Pada Mas Weby, Saya Menaruh Hati

“…tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata..”

Penggalan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki yang dinyanyikan oleh Arwanto Weby di Ultah Akber ke-2 siang itu kontan membuat bulu kuduk saya meremang, dan air mata berjatuhan tanpa pernah meninggalkan jeda.

Mungkin kalau orang yang melihat saya kala itu menganggap saya terlalu melankolis, sentimentil, atau apapun. Tapi, inilah saya. Tanpa pernah bisa saya tutupi jejaknya, saya telah jatuh hati padanya. Pada Arwanto Weby.

Saya tidak mengenalnya. Bahkan tidak pernah bertemu muka langsung dengan penggerak kelas Akademi Berbagi asal kota Surabaya ini. Tapi saya merasa ‘dekat’ dengan segala pergerakannya untuk Akademi Berbagi khususnya kota Surabaya, dan saya seolah tahu siapa dia melalui cerita kawan-kawannya sesama relawan Akber.

Ia memiliki semangat yang tinggi. Dan ia mempunya mimpi yang tak pernah mati. Itu gambaran saya tentangnya pertama kali. Dengan segala keterbatasan-yang pada saat itu saya tidak ketahui-mencoba membuat Indonesia yang lebih baik dengan caranya.

Saya mencoba menyusuri jejaknya, jejak tentangnya yang ditorehkan kawan-kawan dari seluruh Indonesia yang mengenal dirinya baik secara langsung ataupun dunia maya. Jauh sebelum kabar kepergiannya gencar di dunia maya, saya coba mencari tahu tentang dirinya secara diam-diam. (ya, kini saya akui saya pengagum rahasia dirinya :D) Bahkan saya bertekad untuk mencari dia ketika saya berkesempatan berkunjung ke kota Surabaya.

Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Ia mencukupkan saya mengenal sosok Mas Weby  melalui kawan-kawannya dan dunia maya saja. Tapi buat saya, itu sudah lebih dari cukup untuk mengenal dia saat ini, bahkan mendapatkan virus semangat yang selalu saya tenggak habis ketika keluh mulai membayangi dan saat semangat mulai redup menerangi hari.

Yaa.. pada Mas Weby saya pernah menaruh hati. Mencoba mengenalnya secara langsung meskipun Tuhan ternyata belum mengijinkan. Mencoba ‘mencuri’ semangatnya yang tak pernah meredup meski ginjalnya tak lagi sepasang.

Dan hari ini, entah apa yang merasuki saya hingga ingin menuliskan secarik surat rindu untuk Mas Weby.

Damai selalu di sisiNya ya Mas.. Terima kasih untuk pelajaran hidupnya yang terekam manis di kawan-kawanmu. Semangatmu ternyata masih sangat ‘terasa’ meskipun kini kamu tak lagi ada.. :’)

Yang Merindukanmu..

weby2

*Tulisan ini saya tujukan untuk Arwanto Weby, salah seorang penggerak Akber Surabaya yang telah berpulang Juli 2012 silam. Ini hanya sebentuk kerinduan untuknya yang saya kagumi tanpa pernah mengenalnya secara nyata.
Kemang, 30 November 2012, 16.00

*foto diambil di sini

Rindu Motret Makanan

Sabtu,(24/9/2012) saya berjanji untuk datang ke pensi sekolah kawan saya Nelli. Tapi, karena dia ingin mengikuti kegiatan Akademi Berbagi Tangsel jadilah kami mengubah lokasi janjian yang sudah diatur diawal. Saya tiba dilokasi AkBer sudah hampir sore, itupun setelah nyasar beberapa kali karena tidak banyak orang yang tahu lokasi yang dimaksud. *nangis dipojokan*

Jujur, saya tidak tahu tema akber yang diadakan kali ini. Tidak tahu siapa pengajarnya. Dan tidak tahu siapa saja motor penggerak di akber tangsel ini. Ya, ini kali pertama saya mengikuti akber TangSel. Lokasi kegiatan  Akber TangSel ini diadakan di sebuah ruko yang biasa digunakan untuk kegiatan Akademi Berkebun.

