Penghabisan

“Bangsat!”

“Ya elo itu bangsat!”

“Eh , gue nggak kayak elo, Njing!”

Keduanya kemudian tertawa. Percakapan yang aneh buat telingaku. Mereka saling mengumpat di setiap perbincangan. Tidak sekalipun kata-kata itu absen dari mulut mereka yang mengepulkan asap putih pekat dengan aroma yang tajam dari Malboro merah miliknya.

Aku hanya menggeleng melihat kelakuan dua sahabat itu.

Dua laki-laki. Mereka tak bisa dibilang jelek pun tak bisa diakui terlalu tampan. Tapi mereka cukup layak dikategorikan lulus dibawa kondangan. Si putih berbadan tegap dengan rambut kekinian, potongan cepak di kiri dan kanan, belahan rambut ke samping dengan poni yang sedikit panjang. Jambang tertata rapi menghiasi wajah ovalnya dengan kumis tipis yang membuatnya semakin gagah dengan kemeja slim fit yang selalu digulung lengannya.

Sedangkan sahabatnya, berbadan lebih kecil tapi sangat proporsional. Cenderung lebih santai dengan penampilannya yang tak pernah lepas dari kaos Coconut Island yang digandrunginya dulu. Rambut ikalnya yang terpangkas rapi membuat dirinya tampak semakin manis.

Mereka selalu datang ke café ini. Ya, aku memang sering melihat mereka singgah di café ini. Tidak sekali-dua kali saja, tapi puluhan kali. Dalam satu minggu mereka bisa datang berkali-kali. Tidak hanya mereka berdua saja, kadang mereka datang dengan rekan bisnisnya atau mungkin wanita incarannya.

Oh, maaf sebelumnya. Aku bukan penguping setiap cerita mereka. Tapi obrolan mereka yang selalu mencolok membuat telingaku terpasang dengan sadarnya tanpa perlu aku sengaja. Apalagi kalau obrolan mereka tentang wanita.

Suatu hari, mereka duduk agak berbeda dari tempat biasanya. Kali ini, mereka duduk dekat dengan jendela. Sesekali mereka melongokkan kepala ke arah luar, kemudian berbicara setengah berbisik, kemudian tertawa, lalu mengamati ke luar lagi.

Ah, sudah kuduga. Ada sosok perempuan cantik tengah menikmati secangkir latte sambil memainkan gadget di tangannya. Tampaknya ia tak tahu kalau sedang diperhatikan oleh dua pemuda dari dalam.

Mila.

Perempuan yang sering kulihat di akhir pekan. Pengunjung setia café ini sejak beberapa minggu terakhir. Selalu memesan latte dan duduk di teras depan café setiap pukul 4 sore. Dia tidak cantik, tapi enak dipandang. Senyumnya manis dan tertawanya renyah. Ia ramah dan mudah melebur dengan orang yang baru dikenalnya.

“Gue apa elo yang maju duluan?”

“Gue lah. Elo belakangan. Yang  lihat pertama dia yang maju. Deal?”

“Ah brengsek! Okelah, jatah gue besok. Tapi lo nggak akan menang dari gue”

“Anjing! Pede bener lo! Tapi gue nggak akan nyerah. Lihat aja nanti”

Dua pemuda yang sama bersulang dengan cangkir kopi yang sudah habis setengahnya. Aku geleng kepala melihat kelakuan mereka.

Dua bulan kemudian…

“See…! Gue menang dari lo. Mila lebih memilih gue ketimbang elo, Nyet!”

Suara pria tampan berkulit bersih terdengar jumawa. Si pria manis berkulit sawo matang hanya manyun merutuki nasibnya yang kalah dari karibnya. Ia sadar betul kalau taruhannya kali ini adalah sebulan gaji yang harus ia bayarkan demi mendapatkan gadis manis bernama Mila.

