Tunggu di Sini Saja, Aku Menujumu!

waiting

Sore itu, ada seorang laki-laki datang dan menyengajakan diri duduk tenang di sampingku. Tiada kata, hanya diam saja. “Aku temani ya,” hanya sebuah tawaran sederhana yang terlontar di awalnya. Aku hanya melihatnya sekilas dan menganggukan kepala. Tak ada kata-kata untuknya.

Aku memilih untuk berdiam diri di dermaga tua. Menikmati sore yang menghantarkan senja ke peraduan terakhirnya. Menelusupkan angin dalam peparu yang tak seberapa leganya. Aku sedang tak ingin bicara. Aku sedang menikmati diamku untuk beberapa waktu.

Hingga tiba waktunya, aku beranjak pergi. Tak peduli dengan si pria berkuncir kuda yang sudah rela menemaniku sejak tadi. Ia pun tak tergerak hati untuk menahanku atau sekadar menanyakan akan kemana aku pergi malam itu.

Iya, malam sudah merayap datang. Kini, si pria berkuncir kuda hanya ditemani angin malam yang kurang ajar menusuk-nusuk tulang. Aku pergi dan enggan untuk menoleh apalagi kembali. Setidaknya cukupkan hariku saat itu.

Beberapa hari berlalu, aku kembali ke dermaga tua. Kudapati si pria yang sama sudah lebih dulu duduk di sana. Di tepian dermaga tempat aku bertemu dengannya kali pertama. Sebuah buku bersampul cokelat lusuh jadi kawan setia selain rokok kretek yang ia hisap dalam-dalam di sela ia membaca.

Ia menoleh saat aku datang tetiba. Sepertinya itu mengejutkannya, meski kedatanganku sudah seperti dugaannya. Tak ada kata ia lontarkan, hanya diam yang ia sajikan. Aku, memilih duduk di sampingnya. Masih juga diam. Begitu seterusnya hari-hari kami lalui dalam diam. Entah siapa yang lebih dulu duduk di sana. Aku atau dia.

Hingga suatu sore, aku tak menjumpainya di tepi dermaga tua. Hanya secarik kertas kekuningan yang tertahan kaleng minuman yang masih utuh. Di dalamnya ada sebuah coretan tangan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Jangan kemana-mana, tunggu saja di sini. Aku sedang menujumu…

Dan begitu hari-hari berlalu. Aku menunggu pria berkuncir kuda itu tanpa tahu kapan ia akan kembali dan memenuhi janji di kertas yang ia tinggalkan untukku.

Jakarta, 24 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-12
*foto dipinjam di sini

Advertisements

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

Sore ini hujan. Aku masih saja berkutat dengan art paper di ruangan ini. Tidak sendiri. Tapi tetap saja rasaku sepi. Suara merdu Maynard, mengalun indah. Terlebih ‘forever’, lagu yang sangat kugandrungi, sama seperti si rocker melankolis.

Hujan masih belum berhenti. Ini sudah lagu ke dua puluh dua yang kuputar sejak tadi. Aku juga belum beranjak dari meja yang super berantakan ini sekadar untuk berbenah diri. Sebentar lagi waktunya pulang. Tapi hujan enggan juga berhenti sebentar.

Kalau sudah begini, aku memilih menarik jaket tebal di kursi belakang sambil menyesap cokelat hangat yang biasa jadi bekal kemanapun aku pergi. O ya, tak lupa moachi Gemini, buah tangan dari Semarang untuk sore kali ini.

Mungkin mereka yang melihatku akan mengira aku sibuk dengan pekerjaanku. Tenggelam dengan slide-slide presentasi yang entah untuk berapa kali harus jadi korban revisi. Padahal aku sibuk dengan lalu lintas di kepalaku yang entah kapan bisa berhenti  melemparkan wajahmu untuk terus kutelusuri.

Loving you forever
Utsukushiku kagayaku
I’ve got you, you’ve got me
Yorisotte
Sono hoshi no hate made
Doko made mo together
Yasashiku aoku

Aku menginginkan kamu. Untuk kesekian kalinya, pensil ini harus menorehkan namamu besar-besar yang seharusnya nama kenamaan yang kukarang. Bukan namamu.

Perlahan, tanganku meraih telepon genggam yang tergeletak lemah di sudut meja. Mengetikkan namamu dan menekan tombol hijau.  Namun segera kutekan tombol merah sebelum nada sambung terdengar dari seberang sana.

