Panggil Ia Nona Wisya

Namanya Tya. Aristya Wisya.

Seorang perempuan penggila senja yang benci asap rokok. Ia bekerja sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah internasional di bilangan Jakarta Barat. Sekolah kapitalis. Pengeruk harta orang tua murid tapi lupa membekali dengan etika. Selalu itu yang diungkapkannya ketika orang  bertanya.

Hampir setahun Tya bergabung di sekolah ini. Bukan suatu kebetulan sampai akhirnya ia menceburkan diri di dunia pendidikan. Semua ini memang sudah jadi rencana Tuhan yang ia jalani senang hati.

Dulu, Tya seorang kuli tinta. Kuli tinta di sebuah media cetak ternama di ibukota. Dunia kriminal sangat akrab dengannya. Kejahatan, pembunuhan sudah jadi makanan sehari-hari. Menyoal politik dan HAM biasa digasaknya tak kenal kompromi.

Usianya 27 kala itu. Matang secara pemikiran dan finansial. Tapi kemapanan yang dia dapati tak dibarengi dengan ketenangan hati yang sampai kini masih dicari.

Tujuh tahun sudah ia berkecimpung di dunia jurnalistik. Berawal dari seorang anak magang yang hanya ditugasi menjadi admin sebuah forum, hingga akhirnya menjadi wartawan sungguhan. Memegang kamera dan punya tanda pengenal.

Hingga suatu hari, ia harus menghadapi sebuah kenyataan pelik. Di mana harga diri hanya sebatas amplop tebal yang diselipkan seseorang lewat meja redakturnya. Dan kebenaran hanya berlalu bagai angin lalu.

“Ini surat pengunduran diri saya, Pak,” selembar amplop tipis dirongkannya kepada Pak Ed, pimpinan redaktur tempat Tya bekerja.

Tak ada jawaban. Pria bertubuh kecil pemilik suara bariton itu hanya menurunkan kaca matanya hingga di ujung hidung dan melihat Tya sekilas.

“Yakin, kamu?”

Hening. Anggukan mantap menjawab pertanyaan Pak Ed.

“Karirmu bisa melesat jauh di sini. Sayang kalau mundur sekarang,” lanjutnya sambil memain-mainkan surat pengunduran diri itu.

Ada sebersit keinginan menyanggupi untuk tinggal lebih lama. Tapi ternyata niat hati sudah bulat. Ia harus bergegas pergi sebelum zona nyaman ini membunuhnya pelan-pelan dalam bentuk kemewahan.

***

Pertengahan 2011 menjadi titik awal Tya menjalani hidup sebagai seorang pengangguran. Ia merasa bebas tanpa beban.

Tapi bukan berarti ia terbebas dari hantu perasaan. Ia tetap mencari apa yang hatinya butuhkan. Hingga akhirnnya ia memutuskan untuk mengasingkan diri, jauh dari keramaian. Soso, sebuah desa kecil di Blitar, menjadi tujuannya.

Di sana Tya tinggal dengan penduduk setempat. Sehari-hari ia mengabdikan dirinya menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di kaki gunung. Sulit sekali awalnya. Tapi akhirnya ia mulai terbiasa.

Tiap pagi ia berangkat ke sekolah yang jaraknya hampir 3 km tanpa kendaraan. Bersama dengan anak-anak desa tetangga, ia berjalan sambil mendengar celoteh renyah mereka. Celotehan riang yang hanya menyoal pekerjaan rumah dan tingkah adik mereka hari sebelumnya. Sederhana saja.

Siang hari ia memilih menghabiskan waktu di pematang sawah sambil menjaga sawah milik induk semangnya yang akan panen segera. Membiarkan pipi pualamnya tersapu angin siang dengan ditemani kicau burung yang bersautan di atas sana.

Sebulan, waktu yang ia niatkan di awal. Tapi menjadi delapan bulan ia mengabdikan diri. Hingga suatu hari, Mak Tuo, memberikan kabar bahwa ia sedang sakit dan ingin dijenguk segera. Dengan berat hati Tya meninggalkan desa, kembali ke ibu kota.

Tya menggeret koper tua dengan diantar isak tangis warga yang sudah mencintai dirinya sejak kali pertama.

“Mba Tya bakalan balik ke sini, kan?” tanya Yu Jum, si induk semang dengan derai air mata yang sepertinya enggan berhenti.

“Doakan saja, Yu. Nanti saya kabari,” jawabnya terbata. Menahan desakan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata.

Tya kembali ke Jakarta. Berbekal kenangan yang ia rangkai perlahan sejak delapan bulan silam.

“Bekal cukup untuk persediaan bahagia di ibu kota,” gumamnya lirih.

***

Di Jakarta. Ia senang berkumpul kembali dengan Mak Tuo. Wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri. Kalau bukan karena permintaannya, mungkin Tya enggan menginjakkan kaki di Jakarta kembali.

Tiga hari kepulangan Tya, kondisi kesehatan Mak Tuo berangsur pulih. Ah, rindu rupanya alasan Mak Tuo meminta Tya untuk kembali. Bukan sakit tua seperti dugaan dokter padanya.

“Kamu nak punya tujuan apa, Tya?” tanya Mak Tuo di suatu sore.

Alih-alih  menjawab pertanyaan segera, Tya justru melemparkan pandangan ke luar jendela.

“Menganggur di rumah indak enak. Coba kau tanya kawan-kawan kau, siapa tahu mereka ado kerja untuk kau,” imbuhnya dengan nada khawatir.

Tya menghela nafas. Kata-kata ini sudah pernah dipikirkannya dulu sekali. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berhenti jadi awak media.

“Saya akan bekerja. Tapi ndak akan di bidang yang sama. Mak Tuo sabar ya,” hanya itu yang dikatakannya. Senyum dilemparkannya berharap sedikit menenangkan Mak Tuo yang gusar beberapa hari belakangan.

Semesta seperti mendengar ucapan Tya.

Seorang teman memintanya mengajar di salah satu sekolah elit di Jakarta. Tanpa ragu, Tya menyanggupinya.

“Harusnya ini bukan jadi hal yang sulit. Toh aku pernah mengajar di Soso,” ucapnya dalam hati.

Tya tak pernah tahu apa yang sedang menantinya. Siapa yang akan dihadapinya. Bukan hanya murid-murid seperti di desa kecil bernama Soso. Tapi murid-murid yang akan mengubah cerita hidupnya.

Seratus delapan puluh derajat, mulai besok.

bersambung…

Advertisements

Untuk Arum

“I was here, I was there, and I was everywhere.”

Perjalanan bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Buatku, perjalanan adalah upaya memanggil kembali damai yang terenggut macet dan penat Ibukota.

            Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah, membuatku isi hidupku penuh riuh dan berwarna…

“Padi?” suara dari samping kanan membuyarkan lamunanku.

Seorang pria menyunggingkan senyum sambil mengulangi pertanyaannya, “Perjalanan-nya Padi, kan?”

Dahiku berkerut. Kulemparkan pandang penuh tanya padanya.

Earphone kamu jatuh sebelah.”

Ah, iya. Lagu lawas awal 2000-an, teman asyik bepergian.”

Aku tak terbiasa bercakap akrab dengan orang asing. Di dalam bus antarkota pula. Kuputuskan untuk diam dan meresapi Perjalanan ini, dengan harapan orang asing itu tak memaksaku menanggapinya lagi.

“Mau ngapain ke Dieng?”

            Duh, suara itu lagi!

“Ehem!”

“Perjalanan bus ini berakhir di Dieng.”

Sorry, may I just … sleep?””

“Oh, sure. Sorry.””

Cengir lebar terpahat sempurna di wajahnya.

Aku menyamankan dudukku, bersiap pura-pura tidur. Entah kenapa aku merasa sedang diawasi. Aku tetap pura-pura terpejam.

Kali ini saja, kumohon, bebaskan segalaku dari Mahendra. Dieng semestinya steril dari dia, dari kepekatan udara yang telah terkontaminasi oleh kenangan tentangnya. Batinku tanpa mengindahkan orang di sebelahku.

***

            “Mbak Arum!””

Toni melambai begitu melihatku turun dari bus. Di sebelahnya, Jeep Willys tua terparkir gagah. Aku tersenyum mendekat, sebelum suara lain membuat langkahku tertambat.

Hei, Bro!””

Pemuda asing itu merangkul Toni, meninggalkan aku yang memandang penuh tanya untuk kesekian kalinya.

“Wah, ternyata kalian barengan. Sudah saling kenal?”

“Reza.””

Pemuda itu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya ragu-ragu.

“Arum.””

Reza kembali menerbitkan senyumnya. Dengan sigap, dia lemparkan ransel hitam ke jok belakang.

Yuk, berangkat!””

“Sial! Kenapa harus barengan lagi, sih?””gerutuku.

Aku duduk di samping Toni. Aku lebih banyak diam. Antara lelah dan malas berbicara dengan lelaki yang, sejak dalam perjalanan, menggangguku dengan pertanyaan basinya.

Kulemparkan pandangan jauh, membiarkan angin pegunungan membelai pipiku dan mengisi peparuku. Aku memejamkan mata mencoba mengumpulkan keping bahagia yang ditebarkan semesta.

Woy! Kok bengong?””

Tepukan halus di pundak mengagetkanku, membuyarkan lamunan dan membuatku kesal.

Kualihkan pandangan sinis seolah berkata “”Senggol, bacok!”” ke arahnya. Perlahan, Reza pun langsung mundur dan mengangkat tangannya tanda tak akan menggangguku lagi. Semoga.

“Mba Arum kalau capek memang suka bengong dan agak galak. Santai aja, nanti juga terbiasa.”

Keterangan Toni kuhadiahi tatapan dingin.

“Memang Mba Arum ini punya kebiasaan mesam mesem sendiri ya, Ton?”

Pertanyaan Reza langsung diamini Toni sepenuh hati.

Brengsek!

            Aku memilih mengabaikan ledekan mereka, tenggelam dalam lagu yang terputar dari mp3 player milikku.

             Kau buat sempurna awalnya, berakhir bencana…

 Playlist ini seperti berkonspirasi dengan suasana hatiku saat ini. Karma milik Coklat ini sepantasnya kuhadiahi untuk Mahendra.

Entah sudah berapa lama sejak aku menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali kuingat, aku membawa pulang cukup banyak ‘perbekalan’ untuk bertahan hidup di Ibukota. Dieng memang selalu jadi tempatku ‘melarikan diri’ dari penat, entah karena pekerjaan, atau urusan cinta.

Ah…

Ada rasa sakit yang menusuk pelan hatiku saat mengucap kata ‘cinta’. Apa iya aku sudah hilang rasa untuk urusan satu itu?

Mahendra. Ya semua ini karena Mahendra.”

Ada kilat benci di ingatanku. Ada rasa muak yang mengakar tiap kali menyebutkan nama itu. Juga ada jijik yang aku tak bisa hilangkan saat berjumpa dengannya.

Aaarrrggh!

“Mbak, kamu nggak apa-apa? Kita sudah sampai.”

Teguran Toni membawaku kembali ke dunia nyata. Saat kucoba menenangkan diri, kudapati Reza tengah memperhatikanku dengan tekun.

“Kamu unik,” celetuknya.

Kukernyitkan dahi, tak mengerti ucapannya.

“Kamu bisa mesam mesem persis kayak orang jatuh cinta. Tapi bisa berubah seperti ingin membunuh orang dalam waktu singkat. Benar-benar unik! Hanya pemain watak yang bisa melakukannya.”

