[Random] Ambisi vs Mimpi

“Kamu nggak punya ambisi?!”

Pernyataan yang membuat saya berkerut mendengarnya. Ambisi. Apa sih definisi dari ambisi? Kenapa yang tertanam di kepala saya justru makna negatif ketika mendengarnya?

Ada yang menyamakan antara mimpi dengan ambisi. Menurutnya mimpi terbesarnya adalah ambisi yang harus dicapai. Jujur, saya sungguh tidak tahu menahu.

Kalau mau dibilang, saya hanya memiliki mimpi sederhana. Yang mungkin untuk sebagian besar orang tidak ada artinya apa-apa. Tapi saya sadari satu hal, kalau ternyata mimpi saya itu bisa jadi sangat berarti untuk satu atau mungkin beberapa orang jauh di luar sana.

Berbagi cerita, misalnya. Saat ini sedikit sekali orang-orang yang mau membagikan cerita untuk anak-anak di luar sana. Jangan sebut kota besar di luar Jakarta. Sebut daerah terpencil di pulau-pulau terluar di Indonesia.

Apa mereka pernah dengar cerita? Saya rasa tidak semua mengalaminya.

Dan mimpi saya sesederhana itu, berbagi cerita, untuk mereka, anak-anak di pedalaman rimba raya. Mereka yang mungkin tidak mengenal huruf bahkan buku tulis.

Saya ingin mengenalkan dunia pada mereka. Menceritakan kalau Indonesia tidak hanya tempat mereka tinggal saja, bahwa bendera kita masih merah putih, dan lagu Indonesia Raya tetap merdu didengar meski kadang dinyanyikan sumbang oleh suara-suara kecil yang belum paham tangga nada.

Ah, otak saya sudah terlalu nyinyir rupanya. Biarkan setiap orang mencari, mengejar, atau mencetak mimpinya. Apapun itu, adalah yang sebaik-baiknya diperjuangkan. Dengan hati.

 

*siang yang lumayan panas, bikin otak meleleh nyaris mengalir keluar dari kepala. semoga saja pikirannya selalu dingin.

Teras belakang, 19 Juli 2013 ; 13:37

Senja dan Kopi

Senja dan Kopi.

Selalu saja bersama, berdampingan, entah sebagai sahabat setia atau pasangan bahagia..

Maaf jika mungkin kau bosan dengan senja dan kopi yang selalu saja tertuang di sini. Di tiap laci memori yang memang sepertinya tertata apik hanya untuk mereka.

Jika kau ingin protes, silakan saja..

Toh, senja akan selalu sama. Rasa kopi juga tidak akan pernah berbeda

Kecuali…

Ketika secangkir kopi, selembar senja dan sejumput kecil rindu sebagai ‘pemanisnya’, tentu akan jadi berbeda rasanya.

Karena tiap tetesnya berisi tentang dirimu, ceritamu, dan mimpi yang pernah ada.

Yang tiap tetesnya menenggelamkanku dalam palung rindu paling jumawa. Dan yang membuat lembayung senjaku berubah jadi kelabu tua.

Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

 

*my another random thought. just trying to keep my brain busy 🙂

Bicara Rumput

rumput

Rumput tetangga akan selalu hijau, apapun musimnya. Tinggallah bagaimana cara kita memaknai hijaunya rumput yang tersaji di pekarangan rumah..

Menjadi hijau yang menyejukkan dengan butiran embun di ujungnya atau hanya sekadar hijau imitasi yang terlalau pahit jika tertelan.

Entahlah..

*hanya sebuah pikiran random siang hari. 16 Juli 2013 12.26

#SebuahCatatan

Semua orang boleh bangga dengan apa yang ia punya. Semua orang boleh jumawa dengan rentetan gelar yang disandang baru saja. Dan semua orang boleh mengangkat dagu setinggi tingginya ketika ia berhasil berjalan keliling dunia dengan stempel imigrasi di paspor hijau tuanya.

Setiap orang boleh bangaa, boleh jumawa atas apapun yang menurutnya menjadi titik tolak ia mengeratkan nama di langit paling jumawa.

Untuk saya, biarkan saya berbangga diri atas apa yang saya capai untuk keluarga saya. Untuk ibu saya.

Meskipun paspor saya masih belum berpindah halaman sejak bertahun-tahun lalu, meskipun kaki kecil saya masih belum sempat bermain pasir di timur Indonesia, dan meskipun ransel saya masih belum mendaki puncak tertitnggi di Jawa, saya tetap bangga.

Bangga dengan apa yang sudah saya perjuangkan hingga saat ini. Memperjuangkan hidup orang-orang yang saya sayang dengan cara yang paling sederhana. Tidak mewah. Tidak berlimpah. Hanya cukup. Itu sudah.

*sebuah catatan kecil pengingat diri untuk tetap selalu bersyukur

[Random] Edisi Ramadhan

Ramdhan tahun ini saya harus bersabar ekstra. Bersabar menghadapi tubuh yang minta dimanja lebih. Bersabar menghadapi klien yang ajaibnya ngalah-ngalahin kantong doraemon. Dan makin bersabar dengan Ibu dan Panglima.

Tepat sehari sebelum puasa saya kehujanan. Seneng sih main hujan-hujanan, tapi nggak dalam kondisi macet total plus badan yang sedang dalam pemulihan pasca jatuh. Alhasil baju yang lepek harus kering di badan. Sampai di rumah, Ibu yang berniat baik memanjakan saya dengan air hangat untuk mandi ternyata tidak dibalas baik oleh tubuh ini.

