Jangan Tanam Terlalu Lama

Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu

Semalam saya gelisah. Tidak bisa tidur hingga pukul 2 dini hari. Lama sekali saya tidak pernah seperti ini. Ada banyak hal yang mampir dan iseng main-main di kepala saya. Berdialog dengan si kecil di kepala dan akhirnya memenuhi memori otak saya yang terbatas jumlahnya.

Ia memberikan banyak kekhawatiran dan rasa takut di kepala saya. Pada akhirnya membuat saya gelisah. Apakah ini ada kaitannya dengan informasi terbaru yang saya ketahui?

Ah, sial! Kenapa saya harus tahu kebenaran lebih dulu? Ada ketakutan yang-sialnya- memang mengahantui saya.

Tak ingin merasa gelisah dan takut sendiri, saya layangkan beberapa pesan singkat kepada dua orang sahabat saya. Saya tidak mengharapkan sebuah jawaban dari mereka. Saya tahu ini bukan jam wajar untuk berkirim pesan. Tapi setidaknya saya sedikit lega saat menuliskan pesan itu, yang entah kapan akan dibaca.

Bip bip

Sebuah pesan masuk. Pesan saya terjawab segera. Ah, senang betul saya membaca pesannya. Untung saja ia belum pergi jauh ke alam mimpi, kalau tidak tentu sangat susah untuknya dibangunkan.

Tapi saya rasa dia tengah kesambet. Jawaban yang tertulis sangatlah bijak, bukan karakternya sekali! Dia selalu saja meledek saya jarang berbalut kebijaksanaan meski saya tahu ada makna dibalik gurauannya.

Kekhawatiran memang wajar, tapi jangan dibuat berlebihan. Itu katanya. Hidup manusia berputar dan ketakutan jangan pernah bertahan lama di dalam kepala. Karena ia akan hidup dan nyata selama kita pikirkan.

“Macam kamu yang nggak pernah takut pulang malam, baik dari orang jahat ataupun hantu. Karena takutmu itu nggak pernah hinggap lama di kepala. Lantas kenapa ketakutan yang lain tidak dibuat sama dengan takutmu yang satu itu?” itu ujarnya pada saya.

Shit!

Dia benar! Saya tak pernah takut pulang malam, naik angkot kemana saja, orang jahat, jalan sendirian, hantu atau apapun. Karena saya tidak pernah menanamkan rasa takut itu di kepala lama-lama. Sebentar saja, lalu semuanya baik-baik saja.

Ya.. semuanya akan baik-baik saja. All is well!

 

*tulisan ini sudah ada di kotak draft sejak 22 Mei 2013 lalu, tapi tidak pernah sempat dipublish di sini*

Kalau Rindu Mau Bilang Apa?

28 Juni 2013

Ini adalah tahun kedua saya gantung pena serta kamera sebagai pewarta. Tidak ada yang spesial memang. Tapi terkadang ada hal-hal rutin yang saya rindukan. Seperti halnya tiap kali menyambut puasa. Ya, persis seperti minggu-minggu ini.

Dulu, awal puasa saya sudah punya setumpuk jadwal yang padat merayap lajunya. Sejak hari pertama saja, undangan sudah duduk manis di atas meja kerja saya. Belum lagi yang melalui telepon ataupun email. Tak sedikit yang saya tolak karena saya sudah keburu umbar janji dengan pihak lain.

Atau biasanya saya akan berbagi tugas dengan rekan saya. Tapi kalau lokasinya cukup jauh untuk dijangkau, biasanya memang saya menolak untuk meliput. Bukan sok jual mahal. Masalahnya, hampir semua orang yang mengundang menggunakan materi yang sama.

Jadi begini, biasanya tiap hotel, resto atau produk akan menyelenggarakan sebuah festival menyambut Ramadhan. Festival kuliner yang setiap tahunnya selalu sama. Timur Tengah.

Sudah dapat dipastikan kalau hidangan yang disajikan ya mirip-mirip. Meskipun terkadang ada juga yang mengambil tema Meksiko ataupun mengusung tema Pasar Rakyat. Awal-awal sih seru. Tapi kalau hampir tiap hari diundang ke sebuah acara yang bertema sama, lama kelamaan saya bosan juga. Malah cenderung ndak nafsu dengan hidangannya. Apalagi kalau lidah ini sudah mencicipi masakan, yang membuat priring saya tak pernah kosong semenit pun, alias enak di awal bulan Ramadhan. Itu bahaya! Karena biasanya tolak ukur lidah tanpa sadar akan membandingkan dengan hidangan tersebut. Dan biasanya hidangan di tempat lain jadi sangat biasa saja.

Kini, setelah dua tahun absen. Saya kangen. Boleh kan saya kangen? Tahun lalu, seorang kawan PR saya di sebuah hotel ternama masih tetap mengundang saya untuk melakukan jamuan berbuka. Tentunya di luar jadwal undangan media. Entahlah tahun ini. Terakhir kali saya bertegur sapa dengannya, saya tahu kalau dia sedang membenahi urusan hotel yang ada di Singapura dan Brazil.

Hmm..saya jadi rindu masakan Libanon. Rindu manisnya baklava yang terlampau jumawa. Rindu asam segarnya Lassi mangga dari India yang pernah saya cicipi di salah satu hotel bintang lima di Sudirman sana. Kangen kebangetan dengan sop buntut di salah satu sudut resto hotel yang ada di bilangan Kuningan. Yang selalu jadi pelarian ketika saya bosan mencicipi masakan Timur Tengah.

Rindu ikutan menari tarian sufi. Tarian dimana saya harus berputar.. berputar.. dan terus berputar dengan menggunakan rok kebesaran. Dan yang pasti saya rindu kawan-kawan saya. Kawan-kawan suka dan duka dalam mencari berita. Kawan bercerita di sela-sela tugas yang membabi buta. Kawan berkeluh sambil menikmati satu scope es krim di pinggir kolam di lantai lima apartmen di bilangan Thamrin sana.

Ah.. intinya saya rindu. Bukan pada apa yang pernah saya dapat tapi dengan siapa saya pernah menghabiskan banyak cerita.

Demi Eriek di Ultah Jakarta

Sabtu siang ini terlalu terik. Gumpalan putih yang biasanya berarak-arak ramai sedang absen bertugas mengganggu matahari. Alhasil, matahari agaknya jumawa. Pamer terik yang sepertinya diobral lebih dari separuh harga. Yang ada, peluh langsung kocar kacir, berlarian, seperti maling kesiangan.

Riuh rendah suara gerombolan mahasiswi membuat saya tersenyum simpul, ingat jaman kejayaan masa muda. Jaman dimana uang lima ribu bisa dapat nasi, ayam bakar plus kuah rendang yang enaknya bikin ketagihan. Belum lagi sekumpulan ibu-ibu bersama dengan anak-anak mereka yang berlarian ke sana kemari tak tentu arah. Dikira stasiun kereta lapangan bermain yang tak pernah mereka kenal semasa balita.

Ya, saya sedang berada di stasiun kereta Universitas Indonesia. Siang itu stasiun tampak tak biasa. Ramainya mengular entah sampai mana. Mereka semua punya satu tujuan yang sama, Jakarta. Saya hampir lupa, kalau ini adalah hari jadi Ibukota. Ah, selamat ulang tahun Jakarta! Tapi maaf, saat ini saya tengah menujumu bukan untuk merayakan hari jadimu.

