Pindah ke Surabaya

“Bulan depan kita pindah ke Surabaya ya, Non.”

Saya yang sedang asyik menikmati keripik tempe dan setumpuk film, kontan saja langsung kaget dengan keputusannya. Wajah saya seolah mengatakan, “Serius?”. Dia hanya tersenyum sambil mengecup pipi kanan saya.

Well, ada sebuah project yang akan ia kerjakan. Mengapa harus pindah? Pasalnya ini project panjang yang memakan waktu bukan hitungan bulan, tapi tahun.

Saat itu juga langsung terbayang, saya dengan kegiatan sehari-hari saya. Betapa bahagianya saya akan segera bertemu dengan kawan kriwil; bisa berkumpul, berbincang, berdiskusi di c2o, main-main di Kenjeran, lihat-lihat vihara yang selama ini saya selalu merengek untuk di ajak kesana.

Berkumpul di salah satu taman kota untuk menikmati festival purnama bersama kawankawan pencinta purnama. O ya, saya bisa makan bebek goreng sepuasnya kapan saja dan dimana saja. Tak terkecuali bebek goreng yang lokasinya harus nyeberang jembatan Suramadu itu.

Dan yang paling saya nantikan adalah saya bisa dengan mudah menjadi kutu loncat. Ha? Maksudnya? Iya, kutu loncat, yang bisa dengan mudahnya loncat ke Bali kapanpun saya butuh karena jarak Surabaya-Bali sudah sangat dekat. Macam selemparan kolor saja. Haha…

Saya bisa bolak-balik ke Malang menemui keluarga saya. Main ke kebun apel sesuka hati. Datang secepat kilat ketika tante saya mengabarkan kalau pohon durian kami berbuah dengan lebatnya. Atau pohon salak dan strawberry yang siap panen. Dan tentunya bisa main-main ke daerah-daerah lain yang dulu hanya angan, yang dulu harus dipersiapkan jauh-jauh hari agar terlaksana meskipun kadang batal juga.

Ya, sebahagia itu saya.

Ketika banyak orang justru mengernyitkan dahi dan bertanya, “Kenapa harus Surabaya?” saya justru sebaliknya. Ya, meski saya tak pungkiri kalau Surabaya pernah membuat saya mimisan saat kali pertama menginjakkan kaki di kawasan Sidoarjo. Tapi, toh Surabaya tetap bikin saya rindu.

Ditengah lamunan saya yang bikin senyam senyum sendiri, tiba-tiba saja…

“Non, kamu kenapa senyam senyum gitu?”

Dia mengagetkan saya dengan suksesnya. Bikin lamunan saya hilang seketika, dan dengan bodohnya saya bertanya…

“Kita jadi pindah ke Surabaya, kan?”

Dia tidak memberikan jawaban. Dia hanya tertawa melihat kelakuan saya. Menurutnya saya seperti anak kecil yang haus akan liburan panjang. Saya diam. Tertunduk lesu karena ternyata apa yang saya bayangkan memang hanya sebatas bayangan saja. Kami tidak akan pernah hijrah ke Surabaya. Hiks..

 

 

 

“Kita memang nggak akan pindah ke Surabaya. Tapi… akhir tahun kita akan ‘main’ ke Wamena”

 

 

Aaaaakkk!

Advertisements

Berkenalan dengan Lembah Syawal

Lelah. Hanya itu kata bergayut manja tidak hanya di pelupuk mata tapi juga di sekujur tubuh yang terlipat tak terbentuk rupa sejak dari Jakarta menuju Ciamis. Kesal yang menumpuk menambah rasa lelah saya berlipat-lipat ganda jumlahnya.

Mulai dari menahan keinginan BAB yang sialnya menghantui saya selama di perjalanan. Ditipu mentah-mentah sama supir angkot di Bandung, sampai dioper-oper ke sana kemari. Saya mengantuk. Saya capek. Belum lagi macet yang luar biasa ganasnya di sepanjang jalan Tasik. Lengkap!

Dan saya menyadari satu hal, kalau ternyata lelah juga bisa memicu pertengkaran besar. Saya dan Panglima Hujan perang dingin di tengah perjalanan. Entah apa penyebabnya. Untunglah itu tak berlangsung lama.

Panjalu. Tujuan perjalanan saya hari itu.

Tidak ada bayangan tentang tempat yang akan saya tuju. Tidak ada sama sekali. Mendengar namanya pun baru hari itu. Tapi tidak dengan Panglima. Tempat itu begitu ia akrabi sejak bertahun-tahun silam. Menurutnya, ada damai yang sederhana yang selalu ditawarkan tempat itu. Dan saya ingin merasakannya. Ya, saya sedang butuh tenang. Butuh yang kelewat kejam.

Sembilan jam sudah saya lewati. Sampai akhirnya, saya tiba di satu daerah bernama Panjalu. Punggung rasanya panas. Pegal nggak karuan. Kaki-kaki yang tertekuk menjerit minta segera diluruskan. Saat asyik-asyiknya meregangkan pinggang, kaki, dan tangan, seorang pria kecil bersama bocah lelaki dengan cemong putih, bedak yang tak merata di wajahnya, menghampiri.

Senyumnya terkembang. Dijabatnya lengan Panglima dengan mantap. Ah, seorang kenalan lama rupanya. Sepertinya ia juga yang akan membawa saya ke tempat tinggal beberapa hari ke depan.

Dengan sepeda motor matic, saya dibawa menuju tempat tinggal Kang Mamas, pria yang bertemu saya di Panjalu. Kang Mamas membawa Panglima bersama Adim, si kecil yang bersamanya. Sedangkan saya dibonceng Dalih, keponakan Kang Mamas.

Angin sore menepuk-nepuk pipi saya. Dingin dan sejuk yang menyenangkan. Jejeran kolam ikan di tiap rumah serta hamparan hijaunya sawah jadi pemandangan yang umum di sini. Semacam karpet hijau yang minta ditiduri oleh tubuh yang terjerat letih.

Kepala saya berkali-kali menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba ‘menelan’ hamparan hijau yang tersaji cuma-cuma di hadapan saya. Lupa rasanya letih, lupa rasanya kesal yang selama perjalanan mencambuk saya dengan buasnya.

“Di desa ya begini ini, Mbak”

Kalimat Dalih seperti menyeret saya kembali ke alam nyata. Sepertinya ia menyadari betul kalau wanita yang sedang dibawanya ini jarang melihat pemandangan seperti ini. Saya hanya tersenyum malu melalui kaca spion sepeda motor. Saya menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi peparu saya yang gempita sejak tadi. Saya ogah rugi. Saya harus menyerap happy serum sebanyak yang saya bisa di sini.

Tiba-tiba jalanan menyempit dan menanjak. Tidak ada lagi jalanan beraspal yang sejak tadi mengawal saya dari Panjalu. Saya menahan napas. Bukan karena terlalu senang, tapi lebih karena terlalu ngeri melihat jalanan yang curamnya kebangetan. Sebuah turunan di hadapan saya nyaris sembilan puluh derajat sudutnya. Bukan lagi jalanan tanah, tapi jalanan berbatu tajam yang semisal saya jatuh, pasti memar dan luka tajam saya dapat. Ya, mengendarai motor di daerah ini butuh keahlian. Keahlian yang tidak main-main. Tetiba saya merinding sendiri.

Saat pikiran saya masih asyik dengan kengerian, Dalih menghentikan laju motornya. Ia menoleh ke arah saya sambil tersenyum.

“Selamat datang di Lembah Syawal”

Saya terkesiap. Muka saya absurd, antara pucat juga senang. Lembah Syawal, tujuan saya, sudah tersaji manis di depan mata. Sebuah desa terpencil di kaki gunung Galunggung menyapa saya dengan kesederhanaannya. Dengan riuh warga desa yang menyambut saya dengan begitu ‘mewah’ keramahannya. Suara air yang mengalir deras entah di mana, serta gemercik air yang mengalir dari batang-batang bambu ke dalam petak-petak kolam nila.

Ibu-ibu beragam usia berjejer manis menyalami kedatangan saya. Sepertinya mereka semua tahu kedatangan saya sore itu, yang mereka perkirakan tiba lebih awal. Diberondongnya saya dengan beragam pertanyaan. Saya tak merasa terganggu, justru buncah senang di hati saya.

