Perjalanan Pagi Ini

Matahari pagi ini sedikit malu-malu menunaikan tugasnya. Mungkin ia terlalu asik membenamkan diri di peraduan karena dibuai oleh awan-awan kelabu nan gendut di atas sana. Aku memandang langit sekilas, tak menyilaukan. Aku tak perlu memicingkan mata untuk bisa menatap langit pagi ini. Dan aku tak perlu pusing memikirkan bagaimana melindungi punggung kakiku agar tidak terpanggang saat menunggu kopaja tua di ujung jalan. Kamu tahu? Lamanya serupa dijajah Belanda 350 tahun. Ya, kurasa selama itu rasanya. Dimana harap-harap cemas biasa menggayut manja.

Sebelum kulanjutkan perjalanan menggunakan kopaja, aku menggunakan angkot biru tua yang biasa menyambutku di mulut gang rumahku. Ada beda di perjalanan kali ini, aku tak mengisinya dengan tidur. Aku memilih mengedarkan pandanganku ke jalan raya yang pagi ini cukup bersahabat dengan lalu lintas hatiku. Tidak padat, tapi juga tidak lengang.

Ada aroma tanah basah yang tercium lamat-lamat oleh hidungku melalui celah jendela yang terbuka sedikit saja. Apakah pagi tadi hujan? Hmm..kurasa tidak. Ada aroma segar yang mengisi peparuku dengan cukup baik. Memberikan asupan rasa dalam kepala yang kini tengah kuolah agar tertuang dalam aksara tapi entah bagaimana menyebutnya.

Kuhirup lagi dalam-dalam aroma ini. Uhuuk! Ada bau polutan jahat yang sengaja ingin merusak pagiku. Segera kurapatkan celah jendela untuk sementara. Aku tak akan membiarkan ia masuk dalam paru-paruku dan menciutkan usaha peparu dalam menarik oksigen di udara. Tidak akan!

Mataku tertumbuk pada ruas-ruas jalan yang kini tampak berbeda. Daun-daun berserakan di sisi kiri jalan. Bukan daun kuning yang gugur karena pohon-pohon ini mulai meranggas di musim kemarau. Tapi daun ini memang sengaja dipangkas entah oleh siapa. Potongan balok-balok kayu tergolek tak berjauhan dari tumpukan sampah daun hijau di ruas kiri jalan.

Ada sedih yang tak bisa aku ungkapkan bagaimana rasanya. Pohon-pohon angsana rindang di sepanjang jalan raya Bogor kini mulai menghilang perlahan. Awalnya hanya dahan-dahan, tapi kini sudah dibabat habis hingga batang utamanya.

Mungkin ini memperhitungkan faktor keselamatan pengguna jalan raya. Aku masih ingat betul bagaimana salah satu pohon ini tumbang dan akhirnya menimpa salah satu mobil yang sedang melaju di jalan raya. Mobil yang berada tepat di depan angkutan yang sedang kugunakan.

Lantas bagaimana dengan konsep lahan hijau yang ingin diciptakan kalau semua pohon-pohon ini harus dipangkas habis? Bagaimana nasib peparu yang masih merindukan oksigen di udara? Jika setiap pagi saja sudah harus mencium polutan yang berterbangan dengan bebasnya. Bahkan merpati saja kini tak lagi terbang bebas, tak seperti lagu yang dibawakan Kahitna.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menikmati setiap oksigen yang mengisi peparu perlahan, meskipun ada saja orang yang merusak pagi dengan mengepulkan asap tembakau seenaknya. Tidakkah mereka pernah merasakan indahnya pagi tanpa harus memulainya dengan sebatang tembakau yang terhisap dalam-dalam di bibir kehitaman? Ah, aku terlalu nyinyir pagi ini.

Kopaja tua sudah terlihat di ujung jalan sana. Aku harus bersiap untuk turun. Menghentikan lamunan serta obrolan di kepala segera, jika tidak ingin tertinggal laju kopaja. Ya, pagiku tak seindah yang kulamunkan baru saja. Aku masih harus menjadi monyet kopaja untuk waktu yang entah berapa lama.

 

Pagi Semestaaa.. 🙂

Jakarta, 14 Februari 2013

Tak Akan Lama. Janji!

Memulai hari dengan sebuah air mata rasanya itu akan mengacaukan mood satu harian. Entah untuk orang lain, tapi buat saya Senin pagi ditambah air mata menghasilkan jenuh sejadinya, mellow se-mellow-mellownya, dan semua yang kelabu ‘mampir’ seenaknya.