Badan saya justru ‘demo’ sesudahnya. Demam tinggi menyerang, kepala saya serasa di tusuk ribuan jarum yang ampuun rasanyaaaa… Belum lagi setiap saya bangkit dari tempat tidur, bukan cuma bumi yang berputar tapi juga lambung saya yang bergejolak yang akhirnya bikin saya harus mengeluarkan semua isinya secara paksa. *yaiks*

Saya jatuh sakit.

Beberapa orang yang mendengar saya sakit seperti mahfum, “Sakit apa kali ini?”. Oh, Tuhan… Kok kesannya saya langganan betul dengan sakit. Tapi memang, beberapa hari sebelumnya saya sakit. Tapi itu karena jatuh terpeleset di kamar mandi yang membuat tulang ekor saya bergeser sedikit.

Sedikit sih.. tapi imbasnya bikin badan meriang, BAB nggak lancar, dan yang pasti saya harus menahan sakit sekali lagi saat tulang dikembalikan posisinya sedia kala. Saya bed rest total!

Ada saja yang komentar bikin sakit telinga, miris hati. “Kepleset aja kok sampe bed rest , sih?” Sedih dengar komentarnya. Andai saja saya mau dan bisa, saya ogah deh jatuh. Apalagi sampai tulang bergeser. Sakitnya itu minta ampuuun…. Sampai sekarang saya masih harus terapi terus. Untung saja rasa sakitnya tidak ‘lebay’ seperti waktu pertama kali ‘dibenahi’.

O ya, balik lagi.

Saya kembali mengunjungi dokter yang memang biasa merawat saya sejak anak-anak. Beliau hanya senyam senyum melihat wajah saya di ujung antrian.

“Non..kamu tuh bandel nggak udah-udah sih?! Dibilang nggak boleh capek, dia malah ngilang nggak tahu kemana. Dibilang jangan banyak gerak kamu malah pecicilan. Dibilang jauhin kopi, eh kamu malah getol minum. Sekarang apa? Main hujan-hujanan? Kamu itu lho.. kayak anak kecil aja deh..”

Saya yang diceramahin seperti itu hanya bisa mengulum senyum. Ya, semua yang beliau bilang benar adanya. Tapi untuk yang terakhir, itu diluar kehendak saya. Saya sedang tidak ingin bermain hujan-hujanan, tapi ternyata Tuhan kasih saya kesempatan main sebentar.

“Imun kamu itu nggak seperti orang normal kebanyakan. Imun kamu itu mines. Kurang banget. Jadiii.. please, take a good care of your body.”

Dokter kesayangan yang makin bijak itu menasehati saya kian pasti. Ibu hanya bisa geleng-geleng melihat saya yang nyengir lebar dinasehati.

“Imun kamu nggak bagus, kayaknya kecilnya kamu kurang ASI ya?”

Tiba-tiba mata dokter itu tertuju pada Ibu. Dengan sigap ia langsung mengiyakan pernyataan dokter.

“Nggak heran”

Beliau kembali dengan resep di tangannya. Sambil menarikan jemari merangkai resep-resep obat yang harus saya habiskan, ia menerangkan kalau daya tahan tubuh saya yang buruk ini karena asupan ASI yang sangat kurang semasa balita.

Memang benar. Saya merasakan ASI tidak lebih dari 9 bulan saja. Singkat sekali. Ibu pernah bercerita kalau saya harus disapih paksa karena ternyata saya akan memiliki adik lagi. Jadilah saya, si anak sapi. Sejak sembilan bulan saya sudah akrab dengan namanya susu formula ataupun susu sapi murni.

Sejak saat itu, kondisi tubuh saya menurun. Ibu tidak bisa memberikan ASI, pun ketika akhirnya adik saya tidak pernah merasakan dunia karena sakit yang Ibu derita, ASI pun tak lagi mampir ke bibir saya. Pikiran telah mengikis susu dari kantung ASI milik Ibu. Cairan putih itu tidak pernah lagi keluar di sana.

Sedangkan saya yang masih balita, harusnya menyesap ASI sampai usia dua tahun demi pembentukan daya tahan tubuh yang optimal. Untung saja hanya daya tahan tubuh yang kurang, bagaimana kalau kecerdasan yang berkurang? Astagfirullah…

Selama perjalanan pulang, saya jadi berpikir. Betapa hebatnya ASI. Bahagia betul mereka, anak-anak, yang merasakan ASI selama dua tahun. Daya tahan tubuh si bayi terbentuk dengan baik, perkembangan otak juga demikian. Lantas, bagaimana dengan anak-anak yang tidak pernah merasakan ASI sama sekali?

Ah, kepala saya makin pening dibuat berpikir.

Menurut Ibu, tidak hanya asupan ASI hingga dua tahun saja yang menentukan kondisi anak. Kualitas ASIpun sangat menentukan. Kualitas ini tidak didapat hanya dari makanan saja, tapi kualitas secara psikis yang terbentuk dari si Ibu. Ibu hamil dan menyusui dilarang keras stress. Dia tidak hanya harus sehat secara fisik, tapi juga psikis.

Dari situ bisa terlihat karakter yang terbentuk dari si anak. Ah, entahlah untuk karakter anak. Saya belum tahu pasti. Tapi satu yang saya yakini betul, ASI yang cukup bisa membentuk daya tahan yang baik untuk anak ketika ia dewasa.

Ya.. saya rasa itu. Dan bagaimana dengan daya tahan tubuh saya sekarang? Hmm.. saya harus menjaga badan lebih ekstra hati-hati. Tapi tidak lantas saya manjakan bak ratu sejagad, tapi setidaknya saya berusaha tidak menzhalimi diri saya. Itu sudah.

 

*Nona yang senang bisa beraktifitas lagi dan bisa puasa lagi. Yeay!

Kalau Rindu Mau Bilang Apa?

