Sekeping Salut, Setangkup Lelah, dan Sepotong Maaf

Sebelum saya mulai bercerita, saya ingin memberikan hormat saya pada semua editor, guru-guru bahasa. Kenapa? Cerita berikut ini yang menjadi alasan saya memberikan penghormatan sedalam-dalamnya.

Kalian tentu masih ingat saat saya bercerita tentang kegiatan saya mengajar? Eh ralat, jadi teman belajar tema-teman kecil di salah satu sekolah dasar di bilangan Bekasi, kan? Nah, tentu kalian juga masih ingat kalau saya menjadi teman mereka dalam menulis. Semoga ingat. *siapin pentungan kalau nggak ingat*

Nah, rencananya di akhir tahun ajaran, yang akan berakhir minggu depan, semua hasil karya teman-teman kecil saya itu akan dibukukan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini cerita dimulai.

Saya yang memiliki latar belakang pendidikan dunia teknik, tentu tidak begitu ‘akrab’ dengan dunia mengajar apalagi tulis menulis (sampai detik ini saya mencoba terus belajar dan mengakrabinya), tapi saya justru mendapat mandat untuk menjadi ‘penasihat’ pembuatan buku. Tentu kalian bisa bayangkan betapa kalang kabutnya saya, kan?

Lha wong saya ngedit tulisan saja nggak pernah. Kecuali tulisan saya sendiri tentu saja. Kalaupun pernah ngedit tulisan, itu tulisan orang-orang dewasa yang sudah tahu penggunaan huruf besar, kata sambung, kata depan, serta tulisan tangan yang sudah rapi juga cerita yang runut dan logis.

Sedangkan di sini, saya tidak hanya berjuang membaca tulisan mereka yang terkadang lebih mirip huruf paku, tetapi juga khilafnya mereka menggunakan spasi antara satu kata dengan kata lain. Lupa menggunakan tanda baca, huruf besar, bahkan lupa dengan cerita yang ditulisnya di awal!

Saya bagai bermain puzzlle. Ngutak ngatik tulisan dan mencoba mencerna apa yang ingin mereka sampaikan tanpa mengurangi sisi kanak-kanan mereka dalam tulisan itu. Meskipun seorang editor berhak mengubah tulisan tapi bukan berarti mengubah gaya menulis anak-anak itu, kan?

Total anggota ada 26 dan setiap anak dipilih dua karya terbaiknya (kalaupun tidak ada yang layak, satu karya tetap wajib dimasukan apapun hasilya. Duh!) Tak jarang saya harus memeras otak mengimbangi frekuensi imajinasi saya yang sudah liar arus ‘kiri’ dengan frekuensi mereka yang masih menari-nari dengan asyiknya di pekarangan rumah.

Tak jarang pula saya menemukan cerita-cerita yang ‘ajaib’ untuk anak umuran mereka. Cerita horor yang byuh! bikin saya mengernyitkan dahi saat membacanya. Cerita legenda yang super ngawur tapi jenaka. Dan tidak sedikit cerita yang saya sangat bisa tangkap itu terjadi di lingkungan mereka, hingga membuat saya geleng-geleng kepala.

Dari tulisan-tulisan mereka, saya sedikit banyak mengetahui lingkungan seperti apa keluarga yang membesarka mereka. Sangat tercermin sekali dari cara mereka berbicara, berinteraksi, menuangkan isi pikiran mereka, bahkan ketika cerita itu digadang-gadang sebagai cerita fiksi atau fabel.

Belum selesai dengan urusan baca-baca tulisan, edit-mengedit tulisan, tugas saya sudah bertambah lagi. Membuat lay out buku hingga menjadi designer untuk sampul buku tersebut. Berhubung teman-teman saya sedang full slot kerjanya, jadi tidak bisa saya rayu dan jawil untuk dimintai bantuan. Hiks..hiks..

Dan sudah hampir seminggu ini, saya jadi macam orang gila. Tidur selalu lewat jam 2 malam, bangun saat subuh tiba dan bekerja hingga malam datang. Begitu siklus kerja saya beberapa hari terakhir. Hingga saya lupa untuk memanjakan lambung saya yang tengah dihajar gas lambung yang kian membumbung tinggi sebulan terakhir. Sigh!

Ngomong-ngomong, mata saya sekarang sudah mirip mata panda. Ada lingkaran hitamnya. Huruf-huruf yang ada di hadapan saya kadang berubah-ubah. Tiba-tiba bisa menari-nari, berpindah tempat dengan sendirinya lalu hilang dari pandangan. Tentu ini hanya halusinasi saya saja, mungkin terlampau lama bercumbu dengan laptop pinjaman yang ukurannya sangat mini.