Tiba-tiba keringat deras mengucur dari jemariku. Mulutku meracau mengutuki diri dengan kebodohan yang nyaris kulakukan. Ku ketikkan kembali namamu.

Hai.. lagi apa? Basi. Hapus

Aku kangen. Umm..big no! Hapus.

Sudah mak.. Hapus.

Lama kutimang telepon genggam di tanganku. Hingga…

Jakarta hujan deras. Jangan kemana-mana ya.. .

Kirim.

Di hatiku saja lebih lama.

Simpan.

Jakarta, 23 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-11

Bangunkan Aku Pukul 7

“Kak, aku bikin ini untuk Ibu.”

Selembar kertas berisikan tulisan tangan Adi, adikku, terulur dihadapanku.

“Tolong bantu bilang Ibu ya, Kak. Adi minta maaf. Adi nggak akan ulangi lagi. Janji!” pintanya kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar permohonannya dan menyuruhnya untuk segera memejamkan mata dan tak lupa berdoa.

“O ya, Kak. Jangan lupa bangunkan aku jam 7 ya. Soalnya sudah janji sama Ayah untuk lari pagi ke Monas,” imbuhnya lagi sebelum akhirnya ia benar-benar memejamkan mata dan berangkat ke alam mimpi.

Begitu setiap hari. Kubangunkan ia sedikit terlambat dari yang telah disepakati. Agar ia tak harus menanti Ayah esok pagi, dan segera bangun dari ‘mimpi’. Dan hari ini, genap sudah empat puluh hari sejak kematian Ayah dan Ibu yang menyebabkan adikku seperti sekarang ini.

Jakarta, 22 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-10

Menanti Lamaran

(Cerita sebelumnya di sini)

Kejadian di stasiun Gambir dua bulan lalu tentu masih sangat melekat di benak Amara. Tak terbayang olehnya kalau hari ini ia akan dilamar oleh orang yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Hari ini adalah langkah awal dimana ia akan segera menjadi Nyonya Dipo, Mama dari Langit, si bocah centil dengan pipi gembilnya yang tak pernah mau diam.

Amara tersenyum geli saat merunut apa saja yang telah menimpa dirinya beberapa bulan terakhir. Memang, cinta datang dan menyambangi siapa saja tanpa pernah bilang sebelumnya. Tapi Amara tak pernah berpikir kalau itu terjadi begitu cepat dalam hidupnya. Setidaknya ia butuh persiapan. Untung saja jantungnya cukup kuat menerima semua kejutan yang Tuhan berikan padanya bertubi-tubi.

Bip..bip..

“Hai sweetheart, sibuk mempercantik diri untuk acara sore nanti ya?”

Bip..bip

“Hmm..untuk kamu juga, kan? Kamu tiba pukul berapa, Mas?”

Bip..bip..

“Ah, senangnya! Aku akan sampai kira-kira pukul 4. Langit sudah tak sabar bertemu dengan calon mamanya nih. Dia ribut seharian, bingung mau pakai baju apa. Susah ya jadi Ayah untuk anak perempuan.”

Amara tertawa geli membaca pesan yang Mas Dipo kirimkan untuknya. Siapa sangka, penat mengurus gadis kecil akan ia rasakan sebentar lagi. Tanpa perlu menunggu sembilan bulan menunggu hingga janin dalam rahimnya berkembang sempurna. Ia akan merasakan jadi ibu sebentar lagi. Ibu dari Langit Rasya Darmawan.

Tetiba ada rasa takut membayangi hatinya. Apakah ia bisa menjadi ibu yang baik untuk Langit? Dan apakah ia bisa menjalani kehidupan menjadi seorang istri dan ibu sekaligus dengan perkenalan yang terbilang singkat? Ada ragu yang nyata-nyata menggayut manja dalam benak Amara.

Bip..bip..

“Aku kirimkan kejutan untukmu. Mungkin 10 menit lagi kejutan itu tiba di rumahmu. Siap-siap ya!”

Pesan yang masuk mengalihkan Amara dari rasa ragu yang membayangi dirinya. Ia penasaran apa yang Mas Dipo kirimkan untuknya. Amara tak mau merisaukan ketakutan yang menghantuinya baru saja. Ia tahu bahwa Mas Dipo adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk mendampinginya, karena memang ia butuhkan. Itu sudah.

“Nduk, di luar ada yang cari kamu. Umm..dia itu..”