Kereta datang, saya bergegas untuk menyebrang ke arah yang seharusnya. Saat menjejakkan kaki di lajur dua, saya tidak mendapati Mpit, kawan saya. Saya bingung mencari dia. Saya pasang mata lebih tajam mencoba mencari sosok mungil yang saya kenal. Sayangnya tak saya temukan.

“Nonaaa!”

Suara ini saya kenal betul. Saya menoleh ke arah sumber suara dari dalam kereta. Tepat ketika saya menangkap  senyum yang saya kenal sejak beberapa tahun terakhir, pintu kereta tertutup dengan suksesnya. Mpit, si pemilik senyum itu hanya melambaikan tangan. Ah, saya merasa bodoh sekali!

“Ketemu kamu kok kaya ketemu jodoh. Selalu selisipan sih?!”

Gurau Mpit melalui pesan singkat yang ia layangkan baru saja. Saya tersenyum getir. Beruntung, kereta selanjutnya datang tak berapa lama. Walhasil, saya ngobrol bareng Mpit melalui jendela chat seperti biasa. Kok ya nggak ada perubahan! Haha…

Stasiun Cawang. Persinggahan pertama saya.

Saya dan Mpit (setelah menertawakan kebodohan kami berdua) melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta. Menyusuri pinggiran rel di Cawang membuat hati saya nggak keruan rasanya. Pasalnya, jarak saya dengan rel terlampau dekat. Ngeri saat saya membayangkan terpaan angin saat kereta lewat akan menyambar saya seketika. Wuush!

Tapi pikiran itu saya usir segera. Pedagang kaki lima berjajar, berhimpitan dengan manusia yang lalu lalang di depannya. Saya yakin, mereka berdagang tidak hanya hari itu saja, melainkan berhari-hari sebelumnya. Buktinya mereka aman-aman saja. Jadi, kenapa saya harus khawatir?

Shelter Cawang siang itu tampak ramai. Terlalu ramai malah. Imbas dari gratisnya tiket TransJakarta membuat orang berbondong-bondong, jalan-jalan menggunakan alat transportasi umum ini. Tak salah memang. Tapi akhirnya penumpukan penumpang terlihat hampir di semua shelter yang ada di Jakarta. Jumlah armada yang beroperasi tak sebanding dengan tingginya minat pengguna hari itu. Hufff…

Hawa Jakarta semakin memanas. Aroma yang tercium lamat-lamat bukan lagi parfum harum, tapi sudah berbaur dengan aroma lain, tengik rambut yang terbakar matahari, asem ketiak yang membuat saya nyaris pingsan tidak tahan. Segerombolan pemuda, mungkin sekitar 14-17 tahun usianya, berbicara dalam volume suara macam di gedung pertunjukkan saja. Berisik!

Belum lagi perempuan berambut panjang di sebelah saya yang sedikit-sedikit mengibaskan rambutnya. Sekali kibas mata saya langsung kecolok! Lain lagi dengan wanita separuh baya, berkaca mata dan tampak serius dengan buku yang dipegangnya. Tak sekalipun ia berniat untuk menghentikan kegiatan membacanya, padahal bis sangat sesak ditambah ritme rem TransJakarta yang bisa bikin otot lengan langsung kekar karena menahan beban tubuh supaya tidak terjungkal. Namun sayang, saya tak berhasil menangkap judul buku yang dibacanya.

TransJakarta nampak di kejauhan. Fatamorgana di jalan mengaburkan bayangan bis besar berwarna merah-oranye terang. Decit ban hitam yang beradu dengan aspal terdengar seirama dengan langkah tergesa kaki pengunjung di koridor 10. Penumpang yang ada di dalam TransJakarta menghambur keluar, pun yang ingin masuk berdesakan takut ketinggalan.

Saya masih berdiri di antrian. Tidak berniat beranjak, pun percuma karena penampakan TransJakarta lebih mirip kaleng sarden ketimbang bis kota. Sesaknya kebangetan!

Kini saya berada di deretan paling depan. Orang-orang di belakang saya masih umpel-umpelan mencoba menjajari barisan depan. Saya mencoba pasang kuda-kuda lebih kuat sekarang. Tak mau jatuh konyol hanya karena ulah orang-orang tak tahu aturan yang asyik dorong-dorongan.

Sebuah sedan putih susu melintas di depan saya. Di sampingnya sedan Polisi mengawal sangat rapat sambil mengeluarkan suara lewat pengeras suara. Si sedan melanggar aturan! Ia masuk ke jalur TransJakarta seenaknya saja. Pak Polisi berbadan tegap segera menghampir dan meminta si pengendara mengeluarkan tanda pengenalnya. Agak lama proses engkel-engkelan  terjadi. Mungkin si pengendara meminta jalan damai, terlanjur malu dia tertangkap tangan di depan orang-orang. Tapi sepertinya si Polisi tak memenuhi permintaannya. Ia tampak kesal. Mukanya kian ditekuk. Dinaikkannya kaca jendela dan gas ditancap dengan kencangnya. Pak Polisi menggeleng-geleng melihatnya.

Pada akhirnya, ‘Money can buy brand but not brain’. Saya dan Mpit hanya saling tatap dan senyum-senyum saja.

TransJakarta selanjutnya datang. Tidak banyak perbedaan dengan yang sebelumnya. Masih penuh sesak! Saya tak bisa lagi menghindar. Mengikuti arus hanya pilihan satu-satunya. Di dalam, sudah tak ada lagi perbedaan mana area wanita mana area pria. Semua tumplek blek jadi satu. Saling dorong, saling himpit, muka sinis, jidat berkerut jadi pemandangan umum sekarang. Saya? Hanya bisa tersenyum sambil membatin “Demi Eriek!”.

Mpit nyolek saya kemudian. “Demi mas Eriek nih ya Non..” Haha..ternyata kami satu pikiran. Ya, memang perjalanan ini kami sengaja lakukan untuk menemui sahabat kami yang sedang pulang ke Indonesia, Eriek. Awal tahun kemarin, saya tak sempat bertemu dengannya.

Siapa sangka kalau ternyata ultah Jakarta tahun ini begitu luar biasa imbasnya. Pemilihan kami di Jakarta barat bukan tanpa alasan. Jalan protokol, Sudirman hingga Thamrin ditutup sejak puluk 4 sore hingga acara usai. Tak ayal, pusat perbelanjaan dan hang out di sekitarnya pun tutup lebih awal demi merayakan ultah Jakarta yang katanya lebih merakyat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sampai di shelter Semanggi, penumpang sudah berkurang setengahnya. Ternyata benar dugaan saya, semua orang memang ingin menuju satu tujuan yang sama. Lagi-lagi saya dan Mpit hanya saling tatap dan tertawa cekikikan.

Wah.. Jakarta memang betul-betul butuh hiburan! Penat mereka dihajar rutinitas yang itu-itu saja apalagi ditambah problematika yang rasanya lebih drama dari sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri. Tak heran ketika ada sebuah perhelatan besar di pusat kota, semoa orang dari penjuru Jakarta bahkan daerah penunjang di sekitarnya ikut larut dalam keriaan. Mencoba mencuil sedikit saja bahagia yang coba ditawarkan Jakarta.

Ternyata, keramaian ini berlangsung hingga larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika saya keluar dari pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Kami; saya, Mpit, dan juga Pinkih memilih pulang menggunakan kereta. Lebih cepat alasan utama kami, dan lebih aman ketimbang kami, perempuan-perempuan manis ini harus berjuang di dalam bis kota, yang entah apakah masih beroperasi atau tidak.