Saya jadi membayangkan, bagaimana jika saya jadi editor sesungguuhnya ya? Baru editor kacangan saja saya sudah lelah luar biasa. Huufff.. Makanya saya salut dan angkat topi untuk para editor diluar sana dan juga guru bahasa dimanapun Anda berada. *tiba-tiba siaran RRI*

O ya , saya juga sempat mengabaikan ajakan manis kawan maya saya, Masya, untuk menulis bersama. Mohon maaf saya sebesar-besarnya sama kamu, Masya. Awal Juni ternyata tidak juga membuat slot kerja saya melunak. Justru semakin gila! Saya belum sempat menghubungimu via whatsapp dikarenakan ponsel jadoel kesayangan saya sedang ngambek. Ketika sudah benar, saya terkena penyakit lupa. Duh! *sungkem sama Masya*

Oleh karenanya saya meminta maaf melalui forum ini. Karena saya tahu, janji itu hutang dan hutang saya sudah terlampau banyak. Semoga tulisan ini bisa meringankan rasa bersalah saya ya.. *pasang muka melas di depan Masya*

Hmm.. baiklah, saya menulis ini disela-sela istirahat saya dari ngedit. Dan sepertinya, malam sudah semakin larut. Mata saya sudah tak bisa diajak kompromi lagi tapi saya masih harus menyelesaikan semuanya. Jadi, saya sudahi dulu break time saya dengan ngeluh di sini. Mari kita kembali ke lap… top! *lho?!

 

Kandang beruang, 8 Juni 2013 ; 00.15

*Nonayanglagisumpekdidepanlaptoptapimalahasyikcurhatdiblog

Advertisements

Masih Tentang Russel

Pagi ini datang terlampau cepat. Aku yang semalaman tak bisa tidur karena memeriksa tugas anak kelas enam terpaksa mengambil jatah tidur malam. Dua gelas kopi hitam ternyata tak membuat mata ini berkompromi untuk tetap terjaga. Aroma teh chamomile milik Rendra- guru olah raga- menggelitik penciumanku untuk menyesapnya juga.

Untung saja pagi ini tidak ada kelas, kalau tidak entah bagaimana rupaku saat memasuki kelas nantinya. Aku masih ingat betul dua bulan lalu, ketika aku kekurangan tidur karena harus mengawal pementasan anak kelas 12 di GKJ. Tiba di rumah pukul 2 dini hari dan pagi hari aku harus mengajar anak kelas 1.

Sepagian mereka menyecarku dengan pertanyaan “Miss Tya matanya kenapa?” atau “Miss Tya are you okey? Are you galau miss?” yeah.. kata ‘galau’ sepertinya sudah merasuki murid-murid kecilku ini. Entah apakah mereka benar-benar tahu artinya atau hanya mengikuti tren di kalangan senior mereka di lingkungan sekolah.

Pertanyaan mereka tak kan berhenti sampai disitu saja. Mereka akan terus mencari tahu ada apa denganku dan mereka juga mencari tahu bagaimana membuat wajahku kembali ceria seperti semula.

Ada yang membelikan aku es krim, memberikan bekal makan siangnya, atau ada yang memberikanku apel dan cokelat. Bahkan, Terry, meminjamiku iguanannya yang tidak pernah absen masuk kelas. Rrrr.. aku memilih tersenyum selebar-lebarnya daripada harus mengelus-elus iguana miliknya sepanjang pelajaran.

Tapi terlepas dari semua itu, aku terharu dengan sikap mereka. Mereka begitu peduli dengan sekitarnya, dengan kawannya, dengan gurunya. Ah, semoga saja orang tua dan lingkungan tidak akan mengikis kepedulian mereka nantinya.

Karena pagi ini tidak ada kelas, aku memilih untuk menuju perpustakaan untuk mencari referensi materi mengajar, atau menikmati secangkir teh chamomile di belakang gedung perpus.

Untuk mencapai perpustakaan, aku harus melintasi dua lapangan basket yang luasnya lumayan untuk olah raga. Lapangan yang satu sedang digunakan anak-anak kelas empat untuk bermain basket sedangkan lapangan satunya dipersiapkan untuk anak kelas satu berolah raga.

Paling seru melihat anak-anak kelas satu ini berolah raga. Gayanya selalu ada saja yang bisa bikin perut sakit karena tertawa. Atau terbengong-bengong takjub karena sikap mereka yang kadang tak terpikirkan oleh nalar orang dewasa.

Sampai akhirnya, mataku menangkap sosok yang sangat akrab denganku.

“Russel,” gumamku.

Mengapa anak itu tak ikut kelas olah raga? Lalu apa yang ia lakukan di pinggir lapangan. Otakku berdialog sendiri, menerka-nerka apa yang dilakukan Russel kali ini. Apakah ia mulai berulah lagi? Ah, nanti saja aku tanyakan langsung padanya.

