Penghabisan

“Bangsat!”

“Ya elo itu bangsat!”

“Eh , gue nggak kayak elo, Njing!”

Keduanya kemudian tertawa. Percakapan yang aneh buat telingaku. Mereka saling mengumpat di setiap perbincangan. Tidak sekalipun kata-kata itu absen dari mulut mereka yang mengepulkan asap putih pekat dengan aroma yang tajam dari Malboro merah miliknya.

Aku hanya menggeleng melihat kelakuan dua sahabat itu.

Dua laki-laki. Mereka tak bisa dibilang jelek pun tak bisa diakui terlalu tampan. Tapi mereka cukup layak dikategorikan lulus dibawa kondangan. Si putih berbadan tegap dengan rambut kekinian, potongan cepak di kiri dan kanan, belahan rambut ke samping dengan poni yang sedikit panjang. Jambang tertata rapi menghiasi wajah ovalnya dengan kumis tipis yang membuatnya semakin gagah dengan kemeja slim fit yang selalu digulung lengannya.

Sedangkan sahabatnya, berbadan lebih kecil tapi sangat proporsional. Cenderung lebih santai dengan penampilannya yang tak pernah lepas dari kaos Coconut Island yang digandrunginya dulu. Rambut ikalnya yang terpangkas rapi membuat dirinya tampak semakin manis.

Mereka selalu datang ke café ini. Ya, aku memang sering melihat mereka singgah di café ini. Tidak sekali-dua kali saja, tapi puluhan kali. Dalam satu minggu mereka bisa datang berkali-kali. Tidak hanya mereka berdua saja, kadang mereka datang dengan rekan bisnisnya atau mungkin wanita incarannya.

Oh, maaf sebelumnya. Aku bukan penguping setiap cerita mereka. Tapi obrolan mereka yang selalu mencolok membuat telingaku terpasang dengan sadarnya tanpa perlu aku sengaja. Apalagi kalau obrolan mereka tentang wanita.

Suatu hari, mereka duduk agak berbeda dari tempat biasanya. Kali ini, mereka duduk dekat dengan jendela. Sesekali mereka melongokkan kepala ke arah luar, kemudian berbicara setengah berbisik, kemudian tertawa, lalu mengamati ke luar lagi.

Ah, sudah kuduga. Ada sosok perempuan cantik tengah menikmati secangkir latte sambil memainkan gadget di tangannya. Tampaknya ia tak tahu kalau sedang diperhatikan oleh dua pemuda dari dalam.

Mila.

Perempuan yang sering kulihat di akhir pekan. Pengunjung setia café ini sejak beberapa minggu terakhir. Selalu memesan latte dan duduk di teras depan café setiap pukul 4 sore. Dia tidak cantik, tapi enak dipandang. Senyumnya manis dan tertawanya renyah. Ia ramah dan mudah melebur dengan orang yang baru dikenalnya.

“Gue apa elo yang maju duluan?”

“Gue lah. Elo belakangan. Yang  lihat pertama dia yang maju. Deal?”

“Ah brengsek! Okelah, jatah gue besok. Tapi lo nggak akan menang dari gue”

“Anjing! Pede bener lo! Tapi gue nggak akan nyerah. Lihat aja nanti”

Dua pemuda yang sama bersulang dengan cangkir kopi yang sudah habis setengahnya. Aku geleng kepala melihat kelakuan mereka.

Dua bulan kemudian…

“See…! Gue menang dari lo. Mila lebih memilih gue ketimbang elo, Nyet!”

Suara pria tampan berkulit bersih terdengar jumawa. Si pria manis berkulit sawo matang hanya manyun merutuki nasibnya yang kalah dari karibnya. Ia sadar betul kalau taruhannya kali ini adalah sebulan gaji yang harus ia bayarkan demi mendapatkan gadis manis bernama Mila.

“Iya.. iya.. puas lo? Bangkek! Tapi gue nyicil yak, gila sebulan ke depan mau makan apa gue?!”

“Eits, itu resiko Bung! Taruhan tetap taruhan. Like it or not, you must obey!”

