Berkenalan dengan Lembah Syawal

Lelah. Hanya itu kata bergayut manja tidak hanya di pelupuk mata tapi juga di sekujur tubuh yang terlipat tak terbentuk rupa sejak dari Jakarta menuju Ciamis. Kesal yang menumpuk menambah rasa lelah saya berlipat-lipat ganda jumlahnya.

Mulai dari menahan keinginan BAB yang sialnya menghantui saya selama di perjalanan. Ditipu mentah-mentah sama supir angkot di Bandung, sampai dioper-oper ke sana kemari. Saya mengantuk. Saya capek. Belum lagi macet yang luar biasa ganasnya di sepanjang jalan Tasik. Lengkap!

Dan saya menyadari satu hal, kalau ternyata lelah juga bisa memicu pertengkaran besar. Saya dan Panglima Hujan perang dingin di tengah perjalanan. Entah apa penyebabnya. Untunglah itu tak berlangsung lama.

Panjalu. Tujuan perjalanan saya hari itu.

Tidak ada bayangan tentang tempat yang akan saya tuju. Tidak ada sama sekali. Mendengar namanya pun baru hari itu. Tapi tidak dengan Panglima. Tempat itu begitu ia akrabi sejak bertahun-tahun silam. Menurutnya, ada damai yang sederhana yang selalu ditawarkan tempat itu. Dan saya ingin merasakannya. Ya, saya sedang butuh tenang. Butuh yang kelewat kejam.

Sembilan jam sudah saya lewati. Sampai akhirnya, saya tiba di satu daerah bernama Panjalu. Punggung rasanya panas. Pegal nggak karuan. Kaki-kaki yang tertekuk menjerit minta segera diluruskan. Saat asyik-asyiknya meregangkan pinggang, kaki, dan tangan, seorang pria kecil bersama bocah lelaki dengan cemong putih, bedak yang tak merata di wajahnya, menghampiri.

Senyumnya terkembang. Dijabatnya lengan Panglima dengan mantap. Ah, seorang kenalan lama rupanya. Sepertinya ia juga yang akan membawa saya ke tempat tinggal beberapa hari ke depan.

Dengan sepeda motor matic, saya dibawa menuju tempat tinggal Kang Mamas, pria yang bertemu saya di Panjalu. Kang Mamas membawa Panglima bersama Adim, si kecil yang bersamanya. Sedangkan saya dibonceng Dalih, keponakan Kang Mamas.

Angin sore menepuk-nepuk pipi saya. Dingin dan sejuk yang menyenangkan. Jejeran kolam ikan di tiap rumah serta hamparan hijaunya sawah jadi pemandangan yang umum di sini. Semacam karpet hijau yang minta ditiduri oleh tubuh yang terjerat letih.

Kepala saya berkali-kali menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba ‘menelan’ hamparan hijau yang tersaji cuma-cuma di hadapan saya. Lupa rasanya letih, lupa rasanya kesal yang selama perjalanan mencambuk saya dengan buasnya.

“Di desa ya begini ini, Mbak”

Kalimat Dalih seperti menyeret saya kembali ke alam nyata. Sepertinya ia menyadari betul kalau wanita yang sedang dibawanya ini jarang melihat pemandangan seperti ini. Saya hanya tersenyum malu melalui kaca spion sepeda motor. Saya menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi peparu saya yang gempita sejak tadi. Saya ogah rugi. Saya harus menyerap happy serum sebanyak yang saya bisa di sini.

Tiba-tiba jalanan menyempit dan menanjak. Tidak ada lagi jalanan beraspal yang sejak tadi mengawal saya dari Panjalu. Saya menahan napas. Bukan karena terlalu senang, tapi lebih karena terlalu ngeri melihat jalanan yang curamnya kebangetan. Sebuah turunan di hadapan saya nyaris sembilan puluh derajat sudutnya. Bukan lagi jalanan tanah, tapi jalanan berbatu tajam yang semisal saya jatuh, pasti memar dan luka tajam saya dapat. Ya, mengendarai motor di daerah ini butuh keahlian. Keahlian yang tidak main-main. Tetiba saya merinding sendiri.

Saat pikiran saya masih asyik dengan kengerian, Dalih menghentikan laju motornya. Ia menoleh ke arah saya sambil tersenyum.

“Selamat datang di Lembah Syawal”

Saya terkesiap. Muka saya absurd, antara pucat juga senang. Lembah Syawal, tujuan saya, sudah tersaji manis di depan mata. Sebuah desa terpencil di kaki gunung Galunggung menyapa saya dengan kesederhanaannya. Dengan riuh warga desa yang menyambut saya dengan begitu ‘mewah’ keramahannya. Suara air yang mengalir deras entah di mana, serta gemercik air yang mengalir dari batang-batang bambu ke dalam petak-petak kolam nila.

Ibu-ibu beragam usia berjejer manis menyalami kedatangan saya. Sepertinya mereka semua tahu kedatangan saya sore itu, yang mereka perkirakan tiba lebih awal. Diberondongnya saya dengan beragam pertanyaan. Saya tak merasa terganggu, justru buncah senang di hati saya.

Segelas kopi  hitam kental mengepulkan uap panasnya, tersuguh dalam gelas bergambar bunga mawar. Sepiring singkong goreng, lanting, dan opak jadi temannya. Ah, saya tidak menyangka penyambutan ini begitu ‘mewah’ rasanya. Bukan soal yang terbaca oleh mata, tapi lebih yang terasa di hati.