“Iya.. iya.. puas lo? Bangkek! Tapi gue nyicil yak, gila sebulan ke depan mau makan apa gue?!”

“Eits, itu resiko Bung! Taruhan tetap taruhan. Like it or not, you must obey!”

Si pria manis makin menekuk mukanya berlipat-lipat. Aku geli melihat wajahnya yang lebih mirip dakocan kalah perang ketimbang pria manis yang pernah kulihat wajahnya beberapa bulan lalu.

“Pssttt.. Malam ini gue kencan sama Mila. Ini saatnya gue bener-bener dapetin dia!”

Si pemenang taruhan setengah berbisik pada temannya sambil menyorongkan sebotol kecil berisi cairan entah apa namanya.

“Gilak, Lo! Lo mau ngerjain dia?”

“Hahaha.. ayolaaahhh.. Gue bukan orang yang suka dengan commitment. Perempuan lugu itu cuman selingan malam gue. Ya mirip-mirip sama Sally, Dita, ataupun Jean. Kenapa lo jadi kaget sih?”

Si pria hitam hanya geleng-geleng kepala.

“Nanti gue bagi dia buat lo. Tenang aja, gue inget temen kok!”

Kata-kata si pria putih membuat senyum pria hitam terkembang sempurna. Aku yang mendengar ceritanya terasa panas. Dasar lelaki!

Mila datang dengan dress kembang-kembang merah muda. Ia tampak segar dengan pulasan warna mata senada. Ia mengecup pipi si pria putih dan menyalami si pria hitam. Si pria putih dengan senyum sumringah memesan latte favorit Mila, dan membisikkan sesuatu kepada barista café.

Aku tak tahan lagi mendengar bualannya. Kupingku rasanya panas, hatiku turut terbakar olehnya. Geram melihat kelakuan bejat dirinya.

Melihat si pelayan menyuguhkan latte, aku bergegas menuju meja Mila dan pria-pria brengsek itu. Semenit sebelum Mila meneguk latte hangat pesanannya, kukerahkan seluruh energi yang kupunya untuk mencegahnya.

Aku sudah tahu target yang hendak kutuju. Lengan si pria putih kusengat sekuat tenaga hingga akhirnya ia menumpahkan cangkir latte milik Mila. Aku kehilangan sungutku. Habis sudah hidup milikku, tapi setidaknya bukan hidup Mila. Perempuan pencinta latte yang kusuka.

 

*Tulisan ini dibuat tanggal 3 Juli 2013 saat melihat seekor kumbang kecil mati saat menikmati makan siang. Dan mungkin kategorinya flash fiction, hehehe…

Advertisements

Pindah ke Surabaya

“Bulan depan kita pindah ke Surabaya ya, Non.”

Saya yang sedang asyik menikmati keripik tempe dan setumpuk film, kontan saja langsung kaget dengan keputusannya. Wajah saya seolah mengatakan, “Serius?”. Dia hanya tersenyum sambil mengecup pipi kanan saya.

Well, ada sebuah project yang akan ia kerjakan. Mengapa harus pindah? Pasalnya ini project panjang yang memakan waktu bukan hitungan bulan, tapi tahun.

Saat itu juga langsung terbayang, saya dengan kegiatan sehari-hari saya. Betapa bahagianya saya akan segera bertemu dengan kawan kriwil; bisa berkumpul, berbincang, berdiskusi di c2o, main-main di Kenjeran, lihat-lihat vihara yang selama ini saya selalu merengek untuk di ajak kesana.

Berkumpul di salah satu taman kota untuk menikmati festival purnama bersama kawankawan pencinta purnama. O ya, saya bisa makan bebek goreng sepuasnya kapan saja dan dimana saja. Tak terkecuali bebek goreng yang lokasinya harus nyeberang jembatan Suramadu itu.