Si pria manis makin menekuk mukanya berlipat-lipat. Aku geli melihat wajahnya yang lebih mirip dakocan kalah perang ketimbang pria manis yang pernah kulihat wajahnya beberapa bulan lalu.

“Pssttt.. Malam ini gue kencan sama Mila. Ini saatnya gue bener-bener dapetin dia!”

Si pemenang taruhan setengah berbisik pada temannya sambil menyorongkan sebotol kecil berisi cairan entah apa namanya.

“Gilak, Lo! Lo mau ngerjain dia?”

“Hahaha.. ayolaaahhh.. Gue bukan orang yang suka dengan commitment. Perempuan lugu itu cuman selingan malam gue. Ya mirip-mirip sama Sally, Dita, ataupun Jean. Kenapa lo jadi kaget sih?”

Si pria hitam hanya geleng-geleng kepala.

“Nanti gue bagi dia buat lo. Tenang aja, gue inget temen kok!”

Kata-kata si pria putih membuat senyum pria hitam terkembang sempurna. Aku yang mendengar ceritanya terasa panas. Dasar lelaki!

Mila datang dengan dress kembang-kembang merah muda. Ia tampak segar dengan pulasan warna mata senada. Ia mengecup pipi si pria putih dan menyalami si pria hitam. Si pria putih dengan senyum sumringah memesan latte favorit Mila, dan membisikkan sesuatu kepada barista café.

Aku tak tahan lagi mendengar bualannya. Kupingku rasanya panas, hatiku turut terbakar olehnya. Geram melihat kelakuan bejat dirinya.

Melihat si pelayan menyuguhkan latte, aku bergegas menuju meja Mila dan pria-pria brengsek itu. Semenit sebelum Mila meneguk latte hangat pesanannya, kukerahkan seluruh energi yang kupunya untuk mencegahnya.

Aku sudah tahu target yang hendak kutuju. Lengan si pria putih kusengat sekuat tenaga hingga akhirnya ia menumpahkan cangkir latte milik Mila. Aku kehilangan sungutku. Habis sudah hidup milikku, tapi setidaknya bukan hidup Mila. Perempuan pencinta latte yang kusuka.

 

*Tulisan ini dibuat tanggal 3 Juli 2013 saat melihat seekor kumbang kecil mati saat menikmati makan siang. Dan mungkin kategorinya flash fiction, hehehe…

Tunggu di Sini Saja, Aku Menujumu!

waiting

Sore itu, ada seorang laki-laki datang dan menyengajakan diri duduk tenang di sampingku. Tiada kata, hanya diam saja. “Aku temani ya,” hanya sebuah tawaran sederhana yang terlontar di awalnya. Aku hanya melihatnya sekilas dan menganggukan kepala. Tak ada kata-kata untuknya.

Aku memilih untuk berdiam diri di dermaga tua. Menikmati sore yang menghantarkan senja ke peraduan terakhirnya. Menelusupkan angin dalam peparu yang tak seberapa leganya. Aku sedang tak ingin bicara. Aku sedang menikmati diamku untuk beberapa waktu.

Hingga tiba waktunya, aku beranjak pergi. Tak peduli dengan si pria berkuncir kuda yang sudah rela menemaniku sejak tadi. Ia pun tak tergerak hati untuk menahanku atau sekadar menanyakan akan kemana aku pergi malam itu.

Iya, malam sudah merayap datang. Kini, si pria berkuncir kuda hanya ditemani angin malam yang kurang ajar menusuk-nusuk tulang. Aku pergi dan enggan untuk menoleh apalagi kembali. Setidaknya cukupkan hariku saat itu.

Beberapa hari berlalu, aku kembali ke dermaga tua. Kudapati si pria yang sama sudah lebih dulu duduk di sana. Di tepian dermaga tempat aku bertemu dengannya kali pertama. Sebuah buku bersampul cokelat lusuh jadi kawan setia selain rokok kretek yang ia hisap dalam-dalam di sela ia membaca.