***

Pukul sepuluh, aku mulai mengajar di kelas satu. Suasana ramai terdengar dari ujung kelas. Teriakan Sean melengking seperti biasa. Kalau tidak Terry yang jail bersama iguananya, pastilah Russel yang mengganggunya. Selain itu, masih ada suara tawa Donny yang mirip-mirip Takeshi alias Giant di serial Doraemon. Ya, kelasku ini memang super bukan main! Super ramai, berisik, nakal, tapi sekaligus ngangenin.

Kalau mengajar di kelas ini, tidak hanya mempersiapkan materi pelajaran saja, tapi juga fisik dan mental yang berkali-kali lipat jumlahnya. Meskipun begitu, akan selalu ada serum bahagia yang terisi di pundi-pundi hati saat aku keluar dari kelas. Sederhana.

Saat aku memasuki kelas, anak-anak langsung berhamburan kembali ke bangkunya masing-masing. Remi, seorang bocah berperawakan mungil, berkacamat tebal, langsung berlari menujuku sambil menghamburkan pelukan setiap kali aku memasuki kelas. Berkali-kali aku memintanya untuk tidak melakukan hal itu kecuali jika pelajaran telah usai. Tapi ia enggan menuruti perintahku. Ini sudah seperti tradisi di keluarganya untuk memulai apapun dengan sebuah pelukan hangat. Pada akhirnya, aku berkompromi dengan itu.

Pelajaran berlangsung tanpa terasa. Kini saatnya mempersiapkan mereka untuk pulang dan sedikit memberikan ‘oleh-oleh’ untuk disantap di rumah.

Semua anak-anak berpamitan padaku. Jangan pernah bayangkan  akan ada adegan cium tangan saat pulang sekolah. Sepertinya tradisi itu hanya ada di sekolah negeri jaman aku bersekolah dulu. Sejak awal aku bergabung di sekolah ini, tidak ada kebiasaan itu. Tapi, ada beberapa anak yang selalu memberikanku pelukan serta kecupan saat pulang sekolah. Ah, hangat rasanya!

Selain Russel yang kuminta untuk tinggal di kelas, anak-anak lain sudah berpamitan. Russel tampak bingung ketika kuminta ia untuk tinggal di kelas sebentar saja. Raut wajah protes ia tampilkan seolah menolak permintaanku, tapi kuyakinkan ia ini hanya sebentar saja.

“Russel, tadi pagi kamu kenapa nggak ikut pelajaran olah raga?” tanyaku langsung padanya.

“Umm..aku..aku ikut kok Miss.”

“Hayoo, jangan bohong. Tadi pagi Miss lihat kamu duduk di pinggir lapangan sambil minum teh botol,” ujarku lagi.

“Nggak, Miss,” kilahnya.

“Kamu tahu kan, Miss Tya nggak suka kalau murid-murid Miss Tya bohong? Nah, kamu harus jawab jujur Russel,” jelasku lagi.

“Bener Miss, aku nggak bohong,” jawabnya berusaha meyakinkanku lagi.

“Lha terus, kalau bukan kamu siapa dong yang minum teh botol di pinggir lapangan? Miss Tya lihat kamu lho, Mr.  Rendra juga,”

“Iiihh..Miss Tya nggak percayaan banget sih?! Aku nggak minum teh botol! Aku minum estea tadi pagi,” penjelasannya kali ini dibarengi dengan wajah serius dan nada yang meninggi. Sedangkan aku, berusaha menahan tawa sekuat tenaga.

Oh Tuhan, Russelku ini bukannya meyakinkan aku kalau dia ikut olah raga, tapi meyakinkan aku kalau yang dia minum itu bukan teh botol seperti yang kutuduhkan padanya, melainkan estea. Hahaha…

Kemang, 29 April 2013

Hari Pertama? Siapa Takut!

Setelah perbincangan cukup lama dan aksi rayu merayu yang cukup alot, akhirnya Jumat malam kemarin aku mengiyakan ajakan seorang kawan untuk mengajar di sekolahnya. Dan hari pertama aku mengajar adalah esok harinya. *okesip! Rasa-rasanya mau paralayang*

Kadung mengiyakan, akupun mulai memutar otak kira-kira apa yang akan aku bawakan di hari pertama mengajar nanti.

O ya, di sekolah ini aku menjadi guru tamu setiap hari Sabtu. Menjadi guru ekstra kulikuler dalam menulis. Walah.. ini sebenarnya yang membuat aku maju mundur saat menerima tawarannya. Pasalnya, aku bukan seorang penulis terkenal apalagi sampai menelurkan buku. Aku baru seorang blogger yang mencoba konsisten dalam menulis, terangku saat itu.

