Obrolan Cangkir Kopi

“… kamu kayaknya perlu segelas kopi deh, Non. Blandongan?”

Kata-kata itu yang kerap kali dilontarkan olehnya kalau aku mulai mencurahkan emosi yang meluap-luap. Atau aku sedang ingin mengeluarkan secuil pemikiran yang mengganjal seharian.

Ia tak pernah menyambut emosiku dengan emosi lainnya. Ia justru akan meredam emosi ini dengan ajakan secangkir kopi dan obrolan panjang seharian. Aku tetiba teringat olehnya. Ia yang kini jauh berada di kota pelajar yang sedang melanjutkan studinya.

Aku jadi berpikir, apa yang menjadikan kopi begitu nikmat? Atau bagaimana obrolan begitu bersemangat dan mengalir dengan hangat dengan secangkir kopi?

Kalau banyak penikmat nikotin mengatakan kopi dan rokok adalah sahabat, buatku kopi dan sahabat adalah kawan karib yang melegenda. Bagaimana sebuah ide tercipta hanya karena obrolan warung kopi dan bagaimana masalah bisa terselesaikan hanya karena berbagi cerita dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lainnya.

Aku bukanlah pencinta kopi yang mengerti seluk beluk biji kopi hingga menjadi minuman lezat di pagi hari. Aku cukup menjadi penikmat kopi di mana saja, apapun bentuknya. Fresh atau siap saji, aku menikmatinya. Tak lupa seorang atau segerombolan kawan sebagai selingan saat menyesapnya.

Masih hangat dalam benakku, bagaimana perkenalan kami bermula. Secangkir kopi dan senja di sebuah kedai kopi di tengah sawah. Cerita bermula dari aku yang berkomentar tentang senja sore itu yang disambut oleh cerita tentangnya dan bagaimana ia mencintai kopi juga tembakau yang dihisapnya.

Tanpa terasa cerita demi cerita terangkai dengan manisnya dan selalu berakhir ketika senja nyaris tertelan gelapnya malam. Saat itu, aku menyudahi perjumpaan kami. Kucukupkan cerita sore itu dengan sebuah lambaian hangat sebelum kukayuh sepeda kumbangku dengan nada riang.

Begitu setiap hari. Setiap sore, kukayuh sepeda kumbang menuju kedai di tengah sawah. Di sana kutahu ia selalu menungguku dengan senyum dari bibir kehitaman dan nikotin yang terbakar di sela jemari kanan.

Dua cangkir kopi terseduh, menguarkan aroma harum yang memikat. Kusunggingkan senyum untuknya yang sudah bersabar menungguku. Sesapan pertama dan komentar tentang senja hari itu jadi pembuka. Dan menit-menit berikutnya mengalir begitu saja tentunya dengan cangkir kopi yang kembali terisi dari cangkir bergambar bunga mawar.

Aku, dia, dan cangkir-cangkir kopi merangkai cerita. Hanya dengan obrolan sederhana tentang rasa, tentang bagaimana hidup itu semestinya dimata kami, manusia. Tentang persahabatan dan juga cinta, yang terkadang jumlah duka tidak pernah seimbang dengan suka.

Tapi satu hal yang pasti, obrolan cangkir kopi ini akan terus mengalir meski kami tak lagi bisa menikmati cangkir-cangkir kopi di tengah sawah bersama senja. Meski kesibukan menenggelamkan rasa pada akhirnya. Mungkin ada waktunya nanti aku dan dirinya bisa menikmati kopi kami kembali sambil bernostalgia tentang senja, rasa, dan cinta sesama.

Dan soal kopi yang menjadi sahabat setia kala bercerita, aku masih bertanya-tanya. Kubiarkan ia tetap menjadi rahasia. Maka, nikmati saja!

cangkir kopi

 

Senin, 3 Deseber 2012
Lagi-lagi, tulisan ini saya temukan diantara file-file tulisan yang belum sempat ter-posting tahun lalu.
*foto dipinjam di sini

Doa Sederhana

Di luar, titik-titik hujan mulai mereda. Kurapatkan sweater hijau pupusku dan menyilangkan tangan mencari setitik hangat di sela-sela ketiak. Dia masih berceloteh tentang harinya. Bagaimana ia melewati hari ini hanya di depan leptop kesayangannya.