Segelas kopi  hitam kental mengepulkan uap panasnya, tersuguh dalam gelas bergambar bunga mawar. Sepiring singkong goreng, lanting, dan opak jadi temannya. Ah, saya tidak menyangka penyambutan ini begitu ‘mewah’ rasanya. Bukan soal yang terbaca oleh mata, tapi lebih yang terasa di hati.

Orang-orang ini tidak mengenal saya. Mereka hanya mengenal Panglima. Tapi mereka menyambut kami seperti keluarga. Entah dari keturunan siapa. Lembah Syawal menawarkan damai untuk saya yang tengah dilanda penat Ibukota. Dan warga desa menawarkan saya secuil bahagia yang efeknya luar biasa. Di tengah hawa dingin yang menusuk malam harinya, ada hangat keluarga yang menyelimuti saya.

Lalu, apa yang saya lakukan di sini? Tidak ada. Saya menyengajakan diri ke tempat ini demi pundi-pundi bahagia yang nyaris habis termakan angkuhnya Jakarta. Saya harus mengisi ulang pundi-pundi tersebut sebelum Ibukota mengambilnya serabutan di awal pekan.

Oleh karenanya, ijinkan saya menikmati orkestra malam yang dipimpin suara kodok bangkong bersahutan dengan tonggeret di luar sana.

Selamat malam semesta, taburkan sejuta kerlip bahagia untuk siapa saja yang memang membutuhkannya. Seperti saya.

 

Lembah Syawal, Mei 2013

Demi Eriek di Ultah Jakarta

Sabtu siang ini terlalu terik. Gumpalan putih yang biasanya berarak-arak ramai sedang absen bertugas mengganggu matahari. Alhasil, matahari agaknya jumawa. Pamer terik yang sepertinya diobral lebih dari separuh harga. Yang ada, peluh langsung kocar kacir, berlarian, seperti maling kesiangan.

Riuh rendah suara gerombolan mahasiswi membuat saya tersenyum simpul, ingat jaman kejayaan masa muda. Jaman dimana uang lima ribu bisa dapat nasi, ayam bakar plus kuah rendang yang enaknya bikin ketagihan. Belum lagi sekumpulan ibu-ibu bersama dengan anak-anak mereka yang berlarian ke sana kemari tak tentu arah. Dikira stasiun kereta lapangan bermain yang tak pernah mereka kenal semasa balita.

Ya, saya sedang berada di stasiun kereta Universitas Indonesia. Siang itu stasiun tampak tak biasa. Ramainya mengular entah sampai mana. Mereka semua punya satu tujuan yang sama, Jakarta. Saya hampir lupa, kalau ini adalah hari jadi Ibukota. Ah, selamat ulang tahun Jakarta! Tapi maaf, saat ini saya tengah menujumu bukan untuk merayakan hari jadimu.

Kereta datang, saya bergegas untuk menyebrang ke arah yang seharusnya. Saat menjejakkan kaki di lajur dua, saya tidak mendapati Mpit, kawan saya. Saya bingung mencari dia. Saya pasang mata lebih tajam mencoba mencari sosok mungil yang saya kenal. Sayangnya tak saya temukan.

“Nonaaa!”

Suara ini saya kenal betul. Saya menoleh ke arah sumber suara dari dalam kereta. Tepat ketika saya menangkap  senyum yang saya kenal sejak beberapa tahun terakhir, pintu kereta tertutup dengan suksesnya. Mpit, si pemilik senyum itu hanya melambaikan tangan. Ah, saya merasa bodoh sekali!

“Ketemu kamu kok kaya ketemu jodoh. Selalu selisipan sih?!”

Gurau Mpit melalui pesan singkat yang ia layangkan baru saja. Saya tersenyum getir. Beruntung, kereta selanjutnya datang tak berapa lama. Walhasil, saya ngobrol bareng Mpit melalui jendela chat seperti biasa. Kok ya nggak ada perubahan! Haha…

Stasiun Cawang. Persinggahan pertama saya.

Saya dan Mpit (setelah menertawakan kebodohan kami berdua) melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta. Menyusuri pinggiran rel di Cawang membuat hati saya nggak keruan rasanya. Pasalnya, jarak saya dengan rel terlampau dekat. Ngeri saat saya membayangkan terpaan angin saat kereta lewat akan menyambar saya seketika. Wuush!

Tapi pikiran itu saya usir segera. Pedagang kaki lima berjajar, berhimpitan dengan manusia yang lalu lalang di depannya. Saya yakin, mereka berdagang tidak hanya hari itu saja, melainkan berhari-hari sebelumnya. Buktinya mereka aman-aman saja. Jadi, kenapa saya harus khawatir?

Shelter Cawang siang itu tampak ramai. Terlalu ramai malah. Imbas dari gratisnya tiket TransJakarta membuat orang berbondong-bondong, jalan-jalan menggunakan alat transportasi umum ini. Tak salah memang. Tapi akhirnya penumpukan penumpang terlihat hampir di semua shelter yang ada di Jakarta. Jumlah armada yang beroperasi tak sebanding dengan tingginya minat pengguna hari itu. Hufff…

Hawa Jakarta semakin memanas. Aroma yang tercium lamat-lamat bukan lagi parfum harum, tapi sudah berbaur dengan aroma lain, tengik rambut yang terbakar matahari, asem ketiak yang membuat saya nyaris pingsan tidak tahan. Segerombolan pemuda, mungkin sekitar 14-17 tahun usianya, berbicara dalam volume suara macam di gedung pertunjukkan saja. Berisik!

Belum lagi perempuan berambut panjang di sebelah saya yang sedikit-sedikit mengibaskan rambutnya. Sekali kibas mata saya langsung kecolok! Lain lagi dengan wanita separuh baya, berkaca mata dan tampak serius dengan buku yang dipegangnya. Tak sekalipun ia berniat untuk menghentikan kegiatan membacanya, padahal bis sangat sesak ditambah ritme rem TransJakarta yang bisa bikin otot lengan langsung kekar karena menahan beban tubuh supaya tidak terjungkal. Namun sayang, saya tak berhasil menangkap judul buku yang dibacanya.

TransJakarta nampak di kejauhan. Fatamorgana di jalan mengaburkan bayangan bis besar berwarna merah-oranye terang. Decit ban hitam yang beradu dengan aspal terdengar seirama dengan langkah tergesa kaki pengunjung di koridor 10. Penumpang yang ada di dalam TransJakarta menghambur keluar, pun yang ingin masuk berdesakan takut ketinggalan.

Saya masih berdiri di antrian. Tidak berniat beranjak, pun percuma karena penampakan TransJakarta lebih mirip kaleng sarden ketimbang bis kota. Sesaknya kebangetan!

Kini saya berada di deretan paling depan. Orang-orang di belakang saya masih umpel-umpelan mencoba menjajari barisan depan. Saya mencoba pasang kuda-kuda lebih kuat sekarang. Tak mau jatuh konyol hanya karena ulah orang-orang tak tahu aturan yang asyik dorong-dorongan.

Sebuah sedan putih susu melintas di depan saya. Di sampingnya sedan Polisi mengawal sangat rapat sambil mengeluarkan suara lewat pengeras suara. Si sedan melanggar aturan! Ia masuk ke jalur TransJakarta seenaknya saja. Pak Polisi berbadan tegap segera menghampir dan meminta si pengendara mengeluarkan tanda pengenalnya. Agak lama proses engkel-engkelan  terjadi. Mungkin si pengendara meminta jalan damai, terlanjur malu dia tertangkap tangan di depan orang-orang. Tapi sepertinya si Polisi tak memenuhi permintaannya. Ia tampak kesal. Mukanya kian ditekuk. Dinaikkannya kaca jendela dan gas ditancap dengan kencangnya. Pak Polisi menggeleng-geleng melihatnya.

Pada akhirnya, ‘Money can buy brand but not brain’. Saya dan Mpit hanya saling tatap dan senyum-senyum saja.

TransJakarta selanjutnya datang. Tidak banyak perbedaan dengan yang sebelumnya. Masih penuh sesak! Saya tak bisa lagi menghindar. Mengikuti arus hanya pilihan satu-satunya. Di dalam, sudah tak ada lagi perbedaan mana area wanita mana area pria. Semua tumplek blek jadi satu. Saling dorong, saling himpit, muka sinis, jidat berkerut jadi pemandangan umum sekarang. Saya? Hanya bisa tersenyum sambil membatin “Demi Eriek!”.