Orang-orang ini tidak mengenal saya. Mereka hanya mengenal Panglima. Tapi mereka menyambut kami seperti keluarga. Entah dari keturunan siapa. Lembah Syawal menawarkan damai untuk saya yang tengah dilanda penat Ibukota. Dan warga desa menawarkan saya secuil bahagia yang efeknya luar biasa. Di tengah hawa dingin yang menusuk malam harinya, ada hangat keluarga yang menyelimuti saya.

Lalu, apa yang saya lakukan di sini? Tidak ada. Saya menyengajakan diri ke tempat ini demi pundi-pundi bahagia yang nyaris habis termakan angkuhnya Jakarta. Saya harus mengisi ulang pundi-pundi tersebut sebelum Ibukota mengambilnya serabutan di awal pekan.

Oleh karenanya, ijinkan saya menikmati orkestra malam yang dipimpin suara kodok bangkong bersahutan dengan tonggeret di luar sana.

Selamat malam semesta, taburkan sejuta kerlip bahagia untuk siapa saja yang memang membutuhkannya. Seperti saya.

 

Lembah Syawal, Mei 2013

Advertisements

[Random] Mantra Bahagia

Ngeluh? Mungkin nggak akan ada habisnya. Mulai dari bangun tidur, mandi, siap-siap ke kantor, berangkat ke kantor, kerja, terus makan siang sampai menuju rumah dan kembali tidur. Nggak sedikit keluhan yang terselip selama beraktivitas.

Tapi hari ini saya nggak mau mengisi tulisan saya dengan keluhan(semoga). Saya hanya ingin bersyukur atas apa yang saya dapatkan hingga hari ini. Saya bersyukur untuk hidup saya yang masih tetap berwarna dengan cantiknya hingga siang ini.

Meskipun mendung malu-malu mampir di pelupuk mata, saya selalu percaya kalau mendung itu nggak akan pernah lama. Semua bagian yang indah sudah ada porsinya. Tidak akan pernah salah datangnya dan selalu tepat takarannya. Karena jika berlebihan pun tidak baik hasilnya.

Saya juga bersyukur untuk semua pelajaran hidup yang pernah saya dapatkan. Bukan hanya dari para sahabat tapi juga dari mereka yang mungkin tak begitu berkenan dengan kehadiran saya. Karena mereka saya tahu arti berjuang. Tahu artinya menghargai dan tahu artinya bertahan. Memperjuangkan bahagia itu sama susahnya dengan mempertahankannya. Jadi saya berusaha untuk tidak mengabaikan bahagia apapun bentuknya.

Setiap orang di sekeliling saya punya andil besar dalam pembentukan saya saat ini. Tidak terkecuali. Saya belajar banyak dari mereka. Belajar tentang hidup beriringan sebagaimana mestinya.

Bukan jadi makhluk individu yang tenggelam dalam dunianya sendiri saja. Saya juga berdamai dengan Mr. Liliput di dalam kepala. Saya meminta padanya untuk tidak terlalu sering mengajak saya berdialog ketika ada orang lain di hadapan saya. Agar saya tidak lupa bagaimana rasanya bersosialisasi dengan orang di sekeliling saya.

Apa lagi?

Intinya, saya tengah menghitung bahagia yang berlimpah ruah jumlahnya. Enggan menghitung masalah serta keluhan yang jumlahnya kadang tak seberapa tapi efeknya membuat raut wajah cembetut luar biasa. Saya tidak mau kalah dengan itu semua. Saya bahagia, saya bahagia, dan saya akan bahagia. Itu mantra saya di kepala.

Ketika semua itu tertanam di dalam hati dan terangkai manis di kepala, tak mungkin semesta luput menghitungnya. Semua itu dimulai dari dalam jiwa. Kalau saya katakana jiwa saya bahagia, maka Tuhan menghantarkan semesta yang juga bahagia ke sekeliling saya.

Kemang, 27 Mei 2013
*otak yang random menunggu makan siang*

Coz I’m Pretty!

Cantik itu nggak melulu hadir dengan tampilan yang mewah, pakaian serba mahal plus glamor, make up tebal yang menyulap wajah jadi lebih mirip boneka. Cantik cukup bisa dilakukan dengan satu hal, menanamkan bahagia dalam hati dan pikiran.

Karena ketika kita merasa bahagia, orang lain akan merasakan kebahagiaan yang kita punya. Aura yang kita pancarkan juga akan membuat kita terlihat lebih cantik tanpa bantuan apapun. Seperti hari ini, hati saya sangat bahagia. Lebih bahagia dari biasanya. Dan saya merasa cantik hari ini (hehe, narsis dikit ya). Semoga orang lain pun mengamini.

Tidak perlu susah-susah menduga apakah saya menang lotre atau sedang jatuh cinta. Saya hanya sedang mencoba berpikir positif setiap pagi menanamkan bahagia di hati dan pikiran saya. Sehingga saya merasa cukup percaya diri untuk memulai aktivitas setiap hari.

Do I look pretty, today? YES! Haha.. *dilarang protes!*

simple but makes comfort  :D

simple but makes me comfort 😀

Jakarta, 1 Februari 2013
Mengawali Februari dengan mencoba menghipnotis diri, saya ‘cantik’ setiap hari. Bahagia itu sederhana bukan? 😀