Saya nggak pernah tahu ada apa dengan saya hari ini. Pagi tadi saya mendapat telepon dari seseorang yang belakangan memang mengisi hidup saya. Nothing special. But I know my morning will be fine after his call. Berangkat kerja lebih pagi dari biasanya mencoba menghindari macet di Senin yang luar biasa.

Tiba di tempat kopaja tua biasa menyandarkan tubuh ringkihnya. Tidak ada satupun kopaja mangkal di sana. Saya memilih untuk naik kowanbisata, dengan resiko ongkos saya lebih mahal dari yang seharusnya (selain ojek yang saya harus hitung lebih jauh jaraknya).

Bis kowanbisata sudah terlalu penuh. Untunglah saya masih bisa berdiri dengan baik di ambang pintu. Sampai sini, saya masih baik-baik saja. Ada seorang pria berbadan sedikit tambun langsung menjejakkan kakinya di ambang pintu, mendesak saya hingga terhimpit diantara laki-laki lain yang berdiri di dekat saya. Di sini, posisi saya sudah tidak tegak sempurna.

Pinggang saya mulai sakit terdesak benda entah apa yang dibawa seorang wanita di belakang saya. Bersabar hanya satu kuncinya. Macet mengular sejak memasuki pintu tol hingga berada di sepanjang jalur lingkar luar Jakarta. Menyemangati diri untuk tetap optimis, semangat, tidak boleh menyerah saya lakukan terus menerus. Berusaha tersenyum melihat pantulan wajah saya di salah satu kaca yang ada di pintu.

Menarik nafas dan membuangnya sambil meneriakkan dalam hati, “Kamu Bisa! Impian kamu ada di depan mata!”. Ya, kata itu saya lantunkan berulang kali. Terus menerus hingga mungkin lelaki yang bergelayutan di sebelah saya menganggap saya aneh dengan racauan yang keluar dari bibir saya.

Mobil melaju kencang ketika jalanan sedikit lengang, namun ngerem mendadak tiba-tiba. Pinggang saya terdesak oleh benda yang dibawa penumpang lainnya. Sakit bukan main rasanya. Tiba-tiba saya terbayang wajah Mama, dia yang ada di Jogja, masa depan saya, mimpi saya, dan juga apa yang sedang saya perjuangkan saat ini.

Deg! Saya mellow. Ada gemuruh di dada saya dan rasa yang tertahan di tenggorokan mendesak minta keluar. Saya menahannya, mencoba menyebut nama Tuhan sebanyak yang saya bisa. Saya tak mau kalah dengan kondisi yang harus saya jalani pagi ini. Tanpa terasa ujung mata saya menghangat. Sepasang air mata saya jatuh, meski terhalang dengan sapu tangan yang saya dekapkan erat di hidung menghindari polutan jahanam yang ada di jalanan. Sedih sejadi-jadinya, tapi saya mencoba untuk tegar.

Hingga tiba di perempatan Cilandak, seorang kernet mendorong saya selagi bis masih melaju dengan cepatnya. Saya meminta ia untuk tidak mendorong saya.

“Bang jangan dorong-dorong, nanti saya jatuh,” itu yang saya katakana padanya.

“Makanya naik ke atas!” hardiknya membuat saya kesal. Tapi saya mencoba mengatakan padanya dengan nada biasa saja.

“Saya turun di depan kok bang,”

“ASTAGAAA! Hari gini masih ada ajah orang SOMBONG! Susah banget diatur!” teriaknya kepada saya. Saya kaget dengan kata-katanya. Mungkin kalau saya tadi berbicara dengan nada yang ketus saya maklum dia membalasnya seperti itu. Tapi, ini…

Akhirnya saya memutuskan untuk turun meskipun saya harus berjalan kaki sangat jauh karenanya. Saat saya mencoba menyebrangi jalanan dan berharap lampu lalu lintas masih merah menyala, saya dengar si kernet kurang ajar itu meneriakkan makian pada saya. Makian yang seharusnya tidak saya dengar di Senin pagi. Makian yang bikin siapa saja yang mendengarnya pasti ingin mendaratkan sebuah bogem mentah di mulut kernet kurang ajar itu.

