Dongeng Interaktif

DM2Di penghujung tahun 2012 lalu (30/12/12), Dongeng Minggu kembali hadir untuk berbagi cerita bersama kawan-kawan kecil di Palsigunung. Kali ini, saya agak kesulitan dalam mempersiapkan cerita yang akan dibawakan. Tema sudah disepakati,  yaitu Dongeng Negeri Kayu Hutan. Namun ternyata, waktu untuk mempersiapkan bahan-bahannya sangatlah kurang.

Awalnya, saya sudah mempersiapkan konsep finger puppet untuk dongeng kali ini. Menyiapkan ‘panggung’ sederhana dan lakon yang saya buat dengan kertas bergambar. Tapi ternyata, semua peralatan belum juga selesai  saat waktu pertunjukkan tiba.

Sampai akhirnya, Kak Arnellis, kawan saya mengusulkan untuk mengajak kawan-kawan kecil ikut berpartisipasi dalam mendongeng. Hmm.. ini akan jadi dongeng yang sangat menarik!

Dengan bantuan sebuah white board, saya mulai bercerita.  Saya meminta salah seorang kawan DM yang berani untuk menggambarkan pohon-pohon selayaknya di hutan. Dilanjutkan dengan membuat sebuah istana atau kastil. Pada awalnya, mereka enggan untuk berpartisipasi. Hanya sesekali melemparkan seloroh melihat gambar saya yang jauh dari kata bagus. Hehe..

Tapi untunglah, satu persatu mereka mulai berani untuk maju dan memperlihatkan karya mereka di depan teman-temannya.  Dongeng ini tidak hanya melibatkan mereka untuk berani tampil di depan teman-teman tapi juga untuk berani menyuarakan pendapat mereka. Apa saja menurut mereka yang bisa ditemui dalam hutan.

Seperti halnya ketika saya mengajak mereka untuk memilih nama tokoh Raja dan Ratu. Saya meminta mereka untuk menyumbangkan nama-nama kayu yang mereka ketahui  untuk dijadikan tokoh dalam dongeng. Akhirnya, ditemukanlah nama-nama tokoh dongeng ini. Ada Raja Damar, Ratu Meranti, Panglima Jati, Patih Mahoni, dan sederet pasukan Cemara.

Sebuah dongeng tak lengkap rasanya tanpa tokoh antagonisnya. Maka kami memutuskan untuk membuat satu tokoh jahat, si Pembalak Liar. Nah, untuk detail dongeng nya seperti apa, kamu bisa intip di sini!

Seperti biasa, selesai mendongeng, ada kegiatan membuat prakarya. Kali ini, Kak Arnellis mengajak kawan-kawan DM untuk membuat sebuah payung harapan yang berbahan dasar sumpit bekas dan juga kertas warna warni.

Mereka dibebaskan untuk berkreasi dengan payung-payung hasil buatan mereka dan menuliskan harapan-harapan mereka di 2013. Hmm..seru! Ada yang ingin naik kelas, ada yang ingin masuk SMP unggulan, ada juga yang ingin tambah tinggi lho!

Seperti biasa, sebelum pulang kawan-kawan kecil mendapatkan ‘oleh-oleh’ asyik dari Kak Anisa. Selamat menyambut tahun baru 2013, teman-teman! 😀

*PS: untuk melihat foto kegiatan, bisa langsung cek di fabpage Dongeng Minggu di sini!

 

Advertisements

Dongeng Minggu 29: Nyanyian Pangeran Nyamuk

Hai-hai..tidak terasa, sudah hampir satu bulan tidak berjumpa di Dongeng Minggu ya? Musim hujan sudah datang ternyata, nyanyi lirih si kodok bulan lalu terjawab sudah. Nah, di musim hujan seperti sekarang ini banyak sekali makhluk hidup yang memilih untuk tidur!

Salah satunya itu, Lion si singa. Dia hewan yang suka sekali tidur apalagi di musim penghujan seperti sekarang. Tapi setiap kali tidur, Lion selalu diganggu oleh suara-suara denging yang sangat nyaring di telinga. Seperti siang ini, Lion si singa tengah asyik mengenyakkan diri di sarangnya sambil mendengarkan dendang rindu sang hujan yang datang menghujam. Ditengah-tengah usaha Lion untuk tertidur, sayup-sayup terdengar di telinga Lion sebuah suara yang cukup mengganggu.

“Ngiiiiiiiiiing….ngiiiiiiing”

“Aaarrgh…”

“Ngiiiiiing… ngiiiiiing…”

“Rrrrrr….”