Aku diam. Tidak ada gurat wajah mencela dari kata-katanya. Ia tidak sedang meledekku ataupun menggangguku.

Apa iya wajahku seperti orang yang ingin membunuh?

***

Aku hanya ingin berteman dengan tenang selama di Dieng. Membaur bersama kehidupan kampung, bercengkerama dengan kakek nenek, juga Toni. Guyonan sepupuku itu selalu berhasil membuat dunia senduku merekah.

Semestinya, liburanku tanpa pemuda bernama Reza ini. Dia penyusup ketenanganku. Aku sulit menyukai orang baru. Tapi, bukankah baru itu hanya sedetik? Setelah itu semuanya menjadi hal yang lama?

“Kalau kamu bawa masalahmu kemari, sia-sia semua liburan ini.”

Suara itu mengusik lamunanku, lagi. Aku tak berminat melirik sumber suara, meski kutahu dia tengah duduk berjarak dariku.

“Aku sering berkunjung ke Dieng setiap aku merasa kehidupan terlalu pongah.”

Reza masih saja berkicau. Kulirik sekilas. Cih! Dia senyam-senyum memandang perbukitan sambil sekilas memandangku.

“Di pemberhentian bus tadi, sudah kutanggalkan semua penatku. Dieng terlalu indah untuk diabaikan hanya karena hal-hal tak menyenangkan. Nanti, setelah aku kembali, penat tak akan mengikutiku lagi. Beres,” nadanya berubah enteng.

Hhh…

“Kamu sok tahu, nggak segampang itu!”

Monolog Reza akhirnya kusambar juga.

“Tentu saja mudah. Tinggal diikhlaskan, nggak perlu dibuat susah,” sahutnya.

Aku mendengus sebal. Dia benar-benar sok tahu! Aku semakin tidak suka padanya. Sedikit banyak, aku mulai tersindir kata-katanya.

“Wah, wah. Ternyata benar ‘kan yang aku duga?!”

Dia bertepuk tangan tiba-tiba, diiringi senyum sumringah.

Alisku mengerut memandang tingkahnya. Cowok ini selalu bicara nggak jelas juntrungannya.

“Gadis patah hati, gelagatnya selalu sama. Aku sudah hafal mati!”

Ia terkekeh sendiri mendengar kata-katanya. Tatapanku sengit ke arahnya.

Segitu terlihatkah?

“Aku sudah sering melanglang buana. Banyak manusia kutemui. Gelagat orang jatuh cinta dan patah hati itu … yah, semacam udara yang selalu bisa kutemui di belahan dunia mana pun juga.”

“Kamu backpacker?” tanyaku tiba-tiba.

Aku yakin ini bukan karena aku mulai tertarik dengan ocehan Reza. Ini hanya … semacam pengalihan dari topik yang sok dia kuasai semua.

Reza mengangguk bangga. Aku mendengus lagi.

“Paling kamu backpacker tipikal. Punya blog, pamer foto sana-sini. Ketemu si anu, si itu, semua dimuat dalam cerita,” sindirku.

Bukannya merasa, Reza malah tertawa-tawa.

“Sinisnya! Kamu backpacker nggak kesampaian, ya?”

Tawanya kian jadi. Aku sekadar bergumam malas-malasan. Sampai akhirnya, suara tawanya mereda.

“Cuma backpacker kacangan yang menggunakan itu sebagai ajang pamer. Backpacker sejati menggunakannya sebagai peta perjalanan, sebagai warisan.”

Reza terdiam. Anehnya, aku menunggunya melanjutkan bicara.

Backpacker memiliki kemungkinan tinggi untuk mati di suatu tempat, tanpa kerabat yang tahu sama sekali. Hmm, kamu pernah nonton film 127 Hours, kan? Yah, semacam itu lah. Meski tokohnya nggak mati.”

Reza tersenyum menatapku.

Tanpa sadar, aku memandangi lamat-lamat pemuda gondrong ini. Dia memang berisik, suka basa-basi, tapi benar, tidak semua yang basa-basi itu basi.

Aku jadi teringat ucapan Mahendra, ‘Basa-basi itu hal sepele. Tapi, kalau untuk hal sesepele itu saja kamu tidak bisa, bagaimana kamu mengurus sesuatu yang lebih besar?’

            Ah, Mahendra.

Apa basa-basi juga yang selama ini diberikan padaku? Dia pria berkharisma, tak seharusnya dia menjatuhkan harga dirinya dengan perselingkuhan murahan. Bersama sahabatku pula.

***

Beberapa hari ini aku memikirkan apa yang Reza katakan, juga Mahendra. Mencoba mengaitkannya dengan sikapku selama ini.

Apa benar aku hanya menyakiti diri sendiri seperti yang Reza tuduhkan?

“Waktu bukan dokter. Obati sendiri lukamu.”

Itu yang Reza katakan sebelum aku meninggalkannya di Kawah Sikidang beberapa hari lalu karena sebal.

Aku memang membiarkan waktu menyembuhkan luka tanpa usaha dari dalam hatiku untuk sembuh. Kupejamkan mata, mencoba berdialog dengan semesta.

Tuhan, apa rencanamu?

            Bip..bip..

Sebuah pesan masuk.

            Arum, tolong jawab pesanku. Aku ingin menjelaskan semuanya.

Mahendra.

            Ah, aku tak perlu membalas pesannya. Toh sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Semua sudah terlalu jelas di mataku.

“Sepertinya orang yang mengirimkan pesan butuh dibalas segera,” tetiba ada suara mengagetkanku.

“Kasihan lho. Sedari tadi pesannya masuk, tapi dilirik isinya saja nggak,”” sambungnya lagi.

“Aku tak perlu memberikan balasan apalagi mendengar penjelasan dari pengkhianat,”” tuturku meluncur mulus yang membuat diriku sendiri terkejut.

Kenapa aku bisa curhat colongan dengan Reza?

Reza menempatkan diri di sampingku. Menatap jauh ke area persawahan yang padinya mulai menguning di beberapa tempat. Segerombolan burung tengah berebut pucuk-pucuk padi, mencoba mengambil gabahnya yang sesekali dikagetkan orang-orangan sawah.

Lanskap matari senja mempercantik riuh canda makhluk-makhluk Tuhan yang sedang bergembira bersama sayap-sayapnya itu.

“Kamu tahu, Rum? Kadang, berdamai dengan pengkhianat itu justru obat paling mujarab. Anggap saja, ini ujian kenaikan kelas dalam menjalani hidup,” jelasnya enteng.

Aku tak membantah. Aku diam, mendengar penjelasannya yang -sialnya- aku akui sangat dewasa.

            Hhh..

“Kalau dia memutuskan untuk berjalan dengan orang lain, mungkin orang itu lebih membutuhkan pengkhianat itu ketimbang dirimu. Lagipula kamu baru saja kehilangan seorang pengkhianat, seharusnya dia yang luar biasa kecewa, bukan kamu. Sederhana saja,” tutupnya.

Ada sesak yang mendesak ingin keluar dari dada. Aku menangis sejadinya. Reza memberikan bahunya untukku.

“Tuangkan saja, kalau menangis bisa membuatmu lebih lega,” ujarnya seraya menepuk-nepuk bahuku lembut.

Senja kali ini tak seindah biasanya, pendar jingga yang terlukis terlalu kabur. Dua biji almond di mataku berkabut karena cairan basah yang menggenang. Anehnya, perlahan semua sesak yang mengganjal terkikis sedikit demi sedikit, seolah luruh bersama air mataku. Perasaan tenang menggantikan tempatnya.

***

            Kicau burung pagi ini serasa merdu. Aku bangun dengan perasaan seperti terlahir kembali, menjadi Arum yang baru.

“Selamat pagi, semuaaaa…..” sapaku riang.

“Tumben hari ini sumringah banget, Mbak,” pertanyaan Toni hanya kusambut dengan senyuman.

“Aku balik ke Jakarta siang ini.””

Semua orang menatapku heran. Tapi tak satupun dari mereka bertanya; ‘kenapa?’ Hanya Reza yang menyambut rencanaku dengan senyuman dan acungan jempol dari seberang meja makan.

Aku sudah berkemas. Ransel Consina merah milikku sudah tersandang mantap di bahu. Aku berpamitan dengan Kakek, Nenek dan Toni. Terakhir, kujabat erat tangan Reza.

Ia mengantarku sampai terminal.

“         “Hati-hati ya.””

“         “Terima kasih sudah ‘menamparku’ kemarin.”

“Hahaha.. Wajahmu terlalu manis untuk disinggahi sebuah tamparan, darlin’,”” kelakarnya.

Kuhadiahi ia sebuah pukulan ringan di lengan.

“Sekali lagi terima kasih. Aku berusaha berdamai dengan semua ini. Kuharap kau masih di sini saat aku kembali. Jadi, kita bisa berkenalan sebagai orang yang baru.”

“Tentu. Aku ingin bertemu dengan Arum yang baru. Bukan yang suka cemberut!” ledekannya menghantarku bertolak ke Jakarta.

            Suasana terminal tidak seasing biasanya. Deru mesin bis, yang biasanya terlalu bising itu, hilang ditelan nyanyian dalam kepala yang mengantarkan aku pulang.

—Dua Minggu Sebelumnya

 Bip..bip..

            Arum pergi ke Dieng. Tolong temani dia. Aku percayakan dia sama kamu.

 Sebuah pesan singkat dari Mahendra untuk Reza, sahabatnya. Reza mengenal Arum melalui cerita Mahendra bahkan hingga kronologis bagaimana Mahendra sampai pergi meninggalkan Arum.

“Bagaimana menurutmu?” Reza berharap solusi dari istrinya.

“Aku percaya kamu. Sepertinya kamu memang dilahirkan untuk itu.”

“Maksudmu?”

“Kamu sepertinya terlahir untuk mengobati sakit hati wanita. Seperti kamu menyembuhkan lukaku dulu.”

Hening merayapi perbincangan mereka. Usapan lembut Dina seolah meyakinkan Reza untuk mengiyakan Mahendra.

“Pria sejati dilahirkan untuk membereskan sampah yang ditebar oleh seorang pengecut.” Dina menatap lembut suaminya, dengan sorot yang sangat yakin.

Reza tersenyum.

            Aku penuhi pintamu. Untuk Arum, bukan untukmu!

Sent.

***

            Reza menatap kepulan asap hitam bus yang membawa Arum. Diambilnya ponsel dari saku kanannya.

           Sepertinya aku berhasil.

            Di Jakarta, Dina tersenyum membaca pesan dari suaminya.

Cerpen kolaborasi Septia Wulan dengan Ades Oriloval dalam rangka mengikuti #ALoveGiveaway.

Masih Tentang Russel

Pagi ini datang terlampau cepat. Aku yang semalaman tak bisa tidur karena memeriksa tugas anak kelas enam terpaksa mengambil jatah tidur malam. Dua gelas kopi hitam ternyata tak membuat mata ini berkompromi untuk tetap terjaga. Aroma teh chamomile milik Rendra- guru olah raga- menggelitik penciumanku untuk menyesapnya juga.

Untung saja pagi ini tidak ada kelas, kalau tidak entah bagaimana rupaku saat memasuki kelas nantinya. Aku masih ingat betul dua bulan lalu, ketika aku kekurangan tidur karena harus mengawal pementasan anak kelas 12 di GKJ. Tiba di rumah pukul 2 dini hari dan pagi hari aku harus mengajar anak kelas 1.