Ia juga bertutur tentang bagaimana sesiangan tukang pompa air begitu ributnya hingga membuat ia tak bisa memejamkan mata. Ia, pria yang ada di hadapanku kini, yang tak pernah berhenti membuatku tersenyum, takjub, dan bersyukur.

Tanpa pernah ia sadari, aku banyak belajar hidup darinya. Aku belajar menganal cinta karenanya. Ia, lelaki yang menyengajakan diri datang ke ibu kota demi menjemput cintanya. Ia yang tak pernah akrab dengan  riuhnya kota dan padatnya kopaja memilih berdamai dengan itu semua demi satu cinta.

Malam semakin larut. Butir-butir hujan mulai berjejalan tergesa menyapa makhluk bumi kembali. Ia menatapku, menarik tanganku yang masih mencoba mencari hangat dari balik sweater tipis yang ternyata tak bisa menghalau dinginnya malam.

Ia menggosok-gosokkan telapak tanganku diantara telapak tangannya. Mencoba menghangatkan telapakku yang mulai memucat.Ada getar yang menelusup riang di tubuhku. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutku. Dan ada getar irama yang mengalun di dalam hatiku.

Ia masih bercerita, kali ini tentang cerita wayang yang memang kusuka. Ia menceritakan sisi lain seorang Rahwana, musuh dari Rama yang sangat kejam namun begitu romantis terhadap Dewi Shinta. Jika membangun taman asoka menjadi sangat romantis, buatku apa yang ia lakukan baru saja sudah sangat romantis. Sederhana, tapi ini yang kadang terlupa.

Seperti ada hukum alam yang mengaitkan lengkung senyum di bibirku saat melihat matanya yang membulat, mengerjap, ketika menceritakan tentang apa yang sedang dilakoninya. Ia selalu membuatku menyunggingkan senyum hanya dengan melihatnya bercerita.

Ada doa yang terangkai perlahan saat melihat wajahnya. Doa sederhana yang kupinta kepada Tuhan agar mengijinkanku sakinah bersamanya. Menjadi ­pendamping lelaki di hadapanku. Menjadi bagian dalam cerita hidupnya dan membaginya di suatu sore bersama buah hati kami nantinya. Semoga Tuhan mengabulkannya.

Dan malam ini aku hanya perlu menikmati kebersamaan kami berdua dalam rinai hujan yang mengalun perlahan dan menghilang di tengah gelapnya malam.

12 April 2013 ; 21.13

Menjadi Kita

Together-we-are-happy-and-complete

Saat menikah ke-Aku-an mulai pudar, ke-Kamu-an juga mulai menghilang dan tergantikan dengan ke-Kita-an. Tidak ada kata Aku atau Kamu menyelinap dalam setiap pembicaraan, yang ada semuanya tergantikan dengan ‘Kita’.

Bahkan ketika menyusun daftar keinginan, bukan lagi Aku yang dipikirkan, bukan lagi Kamu yang diutamakan tapi Kita yang diperjuangkan. Lantas bagaimana menyiasati Aku dan Kamu yang terlalu lama egois dengan kesendirian demi sebuah Kita yang akan berjalan menatap masa depan?

Adalah Aku yang mencoba menyusun kembali semua daftar keinginan. Pun juga Kamu yang merangkai semua target yang ingin dicapai. Dan kolaborasi Kita yang mulai menilai dan menelaah apakah ini cukup baik dilakukan atau tidak. Apakah Kita layak untuk mengorbankan apa yang dimiliki untuk mencapainya?

Tak jarang, Aku dan Kamu akan merasa tersakiti atau kehilangan karena ada mimpi dan harapan yang sebaiknya ditinggalkan. Atau prioritasnya sudah bukan lagi di bagian paling depan dengan pertimbangan satu dan lain hal yang baik untuk Kita. Bukan baik hanya untuk Aku atau Kamu.