28 Juni 2013

Ini adalah tahun kedua saya gantung pena serta kamera sebagai pewarta. Tidak ada yang spesial memang. Tapi terkadang ada hal-hal rutin yang saya rindukan. Seperti halnya tiap kali menyambut puasa. Ya, persis seperti minggu-minggu ini.

Dulu, awal puasa saya sudah punya setumpuk jadwal yang padat merayap lajunya. Sejak hari pertama saja, undangan sudah duduk manis di atas meja kerja saya. Belum lagi yang melalui telepon ataupun email. Tak sedikit yang saya tolak karena saya sudah keburu umbar janji dengan pihak lain.

Atau biasanya saya akan berbagi tugas dengan rekan saya. Tapi kalau lokasinya cukup jauh untuk dijangkau, biasanya memang saya menolak untuk meliput. Bukan sok jual mahal. Masalahnya, hampir semua orang yang mengundang menggunakan materi yang sama.

Jadi begini, biasanya tiap hotel, resto atau produk akan menyelenggarakan sebuah festival menyambut Ramadhan. Festival kuliner yang setiap tahunnya selalu sama. Timur Tengah.

Sudah dapat dipastikan kalau hidangan yang disajikan ya mirip-mirip. Meskipun terkadang ada juga yang mengambil tema Meksiko ataupun mengusung tema Pasar Rakyat. Awal-awal sih seru. Tapi kalau hampir tiap hari diundang ke sebuah acara yang bertema sama, lama kelamaan saya bosan juga. Malah cenderung ndak nafsu dengan hidangannya. Apalagi kalau lidah ini sudah mencicipi masakan, yang membuat priring saya tak pernah kosong semenit pun, alias enak di awal bulan Ramadhan. Itu bahaya! Karena biasanya tolak ukur lidah tanpa sadar akan membandingkan dengan hidangan tersebut. Dan biasanya hidangan di tempat lain jadi sangat biasa saja.

Kini, setelah dua tahun absen. Saya kangen. Boleh kan saya kangen? Tahun lalu, seorang kawan PR saya di sebuah hotel ternama masih tetap mengundang saya untuk melakukan jamuan berbuka. Tentunya di luar jadwal undangan media. Entahlah tahun ini. Terakhir kali saya bertegur sapa dengannya, saya tahu kalau dia sedang membenahi urusan hotel yang ada di Singapura dan Brazil.

Hmm..saya jadi rindu masakan Libanon. Rindu manisnya baklava yang terlampau jumawa. Rindu asam segarnya Lassi mangga dari India yang pernah saya cicipi di salah satu hotel bintang lima di Sudirman sana. Kangen kebangetan dengan sop buntut di salah satu sudut resto hotel yang ada di bilangan Kuningan. Yang selalu jadi pelarian ketika saya bosan mencicipi masakan Timur Tengah.

Rindu ikutan menari tarian sufi. Tarian dimana saya harus berputar.. berputar.. dan terus berputar dengan menggunakan rok kebesaran. Dan yang pasti saya rindu kawan-kawan saya. Kawan-kawan suka dan duka dalam mencari berita. Kawan bercerita di sela-sela tugas yang membabi buta. Kawan berkeluh sambil menikmati satu scope es krim di pinggir kolam di lantai lima apartmen di bilangan Thamrin sana.

Ah.. intinya saya rindu. Bukan pada apa yang pernah saya dapat tapi dengan siapa saya pernah menghabiskan banyak cerita.

Berkenalan dengan Lembah Syawal

Lelah. Hanya itu kata bergayut manja tidak hanya di pelupuk mata tapi juga di sekujur tubuh yang terlipat tak terbentuk rupa sejak dari Jakarta menuju Ciamis. Kesal yang menumpuk menambah rasa lelah saya berlipat-lipat ganda jumlahnya.

Mulai dari menahan keinginan BAB yang sialnya menghantui saya selama di perjalanan. Ditipu mentah-mentah sama supir angkot di Bandung, sampai dioper-oper ke sana kemari. Saya mengantuk. Saya capek. Belum lagi macet yang luar biasa ganasnya di sepanjang jalan Tasik. Lengkap!

Dan saya menyadari satu hal, kalau ternyata lelah juga bisa memicu pertengkaran besar. Saya dan Panglima Hujan perang dingin di tengah perjalanan. Entah apa penyebabnya. Untunglah itu tak berlangsung lama.

Panjalu. Tujuan perjalanan saya hari itu.

Tidak ada bayangan tentang tempat yang akan saya tuju. Tidak ada sama sekali. Mendengar namanya pun baru hari itu. Tapi tidak dengan Panglima. Tempat itu begitu ia akrabi sejak bertahun-tahun silam. Menurutnya, ada damai yang sederhana yang selalu ditawarkan tempat itu. Dan saya ingin merasakannya. Ya, saya sedang butuh tenang. Butuh yang kelewat kejam.

Sembilan jam sudah saya lewati. Sampai akhirnya, saya tiba di satu daerah bernama Panjalu. Punggung rasanya panas. Pegal nggak karuan. Kaki-kaki yang tertekuk menjerit minta segera diluruskan. Saat asyik-asyiknya meregangkan pinggang, kaki, dan tangan, seorang pria kecil bersama bocah lelaki dengan cemong putih, bedak yang tak merata di wajahnya, menghampiri.

Senyumnya terkembang. Dijabatnya lengan Panglima dengan mantap. Ah, seorang kenalan lama rupanya. Sepertinya ia juga yang akan membawa saya ke tempat tinggal beberapa hari ke depan.

Dengan sepeda motor matic, saya dibawa menuju tempat tinggal Kang Mamas, pria yang bertemu saya di Panjalu. Kang Mamas membawa Panglima bersama Adim, si kecil yang bersamanya. Sedangkan saya dibonceng Dalih, keponakan Kang Mamas.