Ia menoleh saat aku datang tetiba. Sepertinya itu mengejutkannya, meski kedatanganku sudah seperti dugaannya. Tak ada kata ia lontarkan, hanya diam yang ia sajikan. Aku, memilih duduk di sampingnya. Masih juga diam. Begitu seterusnya hari-hari kami lalui dalam diam. Entah siapa yang lebih dulu duduk di sana. Aku atau dia.

Hingga suatu sore, aku tak menjumpainya di tepi dermaga tua. Hanya secarik kertas kekuningan yang tertahan kaleng minuman yang masih utuh. Di dalamnya ada sebuah coretan tangan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Jangan kemana-mana, tunggu saja di sini. Aku sedang menujumu…

Dan begitu hari-hari berlalu. Aku menunggu pria berkuncir kuda itu tanpa tahu kapan ia akan kembali dan memenuhi janji di kertas yang ia tinggalkan untukku.

Jakarta, 24 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-12
*foto dipinjam di sini

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

Sore ini hujan. Aku masih saja berkutat dengan art paper di ruangan ini. Tidak sendiri. Tapi tetap saja rasaku sepi. Suara merdu Maynard, mengalun indah. Terlebih ‘forever’, lagu yang sangat kugandrungi, sama seperti si rocker melankolis.

Hujan masih belum berhenti. Ini sudah lagu ke dua puluh dua yang kuputar sejak tadi. Aku juga belum beranjak dari meja yang super berantakan ini sekadar untuk berbenah diri. Sebentar lagi waktunya pulang. Tapi hujan enggan juga berhenti sebentar.

Kalau sudah begini, aku memilih menarik jaket tebal di kursi belakang sambil menyesap cokelat hangat yang biasa jadi bekal kemanapun aku pergi. O ya, tak lupa moachi Gemini, buah tangan dari Semarang untuk sore kali ini.

Mungkin mereka yang melihatku akan mengira aku sibuk dengan pekerjaanku. Tenggelam dengan slide-slide presentasi yang entah untuk berapa kali harus jadi korban revisi. Padahal aku sibuk dengan lalu lintas di kepalaku yang entah kapan bisa berhenti  melemparkan wajahmu untuk terus kutelusuri.

Loving you forever
Utsukushiku kagayaku
I’ve got you, you’ve got me
Yorisotte
Sono hoshi no hate made
Doko made mo together
Yasashiku aoku

Aku menginginkan kamu. Untuk kesekian kalinya, pensil ini harus menorehkan namamu besar-besar yang seharusnya nama kenamaan yang kukarang. Bukan namamu.

Perlahan, tanganku meraih telepon genggam yang tergeletak lemah di sudut meja. Mengetikkan namamu dan menekan tombol hijau.  Namun segera kutekan tombol merah sebelum nada sambung terdengar dari seberang sana.

Tiba-tiba keringat deras mengucur dari jemariku. Mulutku meracau mengutuki diri dengan kebodohan yang nyaris kulakukan. Ku ketikkan kembali namamu.

Hai.. lagi apa? Basi. Hapus

Aku kangen. Umm..big no! Hapus.

Sudah mak.. Hapus.

Lama kutimang telepon genggam di tanganku. Hingga…

Jakarta hujan deras. Jangan kemana-mana ya.. .

Kirim.

Di hatiku saja lebih lama.

Simpan.

Jakarta, 23 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-11

Bangunkan Aku Pukul 7

“Kak, aku bikin ini untuk Ibu.”

Selembar kertas berisikan tulisan tangan Adi, adikku, terulur dihadapanku.

“Tolong bantu bilang Ibu ya, Kak. Adi minta maaf. Adi nggak akan ulangi lagi. Janji!” pintanya kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar permohonannya dan menyuruhnya untuk segera memejamkan mata dan tak lupa berdoa.

“O ya, Kak. Jangan lupa bangunkan aku jam 7 ya. Soalnya sudah janji sama Ayah untuk lari pagi ke Monas,” imbuhnya lagi sebelum akhirnya ia benar-benar memejamkan mata dan berangkat ke alam mimpi.