Taksi jadi alternatif transportasi ketika yang lain sudah tidak bisa diharapkan. Kenapa? Jalanan menuju Depok amat panjang dan tentunya akan berbarengan dengan orang-orang yang akan pulang setelah lelah merayakan pesta rakyat. Macet tentu saya hindarkan sebisanya.

Benar saja dugaan saya. Jalan menuju stasiun kereta terdekat padat bukan main. Padahal jarak tempuh normal hanya 10 menit, tapi malam itu saya habiskan nyaris satu jam. Damn! Tutupnya beberapa ruas jalan memang menjadikan jalan yang saya pakai lebih mirip dengan parkiran ketimbang jalan raya. Tua muda tumpah ruah di jalan. Meniupkan terompet bernyanyi riang serta bersenda gurau. Saya sempat rancu, ini seperti bukan perayaan ulang tahun Jakarta saja, tapi lebih mirip malam tahun baru. Hehehe…

Tiba di Stasiun Juanda. Saya bergegas menuju lantai dua untuk membeli tiket commuter line selanjutnya. Commuter Line sebelumnya sudah bergerak meninggalkan stasiun Juanda ketika saya masih asyik di antrian lampu merah Harmoni.

Pukul 22.45 saya berdiri di depan loket. Satu stasiun lagi commuter line saya tiba. Deg-degan bukan main rasanya. Ssaya harus membeli tiket lekas-lekas dan bergegas berlari dengan cepat. Ah, moga-moga saja masih sempat. Tapi sayang, keberuntungan bukan dipihak saya. Beberapa orang tiba-tiba memotong antrian tepat di depan saya. Saya yang sudah dihajar lelah sejak sore mau tidak mau harus menegurnya.

Untung saja, orang ini mau mendengar dan berdiri mengikuti antrian. Tapi ternyata dia bukan satu-satunya. Ada segerombolan anak muda, serta ibu-ibu bersama dengan balitanya yang terlihat lelah teramat sangat, langsung menyodorkan uang persis di loket. Oh Tuhan!

Saya kembali menegur. Tapi sayang, ia tidak terima begitu saja, justru malah mengajak saya berdebat panjang. Berdalih mengejar commuter line yang sedang menuju stasiun Juanda. Heeeeyyy.. bukan hanya anda yang sedang diburu waktu. Tapi semua orang yang ada di antrian ini! Kali ini si Ibu yang angkat bicara, anaknya terlalu lelah jadi harus segera pulang, itu dalihnya.

Kali ini saya bicara agak tinggi (Oh Tuhan, maafkan saya yang terpancing emosi), “Kalau ibu tidak mau melihat anak Ibu kelelahan seperti ini, seharusnya Ibu sudah pulang sejak tadi. Lagipula ini bukan jam yang lazim masih mengajak anak keliaran di jalan, Bu.” Kali ini, suami istri itu diam. Mereka bersama dengan gerombolan anak muda yang langsung memilih tutup mulut mundur perlahan. Mpit mengamini omongan saya. Enggan sebenarnya jika saya harus beradu argumen dengan orang di tempat umum.

Debat kecil membuat kami terlambat mendapatkan commuter line pukul 22.50. Pilihan lainnya, kami harus menunggu hingga jam 12 malam. Itu kereta terakhir yang berangkat dari stasiun kota. Dan saat ini posisinya masih ada di stasiun Depok. Oh, my!

Tapi, kami tidak putus akal. Kami tetap menikmati malam itu dengan suka cita. Melihat gelagat masyarakat urban yang tengah bergembira, ya seperti kami ini. Semua gadget milik kami sudah terkikis baterainya sejak sejam lalu.

Stasiun ramainya mirip pasar kaget. Anak-anak kecil berlari-larian, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Yang muda bercerita sambil bersenda gurau sambil asyik nggebet gerombolan lainnya. Tidak sedikit yang menggelar tikar yang mereka bawa hanya untuk sekadar meluruskan kaki yang pegal setelah jalan sepanjang malam atau menidurkan bayi-bayi mereka. Ya, bayi. Tubuh kecil mereka sudah harus dibiasakan dengan udara malam serta pengapnya stasiun. Ck! Harusnya kalian sudah tidur pulas di ayunan, Nak.

Puncak malam itu ditutup dengan letupan kembang api yang bersahutan dekat Monumen Nasional. Liuk lampu warna warni menambah hangat suasana malam itu.

“Kembang apinya cantik, suasanya romantis, tapi kok ya aku harus nikmatinnya bareng kalian lagi..kalian lagi..”

Celetuk Mpit kontan membuat saya terbahak-bahak dibarengi jitakan halus Pinkih yang mendarat sempurna di jidatnya. Ya ya ya.. mungkin memang belum waktunya kamu menikmati kembang api bareng dia ya Mpit. Hihihi..

“Ah, aku sih masih tetep mau nikmatin sarsaparila dingin di Kaliurang. Ndak cuma wedang ronde alkid bareng kamu, Non,” seloroh Pinkih yang membuat saya mengulum senyum.

Ya, kedua kawan saya ini memang punya mimpi sederhana tentang menikmati malam romantis. Entah dimana atau dengan siapa. Kalau saya masih tetap sama. Menikmati purnama di tempat tinggi sambil menyesap secangkir kopi. Pun kalau tidak, saya masih tetap senang meneguk sarsaparila dingin di Jogja seperti mimpi Pinkih yang pernah kami cetuskan bersama.

Tapi, sebelum semua itu terjadi, kami bertiga tetap senang menikmati kembang api sederhana yang membawa senyum bahagia tersungging dari wajah-wajah lelah yang duduk manis di stasiun Juanda. Bahagia menikmatinya meski bukan dengan orang terkasih, melainkan kawan baik berbagi penat pikiran.

 

Commuter Line menuju Depok, 23 Juni 2013
*Mpit dan Pinkih sudah ngacir ke alam mimpi di kiri kanan saya.

I’m Happy Today

Senin ini manis. Senin ini indah. Senin ini satu rejeki dikirimkan oleh Tuhan melalui seorang kawan lama.

Sebuah pembicaraan sederhana, cela-celaan seperti biasa mengawali obrolan kami. Tiba-tiba dia mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah saya masih suka menulis?”. Dia juga bertanya, kapan saya berniat menerbitkan buku. Hmm.. pertanyaan yang itu saya belum bisa menjawab dengan pasti. Tapi saya bilang kalau saya sedang mengasuh satu blog yang berisi sketsa-sketsa kehidupan kaum urban.

Saya berikan dia tautan blog yang saya ceritakan. Tanpa diduga, dia menyukainya. Dia sangat kritis dalam menilai tulisan-tulisan saya. Kritis bukan sebagai seorang ahli dalam dunia tulis menulis. Tapi kritis sebagai seorang pembaca. Psstt.. dia adalah pembaca pertama saya sejak dulu. Semua tulisan-tulisan saya selalu dilahap habis olehnya. Meskipun itu hanya sebuah curhatan galau gaya abege jaman sekarang.

Dia menyukai tulisan-tulisan itu. Baik ide cerita, gaya dalam membawakannya, dan konflik sederhana yang ada. Lalu, dia bertanya apa rencana saya dengan alamat blog tersebut. Saya hanya  menjawab ingin menampilkan tulisan ini mingguan. Syukur-syukur ada penerbit yang ‘melirik’. Canda saya. Hehe..