Untuk itu, mungkin diperlukan waktu untuk Kita sebagai dua gabungan individu, Aku dan Kamu untuk bisa beradaptasi menjadi Kita. Saling mengisi kotak mimpi masing-masing dan mulai menyusun strategi. Perang Kita bukan hanya dengan mereka yang di luar sana, tapi egoisme Aku dan Kamu yang perlu dilebur, dikikis perlahan, hingga terbentuk rencana manis menuju masa depan Kita.

Kemang, 26 Maret 2013 ; 15.00
*foto dipinjam di sini

Debar Untuk Bulan

Dan bukankah kegelapan tak pernah berdaya di hadapan setitik cahaya?

Sebuah pesan singkat yang kudapat malam ini sungguh kontras dengan pemandangan langit di atasku. Bulan bulat penuh dengan iringan awan hitam yang menaunginya perlahan tersapu angin yang bertiup ringan dari selatan.

Adalah aku yang selalu ingin menjelma malam untuk dapat menemanimu yang tengah bertugas malam ini, Bulan.

Kembali kubaca pesan lanjutan yang baru saja masuk ke dalam kotak surat elektronikku. Tak pernah kupungkiri, aku selalu senang menerima pesan-pesan yang dikirimkannya. Selalu penuh sanjung dan memujaku begitu rupa. Ah wanita.. Ya, aku masih wanita. Aku menyukai bentuk pujian yang membuatku merasa istimewa.

🙂

Hanya ikon itu yang kukirimkan untuknya. Untuk Banyu, pria yang tak pernah kutemui sejak kali pertama aku mengenalnya di dunia maya tiga bulan lalu. Aku tak pernah mengatakan kalau ini adalah sebuah kebetulan, tapi ini adalah rencana Tuhan yang mengenalkan aku padanya.

Seperti memilih menjadikannya rahasia, aku menyimpan sendiri senyumku sebab segala hal menyenangkan yang dilakukan Banyu. Jika pun ingin berbagi, aku memberikannya kepada cermin.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Banyu terus mengajakku berbincang apa saja yang bisa menggubah tawa dan menyulut semangat yang begitu hangat memeluki aku. Sepanjang hari, tanpa henti.

Terkadang aku dililit ingin yang melebihi bahagia yang aku nikmati sendiri. Aku ingin menatap lekat mata Banyu. Aku ingin menikmati pikat cara bicaranya sekali lagi. Namun, aku pun tak tahu apa yang bisa aku lakukan saat ini.

Kadang ada keinginan untuk mengajaknya bertemu tapi selalu saja ada yang membuatku meragu. Aku terlalu takut untuk memulainya lebih dulu. Aku tak pernah tahu, apakah ia hanya seorang pria yang memang senang menjual kata-kata sebagai senjata menaklukan wanita atau ia memang orang yang selalu penuh cinta?

Kepada Bulan Andina, adakah kau memiliki keinginan untuk bertemu denganku sekali saja?

Pesan yang masuk baru saja membuat tanganku gemetar. Ia seperti membaca hati dan pikiranku saat ini. Benakku seolah dibacanya. Ah, semua tanya aku hapus segera. Berkali-kali kuketikkan pesan balasan, tapi selalu saja kuhapus. Aku belum siap.

Aku yakin, wajahku pasti sudah memerah. Aku tak bisa bayangkan jika ini terjadi saat aku bertatap mata dengannya. Dengan pria yang sungguh telah membuatku didesak rasa penasaran. Bahkan kadang terlalu berlebihan.

Terima kasih Banyu Anggara. Rona merah di pipiku sepertinya berisyarat anggukan istimewa untukmu.

Entah mantra apa yang mendadak aku rapalkan hingga tiba-tiba saja aku berani mengirimkan balasan seperti untuknya. Aku menjamu derap jantung yang semakin kencang. Aku memejam dan meringis menahannya agar jantungku tak buru-buru meloncat keluar.

