Karena Lelaki Juga Butuh Rindu

“Kamu kemana aja, sih? Udah dua hari nggak ada kabarnya?”

“Ada kok,”

“Iya, tapi gak berkabar itu sama aja kayak ditelen godzila!”

“Kok godzila sih?”

“Terserah aku dong. Kan yang lagi ngomel aku!”

“Lho? Kamu dari tadi ngomel ya? Aku kira kamu lagi ngerayu aku,”

“Arrrgggh! Susah ya ngomong sama kamu!”

“Kalau nggak mau ngomong sama aku kamu bisa nulis di surat kok. Aku juga bisa baca. Seru!”

“Tuh kan! Ada aja deh jawabannya. Kamu itu gak kangen apa sama aku?”

“Hmm…”

“Jawab kangen atau nggak aja pake mikir! Gimana kalau aku tanya, kamu cinta nggak sih sama aku? kamu jawabnya bisa lebaran monyet kali ya?”

“Hahaha..”

“Aku nggak lagi bercanda. Jangan ketawa!”

“Umm.. oke oke.”

“Begini sayang, ada masa dimana pria akan merasakan rindunya. Dan kamu tahu, apa fungsi pasangan hidup untuk si pria?”

“….”

“Seperti  yang pernah kamu bilang dulu, kalau peran pasangan hidup bagi seorang pria itu ibarat rumah. Ketika si pria merasa rindu, ia akan kembali pulang ke rumah dimana ia dirindukan. Dan sekarang aku sedang kembali ke ‘rumahku’. Sedang menikmati  omelan kamu seperti sekarang ini, karena aku tahu kamu menyayangiku dengan caramu.”

“….”

“Kamu tahu, secuek apapun seorang lelaki ia tetap butuh rindu. Tetap butuh rumah dimana ia bisa mengadu. Butuh dekap hangat serta omelan yang membuatnya selalu merasa disayang dan dikhawatirkan. Dan saat ini aku sedang  menjemput rinduku,”

Aaaakkkk! Ingin rasanya menghamburkan pelukan untuknya saat itu juga. Meskipun aku tahu, aku harus sabar menunggu 2 tahun lagi untuk bisa melakukannya, disaat kami sudah bisa bertatap muka. Bukan hanya bertatap di layar laptop saat pagi merayap datang.

Jakarta, 5 Februari 2013

Pengakuan Vanilla

Malam kian larut, jarum jam sudah tergelincir terlalu lama dari pukul 12 tengah malam, tapi sepertinya kantuk enggan singgah di pelupuk mata Vanilla. Ia terlalu gelisah sehingga membuatnya sulit memejamkan mata apalagi untuk mulai merajut mimpi.

Perasaannya kacau. Entah sejak kapan perasaan itu mulai menghinggapi dirinya. Membuatnya sulit tidur meski kadang tubuh sudah menjerit karena letih seharian berkubang dengan jalanan Jakarta yang kian menggila tiap harinya.

Tetiba, ia bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan mendekati meja kerja yang masih berserakan dengan kertas-kertas laporan yang seharusnya ia kerjakan untuk diajukan esok pagi. Tapi gelisah justru lebih asyik menggayut manja ketimbang semangat membereskan kertas-kertas penuh angka.

Perlahan ia menyalakan laptop miliknya yang sejak tadi hanya menampilkan layar hitam, sehitam lingkaran matanya akibat kurang tidur sejak beberapa hari belakangan. Ia mulai membuka halaman surat elektronik dan mencoba mengetikkan sesuatu di sana. Sebuah nama penerima yang ternyata sumber segala resah yang ia miliki sejak beberapa hari terakhir.

Galan Prabu.

Seseorang yang telah mengisi hari-harinya setahun terakhir. Seorang pria yang ia kenal dari sekumpulan kebetulan dan ketidaksengajaan. Seseorang yang sudah menanamkan sebuah bibit di hatinya tanpa pernah ia sadari sampai akhirnya bibit itu tumbuh dan bermekaran begitu cepatnya.

Berkali-kali Vanilla mencoba mengetikkan sesuatu, tapi yang ada hanya sebuah kata yang selalu dihapusnya. Ia sadar betul apa yang tengah dirasakan tapi ia terlalu bingung bagaimana menuangkannya.

“Aaarrgggh…”

Ia kesal sendiri, dan seperti hendak menyerah, ia tertunduk lesu, menenggelamkan kepalanya untuk bertumpu di kedua lengannya.