Dan yang paling saya nantikan adalah saya bisa dengan mudah menjadi kutu loncat. Ha? Maksudnya? Iya, kutu loncat, yang bisa dengan mudahnya loncat ke Bali kapanpun saya butuh karena jarak Surabaya-Bali sudah sangat dekat. Macam selemparan kolor saja. Haha…

Saya bisa bolak-balik ke Malang menemui keluarga saya. Main ke kebun apel sesuka hati. Datang secepat kilat ketika tante saya mengabarkan kalau pohon durian kami berbuah dengan lebatnya. Atau pohon salak dan strawberry yang siap panen. Dan tentunya bisa main-main ke daerah-daerah lain yang dulu hanya angan, yang dulu harus dipersiapkan jauh-jauh hari agar terlaksana meskipun kadang batal juga.

Ya, sebahagia itu saya.

Ketika banyak orang justru mengernyitkan dahi dan bertanya, “Kenapa harus Surabaya?” saya justru sebaliknya. Ya, meski saya tak pungkiri kalau Surabaya pernah membuat saya mimisan saat kali pertama menginjakkan kaki di kawasan Sidoarjo. Tapi, toh Surabaya tetap bikin saya rindu.

Ditengah lamunan saya yang bikin senyam senyum sendiri, tiba-tiba saja…

“Non, kamu kenapa senyam senyum gitu?”

Dia mengagetkan saya dengan suksesnya. Bikin lamunan saya hilang seketika, dan dengan bodohnya saya bertanya…

“Kita jadi pindah ke Surabaya, kan?”

Dia tidak memberikan jawaban. Dia hanya tertawa melihat kelakuan saya. Menurutnya saya seperti anak kecil yang haus akan liburan panjang. Saya diam. Tertunduk lesu karena ternyata apa yang saya bayangkan memang hanya sebatas bayangan saja. Kami tidak akan pernah hijrah ke Surabaya. Hiks..

 

 

 

“Kita memang nggak akan pindah ke Surabaya. Tapi… akhir tahun kita akan ‘main’ ke Wamena”

 

 

Aaaaakkk!

Namaku Hujan

hujan

Perkenalkan, namaku Hujan. Di kemarau aku dirindukan. Di berbagai daerah aku dinantikan. Namun tidak di Jakarta. Saat kumenari, umpatan kudapatkan, makian dan hinaan dilontarkan, hanya karena lalu lintas yang lumpuh total. Lantas aku harus bagaimana? Kepada siapa lagi aku menuju ketika harap tak jua tersampaikan…

*otak saya kembali random saat terguyur hujan pagi tadi. foto pinjam di sini

Senja dan Kopi

Senja dan Kopi.

Selalu saja bersama, berdampingan, entah sebagai sahabat setia atau pasangan bahagia..

Maaf jika mungkin kau bosan dengan senja dan kopi yang selalu saja tertuang di sini. Di tiap laci memori yang memang sepertinya tertata apik hanya untuk mereka.

Jika kau ingin protes, silakan saja..

Toh, senja akan selalu sama. Rasa kopi juga tidak akan pernah berbeda

Kecuali…

Ketika secangkir kopi, selembar senja dan sejumput kecil rindu sebagai ‘pemanisnya’, tentu akan jadi berbeda rasanya.

Karena tiap tetesnya berisi tentang dirimu, ceritamu, dan mimpi yang pernah ada.

Yang tiap tetesnya menenggelamkanku dalam palung rindu paling jumawa. Dan yang membuat lembayung senjaku berubah jadi kelabu tua.

Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

 

*my another random thought. just trying to keep my brain busy 🙂

Untuk Kamu

Ada entah apa namanya yang datang tiap kali matari pagi menyapa lembut kulit kekuningan. Mengajakku berdansa bersama kicau burung bernyanyi,yang lagi-lagi aku tak tahu di nada apa.

Saat bulir-bulir embun yang nyaris menguap menghilang karena panas yang coba ditawarkan matari yang sedang genit dengan cahayanya. Aku mengingatmu. Buncah rasanya semua rasa yang kusimpan baik-baik di dada selama ini.

