Hadiah Paling ‘Romantis’

Serangkaian bunga mawar putih yang berpilin cantik dengan lily. Ditambah dengan sekotak coklat aneka bentuk dan rasa lengkap dengan kartu ucapan berwarna jingga-yang terukir indah dengan rangkaian kata-kata manis yang berderet meluluhkan hati.

Oh well, itu hadiah ulang tahun romantis yang pernah saya dapat.

Tapi tunggu! Itu semua hanya dalam angan-angan saya belaka!

Nyatanya, saya tidak pernah mendapatkan itu. Panglima tidak datang dengan bunga ataupun sekotak cokelat. Di hari ulang tahun saya ia justru sedang sibuk dengan nara sumbernya.

Sedih? Nggak juga.

Tapi yang bikin saya sedih justru di hari ulang tahun saya, saya dikasih nikmat Tuhan berupa sakit kepala luar biasa hebatnya.

Wew..

Panglima datang sudah malam. Jangan bayangkan ia datang dengan sebuah pelukan dan kecupan di pipi kanan dan kiri saya. Ia justru datang langsung menodong saya dengan menempelkan telapak tangan di jidat. Tak ketinggalan sederet pertanyaan menyoal kondisi kesehatan saya yang sedang dropdropnya. Saya nyengir.

Setelah saya yakinkan ia bahwa saya baik-baik saja, baru ia bisa sedikit tenang. Setelah meneguk secangkir kopi hitam nasgitel racikan saya, ia mencoba mengeluarkan sesuatu dari ransel kanvas, karibnya bertugas. Hmm..deg-degan? Pastinya! Membayangkan kejutan apa yang ia tengah siapkan.

Tiba-tiba…

Ia menyorongkan sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Isinya….  setumpuk film kartun!

Haha, ulang tahun saya dihabiskan dengan menonton film kartun! Panglima benar-benar bukan pria romantis. Tapi ia tahu apa yang saya butuhkan. Saya butuh tertawa lepas. Dan ia juga tahu kalau saya tak pernah bosan menonton film kartun.

Hmm, setidaknya ini jadi sedikit obat untuk saya yang masih merasakan sakit kepala hebat hingga siang ini. Meskipun bukan pria romantis, Panglima cukup paham apa yang saya butuhkan. Yaa walaupun setiap kali ditanya alasannya kenapa harus film kartun, pasti ia langsung jawab “Kita ‘kan anti mainstream”. Hah! Rasa-rasanya saya ingin menoyor kepalanya. Toyor mesra tentu saja, hihi.

Enjoy my lovely maturity age with tons of smile and please go away headache, just allow me to laugh out loud without any pain after all… and…thank you Panglima, lot of kisses for you!

Advertisements

27

 

Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday… Happy birthday..
Happy birthday to you…

Lantunan lagu sederhana yang sudah akrab di telinga sejak usia setahun kini terdengar riang mengalun dari voice note yang dikirimakan beberapa orang teman. Senyum tersungging rasa haru merayap lambat seketika lagu selesai mengalun.

Hari ini memang hari lahirku. Lebih tepatnya tanggal lahirku, tapi belum jam kelahiranku. Tapi ucapan mengalir sejak malam berganti. Senin menjadi selasa. Tanggal 3 menjadi tanggal 4. Usia 26 menjadi 27.

Hari ini usiaku bertambah satu, kontrakku justru berkurang satu. Usia ku kini tidak lagi terbilang belia. Usia yang banyak orang bilang adalah usia matang dan sudah cukup untuk membina rumah tangga atau bahkan membesarkan anak-anak lucu yang mungkin sedang belajar jalan bersama ayahnya.

Usia dimana kebanyakan wanita ngeri menghadapinya, tapi justru tidak denganku. Aku justru berbahagia menyambut usia baru. Merasa senang dengan perpaduan dua angka yang menurutku menghasilkan sebuah angka baru yang tinggi nilainya. Sembilan!

Aku bersyukur dengan semua rasa yang kumiliki hingga detik ini. Semua rasa bahagia yang kunikmati karena aku masih memiliki orang-orang yang menyayangiku begitu besarnya. Memiliki rasa sedih yang mengingatkanku bahwa ada rasa bahagia yang jauh lebih indah. Dan ada rasa kehilangan yang membuatku semakin bersyukur bahwa aku masih memiliki Tuhan yang akan selalu ada dimanapun aku  dan kemanapun aku melangkah.

Kini, di usia baruku pintaku sederhana meskipun tetap saja tidak satu. Tentu sehat yang ingin kudapat setiap harinya agar aku bisa terus berbagi senyum bahagia untuk mereka di luar sana. Dan meminta Tuhan menjaga ia yang akan diberikan tugas mulia menjagaku di dunia dalam kondisi apapun. Aku tahu, saat ini aku tak mau menanyakan ‘kenapa’ karena aku tidak ingin menggugurkan ranting pahala yang sudah ada. Tapi aku hanya memohon agar ketika saat itu tiba, kami berdua memang menjalankannya dalam jalurmu, Tuhan.

Sebelum kupejamkan mata, selamat bertambah usia Aku. Semoga tidak melulu keakuan yang kutorehkan, kuharapkan kekamuan yang terselip dalam senyuman. Dan kekitaan yang terukir mantap menata masa depan.