Ternyata, itu adalah suara denging si nyamuk yang terbang disekitar telinga Lion. Meskipun suara denging nyamuk begitu mengganggu, Lion akhirnya berhasil tertidur dan bermimpi.

“Hmm…aku dimana ya?” batin Lion sambil celingak celinguk mencari tahu keberadaannya.

Saat sedang asyik mencari tahu, mata si Lion menangkap sesosok makhluk yang tengah asyik berdendang di bawah  pohon.

“Hai..kamu sedang apa?” sapa si Lion.

Terkejut dengan si Lion, membuat nya langsung bangkit berdiri.

“Hai..aku Moqi si Pangeran Nyamuk.” Jawabnya ceria.

“Aku lion. Kamu sedang apa duduk di bawah pohon itu moqi?” tanya Lion masih penasaran.

“Aku sedang bernyanyi, Lion. Menirukan suara alat musik dan juga berdendang ceria agar selalu bersemangat!” terang Moqi sambil asyik menari-nari kecil.

“Oh ya? Bagaimana mungkin kamu bisa bernyanyi dengan bagus? Aku selalu mendengar suara nyamuk itu bising dan mengganggu di telingaku!” ujar Lion tak mau kalah.

“Ahahahaha…”

Mendengar protes si Lion, Moqi justru tertawa terbahak-bahak. Lalu dengan sabar, ia menjelaskan kepada Lion sambil membawanya berkeliling di negeri para nyamuk.

“Di negeri nyamuk, semua warganya senang berdendang Lion. Setiap hari, kami bernyanyi. Tidak peduli hari sedang cerah ataupun hujan kami tetap bernyanyi.” Jelas Moqi panjanglebar.

Lion mendengarkan dengan seksama sambil berdecak kagum karena mendengar suara nan merdu yang ia dengar tiap kali melewati segerombolan warga nyamuk.

“Lalu, mengapa aku justru mendengar suaramu hanya dengung nyaring yang mengganggu saja Moqi? Tidak seperti sekarang. Yang aku dengar nyanyian merdu! Bikin aku ingin bernyanyi juga!” tanya Lion sangat bersemangat.

“Karena ukuran kami yang sangat kecil, jadi yang terdengar hanyalah dengung nyaring di telinga makhluk besar seperti kamu, juga manusia.” Jawab Moqi.

“Oh jadi begitu ya?! Aku ingin bisa bernyanyi riang dan bagus seperti kamu Moqi! Ajari aku ya…” pinta Lion penuh semangat.

“Tentu saja. Ayo, kita coba mainkan alat musikmu! Keluarkan suaramu dan tiru suara alat musik. Yuk kita coba bernyanyi bersama” ajak Moqi si Pangeran Nyamuk.

Lion si singa mengikuti anjuran Moqi si nyamuk. Tanpa sadar, nyanyi merdu keluar dari mulutnya. Kini, Lion bisa bersuara menirukan alat musik dan berdendang dengan riang. Lion si singa, terkagum-kagum dengan apa yang dihasilkannya.

Sambil tersenyum ceria, ia terbangun dari mimpinya. Sekarang, ia senang tiap kali mendengar suara denging si nyamuk. Ia akan terus mengingat bahwa itu adalah suara Moqi si Pangeran Nyamuk yang tengah bernyanyi.

***

Dongeng kali ini, terinspirasi dari kawan-kawan kecil yang tempo hari pernah bertanya kepada saya bagaimana cara bermain pianika yang baik. Bingung awalnya mencoba mengkaitkan dongeng dengan bermain pianika.

Akhirnya, setelah obrolan yang cukup panjang kami memutuskan untuk membuat cerita ‘Nyanyian Pangeran Nyamuk’. Dongeng ini dibawakan oleh Kak Nelli sebagai Lion si Singa dan Kak Tiwi sebagai Moqi si Pangeran Nyamuk.

This slideshow requires JavaScript.

Ketika Moqi si Pangeran Nyamuk bernyanyi, ia mendendangkan sebuah lagu ‘twinkle-twinkle little star’ yang membuat Lion si singa berdecak kagum. Akhirnya dengan bujuk rayunya, Moqi mengajarkan bagaimana cara bernyanyi yang indah dan menghasilkan suara menirukan alat musik.

Di sini, kami menyelipkan belajar dan bermain dengan pianika. Kami memberikan tangga lagu sederhana seperti lagu Twinkle Twinkle Little Star, Lullaby, dan juga Selamat Ulang Tahun. Adik-adik Dongeng Minggu sangat senang dan antusias sekali dengan acara bermain ini. Mereka mencatat not angka yang diberikan oleh Kak Ardi.