“Why God.. why? Why me?” ujarnya setengah terisak.

***

Galan Prabu, lelaki yang ia kenal tanpa sengaja di sebuah acara. Kala itu Galan mengira Vanilla adalah kawan kecilnya yang sudah terpisah sangat lama. Tapi ternyata Galan salah. Dari situ obrolan demi obrolan mengalir, bertukar nomor telepon dan berjanji untuk bertemu lagi.

Sehari dua hari, tidak ada satupun pesan masuk untuknya. Vanilla enggan untuk mengirimkan pesan lebih dulu, ia merasa perkenalan dan pertukaran nomor itu hanya sekadar basa basi lelaki pada umumnya. Sampai suatu hari ia sedang berada di sebuah toko buku bekas di kawasan Blok M. Saat ia tengah asyik berkubang dalam lautan buku-buku dengan peluh yang sudah membanjiri sekujur tubuhnya, tiba-tiba saja sebuah tepukan halus di pundak menghentikan aktivitas ‘menyelam’ di lautan buku.

“Cari apa di sini Van?”

Vanilla terkesiap dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya ia menemukan seseorang yang ia hapal betul wajahnya karena sebuah perkenalan beberapa waktu lalu.

“Galan? Kamu, ngapain ada di sini? Sama siapa?”

“Hahaha..udah kayak polisi nanyanya beruntun gitu. Aku lagi cari buku buat tugas, nih. Kamu ngapain di sini? Heboh banget mblusuk-nya,” jawabnya.

“Hahahahaha.. kamu ngerti mblusuk juga? Aku lagi cari buku cerita anak-anak sekalian cari novel Lupus, tapi yang bekas-bekas aja,” jawab Vanilla singkat, masih dengan raut wajah kaget.

Pertemuan tanpa sengaja kedua kalinya membawa mereka duduk di sebuah warung gudeg milik Bu Gendut yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka saat itu. Lalu kembali obrolan demi obrolan mengalir tanpa terasa. Seperti takut jika waktu kembali hilang dan harus menyudahi cerita sampai situ jika terselip jeda sedetik saja.

“O ya, Van, boleh minta nomor kamu lagi ngga? Hp aku ilang sepulang acara waktu itu, makanya ngga bisa hubungin kamu. Untung kita ketemu di sini.”

Kata-kata Galan barusan mematahkan dugaan Vanilla. Ada perasaan lega, senang, menelusup diam-diam dalam hatinya.

Pertemuan demi pertemuan mereka lakukan. Tidak hanya mencari buku, hunting dvd, nonton di bioskop, bahkan sekedar untuk cari roti bakar tengah malam, sering mereka lakukan.

***

Satu persatu kenangan akan Galan membuat Vanilla semakin sedih. Ia semakin tenggelam dalam isak tangis yang sepertinya sudah tertahan sekian lama. Telepon genggam yang sejak tadi hanya berdiam di salah satu sudut mejanya ia sambar dan dengan tergesa ia mencoba mengetikkan sesuatu. Lagi-lagi ia mengapusnya.

Waktu sudah beranjak pagi meski ayam jantan belum berkokok menandakan malam akan segera terganti.

Ia terdiam. Memandangi sebuah tulisan yang berada di halaman pertama sebuah buku. Buku pemberian Galan yang masih bersampul manis dan selalu dibukanya ketika ia merasa sedang butuh kekuatan. Kekuatan dan dukungan seorang yang memang mengerti akan dirinya.

Kini, ia lebih tenang. Ia mulai menyalakan kembali laptop yang sejak tadi hanya memandang dalam kebisuan.

To : prabugalansatria@gmail.com
From: anandavanilla@ymail.com
Subject: Umm..my little confession

Dear Galan,

Hmmm..sebelumnya aku minta maaf mengganggu waktu tidurmu. Ya meski aku tahu, sesaat lagi kamu pasti sudah bersiap membuat laporan padaNya. Aku sedikit bingung sebenernya harus mulai dari mana. Mungkin kamu agak bertanya-tanya saat membaca subjek dari emailku ini. Tapi bukan maksud hati membuat kamu bingung, ini hanya cara ku mencoba memberitahukan sesuatu. *iya iya, aku sok misterius*

Ummm..hal ini bermula sejak beberapa bulan lalu. Dan mungkin kamu sudah tahu. *jika kamu cenayang sih* Entah karena apa atau sebab bagaimana, ternyata kehadiranmu punya arti tersendiri (setidaknya ini yang aku rasakan). Sikap dan perhatianmu selama ini membuat aku nyaman. Bahkan sangat nyaman, meskipun akhir-akhir ini jarang sekali aku rasakan.