Angin sore menepuk-nepuk pipi saya. Dingin dan sejuk yang menyenangkan. Jejeran kolam ikan di tiap rumah serta hamparan hijaunya sawah jadi pemandangan yang umum di sini. Semacam karpet hijau yang minta ditiduri oleh tubuh yang terjerat letih.

Kepala saya berkali-kali menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba ‘menelan’ hamparan hijau yang tersaji cuma-cuma di hadapan saya. Lupa rasanya letih, lupa rasanya kesal yang selama perjalanan mencambuk saya dengan buasnya.

“Di desa ya begini ini, Mbak”

Kalimat Dalih seperti menyeret saya kembali ke alam nyata. Sepertinya ia menyadari betul kalau wanita yang sedang dibawanya ini jarang melihat pemandangan seperti ini. Saya hanya tersenyum malu melalui kaca spion sepeda motor. Saya menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi peparu saya yang gempita sejak tadi. Saya ogah rugi. Saya harus menyerap happy serum sebanyak yang saya bisa di sini.

Tiba-tiba jalanan menyempit dan menanjak. Tidak ada lagi jalanan beraspal yang sejak tadi mengawal saya dari Panjalu. Saya menahan napas. Bukan karena terlalu senang, tapi lebih karena terlalu ngeri melihat jalanan yang curamnya kebangetan. Sebuah turunan di hadapan saya nyaris sembilan puluh derajat sudutnya. Bukan lagi jalanan tanah, tapi jalanan berbatu tajam yang semisal saya jatuh, pasti memar dan luka tajam saya dapat. Ya, mengendarai motor di daerah ini butuh keahlian. Keahlian yang tidak main-main. Tetiba saya merinding sendiri.

Saat pikiran saya masih asyik dengan kengerian, Dalih menghentikan laju motornya. Ia menoleh ke arah saya sambil tersenyum.

“Selamat datang di Lembah Syawal”

Saya terkesiap. Muka saya absurd, antara pucat juga senang. Lembah Syawal, tujuan saya, sudah tersaji manis di depan mata. Sebuah desa terpencil di kaki gunung Galunggung menyapa saya dengan kesederhanaannya. Dengan riuh warga desa yang menyambut saya dengan begitu ‘mewah’ keramahannya. Suara air yang mengalir deras entah di mana, serta gemercik air yang mengalir dari batang-batang bambu ke dalam petak-petak kolam nila.

Ibu-ibu beragam usia berjejer manis menyalami kedatangan saya. Sepertinya mereka semua tahu kedatangan saya sore itu, yang mereka perkirakan tiba lebih awal. Diberondongnya saya dengan beragam pertanyaan. Saya tak merasa terganggu, justru buncah senang di hati saya.

Segelas kopi  hitam kental mengepulkan uap panasnya, tersuguh dalam gelas bergambar bunga mawar. Sepiring singkong goreng, lanting, dan opak jadi temannya. Ah, saya tidak menyangka penyambutan ini begitu ‘mewah’ rasanya. Bukan soal yang terbaca oleh mata, tapi lebih yang terasa di hati.

Orang-orang ini tidak mengenal saya. Mereka hanya mengenal Panglima. Tapi mereka menyambut kami seperti keluarga. Entah dari keturunan siapa. Lembah Syawal menawarkan damai untuk saya yang tengah dilanda penat Ibukota. Dan warga desa menawarkan saya secuil bahagia yang efeknya luar biasa. Di tengah hawa dingin yang menusuk malam harinya, ada hangat keluarga yang menyelimuti saya.

Lalu, apa yang saya lakukan di sini? Tidak ada. Saya menyengajakan diri ke tempat ini demi pundi-pundi bahagia yang nyaris habis termakan angkuhnya Jakarta. Saya harus mengisi ulang pundi-pundi tersebut sebelum Ibukota mengambilnya serabutan di awal pekan.

Oleh karenanya, ijinkan saya menikmati orkestra malam yang dipimpin suara kodok bangkong bersahutan dengan tonggeret di luar sana.

Selamat malam semesta, taburkan sejuta kerlip bahagia untuk siapa saja yang memang membutuhkannya. Seperti saya.

 

Lembah Syawal, Mei 2013

Demi Eriek di Ultah Jakarta

Sabtu siang ini terlalu terik. Gumpalan putih yang biasanya berarak-arak ramai sedang absen bertugas mengganggu matahari. Alhasil, matahari agaknya jumawa. Pamer terik yang sepertinya diobral lebih dari separuh harga. Yang ada, peluh langsung kocar kacir, berlarian, seperti maling kesiangan.

Riuh rendah suara gerombolan mahasiswi membuat saya tersenyum simpul, ingat jaman kejayaan masa muda. Jaman dimana uang lima ribu bisa dapat nasi, ayam bakar plus kuah rendang yang enaknya bikin ketagihan. Belum lagi sekumpulan ibu-ibu bersama dengan anak-anak mereka yang berlarian ke sana kemari tak tentu arah. Dikira stasiun kereta lapangan bermain yang tak pernah mereka kenal semasa balita.

Ya, saya sedang berada di stasiun kereta Universitas Indonesia. Siang itu stasiun tampak tak biasa. Ramainya mengular entah sampai mana. Mereka semua punya satu tujuan yang sama, Jakarta. Saya hampir lupa, kalau ini adalah hari jadi Ibukota. Ah, selamat ulang tahun Jakarta! Tapi maaf, saat ini saya tengah menujumu bukan untuk merayakan hari jadimu.