Cukup dengan membayangkanmu. Tegap tubuhmu. Dada bidangmu yang diselingi aroma segar yang kerap kali menjadi penghibur penat pikiranku. Dekapan hangat yang selalu saja kau tawarkan tanpa perlu kuminta. Dan bibirmu, yang menghujaniku dengan ribuan kecupan manis yang hidup dan mengakar hingga ke hati paling dalam.

Hatiku tak keruan rasanya. Melompat-lompat, berlarian, seolah dunia bisa kukitari hanya dengan sekali lompatan panjang.

Ah, aku tak tahu bagaimana mendeskripsikan lagi hatiku saat ini. Sepertinya langit saja mulai enggan untuk membantuku melukiskanmu karena sejak tadi awan yang terbentuk hanya wajahmu. Lelah ia. Tak ada rupa lain selain kamu yang ada di pelupuk mataku.

Sayang, tunggu aku di situ, jangan kemana-mana. Aku akan kembali, secepat senja yang tertelan petang sore ini.

Kemang, 15 Mei 2013

Karena Lelaki Juga Butuh Rindu

“Kamu kemana aja, sih? Udah dua hari nggak ada kabarnya?”

“Ada kok,”

“Iya, tapi gak berkabar itu sama aja kayak ditelen godzila!”

“Kok godzila sih?”

“Terserah aku dong. Kan yang lagi ngomel aku!”

“Lho? Kamu dari tadi ngomel ya? Aku kira kamu lagi ngerayu aku,”

“Arrrgggh! Susah ya ngomong sama kamu!”

“Kalau nggak mau ngomong sama aku kamu bisa nulis di surat kok. Aku juga bisa baca. Seru!”

“Tuh kan! Ada aja deh jawabannya. Kamu itu gak kangen apa sama aku?”

“Hmm…”

“Jawab kangen atau nggak aja pake mikir! Gimana kalau aku tanya, kamu cinta nggak sih sama aku? kamu jawabnya bisa lebaran monyet kali ya?”

“Hahaha..”

“Aku nggak lagi bercanda. Jangan ketawa!”

“Umm.. oke oke.”

“Begini sayang, ada masa dimana pria akan merasakan rindunya. Dan kamu tahu, apa fungsi pasangan hidup untuk si pria?”

“….”

“Seperti  yang pernah kamu bilang dulu, kalau peran pasangan hidup bagi seorang pria itu ibarat rumah. Ketika si pria merasa rindu, ia akan kembali pulang ke rumah dimana ia dirindukan. Dan sekarang aku sedang kembali ke ‘rumahku’. Sedang menikmati  omelan kamu seperti sekarang ini, karena aku tahu kamu menyayangiku dengan caramu.”

“….”

“Kamu tahu, secuek apapun seorang lelaki ia tetap butuh rindu. Tetap butuh rumah dimana ia bisa mengadu. Butuh dekap hangat serta omelan yang membuatnya selalu merasa disayang dan dikhawatirkan. Dan saat ini aku sedang  menjemput rinduku,”

Aaaakkkk! Ingin rasanya menghamburkan pelukan untuknya saat itu juga. Meskipun aku tahu, aku harus sabar menunggu 2 tahun lagi untuk bisa melakukannya, disaat kami sudah bisa bertatap muka. Bukan hanya bertatap di layar laptop saat pagi merayap datang.

Jakarta, 5 Februari 2013

Pernikahan Impian

Lampu utama padam. Lampu sorot yang menyilaukan mengarah ke satu sudut ruangan. Iring-iringan telah bersiap di belakang, lengkap dengan tabuhan kendang dan alunan musik lainnya. Aku takjub berdiri di sudutnya saja, menggandeng si bocah yang tak bisa diam ingin berlarian ke tengah kerumunan.