Mpit nyolek saya kemudian. “Demi mas Eriek nih ya Non..” Haha..ternyata kami satu pikiran. Ya, memang perjalanan ini kami sengaja lakukan untuk menemui sahabat kami yang sedang pulang ke Indonesia, Eriek. Awal tahun kemarin, saya tak sempat bertemu dengannya.

Siapa sangka kalau ternyata ultah Jakarta tahun ini begitu luar biasa imbasnya. Pemilihan kami di Jakarta barat bukan tanpa alasan. Jalan protokol, Sudirman hingga Thamrin ditutup sejak puluk 4 sore hingga acara usai. Tak ayal, pusat perbelanjaan dan hang out di sekitarnya pun tutup lebih awal demi merayakan ultah Jakarta yang katanya lebih merakyat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sampai di shelter Semanggi, penumpang sudah berkurang setengahnya. Ternyata benar dugaan saya, semua orang memang ingin menuju satu tujuan yang sama. Lagi-lagi saya dan Mpit hanya saling tatap dan tertawa cekikikan.

Wah.. Jakarta memang betul-betul butuh hiburan! Penat mereka dihajar rutinitas yang itu-itu saja apalagi ditambah problematika yang rasanya lebih drama dari sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri. Tak heran ketika ada sebuah perhelatan besar di pusat kota, semoa orang dari penjuru Jakarta bahkan daerah penunjang di sekitarnya ikut larut dalam keriaan. Mencoba mencuil sedikit saja bahagia yang coba ditawarkan Jakarta.

Ternyata, keramaian ini berlangsung hingga larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika saya keluar dari pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Kami; saya, Mpit, dan juga Pinkih memilih pulang menggunakan kereta. Lebih cepat alasan utama kami, dan lebih aman ketimbang kami, perempuan-perempuan manis ini harus berjuang di dalam bis kota, yang entah apakah masih beroperasi atau tidak.

Taksi jadi alternatif transportasi ketika yang lain sudah tidak bisa diharapkan. Kenapa? Jalanan menuju Depok amat panjang dan tentunya akan berbarengan dengan orang-orang yang akan pulang setelah lelah merayakan pesta rakyat. Macet tentu saya hindarkan sebisanya.

Benar saja dugaan saya. Jalan menuju stasiun kereta terdekat padat bukan main. Padahal jarak tempuh normal hanya 10 menit, tapi malam itu saya habiskan nyaris satu jam. Damn! Tutupnya beberapa ruas jalan memang menjadikan jalan yang saya pakai lebih mirip dengan parkiran ketimbang jalan raya. Tua muda tumpah ruah di jalan. Meniupkan terompet bernyanyi riang serta bersenda gurau. Saya sempat rancu, ini seperti bukan perayaan ulang tahun Jakarta saja, tapi lebih mirip malam tahun baru. Hehehe…

Tiba di Stasiun Juanda. Saya bergegas menuju lantai dua untuk membeli tiket commuter line selanjutnya. Commuter Line sebelumnya sudah bergerak meninggalkan stasiun Juanda ketika saya masih asyik di antrian lampu merah Harmoni.

Pukul 22.45 saya berdiri di depan loket. Satu stasiun lagi commuter line saya tiba. Deg-degan bukan main rasanya. Ssaya harus membeli tiket lekas-lekas dan bergegas berlari dengan cepat. Ah, moga-moga saja masih sempat. Tapi sayang, keberuntungan bukan dipihak saya. Beberapa orang tiba-tiba memotong antrian tepat di depan saya. Saya yang sudah dihajar lelah sejak sore mau tidak mau harus menegurnya.

Untung saja, orang ini mau mendengar dan berdiri mengikuti antrian. Tapi ternyata dia bukan satu-satunya. Ada segerombolan anak muda, serta ibu-ibu bersama dengan balitanya yang terlihat lelah teramat sangat, langsung menyodorkan uang persis di loket. Oh Tuhan!

Saya kembali menegur. Tapi sayang, ia tidak terima begitu saja, justru malah mengajak saya berdebat panjang. Berdalih mengejar commuter line yang sedang menuju stasiun Juanda. Heeeeyyy.. bukan hanya anda yang sedang diburu waktu. Tapi semua orang yang ada di antrian ini! Kali ini si Ibu yang angkat bicara, anaknya terlalu lelah jadi harus segera pulang, itu dalihnya.

Kali ini saya bicara agak tinggi (Oh Tuhan, maafkan saya yang terpancing emosi), “Kalau ibu tidak mau melihat anak Ibu kelelahan seperti ini, seharusnya Ibu sudah pulang sejak tadi. Lagipula ini bukan jam yang lazim masih mengajak anak keliaran di jalan, Bu.” Kali ini, suami istri itu diam. Mereka bersama dengan gerombolan anak muda yang langsung memilih tutup mulut mundur perlahan. Mpit mengamini omongan saya. Enggan sebenarnya jika saya harus beradu argumen dengan orang di tempat umum.

Debat kecil membuat kami terlambat mendapatkan commuter line pukul 22.50. Pilihan lainnya, kami harus menunggu hingga jam 12 malam. Itu kereta terakhir yang berangkat dari stasiun kota. Dan saat ini posisinya masih ada di stasiun Depok. Oh, my!

Tapi, kami tidak putus akal. Kami tetap menikmati malam itu dengan suka cita. Melihat gelagat masyarakat urban yang tengah bergembira, ya seperti kami ini. Semua gadget milik kami sudah terkikis baterainya sejak sejam lalu.

Stasiun ramainya mirip pasar kaget. Anak-anak kecil berlari-larian, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Yang muda bercerita sambil bersenda gurau sambil asyik nggebet gerombolan lainnya. Tidak sedikit yang menggelar tikar yang mereka bawa hanya untuk sekadar meluruskan kaki yang pegal setelah jalan sepanjang malam atau menidurkan bayi-bayi mereka. Ya, bayi. Tubuh kecil mereka sudah harus dibiasakan dengan udara malam serta pengapnya stasiun. Ck! Harusnya kalian sudah tidur pulas di ayunan, Nak.

Puncak malam itu ditutup dengan letupan kembang api yang bersahutan dekat Monumen Nasional. Liuk lampu warna warni menambah hangat suasana malam itu.

“Kembang apinya cantik, suasanya romantis, tapi kok ya aku harus nikmatinnya bareng kalian lagi..kalian lagi..”

Celetuk Mpit kontan membuat saya terbahak-bahak dibarengi jitakan halus Pinkih yang mendarat sempurna di jidatnya. Ya ya ya.. mungkin memang belum waktunya kamu menikmati kembang api bareng dia ya Mpit. Hihihi..

“Ah, aku sih masih tetep mau nikmatin sarsaparila dingin di Kaliurang. Ndak cuma wedang ronde alkid bareng kamu, Non,” seloroh Pinkih yang membuat saya mengulum senyum.

Ya, kedua kawan saya ini memang punya mimpi sederhana tentang menikmati malam romantis. Entah dimana atau dengan siapa. Kalau saya masih tetap sama. Menikmati purnama di tempat tinggi sambil menyesap secangkir kopi. Pun kalau tidak, saya masih tetap senang meneguk sarsaparila dingin di Jogja seperti mimpi Pinkih yang pernah kami cetuskan bersama.

Tapi, sebelum semua itu terjadi, kami bertiga tetap senang menikmati kembang api sederhana yang membawa senyum bahagia tersungging dari wajah-wajah lelah yang duduk manis di stasiun Juanda. Bahagia menikmatinya meski bukan dengan orang terkasih, melainkan kawan baik berbagi penat pikiran.

 

Commuter Line menuju Depok, 23 Juni 2013
*Mpit dan Pinkih sudah ngacir ke alam mimpi di kiri kanan saya.

Chef Yohannes: Berkarir 16 Tahun di Luar Negeri

chefyohannes

Chef asal Jawa ini memulai karirnya dari bawah hingga berakhir sukses sebagai Executive Chef. Menjalani karir selama 16 tahun di luar negeri telah menempa dirinya menjadi pribadi yang gigih. Di saat karirnya memuncak justru ia kembali ke Jakarta. Apa yang dicari oleh chef yang piawai mengolah hidangan Eropa ini?