Inggih, Bu. Itu dari pihak keluarga Mas Dipo, katanya mau kasih kejutan,” jawab Amara tergesa dan langsung menghambur keluar dari kamarnya.

“Mas dari pihak keluarga Mas Dipo ya?” sapa Amara ramah pada lelaki yang sedang berdiri memunggunginya di teras depan.

“Siang Amara, apa kabar?”

Pria yang berdiri di hadapan Amara menyapanya hangat tapi justru membuat Amara seperti dihujani panah es beribu-ribu jumlahnya. Dingin dan kelu. Randu Aditya, pria yang datang dari masa lalu. Kini berdiri tegap di hadapan Amara dengan seseorang yang sangat dikenalnya. Ny. Wira Sasmitha, ibundanya.

Jakarta, 21 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-9

Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

(cerita sebelumnya di sini)

Perjalanan menuju Jakarta kali ini tidak meninggalkan tangis di mata Amara. Tidak meninggalkan jejak kehilangan di hati, ataupun merasa berat meninggalkan kota yang begitu berarti untuknya, Jogja. Meskipun hujan tak berhenti mengiringi kepulangannya yang terkesan sendu dengan langit kelabu yang masih menaungi tanpa ragu.

Amara justru merasakan bahagia sekembalinya ia ke Jakarta. Ada rasa senang membuncah di hati yang tak berhenti berkesinambungan membentuk lengkung tipis di bibir merah jambunya. Senyum bahagia yang sederhana rasanya.

Mas Dipo, adalah salah satu alasan senyum bahagia itu tersungging di bibir Amara. Ia memegang kata-kata yang pernah terlontar dari mulutnya beberapa waktu lalu. Bahwa ia akan menjadi penyembuh sakit di hati Amara saat itu. Dan ia benar-benar melakukannya. Membuat kabut ragu yang kemarin membumbung tinggi seakan sirna hari ini. Hanya dengan kehadiran Mas Dipo di Jogja dan menjemputnya untuk kembali ke Jakarta bersama-sama. Iya, hanya sesederhana itu.

“Hei.. kamu kenapa melamun?” teguran halus Mas Dipo membuyarkan bayangan yang terangkai manis di atas jendela kereta yang basah.

Amara hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum sambil mengaitkan lengannya ke dalam lengan Mas Dipo. Seolah mencari kehangatan dibalik lengan pria yang telah menemukan rindunya.

“Ra, sampai di Jakarta nanti aku mau mengenalkanmu pada seseorang.”

“Sama siapa, Mas?”

“Nanti kamu juga tahu. Ini kejutan,” tutupnya dengan meninggalkan jutaan tanya di benak Amara.

Stasiun Gambir tampak ramai orang-orang yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti lalu lintas di kepala Amara yang tak kalah ramai dengan kondisi stasiun petang itu. Mas Dipo berdiri sedikit menjauh darinya, menerima panggilan di telepon genggamnya. Entah siapa.

“Yuk!”

Mas Dipo menggamit lengan Amara mesra. Diajaknya wanita berparas ayu itu menuju pelataran parkir dimana seseorang telah menanti mereka berdua.

“Orang yang aku mau kenalin ke kamu ada di dalam mobil itu,” kata-kata Mas Dipo kontan membuat wajah Amara pasi. Hatinya kebat-kebit, otaknya tak bisa berpikir jernih. Siapa gerangan orang yang akan ditemuinya ini?

Tok..tok..

Mas Dipo mengetuk kaca pintu depan Avanza silver yang terparkir tak jauh dari pintu keluar. Kaca mobil yang tak tampak dari luar turun perlahan.

“Papaaaaaaa….” Seorang gadis kecil berambut ikal langsung berdiri dan mengalungkan pelukan melalui kaca jendela yang sudah terbuka seluruhnya. Amara hanya bisa bengong melihat pemandangan di hadapannya.

“Langit sayang, Papa sekarang mau memenuhi janji Papa,” ujar Mas Dipo sambil mendaratkan kecup halus di pipi gembil Langit, gadis kecil berambut ikal. Mata Langit membulat memancarkan binar indah serupa senja sore itu.

“Itu tante Amara. Hadiah yang pernah kamu minta sama papa,” tangan Dipo mengarah ke Amara yang sejak tadi diam membisu.

“Mama Amaraaaaa…” teriak polos si gadis kecil. Senyum Amara mengembang dipaksakan, tak siap menerima kejutan dari Mas Dipo yang sangat tiba-tiba, terlebih mendengar sapaan barunya.

