Berkenalan dengan Lembah Syawal

Lelah. Hanya itu kata bergayut manja tidak hanya di pelupuk mata tapi juga di sekujur tubuh yang terlipat tak terbentuk rupa sejak dari Jakarta menuju Ciamis. Kesal yang menumpuk menambah rasa lelah saya berlipat-lipat ganda jumlahnya.

Mulai dari menahan keinginan BAB yang sialnya menghantui saya selama di perjalanan. Ditipu mentah-mentah sama supir angkot di Bandung, sampai dioper-oper ke sana kemari. Saya mengantuk. Saya capek. Belum lagi macet yang luar biasa ganasnya di sepanjang jalan Tasik. Lengkap!

Dan saya menyadari satu hal, kalau ternyata lelah juga bisa memicu pertengkaran besar. Saya dan Panglima Hujan perang dingin di tengah perjalanan. Entah apa penyebabnya. Untunglah itu tak berlangsung lama.

Panjalu. Tujuan perjalanan saya hari itu.

Tidak ada bayangan tentang tempat yang akan saya tuju. Tidak ada sama sekali. Mendengar namanya pun baru hari itu. Tapi tidak dengan Panglima. Tempat itu begitu ia akrabi sejak bertahun-tahun silam. Menurutnya, ada damai yang sederhana yang selalu ditawarkan tempat itu. Dan saya ingin merasakannya. Ya, saya sedang butuh tenang. Butuh yang kelewat kejam.

Sembilan jam sudah saya lewati. Sampai akhirnya, saya tiba di satu daerah bernama Panjalu. Punggung rasanya panas. Pegal nggak karuan. Kaki-kaki yang tertekuk menjerit minta segera diluruskan. Saat asyik-asyiknya meregangkan pinggang, kaki, dan tangan, seorang pria kecil bersama bocah lelaki dengan cemong putih, bedak yang tak merata di wajahnya, menghampiri.

Senyumnya terkembang. Dijabatnya lengan Panglima dengan mantap. Ah, seorang kenalan lama rupanya. Sepertinya ia juga yang akan membawa saya ke tempat tinggal beberapa hari ke depan.

Dengan sepeda motor matic, saya dibawa menuju tempat tinggal Kang Mamas, pria yang bertemu saya di Panjalu. Kang Mamas membawa Panglima bersama Adim, si kecil yang bersamanya. Sedangkan saya dibonceng Dalih, keponakan Kang Mamas.

Angin sore menepuk-nepuk pipi saya. Dingin dan sejuk yang menyenangkan. Jejeran kolam ikan di tiap rumah serta hamparan hijaunya sawah jadi pemandangan yang umum di sini. Semacam karpet hijau yang minta ditiduri oleh tubuh yang terjerat letih.

Kepala saya berkali-kali menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba ‘menelan’ hamparan hijau yang tersaji cuma-cuma di hadapan saya. Lupa rasanya letih, lupa rasanya kesal yang selama perjalanan mencambuk saya dengan buasnya.

“Di desa ya begini ini, Mbak”

Kalimat Dalih seperti menyeret saya kembali ke alam nyata. Sepertinya ia menyadari betul kalau wanita yang sedang dibawanya ini jarang melihat pemandangan seperti ini. Saya hanya tersenyum malu melalui kaca spion sepeda motor. Saya menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi peparu saya yang gempita sejak tadi. Saya ogah rugi. Saya harus menyerap happy serum sebanyak yang saya bisa di sini.

Tiba-tiba jalanan menyempit dan menanjak. Tidak ada lagi jalanan beraspal yang sejak tadi mengawal saya dari Panjalu. Saya menahan napas. Bukan karena terlalu senang, tapi lebih karena terlalu ngeri melihat jalanan yang curamnya kebangetan. Sebuah turunan di hadapan saya nyaris sembilan puluh derajat sudutnya. Bukan lagi jalanan tanah, tapi jalanan berbatu tajam yang semisal saya jatuh, pasti memar dan luka tajam saya dapat. Ya, mengendarai motor di daerah ini butuh keahlian. Keahlian yang tidak main-main. Tetiba saya merinding sendiri.

Saat pikiran saya masih asyik dengan kengerian, Dalih menghentikan laju motornya. Ia menoleh ke arah saya sambil tersenyum.

“Selamat datang di Lembah Syawal”

Saya terkesiap. Muka saya absurd, antara pucat juga senang. Lembah Syawal, tujuan saya, sudah tersaji manis di depan mata. Sebuah desa terpencil di kaki gunung Galunggung menyapa saya dengan kesederhanaannya. Dengan riuh warga desa yang menyambut saya dengan begitu ‘mewah’ keramahannya. Suara air yang mengalir deras entah di mana, serta gemercik air yang mengalir dari batang-batang bambu ke dalam petak-petak kolam nila.

Ibu-ibu beragam usia berjejer manis menyalami kedatangan saya. Sepertinya mereka semua tahu kedatangan saya sore itu, yang mereka perkirakan tiba lebih awal. Diberondongnya saya dengan beragam pertanyaan. Saya tak merasa terganggu, justru buncah senang di hati saya.

Segelas kopi  hitam kental mengepulkan uap panasnya, tersuguh dalam gelas bergambar bunga mawar. Sepiring singkong goreng, lanting, dan opak jadi temannya. Ah, saya tidak menyangka penyambutan ini begitu ‘mewah’ rasanya. Bukan soal yang terbaca oleh mata, tapi lebih yang terasa di hati.

Orang-orang ini tidak mengenal saya. Mereka hanya mengenal Panglima. Tapi mereka menyambut kami seperti keluarga. Entah dari keturunan siapa. Lembah Syawal menawarkan damai untuk saya yang tengah dilanda penat Ibukota. Dan warga desa menawarkan saya secuil bahagia yang efeknya luar biasa. Di tengah hawa dingin yang menusuk malam harinya, ada hangat keluarga yang menyelimuti saya.

Lalu, apa yang saya lakukan di sini? Tidak ada. Saya menyengajakan diri ke tempat ini demi pundi-pundi bahagia yang nyaris habis termakan angkuhnya Jakarta. Saya harus mengisi ulang pundi-pundi tersebut sebelum Ibukota mengambilnya serabutan di awal pekan.

Oleh karenanya, ijinkan saya menikmati orkestra malam yang dipimpin suara kodok bangkong bersahutan dengan tonggeret di luar sana.

Selamat malam semesta, taburkan sejuta kerlip bahagia untuk siapa saja yang memang membutuhkannya. Seperti saya.

 

Lembah Syawal, Mei 2013

Demi Eriek di Ultah Jakarta

Sabtu siang ini terlalu terik. Gumpalan putih yang biasanya berarak-arak ramai sedang absen bertugas mengganggu matahari. Alhasil, matahari agaknya jumawa. Pamer terik yang sepertinya diobral lebih dari separuh harga. Yang ada, peluh langsung kocar kacir, berlarian, seperti maling kesiangan.

Riuh rendah suara gerombolan mahasiswi membuat saya tersenyum simpul, ingat jaman kejayaan masa muda. Jaman dimana uang lima ribu bisa dapat nasi, ayam bakar plus kuah rendang yang enaknya bikin ketagihan. Belum lagi sekumpulan ibu-ibu bersama dengan anak-anak mereka yang berlarian ke sana kemari tak tentu arah. Dikira stasiun kereta lapangan bermain yang tak pernah mereka kenal semasa balita.

Ya, saya sedang berada di stasiun kereta Universitas Indonesia. Siang itu stasiun tampak tak biasa. Ramainya mengular entah sampai mana. Mereka semua punya satu tujuan yang sama, Jakarta. Saya hampir lupa, kalau ini adalah hari jadi Ibukota. Ah, selamat ulang tahun Jakarta! Tapi maaf, saat ini saya tengah menujumu bukan untuk merayakan hari jadimu.

Kereta datang, saya bergegas untuk menyebrang ke arah yang seharusnya. Saat menjejakkan kaki di lajur dua, saya tidak mendapati Mpit, kawan saya. Saya bingung mencari dia. Saya pasang mata lebih tajam mencoba mencari sosok mungil yang saya kenal. Sayangnya tak saya temukan.

“Nonaaa!”

Suara ini saya kenal betul. Saya menoleh ke arah sumber suara dari dalam kereta. Tepat ketika saya menangkap  senyum yang saya kenal sejak beberapa tahun terakhir, pintu kereta tertutup dengan suksesnya. Mpit, si pemilik senyum itu hanya melambaikan tangan. Ah, saya merasa bodoh sekali!

“Ketemu kamu kok kaya ketemu jodoh. Selalu selisipan sih?!”

Gurau Mpit melalui pesan singkat yang ia layangkan baru saja. Saya tersenyum getir. Beruntung, kereta selanjutnya datang tak berapa lama. Walhasil, saya ngobrol bareng Mpit melalui jendela chat seperti biasa. Kok ya nggak ada perubahan! Haha…

Stasiun Cawang. Persinggahan pertama saya.

Saya dan Mpit (setelah menertawakan kebodohan kami berdua) melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta. Menyusuri pinggiran rel di Cawang membuat hati saya nggak keruan rasanya. Pasalnya, jarak saya dengan rel terlampau dekat. Ngeri saat saya membayangkan terpaan angin saat kereta lewat akan menyambar saya seketika. Wuush!

Tapi pikiran itu saya usir segera. Pedagang kaki lima berjajar, berhimpitan dengan manusia yang lalu lalang di depannya. Saya yakin, mereka berdagang tidak hanya hari itu saja, melainkan berhari-hari sebelumnya. Buktinya mereka aman-aman saja. Jadi, kenapa saya harus khawatir?

Shelter Cawang siang itu tampak ramai. Terlalu ramai malah. Imbas dari gratisnya tiket TransJakarta membuat orang berbondong-bondong, jalan-jalan menggunakan alat transportasi umum ini. Tak salah memang. Tapi akhirnya penumpukan penumpang terlihat hampir di semua shelter yang ada di Jakarta. Jumlah armada yang beroperasi tak sebanding dengan tingginya minat pengguna hari itu. Hufff…

Hawa Jakarta semakin memanas. Aroma yang tercium lamat-lamat bukan lagi parfum harum, tapi sudah berbaur dengan aroma lain, tengik rambut yang terbakar matahari, asem ketiak yang membuat saya nyaris pingsan tidak tahan. Segerombolan pemuda, mungkin sekitar 14-17 tahun usianya, berbicara dalam volume suara macam di gedung pertunjukkan saja. Berisik!