Hmm..mungkin ini cuma perasaanku saja. Tapi ternyata makin lama rasa ini makin besar dan aku tak tahu bagaimana cara untuk menghilangkannya. Bahkan terkadang, rasa ini menyiksaku 😦

Aku tak pernah punya keberanian untuk bilang sama kamu. Sampai akhirnya sekarang aku memberanikan diri menulis ini semua.(dengan konsekuensi mungkin kamu bakalan ilfil, ngga bakalan mau ketemu aku atau bahkan ngga mau kenal sama aku lagi kali yah?!)

Hehe..aneh yah?! Aku berusaha menetralkan semuanya dan kembali seperti sedia kala (seperti diawal aku mengenalmu tanpa sengaja). Tapi semakin aku berusaha untuk membunuh semua perasaan yang ada ternyata justru semakin mengikat aku terlalu kuat sampai terkadang membuatku sulit untuk berpikir  jernih.

Gal, aku tak mau membebanimu dengan apa yang baru saja aku utarakan. Ini semua cuma sebuah pengakuan ‘kecil’ ku yang kurasa cukup bisa membuat aku kembali ‘normal’ (semoga). Dan semoga ini adalah hal tergila pertama dan terakhir yang pernah aku lakukan.

Thank you banget sudah mau menyempatkan diri membaca email ini. Hmm.. meski aku ngga tau reaksi kamu. Tak mengapa, yang penting aku sedikit lega dan menurutku kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok.

Dan aku tak mau kehilangan kesempatan untuk mengatakannya, sebelum akhirnya menyesal karena tak pernah mengungkapkannya. Tapi tenang, aku tak meminta apa-apa darimu. I just want you to know, thats all! 

Dan sekarang aku lega.. ^^ Toh, kalau kita tak punya kesempatan buat ketemu lagi, aku sudah mengakui sebuah kejujuran dan tidak pernah menyesal karena melewatkan ini. 😉 O ya, terima kasih banyak atas semua sikap baik kamu selama ini. Maaf, kalau mungkin aku terlalu GR atas sikap manismu.

Hmm..baiklah, sepertinya sudah terlalu banyak yang aku katakan disini. Dan aku tak mau mengganggu mu lebih lama lagi. Have a nice day, and until we meet again, you! 

With love,

Vanilla

Dan akhirnya, selesai. Sebuah surat elektronik yang ia buat telah selesai tepat ketika adzan subuh telah berkumandang. Tapi ada sedikit keraguan saat akan menekan tombol kirim di sudut kiri atas. Haruska ia mengirimkannya atau hanya disimpan di kotak draft sampai entah kapan untuk punya keberanian mengirimkannya?

Vanilla bertanya-tanya dalam hati. Apakah sudah tepat apa yang ia lakukan itu? Sesaat pandangan ia alihkan dari laptop yang sudah menemaninya bekerja selama ini. Ia kembali melihat buku pemberian Galan kala itu. Dan kini, tekadnya bulat. Send, klik!

“Dan semua kuserahkan padamu, Tuhan.”

***

Tanpa Vanilla tahu, ada seseorang di luar sana yang tengah berkutat di depan laptop nya, mencoba mencurahkan segala isi hatinya untuk seseorang yang telah membuat hari-harinya semakin berwarna.  Kegiatannya terhenti saat telepon selularnya bergetar, “You’ve got mail”.

Saat Monyet dan Kingkong BBM-an

monyet

Simba : “PING!”
“PING!”
“PING!”

Sigarf : “Hai..hai, kamu.. ada apa?”

Simba : “Kamu baik-baik saja, kan?”

Sigarf : “Iya, ada apa memang?”

Simba : “Aku sedang baca e-news, dan ada berita tentang orang yang terkena penyakit Pseudoaneurisma Sinus. Dan kebetulan namanya persis sama nama kamu, cuma ngga ada fotonya aja.”

Sigarf : “Ha? Seriously?”

Simba : “Iya”

Sigarf : “Memangnya itu penyakit apa?”