Senyum ramah dan bersahabat pun mengembang dari chef yang bernama lengkap Yohannes Pratiwanggana ini saat ia menemui saya di sela-sela kesibukannya sebagai Executive Chef di Decanter Wine House. Dengan sedikit tersipu malu ia pun mulai bercerita tentang awal karirnya menapaki dunia kuliner.

Tak banyak chef lokal di masanya yang berkeinginan kuat menggali pengalaman di mancanegara. Namun, garis hidup agaknya berkata lain. Dari arahan seorang guru, akhirnya ia memantapkan diri memilih jurusan pariwisata dan perhotelan di kota kembang sebagai pendidikan lanjutannya.

“Untuk menjadi sukses dan besar orang harus ke luar negeri,” demikian prinsip yang dipegangnya. Namun, ia justru memilih hotel Borobudur sebagai langkah awalnya meniti karir sebagai Junior Sous Chef. Karena keinginannya yang kuat iapun sempat bersitegang dengan pihak hotel saat akan melanjutkan karir ke Geneva, Swiss.

Tahun 1977, akhirnya ia berhasil menapakkan kakinya di Movenpick Cendrier Geneva Switzerland. Chef yang berhobi kemping dan renang ini selalu memiliki target setiap berada di tempat yang baru. “Saya mengejar sertifikasi tertinggi dari hotel-hotel terbaik. Bagi saya pengalaman lebih penting dari pada uang,” jelasnya. Karena itu gaji yang tak seberapapun ia tutup dengan bekerja ekstra di akhir pekan di hotel sehingga kebutuhan hidupnya tetap tercukupi dan pengalamanpun diperolehnya.

Dalam menggali pengalaman, chef yang memilih bagian Kitchen sebagai spesialisasinya, tak segan untuk mencoba hampir semua divisi kitchen untuk mendapatkan pengalaman. Mengapa harus menu Eropa? Menurutnya chef di Indonesia yang mengkhususkan diridengan menu Eropa masih terbatas jumlahnya oleh karena itu ia memilih menu Eropa dan mediterania sebagai spesialisasinya.

Untuk memperkaya pengalaman, iapun melanjutkan karir di London Hilton International sebagai  Chef Entremetier. Jaringan hotel internasiobal Hilton telah mematangkan pengalamannya melalui berbagai jenjang karir sebagai chef yang dilalui. Dari London, chef yang juga ayah 3 anak ini melanjutkan karir ke Sydney Hilton Australia sebagai as Chef Tournan. Kemudian dilanjutkan ke Montreal Bonaventur Canada sebagai Banquet Chef.

Bekerja di Sydney ternyata tidak memuaskan baginya. “Saya merasa tidak bisa maju, tidak banyak mendapatkan pengalaman,” demikian alasannya. Karenanya Canada kembali dipilihnya sebagai tempat kerjanya. Di Canada chef yang kelahiran Yogyakarta ini merasa nyaman dan mapan hingga ketiga anaknya mulai tumbuh besar.

“Rasa takut kembali ke Indonesia selalu menghantui saya. Ya, takut tidak ada pekerjaan yang cocok,” tuturnya. Karena anak sulungnya sudah memasuki usia sekolah maka Jakarta akhirnya dipilihnya sebagai tempat berkarirnya. Hotel Jakarta Hilton merupakan hotel tempatnya berkarir sekembalinya ia ke Indonesia di tahun 1993 sampai akhirnya ia mendapatkan posisi Executive Chef dan hotel Hilton berganti nama menjadi hotel Sultan. Memasuki masa pensiunnya di tahun 2008, ia menerima tawaran untuk menjadi Executive Chef di Decanter Wine House.

Meskipun ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang chef, tak lantas membuatnya mengijinkan ketiga buah hatinya menekuni bidang yang sama dengannya. “Pekerjaan sebagai chef itu berat, 24 jam dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” demikian alasannya. “Bagi saya jika piring dari tamu kembali ke kitchen dalam keadaan bersih, saya puas. Saya selalu ingin tahu apa saja yang disukai tamu saya, terutama tamu VIP,” tuturnya. Karena rasa tanggungjawabnya yang besar itulah iapun merelakan diri tidak tidur lebih dari 24 jam demi memuaskan selera para tamu.

Setelah malang melintang di dunia perhotelan, akhirnya sang chef memilih sebuah restoran sebagai tempatnya berkarir di masa pensiunnya. “Sebenarnya ini adalah sebuah tantangan baru untuk saya, karena biasanya saya bekerja di sebuah hotel yang semua sistem dapurnya sudah diatur. Sedangkan di tempat ini saya harus memutar otak untuk membuat menu baru dan membuat kombinasi yang cocok setiap harinya itu yang menjadi tantangan untuk saya,” ujarnya.

Selain itu  Decanter menyajikan makanan khas Mediterania yang memang cocok dengan keahliannya. Chef yang sangat menyukai semua segala jenis masakan dari sang istri ini masih memiliki impian untuk mengelola resto milik pribadi suatu hari kelak.

Bincang-bincang sayapun ditutup dengan berbagi resep yang ia selalu sajikan untuk tamunya di Decanter Wine House. Ini dia:

Orange & Fetta Cheese Salad

Bahan:

150 g selada air
60 g Radichio
300 g jeruk Navel, ambil juringnya
80 g fetta cheese
40 g black olive
40 g  green olive
20 g red onion (bawang Bombay merah), iris melintang tipis
5 g kulit jeruk parut

Saus, aduk rata:
70 ml jus jeruk segar
70 ml jus lemon
120 ml minyak olive
½ sdt garam
½ sdt merica bubuk
kulit jeruk iris

Cara membuat:

  • Taruh bahan-bahan selada; sayuran dan keju dalam mangkuk besar.
  • Siram dengan Sausnya.
  • Aduk rata dan sajikan.

Untuk 3 orang

Tips:
1.Keju fetta merupakan jenis keju lunak yang berwarna putih, dikemas plastic dan teksturnya agak keras, mudah patah. Bisa dibeli di pasar swalayan besar.
2.Olive hitam dan hijau tersedia dalam bentuk dengan biji atau tanpa biji dan sudah diawetkan dalam kemasan botol kaca. Bisa dibeli di pasar swalayan.
3.Jeruk Navel adalah jenis jeruk manis yang berkulit oranye, ada yang berasal dari Amerika, Australia dan Cina. Pilihlah jenis yang agak manis rasanya.
4.Aduk salad dengan sausnya saat akan disajikan supaya tidak berair.

*tulisan ini pernah dimuat detikfood tahun 2009

Hari Pertama? Siapa Takut!

Setelah perbincangan cukup lama dan aksi rayu merayu yang cukup alot, akhirnya Jumat malam kemarin aku mengiyakan ajakan seorang kawan untuk mengajar di sekolahnya. Dan hari pertama aku mengajar adalah esok harinya. *okesip! Rasa-rasanya mau paralayang*

Kadung mengiyakan, akupun mulai memutar otak kira-kira apa yang akan aku bawakan di hari pertama mengajar nanti.

O ya, di sekolah ini aku menjadi guru tamu setiap hari Sabtu. Menjadi guru ekstra kulikuler dalam menulis. Walah.. ini sebenarnya yang membuat aku maju mundur saat menerima tawarannya. Pasalnya, aku bukan seorang penulis terkenal apalagi sampai menelurkan buku. Aku baru seorang blogger yang mencoba konsisten dalam menulis, terangku saat itu.

Tapi justru kawanku ini kekeuh  bin ngeyel untuk merekrut aku menjadi salah satunya. Menurutnya, aku mungkin akan lebih diterima anak-anak muridnya ketimbang guru sebelumnya. Hmm.. rayuan yang menarik. *dem! Kemakan rayuan juga kan, hahaha*

Singkat kata, mulailah aku mengajar di sekolahnya Sabtu pagi. Beruntung, jalanan hari itu cukup bersahabat. Tidak ada kendala menuju sekolah yang memakan waktu satu jam jarak tempuh normal tanpa macet. Selama perjalanan aku tak bisa duduk tenang. Macam bisul di pantat yang mau pecah saja rasanya, resah!

Tiba di sekolah, ternyata sedang ada acara doa bersama untuk murid kelas 6. Tidak hanya murid-murid saja yang berkumpul tapi juga orang tua siswa turut bergabung dalam acara itu. Aku? duduk di salah satu meja kantin sambil menunggu kawanku yang terlambat datang.

