Mencari Damai Merindukan Bahagia

Kata orang, damai itu indah. Damai itu senang. Dan damai itu menyegarkan.

Masih dengan kata orang, bahagia itu sederhana. Bahagia itu ada di mana-mana. Dan bahagia itu beragam bentuknya.

Lantas, apakah saya sudah menemukan damai dan mendekap bahagia?

Entahlah. Pun hingga sekarang saya masih tetap saja mencari mereka berdua. Meski saya hapal betul mereka tak akan pernah kemana-mana. Mereka masih di tempat yang sama. Hanya saja kadang bentuknya sudah berbeda. Berubah sesuai dengan apa yang menjadikan saya dewasa.

Berganti penampilan sesuai dengan lingkungan yang membentuk pola pikir saya tentang arti damai dan makna bahagia.

Tapi ada satu hal yang masih saya yakini hingga saat ini. Bahagia itu sudah ada di dalam hati saya sejak dulu. Tinggal menunggu waktu dan kesediaan hati saya untuk sedikit merunduk dan menengok ke dalamnya, apakah bahagia masih duduk manis di tempatnya.

Damai pun sama. Tak perlu mencarinya ke ujung dunia. Cukup meluangkan waktu dan peparu agar membebaskan hati. Saya tahu betul, damai membutuhkan cerahnya mentari, harumnya aroma hujan yang mencumbu bumi, derasnya aliran air yang tertangkap telinga. Dan harumnya rumput yang digauli embun dini hari tadi.

Ya.. sesederhana itu. Damai dan Bahagia yang tak pernah pergi kemana-mana, tapi menunggu hati saya menjemput mereka. Untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama sambil mengisi pundi-pundi udara yang pernah terenggut paksa oleh IbuKota yang jumawa.

 

Damai pasti Bahagia, meski Bahagia tidak selalu beriringan dengan Damai.

#SebuahCatatan

Semua orang boleh bangga dengan apa yang ia punya. Semua orang boleh jumawa dengan rentetan gelar yang disandang baru saja. Dan semua orang boleh mengangkat dagu setinggi tingginya ketika ia berhasil berjalan keliling dunia dengan stempel imigrasi di paspor hijau tuanya.

Setiap orang boleh bangaa, boleh jumawa atas apapun yang menurutnya menjadi titik tolak ia mengeratkan nama di langit paling jumawa.

Untuk saya, biarkan saya berbangga diri atas apa yang saya capai untuk keluarga saya. Untuk ibu saya.

Meskipun paspor saya masih belum berpindah halaman sejak bertahun-tahun lalu, meskipun kaki kecil saya masih belum sempat bermain pasir di timur Indonesia, dan meskipun ransel saya masih belum mendaki puncak tertitnggi di Jawa, saya tetap bangga.

Bangga dengan apa yang sudah saya perjuangkan hingga saat ini. Memperjuangkan hidup orang-orang yang saya sayang dengan cara yang paling sederhana. Tidak mewah. Tidak berlimpah. Hanya cukup. Itu sudah.

*sebuah catatan kecil pengingat diri untuk tetap selalu bersyukur

Berkenalan dengan Lembah Syawal

Lelah. Hanya itu kata bergayut manja tidak hanya di pelupuk mata tapi juga di sekujur tubuh yang terlipat tak terbentuk rupa sejak dari Jakarta menuju Ciamis. Kesal yang menumpuk menambah rasa lelah saya berlipat-lipat ganda jumlahnya.

Mulai dari menahan keinginan BAB yang sialnya menghantui saya selama di perjalanan. Ditipu mentah-mentah sama supir angkot di Bandung, sampai dioper-oper ke sana kemari. Saya mengantuk. Saya capek. Belum lagi macet yang luar biasa ganasnya di sepanjang jalan Tasik. Lengkap!

Dan saya menyadari satu hal, kalau ternyata lelah juga bisa memicu pertengkaran besar. Saya dan Panglima Hujan perang dingin di tengah perjalanan. Entah apa penyebabnya. Untunglah itu tak berlangsung lama.

Panjalu. Tujuan perjalanan saya hari itu.

