Untuk Kamu Dibalik Akun Itu

Hai..

Apa kabarmu di sana? Aku tahu, kamu pasti sedikit terkejut menerima sebuah surat yang dikirimkan oleh tukang pos di PosCinta. Sebelumnya aku minta maaf karena telah lancang menuliskan sebuah surat untukmu. Kamu tak mengenalku, pun aku yang tak mengenalmu dulu. Kini aku hanya mengenalmu lewat beberapa kicauan yang tak melulu terpantau oleh mata empatku.

Beberapa kali aku melihat nama akunmu berseliweran di linimasaku. Tapi tidak lantas menggelitik rasa ingin tahuku mencari tahu tentangmu lebih jauh. Beberapa kali kawan kicauku berbincang denganmu melalui media itu, pun tak menggerakkan jemariku untuk mencari tahu siapa kamu dibalik akun itu.

Hingga akhirnya pekan kemarin, aku menemukan kicaumu yang dibagikan oleh seorang kawanku di dunia maya. Ternyata kamu adalah salah satu ‘juru kunci’ di salah satu kegiatan menulis yang aku pantau dulu sekali. Disini, rasa penasaranku mulai tersulut. Mengundang jemariku untuk bisa mengikuti cericaumu yang lain. Setiap harinya.

Banyak betul karya yang sudah tercipta lewat pikiran dan jemari yang menari lepas tak terbatas dan terangkum dalam Bianglala Kata. Aku baru tahu. Cerita-ceritamu membuat imajiku berlari liar kesana kemari dan enggan untuk berhenti, padahal malam sudah beranjak pergi.

Untukmu, di balik akun itu. Inginku hanya satu, tak perlulah beranak pinak keinginan itu. Sederhana saja, bolehkah aku mengenalmu? Berbagi cerita bersama dan membebaskan imajiku untuk berlatih menarikan jemari lebih baik lagi. Semoga kau berkenan memenuhi pintaku. Dan akhirnya aku ingin berterima kasih padamu, pemilik akun @momo_DM yang sudi meluangkan waktu membaca suratku.

 

Salam hangat,

 

Nona, si pengunjung bianglala kata

 

*Tantangan #30hariMenulisSuratCinta hari kedua, menulis surat untuk selebtwit. Bingung memilih selebtwit, saya memilih @momo_DM sebagai penerimanya. Buat saya dia itu selebtwit :D. Itu sudah.

Sedikit Pesan

Dear Mas Bro’ @herudiy

Sebelumnya, jangan bayangkan surat cinta ini penuh puja dan puji untukmu. Tolong jangan bayangkan! Dan biarkan istrimu turut membaca surat ini, mungkin sambil menikmati secangkir kopi dan juga teh hijau bersama. Entah dimana kalian ketika membaca surat ini nanti.

Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Seminggu berlalu tanpa terasa untukku, tapi kuyakin sangat terasa berbeda sensasinya untuk kalian. Hehe..

Sepertinya baru kemarin kalian berkenalan, berjalan-jalan bersama, dan  memutuskan untuk menjalin cerita cinta hingga pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Sebuah dongeng nyata, dengan kalian sebagai tokoh utamanya. Dua bulan sebelum pernikahanmu, aku memekik kaget. Betapa cepat waktu berlalu, dan akhirnya hari besarmu akan segera tiba. Semua berlalu tidak terasa!

Umm.. aku hanya ingin sedikit berpesan padamu (maaf bukan maksud sok menjadi orang tua tentunya). Tolong jaga baik-baik sahabatku (aku tahu kamu mampu), jaga hatinya agar tidak terbentur dan membiru (aku tahu kau punya segudang warna untuk itu), dan hangatkan ia ketika dinginnya suasana membekukan hatinya. Ah, kurasa kau sudah khatam untuk urusan yang satu itu.

O ya, ingatkan ia untuk tidak menguliti jemarinya. Kecup saja ia jika masih saja melakukan hal yang sama, karena sepertinya menasehatinya tidak mempan kulakukan dulu kala.

Nah, tak banyak pesanku untukmu bukan? Selamat berbahagia untukmu, untuk ia, kalian berdua. Hujan di saat akad kemarin semoga pertanda hujan berkah di perjalanan pernikahan kalian kedepannya. Dan terakhir semoga kebahagiaan kalian makin melimpah dengan kehadiran si kecil nantinya. Semoga saja aku mendengar kabar bahagia itu segera.

Salam hangat,

Nona yang menyayangi kalian berdua!

Jakarta, 14 Januari 2013
Penerima surat ini adalah seorang kawan sekaligus suami dari sahabat saya. Namanya terlintas pertama kali saat ingin menulis surat. Sedangkan surat untuk istrinya, sudah terlebih dulu terposting di ‘rumah’ ini. Sila untuk dilihat di sini.