Belum lagi perempuan berambut panjang di sebelah saya yang sedikit-sedikit mengibaskan rambutnya. Sekali kibas mata saya langsung kecolok! Lain lagi dengan wanita separuh baya, berkaca mata dan tampak serius dengan buku yang dipegangnya. Tak sekalipun ia berniat untuk menghentikan kegiatan membacanya, padahal bis sangat sesak ditambah ritme rem TransJakarta yang bisa bikin otot lengan langsung kekar karena menahan beban tubuh supaya tidak terjungkal. Namun sayang, saya tak berhasil menangkap judul buku yang dibacanya.

TransJakarta nampak di kejauhan. Fatamorgana di jalan mengaburkan bayangan bis besar berwarna merah-oranye terang. Decit ban hitam yang beradu dengan aspal terdengar seirama dengan langkah tergesa kaki pengunjung di koridor 10. Penumpang yang ada di dalam TransJakarta menghambur keluar, pun yang ingin masuk berdesakan takut ketinggalan.

Saya masih berdiri di antrian. Tidak berniat beranjak, pun percuma karena penampakan TransJakarta lebih mirip kaleng sarden ketimbang bis kota. Sesaknya kebangetan!

Kini saya berada di deretan paling depan. Orang-orang di belakang saya masih umpel-umpelan mencoba menjajari barisan depan. Saya mencoba pasang kuda-kuda lebih kuat sekarang. Tak mau jatuh konyol hanya karena ulah orang-orang tak tahu aturan yang asyik dorong-dorongan.

Sebuah sedan putih susu melintas di depan saya. Di sampingnya sedan Polisi mengawal sangat rapat sambil mengeluarkan suara lewat pengeras suara. Si sedan melanggar aturan! Ia masuk ke jalur TransJakarta seenaknya saja. Pak Polisi berbadan tegap segera menghampir dan meminta si pengendara mengeluarkan tanda pengenalnya. Agak lama proses engkel-engkelan  terjadi. Mungkin si pengendara meminta jalan damai, terlanjur malu dia tertangkap tangan di depan orang-orang. Tapi sepertinya si Polisi tak memenuhi permintaannya. Ia tampak kesal. Mukanya kian ditekuk. Dinaikkannya kaca jendela dan gas ditancap dengan kencangnya. Pak Polisi menggeleng-geleng melihatnya.

Pada akhirnya, ‘Money can buy brand but not brain’. Saya dan Mpit hanya saling tatap dan senyum-senyum saja.

TransJakarta selanjutnya datang. Tidak banyak perbedaan dengan yang sebelumnya. Masih penuh sesak! Saya tak bisa lagi menghindar. Mengikuti arus hanya pilihan satu-satunya. Di dalam, sudah tak ada lagi perbedaan mana area wanita mana area pria. Semua tumplek blek jadi satu. Saling dorong, saling himpit, muka sinis, jidat berkerut jadi pemandangan umum sekarang. Saya? Hanya bisa tersenyum sambil membatin “Demi Eriek!”.

Mpit nyolek saya kemudian. “Demi mas Eriek nih ya Non..” Haha..ternyata kami satu pikiran. Ya, memang perjalanan ini kami sengaja lakukan untuk menemui sahabat kami yang sedang pulang ke Indonesia, Eriek. Awal tahun kemarin, saya tak sempat bertemu dengannya.

Siapa sangka kalau ternyata ultah Jakarta tahun ini begitu luar biasa imbasnya. Pemilihan kami di Jakarta barat bukan tanpa alasan. Jalan protokol, Sudirman hingga Thamrin ditutup sejak puluk 4 sore hingga acara usai. Tak ayal, pusat perbelanjaan dan hang out di sekitarnya pun tutup lebih awal demi merayakan ultah Jakarta yang katanya lebih merakyat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sampai di shelter Semanggi, penumpang sudah berkurang setengahnya. Ternyata benar dugaan saya, semua orang memang ingin menuju satu tujuan yang sama. Lagi-lagi saya dan Mpit hanya saling tatap dan tertawa cekikikan.

Wah.. Jakarta memang betul-betul butuh hiburan! Penat mereka dihajar rutinitas yang itu-itu saja apalagi ditambah problematika yang rasanya lebih drama dari sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri. Tak heran ketika ada sebuah perhelatan besar di pusat kota, semoa orang dari penjuru Jakarta bahkan daerah penunjang di sekitarnya ikut larut dalam keriaan. Mencoba mencuil sedikit saja bahagia yang coba ditawarkan Jakarta.

Ternyata, keramaian ini berlangsung hingga larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika saya keluar dari pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Kami; saya, Mpit, dan juga Pinkih memilih pulang menggunakan kereta. Lebih cepat alasan utama kami, dan lebih aman ketimbang kami, perempuan-perempuan manis ini harus berjuang di dalam bis kota, yang entah apakah masih beroperasi atau tidak.

Taksi jadi alternatif transportasi ketika yang lain sudah tidak bisa diharapkan. Kenapa? Jalanan menuju Depok amat panjang dan tentunya akan berbarengan dengan orang-orang yang akan pulang setelah lelah merayakan pesta rakyat. Macet tentu saya hindarkan sebisanya.

Benar saja dugaan saya. Jalan menuju stasiun kereta terdekat padat bukan main. Padahal jarak tempuh normal hanya 10 menit, tapi malam itu saya habiskan nyaris satu jam. Damn! Tutupnya beberapa ruas jalan memang menjadikan jalan yang saya pakai lebih mirip dengan parkiran ketimbang jalan raya. Tua muda tumpah ruah di jalan. Meniupkan terompet bernyanyi riang serta bersenda gurau. Saya sempat rancu, ini seperti bukan perayaan ulang tahun Jakarta saja, tapi lebih mirip malam tahun baru. Hehehe…

Tiba di Stasiun Juanda. Saya bergegas menuju lantai dua untuk membeli tiket commuter line selanjutnya. Commuter Line sebelumnya sudah bergerak meninggalkan stasiun Juanda ketika saya masih asyik di antrian lampu merah Harmoni.

Pukul 22.45 saya berdiri di depan loket. Satu stasiun lagi commuter line saya tiba. Deg-degan bukan main rasanya. Ssaya harus membeli tiket lekas-lekas dan bergegas berlari dengan cepat. Ah, moga-moga saja masih sempat. Tapi sayang, keberuntungan bukan dipihak saya. Beberapa orang tiba-tiba memotong antrian tepat di depan saya. Saya yang sudah dihajar lelah sejak sore mau tidak mau harus menegurnya.

Untung saja, orang ini mau mendengar dan berdiri mengikuti antrian. Tapi ternyata dia bukan satu-satunya. Ada segerombolan anak muda, serta ibu-ibu bersama dengan balitanya yang terlihat lelah teramat sangat, langsung menyodorkan uang persis di loket. Oh Tuhan!

Saya kembali menegur. Tapi sayang, ia tidak terima begitu saja, justru malah mengajak saya berdebat panjang. Berdalih mengejar commuter line yang sedang menuju stasiun Juanda. Heeeeyyy.. bukan hanya anda yang sedang diburu waktu. Tapi semua orang yang ada di antrian ini! Kali ini si Ibu yang angkat bicara, anaknya terlalu lelah jadi harus segera pulang, itu dalihnya.

Kali ini saya bicara agak tinggi (Oh Tuhan, maafkan saya yang terpancing emosi), “Kalau ibu tidak mau melihat anak Ibu kelelahan seperti ini, seharusnya Ibu sudah pulang sejak tadi. Lagipula ini bukan jam yang lazim masih mengajak anak keliaran di jalan, Bu.” Kali ini, suami istri itu diam. Mereka bersama dengan gerombolan anak muda yang langsung memilih tutup mulut mundur perlahan. Mpit mengamini omongan saya. Enggan sebenarnya jika saya harus beradu argumen dengan orang di tempat umum.

Debat kecil membuat kami terlambat mendapatkan commuter line pukul 22.50. Pilihan lainnya, kami harus menunggu hingga jam 12 malam. Itu kereta terakhir yang berangkat dari stasiun kota. Dan saat ini posisinya masih ada di stasiun Depok. Oh, my!

Tapi, kami tidak putus akal. Kami tetap menikmati malam itu dengan suka cita. Melihat gelagat masyarakat urban yang tengah bergembira, ya seperti kami ini. Semua gadget milik kami sudah terkikis baterainya sejak sejam lalu.

Stasiun ramainya mirip pasar kaget. Anak-anak kecil berlari-larian, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Yang muda bercerita sambil bersenda gurau sambil asyik nggebet gerombolan lainnya. Tidak sedikit yang menggelar tikar yang mereka bawa hanya untuk sekadar meluruskan kaki yang pegal setelah jalan sepanjang malam atau menidurkan bayi-bayi mereka. Ya, bayi. Tubuh kecil mereka sudah harus dibiasakan dengan udara malam serta pengapnya stasiun. Ck! Harusnya kalian sudah tidur pulas di ayunan, Nak.

Puncak malam itu ditutup dengan letupan kembang api yang bersahutan dekat Monumen Nasional. Liuk lampu warna warni menambah hangat suasana malam itu.

“Kembang apinya cantik, suasanya romantis, tapi kok ya aku harus nikmatinnya bareng kalian lagi..kalian lagi..”

Celetuk Mpit kontan membuat saya terbahak-bahak dibarengi jitakan halus Pinkih yang mendarat sempurna di jidatnya. Ya ya ya.. mungkin memang belum waktunya kamu menikmati kembang api bareng dia ya Mpit. Hihihi..

“Ah, aku sih masih tetep mau nikmatin sarsaparila dingin di Kaliurang. Ndak cuma wedang ronde alkid bareng kamu, Non,” seloroh Pinkih yang membuat saya mengulum senyum.

Ya, kedua kawan saya ini memang punya mimpi sederhana tentang menikmati malam romantis. Entah dimana atau dengan siapa. Kalau saya masih tetap sama. Menikmati purnama di tempat tinggi sambil menyesap secangkir kopi. Pun kalau tidak, saya masih tetap senang meneguk sarsaparila dingin di Jogja seperti mimpi Pinkih yang pernah kami cetuskan bersama.