Tidak ada bayangan tentang tempat yang akan saya tuju. Tidak ada sama sekali. Mendengar namanya pun baru hari itu. Tapi tidak dengan Panglima. Tempat itu begitu ia akrabi sejak bertahun-tahun silam. Menurutnya, ada damai yang sederhana yang selalu ditawarkan tempat itu. Dan saya ingin merasakannya. Ya, saya sedang butuh tenang. Butuh yang kelewat kejam.

Sembilan jam sudah saya lewati. Sampai akhirnya, saya tiba di satu daerah bernama Panjalu. Punggung rasanya panas. Pegal nggak karuan. Kaki-kaki yang tertekuk menjerit minta segera diluruskan. Saat asyik-asyiknya meregangkan pinggang, kaki, dan tangan, seorang pria kecil bersama bocah lelaki dengan cemong putih, bedak yang tak merata di wajahnya, menghampiri.

Senyumnya terkembang. Dijabatnya lengan Panglima dengan mantap. Ah, seorang kenalan lama rupanya. Sepertinya ia juga yang akan membawa saya ke tempat tinggal beberapa hari ke depan.

Dengan sepeda motor matic, saya dibawa menuju tempat tinggal Kang Mamas, pria yang bertemu saya di Panjalu. Kang Mamas membawa Panglima bersama Adim, si kecil yang bersamanya. Sedangkan saya dibonceng Dalih, keponakan Kang Mamas.

Angin sore menepuk-nepuk pipi saya. Dingin dan sejuk yang menyenangkan. Jejeran kolam ikan di tiap rumah serta hamparan hijaunya sawah jadi pemandangan yang umum di sini. Semacam karpet hijau yang minta ditiduri oleh tubuh yang terjerat letih.

Kepala saya berkali-kali menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba ‘menelan’ hamparan hijau yang tersaji cuma-cuma di hadapan saya. Lupa rasanya letih, lupa rasanya kesal yang selama perjalanan mencambuk saya dengan buasnya.

“Di desa ya begini ini, Mbak”

Kalimat Dalih seperti menyeret saya kembali ke alam nyata. Sepertinya ia menyadari betul kalau wanita yang sedang dibawanya ini jarang melihat pemandangan seperti ini. Saya hanya tersenyum malu melalui kaca spion sepeda motor. Saya menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi peparu saya yang gempita sejak tadi. Saya ogah rugi. Saya harus menyerap happy serum sebanyak yang saya bisa di sini.

Tiba-tiba jalanan menyempit dan menanjak. Tidak ada lagi jalanan beraspal yang sejak tadi mengawal saya dari Panjalu. Saya menahan napas. Bukan karena terlalu senang, tapi lebih karena terlalu ngeri melihat jalanan yang curamnya kebangetan. Sebuah turunan di hadapan saya nyaris sembilan puluh derajat sudutnya. Bukan lagi jalanan tanah, tapi jalanan berbatu tajam yang semisal saya jatuh, pasti memar dan luka tajam saya dapat. Ya, mengendarai motor di daerah ini butuh keahlian. Keahlian yang tidak main-main. Tetiba saya merinding sendiri.

Saat pikiran saya masih asyik dengan kengerian, Dalih menghentikan laju motornya. Ia menoleh ke arah saya sambil tersenyum.

“Selamat datang di Lembah Syawal”

Saya terkesiap. Muka saya absurd, antara pucat juga senang. Lembah Syawal, tujuan saya, sudah tersaji manis di depan mata. Sebuah desa terpencil di kaki gunung Galunggung menyapa saya dengan kesederhanaannya. Dengan riuh warga desa yang menyambut saya dengan begitu ‘mewah’ keramahannya. Suara air yang mengalir deras entah di mana, serta gemercik air yang mengalir dari batang-batang bambu ke dalam petak-petak kolam nila.

Ibu-ibu beragam usia berjejer manis menyalami kedatangan saya. Sepertinya mereka semua tahu kedatangan saya sore itu, yang mereka perkirakan tiba lebih awal. Diberondongnya saya dengan beragam pertanyaan. Saya tak merasa terganggu, justru buncah senang di hati saya.