Tapi justru kawanku ini kekeuh  bin ngeyel untuk merekrut aku menjadi salah satunya. Menurutnya, aku mungkin akan lebih diterima anak-anak muridnya ketimbang guru sebelumnya. Hmm.. rayuan yang menarik. *dem! Kemakan rayuan juga kan, hahaha*

Singkat kata, mulailah aku mengajar di sekolahnya Sabtu pagi. Beruntung, jalanan hari itu cukup bersahabat. Tidak ada kendala menuju sekolah yang memakan waktu satu jam jarak tempuh normal tanpa macet. Selama perjalanan aku tak bisa duduk tenang. Macam bisul di pantat yang mau pecah saja rasanya, resah!

Tiba di sekolah, ternyata sedang ada acara doa bersama untuk murid kelas 6. Tidak hanya murid-murid saja yang berkumpul tapi juga orang tua siswa turut bergabung dalam acara itu. Aku? duduk di salah satu meja kantin sambil menunggu kawanku yang terlambat datang.

Lima belas menit berselang, kelaspun di mulai. Baru ada 10 murid yang hadir. Bingung, itu sudah yang ada di kepalaku. Aku mencoba tersenyum dan melihat wajah mereka satu persatu yang aku sangatyakin penuh dengan tanda tanya, “ini siapa ya?”.

Aku mulai memperkenalkan diri, namun belum ada yang tertarik mendengarnya. Mereka menjawab pertanyaanku sekadarnya saja. Oh, dem! Aku bingung harus menceritakan apa. Akhirnya aku ajak mereka untuk menebak arti namaku. Mencoba menerka kapan aku ulang tahun dan kira-kira berapa usiaku. Di situ, mereka mulai tertarik. Syukurlah!

Makin seru saat aku bilang aku adalah anak tunggal. Mereka tidak ada yang percaya. Lantas mereka bertanya apakah enak menjadi aku, si anak tunggal yang tak kesepian. Aku juga menceritakan kegiatanku sehari-hari. Mereka langsung mengajukan banyak sekali pertanyaan. Hahaha..

Tak terasa waktu berjalan cukup cepat. Anak-anak yang hadir pagi itu kurang lebih ada hampir 20 orang dan kesemuanya perempuan. Hmm.. girl power sekali!

Aku mulai mengajak mereka bermain. Membuat cerita dengan mengawali membuat sebuah gambar yang saat itu mampir di kepala mereka. O ya, saat aku bilang “gambarkan satu binatang yang saat ini terlintas di kepala kalian”, Haura, si jail yang punya senyum manis kontan protes kepadaku “Kak, aku nggak punya kutu. Terus aku gambar apa dong?!”. Pertanyaannya saat itu bikin aku tertawa terpingkal-pingkal. Belum saatnya menggunakan perumpamaan itu, meskipun aku juga menjelaskan maksudnya.

Kuajak mereka untuk membuat cerita bersama. Kuberikan waktu untuk membuat satu kalimat, sampai akhirnya selesai sudah menjadi satu cerita utuh.

Ada yang senang dengan permainan ini, ada juga yang frustrasi karena kalimat sebelumnya yang dibuat teman sebelahnya sama sekali nggak nyambung. Ada juga yang mengisinya dengan hal-hal aneh.

Setelah selesai, aku ajak mereka membacakan cerita-cerita tadi di depan kelas. Masing-masing dari mereka harus memberikan penilaian apakah tulisan itu sudah memenuhi kriteria yang telah disepakati atau belum dan apakah sudah enak untuk di dengar atau belum.

Aku menilai anak-anak ini sangat pintar. Mereka sudah bisa membedakan mana kalimat utuh dan mana yang tidak. Mana yang masuk akal mana yang hanya imajinasi. Yaaa, meskipun konflik anatar teman tak bisa dihindari juga.

Belum lagi Awa, murid kelas dua yang petakilannya bikin sakit perut. Ia tiba-tiba saja masuk ke kolong meja tanpa aku sadari dan mulai ‘menggerayangi’ telapak kakiku pelan-pelan. Kontan saja aku menjerit kaget. Dan murid-murid lain pun tertawa melihat wajah kagetku.

Ada satu cerita yang manis untuk dibacakan. Aku mulai membacakan di depan kelas. Aku terkejut melihat wajah-wajah manis itu yang duduk tenang dan menyimak apa yang sedang aku bacakan. Arina, si chubby yang manis tiba-tiba saja berkata “Aku suka Kak Eka baca cerita, minggu depan baca cerita lagi ya Kak,”. Aaaak! Rasanya melayang-layang dipuji oleh Arina. Dia tidak tahu kalau aku sudah keringat dingin berdiri di hadapannya. Hihihi.. Tapi bukankah mereka juga tak perlu tahu?