Tapi, sebelum semua itu terjadi, kami bertiga tetap senang menikmati kembang api sederhana yang membawa senyum bahagia tersungging dari wajah-wajah lelah yang duduk manis di stasiun Juanda. Bahagia menikmatinya meski bukan dengan orang terkasih, melainkan kawan baik berbagi penat pikiran.

 

Commuter Line menuju Depok, 23 Juni 2013
*Mpit dan Pinkih sudah ngacir ke alam mimpi di kiri kanan saya.

Chef Yohannes: Berkarir 16 Tahun di Luar Negeri

chefyohannes

Chef asal Jawa ini memulai karirnya dari bawah hingga berakhir sukses sebagai Executive Chef. Menjalani karir selama 16 tahun di luar negeri telah menempa dirinya menjadi pribadi yang gigih. Di saat karirnya memuncak justru ia kembali ke Jakarta. Apa yang dicari oleh chef yang piawai mengolah hidangan Eropa ini?

Senyum ramah dan bersahabat pun mengembang dari chef yang bernama lengkap Yohannes Pratiwanggana ini saat ia menemui saya di sela-sela kesibukannya sebagai Executive Chef di Decanter Wine House. Dengan sedikit tersipu malu ia pun mulai bercerita tentang awal karirnya menapaki dunia kuliner.

Tak banyak chef lokal di masanya yang berkeinginan kuat menggali pengalaman di mancanegara. Namun, garis hidup agaknya berkata lain. Dari arahan seorang guru, akhirnya ia memantapkan diri memilih jurusan pariwisata dan perhotelan di kota kembang sebagai pendidikan lanjutannya.

“Untuk menjadi sukses dan besar orang harus ke luar negeri,” demikian prinsip yang dipegangnya. Namun, ia justru memilih hotel Borobudur sebagai langkah awalnya meniti karir sebagai Junior Sous Chef. Karena keinginannya yang kuat iapun sempat bersitegang dengan pihak hotel saat akan melanjutkan karir ke Geneva, Swiss.

Tahun 1977, akhirnya ia berhasil menapakkan kakinya di Movenpick Cendrier Geneva Switzerland. Chef yang berhobi kemping dan renang ini selalu memiliki target setiap berada di tempat yang baru. “Saya mengejar sertifikasi tertinggi dari hotel-hotel terbaik. Bagi saya pengalaman lebih penting dari pada uang,” jelasnya. Karena itu gaji yang tak seberapapun ia tutup dengan bekerja ekstra di akhir pekan di hotel sehingga kebutuhan hidupnya tetap tercukupi dan pengalamanpun diperolehnya.

Dalam menggali pengalaman, chef yang memilih bagian Kitchen sebagai spesialisasinya, tak segan untuk mencoba hampir semua divisi kitchen untuk mendapatkan pengalaman. Mengapa harus menu Eropa? Menurutnya chef di Indonesia yang mengkhususkan diridengan menu Eropa masih terbatas jumlahnya oleh karena itu ia memilih menu Eropa dan mediterania sebagai spesialisasinya.

Untuk memperkaya pengalaman, iapun melanjutkan karir di London Hilton International sebagai  Chef Entremetier. Jaringan hotel internasiobal Hilton telah mematangkan pengalamannya melalui berbagai jenjang karir sebagai chef yang dilalui. Dari London, chef yang juga ayah 3 anak ini melanjutkan karir ke Sydney Hilton Australia sebagai as Chef Tournan. Kemudian dilanjutkan ke Montreal Bonaventur Canada sebagai Banquet Chef.

Bekerja di Sydney ternyata tidak memuaskan baginya. “Saya merasa tidak bisa maju, tidak banyak mendapatkan pengalaman,” demikian alasannya. Karenanya Canada kembali dipilihnya sebagai tempat kerjanya. Di Canada chef yang kelahiran Yogyakarta ini merasa nyaman dan mapan hingga ketiga anaknya mulai tumbuh besar.

“Rasa takut kembali ke Indonesia selalu menghantui saya. Ya, takut tidak ada pekerjaan yang cocok,” tuturnya. Karena anak sulungnya sudah memasuki usia sekolah maka Jakarta akhirnya dipilihnya sebagai tempat berkarirnya. Hotel Jakarta Hilton merupakan hotel tempatnya berkarir sekembalinya ia ke Indonesia di tahun 1993 sampai akhirnya ia mendapatkan posisi Executive Chef dan hotel Hilton berganti nama menjadi hotel Sultan. Memasuki masa pensiunnya di tahun 2008, ia menerima tawaran untuk menjadi Executive Chef di Decanter Wine House.

Meskipun ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang chef, tak lantas membuatnya mengijinkan ketiga buah hatinya menekuni bidang yang sama dengannya. “Pekerjaan sebagai chef itu berat, 24 jam dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” demikian alasannya. “Bagi saya jika piring dari tamu kembali ke kitchen dalam keadaan bersih, saya puas. Saya selalu ingin tahu apa saja yang disukai tamu saya, terutama tamu VIP,” tuturnya. Karena rasa tanggungjawabnya yang besar itulah iapun merelakan diri tidak tidur lebih dari 24 jam demi memuaskan selera para tamu.

Setelah malang melintang di dunia perhotelan, akhirnya sang chef memilih sebuah restoran sebagai tempatnya berkarir di masa pensiunnya. “Sebenarnya ini adalah sebuah tantangan baru untuk saya, karena biasanya saya bekerja di sebuah hotel yang semua sistem dapurnya sudah diatur. Sedangkan di tempat ini saya harus memutar otak untuk membuat menu baru dan membuat kombinasi yang cocok setiap harinya itu yang menjadi tantangan untuk saya,” ujarnya.

Selain itu  Decanter menyajikan makanan khas Mediterania yang memang cocok dengan keahliannya. Chef yang sangat menyukai semua segala jenis masakan dari sang istri ini masih memiliki impian untuk mengelola resto milik pribadi suatu hari kelak.

Bincang-bincang sayapun ditutup dengan berbagi resep yang ia selalu sajikan untuk tamunya di Decanter Wine House. Ini dia:

Orange & Fetta Cheese Salad

Bahan:

150 g selada air
60 g Radichio
300 g jeruk Navel, ambil juringnya
80 g fetta cheese
40 g black olive
40 g  green olive
20 g red onion (bawang Bombay merah), iris melintang tipis
5 g kulit jeruk parut

Saus, aduk rata:
70 ml jus jeruk segar
70 ml jus lemon
120 ml minyak olive
½ sdt garam
½ sdt merica bubuk
kulit jeruk iris

Cara membuat:

  • Taruh bahan-bahan selada; sayuran dan keju dalam mangkuk besar.
  • Siram dengan Sausnya.
  • Aduk rata dan sajikan.

Untuk 3 orang

Tips:
1.Keju fetta merupakan jenis keju lunak yang berwarna putih, dikemas plastic dan teksturnya agak keras, mudah patah. Bisa dibeli di pasar swalayan besar.
2.Olive hitam dan hijau tersedia dalam bentuk dengan biji atau tanpa biji dan sudah diawetkan dalam kemasan botol kaca. Bisa dibeli di pasar swalayan.
3.Jeruk Navel adalah jenis jeruk manis yang berkulit oranye, ada yang berasal dari Amerika, Australia dan Cina. Pilihlah jenis yang agak manis rasanya.
4.Aduk salad dengan sausnya saat akan disajikan supaya tidak berair.

*tulisan ini pernah dimuat detikfood tahun 2009

Kekuatan Mimpi dan Pikiran

Sejak lama saya tidak meragukan kekuatan alam bawah sadar saya. Kekuatan sebuah pikiran positif dan juga kekuatan mimpi yang dibangun dengan sangat baik. Buktinya, semua perjalanan saya, entah itu di kota tempat saya tinggal ataupun di daerah-daerah di Indonesia semua itu tercipta dari sebuah pemikiran dan mimpi sederhana seorang bocah kecil berseragam putih merah.

Sesaat setelah saya membeli tiket untuk terbang ke tanah Makasar saya membuka peta daerah tersebut. Yang mencolok di peta tersebut adalah beberapa nama tempat yang ada di sana. Pare-pare, Maros, Makale, Pangkajene, dan Rantepao.

Ingatan saya kembali ke masa dimana saya masih duduk di sekolah dasar. Saya mengenali nama-nama daerah tersebut bukan dari pelajaran sejarah ataupun geografi, melainkan sebuah film yang pernah saya tonton dulu sekali.

Saya lupa apa judul film tersebut, yang saya ingat hanyalah pemain utamanya seorang anak kecil serta Mathias Mucus sebagai ayahnya. Di film itu ditampilkan keindahan alam daerah-daerah tersebut. Hingga saya sampai mengatakan untuk datang ke sana suatu hari nanti. Pasti!

Dan kini, saya akan menjejakkan kaki di sana. Tidak akan lama lagi. Pagi ini saya akan terbang ke Rantepao, rumah para raja di atas awan. Saya tak pernah menyangka semua perjalanan saya adalah dari sebuah mimpi seorang bocah ingusan yang belum khatam membaca peta buta Indonesia di pelajaran IPS yang dulu sangat dibencinya.

Tapi kini, bocah itu sangat mencintai pelajaran itu. Sejarah, geografi, dan sosiologi yang menyangkut kultur budaya suatu daerah. Tak pernah takut untuk memulai perjalanan beribu-ribuk km jauhnya dari tempat dimana ia berasal.

Dan menyenangi setiap persahabatan yang ditawarkan oleh penduduk lokal yang ditemuinya, dimana saja ia menjejakkan kaki mungilnya. Menorehkan tinta warna warni di setiap lembar hidupnya dan meninggalkan rekaman manis di setiap hati yang tertambat dalam ingat. Dan hari ini, Nona siap untuk memulai sebuah petualangan!

Soeta, 22 Februari 2013

Perjalanan Pagi Ini

Matahari pagi ini sedikit malu-malu menunaikan tugasnya. Mungkin ia terlalu asik membenamkan diri di peraduan karena dibuai oleh awan-awan kelabu nan gendut di atas sana. Aku memandang langit sekilas, tak menyilaukan. Aku tak perlu memicingkan mata untuk bisa menatap langit pagi ini. Dan aku tak perlu pusing memikirkan bagaimana melindungi punggung kakiku agar tidak terpanggang saat menunggu kopaja tua di ujung jalan. Kamu tahu? Lamanya serupa dijajah Belanda 350 tahun. Ya, kurasa selama itu rasanya. Dimana harap-harap cemas biasa menggayut manja.