Sepagian mereka menyecarku dengan pertanyaan “Miss Tya matanya kenapa?” atau “Miss Tya are you okey? Are you galau miss?” yeah.. kata ‘galau’ sepertinya sudah merasuki murid-murid kecilku ini. Entah apakah mereka benar-benar tahu artinya atau hanya mengikuti tren di kalangan senior mereka di lingkungan sekolah.

Pertanyaan mereka tak kan berhenti sampai disitu saja. Mereka akan terus mencari tahu ada apa denganku dan mereka juga mencari tahu bagaimana membuat wajahku kembali ceria seperti semula.

Ada yang membelikan aku es krim, memberikan bekal makan siangnya, atau ada yang memberikanku apel dan cokelat. Bahkan, Terry, meminjamiku iguanannya yang tidak pernah absen masuk kelas. Rrrr.. aku memilih tersenyum selebar-lebarnya daripada harus mengelus-elus iguana miliknya sepanjang pelajaran.

Tapi terlepas dari semua itu, aku terharu dengan sikap mereka. Mereka begitu peduli dengan sekitarnya, dengan kawannya, dengan gurunya. Ah, semoga saja orang tua dan lingkungan tidak akan mengikis kepedulian mereka nantinya.

Karena pagi ini tidak ada kelas, aku memilih untuk menuju perpustakaan untuk mencari referensi materi mengajar, atau menikmati secangkir teh chamomile di belakang gedung perpus.

Untuk mencapai perpustakaan, aku harus melintasi dua lapangan basket yang luasnya lumayan untuk olah raga. Lapangan yang satu sedang digunakan anak-anak kelas empat untuk bermain basket sedangkan lapangan satunya dipersiapkan untuk anak kelas satu berolah raga.

Paling seru melihat anak-anak kelas satu ini berolah raga. Gayanya selalu ada saja yang bisa bikin perut sakit karena tertawa. Atau terbengong-bengong takjub karena sikap mereka yang kadang tak terpikirkan oleh nalar orang dewasa.

Sampai akhirnya, mataku menangkap sosok yang sangat akrab denganku.

“Russel,” gumamku.

Mengapa anak itu tak ikut kelas olah raga? Lalu apa yang ia lakukan di pinggir lapangan. Otakku berdialog sendiri, menerka-nerka apa yang dilakukan Russel kali ini. Apakah ia mulai berulah lagi? Ah, nanti saja aku tanyakan langsung padanya.

***

Pukul sepuluh, aku mulai mengajar di kelas satu. Suasana ramai terdengar dari ujung kelas. Teriakan Sean melengking seperti biasa. Kalau tidak Terry yang jail bersama iguananya, pastilah Russel yang mengganggunya. Selain itu, masih ada suara tawa Donny yang mirip-mirip Takeshi alias Giant di serial Doraemon. Ya, kelasku ini memang super bukan main! Super ramai, berisik, nakal, tapi sekaligus ngangenin.

Kalau mengajar di kelas ini, tidak hanya mempersiapkan materi pelajaran saja, tapi juga fisik dan mental yang berkali-kali lipat jumlahnya. Meskipun begitu, akan selalu ada serum bahagia yang terisi di pundi-pundi hati saat aku keluar dari kelas. Sederhana.

Saat aku memasuki kelas, anak-anak langsung berhamburan kembali ke bangkunya masing-masing. Remi, seorang bocah berperawakan mungil, berkacamat tebal, langsung berlari menujuku sambil menghamburkan pelukan setiap kali aku memasuki kelas. Berkali-kali aku memintanya untuk tidak melakukan hal itu kecuali jika pelajaran telah usai. Tapi ia enggan menuruti perintahku. Ini sudah seperti tradisi di keluarganya untuk memulai apapun dengan sebuah pelukan hangat. Pada akhirnya, aku berkompromi dengan itu.

Pelajaran berlangsung tanpa terasa. Kini saatnya mempersiapkan mereka untuk pulang dan sedikit memberikan ‘oleh-oleh’ untuk disantap di rumah.

Semua anak-anak berpamitan padaku. Jangan pernah bayangkan  akan ada adegan cium tangan saat pulang sekolah. Sepertinya tradisi itu hanya ada di sekolah negeri jaman aku bersekolah dulu. Sejak awal aku bergabung di sekolah ini, tidak ada kebiasaan itu. Tapi, ada beberapa anak yang selalu memberikanku pelukan serta kecupan saat pulang sekolah. Ah, hangat rasanya!

Selain Russel yang kuminta untuk tinggal di kelas, anak-anak lain sudah berpamitan. Russel tampak bingung ketika kuminta ia untuk tinggal di kelas sebentar saja. Raut wajah protes ia tampilkan seolah menolak permintaanku, tapi kuyakinkan ia ini hanya sebentar saja.

“Russel, tadi pagi kamu kenapa nggak ikut pelajaran olah raga?” tanyaku langsung padanya.

“Umm..aku..aku ikut kok Miss.”

“Hayoo, jangan bohong. Tadi pagi Miss lihat kamu duduk di pinggir lapangan sambil minum teh botol,” ujarku lagi.

“Nggak, Miss,” kilahnya.

“Kamu tahu kan, Miss Tya nggak suka kalau murid-murid Miss Tya bohong? Nah, kamu harus jawab jujur Russel,” jelasku lagi.

“Bener Miss, aku nggak bohong,” jawabnya berusaha meyakinkanku lagi.

“Lha terus, kalau bukan kamu siapa dong yang minum teh botol di pinggir lapangan? Miss Tya lihat kamu lho, Mr.  Rendra juga,”

“Iiihh..Miss Tya nggak percayaan banget sih?! Aku nggak minum teh botol! Aku minum estea tadi pagi,” penjelasannya kali ini dibarengi dengan wajah serius dan nada yang meninggi. Sedangkan aku, berusaha menahan tawa sekuat tenaga.

Oh Tuhan, Russelku ini bukannya meyakinkan aku kalau dia ikut olah raga, tapi meyakinkan aku kalau yang dia minum itu bukan teh botol seperti yang kutuduhkan padanya, melainkan estea. Hahaha…

Kemang, 29 April 2013

Di Balik Helm Acit

Bola mata Acit menelusuri baris demi baris pada halaman khusus lowongan kerja di Koran pagi ini. Rutinitas tiap sabtu pagi yang mulai dilakukannyasejak enam bulan lalu. Ya, sejak tali pada toganya berpindah dari sisi kiri ke kanan oleh dekan Fakultas Teknik di kampusnya.

Ada notifikasi pada layar empat inchi ponselnya. Mama.

Cit, udah sarapan? Hari ini ada rencana apa, sayang? Pakde Kusno mau mampir ke sana. Kangen sama kamu tuh.

Indra hari ini masih berkutat dengan event di kantornya. Isi kulkas dan lemari cemilan bisa dibilang masih cukup aman. Mood memasak sedang melanglang buana entah kemana. Penjaja makanan yang lewat masih bisa mengakomodir gejolak liar naga di perutnya.

Ndak kemana-mana, Ma.. Kalau Pakde mau ke sini boleh aja. Mau datang jam berapa?

Berbincang dengan Pakde Kusno bisa menjadi hiburan di akhir pecan ini. Gaya bicara yang lepas dengan suara berat dan lantang adalah ciri khasnya. Persis seperti Papa.

Papa. Ah, tiap kali membicarakan pria paruh baya yang satu itu hati Acit selalu saja bergemuruh. Seperti ada amarah yang siap untuk meledak sewaktu-waktu. Tak ubahnya panen bom waktu di Afganistan. Entah sudah berapa lama sejak kali terakhir berbincang-bincang dengan Papa. Satu hal yang ia ingat betul, rasa panas yang melekat tepat di pipi kanannya sulit sekali dihilangkan dalam pikiran dan hatinya meski bekas sudah tak lagi tampak sehari sesudahnya.

Kunjungan Pakde Kusno sedikit banyak mengganti kehadiran Papa. Meski beliau paham ketegangan yang terjadi antara Acit dan Papa, tapi tidak pernah memaksa untuk membicarakannya. Tidak tanpa Acit yang memulainya. Dan seringkali, Acit yang terpicu emosi dan mengungkit masalahnya dengan Papa.

Seperti mengenai status Acit yg masih pengangguran. Memang agak mengherankan, dengan bekal IP 3.4 dan pengalamam magang di beberapa perusahaan, ditambah daftar keaktifannya dalam kegiatan kemahasiswaan, semestinya mendapatkan pekerjaan bukan hal yang sulit untuknya. Pakde Kusno secara halus selalu mengajak Acit menganalisa alasan penolakan perusahaan-perusahaan itu. Yang selalu berujung pada, “mungkin memang belum rejekinya, belum dapat ridho dari Allah.”

“Arrrggh..”

Acit melemparkan Koran pagi yang ada di tangannya. Ia malas melanjutkan pencariannya. Ia bergegas keluar kamar dan menyambar handuk yang tergantung di jemuran samping kamarnya.

“Sebaiknya aku ke kampus. Mungkin ada yang bisa kukerjakan di sana,” batinnya.

Tak berapa lama, ia sudah siap mengajak Lui-sepeda polygon merah kesayangannya- menuju kampus. Helm berwarna senada ia kenakan sebelum membelah jalan raya pagi ini. Acit selalu saja ‘melarikan diri’ bersama Lui jika sedang resah. Selain Pakde Kusno tentu saja yang ia jadikan sandaran cerita ketika hatinya benar-benar membutuhkan setitik damai.

Menyusuri sepanjang jalan menuju kampus selalu membawa angin segar dalam hatinya. Penjaja makanan serta segala macam rental dan toko yang menjadi sahabat setia kantong para mahasiswa terasa begitu akrab bagi Acit. Mungkin karena itu juga ia masih menyewa sepetak kamar di rumah kost Ibu Rahadi. Karena sebenarnya, ia tak mau pergi melangkah ke dalam suatu dunia baru, tanggung jawab baru. Apalagi untuk kembali ke Solo, dimana tanggung jawab besar menantinya lebih dari sekadar seorang karyawan.

Berbekal bolang-baling yang baru saja dibelinya di warung Mas Jo’ ia bergegas masuk ke dalam kampus. Langkah kakinya dipercepat menuju satu tempat yang dulu hanya dilihatnya sekilas tiap kali ia ingin ke ruang kemahasiswaan. Jobs Corner. Sebuah tempat di mana papan berukuran 2,5mx1,5m berdiri dengan banyak kertas menempel di tiap sisinya. Kertas-kertas bertuliskan info lowongan kerja.

Entah apa yang membuat Acit tergelitik untuk mampir dan membaca setiap kertas yang tertempel di sana. Desakan orang tua untuk segera mendapat pekerjaan kah? Mungkin saja. Perlahan ia menekuni setiap info yang terpampang di hadapannya. Mulai dari marketing sebuah provider kenamaan di Jakarta, menjadi penterjemah buku, guru privat, hingga menjadi relawan di salah satu panti jompo.

Tak ada satupun yang membuat hati Acit tergerak untuk mencari tahu lebih jauh. Hingga matanya tertumbuk pada satu pengumuman bertuliskan “Dicari penyiar untuk Radio Geronimo”. Lama ia membaca informasi yang tertera di sana. Ada rona bahagia terpancar dari matanya, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis namun manis. Segera ia mencatat alamat email yang tercantum di sana, renggana@geronimofm.com.

Ia pun melanjutkan langkahnya menuju Lab Aerodynamic. Kantung bolang-baling diletakkannya di meja ruang asisten Lab. Hari sabtu seperti ini, dijadikan para asisten untuk kumpul-kumpul menghabiskan waktu. Terutama mereka yang masih jomblo, fasilitas internet gratis membuat mereka betah mengais rokok batangan yang dibeli renceng di koperasi.