Segelas kopi  hitam kental mengepulkan uap panasnya, tersuguh dalam gelas bergambar bunga mawar. Sepiring singkong goreng, lanting, dan opak jadi temannya. Ah, saya tidak menyangka penyambutan ini begitu ‘mewah’ rasanya. Bukan soal yang terbaca oleh mata, tapi lebih yang terasa di hati.

Orang-orang ini tidak mengenal saya. Mereka hanya mengenal Panglima. Tapi mereka menyambut kami seperti keluarga. Entah dari keturunan siapa. Lembah Syawal menawarkan damai untuk saya yang tengah dilanda penat Ibukota. Dan warga desa menawarkan saya secuil bahagia yang efeknya luar biasa. Di tengah hawa dingin yang menusuk malam harinya, ada hangat keluarga yang menyelimuti saya.

Lalu, apa yang saya lakukan di sini? Tidak ada. Saya menyengajakan diri ke tempat ini demi pundi-pundi bahagia yang nyaris habis termakan angkuhnya Jakarta. Saya harus mengisi ulang pundi-pundi tersebut sebelum Ibukota mengambilnya serabutan di awal pekan.

Oleh karenanya, ijinkan saya menikmati orkestra malam yang dipimpin suara kodok bangkong bersahutan dengan tonggeret di luar sana.

Selamat malam semesta, taburkan sejuta kerlip bahagia untuk siapa saja yang memang membutuhkannya. Seperti saya.

 

Lembah Syawal, Mei 2013

Obrolan Cangkir Kopi

“… kamu kayaknya perlu segelas kopi deh, Non. Blandongan?”

Kata-kata itu yang kerap kali dilontarkan olehnya kalau aku mulai mencurahkan emosi yang meluap-luap. Atau aku sedang ingin mengeluarkan secuil pemikiran yang mengganjal seharian.

Ia tak pernah menyambut emosiku dengan emosi lainnya. Ia justru akan meredam emosi ini dengan ajakan secangkir kopi dan obrolan panjang seharian. Aku tetiba teringat olehnya. Ia yang kini jauh berada di kota pelajar yang sedang melanjutkan studinya.

Aku jadi berpikir, apa yang menjadikan kopi begitu nikmat? Atau bagaimana obrolan begitu bersemangat dan mengalir dengan hangat dengan secangkir kopi?

Kalau banyak penikmat nikotin mengatakan kopi dan rokok adalah sahabat, buatku kopi dan sahabat adalah kawan karib yang melegenda. Bagaimana sebuah ide tercipta hanya karena obrolan warung kopi dan bagaimana masalah bisa terselesaikan hanya karena berbagi cerita dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lainnya.

Aku bukanlah pencinta kopi yang mengerti seluk beluk biji kopi hingga menjadi minuman lezat di pagi hari. Aku cukup menjadi penikmat kopi di mana saja, apapun bentuknya. Fresh atau siap saji, aku menikmatinya. Tak lupa seorang atau segerombolan kawan sebagai selingan saat menyesapnya.

Masih hangat dalam benakku, bagaimana perkenalan kami bermula. Secangkir kopi dan senja di sebuah kedai kopi di tengah sawah. Cerita bermula dari aku yang berkomentar tentang senja sore itu yang disambut oleh cerita tentangnya dan bagaimana ia mencintai kopi juga tembakau yang dihisapnya.

Tanpa terasa cerita demi cerita terangkai dengan manisnya dan selalu berakhir ketika senja nyaris tertelan gelapnya malam. Saat itu, aku menyudahi perjumpaan kami. Kucukupkan cerita sore itu dengan sebuah lambaian hangat sebelum kukayuh sepeda kumbangku dengan nada riang.

Begitu setiap hari. Setiap sore, kukayuh sepeda kumbang menuju kedai di tengah sawah. Di sana kutahu ia selalu menungguku dengan senyum dari bibir kehitaman dan nikotin yang terbakar di sela jemari kanan.