Surat untuk Takita

Hai Takita…

Apa kabarmu di sana? Kakak baru saja membaca suratmu. Surat manis yang penuh harapan dan juga mewakili  mimpi banyak anak-anak di luar sana. Tidak hanya yang ‘karib’ dengan dunia maya sepertimu tapi juga mimpi mereka yang berada di pelosok negeri. Kamu tahu Takita, Kakak juga punya mimpi yang sama dengamu. Membagikan cerita ke banyak anak-anak di seluruh negeri ini. Mendengar mereka bebas berceloteh dan berimajinasi, serta belajar banyak hal tanpa terbebani rentetan tugas yang kadang merenggut waktu main mereka.

Kakak tidak seberuntung kamu Takita, yang dihadiahi baaaaanyak sekali cerita dari Ayah, Bunda, dan kakak-kakak yang peduli. Tapi, kakak cukup beruntung mendengar sebuah cerita yang selalu kakak dengar sejak kecil. Yaitu Si Kancil. Iya, si kancil musuh nya Pak Tani, Takita. Ibu kakak selalu menceritakan cerita itu berulang-ulang, tapi kakak tidak pernah bosan. Meskipun hanya satu cerita, tapi hal itu membawa kenangan manis untuk kakak ketika dewasa. Dan kakak ingin sekali adik-adik di luar sana juga merasakan kebahagiaan kecil itu melalui cerita.

Oiya, kakak senang sekali bercerita Takita (meskipun saat ini suara kakak sedang hilang 😦 ), setiap hari Minggu kakak dan beberapa teman senang mengumpulkan anak-anak yang tinggal di sekitar rumah. Kami biasa mendongeng cerita-cerita, baik yang diangkat dari buku ataupun cerita buatan kami sendiri. Selain dongeng, ada juga games dan aktivitas yang berkaitan dengan tema dongeng kala itu.

Seperti tema yang mengangkat tentang cerita Gurita, adik-adik kakak ajak untuk membuat sebuah miniatur gurita dari gelas air mineral. Kakak juga pernah ajak mereka membuat pembatas buku dari kertas bekas ketika tema hari itu adalah Perpustakaan. Wah, pokoknya seru deh! Hehe.. Kakak juga biasanya ajak adik-adik ini bernyanyi bersama. Mengenalkan lagu anak-anak yang pernah kakak dapat sewaktu kecil. Soalnya kakak sedih Takita, mereka hanya mengenal lagu orang dewasa kekinian saja. Huks… Tapi syukurlah, sekarang mereka sudah bisa menyanyikan lagu-lagu seperti “Aku Bisa”, “Becak”, “Ikan di dalam Kolam” (nah, lagu ini diciptakan oleh salah seorang teman kakak) dan masih banyak lagi yang lain.

Wah.. kakak sampe lupa ngenalin. Kegiatan kakak dan teman-teman ini namanya Dongeng Minggu. Kenapa Dongeng Minggu? Sebenarnya sih iseng saja, kegiatan utamanya adalah mendongeng dan diadakan setiap hari Minggu, jadi biar enak nyebutnya kakak dan kawan-kawan sepakat untuk menamakannya Dongeng Minggu. Kegiatan ini rencananya akan diadakan berkeliling Takita. Jadi tidak hanya adik-adik di sekitar rumah kakak saja yang bisa mendengarkan cerita, tapi juga adik-adik yang ada di tempat lain. Tidak melulu adik-adik yang duduk di bangku sekolahan, tapi juga mereka yang aktif di jalanan.

Oiya, kalau kamu sempat, datang dan main bersama dengan adik-adik di Dongeng Minggu yuk, Takita. Mereka pasti senang dengan kedatangan kamu dan kakak-kakak Indonesia Bercerita lainnya. Tetap semangat mengingatkan Ayah, Bunda, dan kakak-kakak yang kadang terlampau sibuk ini yaa Takita..  🙂 Dan kakak juga akan terus dukung Takita untuk menyebarkan semangat bercerita kepada setiap orang yang kakak kenal.