Seorang wanita berkebaya merah tua membacakan susunan acara dalam bahasa yang tak kukenali artinya. Hanya saja terdengar syahdu di telinga dan makin hangat ketika kulihat satu-satu wajah penuh harap dan juga haru. Mungkin saja doa yang baru saja dibaca.

Pelan-pelan lampu mulai menyala, tapi ritual upacara belum usai semuanya. Masih ada lain-lainnya yang membuat si kecil di tanganku makin tak bisa diam dibuatnya. Celotehannya makin kencang dan membuat suasana yang seharusnya khidmat jadi sedikit bising olehnya. Toh tak menurunkan tingkat kesakralan upacara seluruhnya.

Lima belas menit sudah, semua berjalan seharusnya. Kini si kecil ‘kulepaskan’ untuk segera berlari ke pangkuan bundanya yang sudah selesai menjalankan tugasnya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sampai akhirnya, sebuah suara mampir dan menyapa di tengah riuhnya acara yang sudah berjalan setengahnya.

“Apa pernikahan impianmu?” itu katanya.

Aku hanya menoleh sekilas sebelum benar-benar kujawab pertanyaannya. Pria berkemeja hitam berdasi marun datang mengulas senyum paling rupawan.

Tak ada kata terucap, hanya diam yang makin lama menggantung di udara. Mataku menerawang jauh ke arah pengantin yang tengah bertugas menebar senyum entah pada tamu yang memang dikenalnya atau sekadar basa basi di hadapan kerabat orang tua.

“Tak ada,” pada akhirnya aku memecahkan tanya.

“Pernikahan impian itu hanya ada di dunia para puteri di negeri dongeng sana. Di sini, terlalu banyak benturan realita yang harus dihadapi. Impian ya sekadar mimpi saja,” itu jawabku.

Seperti tak puas dengan jawabanku ia melanjutkan bertanya ‘kenapa?’ yang tetap dijawab diam olehku awalnya.

“Pernikahanku hanya butuh restu. Tak perlulah megah acara kupersiapkan hanya untuk memuaskan keinginan orang saja. Dan yang pasti ketika saat itu datang, aku sudah tak perlu merisaukan adat apa yang harus kepersiapkan bahkan gereja atau masjid mana yang kupilih untuk meresmikan ikatan pernikahan dimata Tuhanku nanti.”

Ia hanya tersenyum menatapku. Menelusupkan jejari diantara jemariku, dan mengecup keningku alih-alih berbisik, “Akan ada waktu untuk kita bahagia dimana restu sudah diterima dan semesta mengamininya.”

Jakarta, 7 Januari 2013; 16.30

Saat Monyet dan Kingkong BBM-an

monyet

Simba : “PING!”
“PING!”
“PING!”

Sigarf : “Hai..hai, kamu.. ada apa?”

Simba : “Kamu baik-baik saja, kan?”

Sigarf : “Iya, ada apa memang?”

Simba : “Aku sedang baca e-news, dan ada berita tentang orang yang terkena penyakit Pseudoaneurisma Sinus. Dan kebetulan namanya persis sama nama kamu, cuma ngga ada fotonya aja.”

Sigarf : “Ha? Seriously?”

Simba : “Iya”

Sigarf : “Memangnya itu penyakit apa?”

Simba : “Hidungnya mengeluarkan darah terus menerus. Mimisan tapi ngga selesai selesai..”

Sigarf : “Waduh! Serem banget. Alhamdulillah, aku ngga mimisan. Aku cuma lagi ingusan ngga kelar-kelar. Keluar terus kayak keran bocor..”

Simba :Hadeuuh.. too much information, woy! #jitak”

Sigarf : “Hahaha…#ngakaksampemarseille”

Simba :I’ll send you my huge warm hug now *peluk*”

Sigarf :Really? Uwuw..i really need that now! Sneezing all the time and feeling cold killing my mood. Arrggh.. #anakmanja”

Simba : “Kalau kita dekat, aku pasti langsung peluk kamu erat sekali sekarang. Untuk sementara, biar ikon ini yang wakili aku yaa.. Umm..ngomong-ngomong, kamu sudah mandi kan?”