Tak terasa, kelas pun selesai. Mereka berpamitan padaku untuk pulang dan tak lupa mengingatkanku untuk membacakan cerita untuk mereka minggu depan. Ada satu anak yang mendaratkan pelukan padaku sebelum ia pulang. Keisya namanya, si mungil yang ternyata sudah duduk di kelas tiga. Hihihi.. siapa menyangka?!

Pada akhirnya satu yang aku pelajari pagi itu. Kita tidak pernah bisa berbohong di depan anak-anak. Anak-anak memiliki cara yang unik untuk memilih siapa yang membuat mereka nyaman hingga memutuskan menerima untuk jadi bagian dari diri mereka.

Nama besar dan segudang prestasi bukan kunci untuk menjadi dekat dengan mereka, itu hanya sebagai nilai tambah untuk memberikan mereka ilmu. Dan saat ini tugasku baru sebatas menjadi teman bermain mereka, menumbuhkan kecintaan mereka dengan dunia menulis, hingga memiliki keberanian untuk tampil membawakan karya mereka sendiri nantinya. Itu sudah.

 

Depok, 16 Maret 2013

 

Cerita Tentang Russel

Ini adalah minggu pertama aku mengajar di sekolah ini. Sekolah bertaraf internasional yang terletak di bilangan Jakarta Barat. Tegang? Ah, tentu saja. Kali ini aku bukan menghadapi wajah-wajah mahasiswa tengil dan tukang gombal seperti tahun lalu. Sekarang yang kuhadapi adalah wajah-wajah lugu yang masih gemar minum susu.

Wajah-wajah polos yang masih sering ngompol di celana dan memberikan makan siang nya hanya karena ia tak suka bentuk potongan sayurnya. Ya, aku mulai mengajar anak-anak yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Tertantang? Ah, tentu saja!

Mengajar mereka justru lebih menantang jika dibandingkan harus menghadapi muka genit mahasiswa tingkat akhir yang kutemui hampir setiap hari.

Cerita seru selalu saja terpilin. Ada saja celotehan mereka yang membuat perutku sakit. Tak sedikit pula tingkah laku mereka yang kadang membuatku gemas namun harus kutahan rasa inginku untuk mencubit pipi gempal kemerahan itu. Kadang, aku tak tahan untuk melayangkan pelukan untuk murid-murid gempalku yang tak bisa duduk diam di bangkunya. Kalau sudah begini, mereka akan memelukku lebih erat dan mengatakan “I love you, Miss Tya”. Ah, manis!

Di kelas, ada seorang anak yang sudah mencuri perhatianku sejak pertama. Aku selalu memanggilnya Russel. Ya, karena ia mirip sekali dengan Russel si anak anggota pramuka yang ada di film UP. Gempal dan menggemaskan!

Siang ini pelajaran Bahasa Indonesia. Murid-murid di kelas kuberi tugas untuk latihan menulis selagi aku memeriksa hasil pekerjaan mereka yang lain. Disaat anak-anak yang lain asyik dengan buku dan pensil mereka, Russel justru sibuk sendiri dengan pensilnya.

Kuperhatikan ia dari tempatku yang hanya berjarak lima jengkal. Oh ya, Russel tidak pernah suka duduk di belakang. Padahal tubuhnya sering menghalangi pandangan Sean yang tubuhnya jauh lebih kecil, setengah dari tubuh Russel. Kalau sudah begini, aku harus mendamaikan mereka dengan membuat bangku sejajar dua agar mereka bisa berada di barisan depan.

Balik lagi, Russel sibuk memainkan pensil Mickey Mousenya. Setiap ia mulai menulis ia menjatuhkan pensilnya. Diambilnya pensil itu dan kembali menulis selang beberapa saat pensil itu dijatuhkannya lagi. Aku yang sejak tadi memperhatikannya jadi gerah juga. Kutegur ia.

“Russel, kalau kamu main-main terus dengan pensilmu, tugas yang Miss.Tya kasih nggak akan selesai ,” tegurku.

“Ini susah, Miss,” jawabnya tanpa mau melihat mataku langsung.

“Apanya yang susah? Kan sudah dikasih contoh tadi,” nadaku sedikit meninggi.

Ia hanya tertunduk. Memaju mundurkan pensil yang tergeletak di atas buku tulisnya. Wajahnya sulit kutebak apakah ia memang sedang memberontak dari perintahku tadi atau ia menyesal.

Tiba-tiba..

“Aku ngga bisa pakai ini, Miss,” wajahnya melihatku dengan memelas sambil menunjuk pensil yang masih dimain-mainkannya.

Aku yang bingung dengan jawabannya hanya bisa bertanya “kenapa?” sambil menunggu rangkaian jawabannya yang lain.

“Pensil ini nggak bisa aku pegang, Miss. Pasti terlepas terus,” tuturnya sambil memperlihatkan jari-jarinya yang pendek dan gempal.