Lima belas menit berselang, kelaspun di mulai. Baru ada 10 murid yang hadir. Bingung, itu sudah yang ada di kepalaku. Aku mencoba tersenyum dan melihat wajah mereka satu persatu yang aku sangatyakin penuh dengan tanda tanya, “ini siapa ya?”.

Aku mulai memperkenalkan diri, namun belum ada yang tertarik mendengarnya. Mereka menjawab pertanyaanku sekadarnya saja. Oh, dem! Aku bingung harus menceritakan apa. Akhirnya aku ajak mereka untuk menebak arti namaku. Mencoba menerka kapan aku ulang tahun dan kira-kira berapa usiaku. Di situ, mereka mulai tertarik. Syukurlah!

Makin seru saat aku bilang aku adalah anak tunggal. Mereka tidak ada yang percaya. Lantas mereka bertanya apakah enak menjadi aku, si anak tunggal yang tak kesepian. Aku juga menceritakan kegiatanku sehari-hari. Mereka langsung mengajukan banyak sekali pertanyaan. Hahaha..

Tak terasa waktu berjalan cukup cepat. Anak-anak yang hadir pagi itu kurang lebih ada hampir 20 orang dan kesemuanya perempuan. Hmm.. girl power sekali!

Aku mulai mengajak mereka bermain. Membuat cerita dengan mengawali membuat sebuah gambar yang saat itu mampir di kepala mereka. O ya, saat aku bilang “gambarkan satu binatang yang saat ini terlintas di kepala kalian”, Haura, si jail yang punya senyum manis kontan protes kepadaku “Kak, aku nggak punya kutu. Terus aku gambar apa dong?!”. Pertanyaannya saat itu bikin aku tertawa terpingkal-pingkal. Belum saatnya menggunakan perumpamaan itu, meskipun aku juga menjelaskan maksudnya.

Kuajak mereka untuk membuat cerita bersama. Kuberikan waktu untuk membuat satu kalimat, sampai akhirnya selesai sudah menjadi satu cerita utuh.

Ada yang senang dengan permainan ini, ada juga yang frustrasi karena kalimat sebelumnya yang dibuat teman sebelahnya sama sekali nggak nyambung. Ada juga yang mengisinya dengan hal-hal aneh.

Setelah selesai, aku ajak mereka membacakan cerita-cerita tadi di depan kelas. Masing-masing dari mereka harus memberikan penilaian apakah tulisan itu sudah memenuhi kriteria yang telah disepakati atau belum dan apakah sudah enak untuk di dengar atau belum.

Aku menilai anak-anak ini sangat pintar. Mereka sudah bisa membedakan mana kalimat utuh dan mana yang tidak. Mana yang masuk akal mana yang hanya imajinasi. Yaaa, meskipun konflik anatar teman tak bisa dihindari juga.

Belum lagi Awa, murid kelas dua yang petakilannya bikin sakit perut. Ia tiba-tiba saja masuk ke kolong meja tanpa aku sadari dan mulai ‘menggerayangi’ telapak kakiku pelan-pelan. Kontan saja aku menjerit kaget. Dan murid-murid lain pun tertawa melihat wajah kagetku.

Ada satu cerita yang manis untuk dibacakan. Aku mulai membacakan di depan kelas. Aku terkejut melihat wajah-wajah manis itu yang duduk tenang dan menyimak apa yang sedang aku bacakan. Arina, si chubby yang manis tiba-tiba saja berkata “Aku suka Kak Eka baca cerita, minggu depan baca cerita lagi ya Kak,”. Aaaak! Rasanya melayang-layang dipuji oleh Arina. Dia tidak tahu kalau aku sudah keringat dingin berdiri di hadapannya. Hihihi.. Tapi bukankah mereka juga tak perlu tahu?

Tak terasa, kelas pun selesai. Mereka berpamitan padaku untuk pulang dan tak lupa mengingatkanku untuk membacakan cerita untuk mereka minggu depan. Ada satu anak yang mendaratkan pelukan padaku sebelum ia pulang. Keisya namanya, si mungil yang ternyata sudah duduk di kelas tiga. Hihihi.. siapa menyangka?!

Pada akhirnya satu yang aku pelajari pagi itu. Kita tidak pernah bisa berbohong di depan anak-anak. Anak-anak memiliki cara yang unik untuk memilih siapa yang membuat mereka nyaman hingga memutuskan menerima untuk jadi bagian dari diri mereka.

Nama besar dan segudang prestasi bukan kunci untuk menjadi dekat dengan mereka, itu hanya sebagai nilai tambah untuk memberikan mereka ilmu. Dan saat ini tugasku baru sebatas menjadi teman bermain mereka, menumbuhkan kecintaan mereka dengan dunia menulis, hingga memiliki keberanian untuk tampil membawakan karya mereka sendiri nantinya. Itu sudah.

 

Depok, 16 Maret 2013

 

Cerita Tentang Russel

Ini adalah minggu pertama aku mengajar di sekolah ini. Sekolah bertaraf internasional yang terletak di bilangan Jakarta Barat. Tegang? Ah, tentu saja. Kali ini aku bukan menghadapi wajah-wajah mahasiswa tengil dan tukang gombal seperti tahun lalu. Sekarang yang kuhadapi adalah wajah-wajah lugu yang masih gemar minum susu.

Wajah-wajah polos yang masih sering ngompol di celana dan memberikan makan siang nya hanya karena ia tak suka bentuk potongan sayurnya. Ya, aku mulai mengajar anak-anak yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Tertantang? Ah, tentu saja!

Mengajar mereka justru lebih menantang jika dibandingkan harus menghadapi muka genit mahasiswa tingkat akhir yang kutemui hampir setiap hari.

Cerita seru selalu saja terpilin. Ada saja celotehan mereka yang membuat perutku sakit. Tak sedikit pula tingkah laku mereka yang kadang membuatku gemas namun harus kutahan rasa inginku untuk mencubit pipi gempal kemerahan itu. Kadang, aku tak tahan untuk melayangkan pelukan untuk murid-murid gempalku yang tak bisa duduk diam di bangkunya. Kalau sudah begini, mereka akan memelukku lebih erat dan mengatakan “I love you, Miss Tya”. Ah, manis!

Di kelas, ada seorang anak yang sudah mencuri perhatianku sejak pertama. Aku selalu memanggilnya Russel. Ya, karena ia mirip sekali dengan Russel si anak anggota pramuka yang ada di film UP. Gempal dan menggemaskan!

Siang ini pelajaran Bahasa Indonesia. Murid-murid di kelas kuberi tugas untuk latihan menulis selagi aku memeriksa hasil pekerjaan mereka yang lain. Disaat anak-anak yang lain asyik dengan buku dan pensil mereka, Russel justru sibuk sendiri dengan pensilnya.

Kuperhatikan ia dari tempatku yang hanya berjarak lima jengkal. Oh ya, Russel tidak pernah suka duduk di belakang. Padahal tubuhnya sering menghalangi pandangan Sean yang tubuhnya jauh lebih kecil, setengah dari tubuh Russel. Kalau sudah begini, aku harus mendamaikan mereka dengan membuat bangku sejajar dua agar mereka bisa berada di barisan depan.

Balik lagi, Russel sibuk memainkan pensil Mickey Mousenya. Setiap ia mulai menulis ia menjatuhkan pensilnya. Diambilnya pensil itu dan kembali menulis selang beberapa saat pensil itu dijatuhkannya lagi. Aku yang sejak tadi memperhatikannya jadi gerah juga. Kutegur ia.

“Russel, kalau kamu main-main terus dengan pensilmu, tugas yang Miss.Tya kasih nggak akan selesai ,” tegurku.

“Ini susah, Miss,” jawabnya tanpa mau melihat mataku langsung.

“Apanya yang susah? Kan sudah dikasih contoh tadi,” nadaku sedikit meninggi.

Ia hanya tertunduk. Memaju mundurkan pensil yang tergeletak di atas buku tulisnya. Wajahnya sulit kutebak apakah ia memang sedang memberontak dari perintahku tadi atau ia menyesal.

Tiba-tiba..

“Aku ngga bisa pakai ini, Miss,” wajahnya melihatku dengan memelas sambil menunjuk pensil yang masih dimain-mainkannya.

Aku yang bingung dengan jawabannya hanya bisa bertanya “kenapa?” sambil menunggu rangkaian jawabannya yang lain.