Bolang-baling gahar diserbu mereka, tandas seketika. “Piye, mba? Tes kemarin berhasil, tah?” Acit menjawab dengan cubitan pada hidung Anji yang lumayan mancung itu. “Helah piye, tho? Ditakon kok yo malah nyubit. Mukamu kusut udah jadi jawaban wis. Eh, apa itu karena belum mandi ya, mba?” konyol ia julurkan lidahnya pada Acit. “Ndak usah banyak omong. Bantuin aku aja nih, aku mau tanya-tanya soal Geronimo.” Nyaman Acit selonjorkan kaki nya ke atas pegangan bangku kosong di sebelahnya. Lab ini bagaikan rumah keduanya. Biarlah ia bermain di sini dulu. Toh Pakde baru sore nanti datang ke kos.

“Waah, mau jadi penyiar tho, Mbak? Emang suaramu enak didenger yo?” goda Anji yang membuat Acit langsung mendaratkan sebuah jitakan di kepalanya.

“Wong jenenge yo usaha, siapa tahu aku beruntung,” jawab Acit sekenanya. Tapi sejujurnya, ia menggantungkan sedikit lebih banyak harapan pada lowongan kali ini. Ia mulai mencari tahu tentang Geronimo dan tentang lowongan yang akan coba ia isi nantinya. Penyiar. Salah satu mimpi yang pernah ia punya dulu sekali, yang pernah ia coba hingga akhirnya Papa menghalanginya karena menurut Papa menjadi penyiar hanya akan mengganggu kuliah saja.

Sigh!

“Lagi-lagi Papa,” gumamnya.

Papa yang dulu selalu mendukung segala mimpi Acit tiba-tiba menjadi batu besar pada setiap langkahnya. “Papa kan sudah bilang, kuliah jangan main-main. Kamu memang pintar, tapi jangan sombong. Menghabiskan waktu bergaul dengan orang-orang semacam itu gak ada gunanya. Apalagi mulai ikut apa itu, naik gunung, demo, panitia ini itu. Kapan kamu belajarnya?” Omongan Papa saat ia tengah aktif berorganisasi di tingkat tiga kuliahnya membuat Acit mengernyitkan kening, dan juga bibir mungilnya.

Kala itu keluarganya baru saja pindah ke Solo, sebuah keputusan besar yang hingga kini Acit tak mengerti alasannya apa. Belum lagi ditambah berita bahwa Papanya mendirikan usaha pabrik furnitur yang mengkhususkan pada dekorasi perkantoran. Mengapa harus Solo? Dan mengapa harus meninggalkan adiknya sendirian di Jakarta?

Dan bahkan belum puas Papa mengekang kegiatan Acit, hubungannya dengan Indra pun harus rela menjadi bahan pertengkaran setiap kali ia pulang. “Mental pegawai! Mana bisa dampingi kamu buat pimpin pabrik ini.” Hah? Siapa yang mau memimpin pabrik? Apa sih yang sedang direncanakan Papa?

Apapun yang berkaitan dengan Papa selalu saja membawa Acit ke dalam lamunan panjang. Mengacaukan mood-nya seharian dan entah apalagi yang akan membuatnya enggan menyunggingkan senyum. Papa, ibarat musuh bebuyutan untuk Acit beberapa tahun terakhir.

“Nji, aku pinjam laptop mu ya. Mau bikin surat lamaran, malas bikin di kosan,” ujar Acit bahkan sebelum Anji menyetujuinya ia sudah duduk nyaman bersama dnegan lapto kesayangan Anji.

Tak perlu waktu lama untuknya membuat surat lamaran itu. Ia kirimkan beserta contoh suara yang ia rekam baru saja dengan telepon genggam miliknya. Ia melirik jam tangan Swatch miliknya.

“Astaga! Pakde Kusno!” pekik Acit yang membuat Anji bertanya keheranan.

“Kenapa, Mbak?”

“Aku pamit ya, Pakde ku mau datang ke kosan sore ini,” bergegas ia pamit kepada Anji dan segera menyambar Lui yang tengah mengenyakkan diri di dekat pohon angsana tua depan lab.

Pakde Kusno datang sore ini, kalau sempat kamu mampir ke kosan ya. O ya, tadi aku kirim lamaran ke Geronimo. Doakan ya.

Sebuah pesan singkat ia ketikkan dengan tergesa dan langsung dikirimkannya ke Indra. Komunikasi mereka memang tidak seperti pasangan kebanyakan. Cukup dengan info singkat tentang kegiatan hari itu cukup membuat mereka tetap merasakan dekat. Sederhana saja.

Lui tiba-tiba dihenyakkannya pada halaman rumah Ibu Ruhadi. Kenapa terdengar suara tawa Papa di ruang tamu? Dan sepatu Indra pun tampak berdampingan di rak samping pintu. Yang datang sebetulnya siapa? Pakde atau Papa?

“Assalamu’alaikum.. Loh, sudah sampai, Pakde?” Acit langsung mencium tangan Papa dan Pakde bergantian, namun tetap tak menyapa Papanya. Wajah penuh pertanyaan dia lempar ke Indra yang sedang tersenyum nakal penuh rahasia. Mau pecah rasanya kepala kalau menjadi satu-satu nya orang yang tidak mengerti apa yang terjadi.

“Wa’alaikumsalam, Cit. Darimana, Cit? Kata Mama kamu ndak ada rencana apa-apa, eh kok malah keluyuran. Nih, makan dulu Sosis Solonya. Kasihan cacing kelaparan di perut kamu diajak naik sepeda terus.” Menatap sekotak cemilan kesukaannya, Acit masih mencoba menerka apa yang sedang terjadi.

“Helm kamu udah ndak pantas dipakai, Nak. Papa bawakan yang baru nih.” Tersedak Acit menerima helm dari tangan Papanya. Suara Papa terdengar berubah. Lebih lembut dari biasanya. Seperti dulu, kala beliau masih menjadi sahabat terbaik tempat Acit bercerita.

“Tadi Papa muter-muter cari yang cocok untuk kamu bareng Indra,” lanjut Papa yang membuat Acit semakin sulit menelan makanannya. Acit melemparkan pandangan tajam kea rah Indra.

Seperti menangkap sinyal tanya Acit, Indra mencoba membuka suara.

“Iya, tadi Papa ke kantorku dan ajak aku cari helm untuk kamu. Lha wong yang lama udah retak sana sini kebanyakan dipake nyungsep pas down hill sih,” canda Indra yang sama sekali tidak bisa membuat tanya dikepala Acit luntur sedikit saja.

“Papa… Indra… Helm ini? Ada apa sih sebenarnya? Acit nggak ngerti!” kata-katanya sedikit meninggi.

Indra merangkul bahu Acit dan mengajaknya untuk duduk bersama. Ada hangat yang tertahan di pelupuk matanya. Ada haru yang perlahan menelusup di hatinya. Ini terlalu manis untuk dijadikan kejutan sore, Acit merasa tak siap. Meski ini sebuah bahagia… sepertinya.

“Kamu inget gak bulan lalu aku sempet ada event di Solo?” Acit berusaha mengangguk dengan mata yang bergantian menatap Indra dan Papa bergantian. “Aku mampir ke rumah. Kebetulan pas Papa sedang membongkar mobil. Jadi ya aku ngobrol sama Papa sambil ikut benerin mobil.” Dari seringai yang terbentuk di bibir Indra, Acit mulai bisa meraba arah pembicaraannya. Meski masih sangsi apakah itu benar-benar terjadi.

“Kamu tahu kan udah lama banget Papa pengen si Kudo itu dimodifikasi. Cuma belum ketemu waktu sama bengkel yang cocok aja. Nah, Nak Indra kebetulan punya kenalan di Solo yang bisa bikin Kudo jadi gagah. Yaa, senggaknya gak bikin Papa malu lah pas antar Mama ke pasar.” Suzuki Escudo keluaran 94 punya Papa memang sudah sedikit memalukan kondisinya. Pantas saja Papa dan Indra bisa akrab begini. Kalau sudah mengenai otomotif, antusiasme dan semangat Indra langsung membumbung tinggi. “Yah, karena itu setiap wiken aku ke Solo. Menemani Papa ke bengkel temenku. Maaf ya aku bohong kalau bilang ada event di luar kota.”

Acit semakin lahap menyantap Sosis Solo, menutupi debaran jantungnya yang semakin penasaran akan muara cerita ini. “Papa banyak bicara sama Nak Indra. Bukan hanya soal Kudo, tapi juga soal keinginan kamu yang ingin merambahi beberapa mimpi kamu. Papa juga jelaskan, usaha supply sayuran dan buah-buahan Papa mengalami penurunan omset. Makanya Papa melihat peluang usaha furnitur perkantoran yang sedang naik daun sebagai alternatif. Papa sudah diskusi dengan beberapa teman dan relatif. Solo menjadi pilihan karena selain itu kampung halaman Papa dan Mama, juga karena biaya produksinya lebih murah dibandingkan di Jakarta.”

Lalu Pakde menambahkan, Papa sebetulnya khawatir dalam memulai usaha barunya ini. Karenanya beliau ingin Acit segera lulus kuliah dan membantu Papa menjalankan bisnisnya. Hanya saja, gengsi Papa terlalu tinggi untuk menyampaikan pada Acit. Papa takut putri kesayangannya merasa kecewa bahwa Papa yang diidolakannya gagal mempertahankan usaha di Jakarta dan membutuhkan bantuan putrinya.

Tiba-tiba, Sosis Solo yang sudah dingin karena perjalanan Solo-Yogya kembali terasa hangat di mulut Acit. “Tapi dengan sikap Papa yang keras terhadap Acit itu sudah bikin Acit kecewa,” sanggahnya dengan segera, masih berusaha memungkiri hatinya yang memanas. Entah karena iba bahwa selama ini Papa menanggung segala kekhawatiran atau karena merasa tersinggung tidak dianggap cukup dewasa untuk dilibatkan dalam permasalahan keluarganya.

“Papa nggak tahu kan Acit berjuang mati-matian menunjukkan sama Papa kalau segala kegiatan itu tidak akan membuat Acit lupa kewajiban Acit sebagai mahasiswa. Papa juga gak tahu kan Acit sempat dirawat karena kehabisan cairan habis ujian. Semuanya demi Papa membuka mata kalau Acit bisa, Pa”, dan ia pun mulai terisak.

Suasana lalu menjadi sepi terisi kecanggungan. Papa masih terdiam menatap Acit yang membiarkan Indra memeluknya. Beliau yang selalu rela maju menerjang siapapun yang menyebabkan gadis kecilnya menangis kini harus menerima kenyataan bahwa kali ini, beliaulah yang menyebabkan airmata di wajah gadisnya.

Kemudian tangannya menggapai tangan Acit yang masih dalam pelukan Indra. Pelan, Acit menjawab permintaan maaf lewat sentuhan itu, dengan menggenggam tangan Papanya.

“Acit kangen Papa,” kata-kata Acit menggantung di udara, membuat pelupuk mata Papa menghangat. Langit sore ini memang tidak seberapa indahnya, tapi justru memancarkan hangat yang istimewa untuk Acit dan juga Papanya.

Jakarta, 28 Februari 2013

#AWeekofCollaboration with Didiet Prihastuti

Debar Untuk Bulan

Dan bukankah kegelapan tak pernah berdaya di hadapan setitik cahaya?

Sebuah pesan singkat yang kudapat malam ini sungguh kontras dengan pemandangan langit di atasku. Bulan bulat penuh dengan iringan awan hitam yang menaunginya perlahan tersapu angin yang bertiup ringan dari selatan.