Tiba-tiba…

“Lo udah beli domain buat celotehnona?”

Pertanyaannya mengingatkan saya akan rencana membeli domain yang sempat tertunda hingga sekarang.

Oke, Lo beli celotehnona aja. Nah, untuk blog  yang satunya lagi itu hadiah dari gue. Cek email, di sana ada konfirmasinya. Gue mau lo terus nulis, nggak cuma nulis curcol doang. Hahaha..”

Sial!

Jadi selama ini saya dianggap curcol doang? E tapi tunggu. Barusan dia bilang kasih hadiah untuk domain satu lagi? What? Is he joking? Huaaaaa.. he already bought me a domain for my project!

Ini rasanya mau teriak, nangis, ketawa, salto, pokoknya semuanya sekaligus deh. Mungkin kalau ada yang mendengar ini akan berkomentar, “Halah, cuman domain doang. Kan bisa beli sendiri.” Memang sih, gampang belinya, terjangkau pula. Tapi buat saya, hadiah ini jauh lebih bernilai.

Niat baiknya membelikan saya domain itu saya hargai sepenuh hati. Apalagi dia ingin sekali saya tetap semangat menulis. Ditambah kejutan disela obrolan kami yang kadang tidak pernah jelas juntrungannya. Wohoooo! Love his way to give me a lil surprise..

Sekali lagi, terima kasih untuk kawan ‘lutung’ saya yang sepertinya masih terjebak macet di jalan. You will always be my first reader, kangbro!

 

Kemang, 10 Juni 2013

Nonayangsedangsenangdanmasihjogetjogetriang

Obrolan Cangkir Kopi

“… kamu kayaknya perlu segelas kopi deh, Non. Blandongan?”

Kata-kata itu yang kerap kali dilontarkan olehnya kalau aku mulai mencurahkan emosi yang meluap-luap. Atau aku sedang ingin mengeluarkan secuil pemikiran yang mengganjal seharian.

Ia tak pernah menyambut emosiku dengan emosi lainnya. Ia justru akan meredam emosi ini dengan ajakan secangkir kopi dan obrolan panjang seharian. Aku tetiba teringat olehnya. Ia yang kini jauh berada di kota pelajar yang sedang melanjutkan studinya.

Aku jadi berpikir, apa yang menjadikan kopi begitu nikmat? Atau bagaimana obrolan begitu bersemangat dan mengalir dengan hangat dengan secangkir kopi?

Kalau banyak penikmat nikotin mengatakan kopi dan rokok adalah sahabat, buatku kopi dan sahabat adalah kawan karib yang melegenda. Bagaimana sebuah ide tercipta hanya karena obrolan warung kopi dan bagaimana masalah bisa terselesaikan hanya karena berbagi cerita dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lainnya.

Aku bukanlah pencinta kopi yang mengerti seluk beluk biji kopi hingga menjadi minuman lezat di pagi hari. Aku cukup menjadi penikmat kopi di mana saja, apapun bentuknya. Fresh atau siap saji, aku menikmatinya. Tak lupa seorang atau segerombolan kawan sebagai selingan saat menyesapnya.

Masih hangat dalam benakku, bagaimana perkenalan kami bermula. Secangkir kopi dan senja di sebuah kedai kopi di tengah sawah. Cerita bermula dari aku yang berkomentar tentang senja sore itu yang disambut oleh cerita tentangnya dan bagaimana ia mencintai kopi juga tembakau yang dihisapnya.

Tanpa terasa cerita demi cerita terangkai dengan manisnya dan selalu berakhir ketika senja nyaris tertelan gelapnya malam. Saat itu, aku menyudahi perjumpaan kami. Kucukupkan cerita sore itu dengan sebuah lambaian hangat sebelum kukayuh sepeda kumbangku dengan nada riang.

Begitu setiap hari. Setiap sore, kukayuh sepeda kumbang menuju kedai di tengah sawah. Di sana kutahu ia selalu menungguku dengan senyum dari bibir kehitaman dan nikotin yang terbakar di sela jemari kanan.

Dua cangkir kopi terseduh, menguarkan aroma harum yang memikat. Kusunggingkan senyum untuknya yang sudah bersabar menungguku. Sesapan pertama dan komentar tentang senja hari itu jadi pembuka. Dan menit-menit berikutnya mengalir begitu saja tentunya dengan cangkir kopi yang kembali terisi dari cangkir bergambar bunga mawar.

Aku, dia, dan cangkir-cangkir kopi merangkai cerita. Hanya dengan obrolan sederhana tentang rasa, tentang bagaimana hidup itu semestinya dimata kami, manusia. Tentang persahabatan dan juga cinta, yang terkadang jumlah duka tidak pernah seimbang dengan suka.

Tapi satu hal yang pasti, obrolan cangkir kopi ini akan terus mengalir meski kami tak lagi bisa menikmati cangkir-cangkir kopi di tengah sawah bersama senja. Meski kesibukan menenggelamkan rasa pada akhirnya. Mungkin ada waktunya nanti aku dan dirinya bisa menikmati kopi kami kembali sambil bernostalgia tentang senja, rasa, dan cinta sesama.

Dan soal kopi yang menjadi sahabat setia kala bercerita, aku masih bertanya-tanya. Kubiarkan ia tetap menjadi rahasia. Maka, nikmati saja!

cangkir kopi

 

Senin, 3 Deseber 2012
Lagi-lagi, tulisan ini saya temukan diantara file-file tulisan yang belum sempat ter-posting tahun lalu.
*foto dipinjam di sini

Aku dan Lelaki-Lelaki Itu

Sembilan bulan mungkin terbilang waktu yang singkat untuk ukuran jam terbang bekerja di satu perusahaan. Tapi itu waktu yang cukup untukku mengenal kawan-kawan seperjuanganku. Aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di dunia IT dan juga kartu pintar. Namun pekerjaanku berkaitan dengan dunia design dan juga promosi.

Sehari-hari aku bekerja bersama dengan lima orang lelaki. Muda dan enerjik. Ada saja kekonyolan yang mereka perbuat setiap harinya. Perdebatan pun tak jarang mampir di meja. Mulai dari hal-hal berbau pekerjaan hingga wanita. Dan jika menyangkut masalah ini, mereka lupa dengan rekan mungilnya ini. *pingsan*

Mereka berlima, punya pribadi yang sangat unik. Tidak ada satupun dari kami yang memiliki benang merah dalam segala hal. Mulai dari hal yang remeh temeh hingga selera musik. Teman-teman divisi lain kalau melawati cubicle kami itu selalu saja bilang tempat kami itu gudang lagu. Just say it, I’ll play for you!

Obrolan sederhana setiap pagi bisa jadi obrolan serius sepanjang hari. Mungkin kalau orang lain yang melihatnya kami semua ini kurang kerjaan, tapi justru ini pengikat kami semua. Terakhir, obrolan yang cukup penting kami bahas adalah seputar planet dan satelit. Awkward melihatnya, tapi jujur aku justru banyak tahu tentang hal baru karena mereka. Apapun itu!

kejutan di hari ulang tahun, 2012

kejutan di hari ulang tahun, 2012

Aku jarang terlibat perdebatan atau obrolan yang berat dengan mereka. Aku hanya sebagai pemerhati saja yang sesekali mengingatkan mereka untuk break, karena jam makan siang sudah terlewat setengah jam. Hmm.. kalau dipikir-pikir aku memang macam induk untuk mereka. Seperti layaknya Ibu untuk semua cerita anak-anaknya.