Dua cangkir kopi terseduh, menguarkan aroma harum yang memikat. Kusunggingkan senyum untuknya yang sudah bersabar menungguku. Sesapan pertama dan komentar tentang senja hari itu jadi pembuka. Dan menit-menit berikutnya mengalir begitu saja tentunya dengan cangkir kopi yang kembali terisi dari cangkir bergambar bunga mawar.

Aku, dia, dan cangkir-cangkir kopi merangkai cerita. Hanya dengan obrolan sederhana tentang rasa, tentang bagaimana hidup itu semestinya dimata kami, manusia. Tentang persahabatan dan juga cinta, yang terkadang jumlah duka tidak pernah seimbang dengan suka.

Tapi satu hal yang pasti, obrolan cangkir kopi ini akan terus mengalir meski kami tak lagi bisa menikmati cangkir-cangkir kopi di tengah sawah bersama senja. Meski kesibukan menenggelamkan rasa pada akhirnya. Mungkin ada waktunya nanti aku dan dirinya bisa menikmati kopi kami kembali sambil bernostalgia tentang senja, rasa, dan cinta sesama.

Dan soal kopi yang menjadi sahabat setia kala bercerita, aku masih bertanya-tanya. Kubiarkan ia tetap menjadi rahasia. Maka, nikmati saja!

cangkir kopi

 

Senin, 3 Deseber 2012
Lagi-lagi, tulisan ini saya temukan diantara file-file tulisan yang belum sempat ter-posting tahun lalu.
*foto dipinjam di sini

Siapa Bilang (?)

only it doesn't mean lonely  :)

only it doesn’t mean lonely 🙂

Ada yang bilang anak tunggal itu manja. Ada juga yang bilang anak tunggal itu selalu bergantung dengan orang lain. Dan nggak sedikit juga yang bilang kalau anak tunggal itu selalu saja merepotkan karena tidak bisa hidup mandiri atau sebagai biang masalah karena sifat egoisnya.

Kadang gerah juga mendengar penilaian orang tentang anak tunggal. Aku adalah anak tunggal yang hidup dengan kemandirian. Sejak kecil tidak pernah dimanja berlebihan. Setiap keinginan harus diusahakan bukan didapat dengan merengek kepada Ibu. Bahkan ketika beranjak dewasa, embel-embel anak tunggal bukan lagi jadi momok menakutkan untuk bepergian ataupun berpetualang. Ya, meskipun harus diakui kewajiban untuk membuat laporan jadi dua kali lebih banyak.

Aku lahir dan besar bukan dari keluarga yang bergelimang materi. Sejak duduk di bangku kuliah aku sudah harus mencukupi segala kebutuhan pribadi dan sesekali untuk kebutuhan di rumah. Pun biaya kuliah aku penuhi sendiri. Beruntung ada program beasiswa yang diajukan dosen kelas agar aku meneruskan kuliah. Hmm.. setidaknya untuk urusan dengan bidang kemahasiswaan bisa dibilang aman.

Sekarang, semua tanggung jawab di rumah sudah ada di pundakku. Bahkan sudah  sejak aku benar-benar terjun di dunia kerja. Dari urusan yang sangat besar seperti mengganti genteng yang bocor karena kucing kawin hingga remeh temeh macam persediaan gula dan kopi di rumah.

Kadang, ada kalanya aku merasa lelah untuk mengurusi semuanya. Ada keinginan untuk sekadar menyerahkannya kepada siapa saja di rumah. Tapi sama siapa? Haha.. Tidak ada yang bisa diserahkan tanggung jawab itu. Aku hanya sendiri, Ibu memang sebaiknya sudah tidak dibebani dengan hal-hal semacam ini lagi.

Tapi jujur aku sangat menikmati meskipun keringat dingin mendera ketika harus naik tangga yang begitu tinggi demi memasang kawat jemuran di tembok belakang. Meski sebal karena genteng pecah hanya karena lihat ‘resepsi’ kucing malam-malam. Dan pusing kepala karena harus membuat perencanaan keuangan yang sejujurnya aku tak pernah sukai sejak sekolah dulu.

Meskipun begitu, aku (sangat) menikmatinya. Dan kalau sudah seperti ini siapa yang masih mau bilang kalau anak tunggal itu nggak bisa hidup mandiri?