Ah, apakah ini kelelahanku yang terlalu lama bersembunyi dalam maya yang seharusnya bisa aku perjuangkan menjadi nyata?

Tuhan, adakah engkau sedang mempermainkan perasaanku saat ini? Kuharap engkau tidak sedang bermain dengan hatiku yang sepertinya sudah lama berselimut debu. Maaf, aku bukan sedang mengancamMu, tapi aku hanya inginkan sesuatu yang sedikit lebih nyata untukku angankan. Bukan sekadar mimpi yang membuat hari-hariku semakin dilanda sendu karena harapan itu terlalu semu.

“Mba Bulan… kok ngelamun lagi? Hayooo..mikirin siapa?” sebuah suara dari balik pintu mengagetkanku.

“Ah, kamu mengagetkanku saja Mel!” jawabku sambil berbalik menujunya.

“Masih sakit, mbak?”

Ada getir halus menelusup perlahan memudarkan senyum yang sejak tadi terkembang di ujung bibirku.

“Umm.. sudah mendingan. Pain killer aku boleh ditambah dosisnya?”

“Jangan mbak, dokter bilang dosis itu sudah cukup untuk kondisi mbak Bulan sekarang,”ujarnya sambil merapikan beberapa mangkuk obat yang sudah kuhabiskan baru saja.

“Mbak Bulan harus terus semangat ya! Ini bukan akhir dari segalanya, Mbak,” kata-kata Mela, suster yang merawatku menggantung di udara.

Aku hanya mendengar kata-katanya sekilas sambil melihat wajahku dalam cermin dan sesekali melihat balutan putih yang membebat kaki kananku.

Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku hanya menikmati gerimis manja yang sore itu menemani perjalananku. Tak juga terlalu gontai langkahku. Namun, kemudian aku tak ingat lagi. Kabarnya, sebuah sepeda motor tak lagi bisa dikendalikan sang pengemudi. Aku menyeberang tanpa melihat kanan kiri.

Mungkin, aku terlalu bersemangat memenuhi janjiku. Mungkin, aku terlalu bersemangat menuruti rasa penasaranku. Mungkin, aku sangat ingin menggemakan tawa atas pertemuanku dengannya. Iya, seorang yang telah memiliki janji menemuiku. Banyu.

Hatiku pilu jika mengingat kejadian itu. Terlebih harus menerima kenyataan bahwa aku harus merelakan kaki kananku untuk selamanya. Aku marah. Aku kecewa. Kadang ada sesal yang menggayut manja perlahan. Apakah ia begitu layak untuk mendapatkan sebuah pengorbanan seperti ini?

Tapi lagi-lagi entah mantra apa yang membuatku tidak pernah bisa melayangkan benci padanya. Tidak sedikitpun. Ternyata diam-diam aku bergantung padanya. Ada jutaan semangat dan senyum yang selalu ia kirimkan melalui pesan singkat ke nomorku. Sederhana, tapi aku merasakan cinta yang tulus darinya. Oh Tuhan, semoga ini bukan rasaku saja.

Telepon genggamku berdering. Satu nama yang aku tunggu akhirnya kunjung menghubungiku. “Selamat sore, Nona,” sapanya dari seberang. Ada tenang yang menghangat di sekujur tubuhku. Banyu, iya Banyu. Aku tak pernah berpura-pura tersenyum menyambut sapanya. “Oke, aku akan datang, menemuimu sebentar lagi ya.”

Satu jam, dua jam, aku menantikan kedatangan Banyu, menjengukku. Senja sudah menepi. Ada yang mengetuk pintu kamar rawatku. Aku mengangkat sedikit kepalaku. Menengok siapa yang datang. Aku tersenyum. Senyuman istimewa yang kujanjikan pada diriku sendiri untuk kuberikan kepadanya, yang menjanjikan pertemuan itu. Banyu. Senyum untuk Banyu. “Hai, masuklah. Terima kasih sudah datang menjengukku,” aku melihat Banyu melangkah mendekat ke arah pembaringanku.