Sebelum kulanjutkan perjalanan menggunakan kopaja, aku menggunakan angkot biru tua yang biasa menyambutku di mulut gang rumahku. Ada beda di perjalanan kali ini, aku tak mengisinya dengan tidur. Aku memilih mengedarkan pandanganku ke jalan raya yang pagi ini cukup bersahabat dengan lalu lintas hatiku. Tidak padat, tapi juga tidak lengang.

Ada aroma tanah basah yang tercium lamat-lamat oleh hidungku melalui celah jendela yang terbuka sedikit saja. Apakah pagi tadi hujan? Hmm..kurasa tidak. Ada aroma segar yang mengisi peparuku dengan cukup baik. Memberikan asupan rasa dalam kepala yang kini tengah kuolah agar tertuang dalam aksara tapi entah bagaimana menyebutnya.

Kuhirup lagi dalam-dalam aroma ini. Uhuuk! Ada bau polutan jahat yang sengaja ingin merusak pagiku. Segera kurapatkan celah jendela untuk sementara. Aku tak akan membiarkan ia masuk dalam paru-paruku dan menciutkan usaha peparu dalam menarik oksigen di udara. Tidak akan!

Mataku tertumbuk pada ruas-ruas jalan yang kini tampak berbeda. Daun-daun berserakan di sisi kiri jalan. Bukan daun kuning yang gugur karena pohon-pohon ini mulai meranggas di musim kemarau. Tapi daun ini memang sengaja dipangkas entah oleh siapa. Potongan balok-balok kayu tergolek tak berjauhan dari tumpukan sampah daun hijau di ruas kiri jalan.

Ada sedih yang tak bisa aku ungkapkan bagaimana rasanya. Pohon-pohon angsana rindang di sepanjang jalan raya Bogor kini mulai menghilang perlahan. Awalnya hanya dahan-dahan, tapi kini sudah dibabat habis hingga batang utamanya.

Mungkin ini memperhitungkan faktor keselamatan pengguna jalan raya. Aku masih ingat betul bagaimana salah satu pohon ini tumbang dan akhirnya menimpa salah satu mobil yang sedang melaju di jalan raya. Mobil yang berada tepat di depan angkutan yang sedang kugunakan.

Lantas bagaimana dengan konsep lahan hijau yang ingin diciptakan kalau semua pohon-pohon ini harus dipangkas habis? Bagaimana nasib peparu yang masih merindukan oksigen di udara? Jika setiap pagi saja sudah harus mencium polutan yang berterbangan dengan bebasnya. Bahkan merpati saja kini tak lagi terbang bebas, tak seperti lagu yang dibawakan Kahitna.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menikmati setiap oksigen yang mengisi peparu perlahan, meskipun ada saja orang yang merusak pagi dengan mengepulkan asap tembakau seenaknya. Tidakkah mereka pernah merasakan indahnya pagi tanpa harus memulainya dengan sebatang tembakau yang terhisap dalam-dalam di bibir kehitaman? Ah, aku terlalu nyinyir pagi ini.

Kopaja tua sudah terlihat di ujung jalan sana. Aku harus bersiap untuk turun. Menghentikan lamunan serta obrolan di kepala segera, jika tidak ingin tertinggal laju kopaja. Ya, pagiku tak seindah yang kulamunkan baru saja. Aku masih harus menjadi monyet kopaja untuk waktu yang entah berapa lama.

 

Pagi Semestaaa.. 🙂

Jakarta, 14 Februari 2013

Tahu Pong Semarang, Camilan Bikin Perut Kenyang!

Bertandang ke Semarang tak akan lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Banyak sekali jenis kuliner khas Semarang yang bisa dicicipi selama berada di Semarang. Seperti malam ini, saya sengaja diajak Tante tris dan Ribka untuk mencicipi salah satunya.

“Kamu sudah laper, Ka?”

“Banget Tante. Malam ini kita mau cicip apa nih?” tanya saya antusias.

“Kita makan tahu pong di Depok.”

“Waduh! Mau makan tahu pong ke Depok segala tante. Itu mah saya pulang lagi dong,” jawab saya yang langsung disambar ledakan tawa dari Ribka dan mamanya.

“Emang yang punya Depok kamu doang, Ka? Di Semarang juga ada daerah yang namanya Depok,” timpal Ika yang membuat saya hanya bisa nyengir sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal sama sekali.

Warung Tenda Sari Roso di Jl.Depok, Semarang

Warung Tenda Sari Roso di Jl.Depok, Semarang

Panther hitam milik Tante Tris memelankan lajunya di Jl.Depok. Tepat di sebuah warung tenda bernama Sari Roso. Wah, wisata kuliner malam saya dimulai dengan sepiring tahu pong gimbmal khas Semarang. Yippiy!

Tahu Gimbal merupakan salah satu jenis kuliner khas Semarang yang diadaptasi dari kuliner Cina dengan rasa lokal. Sedangkan Sari Roso adalah salah satu warung tenda tahu gimbal yang cukup terkenal di Semarang. Menurut penuturan tante Tris, warung tahu pong yang paling terkenal sebenarnya ada di daerah Peloran. Namun sayang warung itu sudah ditutup dan diganti dengan rumah makan baru di kawasan pecinan, Pasar Semawis. Oleh karenanya, pilihan selanjutnya pun jatuh pada Sari Roso.

Selain tahu pong dan tahu gimbal, menu yang bisa dicicipi di Sari Roso antara lain, tahu pong gimbal emplek, tahu telur, tahu komplit, tahu kopyok telur, gimbal telur, tahu emplek gimbal, tahu emplek gimbal telur, dan masih banyak yang lain.


Hmm..pilihannya begitu banyak, cukup membuat saya bingung. Tapi akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada tahu pong emplek, tahu pong gimbal, serta tahu kopyok telur. Menu yang cukup banyak untuk kami bertiga ya? Hehe..

Semua menu yang saya pesan langsung diracik langsung oleh si penjual. Sambil menunggu pesanan datang, saya dihibur oleh musisi jalanan yang mampir menghibur para pengunjung yang cukup padat malam ini.

Hampir mirip dengan di Yogya, mereka membawa alat-alat musik lengkap layakanya penyanyi profesional dan tak ketinggalan vokal yang enak di telinga. Sebuah lagu berselang, pesanan saya pun datang. Tahu yang masih mengepul panas disajikan dalam sebuah piring putih bermotif bunga. Saus berwarna cokelat kehitaman disajikan dalam piring yang berlainan. Tak ketinggalan serutan acar lobak dan juga sambal rawit dadaknya.

Tahu pong langsung digoreng saat saya memesan, jadi benar-benar masih panas mengepul. Tahu pongnya berjumlah lebih dari 7 buah dalam satu piring. Ditambah lagi dengan emplek (seperti tahu Cina yang lembut) untuk tahu pong emplek, sebuah gimbal atau bakwan udang yang dicetak melebar untuk tahu pong gimbal, dan telur bulat utuh yang digoreng untuk tahu pong telur. Jadi, pilihan paduannya tergantung selera saja.

Cara memakannya, tahu pong disobek dan dicelupkan ke dalam sausnya, tunggu hingga meresap barulah disantap. Rasanya hmm.. enak! Tahunya gurih renyah, tak meninggalkan aroma dan rasa asam sama sekali. Saat bercampur dengan kuahnya yang manis manis manis gurih, wah.. semakin mantab saja rasanya!

Kuahnya terbuat dari kecap manis yang dicampur dengan petis udang dan bawang putih yang royal. Tambah lezat saat sambal dadaknya sudah dicampurkan ke dalam kuahnya. Huah..huah.. benar-benar pedas menggigit! Acar lobak yang diserut halus mengingatkan saya akan gari, acar jahe merah teman setia makan sushi. Rasanya krenyes..krenyes.. renyah asam segar!

Gimbal yang berupa gorengan udang dan adonan tepung agak tipis lebar. Setelah digoreng lalu dipotong-potong. Teksturnya sangat renyah dan rasanya gurih enak. Udang dan tauge yang dibalut dengan tepung dan digoreng kering bumbunya pun sangat terasa. Kriuk..kriuk.. garing dan gurih. Tahu telur kopyok paling berbeda sendiri diantara pesanan saya.

Tahu yang dihaluskan dikocok bersama dengan telur dan juga daun bawang. Yah, hampir mirip dengan martabak tapi tidak menggunakan kulit saja. Rasanya pun enak setelah tersiram dengan bumbunya. Jejak pedas yang tertinggal di lidah disapu dengan teh manis hangat.

Wah, benar-benar sedap sekali. Perut saya sudah kenyang, rasa penasaran terbayarkan sudah. Lebih senang saat membayar, karena harganya yang sangat ramah dikantong jika dibandingkan dengan porsinya yang cukup besar. Harga untuk seporsi tahu pong biasa Rp. 6.000, tahu pong gimbal Rp.11.000,00, tahu emplek Rp 6.000,00 dan tahu emplek gimbal Rp. 11.000,00. (Harga ini di tahun 2009).

Sebelum pulang, saya ditawari es serut pelangi yang kiosnya tak seberapa jauh dari lokasi saya malam itu. Namun sayang, perut saya sudah terlalu kenyang. Dengan berat hati saya menolak halus tawaran Tante Tris. Tapi, kalau besok siang pasti saya nggak akan menolak. Hehehe…

Tahu Pong Sari Roso
Jl. Depok, Semarang
Cabang:
Jl. Gajah Mada 106 (kanan jalan dari arah simpang lima)

Semarang, 29 Maret 2009

Dibalik Kemegahan Lawang Sewu

“Kita mau ke mana, Tante?”

“Lawang Sewu”

“Yeay!”

“Tak kira kamu wedi, Ka. Taunya kamu malah hepi bikin keki,”

Kata-kata Tante Tris barusan justru bikin saya terpingkal-pingkal dan sakit perut karena tertawa. Ya memang, Tante Tris tidak mengetahui kalau saya ini pencinta hal-hal ekstrim dan berbau horor. Uji nyali macam ini tak mungkin saya lewatkan.

Perjalanan menuju Lawang Sewu tidak seberapa jauh. Lokasinya di pusat kota, berhadapan megah dengan Tugu Muda, lambang kota Semarang. Lawang Sewu memang sudah tersohor sejak dulu, selain karena banyak cerita mistis terjadi juga menjadi saksi bisu kekejaman pendudukan Jepang di Semarang saat pertempuran lima hari di Semarang pada tanggal 14 – 19 Oktober 1945.

