti mengubah gaya menulis anak-anak itu, kan?

Total anggota ada 26 dan setiap anak dipilih dua karya terbaiknya (kalaupun tidak ada yang layak, satu karya tetap wajib dimasukan apapun hasilya. Duh!) Tak jarang saya harus memeras otak mengimbangi frekuensi imajinasi saya yang sudah liar arus ‘kiri’ dengan frekuensi mereka yang masih menari-nari dengan asyiknya di pekarangan rumah.

Tak jarang pula saya menemukan cerita-cerita yang ‘ajaib’ untuk anak umuran mereka. Cerita horor yang byuh! bikin saya mengernyitkan dahi saat membacanya. Cerita legenda yang super ngawur tapi jenaka. Dan tidak sedikit cerita yang saya sangat bisa tangkap itu terjadi di lingkungan mereka, hingga membuat saya geleng-geleng kepala.

Dari tulisan-tulisan mereka, saya sedikit banyak mengetahui lingkungan seperti apa keluarga yang membesarka mereka. Sangat tercermin sekali dari cara mereka berbicara, berinteraksi, menuangkan isi pikiran mereka, bahkan ketika cerita itu digadang-gadang sebagai cerita fiksi atau fabel.

Belum selesai dengan urusan baca-baca tulisan, edit-mengedit tulisan, tugas saya sudah bertambah lagi. Membuat lay out buku hingga menjadi designer untuk sampul buku tersebut. Berhubung teman-teman saya sedang full slot kerjanya, jadi tidak bisa saya rayu dan jawil untuk dimintai bantuan. Hiks..hiks..

Dan sudah hampir seminggu ini, saya jadi macam orang gila. Tidur selalu lewat jam 2 malam, bangun saat subuh tiba dan bekerja hingga malam datang. Begitu siklus kerja saya beberapa hari terakhir. Hingga saya lupa untuk memanjakan lambung saya yang tengah dihajar gas lambung yang kian membumbung tinggi sebulan terakhir. Sigh!

Ngomong-ngomong, mata saya sekarang sudah mirip mata panda. Ada lingkaran hitamnya. Huruf-huruf yang ada di hadapan saya kadang berubah-ubah. Tiba-tiba bisa menari-nari, berpindah tempat dengan sendirinya lalu hilang dari pandangan. Tentu ini hanya halusinasi saya saja, mungkin terlampau lama bercumbu dengan laptop pinjaman yang ukurannya sangat mini.

Saya jadi membayangkan, bagaimana jika saya jadi editor sesungguuhnya ya? Baru editor kacangan saja saya sudah lelah luar biasa. Huufff.. Makanya saya salut dan angkat topi untuk para editor diluar sana dan juga guru bahasa dimanapun Anda berada. *tiba-tiba siaran RRI*

O ya , saya juga sempat mengabaikan ajakan manis kawan maya saya, Masya, untuk menulis bersama. Mohon maaf saya sebesar-besarnya sama kamu, Masya. Awal Juni ternyata tidak juga membuat slot kerja saya melunak. Justru semakin gila! Saya belum sempat menghubungimu via whatsapp dikarenakan ponsel jadoel kesayangan saya sedang ngambek. Ketika sudah benar, saya terkena penyakit lupa. Duh! *sungkem sama Masya*

Oleh karenanya saya meminta maaf melalui forum ini. Karena saya tahu, janji itu hutang dan hutang saya sudah terlampau banyak. Semoga tulisan ini bisa meringankan rasa bersalah saya ya.. *pasang muka melas di depan Masya*

Hmm.. baiklah, saya menulis ini disela-sela istirahat saya dari ngedit. Dan sepertinya, malam sudah semakin larut. Mata saya sudah tak bisa diajak kompromi lagi tapi saya masih harus menyelesaikan semuanya. Jadi, saya sudahi dulu break time saya dengan ngeluh di sini. Mari kita kembali ke lap… top! *lho?!

 

Kandang beruang, 8 Juni 2013 ; 00.15

*Nonayanglagisumpekdidepanlaptoptapimalahasyikcurhatdiblog

Advertisements

7 thoughts on “Sekeping Salut, Setangkup Lelah, dan Sepotong Maaf

  1. Haha.. aku dibikinin tulisan,, eaaa.. Iya mbk, Gpp.. hihihi. Nanti kalo udah gak sibuk aja yaa,, Semangat deh dgn jadwal super sibuknya. Good luck :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s