Begitu setiap hari. Kubangunkan ia sedikit terlambat dari yang telah disepakati. Agar ia tak harus menanti Ayah esok pagi, dan segera bangun dari ‘mimpi’. Dan hari ini, genap sudah empat puluh hari sejak kematian Ayah dan Ibu yang menyebabkan adikku seperti sekarang ini.

Jakarta, 22 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-10

Menanti Lamaran

(Cerita sebelumnya di sini)

Kejadian di stasiun Gambir dua bulan lalu tentu masih sangat melekat di benak Amara. Tak terbayang olehnya kalau hari ini ia akan dilamar oleh orang yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Hari ini adalah langkah awal dimana ia akan segera menjadi Nyonya Dipo, Mama dari Langit, si bocah centil dengan pipi gembilnya yang tak pernah mau diam.

Amara tersenyum geli saat merunut apa saja yang telah menimpa dirinya beberapa bulan terakhir. Memang, cinta datang dan menyambangi siapa saja tanpa pernah bilang sebelumnya. Tapi Amara tak pernah berpikir kalau itu terjadi begitu cepat dalam hidupnya. Setidaknya ia butuh persiapan. Untung saja jantungnya cukup kuat menerima semua kejutan yang Tuhan berikan padanya bertubi-tubi.

Bip..bip..

“Hai sweetheart, sibuk mempercantik diri untuk acara sore nanti ya?”

Bip..bip

“Hmm..untuk kamu juga, kan? Kamu tiba pukul berapa, Mas?”

Bip..bip..

“Ah, senangnya! Aku akan sampai kira-kira pukul 4. Langit sudah tak sabar bertemu dengan calon mamanya nih. Dia ribut seharian, bingung mau pakai baju apa. Susah ya jadi Ayah untuk anak perempuan.”

Amara tertawa geli membaca pesan yang Mas Dipo kirimkan untuknya. Siapa sangka, penat mengurus gadis kecil akan ia rasakan sebentar lagi. Tanpa perlu menunggu sembilan bulan menunggu hingga janin dalam rahimnya berkembang sempurna. Ia akan merasakan jadi ibu sebentar lagi. Ibu dari Langit Rasya Darmawan.

Tetiba ada rasa takut membayangi hatinya. Apakah ia bisa menjadi ibu yang baik untuk Langit? Dan apakah ia bisa menjalani kehidupan menjadi seorang istri dan ibu sekaligus dengan perkenalan yang terbilang singkat? Ada ragu yang nyata-nyata menggayut manja dalam benak Amara.

Bip..bip..

“Aku kirimkan kejutan untukmu. Mungkin 10 menit lagi kejutan itu tiba di rumahmu. Siap-siap ya!”

Pesan yang masuk mengalihkan Amara dari rasa ragu yang membayangi dirinya. Ia penasaran apa yang Mas Dipo kirimkan untuknya. Amara tak mau merisaukan ketakutan yang menghantuinya baru saja. Ia tahu bahwa Mas Dipo adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk mendampinginya, karena memang ia butuhkan. Itu sudah.

“Nduk, di luar ada yang cari kamu. Umm..dia itu..”

Inggih, Bu. Itu dari pihak keluarga Mas Dipo, katanya mau kasih kejutan,” jawab Amara tergesa dan langsung menghambur keluar dari kamarnya.

“Mas dari pihak keluarga Mas Dipo ya?” sapa Amara ramah pada lelaki yang sedang berdiri memunggunginya di teras depan.

“Siang Amara, apa kabar?”

Pria yang berdiri di hadapan Amara menyapanya hangat tapi justru membuat Amara seperti dihujani panah es beribu-ribu jumlahnya. Dingin dan kelu. Randu Aditya, pria yang datang dari masa lalu. Kini berdiri tegap di hadapan Amara dengan seseorang yang sangat dikenalnya. Ny. Wira Sasmitha, ibundanya.