Dan yang aku tahu pasti, saat ini aku menikmatinya. Meski terkadang pusing juga melihat tingkah laku mereka yang sulit diterima nalar dan logika. Hahaha…

Kemang, 11 Maret 2013

Di Balik Helm Acit

Bola mata Acit menelusuri baris demi baris pada halaman khusus lowongan kerja di Koran pagi ini. Rutinitas tiap sabtu pagi yang mulai dilakukannyasejak enam bulan lalu. Ya, sejak tali pada toganya berpindah dari sisi kiri ke kanan oleh dekan Fakultas Teknik di kampusnya.

Ada notifikasi pada layar empat inchi ponselnya. Mama.

Cit, udah sarapan? Hari ini ada rencana apa, sayang? Pakde Kusno mau mampir ke sana. Kangen sama kamu tuh.

Indra hari ini masih berkutat dengan event di kantornya. Isi kulkas dan lemari cemilan bisa dibilang masih cukup aman. Mood memasak sedang melanglang buana entah kemana. Penjaja makanan yang lewat masih bisa mengakomodir gejolak liar naga di perutnya.

Ndak kemana-mana, Ma.. Kalau Pakde mau ke sini boleh aja. Mau datang jam berapa?

Berbincang dengan Pakde Kusno bisa menjadi hiburan di akhir pecan ini. Gaya bicara yang lepas dengan suara berat dan lantang adalah ciri khasnya. Persis seperti Papa.

Papa. Ah, tiap kali membicarakan pria paruh baya yang satu itu hati Acit selalu saja bergemuruh. Seperti ada amarah yang siap untuk meledak sewaktu-waktu. Tak ubahnya panen bom waktu di Afganistan. Entah sudah berapa lama sejak kali terakhir berbincang-bincang dengan Papa. Satu hal yang ia ingat betul, rasa panas yang melekat tepat di pipi kanannya sulit sekali dihilangkan dalam pikiran dan hatinya meski bekas sudah tak lagi tampak sehari sesudahnya.

Kunjungan Pakde Kusno sedikit banyak mengganti kehadiran Papa. Meski beliau paham ketegangan yang terjadi antara Acit dan Papa, tapi tidak pernah memaksa untuk membicarakannya. Tidak tanpa Acit yang memulainya. Dan seringkali, Acit yang terpicu emosi dan mengungkit masalahnya dengan Papa.

Seperti mengenai status Acit yg masih pengangguran. Memang agak mengherankan, dengan bekal IP 3.4 dan pengalamam magang di beberapa perusahaan, ditambah daftar keaktifannya dalam kegiatan kemahasiswaan, semestinya mendapatkan pekerjaan bukan hal yang sulit untuknya. Pakde Kusno secara halus selalu mengajak Acit menganalisa alasan penolakan perusahaan-perusahaan itu. Yang selalu berujung pada, “mungkin memang belum rejekinya, belum dapat ridho dari Allah.”

“Arrrggh..”

Acit melemparkan Koran pagi yang ada di tangannya. Ia malas melanjutkan pencariannya. Ia bergegas keluar kamar dan menyambar handuk yang tergantung di jemuran samping kamarnya.

“Sebaiknya aku ke kampus. Mungkin ada yang bisa kukerjakan di sana,” batinnya.

Tak berapa lama, ia sudah siap mengajak Lui-sepeda polygon merah kesayangannya- menuju kampus. Helm berwarna senada ia kenakan sebelum membelah jalan raya pagi ini. Acit selalu saja ‘melarikan diri’ bersama Lui jika sedang resah. Selain Pakde Kusno tentu saja yang ia jadikan sandaran cerita ketika hatinya benar-benar membutuhkan setitik damai.

Menyusuri sepanjang jalan menuju kampus selalu membawa angin segar dalam hatinya. Penjaja makanan serta segala macam rental dan toko yang menjadi sahabat setia kantong para mahasiswa terasa begitu akrab bagi Acit. Mungkin karena itu juga ia masih menyewa sepetak kamar di rumah kost Ibu Rahadi. Karena sebenarnya, ia tak mau pergi melangkah ke dalam suatu dunia baru, tanggung jawab baru. Apalagi untuk kembali ke Solo, dimana tanggung jawab besar menantinya lebih dari sekadar seorang karyawan.

Berbekal bolang-baling yang baru saja dibelinya di warung Mas Jo’ ia bergegas masuk ke dalam kampus. Langkah kakinya dipercepat menuju satu tempat yang dulu hanya dilihatnya sekilas tiap kali ia ingin ke ruang kemahasiswaan. Jobs Corner. Sebuah tempat di mana papan berukuran 2,5mx1,5m berdiri dengan banyak kertas menempel di tiap sisinya. Kertas-kertas bertuliskan info lowongan kerja.

Entah apa yang membuat Acit tergelitik untuk mampir dan membaca setiap kertas yang tertempel di sana. Desakan orang tua untuk segera mendapat pekerjaan kah? Mungkin saja. Perlahan ia menekuni setiap info yang terpampang di hadapannya. Mulai dari marketing sebuah provider kenamaan di Jakarta, menjadi penterjemah buku, guru privat, hingga menjadi relawan di salah satu panti jompo.

Tak ada satupun yang membuat hati Acit tergerak untuk mencari tahu lebih jauh. Hingga matanya tertumbuk pada satu pengumuman bertuliskan “Dicari penyiar untuk Radio Geronimo”. Lama ia membaca informasi yang tertera di sana. Ada rona bahagia terpancar dari matanya, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis namun manis. Segera ia mencatat alamat email yang tercantum di sana, renggana@geronimofm.com.

Ia pun melanjutkan langkahnya menuju Lab Aerodynamic. Kantung bolang-baling diletakkannya di meja ruang asisten Lab. Hari sabtu seperti ini, dijadikan para asisten untuk kumpul-kumpul menghabiskan waktu. Terutama mereka yang masih jomblo, fasilitas internet gratis membuat mereka betah mengais rokok batangan yang dibeli renceng di koperasi.

Bolang-baling gahar diserbu mereka, tandas seketika. “Piye, mba? Tes kemarin berhasil, tah?” Acit menjawab dengan cubitan pada hidung Anji yang lumayan mancung itu. “Helah piye, tho? Ditakon kok yo malah nyubit. Mukamu kusut udah jadi jawaban wis. Eh, apa itu karena belum mandi ya, mba?” konyol ia julurkan lidahnya pada Acit. “Ndak usah banyak omong. Bantuin aku aja nih, aku mau tanya-tanya soal Geronimo.” Nyaman Acit selonjorkan kaki nya ke atas pegangan bangku kosong di sebelahnya. Lab ini bagaikan rumah keduanya. Biarlah ia bermain di sini dulu. Toh Pakde baru sore nanti datang ke kos.

“Waah, mau jadi penyiar tho, Mbak? Emang suaramu enak didenger yo?” goda Anji yang membuat Acit langsung mendaratkan sebuah jitakan di kepalanya.