Simba : “Hidungnya mengeluarkan darah terus menerus. Mimisan tapi ngga selesai selesai..”

Sigarf : “Waduh! Serem banget. Alhamdulillah, aku ngga mimisan. Aku cuma lagi ingusan ngga kelar-kelar. Keluar terus kayak keran bocor..”

Simba :Hadeuuh.. too much information, woy! #jitak”

Sigarf : “Hahaha…#ngakaksampemarseille”

Simba :I’ll send you my huge warm hug now *peluk*”

Sigarf :Really? Uwuw..i really need that now! Sneezing all the time and feeling cold killing my mood. Arrggh.. #anakmanja”

Simba : “Kalau kita dekat, aku pasti langsung peluk kamu erat sekali sekarang. Untuk sementara, biar ikon ini yang wakili aku yaa.. Umm..ngomong-ngomong, kamu sudah mandi kan?”

Sigarf : “Sudah. Kenapa?”

Simba : “Yaa..kalau kamu belum mandi aku ogah peluk kamu! Kan kamu habis jadi monyet kopaja. Hahaha.. #jebakanbatman”

Sigarf :Kampreeeeeettttt!!!! Dasar kingkong jelek! #ngambek”

Simba : “Hahahaha.. Love you, monyet! 🙂 *huff..ini nih yang bikin aku ngga pernah bisa lupain kamu*”

Sigarf : “#monyetterhuraberkacakaca”

Simba : “Hahaha.. #peluk Kamu jaga diri ya, jangan kalah sama flu nya. Katanya mau nyusul aku di sini?! Finland itu dingin lhooo… Nanti ingus kamu bisa beku pas keluar mirip kayak stalakmit hahaha”

Sigarf : “Hanjiiirrr!! Ngeri bener. Hahaha.. Siap, kingkong! Tunggu monyetmu ini yaaa..“

Simba : “Selalu. Menunggu penuh cinta. #tsahh “

Sigarf : “Awuwuwu… kingkongnya puitis, tiba-tiba meleleh. Tapi yang meleleh ingusnya. Ahahaha”

Simba : “Iyuuuuhhh.. TIDUR SANA!”

Sigarf : “Hahaha.. *kisses*”

Kandang Beruang, 12 Desember 2012
*terinspirasi dari obrolan dengan seorang teman di luar sana. 🙂

*foto diambil di sini

E.D

ED. Sebut saja demikian. Aku lebih sering memanggilnya rocker ketimbang nama aslinya, Elzano Danarditto. Itu karena penampilannya yang buatku mengira ia lebih cocok menjadi seorang rocker ketimbang designer. Kami bertemu setahun lalu. Ia anak baru di kantorku. Cubicle-nya tepat berada di sisi kananku. Huh! Tempat incaranku, sejak Danang, designer sebelumnya mengundurkan diri. Tapi apa daya, disaat aku seharusnya memindahkan barang-barang, aku justru mendapatkan dinas luar selama seminggu. Jadilah ia menempati pojok impianku sejak dulu.

Aku punya spot asyik di gedung kantor ini yang biasa kudatangi saat sore hari. Tempatku paling sering menyendiri sambil menyesap kopi atau sekedar membaca buku menikmati udara sore yang cukup damai di tengah riuhnya Jakarta. Tiba-tiba..

“Ngapain Lo di sini?” sebuah suara membuyarkan lamunan soreku.

Saking terkejutnya aku langsung menoleh dan tanpa sadar menumpahkan cangkir kopi yang masih utuh dan mengepul panas.

“ouch”

“segitu kagetnya..”

Aku hanya melihatnya sekilas kemudian sibuk membersihkan tumpaham kopi yang membasahi celana khaki kesayanganku. ED, si rocker gadungan itu malah mengambil buku yang tengah kubaca tanpa berkata maaf sekalipun. Sigh!

Angkuh sekali dia. Matanya serius, menelaah setiap ruas tulisan yang ada dibuku bersampul biru. Atlantis, buku yang tengah kuselami akhir-akhir ini.

“Hoo..jadi cewek kayak Lo suka buku berbobot macam ini juga? Hmm..”. Brengsek! Kata-kata macam apa itu?! Bukannya sedikit bertanya bagaimana dengan celanaku malah mencela. Sial!