Jakarta, 21 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-9

Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

(cerita sebelumnya di sini)

Perjalanan menuju Jakarta kali ini tidak meninggalkan tangis di mata Amara. Tidak meninggalkan jejak kehilangan di hati, ataupun merasa berat meninggalkan kota yang begitu berarti untuknya, Jogja. Meskipun hujan tak berhenti mengiringi kepulangannya yang terkesan sendu dengan langit kelabu yang masih menaungi tanpa ragu.

Amara justru merasakan bahagia sekembalinya ia ke Jakarta. Ada rasa senang membuncah di hati yang tak berhenti berkesinambungan membentuk lengkung tipis di bibir merah jambunya. Senyum bahagia yang sederhana rasanya.

Mas Dipo, adalah salah satu alasan senyum bahagia itu tersungging di bibir Amara. Ia memegang kata-kata yang pernah terlontar dari mulutnya beberapa waktu lalu. Bahwa ia akan menjadi penyembuh sakit di hati Amara saat itu. Dan ia benar-benar melakukannya. Membuat kabut ragu yang kemarin membumbung tinggi seakan sirna hari ini. Hanya dengan kehadiran Mas Dipo di Jogja dan menjemputnya untuk kembali ke Jakarta bersama-sama. Iya, hanya sesederhana itu.

“Hei.. kamu kenapa melamun?” teguran halus Mas Dipo membuyarkan bayangan yang terangkai manis di atas jendela kereta yang basah.

Amara hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum sambil mengaitkan lengannya ke dalam lengan Mas Dipo. Seolah mencari kehangatan dibalik lengan pria yang telah menemukan rindunya.

“Ra, sampai di Jakarta nanti aku mau mengenalkanmu pada seseorang.”

“Sama siapa, Mas?”

“Nanti kamu juga tahu. Ini kejutan,” tutupnya dengan meninggalkan jutaan tanya di benak Amara.

Stasiun Gambir tampak ramai orang-orang yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti lalu lintas di kepala Amara yang tak kalah ramai dengan kondisi stasiun petang itu. Mas Dipo berdiri sedikit menjauh darinya, menerima panggilan di telepon genggamnya. Entah siapa.

“Yuk!”

Mas Dipo menggamit lengan Amara mesra. Diajaknya wanita berparas ayu itu menuju pelataran parkir dimana seseorang telah menanti mereka berdua.

“Orang yang aku mau kenalin ke kamu ada di dalam mobil itu,” kata-kata Mas Dipo kontan membuat wajah Amara pasi. Hatinya kebat-kebit, otaknya tak bisa berpikir jernih. Siapa gerangan orang yang akan ditemuinya ini?

Tok..tok..

Mas Dipo mengetuk kaca pintu depan Avanza silver yang terparkir tak jauh dari pintu keluar. Kaca mobil yang tak tampak dari luar turun perlahan.

“Papaaaaaaa….” Seorang gadis kecil berambut ikal langsung berdiri dan mengalungkan pelukan melalui kaca jendela yang sudah terbuka seluruhnya. Amara hanya bisa bengong melihat pemandangan di hadapannya.

“Langit sayang, Papa sekarang mau memenuhi janji Papa,” ujar Mas Dipo sambil mendaratkan kecup halus di pipi gembil Langit, gadis kecil berambut ikal. Mata Langit membulat memancarkan binar indah serupa senja sore itu.

“Itu tante Amara. Hadiah yang pernah kamu minta sama papa,” tangan Dipo mengarah ke Amara yang sejak tadi diam membisu.

“Mama Amaraaaaa…” teriak polos si gadis kecil. Senyum Amara mengembang dipaksakan, tak siap menerima kejutan dari Mas Dipo yang sangat tiba-tiba, terlebih mendengar sapaan barunya.

Jakarta, 20 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Cintaku Mentok di Kamu

Berbicara kenyamanan sebagai pasangan, aku harusnya tidak pernah meragukanmu. Kamu membuat hari-hariku memang penuh rasa aman dan pastinya nyaman. Tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Kita bertemu di pertengahan 2011, saat aku berlibur di kota Malang. Tempatku pernah dibesarkan.