“Pensil ini nggak bisa aku pegang, Miss. Pasti terlepas terus,” tuturnya sambil memperlihatkan jari-jarinya yang pendek dan gempal.

Kontan saja saat itu juga tawaku ingin meledak tapi segera kutahan dengan sekuat tenaga. Jari-jari Russel yang gemuk-gemuk itu tidak bisa memegang pensil dengan benar, sehingga pensil itu selalu tergelincir dari tangannya. Mukanya yang sedih, membuatku menahan tawa segera.

“Yasudah, kamu nulisnya pelan-pelan aja ya. Biar pensil kamu nggak jatuh lagi,” hiburku yang akhirnya membuat ia kembali tersenyum dan semangat untuk menulis lagi.

***

Pekerjaanku memeriksa tugas-tugas ini hampir selesai ketika Russel mencoba mengganggu Sean yang membuat si kecil itu berteriak nyaring dan melengking. Aku menyerah kalau Sean sudah mulai berteriak-teriak. Pusing!

Aku mencoba melerainya.

“Hei..hei.. kalian kenapa ribut-ribut? “ tanyaku sambil menengahi mereka yang mencoba saling pukul.

“Itu tuh Russel Miss, masa aku disuruh-suruh terus dari tadi. Tugasku belum selesaaaaaaiiii,” teriak Sean yang nyaris menyaingi Mariah Carey dengan nada falsetonya.

Russel yang memang tahu ia bersalah, hanya  menunduk sambil memainkan ujung rompi bajunya.

“Russel, kamu minta apa sama Sean sampai Sean marah?” tanyaku pelan-pelan. Russel hanya diam. Matanya tak berani melihatku ia hanya menunduk dalam-dalam sambil terus memainkan ujung bajunya. Sedangkan Sean yang sudah mulai tenang kembali asyik dengan buku dan pensilnya. Syukurlah!

“Russel.. Miss Tya tanya sama kamu lho..” aku coba bertanya lagi padanya.

“Aku Cuma minta tolong ambilkan pensil ku yang jatuh di lantai doang kok Miss,”jawabnya sambil menunjuk pensil yang terjatuh di lantai.

“Kenapa kamu nggak ambil sendiri?” tanyaku lagi.

“Nggak bisa!” sanggahnya dingin. Ah, anak ini sedang berulah lagi rupanya. Aku mulai memaksa ia untuk mengambil pensil yang jatuh. Dan ia tetap menolak.

“AKU NGGAK BISA, MISS!” teriaknya kepadaku. Aku mulai sedikit memaksa ia untuk mengambilnya dengan sedikit memberikan pandangan tajam ke arahnya.

Dengan berat hati ia mulai mencoba meraih pensil itu. Tapi tidak bisa. Tangannya tak sanggup menggapai pensil itu.

“Russel, kalau kamu ngambilnya begitu pasi susah, coba jongkok dan ambil,” kataku sambil terus memperhatikan apa yang dikerjakannya.

“Uh..uh.. sulit Miss!”

AStaga! Sial! Aku baru menyadari satu hal. Russel tidak bisa jongkok! Paha dan betis yang gempal agaknya menyulitkan ia untuk melakukan itu terlebih perutnya yang tambun makin mempersulit ruang geraknya.

Tapi demi Tuhan, di luar rasa kasihanku melihatnya yang bersusah payah mencoba mengambil pensil itu aku tertawa melihat pemandangan lucu di hadapanku. Tapi aku urungkan niat menolongnya. Ia harus belajar untuk berusaha mengambil apa yang ia memang inginkan dan perlukan.

Ada rasa inginku untuk memberi tahunya untuk mencari cara lain, tapi ia tetap berusaha jongkok untuk mengambil pensil itu. Peluh sudah mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam menahan sesak saat ia mulai jongkok. Tapi tiba-tiba ia berdiri. Dan men gembangkan senyum lebar. Aku heran dengan sikapnya.

Lalu dalam hitungan detik ia duduk dan tengkurap untuk bisa menjangkau pensil yang ada di bawah mejanya. Ah, Russelku pintar! Aku menahan tawa melihat gaya nya yang lucu saat mencoba menggapai pensil itu. Tapi akujuga terharu dengan usahanya.

Satu masalah selesai,  masalah lainnya muncul. Ia tak bisa berdiri! Haha.. Akhirnya aku tak tega, dan memutuskan untuk membantunya. Kulihat bajunya sudah basah dengan peluh lengkap dengan debu yang menempel akibat aksinya tadi.

Aku langsung menghamburkan pelukan untuknya yang langsung disambut dengan sebuah pertanyaan yang tak akan aku lupa hingga sekarang.

“Miss Tya udah nggak marah lagi kan?”

“Ngga dong. Kamu kan pinter!” jawabku sambil mengusap kepalanya.

“Horeeee!! Aku takut liat Miss. Tya tadi, matanya kayak mau copot! Kayak Mad-Eye Moody di Harry Potter!” tuturnya riang sambil memamerkan deret gigi yang tak lagi utuh karena cokelat dan permen.

Aaaaakkk!!! Anak ini! Aku makin menghujaninya dengan pelukan erat sambil mencubit-cubit pipi gemuknya tanpa peduli ia yang berontak ingin kabur dariku.

Kemang, 4 Maret 2013

Sebuah Pelukan

Perjalanan ribuan kilometer jauhnya kadang tidak hanya membawa efek lelah pada fisik semata, tapi juga hati dan pikiran. Kadang ada hal-hal yang tidak bisa diduga saat melakukan perjalanan. Inilah yang membuat lelah yang bertumpuk, menggunung, dan kadang melebihi batas maksimal seharusnya.

Seperti semalam, saya tiba di Jakarta dengan penerbangan terakhir dari Makassar dengan menggunakan maskapai penerbangan yang katanya kalau promo paling murah (padahal mahal juga). Saya sudah tidak tahu bagaimana rupa saya semalam. Lelah yang menggunung membuat pertahanan tubuh saya drop ke titik paling rendah. Mungkin di bawah nol. Lelah fisik saat itu semakin jadi karena hati saya yang gelisah dan otak saya yang enggan berhenti memutar banyak rekam gambar kejadian.

Dua jam penerbangan ini terasa menyiksa. Buku tidak lagi menjadi solusi saya dalam mengahalau resah. Roti dan susu hangat tak juga membuat mata saya terpejam sebentar saja. Turbulensi di pesawat semakin memperparah keadaan saya.

Kalau sudah begini yang saya butuhkan hanya satu, sebuah pelukan. Saya butuh pelukan hangat Ibu saya. Saya hanya butuh kecup penuh cinta di kening saya untuk mengusir semua lelah dan resah yang sejak tadi menguasai perasaan saya.

Tiba di rumah malam sudah terlalu larut, namun saya masih tetap disambut dengan sebuah pelukan paling hangat yang pernah saya rasakan selama ini. Benar kata orang, kalau pelukan itu menyembuhkan terlebih pelukan seseorang yang melakukannya dengan tulus atas nama cinta. Entah siapa saja orangnya.

Ah, saya traveler mellow? Entah apa kalian akan menyebutnya. Tapi satu hal yang pasti, ada banyak hal yang membuat semua ini terjadi. Dan pertahanan diri saya runtuh tadi malam. Saya butuh me-recharge diri saya kembali. Menyepi, mungkin jadi solusinya. Saya ingin berdiskusi dengan diri saya lagi apa saja yang sudah terjadi beberapa hari terakhir. Mungkinkah ini berkaitan dengan banyak firasat yang bersliweran belakangan? Entahlah.

 

Kemang, 26 Februari 2013

Kekuatan Mimpi dan Pikiran

Sejak lama saya tidak meragukan kekuatan alam bawah sadar saya. Kekuatan sebuah pikiran positif dan juga kekuatan mimpi yang dibangun dengan sangat baik. Buktinya, semua perjalanan saya, entah itu di kota tempat saya tinggal ataupun di daerah-daerah di Indonesia semua itu tercipta dari sebuah pemikiran dan mimpi sederhana seorang bocah kecil berseragam putih merah.

Sesaat setelah saya membeli tiket untuk terbang ke tanah Makasar saya membuka peta daerah tersebut. Yang mencolok di peta tersebut adalah beberapa nama tempat yang ada di sana. Pare-pare, Maros, Makale, Pangkajene, dan Rantepao.