Jakarta, 20 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Cintaku Mentok di Kamu

Berbicara kenyamanan sebagai pasangan, aku harusnya tidak pernah meragukanmu. Kamu membuat hari-hariku memang penuh rasa aman dan pastinya nyaman. Tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Kita bertemu di pertengahan 2011, saat aku berlibur di kota Malang. Tempatku pernah dibesarkan.

Kamu dibawa oleh tanteku, yang langsung membuatku sreg dikali pertama bertemu. Tak perlulah janji-janji palsu membuat skenario bernama kesetiaan, karena kamu sudah memenuhinya. Itu kamu buktikan hingga sekarang. Kemanapun aku pergi, kamu selalu ada bersamaku.

Ingat saat kita mendaki gunung Semeru? Saat aku terpeleset dan hampir terjatuh selepas kita berjalan dari Ranu Pane? Kamu menjadi penyelamat hidupku! Meskipun tak sampai puncak, tapi perjalananku saat itu cukup menyenangkan. Kamu melindungiku. Lagi-lagi aku harus bersyukur pada Tuhan.

Aku juga masih ingat saat kamu datang menemaniku di pernikahan salah satu kawan terbaikku. Aku selalu diolok-olok rekanku  karenamu. Mereka bilang kamu dekil dan hitam, tak pantas denganku yang berkulit putih. Ibarat menodai warna kulitku dengan warnamu.

Tapi aku tak peduli. Lagi-lagi itu semua atas nama rasa nyaman yang aku rasakan. Untung saja kamu tak lantas terabaikan hingga terbuang.

Kini, aku harus mengikhlaskan kepergianmu. Mengikhlaskan kehadiranmu yang tak lagi untukku. Semoga kamu bisa bahagia bersama dengan pasangan barumu, meskipun aku takkan mungkin mendapatkan pengganti sepertimu.

Ya, karena kamu sandal jepit karet hitam terbaikku. Semoga maling beruntung itu bisa menjagamu sebaik mungkin.

Dari kaki yang merindukanmu.

 

Depok, 19 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Bales Kangenku Dong!

(cerita sebelumnya di sini)

Bip..bip..

“Apa kabar Jogja pagi ini?”

Bip..Bip..

“Jogja masih sama. Tenang, nyaman, dan selalu dirindukan.”

Bip..bip..

“Berarti Jogja itu mirip sama kamu.”

Bip..bip..

“Kenapa begitu?”

Bip..bip..

“Karena kamu selalu bisa membuatku nyaman saat berada di sampingmu, membuatku tenang dengan renyah suaramu, dan selalu menaburkan rindu di hatiku yang sedikit berdebu.”

Bip..bip..

“GOMBAL!”

Bip..bip..

“Gombal itu kain lap. Dan kain lap itu digunakan untuk membersihkan debu hatiku, agar benih cintamu makin tumbuh subur dan bersemi dalam hati.”

Bip..bip..

“NORAK!”

Bip..bip..

“Aku kangen kamu, Ra!”

Kali ini pesan yang masuk tak langsung dibalasnya. Amara memilih untuk membiarkan pesan singkat itu tetap berada di dalam kotak pesan tanpa perlu dibalas. Tidak sekarang.

Bip..bip..

“Ra? AKU KANGEN KAMU AMARA! Please come home soon, dear…”

Lagi-lagi isi pesan yang sama. Amara hanya menghela napas, dan mencoba untuk mengetikkan pesan balasan. Tapi jemarinya seperti terhenti. Ia tak tahu harus mengetikkan apa sebagai balasan.

 Bip..bip..

“Amara please, balas kangen aku! Kalau kamu nggak mau bales, aku akan jemput paksa kamu, lho!”

Pesan terakhir terlihat mengintimidasi, tapi justru membuat batin Amara senang. Dengan semangat Amara langsung mengetikkan pesan balasan.

“COBA SAJA KALAU KAMU BERANI DATENG!”

Sent.

Amara senyum-senyum sendiri membaca pesan yang dikirmkannya. Dalam hati ia ingin tahu reaksi si pengirim pesan dengan tantangannya barusan.

Bip..bip..

“Aku sudah siap menjemputmu. Aku sudah berada di dekatmu sejak tadi, meja no.9 arah jam 5 dari posisimu saat ini.”