Kamu dibawa oleh tanteku, yang langsung membuatku sreg dikali pertama bertemu. Tak perlulah janji-janji palsu membuat skenario bernama kesetiaan, karena kamu sudah memenuhinya. Itu kamu buktikan hingga sekarang. Kemanapun aku pergi, kamu selalu ada bersamaku.

Ingat saat kita mendaki gunung Semeru? Saat aku terpeleset dan hampir terjatuh selepas kita berjalan dari Ranu Pane? Kamu menjadi penyelamat hidupku! Meskipun tak sampai puncak, tapi perjalananku saat itu cukup menyenangkan. Kamu melindungiku. Lagi-lagi aku harus bersyukur pada Tuhan.

Aku juga masih ingat saat kamu datang menemaniku di pernikahan salah satu kawan terbaikku. Aku selalu diolok-olok rekanku  karenamu. Mereka bilang kamu dekil dan hitam, tak pantas denganku yang berkulit putih. Ibarat menodai warna kulitku dengan warnamu.

Tapi aku tak peduli. Lagi-lagi itu semua atas nama rasa nyaman yang aku rasakan. Untung saja kamu tak lantas terabaikan hingga terbuang.

Kini, aku harus mengikhlaskan kepergianmu. Mengikhlaskan kehadiranmu yang tak lagi untukku. Semoga kamu bisa bahagia bersama dengan pasangan barumu, meskipun aku takkan mungkin mendapatkan pengganti sepertimu.

Ya, karena kamu sandal jepit karet hitam terbaikku. Semoga maling beruntung itu bisa menjagamu sebaik mungkin.

Dari kaki yang merindukanmu.

 

Depok, 19 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Rindu Arinda

Arinda, kamu belum tidur kan? Bisa online skype?

Pesan singkat dari Bayu membuat Arinda terlonjak gembira. Dengan segera ia mengetikkan pesan balasan.

Arinda: Ah, tentu saja sayang! Kamu pasti terlalu merindukan wajah manis kekasihmu ini, bukan?

Bayu: Haha, pastinya! Mana mungkin aku bisa melupakanmu sedetikpun jika kamu masih terus saja berlari-lari kecil di benakku yang tak seberapa luasnya ini? Aku merindukanmu, Arinda.

Arinda: Aku juga begitu merindukanmu.Kamu jangan lama-lama tugas di sana ya! Aku bisa mati lumutan di sini, kalau kamu nggka segera menjemput rindu ini dengan sebuah peluk dan kecupan. Hehe…

Disela memainkan jemari dengan tuts telepon selular, otak Arinda sibuk membuat percakapan. Membuatnya tersenyum geli membayangkan setiap adegan dan percakapan yang ia buat sendiri. Tak lama, sebuah pesan balasan dikirimkan Arinda.

Okey, Mas. Saya online 5 menit lagi. Untuk materi meeting sudah saya kirimkan via email. Apa masih ada yang kurang?

Message sent.

Tolong segera kembali, Bay. Dan balas kangenku, segera!

Save as draft.

Sebongkah rindu menginginkan tuannya, yang kini hanya berada di tumpukan rindu lainnya dalam kotak bernama draft berharap untuk segera di balas.

Depok, 18 Januari 2013
Flash fiction ini sebenarnya termasuk salah satu tantangan di #13HariNgeblogFF tapi satu hari kan hanya satu FF, bukan? Hehehe.. #HappyReading

Bales Kangenku Dong!

(cerita sebelumnya di sini)

Bip..bip..

“Apa kabar Jogja pagi ini?”

Bip..Bip..

“Jogja masih sama. Tenang, nyaman, dan selalu dirindukan.”

Bip..bip..

“Berarti Jogja itu mirip sama kamu.”

Bip..bip..

“Kenapa begitu?”

Bip..bip..

“Karena kamu selalu bisa membuatku nyaman saat berada di sampingmu, membuatku tenang dengan renyah suaramu, dan selalu menaburkan rindu di hatiku yang sedikit berdebu.”