Kereta datang, saya bergegas untuk menyebrang ke arah yang seharusnya. Saat menjejakkan kaki di lajur dua, saya tidak mendapati Mpit, kawan saya. Saya bingung mencari dia. Saya pasang mata lebih tajam mencoba mencari sosok mungil yang saya kenal. Sayangnya tak saya temukan.

“Nonaaa!”

Suara ini saya kenal betul. Saya menoleh ke arah sumber suara dari dalam kereta. Tepat ketika saya menangkap  senyum yang saya kenal sejak beberapa tahun terakhir, pintu kereta tertutup dengan suksesnya. Mpit, si pemilik senyum itu hanya melambaikan tangan. Ah, saya merasa bodoh sekali!

“Ketemu kamu kok kaya ketemu jodoh. Selalu selisipan sih?!”

Gurau Mpit melalui pesan singkat yang ia layangkan baru saja. Saya tersenyum getir. Beruntung, kereta selanjutnya datang tak berapa lama. Walhasil, saya ngobrol bareng Mpit melalui jendela chat seperti biasa. Kok ya nggak ada perubahan! Haha…

Stasiun Cawang. Persinggahan pertama saya.

Saya dan Mpit (setelah menertawakan kebodohan kami berdua) melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta. Menyusuri pinggiran rel di Cawang membuat hati saya nggak keruan rasanya. Pasalnya, jarak saya dengan rel terlampau dekat. Ngeri saat saya membayangkan terpaan angin saat kereta lewat akan menyambar saya seketika. Wuush!

Tapi pikiran itu saya usir segera. Pedagang kaki lima berjajar, berhimpitan dengan manusia yang lalu lalang di depannya. Saya yakin, mereka berdagang tidak hanya hari itu saja, melainkan berhari-hari sebelumnya. Buktinya mereka aman-aman saja. Jadi, kenapa saya harus khawatir?

Shelter Cawang siang itu tampak ramai. Terlalu ramai malah. Imbas dari gratisnya tiket TransJakarta membuat orang berbondong-bondong, jalan-jalan menggunakan alat transportasi umum ini. Tak salah memang. Tapi akhirnya penumpukan penumpang terlihat hampir di semua shelter yang ada di Jakarta. Jumlah armada yang beroperasi tak sebanding dengan tingginya minat pengguna hari itu. Hufff…

Hawa Jakarta semakin memanas. Aroma yang tercium lamat-lamat bukan lagi parfum harum, tapi sudah berbaur dengan aroma lain, tengik rambut yang terbakar matahari, asem ketiak yang membuat saya nyaris pingsan tidak tahan. Segerombolan pemuda, mungkin sekitar 14-17 tahun usianya, berbicara dalam volume suara macam di gedung pertunjukkan saja. Berisik!

Belum lagi perempuan berambut panjang di sebelah saya yang sedikit-sedikit mengibaskan rambutnya. Sekali kibas mata saya langsung kecolok! Lain lagi dengan wanita separuh baya, berkaca mata dan tampak serius dengan buku yang dipegangnya. Tak sekalipun ia berniat untuk menghentikan kegiatan membacanya, padahal bis sangat sesak ditambah ritme rem TransJakarta yang bisa bikin otot lengan langsung kekar karena menahan beban tubuh supaya tidak terjungkal. Namun sayang, saya tak berhasil menangkap judul buku yang dibacanya.

TransJakarta nampak di kejauhan. Fatamorgana di jalan mengaburkan bayangan bis besar berwarna merah-oranye terang. Decit ban hitam yang beradu dengan aspal terdengar seirama dengan langkah tergesa kaki pengunjung di koridor 10. Penumpang yang ada di dalam TransJakarta menghambur keluar, pun yang ingin masuk berdesakan takut ketinggalan.

Saya masih berdiri di antrian. Tidak berniat beranjak, pun percuma karena penampakan TransJakarta lebih mirip kaleng sarden ketimbang bis kota. Sesaknya kebangetan!

Kini saya berada di deretan paling depan. Orang-orang di belakang saya masih umpel-umpelan mencoba menjajari barisan depan. Saya mencoba pasang kuda-kuda lebih kuat sekarang. Tak mau jatuh konyol hanya karena ulah orang-orang tak tahu aturan yang asyik dorong-dorongan.

Sebuah sedan putih susu melintas di depan saya. Di sampingnya sedan Polisi mengawal sangat rapat sambil mengeluarkan suara lewat pengeras suara. Si sedan melanggar aturan! Ia masuk ke jalur TransJakarta seenaknya saja. Pak Polisi berbadan tegap segera menghampir dan meminta si pengendara mengeluarkan tanda pengenalnya. Agak lama proses engkel-engkelan  terjadi. Mungkin si pengendara meminta jalan damai, terlanjur malu dia tertangkap tangan di depan orang-orang. Tapi sepertinya si Polisi tak memenuhi permintaannya. Ia tampak kesal. Mukanya kian ditekuk. Dinaikkannya kaca jendela dan gas ditancap dengan kencangnya. Pak Polisi menggeleng-geleng melihatnya.

Pada akhirnya, ‘Money can buy brand but not brain’. Saya dan Mpit hanya saling tatap dan senyum-senyum saja.

TransJakarta selanjutnya datang. Tidak banyak perbedaan dengan yang sebelumnya. Masih penuh sesak! Saya tak bisa lagi menghindar. Mengikuti arus hanya pilihan satu-satunya. Di dalam, sudah tak ada lagi perbedaan mana area wanita mana area pria. Semua tumplek blek jadi satu. Saling dorong, saling himpit, muka sinis, jidat berkerut jadi pemandangan umum sekarang. Saya? Hanya bisa tersenyum sambil membatin “Demi Eriek!”.