Mata Amara terbalalak membaca pesan barusan. Segera ia mengedarkan pandangan ke arah yang dimaksud. Mata almondnya menangkap sesosok pria berbadan tegap yang ia kenal, berkemeja biru laut sedang berjalan ke arahnya.

“Amaranggana Wisya, kalau kamu nggak mau balas kangenku, aku yang akan menjemputnya sendiri dan membawanya pulang.”

Amara tersenyum mendengar kata-kata pria yang menghujaninya pesan singkat sejak beberapa hari terakhir. Mas Dipo. Sosok pria yang ingin menyembuhkan sakit hati Amara, kini ia datang untuk menjemput rindunya.

Jakarta, 17 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-6

Sambungan Hati Jarak Jauh

Kalau ditanya soal hubungan Ayah dan anak, aku mungkin bukan contoh yang baik. Beliau adalah sosok orang yang sangat berwibawa dan aku selalu menjaga jarak dengannya. Itu karena aku menghormati Ayah.

Kami jarang sekali berbincang-bincang layaknya Ayah dan anak masa kini. Terlebih  lagi dengan aku yang memang sudah merantau sejak SMA. Aku memilih tinggal jauh dari ibukota dan hidup bersama dengan Eyang di Jogja. Kalau sudah begini, Ibu yang memiliki peran menjembatani kami. Meskipun begitu, aku tahu Ayah sangat menyayangiku. Walau itu tak pernah terucap secara lisan dari bibir hitamnya.

Kini, aku sudah bekerja. Tapi aku tetap tak tinggal satu rumah dengan Ayah. Lokasi kantor dan rumah yang sangat berjauhan membuatku memutuskan untuk tinggal di kosan ketimbang harus menempuh tiga jam perjalanan setiap paginya.

Sore ini, seharusnya jadwalku pulang ke rumah. Tapi hujan yang mengguyur sejak pagi membuatku urung untuk pulang. Aku hanya mengirimkan pesan singkat kepada Ayah bahwa rencanaku pulang malam ini harus ditunda hingga esok pagi.

Selepas mengirimkan pesan, aku langsung bergelung di dalam selimut demi menghalau dingin yang sepertinya masih merajuk manja dengan tubuhku. Alunan suara Bonita terdengar sayup-sayup, tak terasa mengantar waktu tidurku jauh lebih cepat.

Tok..tok..tok..

Hmm..siapa yang dateng malem-malem gini, ya?

“Tara.. Nak.. Ini Ayah.”

Ayah? Ada apa datang ke kosan malam-malam begini?

Bergegas aku bangkit dari kasur dan langsung membukakan pintu.

“Ayah? Tumben malam-malam datang?” tanyaku heran sambil mencium tangan Ayah yang terlihat sedikit membiru. Mungkin karena hujan di luar yang tak kunjung berhenti.

“Kamu sudah tidur ya? Maafin Ayah sudah bangunin kamu, Nak,” tutur Ayah dengan senyum tipisnya yang sedikit dipaksakan.

Kupersilakan Ayah masuk dan segera kuseduhkan teh hangat untuknya. Beliau menarik nafas dalam-dalam dan duduk mengenyakkan diri di kasur.

“Ayah, kenapa maksain diri dateng ke kosan Tara? Kan besok Tara balik, Yah.”

Ayah tak menjawab, ia hanya memandangku lekat. Menarik bibir tipis kehitaman karena nikotin yang dihisapnya sejak jaman muda dulu, hingga senyum terkembang sempurna, meski tak kurasakan sama.

“Ayah kangen Tara.”

Deg. Pernyataan spontan Ayah benar-benar membuat hatiku terenyuh. Tak perlu menunggu kata selanjutnya meluncur dari bibir Ayah, aku langsung menghamburkan dekapan untuknya. Banjir air mata sudah tak terbendung rasanya.

“Tara juga kangen Ayah.”

Lama rasanya tak pernah memeluk tubuh Ayah seperti ini. Ternyata tubuhnya tidak seperti dulu, Ayah tak segemuk tahun lalu. Entah sejak kapan bobot tubuhnya menyusut seperti sekarang ini. Tubuhnya juga sangat dingin, mungkin karena diterpa hujan dan angin selama di perjalanan.

“Tara, Ayah nggak lama-lama, Nak. Ayah harus pulang, nanti kemaleman.”

“Tapi Ayah kan baru dateng, sebentar lagi ya Yah,” bujukku.