Tapi kemudian aku mengernyit. Ada kejut yang semena-mena menyapa. Seorang gadis berjalan di samping Banyu. Aku bertanya-tanya siapa gadis yang bersamanya itu. “Bulan, kenalkan, ini Aluna,” aku menyambut uluran tangan gadis itu. Pikiranku berkelana, menerka-nerka apa hubungan Banyu dengan gadis itu. Pandanganku tertumbuk pada kalung yang menggantung di leher Aluna. Liontin membentuk nama Banyu ada di sana. Apa ini maksudnya? Aku menggigit bibirku. Jadi, aku tetaplah akan membayangkan Banyu dalam gelap? Tak akan pernah ada terang. Tak akan pernah menjadi nyata.

Aku tak ingat lagi. Seketika semuanya menjadi gelap. Aku biarkan semua impian itu terlelap.

Kemang, 27 Februari 2013

Ini adalah project pertama saya di #AWeekofCollaboration with Wulan Martina

Terima Kasih. Siapapun Kamu

Terima kasih untuk Arti Rindu yang kau tuliskan. Aku mengirmkannya untuk seseorang yang masih kusayangi hingga saat ini. Kini aku memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang pernah lepas bersama kekasihku beberapa tahun lalu.

Pagi tadi saya menerima sebuah pesan seperti yang tertulis di atas. Singkat. Singkat sekali, bahkan saya tak tahu siapa gerangan yang mengirimkan pesan demikian. Saya menduga mungkin ia seseorang yang merasakan kesepian dan masih merindukan kekasihnya yang pernah menjadi bagian dari hidupnya beberapa tahun lalu.

Saat membaca pesan itu, ada haru yang tak kuasa terbendung. Ada buncah rasa senang yang siap meledakkan relung hati seketika, dan ada semangat yang memercik saat itu juga. Semua rasa yang ada jadi satu kesatuan membuat pagi saya terasa sempurna.

Saya tak pernah tahu jika apa yang saya tuliskan bisa begitu membawa dampak untuk orang lain. Ini kali kedua saya mendapatkan sebuah pesan tak bertuan. Kali pertama, sudah terjadi lama sekali. Beberapa tulisan yang saya buat mengingatkannya untuk selalu semangat menghadapi masalah. Sayangnya ia tidak menyebutkan tulisan mana yang membuatnya merasakan demikian.

Dan kini, Arti Rindu , buah pikiran saya sebulan lalu saat merasakan rindu yang begitu menggunung untuk segera pulang dan menghamburkan pelukan untuk Ibu ternyata membawa perubahan untuk orang lain. Bersyukur, itu sebuah perubahan yang baik.

Terakhir, terima kasih karena sudah membaca tulisan- tulisan yang ada di blog ini atau tumblr Nona. Semoga hubungan kalian semakin baik kedepannya, siapapun kamu yang sudah mengirimkan pesan pagi tadi.

picmix-1912013-114351

Kemang, 19 Februari 2013

Karena Lelaki Juga Butuh Rindu

“Kamu kemana aja, sih? Udah dua hari nggak ada kabarnya?”

“Ada kok,”

“Iya, tapi gak berkabar itu sama aja kayak ditelen godzila!”

“Kok godzila sih?”

“Terserah aku dong. Kan yang lagi ngomel aku!”

“Lho? Kamu dari tadi ngomel ya? Aku kira kamu lagi ngerayu aku,”

“Arrrgggh! Susah ya ngomong sama kamu!”

“Kalau nggak mau ngomong sama aku kamu bisa nulis di surat kok. Aku juga bisa baca. Seru!”

“Tuh kan! Ada aja deh jawabannya. Kamu itu gak kangen apa sama aku?”

“Hmm…”

“Jawab kangen atau nggak aja pake mikir! Gimana kalau aku tanya, kamu cinta nggak sih sama aku? kamu jawabnya bisa lebaran monyet kali ya?”

“Hahaha..”