Mpit nyolek saya kemudian. “Demi mas Eriek nih ya Non..” Haha..ternyata kami satu pikiran. Ya, memang perjalanan ini kami sengaja lakukan untuk menemui sahabat kami yang sedang pulang ke Indonesia, Eriek. Awal tahun kemarin, saya tak sempat bertemu dengannya.

Siapa sangka kalau ternyata ultah Jakarta tahun ini begitu luar biasa imbasnya. Pemilihan kami di Jakarta barat bukan tanpa alasan. Jalan protokol, Sudirman hingga Thamrin ditutup sejak puluk 4 sore hingga acara usai. Tak ayal, pusat perbelanjaan dan hang out di sekitarnya pun tutup lebih awal demi merayakan ultah Jakarta yang katanya lebih merakyat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sampai di shelter Semanggi, penumpang sudah berkurang setengahnya. Ternyata benar dugaan saya, semua orang memang ingin menuju satu tujuan yang sama. Lagi-lagi saya dan Mpit hanya saling tatap dan tertawa cekikikan.

Wah.. Jakarta memang betul-betul butuh hiburan! Penat mereka dihajar rutinitas yang itu-itu saja apalagi ditambah problematika yang rasanya lebih drama dari sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri. Tak heran ketika ada sebuah perhelatan besar di pusat kota, semoa orang dari penjuru Jakarta bahkan daerah penunjang di sekitarnya ikut larut dalam keriaan. Mencoba mencuil sedikit saja bahagia yang coba ditawarkan Jakarta.

Ternyata, keramaian ini berlangsung hingga larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika saya keluar dari pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Kami; saya, Mpit, dan juga Pinkih memilih pulang menggunakan kereta. Lebih cepat alasan utama kami, dan lebih aman ketimbang kami, perempuan-perempuan manis ini harus berjuang di dalam bis kota, yang entah apakah masih beroperasi atau tidak.

Taksi jadi alternatif transportasi ketika yang lain sudah tidak bisa diharapkan. Kenapa? Jalanan menuju Depok amat panjang dan tentunya akan berbarengan dengan orang-orang yang akan pulang setelah lelah merayakan pesta rakyat. Macet tentu saya hindarkan sebisanya.

Benar saja dugaan saya. Jalan menuju stasiun kereta terdekat padat bukan main. Padahal jarak tempuh normal hanya 10 menit, tapi malam itu saya habiskan nyaris satu jam. Damn! Tutupnya beberapa ruas jalan memang menjadikan jalan yang saya pakai lebih mirip dengan parkiran ketimbang jalan raya. Tua muda tumpah ruah di jalan. Meniupkan terompet bernyanyi riang serta bersenda gurau. Saya sempat rancu, ini seperti bukan perayaan ulang tahun Jakarta saja, tapi lebih mirip malam tahun baru. Hehehe…

Tiba di Stasiun Juanda. Saya bergegas menuju lantai dua untuk membeli tiket commuter line selanjutnya. Commuter Line sebelumnya sudah bergerak meninggalkan stasiun Juanda ketika saya masih asyik di antrian lampu merah Harmoni.

Pukul 22.45 saya berdiri di depan loket. Satu stasiun lagi commuter line saya tiba. Deg-degan bukan main rasanya. Ssaya harus membeli tiket lekas-lekas dan bergegas berlari dengan cepat. Ah, moga-moga saja masih sempat. Tapi sayang, keberuntungan bukan dipihak saya. Beberapa orang tiba-tiba memotong antrian tepat di depan saya. Saya yang sudah dihajar lelah sejak sore mau tidak mau harus menegurnya.

Untung saja, orang ini mau mendengar dan berdiri mengikuti antrian. Tapi ternyata dia bukan satu-satunya. Ada segerombolan anak muda, serta ibu-ibu bersama dengan balitanya yang terlihat lelah teramat sangat, langsung menyodorkan uang persis di loket. Oh Tuhan!

Saya kembali menegur. Tapi sayang, ia tidak terima begitu saja, justru malah mengajak saya berdebat panjang. Berdalih mengejar commuter line yang sedang menuju stasiun Juanda. Heeeeyyy.. bukan hanya anda yang sedang diburu waktu. Tapi semua orang yang ada di antrian ini! Kali ini si Ibu yang angkat bicara, anaknya terlalu lelah jadi harus segera pulang, itu dalihnya.

Kali ini saya bicara agak tinggi (Oh Tuhan, maafkan saya yang terpancing emosi), “Kalau ibu tidak mau melihat anak Ibu kelelahan seperti ini, seharusnya Ibu sudah pulang sejak tadi. Lagipula ini bukan jam yang lazim masih mengajak anak keliaran di jalan, Bu.” Kali ini, suami istri itu diam. Mereka bersama dengan gerombolan anak muda yang langsung memilih tutup mulut mundur perlahan. Mpit mengamini omongan saya. Enggan sebenarnya jika saya harus beradu argumen dengan orang di tempat umum.

Debat kecil membuat kami terlambat mendapatkan commuter line pukul 22.50. Pilihan lainnya, kami harus menunggu hingga jam 12 malam. Itu kereta terakhir yang berangkat dari stasiun kota. Dan saat ini posisinya masih ada di stasiun Depok. Oh, my!

Tapi, kami tidak putus akal. Kami tetap menikmati malam itu dengan suka cita. Melihat gelagat masyarakat urban yang tengah bergembira, ya seperti kami ini. Semua gadget milik kami sudah terkikis baterainya sejak sejam lalu.