Kontan saja saat itu juga tawaku ingin meledak tapi segera kutahan dengan sekuat tenaga. Jari-jari Russel yang gemuk-gemuk itu tidak bisa memegang pensil dengan benar, sehingga pensil itu selalu tergelincir dari tangannya. Mukanya yang sedih, membuatku menahan tawa segera.

“Yasudah, kamu nulisnya pelan-pelan aja ya. Biar pensil kamu nggak jatuh lagi,” hiburku yang akhirnya membuat ia kembali tersenyum dan semangat untuk menulis lagi.

***

Pekerjaanku memeriksa tugas-tugas ini hampir selesai ketika Russel mencoba mengganggu Sean yang membuat si kecil itu berteriak nyaring dan melengking. Aku menyerah kalau Sean sudah mulai berteriak-teriak. Pusing!

Aku mencoba melerainya.

“Hei..hei.. kalian kenapa ribut-ribut? “ tanyaku sambil menengahi mereka yang mencoba saling pukul.

“Itu tuh Russel Miss, masa aku disuruh-suruh terus dari tadi. Tugasku belum selesaaaaaaiiii,” teriak Sean yang nyaris menyaingi Mariah Carey dengan nada falsetonya.

Russel yang memang tahu ia bersalah, hanya  menunduk sambil memainkan ujung rompi bajunya.

“Russel, kamu minta apa sama Sean sampai Sean marah?” tanyaku pelan-pelan. Russel hanya diam. Matanya tak berani melihatku ia hanya menunduk dalam-dalam sambil terus memainkan ujung bajunya. Sedangkan Sean yang sudah mulai tenang kembali asyik dengan buku dan pensilnya. Syukurlah!

“Russel.. Miss Tya tanya sama kamu lho..” aku coba bertanya lagi padanya.

“Aku Cuma minta tolong ambilkan pensil ku yang jatuh di lantai doang kok Miss,”jawabnya sambil menunjuk pensil yang terjatuh di lantai.

“Kenapa kamu nggak ambil sendiri?” tanyaku lagi.

“Nggak bisa!” sanggahnya dingin. Ah, anak ini sedang berulah lagi rupanya. Aku mulai memaksa ia untuk mengambil pensil yang jatuh. Dan ia tetap menolak.

“AKU NGGAK BISA, MISS!” teriaknya kepadaku. Aku mulai sedikit memaksa ia untuk mengambilnya dengan sedikit memberikan pandangan tajam ke arahnya.

Dengan berat hati ia mulai mencoba meraih pensil itu. Tapi tidak bisa. Tangannya tak sanggup menggapai pensil itu.

“Russel, kalau kamu ngambilnya begitu pasi susah, coba jongkok dan ambil,” kataku sambil terus memperhatikan apa yang dikerjakannya.

“Uh..uh.. sulit Miss!”

AStaga! Sial! Aku baru menyadari satu hal. Russel tidak bisa jongkok! Paha dan betis yang gempal agaknya menyulitkan ia untuk melakukan itu terlebih perutnya yang tambun makin mempersulit ruang geraknya.

Tapi demi Tuhan, di luar rasa kasihanku melihatnya yang bersusah payah mencoba mengambil pensil itu aku tertawa melihat pemandangan lucu di hadapanku. Tapi aku urungkan niat menolongnya. Ia harus belajar untuk berusaha mengambil apa yang ia memang inginkan dan perlukan.

Ada rasa inginku untuk memberi tahunya untuk mencari cara lain, tapi ia tetap berusaha jongkok untuk mengambil pensil itu. Peluh sudah mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam menahan sesak saat ia mulai jongkok. Tapi tiba-tiba ia berdiri. Dan men gembangkan senyum lebar. Aku heran dengan sikapnya.

Lalu dalam hitungan detik ia duduk dan tengkurap untuk bisa menjangkau pensil yang ada di bawah mejanya. Ah, Russelku pintar! Aku menahan tawa melihat gaya nya yang lucu saat mencoba menggapai pensil itu. Tapi akujuga terharu dengan usahanya.

Satu masalah selesai,  masalah lainnya muncul. Ia tak bisa berdiri! Haha.. Akhirnya aku tak tega, dan memutuskan untuk membantunya. Kulihat bajunya sudah basah dengan peluh lengkap dengan debu yang menempel akibat aksinya tadi.

Aku langsung menghamburkan pelukan untuknya yang langsung disambut dengan sebuah pertanyaan yang tak akan aku lupa hingga sekarang.

“Miss Tya udah nggak marah lagi kan?”

“Ngga dong. Kamu kan pinter!” jawabku sambil mengusap kepalanya.

