Panggil Ia Nona Wisya

Namanya Tya. Aristya Wisya.

Seorang perempuan penggila senja yang benci asap rokok. Ia bekerja sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah internasional di bilangan Jakarta Barat. Sekolah kapitalis. Pengeruk harta orang tua murid tapi lupa membekali dengan etika. Selalu itu yang diungkapkannya ketika orang  bertanya.

Hampir setahun Tya bergabung di sekolah ini. Bukan suatu kebetulan sampai akhirnya ia menceburkan diri di dunia pendidikan. Semua ini memang sudah jadi rencana Tuhan yang ia jalani senang hati.

Dulu, Tya seorang kuli tinta. Kuli tinta di sebuah media cetak ternama di ibukota. Dunia kriminal sangat akrab dengannya. Kejahatan, pembunuhan sudah jadi makanan sehari-hari. Menyoal politik dan HAM biasa digasaknya tak kenal kompromi.

Usianya 27 kala itu. Matang secara pemikiran dan finansial. Tapi kemapanan yang dia dapati tak dibarengi dengan ketenangan hati yang sampai kini masih dicari.

Tujuh tahun sudah ia berkecimpung di dunia jurnalistik. Berawal dari seorang anak magang yang hanya ditugasi menjadi admin sebuah forum, hingga akhirnya menjadi wartawan sungguhan. Memegang kamera dan punya tanda pengenal.

Hingga suatu hari, ia harus menghadapi sebuah kenyataan pelik. Di mana harga diri hanya sebatas amplop tebal yang diselipkan seseorang lewat meja redakturnya. Dan kebenaran hanya berlalu bagai angin lalu.

“Ini surat pengunduran diri saya, Pak,” selembar amplop tipis dirongkannya kepada Pak Ed, pimpinan redaktur tempat Tya bekerja.

Tak ada jawaban. Pria bertubuh kecil pemilik suara bariton itu hanya menurunkan kaca matanya hingga di ujung hidung dan melihat Tya sekilas.

“Yakin, kamu?”

Hening. Anggukan mantap menjawab pertanyaan Pak Ed.

“Karirmu bisa melesat jauh di sini. Sayang kalau mundur sekarang,” lanjutnya sambil memain-mainkan surat pengunduran diri itu.

Ada sebersit keinginan menyanggupi untuk tinggal lebih lama. Tapi ternyata niat hati sudah bulat. Ia harus bergegas pergi sebelum zona nyaman ini membunuhnya pelan-pelan dalam bentuk kemewahan.

***

Pertengahan 2011 menjadi titik awal Tya menjalani hidup sebagai seorang pengangguran. Ia merasa bebas tanpa beban.

Tapi bukan berarti ia terbebas dari hantu perasaan. Ia tetap mencari apa yang hatinya butuhkan. Hingga akhirnnya ia memutuskan untuk mengasingkan diri, jauh dari keramaian. Soso, sebuah desa kecil di Blitar, menjadi tujuannya.

Di sana Tya tinggal dengan penduduk setempat. Sehari-hari ia mengabdikan dirinya menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di kaki gunung. Sulit sekali awalnya. Tapi akhirnya ia mulai terbiasa.

Tiap pagi ia berangkat ke sekolah yang jaraknya hampir 3 km tanpa kendaraan. Bersama dengan anak-anak desa tetangga, ia berjalan sambil mendengar celoteh renyah mereka. Celotehan riang yang hanya menyoal pekerjaan rumah dan tingkah adik mereka hari sebelumnya. Sederhana saja.

Siang hari ia memilih menghabiskan waktu di pematang sawah sambil menjaga sawah milik induk semangnya yang akan panen segera. Membiarkan pipi pualamnya tersapu angin siang dengan ditemani kicau burung yang bersautan di atas sana.

Sebulan, waktu yang ia niatkan di awal. Tapi menjadi delapan bulan ia mengabdikan diri. Hingga suatu hari, Mak Tuo, memberikan kabar bahwa ia sedang sakit dan ingin dijenguk segera. Dengan berat hati Tya meninggalkan desa, kembali ke ibu kota.

Tya menggeret koper tua dengan diantar isak tangis warga yang sudah mencintai dirinya sejak kali pertama.

“Mba Tya bakalan balik ke sini, kan?” tanya Yu Jum, si induk semang dengan derai air mata yang sepertinya enggan berhenti.

“Doakan saja, Yu. Nanti saya kabari,” jawabnya terbata. Menahan desakan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata.

Tya kembali ke Jakarta. Berbekal kenangan yang ia rangkai perlahan sejak delapan bulan silam.

“Bekal cukup untuk persediaan bahagia di ibu kota,” gumamnya lirih.

***

Di Jakarta. Ia senang berkumpul kembali dengan Mak Tuo. Wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri. Kalau bukan karena permintaannya, mungkin Tya enggan menginjakkan kaki di Jakarta kembali.

Tiga hari kepulangan Tya, kondisi kesehatan Mak Tuo berangsur pulih. Ah, rindu rupanya alasan Mak Tuo meminta Tya untuk kembali. Bukan sakit tua seperti dugaan dokter padanya.

“Kamu nak punya tujuan apa, Tya?” tanya Mak Tuo di suatu sore.

Alih-alih  menjawab pertanyaan segera, Tya justru melemparkan pandangan ke luar jendela.

“Menganggur di rumah indak enak. Coba kau tanya kawan-kawan kau, siapa tahu mereka ado kerja untuk kau,” imbuhnya dengan nada khawatir.

Tya menghela nafas. Kata-kata ini sudah pernah dipikirkannya dulu sekali. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berhenti jadi awak media.

“Saya akan bekerja. Tapi ndak akan di bidang yang sama. Mak Tuo sabar ya,” hanya itu yang dikatakannya. Senyum dilemparkannya berharap sedikit menenangkan Mak Tuo yang gusar beberapa hari belakangan.

Semesta seperti mendengar ucapan Tya.

Seorang teman memintanya mengajar di salah satu sekolah elit di Jakarta. Tanpa ragu, Tya menyanggupinya.

“Harusnya ini bukan jadi hal yang sulit. Toh aku pernah mengajar di Soso,” ucapnya dalam hati.

Tya tak pernah tahu apa yang sedang menantinya. Siapa yang akan dihadapinya. Bukan hanya murid-murid seperti di desa kecil bernama Soso. Tapi murid-murid yang akan mengubah cerita hidupnya.

Seratus delapan puluh derajat, mulai besok.

bersambung…

Advertisements

11 thoughts on “Panggil Ia Nona Wisya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s