Sore itu Lawang Sewu padat pengunjung. Banyak rombongan turis lokal datang ke sana. Padahal saat itu Lawang Sewu sedang dalam peremajaan. Sebelum masuk ke dalam, Tante Tris menanyakan lagi tentang kesiapan saya memasuki gedung yang dulunya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij alias NIS.

Lawang Sewu dalam perbaikan

Lawang Sewu dalam perbaikan

Dengan mantap saya mengatakan siap untuk menjelajahi Lawang Sewu. Di pintu depan, ada sebuah meja yang ditunggui oleh beberapa pemuda. Mereka ini adalah pemandu Lawang Sewu. Tanpa seragam, tanpa atribut pemerintahan, saya jadi ragu apakah mereka memang orang yang dipercayakan untuk menajadi pemandu di sana atau hanya pemandu dadakan yang sering dijumpai di beberapa objek wisata.

Ada tarif yang dibandrol khusus jika ingin menjelajah Lawang Sewu, bahkan tarif itu dibedakan apakah saya datang pada saat siang atau malam. Apakah saya mengelilingi Lawang Sewu mau ditemani atau tidak oleh si penjaga tersebut. Terlepas dari pikiran negatif tentang mereka, saya berpikir kalau tarif ini untuk biaya pemugaran Lawang Sewu nantinya.

Lagi-lagi Tante Tris berperan di sini. Ia kembali menjadi ‘bendahara’ dadakan untuk perjalanan saya. Biaya masuk Lawang Sewu digratiskannya. Wuiihh..kembang kempis rasanya hidung ini karena senang.

Masuk ke dalam Lawang Sewu. Sore sudah mulai merayap datang, penerangan belum dinyalakan, atau memang tidak ada penerangan? Entahlah. Saya harus segera beradaptasi dengan cahaya seadanya, yang hanya bersumber dari cahaya matahari yang menelusup masuk dari celah-celah jendela.

LawangSewu4

“Hati-hati jalannya,Mbak. Masih banyak tangga di dalam karena proses perbaikan belum selesai dilakukan,” kata pemandu saya mengingatkan.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai Lawang Sewu, hampir semua cerita yang dikisahkan olehnya sama dengan panduan buku sejarah yang tersebar di dunia maya. Saya hanya takjub karena melihat begitu megahnya bangunan ini meskipun usianya sudah lebih dari 100 tahun.

“Di sini, jangan banyak bengong Mbak. Bisa hilang di salah satu ruangan nantinya,” ujar pemandu saya saat itu.

Saya yang memang sedang ‘tinggal’ dalam pikiran saya langsung terkesiap mendengar kata-katanya. Saya bergegas mengejar yang lainnya. Saat itu, di dalam gedung tidak terlalu banyak orang. Mungkin karena hari sudah terlalu sore.

Tak berapa jauh dari pintu masuk, tetiba kaki saya terhenti. Saya tidak bisa melangkah. Bulu kuduk saya meremang seperti sedang kedinginan. Saya tidak mengatakan pada Tante Tris, Ribka ataupun pemandu saya. “Bisa..Bisa..” kata-kata itu terus yang terucap dalam hati. “Saya pasti bisa jalan dan masuk ke dalam,” bisik saya meyakinkan diri sendiri.

“Kamu nggak apa-apa, Ka?” tanya Ribka melihat saya terhenti di salah satu ruangan sesaat sebelum mereka berjalan terlalu jauh.

“Eh..oh, Umm..iyah nggak apa-apa kok.”

Saya hanya menjawab untuk meyakinkan mereka bahwa saya tidak apa-apa. Ketika akhirnya saya bisa menggerakkan kaki, baru dua langkah kaki saya kembali terhenti. Seperti ada yang mencengkram pergelangan kaki saya.

Deg! Perasaan saya tidak karuan. Bukan rasa takut yang menghinggapi, tapi lebih ke perasaan aneh. Bingung mengapa kaki saya tak bisa digerakkan tiba-tiba. Seolah ada seseorang yang menahan langkah saya agar tidak berjalan terlalu dalam.

Kali ini Ribka tidak melihat perubahan air muka saya. Ia sedang asyik berbincang-bincang dengan pemandunya. Sedangkan Tante Tris sedang sibuk dengan telepon dari suaminya.

Badan saya semakin dingin. Saya merasa ada seseorang yang kini tengah berdiri di samping saya. Mencengkram kuat pundak saya dan mengajak saya keluar dari gedung ini, segera! Saya ingin memanggil Tante Tris untuk menceritakan apa yang saya alami. Tapi saat memanggilnya, justru berbeda yang keluar.

“Tante, Saya ingin keluar,”

Kata-kata  yang meluncur barusan seperti tidak terkontrol. Dalam hati saya tidak mau mengatakan hal itu. Lagipula suara saya cenderung berat dan datar. Macam suara laki-laki saja.

“Kenapa, Ka?” tanya Ribka saat itu.

Tante Tris yang melihat saya langsung mengajak saya keluar dengan segera dan mengatakan pada pemandu kami untuk menyudahi kunjungan kali ini.

***

“Mbak tadi takut ya? Padahal saya belum ajak ke penjara bawah tanah,” tanya pemandu saya setengah meledek.

Saya hanya tersenyum datar menanggapinya. Tak berapa lama pemandu saya pamit dan meninggalkan kami di halaman Lawang Sewu.

Saya tidak banyak bicara setelah keluar dari Lawang Sewu. Saya mengabaikan apa yang baru saja terjadi pada diri saya dan menerima cemoohan Ika dan si pemandu wisata bahwa saya merasa ketakutan. Padahal saya tidak merasakan itu sama sekali. Saya malas menceritakan detil yang saya alami.

Saya memilih mengabadikan bangkai kepala kereta yang ada di samping Lawang Sewu. Konon Lawang Sewu pernah menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Jadi tak heran jika ada kepala kereta di sana.

Kepala lokomotif yang ada di halaman Lawang Sewu

Kepala lokomotif yang ada di halaman Lawang Sewu

Selain itu, Lawang Sewu juga pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Matahari nyaris tenggelam, perut saya sudah menjerit minta diisi. Pecel tadi siang ternyata tak bisa mengganjal perut hingga malam. Beranjaklah kami meninggalkan Lawang Sewu. Dalam hati saya bertekad kembali ke sini dan menjelajahi setiap sudut ruangan yang ada di Lawang Sewu.

***

“Ka, kamu tadi kenapa minta keluar?” tanya Tante tris tiba-tiba sambil melirik saya di kaca spion tengah.

“Ng…nggak apa-apa kok, Tante.”

“Kamu tahu kenapa tadi tante langsung nggiring kamu?”

Deg! Pertanyaan Tante Tris ini membuat saya bertanya-tanya dan mengalihkan perhatian dari jalanan. Saya mengingat-ingat kembali kejadian sore tadi di Lawang Sewu.

“Tante lihat seseorang diri di samping kamu waktu kamu panggil tante waktu minta keluar. Dia kayak minta tante bawa kamu keluar dari gedung itu. Makanya tante langsung giring kamu,”

“Waktu tadi kita masuk Lawang Sewu, perasaan Tante sudah nggak enak. Pas kamu minta keluar dan tante lihat ‘itu’ feeling tante memang benar.”

Hening lama. Tak ada yang berkomentar, saya dan Ika hanya saling tatap sedangkan Tante Tris terlihat tegang dibelakang kemudi. Saya bingung harus berkomentar apa untuk memecahkebisuan yang kini menggantung di udara.

Niat mengunjungi Gereja blenduk yang dihujani cahaya lampu kota saat malam, urung saya lakukan. Sepertinya tidak malam ini, besok mungkin jadi hari baik untuk saya bepergian kembali.

Lawang Sewu setelah proses pemugaran. (foto pinjam dari google)

Lawang Sewu setelah proses pemugaran. (foto pinjam dari google)

Semarang, 25 Maret 2009

Hadiah dari Sam Poo Kong

“Kemana tujuan pertamamu?”

“Sam Poo Kong,” saya menjawab mantap pertanyaan Ribka.

Setelah kenyang mengganjal perut dengan seporsi pecel dan juga es kolak serta cukup merbahkan diri sejenak, saya melanjutkan perjalanan di Semarang. Kali ini tujuan pertama adalah Sam Poo Kong, salah satu klenteng tua bersejarah yang ada di Jawa Tengah.

Masih ditemani Tante Tris, mama dari Ribka serta pemandu lokal yang menyenangkan. Meski udara Semarang masih cukup panas, namun sinar matahari sudah mulai bersahabat dengan kulit saya. Mobil melaju membelah jalan raya yang tak seberapa padatnya. Dalam hitungan menit, saya sudah tiba di Simongan, tempat dimana klenteng Sam Poo Kong berada.

“Kita sampai!” pekik Ribka antusias.

SamPooKong

Ada perasaan yang sulit saya deskripsikan saat menjejakkan kaki di halaman Gedung Batu, nama lain dari Klenteng Sam Poo Kong. Senang yang berlebihan melihat jejak laksamana Cheng Ho dari dekat yang dulu hanya ada dalam cerita di buku sejarah saja. Gapura megah berwarna merah menyala menyambut kedatangan saya. Tidak banyak pengunjung siang itu, hanya beberapa turis lokal yang datang untuk berdoa sepertinya.

Ada tiket yang harus saya bayar untuk menjelajahi kompleks halaman klenteng ataupun bangunan utama. Beruntung, tiket seharga Rp 10.000 saya digratiskan oleh Tante Tris. Memasuki halaman saya disambut oleh bangunan sederhana dengan ornamen Cina yang kental. Kata Tante Tris, saya bisa berfoto menggunakan baju khas kekaisaran Cina di tempat itu, sayangnya petugas yang berjaga sedang tidak ada.

Sam Poo Kong , terdiri dari bangunan utama dan juga beberapa bangunan pendampingnya. Di salah satu sisi halamannya terdapat bangunan yang masih dalam proses pembangunan. Bangunan ini akan dijadikan Gerbang Timur Sam Poo Kong (pembangunan rampung dilakukan di tahun 2012).

sam poo kong

Saya tidak mencoba masuk ke dalam klenteng terlalu jauh. Ada beberapa orang yang tengah berdoa khusyuk sekali. Saya mencoba menghormati mereka dengan tidak mengganggunya melalui suara jepretan atau kilatan cahaya kamera. Saya merekamnya dalam hati, apapun yang saat ini mereka yakini untuk diamini.