Ayah membelai kepalaku dan mengecup keningku dengan lembut. Ia berpamitan sekali lagi.

“Tara jaga diri baik-baik ya, jangan males makan kalau di kosan. Besok pagi kamu wajib pulang ke rumah, okey?” pinta Ayah sebelum benar-benar kulepaskan kepergiannya.

Ada haru yang menghujamku bertubi-tubi. Ada resah yang menggayuti perlahan namun pasti, dan ada sejuta kata sayang untuk Ayah yang tak sempat kusampaikan karena tertahan di kerongkongan.

“Ayah…”

Lelaki tua berjaket kelabu itu menoleh sesaat dan berhenti sebelum menuntun vespa tuanya keluar gang.

“Hati-hati di jalan.”

Kata-kata menggantung di udara. Ayah membalasnya dengan sebuah senyuman yang membuatku merasa hangat. Di hati dan di pelupuk mataku.

Around the world atarashii kotoni
Around the world fumidasu chikara de
Around the world sekai wa kawaru sa
But don’t run away cause it’s not OK!

Aku terkejut saat mendengar lantunan indah Monkey Majik dari telepon genggamku. Lagu itu membangunkanku segera.

“Halo,” sapaku kepada pemilik nomor telepon yang tak kukenali di ujung sana.

“Tara,” suara itu lemah, namun aku masih sangat mengenalinya di tengah isak tangis yang tertahan.

“Mama? Mama kenapa?”

“Ayah, Tara.”

“Ayah? Kenapa dengan Ayah?”

“Ayah hanyut terbawa arus. Ia memaksa untuk menjemput kamu di kosan karena khawatir sama keadaan kamu, Nak,” tangis Mama meledak saat menceritakan kejadian yang menimpa Ayah. Tak ada yang bisa kukatakan, tangisku tertahan di dada.

Ayah yang berpamitan padaku tadi itu…

 

Depok, 17 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-5

Cuti Sakit Hati

“Ra, kamu sudah tahu gosip terbaru?”

“Gosip apa?”

“Ada anak baru di divisi design. Katanya sih orangnya ganteng, pindahan dari kantor cabang di Dubai.”

“O ya?”

“Dih! Kamu normal nggak sih? Ada makhluk oke tapi mukanya anteng begitu!”

Amara hanya membalasnya dengan senyum super malasnya. Ia enggan memikirkan persoalan anak baru –yang konon katanya ganteng – yang baru saja diinfokan Astri. Mungkin karena pekerjaan yang menumpuk sejak bulan lalu ditambah ujian tengah semester yang akan dihadapinya minggu depan.

“Sudah ah! Aku baru bisa yakin dengan omonganmu kalau sudah melihatnya langsung, Okey?!” Amara langsung meninggalkan Astri yang masih melongo dengan jawabannya.

***

“Lobi atau basement?”

“Ha?”

“Kamu turun di lobi atau basement?”

“Oh, anu umm.. di lobi.”

Deg. Jantung Amara terlonjak saat melihat pria yang berdiri di sampingnya. Tampan. Hanya itu yang bisa hatinya katakan. Ia tak sadar kalau sedari tadi ia tak memencet satupun tombol di dalam lift.

“Sudah di Lobi, Mbak,” ujar si pria yang langsung membuyarkan lamunan Amara.

“Oh iya, terima kasih.”

Bergegas ia keluar dari lift tanpa berani menoleh kembali ke dalam lift. Malu, mungkin itu alasannya.

“Duh! Kenapa aku jadi grogi sih tadi? Terus, dia itu siapa ya?” puluhan tanya menggantung di kepala Amara tepat ketika sebuah taksi melintas di depannya.

***

Dua minggu setelah kejadian di lift, tidak membuat Amara berhasil mendapatkan informasi siapa gerangan pria tampan itu. Belum lagi perihal ujian tengah semester yang membuatnya tak bisa memalingkan perhatian selain dari tugas dan setumpuk materi yang harus dipelajarinya.

“Ra, kamu bawa komaci nggak?” tanya Astri.

“Nggak Tri, nggak sempat masak pagi tadi. Mau makan di mana kita?”

“Di food court atas aja, yuk!” Amara mengamini ajakan Astri dengan langsung menyambar dompet serta telepon genggam dari dalam tasnya.

“Eh Ra, jangan langsung nengok ya. Arah jam 1 yang lagi makan sama Mas Dipo itu tuh anak baru yang tempo hari aku ceritain,” tukas Astri membuat Amara spontan mencari arah jam 1 yang dimaksud.