Sudah ada sekitar 8 orang yang ada di dalam ruangan. Dan seorang pengajar di depan yang.. ummm..okey penampilannya agak nyentrik.  Itu kesan pertama yang saya tangkap. Yaa, saya bisa bilang demikian karena beliau ini mengenakan celana pendek, t-shirt, snickers, dan berkepala botak. Wow sekali! Hihihi…

Tapi saya benar-benar tidak mengenali beliau.  Usut punya usut akhirnya saya mengetahui kalau beliau ini adalah Danny Tumbelaka. Seorang fotografer profesional yang beberapa kali saya dengar nama besarnya. Tapi baru kali ini saya mendapat kesempatan bertatapan langsung dengan beliau.  Berkah di akhir pekan sekali!

Mas Danny, sapaan akrabnya, ternyata orang yang senang bercerita. Terbukti sekali dari cara ia menceritakan kisahnya yang bisa membuat saya menunggu penuh pertanyaan, terheran-heran dengan cerita hidupnya, dan menahan nafas ketika ia menceritakan pengalamannya memotret nude seorang yogi di Bali.

Sayangnya, saya tidak datang dan mengikuti acaranya sejak awal. Tapi, dari beberapa obrolan yang saya tangkap, Mas Danny menekankan bahwa untuk memotret itu tidak perlu kepentok dengan yang namanya alat. Dengan media apapun bisa. Mau kamera profesional, kamera pocket, bahkan kamera telepon genggam. Apalagi saat ini kamera pada telepon genggam sudah sangat canggih sekali. Sampai akhirnya, obrolan masuk pada soal food fotografi, bidang yang pernah saya geluti setahun yang lalu. Waaahhh, ini makin seru!

Mas Danny memberikan tips-tips menarik seputar food fotografi. Sejujurnya, kalau diajak ngobrol soal istilah foto, saya gak pernah tahu. Selama ini saya ‘nyemplung’ di dunia foto makanan pun karena pekerjaan. Tapi sekarang ini saya justru jatuh hati karenanya. Dan jadi kebutuhan diri sendiri. Dan melihat foto-foto makanan hasil jepretan Mas Danny, langsung membuat rasa rindu saya membuncah seketika.

Kebetulan sekali, besoknya saya mendapatkan sebuah undangan makan siang di sebuah resto yang cukup berkelas di Jakarta. Dan hal ini saya tidak lewatkan begitu saja. Jeprat jepret makanan pun saya lakukan. Ini dia beberapa hasilnya!

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa menggunakan kamera pocket saya , Sonny Cyber Shot DSC-W110. Ada juga yang menggunakan kamera saku Canon kawan saya namun tipe berapa saya lupa. (Foto-foto ini tidak mengalami perubahan sama sekali, masih aslinya)

Masih terngiang dengan jelas kata-kata Mas Danny saat saya bertanya soal pencahayaan pada makanan. Beliau mengatakan, yang namanya memotret itu butuh latihan yang sering untuk melatih ‘feel’ agar lebih peka, begitu juga mengatur pencahayaan. I couldn’t agree more! Bener-bener itu yang saya rasakan.

Berhenti selama setahun dari dunia kuliner dan jeprat jepret bikin saya canggung dan kaku ketika dihadapkan dengan makanan. Kadang ada rasa “duh, ini mesti gimana ya?” atau “ini angle nya udah pas belom?” selalu saja ada kekhawatiran. Padahal dulu saya ngga pernah peduli dengan itu. Semua saya jepret. Semakin banyak semakin bagus. Tidak pernah puas, sampai akhirnya saya menemukan yang ‘paling’ oke diantara sekian banyak asal jepret itu.

Hmm…ini benar-benar akber yang membawa nostalgia. Dan saya ingin untuk terus mencobanya lagi. Mencoba untuk menyelami kamera saya kembali dan asyik untuk mencoba mengabadikan apapun lewat media apapun. Seperti kata Mas Danny, yakinkan diri dulu bahwa dengan alat apapun kita tetap bisa menghasilkan karya yang bagus.  Dan suka dengan apa yang tengah di potret itu juga penting. Hmm.. mungkin kalau bisa saya simpulkan, pede dulu ajah sama apa yang jadi hasil karya sendiri, jangan pikirkan ‘racun sesat’ orang lain. Berlatih dan resapi ‘feel’ dalam memotret, itu dua ‘kunci’ yang saya tangkap di Akber Tangsel saat itu.