Adalah aku yang selalu ingin menjelma malam untuk dapat menemanimu yang tengah bertugas malam ini, Bulan.

Kembali kubaca pesan lanjutan yang baru saja masuk ke dalam kotak surat elektronikku. Tak pernah kupungkiri, aku selalu senang menerima pesan-pesan yang dikirimkannya. Selalu penuh sanjung dan memujaku begitu rupa. Ah wanita.. Ya, aku masih wanita. Aku menyukai bentuk pujian yang membuatku merasa istimewa.

🙂

Hanya ikon itu yang kukirimkan untuknya. Untuk Banyu, pria yang tak pernah kutemui sejak kali pertama aku mengenalnya di dunia maya tiga bulan lalu. Aku tak pernah mengatakan kalau ini adalah sebuah kebetulan, tapi ini adalah rencana Tuhan yang mengenalkan aku padanya.

Seperti memilih menjadikannya rahasia, aku menyimpan sendiri senyumku sebab segala hal menyenangkan yang dilakukan Banyu. Jika pun ingin berbagi, aku memberikannya kepada cermin.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Banyu terus mengajakku berbincang apa saja yang bisa menggubah tawa dan menyulut semangat yang begitu hangat memeluki aku. Sepanjang hari, tanpa henti.

Terkadang aku dililit ingin yang melebihi bahagia yang aku nikmati sendiri. Aku ingin menatap lekat mata Banyu. Aku ingin menikmati pikat cara bicaranya sekali lagi. Namun, aku pun tak tahu apa yang bisa aku lakukan saat ini.

Kadang ada keinginan untuk mengajaknya bertemu tapi selalu saja ada yang membuatku meragu. Aku terlalu takut untuk memulainya lebih dulu. Aku tak pernah tahu, apakah ia hanya seorang pria yang memang senang menjual kata-kata sebagai senjata menaklukan wanita atau ia memang orang yang selalu penuh cinta?

Kepada Bulan Andina, adakah kau memiliki keinginan untuk bertemu denganku sekali saja?

Pesan yang masuk baru saja membuat tanganku gemetar. Ia seperti membaca hati dan pikiranku saat ini. Benakku seolah dibacanya. Ah, semua tanya aku hapus segera. Berkali-kali kuketikkan pesan balasan, tapi selalu saja kuhapus. Aku belum siap.

Aku yakin, wajahku pasti sudah memerah. Aku tak bisa bayangkan jika ini terjadi saat aku bertatap mata dengannya. Dengan pria yang sungguh telah membuatku didesak rasa penasaran. Bahkan kadang terlalu berlebihan.

Terima kasih Banyu Anggara. Rona merah di pipiku sepertinya berisyarat anggukan istimewa untukmu.

Entah mantra apa yang mendadak aku rapalkan hingga tiba-tiba saja aku berani mengirimkan balasan seperti untuknya. Aku menjamu derap jantung yang semakin kencang. Aku memejam dan meringis menahannya agar jantungku tak buru-buru meloncat keluar.

Ah, apakah ini kelelahanku yang terlalu lama bersembunyi dalam maya yang seharusnya bisa aku perjuangkan menjadi nyata?

Tuhan, adakah engkau sedang mempermainkan perasaanku saat ini? Kuharap engkau tidak sedang bermain dengan hatiku yang sepertinya sudah lama berselimut debu. Maaf, aku bukan sedang mengancamMu, tapi aku hanya inginkan sesuatu yang sedikit lebih nyata untukku angankan. Bukan sekadar mimpi yang membuat hari-hariku semakin dilanda sendu karena harapan itu terlalu semu.

“Mba Bulan… kok ngelamun lagi? Hayooo..mikirin siapa?” sebuah suara dari balik pintu mengagetkanku.

“Ah, kamu mengagetkanku saja Mel!” jawabku sambil berbalik menujunya.

“Masih sakit, mbak?”

Ada getir halus menelusup perlahan memudarkan senyum yang sejak tadi terkembang di ujung bibirku.

“Umm.. sudah mendingan. Pain killer aku boleh ditambah dosisnya?”

“Jangan mbak, dokter bilang dosis itu sudah cukup untuk kondisi mbak Bulan sekarang,”ujarnya sambil merapikan beberapa mangkuk obat yang sudah kuhabiskan baru saja.

“Mbak Bulan harus terus semangat ya! Ini bukan akhir dari segalanya, Mbak,” kata-kata Mela, suster yang merawatku menggantung di udara.

Aku hanya mendengar kata-katanya sekilas sambil melihat wajahku dalam cermin dan sesekali melihat balutan putih yang membebat kaki kananku.

Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku hanya menikmati gerimis manja yang sore itu menemani perjalananku. Tak juga terlalu gontai langkahku. Namun, kemudian aku tak ingat lagi. Kabarnya, sebuah sepeda motor tak lagi bisa dikendalikan sang pengemudi. Aku menyeberang tanpa melihat kanan kiri.

Mungkin, aku terlalu bersemangat memenuhi janjiku. Mungkin, aku terlalu bersemangat menuruti rasa penasaranku. Mungkin, aku sangat ingin menggemakan tawa atas pertemuanku dengannya. Iya, seorang yang telah memiliki janji menemuiku. Banyu.

Hatiku pilu jika mengingat kejadian itu. Terlebih harus menerima kenyataan bahwa aku harus merelakan kaki kananku untuk selamanya. Aku marah. Aku kecewa. Kadang ada sesal yang menggayut manja perlahan. Apakah ia begitu layak untuk mendapatkan sebuah pengorbanan seperti ini?

Tapi lagi-lagi entah mantra apa yang membuatku tidak pernah bisa melayangkan benci padanya. Tidak sedikitpun. Ternyata diam-diam aku bergantung padanya. Ada jutaan semangat dan senyum yang selalu ia kirimkan melalui pesan singkat ke nomorku. Sederhana, tapi aku merasakan cinta yang tulus darinya. Oh Tuhan, semoga ini bukan rasaku saja.

Telepon genggamku berdering. Satu nama yang aku tunggu akhirnya kunjung menghubungiku. “Selamat sore, Nona,” sapanya dari seberang. Ada tenang yang menghangat di sekujur tubuhku. Banyu, iya Banyu. Aku tak pernah berpura-pura tersenyum menyambut sapanya. “Oke, aku akan datang, menemuimu sebentar lagi ya.”

Satu jam, dua jam, aku menantikan kedatangan Banyu, menjengukku. Senja sudah menepi. Ada yang mengetuk pintu kamar rawatku. Aku mengangkat sedikit kepalaku. Menengok siapa yang datang. Aku tersenyum. Senyuman istimewa yang kujanjikan pada diriku sendiri untuk kuberikan kepadanya, yang menjanjikan pertemuan itu. Banyu. Senyum untuk Banyu. “Hai, masuklah. Terima kasih sudah datang menjengukku,” aku melihat Banyu melangkah mendekat ke arah pembaringanku.

Tapi kemudian aku mengernyit. Ada kejut yang semena-mena menyapa. Seorang gadis berjalan di samping Banyu. Aku bertanya-tanya siapa gadis yang bersamanya itu. “Bulan, kenalkan, ini Aluna,” aku menyambut uluran tangan gadis itu. Pikiranku berkelana, menerka-nerka apa hubungan Banyu dengan gadis itu. Pandanganku tertumbuk pada kalung yang menggantung di leher Aluna. Liontin membentuk nama Banyu ada di sana. Apa ini maksudnya? Aku menggigit bibirku. Jadi, aku tetaplah akan membayangkan Banyu dalam gelap? Tak akan pernah ada terang. Tak akan pernah menjadi nyata.

Aku tak ingat lagi. Seketika semuanya menjadi gelap. Aku biarkan semua impian itu terlelap.

Kemang, 27 Februari 2013

Ini adalah project pertama saya di #AWeekofCollaboration with Wulan Martina

Sambungan Hati Jarak Jauh

Kalau ditanya soal hubungan Ayah dan anak, aku mungkin bukan contoh yang baik. Beliau adalah sosok orang yang sangat berwibawa dan aku selalu menjaga jarak dengannya. Itu karena aku menghormati Ayah.

Kami jarang sekali berbincang-bincang layaknya Ayah dan anak masa kini. Terlebih  lagi dengan aku yang memang sudah merantau sejak SMA. Aku memilih tinggal jauh dari ibukota dan hidup bersama dengan Eyang di Jogja. Kalau sudah begini, Ibu yang memiliki peran menjembatani kami. Meskipun begitu, aku tahu Ayah sangat menyayangiku. Walau itu tak pernah terucap secara lisan dari bibir hitamnya.

Kini, aku sudah bekerja. Tapi aku tetap tak tinggal satu rumah dengan Ayah. Lokasi kantor dan rumah yang sangat berjauhan membuatku memutuskan untuk tinggal di kosan ketimbang harus menempuh tiga jam perjalanan setiap paginya.

Sore ini, seharusnya jadwalku pulang ke rumah. Tapi hujan yang mengguyur sejak pagi membuatku urung untuk pulang. Aku hanya mengirimkan pesan singkat kepada Ayah bahwa rencanaku pulang malam ini harus ditunda hingga esok pagi.

Selepas mengirimkan pesan, aku langsung bergelung di dalam selimut demi menghalau dingin yang sepertinya masih merajuk manja dengan tubuhku. Alunan suara Bonita terdengar sayup-sayup, tak terasa mengantar waktu tidurku jauh lebih cepat.

Tok..tok..tok..

Hmm..siapa yang dateng malem-malem gini, ya?

“Tara.. Nak.. Ini Ayah.”

Ayah? Ada apa datang ke kosan malam-malam begini?

Bergegas aku bangkit dari kasur dan langsung membukakan pintu.

“Ayah? Tumben malam-malam datang?” tanyaku heran sambil mencium tangan Ayah yang terlihat sedikit membiru. Mungkin karena hujan di luar yang tak kunjung berhenti.

“Kamu sudah tidur ya? Maafin Ayah sudah bangunin kamu, Nak,” tutur Ayah dengan senyum tipisnya yang sedikit dipaksakan.

Kupersilakan Ayah masuk dan segera kuseduhkan teh hangat untuknya. Beliau menarik nafas dalam-dalam dan duduk mengenyakkan diri di kasur.

“Ayah, kenapa maksain diri dateng ke kosan Tara? Kan besok Tara balik, Yah.”

Ayah tak menjawab, ia hanya memandangku lekat. Menarik bibir tipis kehitaman karena nikotin yang dihisapnya sejak jaman muda dulu, hingga senyum terkembang sempurna, meski tak kurasakan sama.

“Ayah kangen Tara.”

Deg. Pernyataan spontan Ayah benar-benar membuat hatiku terenyuh. Tak perlu menunggu kata selanjutnya meluncur dari bibir Ayah, aku langsung menghamburkan dekapan untuknya. Banjir air mata sudah tak terbendung rasanya.

“Tara juga kangen Ayah.”

Lama rasanya tak pernah memeluk tubuh Ayah seperti ini. Ternyata tubuhnya tidak seperti dulu, Ayah tak segemuk tahun lalu. Entah sejak kapan bobot tubuhnya menyusut seperti sekarang ini. Tubuhnya juga sangat dingin, mungkin karena diterpa hujan dan angin selama di perjalanan.

“Tara, Ayah nggak lama-lama, Nak. Ayah harus pulang, nanti kemaleman.”

“Tapi Ayah kan baru dateng, sebentar lagi ya Yah,” bujukku.