Stasiun ramainya mirip pasar kaget. Anak-anak kecil berlari-larian, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Yang muda bercerita sambil bersenda gurau sambil asyik nggebet gerombolan lainnya. Tidak sedikit yang menggelar tikar yang mereka bawa hanya untuk sekadar meluruskan kaki yang pegal setelah jalan sepanjang malam atau menidurkan bayi-bayi mereka. Ya, bayi. Tubuh kecil mereka sudah harus dibiasakan dengan udara malam serta pengapnya stasiun. Ck! Harusnya kalian sudah tidur pulas di ayunan, Nak.

Puncak malam itu ditutup dengan letupan kembang api yang bersahutan dekat Monumen Nasional. Liuk lampu warna warni menambah hangat suasana malam itu.

“Kembang apinya cantik, suasanya romantis, tapi kok ya aku harus nikmatinnya bareng kalian lagi..kalian lagi..”

Celetuk Mpit kontan membuat saya terbahak-bahak dibarengi jitakan halus Pinkih yang mendarat sempurna di jidatnya. Ya ya ya.. mungkin memang belum waktunya kamu menikmati kembang api bareng dia ya Mpit. Hihihi..

“Ah, aku sih masih tetep mau nikmatin sarsaparila dingin di Kaliurang. Ndak cuma wedang ronde alkid bareng kamu, Non,” seloroh Pinkih yang membuat saya mengulum senyum.

Ya, kedua kawan saya ini memang punya mimpi sederhana tentang menikmati malam romantis. Entah dimana atau dengan siapa. Kalau saya masih tetap sama. Menikmati purnama di tempat tinggi sambil menyesap secangkir kopi. Pun kalau tidak, saya masih tetap senang meneguk sarsaparila dingin di Jogja seperti mimpi Pinkih yang pernah kami cetuskan bersama.

Tapi, sebelum semua itu terjadi, kami bertiga tetap senang menikmati kembang api sederhana yang membawa senyum bahagia tersungging dari wajah-wajah lelah yang duduk manis di stasiun Juanda. Bahagia menikmatinya meski bukan dengan orang terkasih, melainkan kawan baik berbagi penat pikiran.

 

Commuter Line menuju Depok, 23 Juni 2013
*Mpit dan Pinkih sudah ngacir ke alam mimpi di kiri kanan saya.

I’m Happy Today

Senin ini manis. Senin ini indah. Senin ini satu rejeki dikirimkan oleh Tuhan melalui seorang kawan lama.

Sebuah pembicaraan sederhana, cela-celaan seperti biasa mengawali obrolan kami. Tiba-tiba dia mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah saya masih suka menulis?”. Dia juga bertanya, kapan saya berniat menerbitkan buku. Hmm.. pertanyaan yang itu saya belum bisa menjawab dengan pasti. Tapi saya bilang kalau saya sedang mengasuh satu blog yang berisi sketsa-sketsa kehidupan kaum urban.

Saya berikan dia tautan blog yang saya ceritakan. Tanpa diduga, dia menyukainya. Dia sangat kritis dalam menilai tulisan-tulisan saya. Kritis bukan sebagai seorang ahli dalam dunia tulis menulis. Tapi kritis sebagai seorang pembaca. Psstt.. dia adalah pembaca pertama saya sejak dulu. Semua tulisan-tulisan saya selalu dilahap habis olehnya. Meskipun itu hanya sebuah curhatan galau gaya abege jaman sekarang.

Dia menyukai tulisan-tulisan itu. Baik ide cerita, gaya dalam membawakannya, dan konflik sederhana yang ada. Lalu, dia bertanya apa rencana saya dengan alamat blog tersebut. Saya hanya  menjawab ingin menampilkan tulisan ini mingguan. Syukur-syukur ada penerbit yang ‘melirik’. Canda saya. Hehe..

Tiba-tiba…

“Lo udah beli domain buat celotehnona?”

Pertanyaannya mengingatkan saya akan rencana membeli domain yang sempat tertunda hingga sekarang.

Oke, Lo beli celotehnona aja. Nah, untuk blog  yang satunya lagi itu hadiah dari gue. Cek email, di sana ada konfirmasinya. Gue mau lo terus nulis, nggak cuma nulis curcol doang. Hahaha..”

Sial!

Jadi selama ini saya dianggap curcol doang? E tapi tunggu. Barusan dia bilang kasih hadiah untuk domain satu lagi? What? Is he joking? Huaaaaa.. he already bought me a domain for my project!

Ini rasanya mau teriak, nangis, ketawa, salto, pokoknya semuanya sekaligus deh. Mungkin kalau ada yang mendengar ini akan berkomentar, “Halah, cuman domain doang. Kan bisa beli sendiri.” Memang sih, gampang belinya, terjangkau pula. Tapi buat saya, hadiah ini jauh lebih bernilai.

Niat baiknya membelikan saya domain itu saya hargai sepenuh hati. Apalagi dia ingin sekali saya tetap semangat menulis. Ditambah kejutan disela obrolan kami yang kadang tidak pernah jelas juntrungannya. Wohoooo! Love his way to give me a lil surprise..

Sekali lagi, terima kasih untuk kawan ‘lutung’ saya yang sepertinya masih terjebak macet di jalan. You will always be my first reader, kangbro!

 

Kemang, 10 Juni 2013

Nonayangsedangsenangdanmasihjogetjogetriang

Sekeping Salut, Setangkup Lelah, dan Sepotong Maaf

Sebelum saya mulai bercerita, saya ingin memberikan hormat saya pada semua editor, guru-guru bahasa. Kenapa? Cerita berikut ini yang menjadi alasan saya memberikan penghormatan sedalam-dalamnya.