Setelah mencoba beberapa kali, adik-adik mulai mencoba memainkan pianka bersama-sama sesuai dengan aba-aba yang diberikan. Daaaan.. voila! Sebuah nyanyian indah pun tercipta pagi tadi. Meskipun masih ada yang bersikap malu-malu, tapi semua mau mencobanya lho!

Ternyata, di #DongengMinggu29 kali ini ada kejutan! Kak Tiwi berulang tahun ternyata! Meskipun sudah lewat sepekan lalu, tapi kejutan  manis juga sudah disiapkan. Adik-adik senang karena mendapatkan pelajaran tentang bermain pianika, dan tak lupa mendapatkan kue cokelat nan lezat dari kak Tiwi. Yummy! Sebelum pulang, kami semua berfoto bersama sambil bilang ‘pianikaaaaaa’. Klik!

Sampai ketemu di Dongeng Minggu selanjutnya yaaa, dan tunggu kejutan-kejutannya! 😉

Depok, 18 November 2012

Dongeng Minggu: Miniatur Hujan

This slideshow requires JavaScript.

September hampir usai, tapi keceriaan masih akan terus berjalan meskipun bulan tidak lagi sama. Seperti halnya hari ini, (30/09/12), kegiatan Dongeng Minggu yang ke 27 diadakan dengan tema ‘Berharap Hujan’. Kesibukan bulan ini cukup luar biasa, sampai-sampai kami lupa kalau ternyata sudah hampir di penghujung bulan September.

Saya lantas mengusulkan untuk mengadakan dongeng bertemakan hujan, yang langsung disambut baik oleh rekan-rekan lainnya. Sejujurnya saya sendiri tidak punya stok cerita mengenai hujan. Bahkan untuk aktivitas yang akan dilakukan anak-anak pun tidak. Tapi, di dalam kepala saya saat itu adalah “yang penting dongeng tetap berjalan”. Saya masih ada dua hari untuk memikirkan bagaimana alur cerita serta tokoh-tokohnya.

Akhirnya, cerita pun terangkai. (Untuk ceritanya, akan saya posting nanti ya)

Aktivitas yang dilakukan adalah membuat tetes hujan. Awalnya saya ingin mengajak mereka membuat sebuah diorama tentang langit dan hujan. Tapi ketika melihat adik-adik yang masih terlalu kecil dan juga waktu yang terlalu mepet akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah miniatur hujan saja.

Adik-adik dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Hal ini dilakukan agar terrcipta kerja sama diantara mereka. Dan masing-masing dari mereka mau bertanggung jawab dengan tugasnya sendiri. Tidak mudah memang mengatur anak-anak ini. Bahkan tidak sedikit yang mengadu kalau rekan kerjanya tidak melakukan tugas sebagaimana mestinya. Tapi ini justru sebagai latihan mereka dalam berinteraksi dan bersosialisasi namun dengan cara yang asyik.

Miniatur hujan yang kami buat, bisa dijadikan sebuah pajangan sederhana dengan bentuk awan dengan tetes-tetes air hujan, yang disisipi halilintar namun ada harapan karena terlihat pelangi. Semua adik-adik dibebaskan berkreasi untuk membuat hujan mereka sendiri. Ada yang membuatnya versi dua dimensi ada juga yang membuatnya versi tiga dimensi. Saya juga sedikit memberikan gambaran untuk miniatur hujan yang bisa dijadikan hiasan kamar.

Selain itu, kenapa saya mencoba mengajak mereka membuat miniatur hujan ini, adalah sebagai latihan syaraf motorik mereka. Karena kebetulan sekali, adik-adik yang datang usianya merupakan usia bermain yang penasaran dengan hal-hal baru yang mereka lihat, serta melatih kreativitas melalui pekerjaan tangan.

Menggunting, menempel, bagian-bagian yang kecil itu jadi latihan dasar mereka. Yaaa.. memang tidak semuanya mahir dalam bermain kertas, gunting dan lem. Tapi saya lihat semua cukup tertarik dan sudah bisa dibilang mereka bisa mengikuti kegiatan ini.

Setelah semua selesai membuat hujan mereka sendiri, saatnya untuk menceritakan apa yang telah mereka buat. Wah, banyak sekali kisah yang tertoreh dari satu lembar kertas yang diberikan di awal tadi. Hmm..saya jadi ingin bikin dongeng tentang siklus air dalam bentuk permainan wayang nih. Ada yang ingin membantu? Ditunggu lhooo… 😉