“Kenapa dengan ‘cewek model gue’? Ada larangan, ha?” tanyaku sinis sambil meraih buku yang masih dipegangnya. Aku meninggalkan dia yang hanya tersenyum tipis dan terkesan sinis. Ia tak menghiraukanku yang masih kesal, ia malah menatap jauh kedepan seperti tengah menanti seseorang di kejauhan. Aku terlalu malas mengajaknya berbicara setelah kejadian tadi. Aku memilih pergi dan meninggalkannya sendiri dengan pikirannya yang entah sedang berenang kemana.

Semakin hari aku mengenal ED si rocker, semakin aku diburu penasaran. Siapakah dia?

Sikapnya kadang cuek, kadang sinis, kata-katanya cenderung sarkas, tapi juga manis yang membuatku keheranan dibuatnya. Pernah suatu hari aku tidak masuk kantor selama dua hari karena demam tinggi. Saat aku masuk kantor lagi ia langsung bertanya kabarku. Bagaimana kondisi terakhirku, meskipun raut wajahnya masih saja tengil dan bikin malas. Tapi sejujurnya, aku menghargai perhatian kecil itu.

Minggu lalu, aku mendapatkan sebuah kiriman dari seorang kawan di Surabaya. Arus Balik, buku milik Pram yang sudah kucari sejak lama dan akirnya ia  menemukannya untukku. Dengan rasa penasaran, aku segera membuka sampul pembungkusnya yang masih terlipat rapi.

ED menghampiriku. Ia hanya memperhatikan sekilas kemudian takjub menatapku lekat.

“Suka Pram?”

Aku berhenti sejenak dari aktivitas ku dan menoleh ke arahnya.

“Iya”

Hmm..gue kira cewe macam Lo itu sukanya metropop sama teenlit aja. Bacaan berbobot macam Pram masih bisa dicerna rupanya”

Brengsek! Dia sudah menghinaku kedua kalinya soal bacaanku sejak kali pertama bertemu. Otakku rasanya mendidih.

“Maaf? Cewek Macam Gue itu maksudnya apa ya? Kalau gue suka bacaan Pram kenapa? Ada larangan?” suaraku kian meninggi.

“Woo..woo, sabar Nona. Gue gak bermaksud menghina. Yaaa..kebanyakan cewe sekarang itu kan lebih suka novel menye-menye yang udah ketauan happy ending. Dengan bahasa yang yaaa alakadarnya,” ia mencoba menjelaskan sambil tersenyum menatapku.

“Dan gue gak pernah mengira Nona suka dengan Pram. Good point, then!” imbuhnya sambil lalu.

Tunggu! Ia sama sekali tidak memberiku jeda untuk menjawab tuduhannya, dan ‘Nona’? sejak kapan namaku diubahnya menjadi Nona?

Sejak kejadian itu ia sering memanggilku dengan nama Nona. Ya, Nona. Panggilan yang begitu manis ditelingaku. Tapi aku masih tidak bisa bersikap manis padanya. Aku masih sebal dengan kata-katanya diawal bertemu.

Seminggu lalu, semuanya berubah seketika. Pada akhirnya aku bisa berdamai dengannya, dengan Elzano Danarditto. Aku melihatnya sebagai sosok yang berbeda saat ia lepas dari Macbook Pronya.

Hari itu, aku terlalu penat bekerja di dalam ruangan. Aku memilih menghabiskan sore di atap gedung kantor sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong cinnamon roll. Sebenarnya aku hanya sekedar menulis, dan mencoba menuangkan sedikit isi pikiranku di Jurnal Harian dalam blog-ku. Daripada aku harus dihantui kata-kata yang semakin hari semakin membanjiri kepala, lebih baik aku menulis sekarang.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dan “Menulis adalah sebuah keberanian…” –Pramoedya

Seseorang mengagetkanku dengan quote dari Pram. Aku menoleh mencari sumber suara. Ternyata ED sudah berdiri di belakangku sambil menggigit potongan cinnamon roll milikku yang ia ambil tanpa bilang-bilang.

“Sejak kapan kamu di sini?” tanyaku sinis.

“Dan siapa yang ngijinin kamu ambil cinnamon rollku?”

“Hahaha… kamu marah ini karena aku berdiri di sini atau karena cinnamon roll yang paling ditakutin perempuan karena bisa bikin gendut ini aku ambil sih?”