Tapi saya memilih untuk berjalan dan meninggalkannya. Mencoba menghilangkan suaranya dari kepala. Apa daya, suaranya masih saja nyaring di telinga. Saya sakit hati. Air mata saya keluar makin menjadi. Saya terisak di pinggir jalan raya. Mengeluarkan emosi yang sejak tadi mengganjal. Saya marah? Iya. Saya terhina? Iya. Tapi untuk apa saya ladeni makhluk tak berhati tadi? Untuk sebuah kepuasan sesaat? Tidak akan saya biarkan. Jadi saya mengalah hari ini, menangis hari ini karena saya masih manusia. Saya butuh mengeluarkan secuil kerikil yang mengganjal di hati kecil saya. Membersihkan mata saya dengan air mata sementara. Ya, cukup sementara saja. Tak perlu lama-lama!

Jakarta, 4 Februari 2013

Hari Ini

today

Terbuat dari segudang kantuk yang menggunung tak terbendung,

sebentuk cemas yang enggan meranggas,

serpihan lelah yang menggerogoti tubuh hingga luluh

Serta sebuah bongkahan halus di kening yang kudapat karena mengadu kekuatan dengan besi kopaja tua.

Tak ada yang seindah hari ini meski nyeri masih senantiasa menggayut manja

Untukmu, di luar sana..

semangati diri hadapi hari ini dengan sebuah senyuman manis yang kau punya.

 

Jakarta, 28 Desember 2012

Batal Ngantor

Berangkat ke kantor seperti biasa. Pagi-pagi benar aku sudah berjuang diantara desakan penumpang yang sepertinya enggan menyurut tiap harinya. Naik angkutan kota menuju pemberhentian pertama -dimana kopaja tua sudah menanti dengan manisnya-  dan memilih mengenyakkkan diri di pojokan angkot sambil mencoba memejam sekejap saja.

Tapi nyatanya, mata sulit terpejam karena ulah supir yang ugal-ugalan tanpa juntrungan. Ah tapi setidaknya mataku beristirahat sejenak tanpa perlu melihat macet yang justru membuat otakku berpikir lebih penat.

Macet yang kian mengular membuat aku semakin resah. Angkot belum juga tiba di lampu merah, aku memilih untuk turun dan menyusuri jalanan ketimbang cemas dan menyerah dengan kemacetan.

Melihat penampakan kopaja tua semakin mendekat, kupercepat langkahku hingga setengah berlari. Tapi sayang, aku tidak bisa juga menelusup hingga ke dalam kopaja karena terlalu sesak. Ah, aku sedang tidak ingin menjadi monyet. Umm..maksudku terlalu menyelami peran menjadi monyet pagi ini. Setidaknya tanganku tidak perlu berkorban di pagi yang sedikit kelabu ini.

Keringat sudah membanjiri kening hingga leher. Tidak seperti biasanya pikirku. Biasanya keringat mulai berlarian jika aku sudah berada di dalam sesaknya kopaja. Lagipula pagi ini matahari masih malu-malu, panas nya juga belum membakar seperti pagi-pagi sebelumnya. Namun semua itu aku abaikan.

Sudah hampir setengah jam aku berdiri di sini, tapi penampakan kopaja tua belum juga terlihat di kejauhan. Panik menyerang. Peluh semakin asyik bernaung di wajah, punggung dan sekujur tubuhku. Mukaku semakin tertekuk sempurna. Aku melihat bayangaku di kaca mobil yang baru saja melintas dengan cantiknya. Tetiba lengan kiriku terasa gatal, aku abaikan.

Lima menit berselang, kopaja tampak tersendat di kejauhan. Aku berlari menujunya, menyambutnya dengan tangan terbuka dan memeluknya dengan erat seerat yang kubisa. *lebay* Iya aku berlari berlomba dengan penumpang lainnya. Berusaha menggapainya dengan sekuat tenaga, mencoba menghindari becek yang bisa meruntuhkan rupaku pagi ini. Daaaannn… Hap! Aku melompat sedikit mencoba meraih pinggiran pintu kopaja tapi tidak terjangkau, mencoba menjamah lengan salah satu penumpang yang sayangnya ia justru menghindar. Aku terjatuh dengan manisnya.

Nyeri? Ah itu pasti! Tapi itu masih bisa aku tahan. Tapi MALU? Nah ituuuuu….susah hilaaang! Memang sih aku tidak jatuh terduduk, hanya terpelset sedikit dan untungnya masih menjejak di kaki sendiri, tapi tetap saja kakiku rasanya ngga karuan karenanya. Orang-orang hanya bisa bilang “Udah mbak jangan dipaksakan”. Ah, Shit! Umpatku dalam hati sambil menahan nyeri dan malu yang menggayut manja sekali pagi ini.