Kemang, 18 Maret 2013
*nonayangmumetlihatpengeluaranhahahaha…

Foto dipinjam di sini

Dibalik Lensa

kamera

Pagi tadi aku bertemu dengan salah satu pimpinan di tempatku bekerja dulu. Ia- yang tak perlu kusebut namanya- memang dekat denganku, apalagi ia sering memintaku untuk menemani anak sulungnya mencari objek untuk kameranya.

Setelah berbasa basi menanyakan kabar, tetiba ia melancarkan satu pertanyaan “Kamu masih nemenin Mas Anu buat motret?”. Ah, pertanyaannya bikin aku rindu. Rindu ‘diculik’ oleh Mas Anu untuk jadi asisten pribadinya saat mengambil gambar.

“Sudah nggak, Pak. Sekarang susah ijin kalau hari kerja,” jawabku cepat.

Singkat cerita, kami berpisah dan ia masih tetap saja mencoba mengajakku untuk bergabung dengannya. Bukan maksud menolak rezeki, tapi sepertinya aku ingin berdamai dengan lingkunganku saat ini. Cukupkan batinku berpacu dengan waktu beberapa tahun lalu. Saatnya cooling down, pikirku.

Pertanyaan yang ia layangkan baru saja mengantarkanku pada sebuah perbincangan yang pernah kulakuakan bersama Bapak Itu dan Mas Anu beberapa waktu lalu.

“Kamu tahu Lan, fotografer itu selalu pintar cari pasangan hidup,” Bapak Itu membuka pembicaraan ditengah-tengah aku menyemprotkan whipped cream di atas cupcakes.

“Kok bisa, Pak?” tanyaku dengan polosnya.

“Bisa dong. Coba tanya saja Mas Anu. Ya tho, Mas?” Hmm..mencari dukungan rupanya. Tapi aku tetap saja penasaran dengan penjelasannya yang kuyakin panjang dan luamaaa.

Mas Anu, dia hanya manggut-manggut sambil mengulum senyum entah apa maksudnya. Apa memang benar begitu atau ia menahan geli karena aku berhasil ditipu Bapak Itu. Ah, biarkanlah.

“Gini Lan, fotografer itu punya mata selain yang dikasih oleh Tuhan. Punya rasa yang peka dibandingkan orang pada umumnya, makanya seorang fotografer bisa menangkap momen dan mengabadikannya dengan lensa yang dia punya,” Pak Itu pun mulai menjelaskan. Aku mulai manggut-manggut.

“Lha, terus apa hubungannya dengan fotografer yang bisa dapetin pasangan hidup yang cantik?” tanyaku penasaran.

“Hahaha.. sabar dulu, Non. Ini lanjutannya,” ia terkekeh sambil menepuk bahuku macam aku rekan jawatannya saja.

“Apa yang dilihat seorang fotografer di balik lensa itu adalah keindahan,”

Hmm.. untuk penjelasannya yang satu ini aku mengamini sepenuh hati.

“Dari balik lensa itulah fotografer itu bisa melihat siapa objek yang sedang dibidiknya. Coba kamu perhatiin, istri Mas Anu cantik kan? Mbak Itu, yang sekarang bantu-bantu aku cantikkan? Suami dia itu fotografer juga,” imbuhnya.

“Fotografer yang pintar, bisa mengeluarkan ‘kecantikkan’ yang sesungguhnya dari dalam diri seseorang. Kadang yang terlihat biasa saja di depan mata kita, bisa sangat cantik luar biasa di depan kamera. Make up itu hanya tambahan, tapi feeling seorang fotografer ikut bermain di dalamnya.”

Aku mencoba mencerna apa yang sedang dibicarakan Bapak Itu baru saja. Ibarat kuliah, mungkin nilai mata kuliah ini 6 sks dalam sekali duduk. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga. Istri Mas Anu cantik bukan main, dan Mbak Itu juga sama cantiknya.

“Lha terus, kalau istri Pak Itu kok biasa aja, Pak?” tanyaku kembali.