“Wong jenenge yo usaha, siapa tahu aku beruntung,” jawab Acit sekenanya. Tapi sejujurnya, ia menggantungkan sedikit lebih banyak harapan pada lowongan kali ini. Ia mulai mencari tahu tentang Geronimo dan tentang lowongan yang akan coba ia isi nantinya. Penyiar. Salah satu mimpi yang pernah ia punya dulu sekali, yang pernah ia coba hingga akhirnya Papa menghalanginya karena menurut Papa menjadi penyiar hanya akan mengganggu kuliah saja.

Sigh!

“Lagi-lagi Papa,” gumamnya.

Papa yang dulu selalu mendukung segala mimpi Acit tiba-tiba menjadi batu besar pada setiap langkahnya. “Papa kan sudah bilang, kuliah jangan main-main. Kamu memang pintar, tapi jangan sombong. Menghabiskan waktu bergaul dengan orang-orang semacam itu gak ada gunanya. Apalagi mulai ikut apa itu, naik gunung, demo, panitia ini itu. Kapan kamu belajarnya?” Omongan Papa saat ia tengah aktif berorganisasi di tingkat tiga kuliahnya membuat Acit mengernyitkan kening, dan juga bibir mungilnya.

Kala itu keluarganya baru saja pindah ke Solo, sebuah keputusan besar yang hingga kini Acit tak mengerti alasannya apa. Belum lagi ditambah berita bahwa Papanya mendirikan usaha pabrik furnitur yang mengkhususkan pada dekorasi perkantoran. Mengapa harus Solo? Dan mengapa harus meninggalkan adiknya sendirian di Jakarta?

Dan bahkan belum puas Papa mengekang kegiatan Acit, hubungannya dengan Indra pun harus rela menjadi bahan pertengkaran setiap kali ia pulang. “Mental pegawai! Mana bisa dampingi kamu buat pimpin pabrik ini.” Hah? Siapa yang mau memimpin pabrik? Apa sih yang sedang direncanakan Papa?

Apapun yang berkaitan dengan Papa selalu saja membawa Acit ke dalam lamunan panjang. Mengacaukan mood-nya seharian dan entah apalagi yang akan membuatnya enggan menyunggingkan senyum. Papa, ibarat musuh bebuyutan untuk Acit beberapa tahun terakhir.

“Nji, aku pinjam laptop mu ya. Mau bikin surat lamaran, malas bikin di kosan,” ujar Acit bahkan sebelum Anji menyetujuinya ia sudah duduk nyaman bersama dnegan lapto kesayangan Anji.

Tak perlu waktu lama untuknya membuat surat lamaran itu. Ia kirimkan beserta contoh suara yang ia rekam baru saja dengan telepon genggam miliknya. Ia melirik jam tangan Swatch miliknya.

“Astaga! Pakde Kusno!” pekik Acit yang membuat Anji bertanya keheranan.

“Kenapa, Mbak?”

“Aku pamit ya, Pakde ku mau datang ke kosan sore ini,” bergegas ia pamit kepada Anji dan segera menyambar Lui yang tengah mengenyakkan diri di dekat pohon angsana tua depan lab.

Pakde Kusno datang sore ini, kalau sempat kamu mampir ke kosan ya. O ya, tadi aku kirim lamaran ke Geronimo. Doakan ya.

Sebuah pesan singkat ia ketikkan dengan tergesa dan langsung dikirimkannya ke Indra. Komunikasi mereka memang tidak seperti pasangan kebanyakan. Cukup dengan info singkat tentang kegiatan hari itu cukup membuat mereka tetap merasakan dekat. Sederhana saja.

Lui tiba-tiba dihenyakkannya pada halaman rumah Ibu Ruhadi. Kenapa terdengar suara tawa Papa di ruang tamu? Dan sepatu Indra pun tampak berdampingan di rak samping pintu. Yang datang sebetulnya siapa? Pakde atau Papa?

“Assalamu’alaikum.. Loh, sudah sampai, Pakde?” Acit langsung mencium tangan Papa dan Pakde bergantian, namun tetap tak menyapa Papanya. Wajah penuh pertanyaan dia lempar ke Indra yang sedang tersenyum nakal penuh rahasia. Mau pecah rasanya kepala kalau menjadi satu-satu nya orang yang tidak mengerti apa yang terjadi.

“Wa’alaikumsalam, Cit. Darimana, Cit? Kata Mama kamu ndak ada rencana apa-apa, eh kok malah keluyuran. Nih, makan dulu Sosis Solonya. Kasihan cacing kelaparan di perut kamu diajak naik sepeda terus.” Menatap sekotak cemilan kesukaannya, Acit masih mencoba menerka apa yang sedang terjadi.

“Helm kamu udah ndak pantas dipakai, Nak. Papa bawakan yang baru nih.” Tersedak Acit menerima helm dari tangan Papanya. Suara Papa terdengar berubah. Lebih lembut dari biasanya. Seperti dulu, kala beliau masih menjadi sahabat terbaik tempat Acit bercerita.

“Tadi Papa muter-muter cari yang cocok untuk kamu bareng Indra,” lanjut Papa yang membuat Acit semakin sulit menelan makanannya. Acit melemparkan pandangan tajam kea rah Indra.

Seperti menangkap sinyal tanya Acit, Indra mencoba membuka suara.

“Iya, tadi Papa ke kantorku dan ajak aku cari helm untuk kamu. Lha wong yang lama udah retak sana sini kebanyakan dipake nyungsep pas down hill sih,” canda Indra yang sama sekali tidak bisa membuat tanya dikepala Acit luntur sedikit saja.

“Papa… Indra… Helm ini? Ada apa sih sebenarnya? Acit nggak ngerti!” kata-katanya sedikit meninggi.

Indra merangkul bahu Acit dan mengajaknya untuk duduk bersama. Ada hangat yang tertahan di pelupuk matanya. Ada haru yang perlahan menelusup di hatinya. Ini terlalu manis untuk dijadikan kejutan sore, Acit merasa tak siap. Meski ini sebuah bahagia… sepertinya.

“Kamu inget gak bulan lalu aku sempet ada event di Solo?” Acit berusaha mengangguk dengan mata yang bergantian menatap Indra dan Papa bergantian. “Aku mampir ke rumah. Kebetulan pas Papa sedang membongkar mobil. Jadi ya aku ngobrol sama Papa sambil ikut benerin mobil.” Dari seringai yang terbentuk di bibir Indra, Acit mulai bisa meraba arah pembicaraannya. Meski masih sangsi apakah itu benar-benar terjadi.

“Kamu tahu kan udah lama banget Papa pengen si Kudo itu dimodifikasi. Cuma belum ketemu waktu sama bengkel yang cocok aja. Nah, Nak Indra kebetulan punya kenalan di Solo yang bisa bikin Kudo jadi gagah. Yaa, senggaknya gak bikin Papa malu lah pas antar Mama ke pasar.” Suzuki Escudo keluaran 94 punya Papa memang sudah sedikit memalukan kondisinya. Pantas saja Papa dan Indra bisa akrab begini. Kalau sudah mengenai otomotif, antusiasme dan semangat Indra langsung membumbung tinggi. “Yah, karena itu setiap wiken aku ke Solo. Menemani Papa ke bengkel temenku. Maaf ya aku bohong kalau bilang ada event di luar kota.”