“Yee.. ONENG! Kan aku sudah bilang jangan langsung nengok!”

Omel Astri sambil tangannya menarik kepala Amara untuk tidak celingukan mencari orang yang ia maksud.

“Maaf..maaf..aku refleks! Hahaha…” ujar Amara sambil cengengesan tanpa rasa bersalah.

Setelah mengenyakkan diri di salah satu bangku foodcourt, Amara berusahan mencari orang yang Astri maksud. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati orang yang Astri maksud adalah si pria tampan yang membuat jantungya belingsatan saat di lift beberapa minggu lalu.

“Oh, shit!”

“Kenapa, Ra?”

“Itu cowok yang tempo hari ketemu aku di lift!” jelas Amara bersemangat.

“NAH! Aku bilang juga apa!”  mereka cekikian berdua, sepertinya akan ada bahan obrolan yang sama selama beberapa minggu ke depan.

***

“Tri, kamu lihat jurnal aku nggak?” teriak Amara panik seperti sedang kebakaran jenggot saja.

“Nggak. Memang terakhir kali kamu taruh di mana?” tanya Astri sambil ikutan mencari di laci dan meja kerjanya.

“Nah, itu masalahnya. Aku lupa!”

“DASAR ONENG! KEBIASAAN!”

“Parahnya lagi, form cuti yang sudah ditanda tangani HRD itu ada di dalamnya. Bisa gawat nih! Cutiku bisa terancam batal, padahal aku sudah merencanakan liburan ini sejak lama,” tuturnya sambil sibuk membongkar seluruh isi laci mejanya.

“Ya sudah, kamu minta lagi aja. Mas Dipo pasti mau kasih kok,” usul Astri akhirnya membuat Amara berhenti mencari.

Tuuuutt..Tuuuttt…

“Ya mas Dipo?”

“Kamu bisa ke ruangan saya?”

“Oke, Mas. Kebetulan saya juga ada perlu sama Mas Dipo.”

***

Tok..tok..tok..

Masuk ke ruangan Mas Dipo, Amara dikejutkan akan kehadiran seseorang. Seorang pria yang membuat jantungnya kebat kebit tiap kali Amara melihatnya.

“Oke, Dip? Jangan sampai nggak dateng ya!” ujar si pria itu sambil berlalu meninggalkan ruangan.

“Hai Amara, aku duluan ya,” sapanya mengejutkan Amara.

“Dia tahu namaku?” batin Amara terlonjak gembira. Andai ia lupa sedang berada di ruangan Mas Dipo, mungkin saat ini ia sudah salto dan sujud syukur mendengar sapaan barusan.

“Oke Amara, silakan duduk,” kata-kata Mas Dipo membuyarkan lamunan Amara. Sejenak membawanya kembali ke alam nyata.

“Oh iya Mas. Mas Dipo panggil saya ada apa ya?”

Mas Dipo mengeluarkan sebuah jurnal bersampul kulit berwarna cokelat yang sangat ia kenal betul. Itu jurnal pribadi miliknya.

Deg.

“Saya menemukan jurnal ini terjatuh di lobi kantor semalam. Karena tidak ada pengenal, jadi saya membaca isi jurnal ini.”

Hening seketika. Ada beku yang membungkam Amara lekat-lekat. Keringat dingin mulai mengucur, hatinya mencelos.

“Mati aku!” batinnya.

“Saya tahu jurnal ini milik kamu karena surat ini.”

Mas Dipo menyodorkan selembar surat yang sejak pagi membuat Amara uring-uringan. Form cutinya.

“Ini jurnal dan surat cuti kamu,” Mas Dipo menyorongkan jurnal bersampul kulit berwarna cokelat plus selembar surat yang telah ia tanda tangani.

“Dan mohon maaf karena saya telah lancang membaca jurnal milikmu. Tapi, saya bisa kasih tahu sebuah jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam jurnalmu itu.”

Amara terpaku. Mas Dipo tiba-tiba menyodorkan sebuah amplop besar berwarna ungu berbalut emas yang cantik dan elegan. Amara tampak ragu saat mengambilnya.

“Undangan?”

“Iya. Undangan. Itu undangan milik Adit, pria yang barusan kamu temui di ruangan ini, yang ketemu kamu di lift, yang bikin jantung kamu kebat kebit,” penjelasan Mas Dipo membuat wajah Amara pasi.