Ayah membelai kepalaku dan mengecup keningku dengan lembut. Ia berpamitan sekali lagi.

“Tara jaga diri baik-baik ya, jangan males makan kalau di kosan. Besok pagi kamu wajib pulang ke rumah, okey?” pinta Ayah sebelum benar-benar kulepaskan kepergiannya.

Ada haru yang menghujamku bertubi-tubi. Ada resah yang menggayuti perlahan namun pasti, dan ada sejuta kata sayang untuk Ayah yang tak sempat kusampaikan karena tertahan di kerongkongan.

“Ayah…”

Lelaki tua berjaket kelabu itu menoleh sesaat dan berhenti sebelum menuntun vespa tuanya keluar gang.

“Hati-hati di jalan.”

Kata-kata menggantung di udara. Ayah membalasnya dengan sebuah senyuman yang membuatku merasa hangat. Di hati dan di pelupuk mataku.

Around the world atarashii kotoni
Around the world fumidasu chikara de
Around the world sekai wa kawaru sa
But don’t run away cause it’s not OK!

Aku terkejut saat mendengar lantunan indah Monkey Majik dari telepon genggamku. Lagu itu membangunkanku segera.

“Halo,” sapaku kepada pemilik nomor telepon yang tak kukenali di ujung sana.

“Tara,” suara itu lemah, namun aku masih sangat mengenalinya di tengah isak tangis yang tertahan.

“Mama? Mama kenapa?”

“Ayah, Tara.”

“Ayah? Kenapa dengan Ayah?”

“Ayah hanyut terbawa arus. Ia memaksa untuk menjemput kamu di kosan karena khawatir sama keadaan kamu, Nak,” tangis Mama meledak saat menceritakan kejadian yang menimpa Ayah. Tak ada yang bisa kukatakan, tangisku tertahan di dada.

Ayah yang berpamitan padaku tadi itu…

 

Depok, 17 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-5

Cuti Sakit Hati

“Ra, kamu sudah tahu gosip terbaru?”

“Gosip apa?”

“Ada anak baru di divisi design. Katanya sih orangnya ganteng, pindahan dari kantor cabang di Dubai.”

“O ya?”

“Dih! Kamu normal nggak sih? Ada makhluk oke tapi mukanya anteng begitu!”

Amara hanya membalasnya dengan senyum super malasnya. Ia enggan memikirkan persoalan anak baru –yang konon katanya ganteng – yang baru saja diinfokan Astri. Mungkin karena pekerjaan yang menumpuk sejak bulan lalu ditambah ujian tengah semester yang akan dihadapinya minggu depan.

“Sudah ah! Aku baru bisa yakin dengan omonganmu kalau sudah melihatnya langsung, Okey?!” Amara langsung meninggalkan Astri yang masih melongo dengan jawabannya.

***

“Lobi atau basement?”

“Ha?”

“Kamu turun di lobi atau basement?”

“Oh, anu umm.. di lobi.”

Deg. Jantung Amara terlonjak saat melihat pria yang berdiri di sampingnya. Tampan. Hanya itu yang bisa hatinya katakan. Ia tak sadar kalau sedari tadi ia tak memencet satupun tombol di dalam lift.

“Sudah di Lobi, Mbak,” ujar si pria yang langsung membuyarkan lamunan Amara.

“Oh iya, terima kasih.”

Bergegas ia keluar dari lift tanpa berani menoleh kembali ke dalam lift. Malu, mungkin itu alasannya.

“Duh! Kenapa aku jadi grogi sih tadi? Terus, dia itu siapa ya?” puluhan tanya menggantung di kepala Amara tepat ketika sebuah taksi melintas di depannya.

***

Dua minggu setelah kejadian di lift, tidak membuat Amara berhasil mendapatkan informasi siapa gerangan pria tampan itu. Belum lagi perihal ujian tengah semester yang membuatnya tak bisa memalingkan perhatian selain dari tugas dan setumpuk materi yang harus dipelajarinya.

“Ra, kamu bawa komaci nggak?” tanya Astri.

“Nggak Tri, nggak sempat masak pagi tadi. Mau makan di mana kita?”

“Di food court atas aja, yuk!” Amara mengamini ajakan Astri dengan langsung menyambar dompet serta telepon genggam dari dalam tasnya.

“Eh Ra, jangan langsung nengok ya. Arah jam 1 yang lagi makan sama Mas Dipo itu tuh anak baru yang tempo hari aku ceritain,” tukas Astri membuat Amara spontan mencari arah jam 1 yang dimaksud.

“Yee.. ONENG! Kan aku sudah bilang jangan langsung nengok!”

Omel Astri sambil tangannya menarik kepala Amara untuk tidak celingukan mencari orang yang ia maksud.

“Maaf..maaf..aku refleks! Hahaha…” ujar Amara sambil cengengesan tanpa rasa bersalah.

Setelah mengenyakkan diri di salah satu bangku foodcourt, Amara berusahan mencari orang yang Astri maksud. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati orang yang Astri maksud adalah si pria tampan yang membuat jantungya belingsatan saat di lift beberapa minggu lalu.

“Oh, shit!”

“Kenapa, Ra?”

“Itu cowok yang tempo hari ketemu aku di lift!” jelas Amara bersemangat.

“NAH! Aku bilang juga apa!”  mereka cekikian berdua, sepertinya akan ada bahan obrolan yang sama selama beberapa minggu ke depan.

***

“Tri, kamu lihat jurnal aku nggak?” teriak Amara panik seperti sedang kebakaran jenggot saja.

“Nggak. Memang terakhir kali kamu taruh di mana?” tanya Astri sambil ikutan mencari di laci dan meja kerjanya.

“Nah, itu masalahnya. Aku lupa!”

“DASAR ONENG! KEBIASAAN!”

“Parahnya lagi, form cuti yang sudah ditanda tangani HRD itu ada di dalamnya. Bisa gawat nih! Cutiku bisa terancam batal, padahal aku sudah merencanakan liburan ini sejak lama,” tuturnya sambil sibuk membongkar seluruh isi laci mejanya.

“Ya sudah, kamu minta lagi aja. Mas Dipo pasti mau kasih kok,” usul Astri akhirnya membuat Amara berhenti mencari.

Tuuuutt..Tuuuttt…

“Ya mas Dipo?”

“Kamu bisa ke ruangan saya?”

“Oke, Mas. Kebetulan saya juga ada perlu sama Mas Dipo.”

***

Tok..tok..tok..

Masuk ke ruangan Mas Dipo, Amara dikejutkan akan kehadiran seseorang. Seorang pria yang membuat jantungnya kebat kebit tiap kali Amara melihatnya.

“Oke, Dip? Jangan sampai nggak dateng ya!” ujar si pria itu sambil berlalu meninggalkan ruangan.

“Hai Amara, aku duluan ya,” sapanya mengejutkan Amara.

“Dia tahu namaku?” batin Amara terlonjak gembira. Andai ia lupa sedang berada di ruangan Mas Dipo, mungkin saat ini ia sudah salto dan sujud syukur mendengar sapaan barusan.

“Oke Amara, silakan duduk,” kata-kata Mas Dipo membuyarkan lamunan Amara. Sejenak membawanya kembali ke alam nyata.

“Oh iya Mas. Mas Dipo panggil saya ada apa ya?”

Mas Dipo mengeluarkan sebuah jurnal bersampul kulit berwarna cokelat yang sangat ia kenal betul. Itu jurnal pribadi miliknya.

Deg.

“Saya menemukan jurnal ini terjatuh di lobi kantor semalam. Karena tidak ada pengenal, jadi saya membaca isi jurnal ini.”

Hening seketika. Ada beku yang membungkam Amara lekat-lekat. Keringat dingin mulai mengucur, hatinya mencelos.

“Mati aku!” batinnya.

“Saya tahu jurnal ini milik kamu karena surat ini.”

Mas Dipo menyodorkan selembar surat yang sejak pagi membuat Amara uring-uringan. Form cutinya.

“Ini jurnal dan surat cuti kamu,” Mas Dipo menyorongkan jurnal bersampul kulit berwarna cokelat plus selembar surat yang telah ia tanda tangani.

“Dan mohon maaf karena saya telah lancang membaca jurnal milikmu. Tapi, saya bisa kasih tahu sebuah jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam jurnalmu itu.”

Amara terpaku. Mas Dipo tiba-tiba menyodorkan sebuah amplop besar berwarna ungu berbalut emas yang cantik dan elegan. Amara tampak ragu saat mengambilnya.

“Undangan?”

“Iya. Undangan. Itu undangan milik Adit, pria yang barusan kamu temui di ruangan ini, yang ketemu kamu di lift, yang bikin jantung kamu kebat kebit,” penjelasan Mas Dipo membuat wajah Amara pasi.

“Shit!” umpatnya berkali-kali dalam hati.

“Minggu depan Adit akan menikah.”

“Oh..”

Kata-kata Mas Dipo menggantung di udara. Amara tidak tahu harus bereaksi apa. Otaknya terlalu sibuk menelaah apa yang baru saja terjadi. Ia masih berharap ini hanya sebatas mimpi. Tak mau Mas Dipo membaca resahnya terlalu lama, Amara memutuskan untuk kembali ke mejanya.

“Amara..”

Amara menghentikan langkahnya tepat ketika ia akan membuka pintu.

“Kamu baik-baik saja kan?”

Ia hanya menjawab dengan anggukan pelan dan senyum tipis yang ia paksakan .

“O ya, kalau kamu mau, saya bisa menambahkan jatah cuti kamu,” terang Mas Dipo.

“Cuti tambahan untuk apa, Mas?” tanya Amara penasaran.

“Untuk merasa sakit hati.”

“Sial!” batin Amara.

“Dan saya mau menemani kamu untuk menghilangkan rasa sakit itu.”

Kata-kata terakhir Mas Dipo masih terngiang di kepala Amara yang membuatnya semakin limbung saat meninggalkan ruangan HRD.

 

Jakarta, 16 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-4

Pengakuan Vanilla

Malam kian larut, jarum jam sudah tergelincir terlalu lama dari pukul 12 tengah malam, tapi sepertinya kantuk enggan singgah di pelupuk mata Vanilla. Ia terlalu gelisah sehingga membuatnya sulit memejamkan mata apalagi untuk mulai merajut mimpi.

Perasaannya kacau. Entah sejak kapan perasaan itu mulai menghinggapi dirinya. Membuatnya sulit tidur meski kadang tubuh sudah menjerit karena letih seharian berkubang dengan jalanan Jakarta yang kian menggila tiap harinya.

Tetiba, ia bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan mendekati meja kerja yang masih berserakan dengan kertas-kertas laporan yang seharusnya ia kerjakan untuk diajukan esok pagi. Tapi gelisah justru lebih asyik menggayut manja ketimbang semangat membereskan kertas-kertas penuh angka.

Perlahan ia menyalakan laptop miliknya yang sejak tadi hanya menampilkan layar hitam, sehitam lingkaran matanya akibat kurang tidur sejak beberapa hari belakangan. Ia mulai membuka halaman surat elektronik dan mencoba mengetikkan sesuatu di sana. Sebuah nama penerima yang ternyata sumber segala resah yang ia miliki sejak beberapa hari terakhir.

Galan Prabu.

Seseorang yang telah mengisi hari-harinya setahun terakhir. Seorang pria yang ia kenal dari sekumpulan kebetulan dan ketidaksengajaan. Seseorang yang sudah menanamkan sebuah bibit di hatinya tanpa pernah ia sadari sampai akhirnya bibit itu tumbuh dan bermekaran begitu cepatnya.