Acit semakin lahap menyantap Sosis Solo, menutupi debaran jantungnya yang semakin penasaran akan muara cerita ini. “Papa banyak bicara sama Nak Indra. Bukan hanya soal Kudo, tapi juga soal keinginan kamu yang ingin merambahi beberapa mimpi kamu. Papa juga jelaskan, usaha supply sayuran dan buah-buahan Papa mengalami penurunan omset. Makanya Papa melihat peluang usaha furnitur perkantoran yang sedang naik daun sebagai alternatif. Papa sudah diskusi dengan beberapa teman dan relatif. Solo menjadi pilihan karena selain itu kampung halaman Papa dan Mama, juga karena biaya produksinya lebih murah dibandingkan di Jakarta.”

Lalu Pakde menambahkan, Papa sebetulnya khawatir dalam memulai usaha barunya ini. Karenanya beliau ingin Acit segera lulus kuliah dan membantu Papa menjalankan bisnisnya. Hanya saja, gengsi Papa terlalu tinggi untuk menyampaikan pada Acit. Papa takut putri kesayangannya merasa kecewa bahwa Papa yang diidolakannya gagal mempertahankan usaha di Jakarta dan membutuhkan bantuan putrinya.

Tiba-tiba, Sosis Solo yang sudah dingin karena perjalanan Solo-Yogya kembali terasa hangat di mulut Acit. “Tapi dengan sikap Papa yang keras terhadap Acit itu sudah bikin Acit kecewa,” sanggahnya dengan segera, masih berusaha memungkiri hatinya yang memanas. Entah karena iba bahwa selama ini Papa menanggung segala kekhawatiran atau karena merasa tersinggung tidak dianggap cukup dewasa untuk dilibatkan dalam permasalahan keluarganya.

“Papa nggak tahu kan Acit berjuang mati-matian menunjukkan sama Papa kalau segala kegiatan itu tidak akan membuat Acit lupa kewajiban Acit sebagai mahasiswa. Papa juga gak tahu kan Acit sempat dirawat karena kehabisan cairan habis ujian. Semuanya demi Papa membuka mata kalau Acit bisa, Pa”, dan ia pun mulai terisak.

Suasana lalu menjadi sepi terisi kecanggungan. Papa masih terdiam menatap Acit yang membiarkan Indra memeluknya. Beliau yang selalu rela maju menerjang siapapun yang menyebabkan gadis kecilnya menangis kini harus menerima kenyataan bahwa kali ini, beliaulah yang menyebabkan airmata di wajah gadisnya.

Kemudian tangannya menggapai tangan Acit yang masih dalam pelukan Indra. Pelan, Acit menjawab permintaan maaf lewat sentuhan itu, dengan menggenggam tangan Papanya.

“Acit kangen Papa,” kata-kata Acit menggantung di udara, membuat pelupuk mata Papa menghangat. Langit sore ini memang tidak seberapa indahnya, tapi justru memancarkan hangat yang istimewa untuk Acit dan juga Papanya.

Jakarta, 28 Februari 2013

#AWeekofCollaboration with Didiet Prihastuti

Hari Ini Saja

Siang tadi aku membereskan lemari tua milik Mama. Ada kotak persegi berukir cantik di dalamnya. Aku ingat kotak itu dulu kuberi nama Pandora, karena jika kubuka maka aku akan membuka banyak luka lama. Aku bukan orang yang senang menyimpan luka tapi aku pun menolak lupa, agar tak lagi aku terjatuh di dalamnya.

Hari ini aku memberanikan diri untuk membukanya. Kurasa aku sudah siap dengan segala kenangan yang akan berhamburan, berloncatan, bahkan terbang  dan hinggap langsung di kepala dan menelusup, mencungkil bagian hati yang pernah berlubang kehitaman dulu sekali.

Perlahan kubuka kunci yang terkait di salah satu sisinya. Tak ada reaksi apa-apa. Tak ada sakit yang menghujam dada tiba-tiba. Atau mungkin belum ada?

Banyak lembar-lembar cerita yang pernah tertoreh di dalam sana. Tapi justru aku tersenyum membacanya. Menertawakan diriku yang pernah begitu bodoh mencintai seseorang begitu rupa hingga lupa akan dunia nyata. Ya, saat itu aku hidup pada duniaku saja yang kubangun layak istana dan seorang pria menjadi pangeran tampannya. Tapi itu tak berlangsung lama dan selalu begitu pada setiap cerita. Tidak ada yang berubah sejak dulu. Karena cinta ya begitu saja. Merasa bahagia untuk terluka nantinya.

Senyumku terkembang sempurna, semu merona mungkin sudah bercokol sempurna di pipiku. Melihat semua kenangan yang dulu kuanggap tidak layak untuk kuingat tapi enggan kulepaskan. Hingga kutemukan selembar foto seseorang yang masih sangat kukenali rupanya.

Ia yang pernah mengisi hari-hariku dua tahun lalu. Ia yang pernah mengumbar janji dan rencana ke depan bersama. Membangun sebuah rumah tangga yang menurut ceritanya sangat sempurna. Namun akhirnya ia juga yang merubuhkan seluruh kastil impian yang sudah bercokol manis di kepalaku.

Tak peduli apa alasan yang ia berikan, hanya satu yang kutahu bahwa ia begitu menyakiti hatiku, juga keluargaku. Menghilang tanpa pernah memberikan pesan apapun. Namun dengan arogannya datang lagi meminta maaf dari hati yang pernah dihujam ribuan pedang dari kata-katanya. Membuat penantian yang pernah dilakukan terasa sia-sia, pengertian yang diberikan seakan percuma, dan maaf bukan lagi jadi obatnya.

Aku marah seketika. Ingin rasanya aku mengamuk, menjerit, dan melemparkan semua hujatan terhina untuknya. Ia telah merampas semua bahagia yang aku punya. Bahkan ia dengan santainya mengatakan akan segera membina rumah tangga dengan orang yang baru saja dikenalnya.

Aku menangis sejadinya mengingat apa saja yang membuatku jatuh karenanya. Aku marah sekuat yang aku bisa. Membuat gumpalan dendam di dada segera hancur dengan sekali teriakan saja. Hingga isak yang kudengar cukup di hati saja.

Aku membuat pemakluman hari ini. Ya, cukup hari ini saja aku membolehkan diriku menangis karenanya. Merasa sakit untuk terakhir kalinya, untuk segera bangkit lagi apapun kondisinya, karena aku tidak selemah yang ia duga. Selalu ada karma untuk setiap perbuatan. Mungkin karmamu sedang menanti saat ini.

Jakarta, 30 Januari 2013

Kematian itu Hanya Masalah Waktu

kak yogiDan pada akhirnya, sebuah kematian hanyalah masalah waktu.
mengantar jiwa-jiwa kesepian yang tengah diburu rindu
Kematian pun hanya perpisahan sementara sebelum kita semua mengahadapnya
mengusung duka bagi mereka yang ditinggal
adakah semesta punya rencana? Ah, tentu saja. Semua ini memang terencana.
maka, hadapilah dengan sebuah senyuman 🙂

 Langit tampak kelabu. Kilat memburu di kejauhan, mengantar gemuruh petir semakin dekat. Hujan mulai turun perlahan. Rintiknya tidak riang tapi tidak juga tergesa. Seolah sedang menikmati setiap tetes yang turun mencumbu bumi yang diam, dan tak luput membasahi setiap hati yang kini dirundung duka.