“Shit!” umpatnya berkali-kali dalam hati.

“Minggu depan Adit akan menikah.”

“Oh..”

Kata-kata Mas Dipo menggantung di udara. Amara tidak tahu harus bereaksi apa. Otaknya terlalu sibuk menelaah apa yang baru saja terjadi. Ia masih berharap ini hanya sebatas mimpi. Tak mau Mas Dipo membaca resahnya terlalu lama, Amara memutuskan untuk kembali ke mejanya.

“Amara..”

Amara menghentikan langkahnya tepat ketika ia akan membuka pintu.

“Kamu baik-baik saja kan?”

Ia hanya menjawab dengan anggukan pelan dan senyum tipis yang ia paksakan .

“O ya, kalau kamu mau, saya bisa menambahkan jatah cuti kamu,” terang Mas Dipo.

“Cuti tambahan untuk apa, Mas?” tanya Amara penasaran.

“Untuk merasa sakit hati.”

“Sial!” batin Amara.

“Dan saya mau menemani kamu untuk menghilangkan rasa sakit itu.”

Kata-kata terakhir Mas Dipo masih terngiang di kepala Amara yang membuatnya semakin limbung saat meninggalkan ruangan HRD.

 

Jakarta, 16 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-4

Orang Ketiga Pertama

Lima tahun sudah aku mengenalnya. Aku sangat menyayanginya, pun ia menyayangiku melebihi apapun. Ada binar cinta di matanya selain ketulusan yang kurasakan saat ia menatap lekat wajahku. Sangat terlihat dari sikapnya yang menunjukkan kasih sayang berjuta-juta. Ia juga selalu bangga saat mengenalkanku kepada kawan-kawannya.

Ia selalu mengatakan kalau aku itu hebat. Senyum selalu terkembang manis di bibir tebalnya , dengan dagu yang sedikit dihiasi bayangan hitam, ketika ia membicarakanku. Aku tahu betul itu.

Setiap akhir pekan tiba, ia dengan senang hati menemani aku berlatih tari. Ia selalu mengabadikan gemulai gerak dan langkahku hingga aku pementasan nanti. Itu janjinya sambil mengecup keningku penuh cinta. Sampai pada suatu ketika, sikapnya berubah tiba-tiba.

Ia tak lagi mudah diajak berbicara seperti dulu. Ia lebih betah berada di kantornya dan menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Setidaknya itu pengakuannya saat kutanyakan kenapa. Katanya, pekerjaannya begitu menumpuk hingga tak bisa menyambangiku sekadar untuk menemani makan malam. Aku tertunduk lesu, nafsu makanku hilang begitu mendapatkan pesan darinya untuk makan malam lebih dulu.

Pementasan tari pertamaku di akhir pekan ini. Ia meminta maaf karena tak bisa menghadirinya karena tugas luar kota yang mendadak. Aku kecewa. Ia telah berubah, tidak lagi menepati janjinya.

Semenjak kejadian itu, hubunganku dengannya merenggang. Telepon bordering hanya sesekali. Aku pun enggan menemuinya, meskipun aku penasaran apa yang membuatnya berubah begitu cepatnya. Tak ada lagi kata-kata sayang yang ia kirimkan sebelum aku berangkat tidur. Aku terluka dan kecewa teramat sangat.

Hingga di suatu Minggu pagi, ia datang. Ia masih tetap mempesona di mataku. Lelaki hebat yang membuatku tak pernah bisa berhenti menyayanginya. Ia mengecup keningku dan mendaratkan pelukan hangat di sela-sela menanyakan kabarku.

“Ada kejutan untukmu, sayang.”

Aku berbinar mendengar kata-katanya barusan. Mungkinkah hubungan kami akan kembali baik seperti dulu? Aku tak sabar menantikan kejutan yang dibawanya. Meski aku tahu tak ada satupun kotak berhiaskan pita manis merah jambu di tangannya saat itu.

Sesaat ia melangkah keluar, dan masuk kembali dengan sebuah ‘kejutan’ yang membuatku membeku, dan seolah membuat langit harapanku runtuh saat itu.

“Disa sayang, ini Tante Arini. Calon mama barumu.”

Seorang wanita cantik berbalut dress warna merah muda datang bersama Ayahku yang sepertinya akan mengisi hari-hariku bersama Ayah tidak lama lagi.

Jakarta, 15 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-3