“Aku nggak lagi bercanda. Jangan ketawa!”

“Umm.. oke oke.”

“Begini sayang, ada masa dimana pria akan merasakan rindunya. Dan kamu tahu, apa fungsi pasangan hidup untuk si pria?”

“….”

“Seperti  yang pernah kamu bilang dulu, kalau peran pasangan hidup bagi seorang pria itu ibarat rumah. Ketika si pria merasa rindu, ia akan kembali pulang ke rumah dimana ia dirindukan. Dan sekarang aku sedang kembali ke ‘rumahku’. Sedang menikmati  omelan kamu seperti sekarang ini, karena aku tahu kamu menyayangiku dengan caramu.”

“….”

“Kamu tahu, secuek apapun seorang lelaki ia tetap butuh rindu. Tetap butuh rumah dimana ia bisa mengadu. Butuh dekap hangat serta omelan yang membuatnya selalu merasa disayang dan dikhawatirkan. Dan saat ini aku sedang  menjemput rinduku,”

Aaaakkkk! Ingin rasanya menghamburkan pelukan untuknya saat itu juga. Meskipun aku tahu, aku harus sabar menunggu 2 tahun lagi untuk bisa melakukannya, disaat kami sudah bisa bertatap muka. Bukan hanya bertatap di layar laptop saat pagi merayap datang.

Jakarta, 5 Februari 2013

Hari Ini Saja

Siang tadi aku membereskan lemari tua milik Mama. Ada kotak persegi berukir cantik di dalamnya. Aku ingat kotak itu dulu kuberi nama Pandora, karena jika kubuka maka aku akan membuka banyak luka lama. Aku bukan orang yang senang menyimpan luka tapi aku pun menolak lupa, agar tak lagi aku terjatuh di dalamnya.

Hari ini aku memberanikan diri untuk membukanya. Kurasa aku sudah siap dengan segala kenangan yang akan berhamburan, berloncatan, bahkan terbang  dan hinggap langsung di kepala dan menelusup, mencungkil bagian hati yang pernah berlubang kehitaman dulu sekali.

Perlahan kubuka kunci yang terkait di salah satu sisinya. Tak ada reaksi apa-apa. Tak ada sakit yang menghujam dada tiba-tiba. Atau mungkin belum ada?

Banyak lembar-lembar cerita yang pernah tertoreh di dalam sana. Tapi justru aku tersenyum membacanya. Menertawakan diriku yang pernah begitu bodoh mencintai seseorang begitu rupa hingga lupa akan dunia nyata. Ya, saat itu aku hidup pada duniaku saja yang kubangun layak istana dan seorang pria menjadi pangeran tampannya. Tapi itu tak berlangsung lama dan selalu begitu pada setiap cerita. Tidak ada yang berubah sejak dulu. Karena cinta ya begitu saja. Merasa bahagia untuk terluka nantinya.

Senyumku terkembang sempurna, semu merona mungkin sudah bercokol sempurna di pipiku. Melihat semua kenangan yang dulu kuanggap tidak layak untuk kuingat tapi enggan kulepaskan. Hingga kutemukan selembar foto seseorang yang masih sangat kukenali rupanya.

Ia yang pernah mengisi hari-hariku dua tahun lalu. Ia yang pernah mengumbar janji dan rencana ke depan bersama. Membangun sebuah rumah tangga yang menurut ceritanya sangat sempurna. Namun akhirnya ia juga yang merubuhkan seluruh kastil impian yang sudah bercokol manis di kepalaku.

Tak peduli apa alasan yang ia berikan, hanya satu yang kutahu bahwa ia begitu menyakiti hatiku, juga keluargaku. Menghilang tanpa pernah memberikan pesan apapun. Namun dengan arogannya datang lagi meminta maaf dari hati yang pernah dihujam ribuan pedang dari kata-katanya. Membuat penantian yang pernah dilakukan terasa sia-sia, pengertian yang diberikan seakan percuma, dan maaf bukan lagi jadi obatnya.