Aku mengirim kabar kepada rekanku kalau akan sangat terlambat pagi ini. Dan bersabar untuk menantikan kopaja lainnya datang menjemput putri manis yang tampangnya asem seperti susu basi lebih dari tiga hari (oh, tolong jangan minta aku menjelaskan kenapa aku tahu rasanya). Agak lama sekali kopaja ini datang. Aku sudah tidak bisa mencari alternatif kendaraan lainnya. Ojek? Oh tidak! Ongkosku pasti akan terkuras habis, dan tentu saja ini akan berpengaruh pada kesejahteraan makan siang nantinya. Lantas apa yang mesti aku lakukan? Hah! Bersabar kali non, emang ada yang lain? Uyeah…benar sekali bersabar! Gak heran ini pantat semakin lebar kebanyakan sabar. *oh abaikan saja tulisan barusan*

Tak perlu aku jelaskan kembali bagaimana peluh ini banjir bukan? Ya, banjir bandang sudah terjadi. Saya mulai lemas, berkali-kali air di botol mampir di tenggorokan hanya untuk mengganti cairan tubuh saya agar tidak lemas dibuatnya.

Makin lama, nafas saya semakin sesak. Mata saya terasa berat, dan pandangan agak kabur. Hingga aku merasakan kedut-kedut semakin menjadi di sekitar area bibir dan mata. Penglihatan tidak saja kabur tapi juga terasa sulit membuka mata secara sempurna.

Punggung saya seperti diserang ribuan semut yang menggigit dengan asyiknya. Tidak hanya gatal dan sakit, tapi juga panas sekali rasanya. Aduduh, ini semakin gak beres! Dan tiba-tiba semua pandangan saya gelap! Aku (sukses)terjatuh.

Tidak lama, aku sudah bisa membuka mata. Ternyata seorang ibu sudah berada di sampingku dan menanyakan keadaanku. Oh no! something wrong with me lately!

Saya meminta ibu tersebut untuk mengantarkanku ke pangkalan ojek terdekat dan aku langsung ngacir ke klinik terdekat untuk diperiksa. Dan dugaanku benar, alergiku kambuh!

Muka sudah setengah bengeb layaknya maling digebukin sehabis nyolong ayam kate di kelurahan. Aku tak henti-hentinya menggaruk dan nafas semakin sesak. Menurut dokter, kondisi tubuhku  tengah menurun jadi tak heran kalau alergi ini kambuh dengan kurang ajarnya.

Kamu tahu ini alergi apa? Sinar matahari. Iya, sinar matahari. Gak elit banget ya?! Jadi aku tak bisa bertahan terlalu lama terpapar sinar matahari secara langsung, kecuali kondisi fisik benar-benar dalam keadaan prima. Sedangkan akhir-akhir ini kondisi tubuh sedang menurun drastis.

Setelah diberikan suntikan (tanpa obat) aku langsung pulang ke rumah. Muka masih bengkak, dan aku disuruh istirahat. Sampai di rumah, aku langsung tidur dan tidak bisa menjelaskan ke Ibu tentang hal ini, bahkan memberi kabar kepada rekan saya tidak.

Semoga besok bisa bertarung dengan kondisi tubuh dan HRD tentunya. Masalahnya, aku lupa meminta surat keterangan dokter bahwa saat ini tengah terserang alergi! 😥 *nangis di pojokan*

Kandang beruang, 5 November 2012
Nonayangmasih asyikmenggarukdanbengkakbengkak

Everyday is Voucher Day!

Apa yang terlintas di kepala ketika mendengar kata ‘voucher’? voucher belanja? voucher menginap? atau voucher makan? Saya yakin, semua itu langsung ada di kepala kita. Siapa sih orang yang akan menolak jika diberikan voucher? Setiap mendengar kata ‘voucher’ pasti mata langsung berbinar dan rasa penasaran menggayut ingin tahu, voucher apa gerangan?

Untuk kali ini, saya tidak pernah berminat secuil pun dengan voucher. Bahkan jika harus dibayar dan diberikan secara cuma-cuma. Tidak, terima kasih!

Ini dia voucher yang saya maksud.

Voucher terlambat masuk kantor!