Ingatan saya kembali ke masa dimana saya masih duduk di sekolah dasar. Saya mengenali nama-nama daerah tersebut bukan dari pelajaran sejarah ataupun geografi, melainkan sebuah film yang pernah saya tonton dulu sekali.

Saya lupa apa judul film tersebut, yang saya ingat hanyalah pemain utamanya seorang anak kecil serta Mathias Mucus sebagai ayahnya. Di film itu ditampilkan keindahan alam daerah-daerah tersebut. Hingga saya sampai mengatakan untuk datang ke sana suatu hari nanti. Pasti!

Dan kini, saya akan menjejakkan kaki di sana. Tidak akan lama lagi. Pagi ini saya akan terbang ke Rantepao, rumah para raja di atas awan. Saya tak pernah menyangka semua perjalanan saya adalah dari sebuah mimpi seorang bocah ingusan yang belum khatam membaca peta buta Indonesia di pelajaran IPS yang dulu sangat dibencinya.

Tapi kini, bocah itu sangat mencintai pelajaran itu. Sejarah, geografi, dan sosiologi yang menyangkut kultur budaya suatu daerah. Tak pernah takut untuk memulai perjalanan beribu-ribuk km jauhnya dari tempat dimana ia berasal.

Dan menyenangi setiap persahabatan yang ditawarkan oleh penduduk lokal yang ditemuinya, dimana saja ia menjejakkan kaki mungilnya. Menorehkan tinta warna warni di setiap lembar hidupnya dan meninggalkan rekaman manis di setiap hati yang tertambat dalam ingat. Dan hari ini, Nona siap untuk memulai sebuah petualangan!

Soeta, 22 Februari 2013

Tahu Pong Semarang, Camilan Bikin Perut Kenyang!

Bertandang ke Semarang tak akan lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Banyak sekali jenis kuliner khas Semarang yang bisa dicicipi selama berada di Semarang. Seperti malam ini, saya sengaja diajak Tante tris dan Ribka untuk mencicipi salah satunya.

“Kamu sudah laper, Ka?”

“Banget Tante. Malam ini kita mau cicip apa nih?” tanya saya antusias.

“Kita makan tahu pong di Depok.”

“Waduh! Mau makan tahu pong ke Depok segala tante. Itu mah saya pulang lagi dong,” jawab saya yang langsung disambar ledakan tawa dari Ribka dan mamanya.

“Emang yang punya Depok kamu doang, Ka? Di Semarang juga ada daerah yang namanya Depok,” timpal Ika yang membuat saya hanya bisa nyengir sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal sama sekali.

Warung Tenda Sari Roso di Jl.Depok, Semarang

Warung Tenda Sari Roso di Jl.Depok, Semarang

Panther hitam milik Tante Tris memelankan lajunya di Jl.Depok. Tepat di sebuah warung tenda bernama Sari Roso. Wah, wisata kuliner malam saya dimulai dengan sepiring tahu pong gimbmal khas Semarang. Yippiy!

Tahu Gimbal merupakan salah satu jenis kuliner khas Semarang yang diadaptasi dari kuliner Cina dengan rasa lokal. Sedangkan Sari Roso adalah salah satu warung tenda tahu gimbal yang cukup terkenal di Semarang. Menurut penuturan tante Tris, warung tahu pong yang paling terkenal sebenarnya ada di daerah Peloran. Namun sayang warung itu sudah ditutup dan diganti dengan rumah makan baru di kawasan pecinan, Pasar Semawis. Oleh karenanya, pilihan selanjutnya pun jatuh pada Sari Roso.

Selain tahu pong dan tahu gimbal, menu yang bisa dicicipi di Sari Roso antara lain, tahu pong gimbal emplek, tahu telur, tahu komplit, tahu kopyok telur, gimbal telur, tahu emplek gimbal, tahu emplek gimbal telur, dan masih banyak yang lain.


Hmm..pilihannya begitu banyak, cukup membuat saya bingung. Tapi akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada tahu pong emplek, tahu pong gimbal, serta tahu kopyok telur. Menu yang cukup banyak untuk kami bertiga ya? Hehe..

Semua menu yang saya pesan langsung diracik langsung oleh si penjual. Sambil menunggu pesanan datang, saya dihibur oleh musisi jalanan yang mampir menghibur para pengunjung yang cukup padat malam ini.

Hampir mirip dengan di Yogya, mereka membawa alat-alat musik lengkap layakanya penyanyi profesional dan tak ketinggalan vokal yang enak di telinga. Sebuah lagu berselang, pesanan saya pun datang. Tahu yang masih mengepul panas disajikan dalam sebuah piring putih bermotif bunga. Saus berwarna cokelat kehitaman disajikan dalam piring yang berlainan. Tak ketinggalan serutan acar lobak dan juga sambal rawit dadaknya.

Tahu pong langsung digoreng saat saya memesan, jadi benar-benar masih panas mengepul. Tahu pongnya berjumlah lebih dari 7 buah dalam satu piring. Ditambah lagi dengan emplek (seperti tahu Cina yang lembut) untuk tahu pong emplek, sebuah gimbal atau bakwan udang yang dicetak melebar untuk tahu pong gimbal, dan telur bulat utuh yang digoreng untuk tahu pong telur. Jadi, pilihan paduannya tergantung selera saja.

Cara memakannya, tahu pong disobek dan dicelupkan ke dalam sausnya, tunggu hingga meresap barulah disantap. Rasanya hmm.. enak! Tahunya gurih renyah, tak meninggalkan aroma dan rasa asam sama sekali. Saat bercampur dengan kuahnya yang manis manis manis gurih, wah.. semakin mantab saja rasanya!

Kuahnya terbuat dari kecap manis yang dicampur dengan petis udang dan bawang putih yang royal. Tambah lezat saat sambal dadaknya sudah dicampurkan ke dalam kuahnya. Huah..huah.. benar-benar pedas menggigit! Acar lobak yang diserut halus mengingatkan saya akan gari, acar jahe merah teman setia makan sushi. Rasanya krenyes..krenyes.. renyah asam segar!

Gimbal yang berupa gorengan udang dan adonan tepung agak tipis lebar. Setelah digoreng lalu dipotong-potong. Teksturnya sangat renyah dan rasanya gurih enak. Udang dan tauge yang dibalut dengan tepung dan digoreng kering bumbunya pun sangat terasa. Kriuk..kriuk.. garing dan gurih. Tahu telur kopyok paling berbeda sendiri diantara pesanan saya.

Tahu yang dihaluskan dikocok bersama dengan telur dan juga daun bawang. Yah, hampir mirip dengan martabak tapi tidak menggunakan kulit saja. Rasanya pun enak setelah tersiram dengan bumbunya. Jejak pedas yang tertinggal di lidah disapu dengan teh manis hangat.

Wah, benar-benar sedap sekali. Perut saya sudah kenyang, rasa penasaran terbayarkan sudah. Lebih senang saat membayar, karena harganya yang sangat ramah dikantong jika dibandingkan dengan porsinya yang cukup besar. Harga untuk seporsi tahu pong biasa Rp. 6.000, tahu pong gimbal Rp.11.000,00, tahu emplek Rp 6.000,00 dan tahu emplek gimbal Rp. 11.000,00. (Harga ini di tahun 2009).

Sebelum pulang, saya ditawari es serut pelangi yang kiosnya tak seberapa jauh dari lokasi saya malam itu. Namun sayang, perut saya sudah terlalu kenyang. Dengan berat hati saya menolak halus tawaran Tante Tris. Tapi, kalau besok siang pasti saya nggak akan menolak. Hehehe…

Tahu Pong Sari Roso
Jl. Depok, Semarang
Cabang:
Jl. Gajah Mada 106 (kanan jalan dari arah simpang lima)

Semarang, 29 Maret 2009

Dibalik Kemegahan Lawang Sewu

“Kita mau ke mana, Tante?”

“Lawang Sewu”

“Yeay!”

“Tak kira kamu wedi, Ka. Taunya kamu malah hepi bikin keki,”

Kata-kata Tante Tris barusan justru bikin saya terpingkal-pingkal dan sakit perut karena tertawa. Ya memang, Tante Tris tidak mengetahui kalau saya ini pencinta hal-hal ekstrim dan berbau horor. Uji nyali macam ini tak mungkin saya lewatkan.