Bip..bip..

“GOMBAL!”

Bip..bip..

“Gombal itu kain lap. Dan kain lap itu digunakan untuk membersihkan debu hatiku, agar benih cintamu makin tumbuh subur dan bersemi dalam hati.”

Bip..bip..

“NORAK!”

Bip..bip..

“Aku kangen kamu, Ra!”

Kali ini pesan yang masuk tak langsung dibalasnya. Amara memilih untuk membiarkan pesan singkat itu tetap berada di dalam kotak pesan tanpa perlu dibalas. Tidak sekarang.

Bip..bip..

“Ra? AKU KANGEN KAMU AMARA! Please come home soon, dear…”

Lagi-lagi isi pesan yang sama. Amara hanya menghela napas, dan mencoba untuk mengetikkan pesan balasan. Tapi jemarinya seperti terhenti. Ia tak tahu harus mengetikkan apa sebagai balasan.

 Bip..bip..

“Amara please, balas kangen aku! Kalau kamu nggak mau bales, aku akan jemput paksa kamu, lho!”

Pesan terakhir terlihat mengintimidasi, tapi justru membuat batin Amara senang. Dengan semangat Amara langsung mengetikkan pesan balasan.

“COBA SAJA KALAU KAMU BERANI DATENG!”

Sent.

Amara senyum-senyum sendiri membaca pesan yang dikirmkannya. Dalam hati ia ingin tahu reaksi si pengirim pesan dengan tantangannya barusan.

Bip..bip..

“Aku sudah siap menjemputmu. Aku sudah berada di dekatmu sejak tadi, meja no.9 arah jam 5 dari posisimu saat ini.”

Mata Amara terbalalak membaca pesan barusan. Segera ia mengedarkan pandangan ke arah yang dimaksud. Mata almondnya menangkap sesosok pria berbadan tegap yang ia kenal, berkemeja biru laut sedang berjalan ke arahnya.

“Amaranggana Wisya, kalau kamu nggak mau balas kangenku, aku yang akan menjemputnya sendiri dan membawanya pulang.”

Amara tersenyum mendengar kata-kata pria yang menghujaninya pesan singkat sejak beberapa hari terakhir. Mas Dipo. Sosok pria yang ingin menyembuhkan sakit hati Amara, kini ia datang untuk menjemput rindunya.

Jakarta, 17 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-6

Sambungan Hati Jarak Jauh

Kalau ditanya soal hubungan Ayah dan anak, aku mungkin bukan contoh yang baik. Beliau adalah sosok orang yang sangat berwibawa dan aku selalu menjaga jarak dengannya. Itu karena aku menghormati Ayah.

Kami jarang sekali berbincang-bincang layaknya Ayah dan anak masa kini. Terlebih  lagi dengan aku yang memang sudah merantau sejak SMA. Aku memilih tinggal jauh dari ibukota dan hidup bersama dengan Eyang di Jogja. Kalau sudah begini, Ibu yang memiliki peran menjembatani kami. Meskipun begitu, aku tahu Ayah sangat menyayangiku. Walau itu tak pernah terucap secara lisan dari bibir hitamnya.

Kini, aku sudah bekerja. Tapi aku tetap tak tinggal satu rumah dengan Ayah. Lokasi kantor dan rumah yang sangat berjauhan membuatku memutuskan untuk tinggal di kosan ketimbang harus menempuh tiga jam perjalanan setiap paginya.

Sore ini, seharusnya jadwalku pulang ke rumah. Tapi hujan yang mengguyur sejak pagi membuatku urung untuk pulang. Aku hanya mengirimkan pesan singkat kepada Ayah bahwa rencanaku pulang malam ini harus ditunda hingga esok pagi.

Selepas mengirimkan pesan, aku langsung bergelung di dalam selimut demi menghalau dingin yang sepertinya masih merajuk manja dengan tubuhku. Alunan suara Bonita terdengar sayup-sayup, tak terasa mengantar waktu tidurku jauh lebih cepat.