Aku marah seketika. Ingin rasanya aku mengamuk, menjerit, dan melemparkan semua hujatan terhina untuknya. Ia telah merampas semua bahagia yang aku punya. Bahkan ia dengan santainya mengatakan akan segera membina rumah tangga dengan orang yang baru saja dikenalnya.

Aku menangis sejadinya mengingat apa saja yang membuatku jatuh karenanya. Aku marah sekuat yang aku bisa. Membuat gumpalan dendam di dada segera hancur dengan sekali teriakan saja. Hingga isak yang kudengar cukup di hati saja.

Aku membuat pemakluman hari ini. Ya, cukup hari ini saja aku membolehkan diriku menangis karenanya. Merasa sakit untuk terakhir kalinya, untuk segera bangkit lagi apapun kondisinya, karena aku tidak selemah yang ia duga. Selalu ada karma untuk setiap perbuatan. Mungkin karmamu sedang menanti saat ini.

Jakarta, 30 Januari 2013

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

Sore ini hujan. Aku masih saja berkutat dengan art paper di ruangan ini. Tidak sendiri. Tapi tetap saja rasaku sepi. Suara merdu Maynard, mengalun indah. Terlebih ‘forever’, lagu yang sangat kugandrungi, sama seperti si rocker melankolis.

Hujan masih belum berhenti. Ini sudah lagu ke dua puluh dua yang kuputar sejak tadi. Aku juga belum beranjak dari meja yang super berantakan ini sekadar untuk berbenah diri. Sebentar lagi waktunya pulang. Tapi hujan enggan juga berhenti sebentar.

Kalau sudah begini, aku memilih menarik jaket tebal di kursi belakang sambil menyesap cokelat hangat yang biasa jadi bekal kemanapun aku pergi. O ya, tak lupa moachi Gemini, buah tangan dari Semarang untuk sore kali ini.

Mungkin mereka yang melihatku akan mengira aku sibuk dengan pekerjaanku. Tenggelam dengan slide-slide presentasi yang entah untuk berapa kali harus jadi korban revisi. Padahal aku sibuk dengan lalu lintas di kepalaku yang entah kapan bisa berhenti  melemparkan wajahmu untuk terus kutelusuri.

Loving you forever
Utsukushiku kagayaku
I’ve got you, you’ve got me
Yorisotte
Sono hoshi no hate made
Doko made mo together
Yasashiku aoku

Aku menginginkan kamu. Untuk kesekian kalinya, pensil ini harus menorehkan namamu besar-besar yang seharusnya nama kenamaan yang kukarang. Bukan namamu.

Perlahan, tanganku meraih telepon genggam yang tergeletak lemah di sudut meja. Mengetikkan namamu dan menekan tombol hijau.  Namun segera kutekan tombol merah sebelum nada sambung terdengar dari seberang sana.

Tiba-tiba keringat deras mengucur dari jemariku. Mulutku meracau mengutuki diri dengan kebodohan yang nyaris kulakukan. Ku ketikkan kembali namamu.

Hai.. lagi apa? Basi. Hapus

Aku kangen. Umm..big no! Hapus.

Sudah mak.. Hapus.

Lama kutimang telepon genggam di tanganku. Hingga…

Jakarta hujan deras. Jangan kemana-mana ya.. .

Kirim.

Di hatiku saja lebih lama.

Simpan.

Jakarta, 23 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-11

Bangunkan Aku Pukul 7

“Kak, aku bikin ini untuk Ibu.”

Selembar kertas berisikan tulisan tangan Adi, adikku, terulur dihadapanku.

“Tolong bantu bilang Ibu ya, Kak. Adi minta maaf. Adi nggak akan ulangi lagi. Janji!” pintanya kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar permohonannya dan menyuruhnya untuk segera memejamkan mata dan tak lupa berdoa.

“O ya, Kak. Jangan lupa bangunkan aku jam 7 ya. Soalnya sudah janji sama Ayah untuk lari pagi ke Monas,” imbuhnya lagi sebelum akhirnya ia benar-benar memejamkan mata dan berangkat ke alam mimpi.