“Horeeee!! Aku takut liat Miss. Tya tadi, matanya kayak mau copot! Kayak Mad-Eye Moody di Harry Potter!” tuturnya riang sambil memamerkan deret gigi yang tak lagi utuh karena cokelat dan permen.

Aaaaakkk!!! Anak ini! Aku makin menghujaninya dengan pelukan erat sambil mencubit-cubit pipi gemuknya tanpa peduli ia yang berontak ingin kabur dariku.

Kemang, 4 Maret 2013

Dongeng Interaktif

DM2Di penghujung tahun 2012 lalu (30/12/12), Dongeng Minggu kembali hadir untuk berbagi cerita bersama kawan-kawan kecil di Palsigunung. Kali ini, saya agak kesulitan dalam mempersiapkan cerita yang akan dibawakan. Tema sudah disepakati,  yaitu Dongeng Negeri Kayu Hutan. Namun ternyata, waktu untuk mempersiapkan bahan-bahannya sangatlah kurang.

Awalnya, saya sudah mempersiapkan konsep finger puppet untuk dongeng kali ini. Menyiapkan ‘panggung’ sederhana dan lakon yang saya buat dengan kertas bergambar. Tapi ternyata, semua peralatan belum juga selesai  saat waktu pertunjukkan tiba.

Sampai akhirnya, Kak Arnellis, kawan saya mengusulkan untuk mengajak kawan-kawan kecil ikut berpartisipasi dalam mendongeng. Hmm.. ini akan jadi dongeng yang sangat menarik!

Dengan bantuan sebuah white board, saya mulai bercerita.  Saya meminta salah seorang kawan DM yang berani untuk menggambarkan pohon-pohon selayaknya di hutan. Dilanjutkan dengan membuat sebuah istana atau kastil. Pada awalnya, mereka enggan untuk berpartisipasi. Hanya sesekali melemparkan seloroh melihat gambar saya yang jauh dari kata bagus. Hehe..

Tapi untunglah, satu persatu mereka mulai berani untuk maju dan memperlihatkan karya mereka di depan teman-temannya.  Dongeng ini tidak hanya melibatkan mereka untuk berani tampil di depan teman-teman tapi juga untuk berani menyuarakan pendapat mereka. Apa saja menurut mereka yang bisa ditemui dalam hutan.

Seperti halnya ketika saya mengajak mereka untuk memilih nama tokoh Raja dan Ratu. Saya meminta mereka untuk menyumbangkan nama-nama kayu yang mereka ketahui  untuk dijadikan tokoh dalam dongeng. Akhirnya, ditemukanlah nama-nama tokoh dongeng ini. Ada Raja Damar, Ratu Meranti, Panglima Jati, Patih Mahoni, dan sederet pasukan Cemara.

Sebuah dongeng tak lengkap rasanya tanpa tokoh antagonisnya. Maka kami memutuskan untuk membuat satu tokoh jahat, si Pembalak Liar. Nah, untuk detail dongeng nya seperti apa, kamu bisa intip di sini!

Seperti biasa, selesai mendongeng, ada kegiatan membuat prakarya. Kali ini, Kak Arnellis mengajak kawan-kawan DM untuk membuat sebuah payung harapan yang berbahan dasar sumpit bekas dan juga kertas warna warni.

Mereka dibebaskan untuk berkreasi dengan payung-payung hasil buatan mereka dan menuliskan harapan-harapan mereka di 2013. Hmm..seru! Ada yang ingin naik kelas, ada yang ingin masuk SMP unggulan, ada juga yang ingin tambah tinggi lho!

Seperti biasa, sebelum pulang kawan-kawan kecil mendapatkan ‘oleh-oleh’ asyik dari Kak Anisa. Selamat menyambut tahun baru 2013, teman-teman! 😀

*PS: untuk melihat foto kegiatan, bisa langsung cek di fabpage Dongeng Minggu di sini!

 

Dongeng Minggu: Miniatur Hujan

This slideshow requires JavaScript.

September hampir usai, tapi keceriaan masih akan terus berjalan meskipun bulan tidak lagi sama. Seperti halnya hari ini, (30/09/12), kegiatan Dongeng Minggu yang ke 27 diadakan dengan tema ‘Berharap Hujan’. Kesibukan bulan ini cukup luar biasa, sampai-sampai kami lupa kalau ternyata sudah hampir di penghujung bulan September.

Saya lantas mengusulkan untuk mengadakan dongeng bertemakan hujan, yang langsung disambut baik oleh rekan-rekan lainnya. Sejujurnya saya sendiri tidak punya stok cerita mengenai hujan. Bahkan untuk aktivitas yang akan dilakukan anak-anak pun tidak. Tapi, di dalam kepala saya saat itu adalah “yang penting dongeng tetap berjalan”. Saya masih ada dua hari untuk memikirkan bagaimana alur cerita serta tokoh-tokohnya.