Berkali-kali Vanilla mencoba mengetikkan sesuatu, tapi yang ada hanya sebuah kata yang selalu dihapusnya. Ia sadar betul apa yang tengah dirasakan tapi ia terlalu bingung bagaimana menuangkannya.

“Aaarrgggh…”

Ia kesal sendiri, dan seperti hendak menyerah, ia tertunduk lesu, menenggelamkan kepalanya untuk bertumpu di kedua lengannya.

“Why God.. why? Why me?” ujarnya setengah terisak.

***

Galan Prabu, lelaki yang ia kenal tanpa sengaja di sebuah acara. Kala itu Galan mengira Vanilla adalah kawan kecilnya yang sudah terpisah sangat lama. Tapi ternyata Galan salah. Dari situ obrolan demi obrolan mengalir, bertukar nomor telepon dan berjanji untuk bertemu lagi.

Sehari dua hari, tidak ada satupun pesan masuk untuknya. Vanilla enggan untuk mengirimkan pesan lebih dulu, ia merasa perkenalan dan pertukaran nomor itu hanya sekadar basa basi lelaki pada umumnya. Sampai suatu hari ia sedang berada di sebuah toko buku bekas di kawasan Blok M. Saat ia tengah asyik berkubang dalam lautan buku-buku dengan peluh yang sudah membanjiri sekujur tubuhnya, tiba-tiba saja sebuah tepukan halus di pundak menghentikan aktivitas ‘menyelam’ di lautan buku.

“Cari apa di sini Van?”

Vanilla terkesiap dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya ia menemukan seseorang yang ia hapal betul wajahnya karena sebuah perkenalan beberapa waktu lalu.

“Galan? Kamu, ngapain ada di sini? Sama siapa?”

“Hahaha..udah kayak polisi nanyanya beruntun gitu. Aku lagi cari buku buat tugas, nih. Kamu ngapain di sini? Heboh banget mblusuk-nya,” jawabnya.

“Hahahahaha.. kamu ngerti mblusuk juga? Aku lagi cari buku cerita anak-anak sekalian cari novel Lupus, tapi yang bekas-bekas aja,” jawab Vanilla singkat, masih dengan raut wajah kaget.

Pertemuan tanpa sengaja kedua kalinya membawa mereka duduk di sebuah warung gudeg milik Bu Gendut yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka saat itu. Lalu kembali obrolan demi obrolan mengalir tanpa terasa. Seperti takut jika waktu kembali hilang dan harus menyudahi cerita sampai situ jika terselip jeda sedetik saja.

“O ya, Van, boleh minta nomor kamu lagi ngga? Hp aku ilang sepulang acara waktu itu, makanya ngga bisa hubungin kamu. Untung kita ketemu di sini.”

Kata-kata Galan barusan mematahkan dugaan Vanilla. Ada perasaan lega, senang, menelusup diam-diam dalam hatinya.

Pertemuan demi pertemuan mereka lakukan. Tidak hanya mencari buku, hunting dvd, nonton di bioskop, bahkan sekedar untuk cari roti bakar tengah malam, sering mereka lakukan.

***

Satu persatu kenangan akan Galan membuat Vanilla semakin sedih. Ia semakin tenggelam dalam isak tangis yang sepertinya sudah tertahan sekian lama. Telepon genggam yang sejak tadi hanya berdiam di salah satu sudut mejanya ia sambar dan dengan tergesa ia mencoba mengetikkan sesuatu. Lagi-lagi ia mengapusnya.

Waktu sudah beranjak pagi meski ayam jantan belum berkokok menandakan malam akan segera terganti.

Ia terdiam. Memandangi sebuah tulisan yang berada di halaman pertama sebuah buku. Buku pemberian Galan yang masih bersampul manis dan selalu dibukanya ketika ia merasa sedang butuh kekuatan. Kekuatan dan dukungan seorang yang memang mengerti akan dirinya.

Kini, ia lebih tenang. Ia mulai menyalakan kembali laptop yang sejak tadi hanya memandang dalam kebisuan.

To : prabugalansatria@gmail.com
From: anandavanilla@ymail.com
Subject: Umm..my little confession

Dear Galan,

Hmmm..sebelumnya aku minta maaf mengganggu waktu tidurmu. Ya meski aku tahu, sesaat lagi kamu pasti sudah bersiap membuat laporan padaNya. Aku sedikit bingung sebenernya harus mulai dari mana. Mungkin kamu agak bertanya-tanya saat membaca subjek dari emailku ini. Tapi bukan maksud hati membuat kamu bingung, ini hanya cara ku mencoba memberitahukan sesuatu. *iya iya, aku sok misterius*

Ummm..hal ini bermula sejak beberapa bulan lalu. Dan mungkin kamu sudah tahu. *jika kamu cenayang sih* Entah karena apa atau sebab bagaimana, ternyata kehadiranmu punya arti tersendiri (setidaknya ini yang aku rasakan). Sikap dan perhatianmu selama ini membuat aku nyaman. Bahkan sangat nyaman, meskipun akhir-akhir ini jarang sekali aku rasakan.

Hmm..mungkin ini cuma perasaanku saja. Tapi ternyata makin lama rasa ini makin besar dan aku tak tahu bagaimana cara untuk menghilangkannya. Bahkan terkadang, rasa ini menyiksaku 😦

Aku tak pernah punya keberanian untuk bilang sama kamu. Sampai akhirnya sekarang aku memberanikan diri menulis ini semua.(dengan konsekuensi mungkin kamu bakalan ilfil, ngga bakalan mau ketemu aku atau bahkan ngga mau kenal sama aku lagi kali yah?!)

Hehe..aneh yah?! Aku berusaha menetralkan semuanya dan kembali seperti sedia kala (seperti diawal aku mengenalmu tanpa sengaja). Tapi semakin aku berusaha untuk membunuh semua perasaan yang ada ternyata justru semakin mengikat aku terlalu kuat sampai terkadang membuatku sulit untuk berpikir  jernih.

Gal, aku tak mau membebanimu dengan apa yang baru saja aku utarakan. Ini semua cuma sebuah pengakuan ‘kecil’ ku yang kurasa cukup bisa membuat aku kembali ‘normal’ (semoga). Dan semoga ini adalah hal tergila pertama dan terakhir yang pernah aku lakukan.

Thank you banget sudah mau menyempatkan diri membaca email ini. Hmm.. meski aku ngga tau reaksi kamu. Tak mengapa, yang penting aku sedikit lega dan menurutku kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok.

Dan aku tak mau kehilangan kesempatan untuk mengatakannya, sebelum akhirnya menyesal karena tak pernah mengungkapkannya. Tapi tenang, aku tak meminta apa-apa darimu. I just want you to know, thats all! 

Dan sekarang aku lega.. ^^ Toh, kalau kita tak punya kesempatan buat ketemu lagi, aku sudah mengakui sebuah kejujuran dan tidak pernah menyesal karena melewatkan ini. 😉 O ya, terima kasih banyak atas semua sikap baik kamu selama ini. Maaf, kalau mungkin aku terlalu GR atas sikap manismu.

Hmm..baiklah, sepertinya sudah terlalu banyak yang aku katakan disini. Dan aku tak mau mengganggu mu lebih lama lagi. Have a nice day, and until we meet again, you! 

With love,

Vanilla

Dan akhirnya, selesai. Sebuah surat elektronik yang ia buat telah selesai tepat ketika adzan subuh telah berkumandang. Tapi ada sedikit keraguan saat akan menekan tombol kirim di sudut kiri atas. Haruska ia mengirimkannya atau hanya disimpan di kotak draft sampai entah kapan untuk punya keberanian mengirimkannya?

Vanilla bertanya-tanya dalam hati. Apakah sudah tepat apa yang ia lakukan itu? Sesaat pandangan ia alihkan dari laptop yang sudah menemaninya bekerja selama ini. Ia kembali melihat buku pemberian Galan kala itu. Dan kini, tekadnya bulat. Send, klik!

“Dan semua kuserahkan padamu, Tuhan.”

***

Tanpa Vanilla tahu, ada seseorang di luar sana yang tengah berkutat di depan laptop nya, mencoba mencurahkan segala isi hatinya untuk seseorang yang telah membuat hari-harinya semakin berwarna.  Kegiatannya terhenti saat telepon selularnya bergetar, “You’ve got mail”.

E.D

ED. Sebut saja demikian. Aku lebih sering memanggilnya rocker ketimbang nama aslinya, Elzano Danarditto. Itu karena penampilannya yang buatku mengira ia lebih cocok menjadi seorang rocker ketimbang designer. Kami bertemu setahun lalu. Ia anak baru di kantorku. Cubicle-nya tepat berada di sisi kananku. Huh! Tempat incaranku, sejak Danang, designer sebelumnya mengundurkan diri. Tapi apa daya, disaat aku seharusnya memindahkan barang-barang, aku justru mendapatkan dinas luar selama seminggu. Jadilah ia menempati pojok impianku sejak dulu.

Aku punya spot asyik di gedung kantor ini yang biasa kudatangi saat sore hari. Tempatku paling sering menyendiri sambil menyesap kopi atau sekedar membaca buku menikmati udara sore yang cukup damai di tengah riuhnya Jakarta. Tiba-tiba..

“Ngapain Lo di sini?” sebuah suara membuyarkan lamunan soreku.

Saking terkejutnya aku langsung menoleh dan tanpa sadar menumpahkan cangkir kopi yang masih utuh dan mengepul panas.

“ouch”

“segitu kagetnya..”

Aku hanya melihatnya sekilas kemudian sibuk membersihkan tumpaham kopi yang membasahi celana khaki kesayanganku. ED, si rocker gadungan itu malah mengambil buku yang tengah kubaca tanpa berkata maaf sekalipun. Sigh!

Angkuh sekali dia. Matanya serius, menelaah setiap ruas tulisan yang ada dibuku bersampul biru. Atlantis, buku yang tengah kuselami akhir-akhir ini.

“Hoo..jadi cewek kayak Lo suka buku berbobot macam ini juga? Hmm..”. Brengsek! Kata-kata macam apa itu?! Bukannya sedikit bertanya bagaimana dengan celanaku malah mencela. Sial!

“Kenapa dengan ‘cewek model gue’? Ada larangan, ha?” tanyaku sinis sambil meraih buku yang masih dipegangnya. Aku meninggalkan dia yang hanya tersenyum tipis dan terkesan sinis. Ia tak menghiraukanku yang masih kesal, ia malah menatap jauh kedepan seperti tengah menanti seseorang di kejauhan. Aku terlalu malas mengajaknya berbicara setelah kejadian tadi. Aku memilih pergi dan meninggalkannya sendiri dengan pikirannya yang entah sedang berenang kemana.

Semakin hari aku mengenal ED si rocker, semakin aku diburu penasaran. Siapakah dia?

Sikapnya kadang cuek, kadang sinis, kata-katanya cenderung sarkas, tapi juga manis yang membuatku keheranan dibuatnya. Pernah suatu hari aku tidak masuk kantor selama dua hari karena demam tinggi. Saat aku masuk kantor lagi ia langsung bertanya kabarku. Bagaimana kondisi terakhirku, meskipun raut wajahnya masih saja tengil dan bikin malas. Tapi sejujurnya, aku menghargai perhatian kecil itu.

Minggu lalu, aku mendapatkan sebuah kiriman dari seorang kawan di Surabaya. Arus Balik, buku milik Pram yang sudah kucari sejak lama dan akirnya ia  menemukannya untukku. Dengan rasa penasaran, aku segera membuka sampul pembungkusnya yang masih terlipat rapi.