Kalian tentu masih ingat saat saya bercerita tentang kegiatan saya mengajar? Eh ralat, jadi teman belajar tema-teman kecil di salah satu sekolah dasar di bilangan Bekasi, kan? Nah, tentu kalian juga masih ingat kalau saya menjadi teman mereka dalam menulis. Semoga ingat. *siapin pentungan kalau nggak ingat*

Nah, rencananya di akhir tahun ajaran, yang akan berakhir minggu depan, semua hasil karya teman-teman kecil saya itu akan dibukukan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini cerita dimulai.

Saya yang memiliki latar belakang pendidikan dunia teknik, tentu tidak begitu ‘akrab’ dengan dunia mengajar apalagi tulis menulis (sampai detik ini saya mencoba terus belajar dan mengakrabinya), tapi saya justru mendapat mandat untuk menjadi ‘penasihat’ pembuatan buku. Tentu kalian bisa bayangkan betapa kalang kabutnya saya, kan?

Lha wong saya ngedit tulisan saja nggak pernah. Kecuali tulisan saya sendiri tentu saja. Kalaupun pernah ngedit tulisan, itu tulisan orang-orang dewasa yang sudah tahu penggunaan huruf besar, kata sambung, kata depan, serta tulisan tangan yang sudah rapi juga cerita yang runut dan logis.

Sedangkan di sini, saya tidak hanya berjuang membaca tulisan mereka yang terkadang lebih mirip huruf paku, tetapi juga khilafnya mereka menggunakan spasi antara satu kata dengan kata lain. Lupa menggunakan tanda baca, huruf besar, bahkan lupa dengan cerita yang ditulisnya di awal!

Saya bagai bermain puzzlle. Ngutak ngatik tulisan dan mencoba mencerna apa yang ingin mereka sampaikan tanpa mengurangi sisi kanak-kanan mereka dalam tulisan itu. Meskipun seorang editor berhak mengubah tulisan tapi bukan berarti mengubah gaya menulis anak-anak itu, kan?

Total anggota ada 26 dan setiap anak dipilih dua karya terbaiknya (kalaupun tidak ada yang layak, satu karya tetap wajib dimasukan apapun hasilya. Duh!) Tak jarang saya harus memeras otak mengimbangi frekuensi imajinasi saya yang sudah liar arus ‘kiri’ dengan frekuensi mereka yang masih menari-nari dengan asyiknya di pekarangan rumah.

Tak jarang pula saya menemukan cerita-cerita yang ‘ajaib’ untuk anak umuran mereka. Cerita horor yang byuh! bikin saya mengernyitkan dahi saat membacanya. Cerita legenda yang super ngawur tapi jenaka. Dan tidak sedikit cerita yang saya sangat bisa tangkap itu terjadi di lingkungan mereka, hingga membuat saya geleng-geleng kepala.

Dari tulisan-tulisan mereka, saya sedikit banyak mengetahui lingkungan seperti apa keluarga yang membesarka mereka. Sangat tercermin sekali dari cara mereka berbicara, berinteraksi, menuangkan isi pikiran mereka, bahkan ketika cerita itu digadang-gadang sebagai cerita fiksi atau fabel.

Belum selesai dengan urusan baca-baca tulisan, edit-mengedit tulisan, tugas saya sudah bertambah lagi. Membuat lay out buku hingga menjadi designer untuk sampul buku tersebut. Berhubung teman-teman saya sedang full slot kerjanya, jadi tidak bisa saya rayu dan jawil untuk dimintai bantuan. Hiks..hiks..

Dan sudah hampir seminggu ini, saya jadi macam orang gila. Tidur selalu lewat jam 2 malam, bangun saat subuh tiba dan bekerja hingga malam datang. Begitu siklus kerja saya beberapa hari terakhir. Hingga saya lupa untuk memanjakan lambung saya yang tengah dihajar gas lambung yang kian membumbung tinggi sebulan terakhir. Sigh!

Ngomong-ngomong, mata saya sekarang sudah mirip mata panda. Ada lingkaran hitamnya. Huruf-huruf yang ada di hadapan saya kadang berubah-ubah. Tiba-tiba bisa menari-nari, berpindah tempat dengan sendirinya lalu hilang dari pandangan. Tentu ini hanya halusinasi saya saja, mungkin terlampau lama bercumbu dengan laptop pinjaman yang ukurannya sangat mini.

Saya jadi membayangkan, bagaimana jika saya jadi editor sesungguuhnya ya? Baru editor kacangan saja saya sudah lelah luar biasa. Huufff.. Makanya saya salut dan angkat topi untuk para editor diluar sana dan juga guru bahasa dimanapun Anda berada. *tiba-tiba siaran RRI*

O ya , saya juga sempat mengabaikan ajakan manis kawan maya saya, Masya, untuk menulis bersama. Mohon maaf saya sebesar-besarnya sama kamu, Masya. Awal Juni ternyata tidak juga membuat slot kerja saya melunak. Justru semakin gila! Saya belum sempat menghubungimu via whatsapp dikarenakan ponsel jadoel kesayangan saya sedang ngambek. Ketika sudah benar, saya terkena penyakit lupa. Duh! *sungkem sama Masya*

Oleh karenanya saya meminta maaf melalui forum ini. Karena saya tahu, janji itu hutang dan hutang saya sudah terlampau banyak. Semoga tulisan ini bisa meringankan rasa bersalah saya ya.. *pasang muka melas di depan Masya*

Hmm.. baiklah, saya menulis ini disela-sela istirahat saya dari ngedit. Dan sepertinya, malam sudah semakin larut. Mata saya sudah tak bisa diajak kompromi lagi tapi saya masih harus menyelesaikan semuanya. Jadi, saya sudahi dulu break time saya dengan ngeluh di sini. Mari kita kembali ke lap… top! *lho?!

 

Kandang beruang, 8 Juni 2013 ; 00.15

*Nonayanglagisumpekdidepanlaptoptapimalahasyikcurhatdiblog