Satu yang menarik hati saya. Jejeran pilar yang ada di bagian samping bangunan utama. Pilar-pilar berukir naga serta barong sangat detil ditampilkan. Belum lagi jejeran lilin-lilin besar berwarna merah membuat saya takjub.

SamPooKong2

“Bagus ya, Ka?” suara Tante Tris mengagetkan saya. Sekilas saya menoleh ke arahnya dan mengamini semua yang ia katakan.

“Coba kamu lihat dupa-dupa yang digantung di atas,” kata-katanya langsung menggiring mata saya melihat apa yang ia tunjuk.

Astaga! Banyak sekali dupa tergantung di atas. Bukan dupa-dupa panjang seperti yang digunakan orang untuk sembahyang. Melainkan dupa yang berbentuk melingkar semakin besar.

“Tiap dupa itu ada namanya. Untuk mereka yang nggak bisa datang ke sini (sam poo kong) setiap saat, dupa ini seperti mewakili doa mereka untuk para leluhurnya,” terang Tante Tris menjawab semua tanya di kepala saya.

Jika diperhatikan memang ada sebuah label tergantung di setiap dupa/hio. Itu adalah nama yang dimaksudkan oleh si pengirim doa. Sedangkan lilin-lilin yang berjajar rapi juga mewakili doa dari setiap pengunjung yang pernah datang ke sana. Tidak hanya dupa dan lilin, banyak sekali lampion tergantung di atas. Selain memiliki makna khusus, juga menjadi hiasan cantik di klenteng ini.

Di bagian belakang bangunan utama, ada bangunan yang dihiasi relief sejarah mengenai Laksamana Cheng Ho. Menariknya, ada sebuah bedug yang menghiasi bangunan ini. Mungkin ini salah satu ciri yang mewakili sisi islam yang dianut oleh Laksamana Cheng Ho.

“Kamu mau diramal?” tanya Ribka mengagetkan saya yang masih takjub melihat detil ornamen di tiap reliefnya.

“Memang di sini bisa minta diramal? Di mana, Ka?” tanya saya heran.

Ribka tidak menjawab pertanyaan saya. Ia langsung menarik lengan saya dan mengajak saya menuju sebuah bangunan yang letaknya sedikit ke bawah. Ada patung kura-kura besar di bagian depannya. Sedangkan di dalamnya, selain persembahan ada juga meja yang digunakan untuk seseorang yang dikatakan bisa meramal itu.

SamPooKong6

“Yuk!” ajak Ribka kembali.

Tapi saya menolaknya. Saya memilih untuk mengambil gambar orang-orang yang sedang bersembahyang serta mencoba peruntungannya saja.

“Ayo, Ka! Seru lho diramal, siapa tahu kisah percintaanmu bisa diramal juga di sini,” ledek Ribka yang membuat saya mendaratkan sebuah cubitan kecil di lengannya. Ribka menghindar dan tertawa puas meledek saya.

Saat saya kembali ke bangunan utama Sam Poo Kong, saya melihat sekelompok anak muda, mungkin mahasiswa. Mereka mencoba masuk ke dalam klenteng namun dilarang oleh seseorang yang dugaan saya beliau itu adalah penjaga atau tetua yang memang dipercaya di Sam Poo Kong. Padahal mereka membawa dupa dan mengatakan ingin berdoa, tapi sekuat apapun bujuk rayu mereka lontarkan tidak membuat pria tua tersebut melunakkan hatinya.

Hasilnya, para pemuda itu hanya tertunduk lesu. Sepertinya mereka penasaran betul untuk melihat isi di dalam klenteng tersebut. Saya hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Saya mengistirahatkan kaki sejenak. Bersandar pada salah satu patung singa yang ada di halaman Sam Poo Kong. Melihat Ribka yang masih asyik bergaya di depan kamera bersama mamanya.

“Kamu mau masuk?” sebuah tepukan halus di pundak mengagetkan saya.

“Ha? Maksudnya, Pak?” tanya saya masih keheranan dengan teguran barusan.

“Iya. Kamu mau masuk ke dalam? Berdoa di dalam.” Imbuhnya.

“Oh, terima kasih Pak. Saya kesini hanya untuk motret saja. Bukan untuk berdoa,” tolak saya halus takut melukai perasaannya.

“Ndak apa-apa. Kamu juga boleh motret di dalam.”

Duh! Saya semakin rikuh dibuatnya. Rasa penasaran saya sebenarnya sangat ingin menerima undangannya, tapi melihat banyak sekali orang yang tengah berdoa membuat saya enggan mengganggu mereka. Itu jadi etika tidak tertulis yang saya buat sendiri.

Mendengar penolakan saya yang kedua, akhirnya beliau pun memutuskan untuk tidak memaksa lagi.

“Kalau kamu berubah pikiran, saya ada di ujung sana. Kamu bisa ambil hio di sana, jangan sungkan-sungkan ya,” tutupnya berpamitan pada saya. Saya mengangguk menolak halus tawarannya.

“Bapak tadi ngapain, Ka?”

Tante Tris dan Ribka langsung datang menghampiri saya dan bertanya.

“Oh itu tante, nawarin saya masuk ke dalam klenteng buat berdoa. Tapi saya nggak mau, kan saya di sini cuma mau foto-foto narsis,” jelas saya menceritakan yang baru saja terjadi.

SamPooKong5

“Kenapa kamu nggak iyain aja? Jarang-jarang bapak itu nyuruh orang masuk ke dalam. Tadi aja anak-anak itu sengaja beli hio buat bisa masuk, tapi nggak dibolehin,” jelas Tante Tris sambil mengarahkan tangan ke sekelompok pemuda yang tadi saya lihat.

Saya hanya bisa tersenyum dengan penjelasan Tante Tris dan mencoba mencerna perkataannya. Ada hal aneh yang saya rasakan. Mengapa anak-anak tersebut tidak diperbolehkan masuk? Bukankah kunjungan mereka justru lebih beralasan? Membawa hio dan ingin berdoa di dalam. Ah sudahlah, saya tidak mau memikirkannya terlalu jauh.

Saya lanjut mengabadikan kegiatan saya di sana. Sambil sesekali berpose aneh bersama Ribka. Hari hampir sore, Tante Tris mengajak saya ke lokasi selanjutnya. Saat saya berjalan keluar, saya dicegah oleh Bapak yang tadi berbicara pada saya.

“Tunggu, Nak,”

“Ada apa, Pak?”

“Ini,” ia menyodorkan sebuah gelang giok hijau ke tangan saya.

“Ini untuk  saya? Kenapa Pak?” tanya saya masih bingung dengan sikapnya.

“Ini dari Ibu yang di sana,” ia menunjuk seorang nenek tua yang sedang  berdiri di salah satu pilar klenteng utama.

“Ibu itu siapa? Dan kenapa saya dikasih ini?” tanya saya kembali.

“Ibu itu salah satu pengunjung tetap di sini. Beliau bukan dari tanah Jawa. Giok ini untuk kamu supaya enteng jodoh,”

Deg! Apa pula maksudnya ini? Saya seperti ‘ditelanjangi’ dengan tatapan matanya. Mata Ibu tua itu dan juga bapak penjaga klenteng.

Saya menerima gelang itu masih dengan wajah keheranan. Masih dengan jutaan tanya di kepala saya berpamitan dengan beliau dan menganggukan kepala kepada wanita tua yang memberikan giok kepada saya.

“Jaga Amoy ini baik-baik, Ama,” ujar bapak penjaga klenteng sambil menepuk-nepuk bahu saya. Ia kemudia pergi meninggalkan saya yang masih terdiam membisu memikirkan apa yang baru saja dikatakannya.

“Amoy yang dimaksud itu kamu, kalau Ama itu artinya nenek. Mungkin yang dilihat Bapak tadi adalah seseorang yang ada ‘dibelakang’ kamu,” terang Tante Tris sambil menggamit lengan saya dan mengajak saya menuju parkiran.

“Sudah, nggak usah dipikirin. Itu tanda yang baik, kok.” Seolah mengerti wajah saya yang masih sangat kebingungan, Tante Tris langsung mengajak saya ke persinggahan selanjutnya.

(bersambung)

Cerita #SemarangTrip lainnya bisa diintip di sini!
Semarang, 25 Maret 2009

Mengupas Sejarah Kraton di Ullen Sentalu

“Pulang ke kotamu..
ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja…”

Kembali ke Jogja. Setelah beberapa waktu tertunda akhirnya saya menginjakkan kaki kembali di kota pelajar ini. Tidak ada yang berubah selain semakin padat akan turis dan selalu berhasil membuat rindu saya naik sepenggelan leher.

Perjalanan kali ini saya tidak memiliki rencana mengunjungi tempat tertentu. Semua murni hanya untuk menebus kerinduan semata. Namun, saya teringat akan sebuah tempat yang sejak lama saya cari. Sebuah tempat yang langsung membuat saya jatuh cinta dan ingin sekali pergi ke sana. Ullen Sentalu.

Gerbang masuk museum Ullen Sentalu

Gerbang masuk museum Ullen Sentalu

Dua tahun lalu saya menyengajakan diri untuk datang ke Kaliurang untuk mengunjungi tempat ini. Tapi sayang sekali, saya kesulitan menemukannya. Kini, saya mencobanya sekali lagi.

Berbekal informasi yang seadanya (karena di google pun sangat sedikit info untuk menuju ke tempat ini) saya berangkat berbekal niat yang bulat. Tidak ada angkot atau bis yang langsung menuju Kaliurang. Hanya peta TransJogja dan hasil bertanya dengan penduduk sekitar yang pada akhirnya membawa saya tiba di Taman Kaswargan, Kaliurang.

Turun di halte Ngabean, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil Elf300. Kondisinya cukup ‘mengenaskan’ mengingat jalan Kaliurang yang menanjak. Elf300 ini sering terbatuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Lumayan mengganggu.

Lagi-lagi saya bertanya kepada pak supir serta penumpang lainnya, apakah mereka tahu lokasi persis museum Ullen Sentalu. Kembali, hasilnya nihil! Ternyata tidak semua orang Jogja asli, Kaliurang lebih tepatnya, tahu informasi tentang museum ini. Angkot tiba di pasar pakem. Tidak ada angkot lain yang akan lewat selama musim libur lebaran ini. Mau tidak mau saya menggunakan jasa ojek menuju atas. Tawar menawar harga terjadi, tapi untunglah masih termasuk harga yang masuk akal meskipun liburan.