ED menghampiriku. Ia hanya memperhatikan sekilas kemudian takjub menatapku lekat.

“Suka Pram?”

Aku berhenti sejenak dari aktivitas ku dan menoleh ke arahnya.

“Iya”

Hmm..gue kira cewe macam Lo itu sukanya metropop sama teenlit aja. Bacaan berbobot macam Pram masih bisa dicerna rupanya”

Brengsek! Dia sudah menghinaku kedua kalinya soal bacaanku sejak kali pertama bertemu. Otakku rasanya mendidih.

“Maaf? Cewek Macam Gue itu maksudnya apa ya? Kalau gue suka bacaan Pram kenapa? Ada larangan?” suaraku kian meninggi.

“Woo..woo, sabar Nona. Gue gak bermaksud menghina. Yaaa..kebanyakan cewe sekarang itu kan lebih suka novel menye-menye yang udah ketauan happy ending. Dengan bahasa yang yaaa alakadarnya,” ia mencoba menjelaskan sambil tersenyum menatapku.

“Dan gue gak pernah mengira Nona suka dengan Pram. Good point, then!” imbuhnya sambil lalu.

Tunggu! Ia sama sekali tidak memberiku jeda untuk menjawab tuduhannya, dan ‘Nona’? sejak kapan namaku diubahnya menjadi Nona?

Sejak kejadian itu ia sering memanggilku dengan nama Nona. Ya, Nona. Panggilan yang begitu manis ditelingaku. Tapi aku masih tidak bisa bersikap manis padanya. Aku masih sebal dengan kata-katanya diawal bertemu.

Seminggu lalu, semuanya berubah seketika. Pada akhirnya aku bisa berdamai dengannya, dengan Elzano Danarditto. Aku melihatnya sebagai sosok yang berbeda saat ia lepas dari Macbook Pronya.

Hari itu, aku terlalu penat bekerja di dalam ruangan. Aku memilih menghabiskan sore di atap gedung kantor sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong cinnamon roll. Sebenarnya aku hanya sekedar menulis, dan mencoba menuangkan sedikit isi pikiranku di Jurnal Harian dalam blog-ku. Daripada aku harus dihantui kata-kata yang semakin hari semakin membanjiri kepala, lebih baik aku menulis sekarang.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dan “Menulis adalah sebuah keberanian…” –Pramoedya

Seseorang mengagetkanku dengan quote dari Pram. Aku menoleh mencari sumber suara. Ternyata ED sudah berdiri di belakangku sambil menggigit potongan cinnamon roll milikku yang ia ambil tanpa bilang-bilang.

“Sejak kapan kamu di sini?” tanyaku sinis.

“Dan siapa yang ngijinin kamu ambil cinnamon rollku?”

“Hahaha… kamu marah ini karena aku berdiri di sini atau karena cinnamon roll yang paling ditakutin perempuan karena bisa bikin gendut ini aku ambil sih?”

“Ya dua-dua nya lah! Jatah ngemil soreku kan jadi berkurang!” sungutku sambil menyambar potongan terakhir di tangannya yang langsung kulahap habis.

Ia terkejut, namun tawa pun langsung meledak seketika. Sebuah usapan lembut jatuh tepat di kepalaku dan sedetik kemudian ia mulai mengacak-acak rambutku yang semakin masai karena angin sore yang kencang.

“Kamu menarik. Perempuan sok manja, yang ternyata menyukai bacaan seberat Pram, dan gak pernah takut gendut karena cinnamon roll. Aku suka!”

Ha? Apa-apaan ini? Segitu mudahnya ia menilai aku hanya dengan pertama bertemu? Manja? Apa iya aku segitu manjanya? Memang terlihat ya? Tunggu! Kemana sapaan ‘gue-lo’ yang sering kulontarkan? Dan mengapa ia juga mulai mengubah sapaan kami?

“Dan satu lagi, kamu menulis.”

“Aku menulis? Ada yang salah?”

“Justru tidak ada yang salah denganmu yang menulis. Aku sejak tadi memperhatikan kamu, tapi kamu terlalu sibuk dengan leptop mu itu. Aku sudah bilang kan tadi, menulis adalah sebuah keberanian. Berani menyuarakan isi hati dan pikiran dalam media tulisan. Dan seperti kata Pram, menulislah agar tidak hilang dalam sejarah,” tuturnya panjang lebar yang membuatku takjub.

“Siapa kamu?”

“Maksudmu?”

“Aku gak ngerti, kamu itu aneh. Sok cuek, kadang sinis belum lagi kata-kata kamu juga sarkas. Tapi sekarang, kamu bisa begitu manis dan mengutip pram dengan sangat baik. Aku kayak ngga kenal kamu. Apa jangan-jangan kamu punya dua kepribadian?”

Tuduhanku barusan kontan membuat tawanya meledak hebat.

“Oke. Gimana kalau kita berkenalan secara proper dari awal. Aku Danar” ujarnya sambil mengulurkan tangan yang pura-pura dibersihkannya sebelum bersalaman denganku.

“Haha, baiklah. Aku terima perkenalan ini. Aku Bulan.” kuulurkan lenganku menyambut niat baiknya.

Sebuah jabat tangan yang hangat, dan erat. Ini yang aku suka. Jabat erat yang seolah membuka pintu pertemanan yang kaku di awal.

Anyhooo, namamu cantik. Secantik wajahmu yang serius waktu menulis,”

“Haha, ngerayuuu?? Umm..sebeneranya aku sudah punya nama panggilan untukmu.”

“Untukku? Apa?”

“ROCKER!” ujarku bersemangat yang langsung disambutnya dengan tawa.

“Hahaha..baiklah. Kamu boleh memanggilku rocker asal aku bisa memanggilmu Nona, bagaimana?” ia membuka penawaran yang langsung kuiyakan.

Sore itu, langit memendarkan warna lembayung jingga yang hangat, serupa hangat pertemanan aku- yang diawali dengan sepotong cinnamon roll- bersama seorang pria berinisial ED, Elzano Danarditto atau yang lebih sering kusapa rocker, yang kini menjadi teman baikku. Teman bercerita seru kala sore datang menyapa dan obrolan tentang Pram selalu jadi pembuka.

Jakarta 12 Desember 2012
*sedang belajar membuat cerpen. tulisan ini terinspirasi dari seorang kawan rocker yang duduk di sebelah saya. Thanks, bro!

Senandung Rindu dari Negeri Angin

Langit sore berselimutkan lembayung senja, sayup-sayup terdengar rintih suara tak bertuan. Siapakah gerangan yang tengah meniupkan rindu kian merana hingga menyayat hati  siapa saja yang mendengarnya?

Mataku berkelebatan. Kepalaku menoleh ke kiri dan kanan berusaha mencari sumber suara yang menyanyikan nada rindu. Genangan air sehabis hujan semalam seolah membantunya dengan senandung rindu dari riak air tipis nyaris membeku.

“Tak perlu kau resah mencari sumber suara ini, Iliana”

Kata-kata ini seperti sengaja ditujukan padaku. Lagu lembut terjaring dari mata yang memicing berusaha melawan teriknya matahari sore yang sepertinya sedang asyik melakukan tugas hariannya.

Aku lelah, nyaris menyerah, dan cenderung marah. Tak juga kutemukan asal suara yang lagi-lagi membuat hatiku tersayat akan senandungnya. Senandung merindu yang tak jua bertemu ujungnya. Aku hanya ingin mencoba meredakan pilu yang tengah dirasakan si pemilik rindu. Hanya itu.

Aku tak ingin lirih suara itu mempengaruhi senja yang tengah menari sebelum petang mengajaknya kembali pulang. Senja yang tengah kunikmati saat ini, dengan waktu yang kumiliki hanya beberapa ucapan kata saja sebelum jingga tertelan dan malam kembali merayap datang.

“Siapa gerangan engkau Tuan, yang begitu pilu memilin rindu dan membuatku tersayat akan lirih suaramu?”

Ucapku dalam diam. Memandang dalam kecemasan. Cemas karena waktuku tinggal sepenggal saja. Senja, tolong jangan beranjak pergi. Tolong melambat sejenak. Tolong senja.

“Usah kau khawatirkan senja, Iliana. Ia akan tetap meninggalkanmu sendiri. Aku hanya ingin menyampaikan sebuah lagu, semoga sudi engkau mendengarnya”

Aku tertegun membisu dengan apa yang baru saja mampir di telingaku. Bahkan si suara mengetahui apa yang baru saja aku katakan? Bulu kuduk meremang tak tertahan. Menjalar jadi sebuah rasa penasaran yang semakin kuat bercokol di kepala.

Aku memejam, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk berkata lagi kepadanya. Kepada si pemilik suara.

“Lagu? Lagu apakah gerangan, jikalau boleh aku tahu?”

Tidak ada jawaban terdengar. Sunyi ini mencekam, menakutkan. Anginpun seperti membeku tidak bersuara, waktu seolah berhenti berdetak seketika. Gesekan daun-daun perdu yang sejak tadi berisik seperti ingin menyuarakan hak nya kini terdengar senyap. Aku termangu. Apakah ini halusinasiku saja?

***

“Iliaaanaaaaaaaa….”

Aku terkesiap. Lagi-lagi lirih suara itu datang menyapaku. Jendela kamarku yang menyisakan celah sempit dan suara itu makin jelas terdengar menelusup ke bilik kamar dan mengisinya dengan lirih suara mencoba mengisi kekosongan malam itu.

Ilianaaaaa……”

Kembali suara itu menyebar ke seluruh ruangan yang hanya memendarkan cahaya remang dari sebuah lampu meja berbentuk beruang. Ada sapuan angin lembut yang mengecup pipiku, dingin. Aku bergidik, namun mencandunya lagi. Kini ia menjelajahi jemari dan lenganku yang hanya berselimut piyama sutera berwarna jingga. Deru suara lembut ini mencoba memelukku! Menyerap rasa hangat dan menggantinya dengan dingin yang nyaris membuatku beku.

Aku merindumu, Iliana”

Kalimat itu menggantung di udara. Meninggalkan sebuah tanya besar untukku, siapa gerangan ia yang tengah jatuh merindu?

Aku tidak bertanya padanya. Aku memejamkan mata dan meresapi rasa dingin yang kini sudah menjalar hingga ke telapak kaki kecilku. Dingin ini membuatku beku, tapi hatiku justru terasa sesak dengan rasa hangat seperti magma bumi yang siap memuntahkan laharnya.

Kudekati jendela kamarku yang hanya menyisakan celah sempit. Ketika kubuka, angin itu berjejalan masuk ke dalam ruangan, menyergapku yang masih berdiri terpaku di ambang jendela kamar. Dorongannya kuat seolah mendekapku erat, meski yang kurasa hanya dingin yang menusuk di seluruh tubuh. Kusunggingkan senyum, membuka kedua lenganku dan mencoba menyambut angin dengan pelukan terhangat.

Dan ia pun kembali berbisik lirih.

Terima kasih, Iliana. Terimalah sepucuk rindu dari negeri angin untukmu,kekasihku. Kuuntai dalam nada sendu, menemanimu menuju mimpi terdalammu..”

Sebuah rindu yang telah beku mencoba melebur dalam dekap hangat kekasihnya, Iliana.

angin

Jakarta, 29 Oktober 2012

*fiksi ini harusnya diikutsertakan dalam kontes yang diadakan @katabergerak. Tapi saya lupa untuk mengirimkannya hingga lewat batas terakhirnya.

*foto diambil di sini