“Kadang ada kecantikan yang nggak bisa diukur dengan mata biasa. Cantik yang hanya bisa dilihat dari satu sisi saja. Kayak kamu yang pas kalau difoto dari satu sisi saja, kalau keseluruhan nggak bagus, Lan.” Dan dia pun tertawa puas sambil nyomot kue yang baru saja selesai dihias. Sial! Rupanya dia sedang membully aku.

Terlepas dari cara dia membully, aku mengamini apa yang diucapkannya. Dan gara-gara omongannya itu aku pernah berangan-angan kalau Tuan (?) adalah seorang fotografer yang bisa membuatku terlihat cantik tidak hanya di depan kamera tapi juga dihatinya. Haha..

 Kemang, 6 Maret 2013
*foto pinjam di sini

Sebuah Pelukan

Perjalanan ribuan kilometer jauhnya kadang tidak hanya membawa efek lelah pada fisik semata, tapi juga hati dan pikiran. Kadang ada hal-hal yang tidak bisa diduga saat melakukan perjalanan. Inilah yang membuat lelah yang bertumpuk, menggunung, dan kadang melebihi batas maksimal seharusnya.

Seperti semalam, saya tiba di Jakarta dengan penerbangan terakhir dari Makassar dengan menggunakan maskapai penerbangan yang katanya kalau promo paling murah (padahal mahal juga). Saya sudah tidak tahu bagaimana rupa saya semalam. Lelah yang menggunung membuat pertahanan tubuh saya drop ke titik paling rendah. Mungkin di bawah nol. Lelah fisik saat itu semakin jadi karena hati saya yang gelisah dan otak saya yang enggan berhenti memutar banyak rekam gambar kejadian.

Dua jam penerbangan ini terasa menyiksa. Buku tidak lagi menjadi solusi saya dalam mengahalau resah. Roti dan susu hangat tak juga membuat mata saya terpejam sebentar saja. Turbulensi di pesawat semakin memperparah keadaan saya.

Kalau sudah begini yang saya butuhkan hanya satu, sebuah pelukan. Saya butuh pelukan hangat Ibu saya. Saya hanya butuh kecup penuh cinta di kening saya untuk mengusir semua lelah dan resah yang sejak tadi menguasai perasaan saya.

Tiba di rumah malam sudah terlalu larut, namun saya masih tetap disambut dengan sebuah pelukan paling hangat yang pernah saya rasakan selama ini. Benar kata orang, kalau pelukan itu menyembuhkan terlebih pelukan seseorang yang melakukannya dengan tulus atas nama cinta. Entah siapa saja orangnya.

Ah, saya traveler mellow? Entah apa kalian akan menyebutnya. Tapi satu hal yang pasti, ada banyak hal yang membuat semua ini terjadi. Dan pertahanan diri saya runtuh tadi malam. Saya butuh me-recharge diri saya kembali. Menyepi, mungkin jadi solusinya. Saya ingin berdiskusi dengan diri saya lagi apa saja yang sudah terjadi beberapa hari terakhir. Mungkinkah ini berkaitan dengan banyak firasat yang bersliweran belakangan? Entahlah.

 

Kemang, 26 Februari 2013

Ada Sempurna di Ketidaksempurnaan

Siang ini, aku memilih ‘mengasingkan’ diri di salah satu sudut café yang lokasinya tak jauh dari kantor. Kebetulan sekali salah satu manager di tempat ini adalah kawanku. Jadi tak pernah masalah untuk datang ke sana meskipun aku hanya membeli segelas jus buah atau secangkir kopi karena makan siang biasanya aku membawanya dari rumah.

Tidak jarang aku menghabiskan siang, sore, bahkan malam di tempat ini. Jujur, suasana yang tercipta di sini membuat makan siang sederhana dalam kotak berwarna jingga jadi istimewa rasanya. Sebuah kebun terhampar luas yang dihiasi berbagai macam tanaman bunga. Kolam besar ada di salah satu sudutnya, membuat pandangan jadi terasa segar dengan riak yang terpantul di permukaannya.

