Pindah ke Surabaya

“Bulan depan kita pindah ke Surabaya ya, Non.”

Saya yang sedang asyik menikmati keripik tempe dan setumpuk film, kontan saja langsung kaget dengan keputusannya. Wajah saya seolah mengatakan, “Serius?”. Dia hanya tersenyum sambil mengecup pipi kanan saya.

Well, ada sebuah project yang akan ia kerjakan. Mengapa harus pindah? Pasalnya ini project panjang yang memakan waktu bukan hitungan bulan, tapi tahun.

Saat itu juga langsung terbayang, saya dengan kegiatan sehari-hari saya. Betapa bahagianya saya akan segera bertemu dengan kawan kriwil; bisa berkumpul, berbincang, berdiskusi di c2o, main-main di Kenjeran, lihat-lihat vihara yang selama ini saya selalu merengek untuk di ajak kesana.

Berkumpul di salah satu taman kota untuk menikmati festival purnama bersama kawankawan pencinta purnama. O ya, saya bisa makan bebek goreng sepuasnya kapan saja dan dimana saja. Tak terkecuali bebek goreng yang lokasinya harus nyeberang jembatan Suramadu itu.

Dan yang paling saya nantikan adalah saya bisa dengan mudah menjadi kutu loncat. Ha? Maksudnya? Iya, kutu loncat, yang bisa dengan mudahnya loncat ke Bali kapanpun saya butuh karena jarak Surabaya-Bali sudah sangat dekat. Macam selemparan kolor saja. Haha…

Saya bisa bolak-balik ke Malang menemui keluarga saya. Main ke kebun apel sesuka hati. Datang secepat kilat ketika tante saya mengabarkan kalau pohon durian kami berbuah dengan lebatnya. Atau pohon salak dan strawberry yang siap panen. Dan tentunya bisa main-main ke daerah-daerah lain yang dulu hanya angan, yang dulu harus dipersiapkan jauh-jauh hari agar terlaksana meskipun kadang batal juga.

Ya, sebahagia itu saya.

Ketika banyak orang justru mengernyitkan dahi dan bertanya, “Kenapa harus Surabaya?” saya justru sebaliknya. Ya, meski saya tak pungkiri kalau Surabaya pernah membuat saya mimisan saat kali pertama menginjakkan kaki di kawasan Sidoarjo. Tapi, toh Surabaya tetap bikin saya rindu.

Ditengah lamunan saya yang bikin senyam senyum sendiri, tiba-tiba saja…

“Non, kamu kenapa senyam senyum gitu?”

Dia mengagetkan saya dengan suksesnya. Bikin lamunan saya hilang seketika, dan dengan bodohnya saya bertanya…

“Kita jadi pindah ke Surabaya, kan?”

Dia tidak memberikan jawaban. Dia hanya tertawa melihat kelakuan saya. Menurutnya saya seperti anak kecil yang haus akan liburan panjang. Saya diam. Tertunduk lesu karena ternyata apa yang saya bayangkan memang hanya sebatas bayangan saja. Kami tidak akan pernah hijrah ke Surabaya. Hiks..

 

 

 

“Kita memang nggak akan pindah ke Surabaya. Tapi… akhir tahun kita akan ‘main’ ke Wamena”

 

 

Aaaaakkk!

Advertisements

9 thoughts on “Pindah ke Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s