Begitu setiap hari. Kubangunkan ia sedikit terlambat dari yang telah disepakati. Agar ia tak harus menanti Ayah esok pagi, dan segera bangun dari ‘mimpi’. Dan hari ini, genap sudah empat puluh hari sejak kematian Ayah dan Ibu yang menyebabkan adikku seperti sekarang ini.

Jakarta, 22 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-10

Menanti Lamaran

(Cerita sebelumnya di sini)

Kejadian di stasiun Gambir dua bulan lalu tentu masih sangat melekat di benak Amara. Tak terbayang olehnya kalau hari ini ia akan dilamar oleh orang yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Hari ini adalah langkah awal dimana ia akan segera menjadi Nyonya Dipo, Mama dari Langit, si bocah centil dengan pipi gembilnya yang tak pernah mau diam.

Amara tersenyum geli saat merunut apa saja yang telah menimpa dirinya beberapa bulan terakhir. Memang, cinta datang dan menyambangi siapa saja tanpa pernah bilang sebelumnya. Tapi Amara tak pernah berpikir kalau itu terjadi begitu cepat dalam hidupnya. Setidaknya ia butuh persiapan. Untung saja jantungnya cukup kuat menerima semua kejutan yang Tuhan berikan padanya bertubi-tubi.

Bip..bip..

“Hai sweetheart, sibuk mempercantik diri untuk acara sore nanti ya?”

Bip..bip

“Hmm..untuk kamu juga, kan? Kamu tiba pukul berapa, Mas?”

Bip..bip..

“Ah, senangnya! Aku akan sampai kira-kira pukul 4. Langit sudah tak sabar bertemu dengan calon mamanya nih. Dia ribut seharian, bingung mau pakai baju apa. Susah ya jadi Ayah untuk anak perempuan.”

Amara tertawa geli membaca pesan yang Mas Dipo kirimkan untuknya. Siapa sangka, penat mengurus gadis kecil akan ia rasakan sebentar lagi. Tanpa perlu menunggu sembilan bulan menunggu hingga janin dalam rahimnya berkembang sempurna. Ia akan merasakan jadi ibu sebentar lagi. Ibu dari Langit Rasya Darmawan.

Tetiba ada rasa takut membayangi hatinya. Apakah ia bisa menjadi ibu yang baik untuk Langit? Dan apakah ia bisa menjalani kehidupan menjadi seorang istri dan ibu sekaligus dengan perkenalan yang terbilang singkat? Ada ragu yang nyata-nyata menggayut manja dalam benak Amara.

Bip..bip..

“Aku kirimkan kejutan untukmu. Mungkin 10 menit lagi kejutan itu tiba di rumahmu. Siap-siap ya!”

Pesan yang masuk mengalihkan Amara dari rasa ragu yang membayangi dirinya. Ia penasaran apa yang Mas Dipo kirimkan untuknya. Amara tak mau merisaukan ketakutan yang menghantuinya baru saja. Ia tahu bahwa Mas Dipo adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk mendampinginya, karena memang ia butuhkan. Itu sudah.

“Nduk, di luar ada yang cari kamu. Umm..dia itu..”

Inggih, Bu. Itu dari pihak keluarga Mas Dipo, katanya mau kasih kejutan,” jawab Amara tergesa dan langsung menghambur keluar dari kamarnya.

“Mas dari pihak keluarga Mas Dipo ya?” sapa Amara ramah pada lelaki yang sedang berdiri memunggunginya di teras depan.

“Siang Amara, apa kabar?”

Pria yang berdiri di hadapan Amara menyapanya hangat tapi justru membuat Amara seperti dihujani panah es beribu-ribu jumlahnya. Dingin dan kelu. Randu Aditya, pria yang datang dari masa lalu. Kini berdiri tegap di hadapan Amara dengan seseorang yang sangat dikenalnya. Ny. Wira Sasmitha, ibundanya.

Jakarta, 21 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-9