Aku memilih duduk di salah satu meja yang menghadap kolam. Dengan sebuah payung besar menduhkan pandangan serta melindungiku dari paparan matahari siang ini. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan makan siangku. Cukup 15 menit saja. Sisanya, aku akan menenggelamkan diri dalam rentetan kata yang kubaca di dunia maya. Atau akan mengulik beragam rekam gambar untuk keperluan ilustrasi sore nanti.

“Ah, nggak mau ah.. Ulangi lagi!”

Sebuah teriakan dari arah kolam menggangguku. Kulihat sekilas, ada sekelompok perempuan berbaju serupa – merah muda – tengah menjalankan aksinya di depan kamera. Aku hanya tersenyum-senyum saja melihatnya.

Aku tenggelam lagi dalam media yang tengah kubaca sambil sesekali menyesap Flores Bajawa. Ah, Tuhan.. nikmat mana lagi yang harus kudustakan? Aku tersenyum sendiri, menikmati semua yang ada dihadapanku saat ini.

“Iiihh..kenapa sih? Gue gak suka. Ulangi lagi!”

Kembali suara itu tertangkap telingaku. Entah apa kali ini masalahnya.

“Pokoknya Lo kudu ambil bagian sini, jangan sebelah sini. Gue nggak suka,” kata-katanya barusan terdengar biasa saja. Tapi saat kulihat ia mengatakannya ada kesan mengintimidasi kawannya yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku jadi penasaran apa yang sedang ia debatkan. Kini, bacaanku tidak lagi menarik setelah melihat objek nyata yang tengah menarik urat di pinggir kolam sana. Ya, aku masih manusia yang punya rasa ingin tahu besar juga. Meskipun ini sebenarnya bukan urusanku juga.

“Aaaah, ini masih keliatan Je! Ulangi lagi, Ah!”

Perintah si wanita itu. Lambat laun aku menyadari satu hal. Ia menginginkan hasil rekam gambar di ponsel miliknya tidak boleh memperlihatkan bagian tubuhnya yang terlihat gemuk. Ia ingin tampak sempurna, langsing seperti kawan-kawan lainnya. Padahal menurutku, tidak ada yang salah dengannya. Ia masih juga cantik, tidak ada yang kurang. Dan menurutku, ia cenderung seksi. Terlebih dengan kandungan yang sepertinya sudah menginjak usia lebih dari 7 bulan yang membuat dirinya semakin cantik dimataku.

Oh percayalah, seorang wanita akan semakin cantik saat ia mengandung. Setidaknya itu obrolan yang pernah kutangkap diantara teman-teman priaku. Mereka justru tak peduli dengan lemak yang timbul karena porsi makan yang menjadi berkali-kali lipat banyaknya. Karena menurut mereka (pria) ada cinta yang tengah dilindungi di dalam rahim wanita. Itu yang membuat wanita selalu tampak berbeda ketika sedang berbadan dua. Atau aku bisa menyebutnya, sempurna.

Kemang, 14 Februari 2013

Tak Akan Lama. Janji!

Memulai hari dengan sebuah air mata rasanya itu akan mengacaukan mood satu harian. Entah untuk orang lain, tapi buat saya Senin pagi ditambah air mata menghasilkan jenuh sejadinya, mellow se-mellow-mellownya, dan semua yang kelabu ‘mampir’ seenaknya.

Saya nggak pernah tahu ada apa dengan saya hari ini. Pagi tadi saya mendapat telepon dari seseorang yang belakangan memang mengisi hidup saya. Nothing special. But I know my morning will be fine after his call. Berangkat kerja lebih pagi dari biasanya mencoba menghindari macet di Senin yang luar biasa.

Tiba di tempat kopaja tua biasa menyandarkan tubuh ringkihnya. Tidak ada satupun kopaja mangkal di sana. Saya memilih untuk naik kowanbisata, dengan resiko ongkos saya lebih mahal dari yang seharusnya (selain ojek yang saya harus hitung lebih jauh jaraknya).