Ini adalah salah satu kebijakan kantor yang baru berlaku per 22 Oktober lalu. Jam kantor yang dimajukan menjadi pukul 8 pagi ini memang dikeluhkan oleh banyak pihak. Terlebih untuk divisi saya. Memang sih akhirnya jam kerja nya hanya sampai pukul 5 sore, tapi toh tidak banyak perubahan yang berarti jika jam pulang dimajukan.

Ironisnya, setiap yang terlambat akan mendapatkan surat sakti berupa ‘voucher’ yang apabila sudah tiga kali akan mendapatkan doorprize berupa Surat Peringatan alias SP dari pihak HRD. WOW!

Agak-agak aneh peraturan baru ini. Sejujurnya, saya dan kawan-kawan di Brand Development memang agak susah yang namanya datang pagi. Maklumlah, kami ini para pencinta dunia malam ketimbang pagi. Hehe.. *bukan alasan woy!*

Saya bukan morning person. Meskipun sudah datang sejak pagi, otak belum bisa tune langsung. Biasanya saya baru bisa mulai bekerja antara pukul 11 siang atau bahkan sehabis makan siang. Itu waktu-waktu riskan saya untuk bekerja. Jadi maaf kalau ada bbm atau sms yang lama sekali terbalaskan diatas jam makan siang. Hihihi..

Lha terus kalau pagi saya ngapain? Eits tenang, saya dan teman-teman biasanya akan diskusi pagi tentang banyak hal. Tentang ide-ide apa yang akan dikembangkan nantinya atau bahkan info-info terbaru seputar dunia digital dan juga design. So, saya ngga nganggur-nganggur banget laaah! Hihi.. *ditoyor HRD*

Jadilah, tanggal 22 Oktober lalu itu hari pertama diberlakukannya peraturan ini. Pagi-pagi benar saya sudah bergelut dengan angkot dan kemacetan jalan raya Bogor. Saingan saya dalam memperebutkan angkot tercinta ternyata bukan hanya sesama pekerja saja, tapi juga dengan pelajar! Gilak, rebutannya ngalahin orang-orang yang ambil uang pensiunan!

*emang para mbah-mbah itu kalau ambil uang pension rusuh ya?*
*ditimpuk sandal*

Belum lagi ada pelajar yang melambaikan uang 5ribu demi dapat diangkut oleh angkot sok jual mahal itu. Beuuhh…saya harus pasang strategi nih!

*berniat pasang foto JUPE* *plaaak!*

Volume kendaraan di Senin pagi itu ibarat rindu pelaut pada daratan. Semua berlomba untuk segera sampai, semua memadati jalan raya, klakson saling berteriak nyaring, tidak ada yang mau mengalah. Apalagi ketika sebuah kopaja dengan lancangnya memotong perjalanan sebuah sedan hitam mulus seperti baru saja keluar dari show room. Umpatan tentu saja tak terelakkan. Saya? Tidur!

Sampai di pemberhentian pertama. Huff.. peluh sudah membanjiri kening dan baju, hingga dalemannya. Sudah tak peduli lagi riasan muka masih tampak atau sudah luntur bersama dengan keringat yang mengalir deras.

Perjuangan saya belum berakhir. Kopaja tercinta belum tampak batang persenelingnya *ngeri bener kalau batang perseneling keliatan*. Padahal ribuan jemaah haji puluhan orang sudah harap-harap cemas menantikan kedatangan sang pujaan hati, si kopaja tua.

Saat kopaja datang, olala.. ternyata sudah ada generasi tarzan bergelantungan di tiap pintunya. Tak tanggung-tanggung ada enam orang tengah melatih otot lengan mereka. Saya? Memilih menunggu saja. Saya masih belum berniat jadi binaragawati dan bersaing dengan para tarzan dadakan ini.

Setelah menunggu, akhirnya kopaja lainnya tiba. Tak kalah sesak dengan sebelumnya tapi masih lebih ‘manusiawi’ sedikit, meskipun beda kadarnya hanya 10 persen saja. Paling tidak saya tak perlu jadi monyet kopaja pagi itu.

Perjuangan lagi-lagi belum berakhir. Jalanan padat merayap sejak masuk pintu tol hinggaaaa….Kemang Raya! *pingsan*

Pasrah, hanya satu-satunya cara selain doa menghadapi jalanan seperti ini. Turun dari kopaja dan cari alternatif lainnya? Hmm..saya enggan latihan tarik urat dengan tukang ojek di pangkalan yang bersikukuh memasang tarif yang bisa merenggut kejayaan makan siang saya nantinya.