“Ya dua-dua nya lah! Jatah ngemil soreku kan jadi berkurang!” sungutku sambil menyambar potongan terakhir di tangannya yang langsung kulahap habis.

Ia terkejut, namun tawa pun langsung meledak seketika. Sebuah usapan lembut jatuh tepat di kepalaku dan sedetik kemudian ia mulai mengacak-acak rambutku yang semakin masai karena angin sore yang kencang.

“Kamu menarik. Perempuan sok manja, yang ternyata menyukai bacaan seberat Pram, dan gak pernah takut gendut karena cinnamon roll. Aku suka!”

Ha? Apa-apaan ini? Segitu mudahnya ia menilai aku hanya dengan pertama bertemu? Manja? Apa iya aku segitu manjanya? Memang terlihat ya? Tunggu! Kemana sapaan ‘gue-lo’ yang sering kulontarkan? Dan mengapa ia juga mulai mengubah sapaan kami?

“Dan satu lagi, kamu menulis.”

“Aku menulis? Ada yang salah?”

“Justru tidak ada yang salah denganmu yang menulis. Aku sejak tadi memperhatikan kamu, tapi kamu terlalu sibuk dengan leptop mu itu. Aku sudah bilang kan tadi, menulis adalah sebuah keberanian. Berani menyuarakan isi hati dan pikiran dalam media tulisan. Dan seperti kata Pram, menulislah agar tidak hilang dalam sejarah,” tuturnya panjang lebar yang membuatku takjub.

“Siapa kamu?”

“Maksudmu?”

“Aku gak ngerti, kamu itu aneh. Sok cuek, kadang sinis belum lagi kata-kata kamu juga sarkas. Tapi sekarang, kamu bisa begitu manis dan mengutip pram dengan sangat baik. Aku kayak ngga kenal kamu. Apa jangan-jangan kamu punya dua kepribadian?”

Tuduhanku barusan kontan membuat tawanya meledak hebat.

“Oke. Gimana kalau kita berkenalan secara proper dari awal. Aku Danar” ujarnya sambil mengulurkan tangan yang pura-pura dibersihkannya sebelum bersalaman denganku.

“Haha, baiklah. Aku terima perkenalan ini. Aku Bulan.” kuulurkan lenganku menyambut niat baiknya.

Sebuah jabat tangan yang hangat, dan erat. Ini yang aku suka. Jabat erat yang seolah membuka pintu pertemanan yang kaku di awal.

Anyhooo, namamu cantik. Secantik wajahmu yang serius waktu menulis,”

“Haha, ngerayuuu?? Umm..sebeneranya aku sudah punya nama panggilan untukmu.”

“Untukku? Apa?”

“ROCKER!” ujarku bersemangat yang langsung disambutnya dengan tawa.

“Hahaha..baiklah. Kamu boleh memanggilku rocker asal aku bisa memanggilmu Nona, bagaimana?” ia membuka penawaran yang langsung kuiyakan.

Sore itu, langit memendarkan warna lembayung jingga yang hangat, serupa hangat pertemanan aku- yang diawali dengan sepotong cinnamon roll- bersama seorang pria berinisial ED, Elzano Danarditto atau yang lebih sering kusapa rocker, yang kini menjadi teman baikku. Teman bercerita seru kala sore datang menyapa dan obrolan tentang Pram selalu jadi pembuka.

Jakarta 12 Desember 2012
*sedang belajar membuat cerpen. tulisan ini terinspirasi dari seorang kawan rocker yang duduk di sebelah saya. Thanks, bro!

Senandung Rindu dari Negeri Angin

Langit sore berselimutkan lembayung senja, sayup-sayup terdengar rintih suara tak bertuan. Siapakah gerangan yang tengah meniupkan rindu kian merana hingga menyayat hati  siapa saja yang mendengarnya?

Mataku berkelebatan. Kepalaku menoleh ke kiri dan kanan berusaha mencari sumber suara yang menyanyikan nada rindu. Genangan air sehabis hujan semalam seolah membantunya dengan senandung rindu dari riak air tipis nyaris membeku.

“Tak perlu kau resah mencari sumber suara ini, Iliana”

Kata-kata ini seperti sengaja ditujukan padaku. Lagu lembut terjaring dari mata yang memicing berusaha melawan teriknya matahari sore yang sepertinya sedang asyik melakukan tugas hariannya.