Jangan bersedih lagi ya Takita.. oiya, kakak ada satu cerita untuk kamu nih.. Semoga kamu suka ya.. “Kisah Peri Warna

Peluk Cium untuk Takita,

Kak Wulan 🙂

Surat Kawan Ibu Jari

Pagi ini, aku dikejutkan oleh sebuah surat yang mampir di kotak telepon genggamku. Sebuah surat tanpa subject, hanya sebuah nama tercantum disana. Seorang kawan dekat, kawan yang berjarak hanya seruas ibu jari telah mengejutkanku. Kira-kira begini isi suratnya:

Nona, kamu masih ingat pertanyaanku beberapa waktu lalu? Jika mungkin kamu lupa, aku akan bantu mengingatkanmu lagi. Pertanyaanku saat itu adalah “Aku ingin belajar menulis. Bagaimana caranya?”. Dan tanggapanmu kala itu adalah: “Kasih aku satu alasan”. Dan setelah sebuah alasan kuberikan, kamu memberikanku sebuah tugas yang mungkin untuk sebagian orang itu sangat mudah, tapi tidak untukku. Menulis surat, itu pintamu. Sekalipun, seumur hidupku aku belum pernah menulis surat. Ditambah lagi kamu memberikanku tantangan untuk menulis sebuah surat cinta. “Ah, sial betul! ” pikirku. Kamu tahu kelemahanku untuk urusan yang satu itu. Tapi, pagi ini, setelah berhari-hari aku merenungkan dan memikirkan apa kiranya isi surat ku nanti, maka pagi ini kuputuskan untuk mengirimkannya untukmu. Semoga kamu berkenan membacanya.

Ya, itu kira-kira kalimat pembuka suratnya. Aku hanya terkikik geli sendiri saat membacanya. Bagaimana mungkin dia tidak bisa menulis surat tapi bisa menuliskan surat elektronik begitu lengkap kepadaku. Tapi kejutanku tidak berhenti begitu saja, perlahan kubaca isi surat yang ia maksud. Ini dia suratnya:

Aku tak bisa tidur.
Tak peduli berapa kali pun aku memejamkan mata. Aku tetap saja tak bisa tidur.
Setiap kali gelap mencoba melelapkanku dengan serbuk-serbuk tidurnya, kau selalu merenggutnya dariku.
Wajahmu, gerakmu, tawamu, kau selalu muncul, muncul dari kehampaan untuk mengisi ketiadaan.
Aku tak bisa tidur.
Sejak kau membiarkan aku terlibat dalam kehidupanmu, aku merasa dekat, dekat dengan semua alasan penantianku menunggu dalam hidup ini.
Dekat dengan jawaban yg kucari dalam hidup ini.
Aku tak pernah menulis surat cinta, sekalipun takkan pernah.
Karena terlalu banyak bangkai-bangkai korban ketidakmanusiaan yang mengatasnamakan cinta, dan seakan-akan mereka sombong akan pengorbanan cintanya.
Aku mulai berpikir bahwa para pujangga itu harus menemukan kata lain selain ‘cinta’ untuk menunjukan seberapa besar keinginanku mendekapmu dengan mesra.
Aku mulai bosan menulis surat ini dalam penerangan temaram, dibawah bayang-bayang, disudut ketakutanku sendiri.
Aku ingin keluar, aku ingin bebas menunjukan apa yang sebenarnya kurasakan, bebas dari ketakutan.
Aku tak mau peduli pada mulut orang yang mencibirmu bukan cina, sekalipun mereka orang terdekatku.
Karena bagiku alasan itu tidak cukup untuk mengusirmu dari jam-jam tidurku.
Aku tak bisa tidur lagi.
Dan ini bukan surat cinta.

Kubaca sekali, dua kali, hingga entah berapa kali aku membacanya. Ada hal yang tak biasa aku rasakan di dalam surat ini. Manis kurasakan diawalnya, namun tersimpan emosi terpendam. Dan mulai kuketikkan surat balasan untuknya.

Hai kamu, senang sekali mendapatkan kejutan di kotak suratku sepagi ini. Aku sudah membacanya. Tidak sekali, tapi berkali-kali. Manis betul yang terlihat, namun suratmu ini sarat emosi dan kemarahan. Kelihatannya manis, memuja ‘kamu’ yang sulit untuk dihilangkan, namun sekaligus memprotes kenapa ‘kamu’ tidak sama dengan dirinya. Ini seperti bentuk protes kamu dengan keadaan, atau lingkungan. Ini terlihat dari beberapa pilihan katamu. Dan ada satu kata yang menurutku ini ‘puncak emosi’ kamu, ‘bangkai’. Hehe.. menurutku, tidak ada surat biasa apalagi surat cinta yang mengambil kata ‘bangkai’ sebagai hiasannya. Ya, setidaknya sejauh ini aku membaca surat, tidak pernah ada yang ‘iseng’ menyelipkan kata itu sih.. hehe. Dan akhirnya aku memutuskan kalau ini bukan surat cinta. Seperti kata-katamu di akhir surat. Menurutku ini sebuah pengakuan hati, sebuah pengakuan dari hati terdalam mu. Semoga kamu gak kapok menulis hanya karena ‘tugas’ dari ku yaaa.. :p
Salam,

Nona

Sent, Klik!