Iya, biasanya tukang ojek itu sok jual mahal kalau lagi dibutuhin. Jadi, saya hanya bisa bersabar sambil sesekali menahan nafas karena lelaki di samping saya sepertinya lupa membubuhi ketiaknya dengan roll on sebelum berangkat. *rasanya pengen pingsan lagi*

Voila.. saya tiba! Belum, belum tiba di kantor. Baru sampai di perempatan jalan. Saya harus berjalan kaki sekitar 200 meter untuk sampai di lokasi. Dan setibanya di depan kantor, muka saya sepertinya sudah tidak keruan. Terlihat sekali dari wajah Pak Sunarto, satpam kantor yang terpekik kaget lihat wajah saya. *kayaknya letak hidung sudah pindah entah dimana*

Dan tiba saatnya finger print. Jeng..jeng! Saya tiba dikantor pukul 8.45 menit. Terlambat empat puluh lima menit dari jadwal masuk seharusnya. Wohoooo!!!! *salto*

Jadilah saya mendapatkan voucher berhadiah berlibur ke Bali seumur hidup yang harus ditanda tangani oleh direktur marketing. (kenapa direktur marketing? Oh, don’t ask me why, karena sampai sekarang saya juga belum tahu alasannya).

Obrolan di ruangan Mr.Ganteng:

Me : “Pak, saya mau minta tanda tangan untuk ini (sambil menyodorkan sebuah voucher berhadiah)”

Him : (tersenyum) “Wah, telat kamu lama banget. Memang berangkat dari rumah jam berapa?”

Me : “Umm..kalau ngga salah ingat, jam 6 pagi pak” *nyengir lebar, garuk-garuk kepala*

Him : “Ha?! Okey, jadi perjalanan kamu hampir 3 jam ya? Ckckck.. kalau gini sih saya gak bisa nyuruh kamu berangkat lebih pagi ya.. kecuali kamu mau buka tenda di depan kantor!” *tertawa geli seolah habis mengusulkan Timbuktu pindah ke Nusakambangan*

Me : “…” (heee..bapak lucu deh, boleh dicubit-cubit dikit gak? ßtentunya hanya di dalam hati) *digetok*

Dan akhirnyaaaaa… sebuah voucher dengan dibubuhi tanda tangan Mr.Ganteng pun sudah dikantongi tinggal diberikan ke HRD. Hahaha… *tertawa puas penuh kemenangan*

***

Hari-hari berikutnya, saya tetap mendapatkan voucher berhadiah. Dan setiap hari pula saya harus mengejar Mr.Ganteng untuk minta tanda tangan yang susahnya ngalahin minta tanda tangan artis saking sibuknya dia. Serius deh, ini masih ada dua lagi yang masih butuh tanda tangan. Padahal ini voucher minggu kemarin. Hufff…

Dan tiap pagi pula ibu saya dengan eksisnya ngabsen  saya dengan meng-sms demikian:

“Gimana dek, hari ini dapet tiket konser apa? Hahaha…”

Bah! Dikira saya asoy geboy kali ya dapat voucher ini. Pengen sih bilang, kalau pagi ini saya dapat tiket menuju hatinya… *blushing* *curcol woy!* Huff.. kita lihat, sampai kapan voucher ini akan berlaku. Sebulan. Dua bulan. Atau bahkan setahun? Entahlah..

Tapi menurut saya pribadi, hal ini sangat tidak efisien. Setiap manusia yang bekerja, mereka sudah punya tanggung jawab pada diri sendiri dan perusahaan masing-masing. Meskipun saya datang siang, saya tahu harus pulang pukul berapa.

Sayangnya, ketika keberadaan di kantor lebih dari jam kerja hal itu tidak lantas jadi bahan pertimbangan perihal keterlambatan. Semua dipukul rata. Itu dianggap loyalitas. Lantas, bagaimana dengan kondisi pekerja itu sendiri? Bukankah happy workers are productive workers? Kalau sudah terkekang masalah ini, apakah akan terus jadi happy workers? Entahlah, saya masih mencari jawabannya. Tapi sejauh ini, I do really enjoy with what I’m doing now! ^^

Jakarta, 31 Oktober 2012
Nonayangmasihmeratapivoucherdimeja