Perjalanan menuju Lawang Sewu tidak seberapa jauh. Lokasinya di pusat kota, berhadapan megah dengan Tugu Muda, lambang kota Semarang. Lawang Sewu memang sudah tersohor sejak dulu, selain karena banyak cerita mistis terjadi juga menjadi saksi bisu kekejaman pendudukan Jepang di Semarang saat pertempuran lima hari di Semarang pada tanggal 14 – 19 Oktober 1945.

Sore itu Lawang Sewu padat pengunjung. Banyak rombongan turis lokal datang ke sana. Padahal saat itu Lawang Sewu sedang dalam peremajaan. Sebelum masuk ke dalam, Tante Tris menanyakan lagi tentang kesiapan saya memasuki gedung yang dulunya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij alias NIS.

Lawang Sewu dalam perbaikan

Lawang Sewu dalam perbaikan

Dengan mantap saya mengatakan siap untuk menjelajahi Lawang Sewu. Di pintu depan, ada sebuah meja yang ditunggui oleh beberapa pemuda. Mereka ini adalah pemandu Lawang Sewu. Tanpa seragam, tanpa atribut pemerintahan, saya jadi ragu apakah mereka memang orang yang dipercayakan untuk menajadi pemandu di sana atau hanya pemandu dadakan yang sering dijumpai di beberapa objek wisata.

Ada tarif yang dibandrol khusus jika ingin menjelajah Lawang Sewu, bahkan tarif itu dibedakan apakah saya datang pada saat siang atau malam. Apakah saya mengelilingi Lawang Sewu mau ditemani atau tidak oleh si penjaga tersebut. Terlepas dari pikiran negatif tentang mereka, saya berpikir kalau tarif ini untuk biaya pemugaran Lawang Sewu nantinya.

Lagi-lagi Tante Tris berperan di sini. Ia kembali menjadi ‘bendahara’ dadakan untuk perjalanan saya. Biaya masuk Lawang Sewu digratiskannya. Wuiihh..kembang kempis rasanya hidung ini karena senang.

Masuk ke dalam Lawang Sewu. Sore sudah mulai merayap datang, penerangan belum dinyalakan, atau memang tidak ada penerangan? Entahlah. Saya harus segera beradaptasi dengan cahaya seadanya, yang hanya bersumber dari cahaya matahari yang menelusup masuk dari celah-celah jendela.

LawangSewu4

“Hati-hati jalannya,Mbak. Masih banyak tangga di dalam karena proses perbaikan belum selesai dilakukan,” kata pemandu saya mengingatkan.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai Lawang Sewu, hampir semua cerita yang dikisahkan olehnya sama dengan panduan buku sejarah yang tersebar di dunia maya. Saya hanya takjub karena melihat begitu megahnya bangunan ini meskipun usianya sudah lebih dari 100 tahun.

“Di sini, jangan banyak bengong Mbak. Bisa hilang di salah satu ruangan nantinya,” ujar pemandu saya saat itu.

Saya yang memang sedang ‘tinggal’ dalam pikiran saya langsung terkesiap mendengar kata-katanya. Saya bergegas mengejar yang lainnya. Saat itu, di dalam gedung tidak terlalu banyak orang. Mungkin karena hari sudah terlalu sore.

Tak berapa jauh dari pintu masuk, tetiba kaki saya terhenti. Saya tidak bisa melangkah. Bulu kuduk saya meremang seperti sedang kedinginan. Saya tidak mengatakan pada Tante Tris, Ribka ataupun pemandu saya. “Bisa..Bisa..” kata-kata itu terus yang terucap dalam hati. “Saya pasti bisa jalan dan masuk ke dalam,” bisik saya meyakinkan diri sendiri.

“Kamu nggak apa-apa, Ka?” tanya Ribka melihat saya terhenti di salah satu ruangan sesaat sebelum mereka berjalan terlalu jauh.

“Eh..oh, Umm..iyah nggak apa-apa kok.”

Saya hanya menjawab untuk meyakinkan mereka bahwa saya tidak apa-apa. Ketika akhirnya saya bisa menggerakkan kaki, baru dua langkah kaki saya kembali terhenti. Seperti ada yang mencengkram pergelangan kaki saya.

Deg! Perasaan saya tidak karuan. Bukan rasa takut yang menghinggapi, tapi lebih ke perasaan aneh. Bingung mengapa kaki saya tak bisa digerakkan tiba-tiba. Seolah ada seseorang yang menahan langkah saya agar tidak berjalan terlalu dalam.

Kali ini Ribka tidak melihat perubahan air muka saya. Ia sedang asyik berbincang-bincang dengan pemandunya. Sedangkan Tante Tris sedang sibuk dengan telepon dari suaminya.

Badan saya semakin dingin. Saya merasa ada seseorang yang kini tengah berdiri di samping saya. Mencengkram kuat pundak saya dan mengajak saya keluar dari gedung ini, segera! Saya ingin memanggil Tante Tris untuk menceritakan apa yang saya alami. Tapi saat memanggilnya, justru berbeda yang keluar.

“Tante, Saya ingin keluar,”

Kata-kata  yang meluncur barusan seperti tidak terkontrol. Dalam hati saya tidak mau mengatakan hal itu. Lagipula suara saya cenderung berat dan datar. Macam suara laki-laki saja.

“Kenapa, Ka?” tanya Ribka saat itu.

Tante Tris yang melihat saya langsung mengajak saya keluar dengan segera dan mengatakan pada pemandu kami untuk menyudahi kunjungan kali ini.

***

“Mbak tadi takut ya? Padahal saya belum ajak ke penjara bawah tanah,” tanya pemandu saya setengah meledek.

Saya hanya tersenyum datar menanggapinya. Tak berapa lama pemandu saya pamit dan meninggalkan kami di halaman Lawang Sewu.

Saya tidak banyak bicara setelah keluar dari Lawang Sewu. Saya mengabaikan apa yang baru saja terjadi pada diri saya dan menerima cemoohan Ika dan si pemandu wisata bahwa saya merasa ketakutan. Padahal saya tidak merasakan itu sama sekali. Saya malas menceritakan detil yang saya alami.

Saya memilih mengabadikan bangkai kepala kereta yang ada di samping Lawang Sewu. Konon Lawang Sewu pernah menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Jadi tak heran jika ada kepala kereta di sana.

Kepala lokomotif yang ada di halaman Lawang Sewu

Kepala lokomotif yang ada di halaman Lawang Sewu

Selain itu, Lawang Sewu juga pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Matahari nyaris tenggelam, perut saya sudah menjerit minta diisi. Pecel tadi siang ternyata tak bisa mengganjal perut hingga malam. Beranjaklah kami meninggalkan Lawang Sewu. Dalam hati saya bertekad kembali ke sini dan menjelajahi setiap sudut ruangan yang ada di Lawang Sewu.

***

“Ka, kamu tadi kenapa minta keluar?” tanya Tante tris tiba-tiba sambil melirik saya di kaca spion tengah.

“Ng…nggak apa-apa kok, Tante.”

“Kamu tahu kenapa tadi tante langsung nggiring kamu?”

Deg! Pertanyaan Tante Tris ini membuat saya bertanya-tanya dan mengalihkan perhatian dari jalanan. Saya mengingat-ingat kembali kejadian sore tadi di Lawang Sewu.

“Tante lihat seseorang diri di samping kamu waktu kamu panggil tante waktu minta keluar. Dia kayak minta tante bawa kamu keluar dari gedung itu. Makanya tante langsung giring kamu,”

“Waktu tadi kita masuk Lawang Sewu, perasaan Tante sudah nggak enak. Pas kamu minta keluar dan tante lihat ‘itu’ feeling tante memang benar.”

Hening lama. Tak ada yang berkomentar, saya dan Ika hanya saling tatap sedangkan Tante Tris terlihat tegang dibelakang kemudi. Saya bingung harus berkomentar apa untuk memecahkebisuan yang kini menggantung di udara.

Niat mengunjungi Gereja blenduk yang dihujani cahaya lampu kota saat malam, urung saya lakukan. Sepertinya tidak malam ini, besok mungkin jadi hari baik untuk saya bepergian kembali.

Lawang Sewu setelah proses pemugaran. (foto pinjam dari google)

Lawang Sewu setelah proses pemugaran. (foto pinjam dari google)

Semarang, 25 Maret 2009