Tak berapa lama, saya tiba di Museum Ullen Sentalu. Kalau saja saya tidak malu, mungkin saya sudah salto dan lari-lari keliling kaliurang, hehe.. Seperti mimpi yang jadi nyata!

Padahal dulu saya melewati daerah ini berkali-kali tapi tidak ketemu. Karena tidak ada plang petunjuk arah. Sekarang, sudah ada plang petunjuk arah yang cukup eye catchy untuk dilihat siapa saja.

Berhubung libur panjang, pengunjung sore itu cukup padat. Saya tiba tepat pukul 3, sedangkan museum tutup pukul 4 sore. Lama tur yang disiapkan adalah 50 menit, bisa dibilang saya masuk dalam rombongan terakhir. Telat sedikit saja, saya harus kembali keesokan harinya, kecuali saya datang dengan rombongan besar tentu akan ada pengecualian.

Tiket masuk museum Ullen Sentalu

Tiket masuk museum Ullen Sentalu

Saya harus membayar tiket masuk sebesar 25 ribu untuk mengikuti tur selama 50 menit, itu sudah termasuk harga guide, welcome drink, dan buku panduan. Sedangkan untuk anak-anak dikenakan biaya 15ribu. Untuk turis asing, harganya sedikit berbeda 50ribu untuk dewasa dan 25ribu untuk anak-anak. Harga yang sedikit mahal untuk ukuran tiket masuk museum di Jogja, tapi sangat masuk akal dan sebanding dengan apa yang didapatkan. Trust me!

Mba Rina, pemandu saya sore itu. Saya dimasukkan ke dalam rombongan keluarga asal Jakarta, total dari kami adalah 19 orang. Hufff..jumlah yang lumayan banyak. Jadi saya memilih ‘ngintil’ Mba Rina dari dekat jika tidak mau ketinggalan info yang ia berikan.

Memasuki museum ini saya seperti kembali kemasa kejayaan kraton Jawa, dulu sekali. Tumbuhan besar-besar dengan sulur-sulur panjang dan jalan setapak dari batu membuat saya seperti terlempar ke masa silam. Udara segar mengisi peparu yang kembang kempis karena senang.

Museum yang diresmikan di tahun 1997 ini diprakarsai oleh Keluarga Haryono yang masih termasuk dalam keluarga keraton Yogyakarta. Museum Ullen Sentalu ini berada di kawasan Taman Kaswargan yang secara filosofis, nama Kaswargan dipilih karena terletak di ketinggian lereng Gunung Merapi, di mana kultur masyarakat Jawa menganggap Gunung Merapi sebagai tempat sakral. Taman Kaswargan berada dalam suatu ‘historical district’, yaitu kawasan bersejarah seperti Pesanggrahan Ngeksigondo dan Wisma Kaliurang.

Kata Ullen Sentalu sendiri kependekan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, atau yang bisa diartikan nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan. Sedangkan blencong adalah lampu minyak yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit.

Museum yang memiliki luas lebih dari 10ribu m2 ini terbagi dalam beberapa ruangan. Ruangan pertama diberi nama Ruang Seni dan Gamelan, dimana saya disuguhi seperangkat gamelan yang pernah digunakan untuk pertunjukkan wayang dan pagelaran tari di kraton Yogyakarta.

Selanjutnya Mba Rina menggiring kami ke sebuah lorong menuju bawah tanah, Guwo Selo Giri. Lampu yang kian temaram, lorong sempit yang hanya cukup dijajari oleh dua orang dan langit-langit yang tinggi tidak mengurangi keasyikan menyusuri museum ini. Foto dan dokumentasi yang berasal dari jaman dinasti Mataram Islam; Kraton Yogyakarta, Surakarta, Pakualam serta Mangkunegaran dijelaskan dengan sangat fasih dan cepat oleh Mba Rina, si pemandu tur.

Terbayang di benak saya, betapa besar dan sangat berpengaruhnya kerajaan Mataram Islam dulu kala. Betapa pedulinya Sultan HB IX terhadap rakyatnya pun rakyatnya mencintai beliau. Sultan yang pada masa itu memang termasuk orang yang kaya raya, membantu proses kemerdekaan Indonesia dengan menyumbangkan 6 juta gulden. Bayangkan saja, 6 juta gulden disumbangkan dengan cuma-cuma demi negerinya!

Tidak hanya itu, gaya hidup putri-putri dan permaisuri kraton juga cukup modern. Sebut saja Raden Ayu Kuspariyah ibunda PB XII yang mahir bermain piano dan biola, serta menguasai beberapa bahasa asing dengan fasihnya. O ya, saya menemukan beberapa lukisan yang memberikan kejutan kalau diperhatikan dengan saksama. Mulai dari lukisan itu sendiri hingga piguranya.

Masih ingin berlama-lama dan menyelami setiap detil dari lukisan yang tertata dengan apiknya, saya harus berpindah ke area selanjutnya, Kampung Kambang. Ruangan yang ada di area kampung kambang terletak di atas kolam air. Bukan kolam besar, hanya seperti parit dengan lebar 50cm yang berisi macam-macam ikan hias dan juga kecebong.

Ruangan pertama yang saya sambangi di Kampung Kambang adalah Ruang Syair. Ruang yang berisi puisi-puisi hasil karya GRAj Koes Sapariyam atau yang kerap disapa Tineke, dan juga surat-surat yang ditujukan untuk beliau, baik dari keluarga, kerabat, dan juga para sahabat. Syair dan puisi ini dikirimkan oleh teman-teman beliau demi mengobati rasa sedih yang sedang melanda beliau karena cintanya tak disetujui oleh ibundanya.  Di sini, saya begitu terhanyut dengan ratusan puisi yang tertulis untuk beliau. Begitu sederhana, manis, dan terasa damai di hati. Hmm..andai saja tulisan-tulisan itu dibukukan!

Royal Room Ratu Mas, merupakan ruangan yang dipersembahkan khusus untuk permaisuri PB X. Ruangan ini berisi koleksi lukisan, foto, serta barang pribadi milik permaisuri. Dari berbagai macam koleksi yang saya temukan, saya bisa menarik kesimpulan kalau sang permaisuri adalah seseorang y ang cukup modis dan melek fashion pada masanya.

Belum lagi rasa kagum ini tuntas, (lagi-lagi) saya harus takjub melihat berbagai macam koleksi batik yang biasa digunakan oleh keluarga kerajaan. Di sini dijelaskan perbedaan yang mendasar antara batik kraton Surakarta dan kraton Yogyakarta. Warna dasar untuk batik Solo atau Surakarta adalah sogan atau kuning gelap  menuju cokelat. Sedangkan batik Yogyakarta warna dasarnya adalah putih.

Setiap corak batik yang ada pada kain, memiliki filosofi yang dalam. Tidak boleh sembarangan dalam menggunakannya. Misalnya saja Batik Sidomukti yang bermakna sebuah harapan kebahagiaan lahir batin. Motif Truntum, biasanya digunakan oleh orang tua pengantin pada saat acara pernikahan, karena makna dari batik itu adalah menuntun. Batik Kawung, yang memiliki corak seperti bunga Lotus. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian. Dan masih banyak yang lain (maaf, memori saya agak terganggu dibagian ini, hehe).

Keluar dari Royal Room Ratu Mas, saya dibuat terpana oleh sebuah foto yang menyambut saya saat memasuki sebuah ruangan. Ruang Putri Dambaan. Foto ini cukup akrab dengan saya beberapa tahun silam, dan yang menjadi salah satu alasan saya ingin mengunjungi Ullen Sentalu sejak dulu.

GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Soerjosoejarso atau yang biasa disapa dengan sebutan Gusti Nurul merupakan pemilik ruangan pribadi ini. Beliau memang sangat cantik dan menjadi dambaan banyak orang penting pada masanya. Parasnya yang ayu, luwes dalam menari, pandai berkuda,  fasih banyak bahasa, dan pribadinya yang humble selalu membuat putri Mangkunegaran VII ini jadi incaran banyak pemuda. Beliau pun pernah menampilkan sebuah tarian di pernikahan Putri Juliana di Belanda. Uniknya, Gusti Nurul menari diiringi oleh gamelan yang suaranya keluar melalui telepon dari Solo. Bayangkan saja, saat itu teknologi sudah cukup berkembang pesat!

Karena kecantikan Gustri Nurul yang sudah tersohor ke penjuru negeri, membuat banyak orang berlomba-lomba untuk meminangnya. Sebut saja Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir hingga Soekarno mencoba untuk melamarnya.

Namun Gustri Nurul mempunyai sebuah prinsip yang teguh ia pegang sampai ia menikah, bahwa ia tak akan menikah dengan politisi dan enggan dipoligami. Karena prinsipnya ini, Gusti Nurul baru melepas masa lajang di usianya yang ke-30 dengan Kolonel Soejarso, pria pilihannya sendiri. Bukan dari kalangan ningrat ataupun politisi.

Koridor Retja Landa, koridor ini memuat banyak sekali patung dewa dewi hindu dan budha dari abad 8 Masehi. Di gerbang awal, saya disuguhi sebuah arca yang sudah sangat ‘akrab’ dimata saya. Ganesha. Perut Ganesha yang buncit ternyata memiliki filosofi yang menarik. Konon katanya, di dalam perut yang buncit itulah letak Ganesha menyimpan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Hmm..kontan saja, para pria yang ada di dalam kelompok saya tertawa senang, seperti ada sebuah pembelaan jika ditanya perihal perut yang buncit. Hihihi…

Menuju ruang terakhir, Sasana Sekar Bawana saya melihat beberapa bangunan baru yang sedang dipersiapkan. Bangunan ini diebntuk seperti kastil-kastil batu dari abad pertengahan. Ada juga pelataran luas yang berisikan patung asimetris yang menambah keren tampilan museum secara arsitekturnya. O ya, di Sasana Sekar Bawana, saya disuguhi berbagai macam lukisan dan juga patung-patung. Diantaranya adalah lukisan Sri Sultan HB X dan permaisuri Ratu Hemas sedang menerima kunjungan kenegaraan dari Pangeran Charles dan Putri Diana. Ada juga lukisan tari Bedaya Ketawang yang sakral dan sedikit berbau mistis, karena menampilkan 9 penari dan Kanjeng Ratu Kidul yang digambarkan menerawang sebagai penari kesepuluh.