Akhirnya, cerita pun terangkai. (Untuk ceritanya, akan saya posting nanti ya)

Aktivitas yang dilakukan adalah membuat tetes hujan. Awalnya saya ingin mengajak mereka membuat sebuah diorama tentang langit dan hujan. Tapi ketika melihat adik-adik yang masih terlalu kecil dan juga waktu yang terlalu mepet akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah miniatur hujan saja.

Adik-adik dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Hal ini dilakukan agar terrcipta kerja sama diantara mereka. Dan masing-masing dari mereka mau bertanggung jawab dengan tugasnya sendiri. Tidak mudah memang mengatur anak-anak ini. Bahkan tidak sedikit yang mengadu kalau rekan kerjanya tidak melakukan tugas sebagaimana mestinya. Tapi ini justru sebagai latihan mereka dalam berinteraksi dan bersosialisasi namun dengan cara yang asyik.

Miniatur hujan yang kami buat, bisa dijadikan sebuah pajangan sederhana dengan bentuk awan dengan tetes-tetes air hujan, yang disisipi halilintar namun ada harapan karena terlihat pelangi. Semua adik-adik dibebaskan berkreasi untuk membuat hujan mereka sendiri. Ada yang membuatnya versi dua dimensi ada juga yang membuatnya versi tiga dimensi. Saya juga sedikit memberikan gambaran untuk miniatur hujan yang bisa dijadikan hiasan kamar.

Selain itu, kenapa saya mencoba mengajak mereka membuat miniatur hujan ini, adalah sebagai latihan syaraf motorik mereka. Karena kebetulan sekali, adik-adik yang datang usianya merupakan usia bermain yang penasaran dengan hal-hal baru yang mereka lihat, serta melatih kreativitas melalui pekerjaan tangan.

Menggunting, menempel, bagian-bagian yang kecil itu jadi latihan dasar mereka. Yaaa.. memang tidak semuanya mahir dalam bermain kertas, gunting dan lem. Tapi saya lihat semua cukup tertarik dan sudah bisa dibilang mereka bisa mengikuti kegiatan ini.

Setelah semua selesai membuat hujan mereka sendiri, saatnya untuk menceritakan apa yang telah mereka buat. Wah, banyak sekali kisah yang tertoreh dari satu lembar kertas yang diberikan di awal tadi. Hmm..saya jadi ingin bikin dongeng tentang siklus air dalam bentuk permainan wayang nih. Ada yang ingin membantu? Ditunggu lhooo… 😉

Kukis si Hidung Pesek

Pagi tadi dalam perjalanan menuju tempat mengais rupiah, saya bertemu dengan seorang anak kecil yang usianya mungkin sekitar 5 tahun. Anak ini lucu sekali dan cukup pintar menurut saya. Ia terus saja berceloteh riang, meskipun si ibu tampaknya sudah bosan menganggapi segala pertanyaan polosnya.

Pipinya gembil hampir saja saya tergoda untuk mencubitnya dan untung saja saya tidak lakukan. Saya terus menatap dan memperhatikan setiap gerak geriknya. Uuuhh.. benar-benar menggemaskan. Saat dia sadar saya tengah menatapnya dia tak lantas malu-malu seperti kebanyakan anak kecil lakukan.

Justru dia malah semakin menunjukkan sikap bersahabat, saya suka! Sambil asyik berkutat dengan ipod mencari-cari lagu yang sreg di hati, tiba-tiba saya sedikit mendengar si kecil ini bernyanyi. “si kukis…si kukis..” Entah apalagi lanjutannya. Semakin lama suaranya semakin terdengar.

Iseng-iseng, ipod saya matikan dan mulai mendengarkan apa yang sedang ia nyanyikan. Dan akhirnya terdengarlah sebuah lagu..
“kukis.. si hidung pesek.. kukis si hidung pesek..,”. What?! Lagu apa ini? gumam saya. Sambil terus menatap wajah anak ini, saya mencoba mendengarkan apa sih yang sebenaranya dia nyanyikan.

Tiba-tiba… saya menatap sebuah keganjilan, tiap kali ia menyebutkan “kukis, hidung pesek” ia selalu menatap saya. Terus berulang dan berulang. “Arrgggggghh..” ada apa dengannya?! Kenapa saat ucapan ‘hidung pesek’ dia harus menatap saya?! Dan tiap kali kata nya berganti dengan yang lain ia menatap ke arah lain dan saat kemabali ke ‘hidung pesek’ ia langsung menatap saya. Hiks..hiks..

Saat dia turun, dia menyempatkan diri menoleh ke arah saya memberikan senyum menampilkan jendela di giginya, sambil mengatakan “kukis si hidung pesek..” saya lantas membalas senyumnya dengan perasaan pasrah. (dasar anak kecil!)