Satu persatu mereka berdatangan dari jauh. Wajah-wajah tak percaya, kaget sedemikian rupa, hingga sedih yang entah bagaimana lagi mengungkapkannya. Cemas kadang bergayut manja di salah satu wajah yang belum khatam kukenali sejak tadi. Rintik hujan mulai reda. Rangkaian bunga mulai ditata, sebagian orang lainnya tengah sibuk menyiapkan apa yang seharusnya ada mendampinginya.

Suara sirine meraung-raung membelah jalan raya. Memasuki area pemukiman yang kini tampak ramai disesaki manusia. Suara tangis mulai pecah menuai pilu, tubuh-tubuh lemas terkulai tak berdaya mulai bermunculan ketika jenazah mulai dikeluarkan.

Aku terpaku, membisu di sudut rumah tanpa bisa bergerak sedikitpun. Aku hanya bisa menatapnya dalam kebisuan dan tanpa sadar kalau air mata sudah menggenang dan siap membuncah berlarian. Aku masih tak percaya. Ia, kakak tersayang, pelatih tercinta sudah lebih dulu mendahului. Rasanya baru kemarin aku bersenda gurau dengannya perihal kematian. Iya, ia bergurau tentang kematian yang belakangan kuketahui artinya.

Ia kerap berjanji akan segera pulang dalam dua hari saja. Dua hari ia berjanji. Padaku dan jua mbok Komang. Dan kini, ia menepati janjinya, hanya sayang dalam kondisi yang berbeda.

Ida Bagus Putu Yogi. Seorang kakak, sahabat, orang tua, pelatih yang teramat aku dan juga kawan-kawan Paduan Suara Swara Darmagita sayangi. Ia telah memiliki posisi tersendiri dihati masing-masing kami, adik-adiknya.

Aku jarang berbicara dengannya, sesekali saja. Tapi aku tahu betul, obrolan kami selalu saja memiliki kesan yang sangat dalam. Setidaknya untukku. Aku ingat terakhir kali kulihat ia bersama dengan kawan-kawan Twilite Chorus sebelum keberangkatannya ke Australia untuk melakukan konser di sana. Aku, sebagai salah satu delegasi dari pihak media tak pernah menyangka akan bertemu dengan Om Bewok-sapaan ku untuknya- di tempat itu. Sesaat setelah gladi bersih, setelah melakukan wawancara dengan Om Adie.

Dia takjub. Aku menyadari ada rona bahagia ketika melihatku ada di sana, melihat aksi panggungnya secara langsung. Dan aku tahu dia sangat tulus kala mengucap rasa terima kasih karena aku berada di sana. Ah, haru itu kembali datang.

Aku masih juga ingat, malam tahun baru yang dihabiskan di rumahnya bersama kawan-kawan lainnya. Saat itu kondisi kesehatanku sedang menurun. Ia mengenalkanku kepada Biyang, Ibunda yang ia sayang. Cemas ia dengan kesehatanku yang menurun ia curahkan pada Biyang. Tanpa ragu ia meminta Biyang untuk melihat kondisi kesehatanku.

Malam pergantian tahun. Diisi dengan senda gurau dan celoteh riang seperti biasa. Tapi terselip juga sebuah cerita yang tertuang di ruang tengah rumahnya. Membuatku tercenung cukup lama dan menyelami apa yang ia sampaikan saat itu. Aku tidak pernah tahu apa yang ia maksud, tapi kata-katanya hanya aku simpan saja di sini. Diingatanku, hingga kini.

Aku juga masih sangat ingat, bagaimana ia menyadarkanku sesaat setelah kami semua turun panggung. Aku tidak sadarkan diri tiba-tiba. Sayup-sayup kudengar suaranya menyebutkan sebuah buku yang sangat kuincar sejak lama. Benar saja, saat kubuka mata kulihat wajahnya dengan senyum ceria seperti biasa menggenggam buku tersebut. Eldest, buku yang ia iming-imingi saat aku sadarkan diri. Ah, kalau ingat kejadian haru pasti datang padaku tiba-tiba.

Om Bewok, pribadi yang unik dan menarik, punya semangat yang tinggi, kawan cerita yang selalu menyenangkan, dan selalu ada memberikan semangat untuk aku, dan juga kawan-kawan lainnya. Aku tahu ia telah pergi untuk selamanya, tapi aku hanya merasakan kalau ia hanya pergi sementara. Seperti biasanya. Ia hanya pergi untuk membawa harum nama Indonesia melalui musik bersama dengan anggota Twilite lainnya. Itu saja.

Ia selalu ada bersama aku, bersama kami semua, keluarga besar paduan suara yang pernah mengenalnya. Selamat jalan kakakku tersayang, Ida Bagus Putu Yogi. Baik-baik selalu di sana, sampaikan pada Tuhan untuk senantiasa menjaga kami semua di sini, seperti Tuhan menjagamu dengan baik saat ini.

*Ida Bagus Putu Yogi meninggal pada tanggal 21 Oktober 2012 di RS Pasar Rebo. Upacara Ngaben dilakukan di Bali pada tanggal 1 November 2012.

Sobat Aceh & Visit Aceh 2013

logo visit aceh 2013 from acehdesain

MSS 2013, saya mungkin harus berterima kasih padanya. Karena melaluinya, saya bisa ‘mengunjungi’ rumah kawan-kawan saya di ujung pulau Sumatera, Aceh. Aceh sudah mengakrabi telinga saya sejak kecil. Bukan karena saya tinggal dan besar di sana, tapi karena Ayah berasal dari bumi serambi Mekah itu.

Jujur, saya merindukan Aceh. Rindu dengan keluarga yang dulu ada di sana. Rindu dengan alamnya tentu saja. Delapan tahun sudah sejak terakhir kali saya mengunjungi Aceh, dan sekarang belum ada kesempatan untuk bertandang lagi ke sana. Mungkin karena sudah tidak ada keluarga yang bisa saya kunjungi lagi.

Kini, saya memiliki beberapa kawan di sana. Kawan-kawan yang saya temukan di kompetisi MSS 2013, Bang Citra, Bang Dicko, Asy, Kakak Piyoh 😀 dan lain-lain. Meskipun saat itu kami semua belum menjadi finalisnya, tapi kami sudah saling kunjung mengunjungi. Buat saya, itu sudah lebih dari cukup. Saling bertegur sapa meski lewat dunia maya dan saling menyemangati meski sedang berkompetisi.

Sampai akhirnya, satu yang saya sadari betul-betul. Saya merindukan Aceh jauh lebih dalam dari yang saya duga. Trauma adalah alasan saya dulu sekali tiap Om Agam mengajak saya sekadar main ke Aceh. Tapi sekarang keinginan saya kuat dan membuncah selayaknya rindu yang berloncatan riang.

Rekam gambar yang disajikan kawan-kawan di Aceh membuat keinginan saya semakin kuat untuk bisa segera berkunjung ke sana. Semoga tahun ini ada terselip kesempatan saya menyambanginya. Dan pastinya akan bertemu kawan-kawan yang selama ini hanya menyapa lewat jemari dan juga kata. Semoga.

Aceh yang mulai menggeliat lewat industri pariwisatanya, pasti akan semakin maju dan tak kalah dengan daerah lain di Nusantara, apabila digawangi pemuda-pemuda macam kawan-kawan saya tadi. Para pemuda yang mencintai negerinya sedemikian rupa dan mencoba mensukseskan Visit Aceh 2013 kali ini. Pada akhirnya, saya hanya bisa bersyukur sempat ‘dipertemukan’ dengan orang-orang hebat macam mereka. Para sobat Aceh. :’)