O ya, welcome drink yang termasuk dalam paket tur ternyata minuman rahasia racikan Kanjeng Ratu Mas yang konon katanya bisa bikin awet muda. Warna minumannya merah kecokelatan dengan aroma khas yang menggelitik hidung. Saat disesap, ada rasa cengkeh, jahe, gula merah, dan juga serutan kayu secang yang saya rasakan. Hmm..hangat dan enak!

Di Ullen Snetalu, setiap pengunjung juga bisa mengikuti kelas menari yang diadakan di salah satu ruangan. Saat itu saya melihat beberapa bocah sedang asyik berlatih sebuah tarian. Hmm..sepertinya saya harus mengagendakan waktu khusus untuk belajar menari di tempat ini.

O ya, pengunjung yang lapar setelah berkeliling di Ullen Sentalu, bisa memanjakan lidahnya di Beukenhof Restaurant. Sebuah restoran yang dibangun dengan gaya arsitektur kolonial Belanda serta menyajikan hidangan Indonesia dan beberapa hidangan ala barat. Bagi yang ingin membeli buah tangan dari Ullen Sentalu juga bisa mampir di Bale Nitik Rengganis. Macam-macam souvenir bisa ditemukan di sini.

Tanpa terasa, 50 menit sudah saya berkeliling di museum Ullen Sentalu. Saya bahkan terlalu bingung bagaimana merangkum seluruh informasi dan cerita yang saya dapat. Saya terlalu takjub dan luber informasi. Saya berjanji pada diri sendiri akan datang ke tempat ini lagi saat berkesempatan singgah di Jogja. I fall in love with this place, for a thousand times!

ulen

Museum Ullen Sentalu

Jl.Boyong Taman wisata Kaliurang,
telp (62-0274) 895161, 895131
Sekretariat : Jl. Plemburan 10 Yogyakarta 55581
Telephon : (62-0274) 880158,
Fax : (62-0274) 881743

Jam buka tiket : Selasa – Minggu, pk. 09.00 – 16.00 WIB
Hari Libur Nasional tetap buka
Tiket : Rp. 25 000 (nusantara)
Rp. 25 000 (pelajar mancanegara)
US $ 5.00 (manca negara = Rp.50.000)

Jogja, 26 Oktober 2012
PS: berhubung tidak boleh mengambil foto-foto di tempat ini, saya hanya bisa memasukkan beberapa foto taman dan juga suasana di luar museum.

Pecel dan Es Kolak, Bibit Nostalgia

Kereta Argo Anggrek mulai merapat di stasiun Tawang, Semarang. Perjalananku hampir usai dengan kereta eksekutif ini. Aku sudah tidak betah duduk berlama-lama di dalam kereta yang sepanjang perjalanan hanya memutarkan lagu itu-itu saja. Seperti brain wash sehari!

Kuraih ransel merah hitam yang akrab menemani semua perjalananku. Semarang siang itu cukup panas. Atau mungkin memang setiap hari seperti ini? Entahlah, aku akan mengetahuinya nanti.

Kuraih telepon selular di saku celana, kucoba ingat pesan terakhir Ribka, kawan baruku. Ia adalah orang yang dikenalkan seseorang demi untuk menemaniku bepergian selama di Semarang. Aku hanya mengetahui wajahnya melalui jejaring sosial, jadi aku masih bertanya-tanya ‘yang mana orangnya ya?’.

Tiba-tiba.

“Eka ya?”

Tepukan halus dari seseorang berwajah oriental dengan kulit bersih mengagetkan lamunanku.

“Hai, Aku Ribka. Temannya Galih” ujarnya lagi menjawab semua tanya yang terlihat di wajahku.

“Oiya, ini mamaku.” lanjutnya memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang masih anggun penampilannya.

Setelah berkenalan dan berbasa basi soal cerita selama di perjalanan, Ika- sapaan akrabnya- dan Tante Tris mengajakku ke suatu tempat.

“Kamu pasti laper kan? Makanan di kereta pasti gak bikin kenyang!” selorohnya yang langsung kuamini dengan segenap hati.

Tante Tris mengemudikan mobilnya secara perlahan. Terkadang ia bercerita tentang kota ini dulunya. Dan menceritakan beberapa orang tamu suaminya yang unik ketika diantarkan jalan-jalan mengelilingi kota tua Semarang. Ah, pantas saja Ribka dan mamanya sangat hangat. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran orang baru di rumah mereka. Dan tak pernah segan untuk mengantarkan entah teman suaminya atau pun kawan-kawan anaknya untuk berkeliling di kota Semarang hingga ke kota-kota terdekat lainnya.

Udara yang panas menyengat membuat peluh berlarian tidak karuan. Berkali-kali aku menyeka keringat yang menetes hingga ke leher. Padahal pendingin di mobil sudah diatur cukup besar.

“Panas ya, Ka? Hehe.. sabar nanti juga terbiasa,” tegur Tante Tris yang ternyata memperhatikanku sejak tadi dari kaca spion tengah. Aku hanya bisa cengar- cengir sambil masih mencoba menghapus keringat yang tersisa.

Mobil Panther berwarna hitam kini memasuki wilayah Pekunden. Kawasan pemukiman ini ternyata memilliki surga kuliner yang bisa membawa nostalgia masa muda. Itu sih menurut Tante Tris. Mungkin karena ia sudah menghabiskan separuh hidupnya di kota ini.

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

‘Warung Rujak Cingur Bu Sri’ nama yang tercetak di sebuah bangunan sederhana tepat di Jl.Pekunden Timur I No.2. “Lho? Jauh-jauh ke Semarang kok malah di bawa ke warung rujak cingur?” batinku dalam hati.

“Di sini memang bukan makanan khas Semarang Ka, tapi aku jamin kamu bakalan suka bahkan nagih!” kata Ribka seperti tahu tanya dalam benakku.

Suasana warung cukup padat pengunjung. Rata-rata yang datang selalu rombongan keluarga, dan sepertinya antara pengunjung dan juga penjual sudah kenal cukup lama. Bahkan ada juga yang datang dari Jakarta seperti aku, langsung disambut manis oleh si empunya warung. Sepertinya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Ini semakin menarik!

Jejeran meja kayu dan bangku plastik sederhana menghiasi tiap sudut warung yang sekaligus rumah dari Ibu Sri. Tiupan semilir sejuk kipas angin di sudut ruangan cukup membuat ku berhenti sejenak dari mengelap peluh yang sudah banjir sejak menjejakkan kaki di kota ini.

Seporsi pecel, rujak cingur dan juga es kolak telah dipesan oleh Ribka untukku. Pilihan menu yang ada di warung bu Sri sejak lebih dari 30 tahun silam ini beragam, diantaranya pecel kangkung, rujak Surabaya, rujak buah yang dicacah atau rujak iris. Sedangkan untuk pelengkapnya ada es kolak dengan campuran degan alias kelapa muda atau dengan bubur sumsum. Sederetan minuman segar yang tak kalah menggiurkan seperti es degan, es bubur, es dawet, es blewah, es campur dan es sirop bisa jadi pilihan yang segar di cuaca panas kota Semarang ini.

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Sepiring cekung berisi pecel sudah tersaji dalam waktu sekejap. Irisan janganan alias sayur-sayuran rebus berselimut bumbu kacang berwarna kecokelatan menebarkan aroma harum yang bikin liur ini hampir menitik.

Suapan pertama langsung terasa renyah daun kangkung , daun kol, juga tauge yang direbus dengan tingkat kematangan yang pas. Kangkungnya bukan kangkung akar, melainkan kangkung sawah yang memiliki bentuk daun yang cukup tebal. Bumbu pecelnya terasa gurih-gurih manis dengan jejak pedas yang terasa lamat-lamat. Jejak petis yang tersisa di lidah juga sangat kuat, dan sepertinya petis yang digunakan adalah petis udang asli Surabaya yang membuat aksen pecelnya jadi lebih legit. Ah, sedap!

Tidak berbeda dengan pecelnya, rujak cingur yang disajikan juga tak kalah nikmatnya. Potongan nanas, bengkoang dan mentimun besar-besar, tak ketinggalan potongan cingur yang juga tebal, dan sayuran, membuat saya sejenak lupa kalau saat ini sedang berada di Semarang, bukan Surabaya. Hehe..

Rasa gurih dan pedasnya pecel yang tertinggal di tenggorokan segera terbilas dengan semangkuk es kolak yang manis legit. Aku memilih es kolak tanpa campuran apa-apa, karena masih terlalu ‘asing’ dengan campuran semacam degan dan juga bubur sumsum. Tapi Ribka meyakinkanku kalau es kolak degan takkan pernah mengecewakan. Hmm.. mungkin aku harus mempertimbangkan sarannya.

Es Kolak

Es Kolak

Es kolak disajikan di dalam mangkuk yang cukup besar untuk porsiku. Potongan pisang kepok, kolang kaling, kuah kolak serta ditutup dengan sirup merah dan es batu benar-benar bisa menghapus rasa panas yang menyerang sejak tadi.

Buah pisangnya matang sempurna, dengan tekstur daging buah yang kenyal lembut, rasanya makin legit antara campuran kuah kolak dengan campuran sirup merah yang menggugah selera. Sluurp!

Ah, jamuan Ribka di awal kedatanganku di kota Semarang ini benar-benar memuaskan! Sambil asyik ngobrol, mataku tertumbuk dengan pesanan meja sebelah yang sepertinya menggiurkan. Rujak potong dan gado-gado siram!

“Rujak potong di sini juga enak lho, Ka! Kamu mau coba ngga?” teguran Ribka seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan saat itu.

Sayang saja perutku sudah tak sanggup menampung lebih banyak makanan. Mungkin kalau masih tersisa satu tempat, aku harus menghitung kancing demi memutuskan antara gado-gado siram atau rujak potong yang menjadi jawabannya. Haha..

O ya, semangkuk pecel ini dibandrol dengan harga Rp 7.000 sedangkan es kolak Rp 6.000, dan kurasa ini harga yang cukup murah dengan rasa yang buatku ketagihan! Dan sepertinya aku tahu harus kemana menebus rindu ketika menginjakkan kaki di kota Semarang ini lagi. Warung pecel bu Sri yang akan selalu membawa kenangan akan kota ini. Kota Semarang dengan sentuhan Surabaya.

Semarang, Maret 2009
*perjalanan 3 tahun lalu baru sempat dituliskan kembali sekarang