Aku lelah, nyaris menyerah, dan cenderung marah. Tak juga kutemukan asal suara yang lagi-lagi membuat hatiku tersayat akan senandungnya. Senandung merindu yang tak jua bertemu ujungnya. Aku hanya ingin mencoba meredakan pilu yang tengah dirasakan si pemilik rindu. Hanya itu.

Aku tak ingin lirih suara itu mempengaruhi senja yang tengah menari sebelum petang mengajaknya kembali pulang. Senja yang tengah kunikmati saat ini, dengan waktu yang kumiliki hanya beberapa ucapan kata saja sebelum jingga tertelan dan malam kembali merayap datang.

“Siapa gerangan engkau Tuan, yang begitu pilu memilin rindu dan membuatku tersayat akan lirih suaramu?”

Ucapku dalam diam. Memandang dalam kecemasan. Cemas karena waktuku tinggal sepenggal saja. Senja, tolong jangan beranjak pergi. Tolong melambat sejenak. Tolong senja.

“Usah kau khawatirkan senja, Iliana. Ia akan tetap meninggalkanmu sendiri. Aku hanya ingin menyampaikan sebuah lagu, semoga sudi engkau mendengarnya”

Aku tertegun membisu dengan apa yang baru saja mampir di telingaku. Bahkan si suara mengetahui apa yang baru saja aku katakan? Bulu kuduk meremang tak tertahan. Menjalar jadi sebuah rasa penasaran yang semakin kuat bercokol di kepala.

Aku memejam, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk berkata lagi kepadanya. Kepada si pemilik suara.

“Lagu? Lagu apakah gerangan, jikalau boleh aku tahu?”

Tidak ada jawaban terdengar. Sunyi ini mencekam, menakutkan. Anginpun seperti membeku tidak bersuara, waktu seolah berhenti berdetak seketika. Gesekan daun-daun perdu yang sejak tadi berisik seperti ingin menyuarakan hak nya kini terdengar senyap. Aku termangu. Apakah ini halusinasiku saja?

***

“Iliaaanaaaaaaaa….”

Aku terkesiap. Lagi-lagi lirih suara itu datang menyapaku. Jendela kamarku yang menyisakan celah sempit dan suara itu makin jelas terdengar menelusup ke bilik kamar dan mengisinya dengan lirih suara mencoba mengisi kekosongan malam itu.

Ilianaaaaa……”

Kembali suara itu menyebar ke seluruh ruangan yang hanya memendarkan cahaya remang dari sebuah lampu meja berbentuk beruang. Ada sapuan angin lembut yang mengecup pipiku, dingin. Aku bergidik, namun mencandunya lagi. Kini ia menjelajahi jemari dan lenganku yang hanya berselimut piyama sutera berwarna jingga. Deru suara lembut ini mencoba memelukku! Menyerap rasa hangat dan menggantinya dengan dingin yang nyaris membuatku beku.

Aku merindumu, Iliana”

Kalimat itu menggantung di udara. Meninggalkan sebuah tanya besar untukku, siapa gerangan ia yang tengah jatuh merindu?

Aku tidak bertanya padanya. Aku memejamkan mata dan meresapi rasa dingin yang kini sudah menjalar hingga ke telapak kaki kecilku. Dingin ini membuatku beku, tapi hatiku justru terasa sesak dengan rasa hangat seperti magma bumi yang siap memuntahkan laharnya.

Kudekati jendela kamarku yang hanya menyisakan celah sempit. Ketika kubuka, angin itu berjejalan masuk ke dalam ruangan, menyergapku yang masih berdiri terpaku di ambang jendela kamar. Dorongannya kuat seolah mendekapku erat, meski yang kurasa hanya dingin yang menusuk di seluruh tubuh. Kusunggingkan senyum, membuka kedua lenganku dan mencoba menyambut angin dengan pelukan terhangat.

Dan ia pun kembali berbisik lirih.

Terima kasih, Iliana. Terimalah sepucuk rindu dari negeri angin untukmu,kekasihku. Kuuntai dalam nada sendu, menemanimu menuju mimpi terdalammu..”

Sebuah rindu yang telah beku mencoba melebur dalam dekap hangat kekasihnya, Iliana.

angin

Jakarta, 29 Oktober 2012

*fiksi ini harusnya diikutsertakan dalam kontes yang diadakan @katabergerak. Tapi saya lupa untuk mengirimkannya hingga lewat batas terakhirnya.

*foto diambil di sini