Sigarf : “Sudah. Kenapa?”

Simba : “Yaa..kalau kamu belum mandi aku ogah peluk kamu! Kan kamu habis jadi monyet kopaja. Hahaha.. #jebakanbatman”

Sigarf :Kampreeeeeettttt!!!! Dasar kingkong jelek! #ngambek”

Simba : “Hahahaha.. Love you, monyet! 🙂 *huff..ini nih yang bikin aku ngga pernah bisa lupain kamu*”

Sigarf : “#monyetterhuraberkacakaca”

Simba : “Hahaha.. #peluk Kamu jaga diri ya, jangan kalah sama flu nya. Katanya mau nyusul aku di sini?! Finland itu dingin lhooo… Nanti ingus kamu bisa beku pas keluar mirip kayak stalakmit hahaha”

Sigarf : “Hanjiiirrr!! Ngeri bener. Hahaha.. Siap, kingkong! Tunggu monyetmu ini yaaa..“

Simba : “Selalu. Menunggu penuh cinta. #tsahh “

Sigarf : “Awuwuwu… kingkongnya puitis, tiba-tiba meleleh. Tapi yang meleleh ingusnya. Ahahaha”

Simba : “Iyuuuuhhh.. TIDUR SANA!”

Sigarf : “Hahaha.. *kisses*”

Kandang Beruang, 12 Desember 2012
*terinspirasi dari obrolan dengan seorang teman di luar sana. 🙂

*foto diambil di sini

Hai Tuan (?)

Hai Tuan (?)…

Sore ini, cuacanya tidak dingin seperti kemarin. Hari ini cenderung hangat, sehangat dekapmu yang terakhir kuingat. Aku kembali mengingat obrolan kita yang mengalir tanpa ada sekat. Kukatakan padamu aku ingin menikmati senja di Papua suatu hari nanti. Tempat yang menurutmu jauh untuk kujangkau saat ini tapi tidak suatu hari nanti.

Aku juga masih ingat kau menjanjikanku sebuah sore indah dengan lembayung senja memeluk pantai dimana debur ombak jadi irama paling indah yang akan selalu kudengar. Kita berdiri di tepi pantai itu, tanpa bicara, hanya menikmati senja yang kian memudar tertelan petang. Membiarkan riak-riak ombak menggulung memeluk mata kaki seolah mengajak kita untuk menuju peraduannya.

Mungkinkah itu Tuan?

Aku selalu berkisah tentang Ksatria Langit yang kerap kali datang saat sore menjelang. Aku tahu, kau selalu bersungut saat mataku berbinar menceritakan tentang Ksatria Langit impianku itu. Apakah kau cemburu, Tuan?

Maaf, aku tak bermaksud membuatmu tersaingi oleh Ksatria Langit impianku. Kamu tetap Pangeran untukku, entah Pangeran Bertopeng ataupun Pangeran Tupai. Kamu sudah punya singgasana sendiri di hatiku.. Sedangkan Ksatria Langit ia hidup di imajiku yang sudah kupahat sejak aku kecil dulu.

Jadi, kuharap kau mau sedikit bersahabat dengan Ksatria Langit. Maukah kau memenuhi permintaanku? Aku hanya ingin segera menemukan Puteri Kembang Turi untuk menemani Ksatria Langit di perjalanan imajiku. Maukah kau membantuku menemukan sang Puteri, Tuan?

Aku yakin, ini juga akan menjadi cerita seru kita yang bisa kuceritakan kepada mereka, jagoan dan puteri cilik kita sebagai sebuah dongeng manis sebelum tidur. Kuharap kau mengabulkannya.

footprints-of-god

Nona Senja, 11 Desember 2012

*foto diambil di sini