Tok..tok..tok..

Hmm..siapa yang dateng malem-malem gini, ya?

“Tara.. Nak.. Ini Ayah.”

Ayah? Ada apa datang ke kosan malam-malam begini?

Bergegas aku bangkit dari kasur dan langsung membukakan pintu.

“Ayah? Tumben malam-malam datang?” tanyaku heran sambil mencium tangan Ayah yang terlihat sedikit membiru. Mungkin karena hujan di luar yang tak kunjung berhenti.

“Kamu sudah tidur ya? Maafin Ayah sudah bangunin kamu, Nak,” tutur Ayah dengan senyum tipisnya yang sedikit dipaksakan.

Kupersilakan Ayah masuk dan segera kuseduhkan teh hangat untuknya. Beliau menarik nafas dalam-dalam dan duduk mengenyakkan diri di kasur.

“Ayah, kenapa maksain diri dateng ke kosan Tara? Kan besok Tara balik, Yah.”

Ayah tak menjawab, ia hanya memandangku lekat. Menarik bibir tipis kehitaman karena nikotin yang dihisapnya sejak jaman muda dulu, hingga senyum terkembang sempurna, meski tak kurasakan sama.

“Ayah kangen Tara.”

Deg. Pernyataan spontan Ayah benar-benar membuat hatiku terenyuh. Tak perlu menunggu kata selanjutnya meluncur dari bibir Ayah, aku langsung menghamburkan dekapan untuknya. Banjir air mata sudah tak terbendung rasanya.

“Tara juga kangen Ayah.”

Lama rasanya tak pernah memeluk tubuh Ayah seperti ini. Ternyata tubuhnya tidak seperti dulu, Ayah tak segemuk tahun lalu. Entah sejak kapan bobot tubuhnya menyusut seperti sekarang ini. Tubuhnya juga sangat dingin, mungkin karena diterpa hujan dan angin selama di perjalanan.

“Tara, Ayah nggak lama-lama, Nak. Ayah harus pulang, nanti kemaleman.”

“Tapi Ayah kan baru dateng, sebentar lagi ya Yah,” bujukku.

Ayah membelai kepalaku dan mengecup keningku dengan lembut. Ia berpamitan sekali lagi.

“Tara jaga diri baik-baik ya, jangan males makan kalau di kosan. Besok pagi kamu wajib pulang ke rumah, okey?” pinta Ayah sebelum benar-benar kulepaskan kepergiannya.

Ada haru yang menghujamku bertubi-tubi. Ada resah yang menggayuti perlahan namun pasti, dan ada sejuta kata sayang untuk Ayah yang tak sempat kusampaikan karena tertahan di kerongkongan.

“Ayah…”

Lelaki tua berjaket kelabu itu menoleh sesaat dan berhenti sebelum menuntun vespa tuanya keluar gang.

“Hati-hati di jalan.”

Kata-kata menggantung di udara. Ayah membalasnya dengan sebuah senyuman yang membuatku merasa hangat. Di hati dan di pelupuk mataku.

Around the world atarashii kotoni
Around the world fumidasu chikara de
Around the world sekai wa kawaru sa
But don’t run away cause it’s not OK!

Aku terkejut saat mendengar lantunan indah Monkey Majik dari telepon genggamku. Lagu itu membangunkanku segera.

“Halo,” sapaku kepada pemilik nomor telepon yang tak kukenali di ujung sana.

“Tara,” suara itu lemah, namun aku masih sangat mengenalinya di tengah isak tangis yang tertahan.

“Mama? Mama kenapa?”

“Ayah, Tara.”

“Ayah? Kenapa dengan Ayah?”

“Ayah hanyut terbawa arus. Ia memaksa untuk menjemput kamu di kosan karena khawatir sama keadaan kamu, Nak,” tangis Mama meledak saat menceritakan kejadian yang menimpa Ayah. Tak ada yang bisa kukatakan, tangisku tertahan di dada.

Ayah yang berpamitan padaku tadi itu…

 

Depok, 17 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-5