Bis kowanbisata sudah terlalu penuh. Untunglah saya masih bisa berdiri dengan baik di ambang pintu. Sampai sini, saya masih baik-baik saja. Ada seorang pria berbadan sedikit tambun langsung menjejakkan kakinya di ambang pintu, mendesak saya hingga terhimpit diantara laki-laki lain yang berdiri di dekat saya. Di sini, posisi saya sudah tidak tegak sempurna.

Pinggang saya mulai sakit terdesak benda entah apa yang dibawa seorang wanita di belakang saya. Bersabar hanya satu kuncinya. Macet mengular sejak memasuki pintu tol hingga berada di sepanjang jalur lingkar luar Jakarta. Menyemangati diri untuk tetap optimis, semangat, tidak boleh menyerah saya lakukan terus menerus. Berusaha tersenyum melihat pantulan wajah saya di salah satu kaca yang ada di pintu.

Menarik nafas dan membuangnya sambil meneriakkan dalam hati, “Kamu Bisa! Impian kamu ada di depan mata!”. Ya, kata itu saya lantunkan berulang kali. Terus menerus hingga mungkin lelaki yang bergelayutan di sebelah saya menganggap saya aneh dengan racauan yang keluar dari bibir saya.

Mobil melaju kencang ketika jalanan sedikit lengang, namun ngerem mendadak tiba-tiba. Pinggang saya terdesak oleh benda yang dibawa penumpang lainnya. Sakit bukan main rasanya. Tiba-tiba saya terbayang wajah Mama, dia yang ada di Jogja, masa depan saya, mimpi saya, dan juga apa yang sedang saya perjuangkan saat ini.

Deg! Saya mellow. Ada gemuruh di dada saya dan rasa yang tertahan di tenggorokan mendesak minta keluar. Saya menahannya, mencoba menyebut nama Tuhan sebanyak yang saya bisa. Saya tak mau kalah dengan kondisi yang harus saya jalani pagi ini. Tanpa terasa ujung mata saya menghangat. Sepasang air mata saya jatuh, meski terhalang dengan sapu tangan yang saya dekapkan erat di hidung menghindari polutan jahanam yang ada di jalanan. Sedih sejadi-jadinya, tapi saya mencoba untuk tegar.

Hingga tiba di perempatan Cilandak, seorang kernet mendorong saya selagi bis masih melaju dengan cepatnya. Saya meminta ia untuk tidak mendorong saya.

“Bang jangan dorong-dorong, nanti saya jatuh,” itu yang saya katakana padanya.

“Makanya naik ke atas!” hardiknya membuat saya kesal. Tapi saya mencoba mengatakan padanya dengan nada biasa saja.

“Saya turun di depan kok bang,”

“ASTAGAAA! Hari gini masih ada ajah orang SOMBONG! Susah banget diatur!” teriaknya kepada saya. Saya kaget dengan kata-katanya. Mungkin kalau saya tadi berbicara dengan nada yang ketus saya maklum dia membalasnya seperti itu. Tapi, ini…

Akhirnya saya memutuskan untuk turun meskipun saya harus berjalan kaki sangat jauh karenanya. Saat saya mencoba menyebrangi jalanan dan berharap lampu lalu lintas masih merah menyala, saya dengar si kernet kurang ajar itu meneriakkan makian pada saya. Makian yang seharusnya tidak saya dengar di Senin pagi. Makian yang bikin siapa saja yang mendengarnya pasti ingin mendaratkan sebuah bogem mentah di mulut kernet kurang ajar itu.

Tapi saya memilih untuk berjalan dan meninggalkannya. Mencoba menghilangkan suaranya dari kepala. Apa daya, suaranya masih saja nyaring di telinga. Saya sakit hati. Air mata saya keluar makin menjadi. Saya terisak di pinggir jalan raya. Mengeluarkan emosi yang sejak tadi mengganjal. Saya marah? Iya. Saya terhina? Iya. Tapi untuk apa saya ladeni makhluk tak berhati tadi? Untuk sebuah kepuasan sesaat? Tidak akan saya biarkan. Jadi saya mengalah hari ini, menangis hari ini karena saya masih manusia. Saya butuh mengeluarkan secuil kerikil yang mengganjal di hati kecil saya. Membersihkan mata saya dengan air mata sementara. Ya, cukup sementara saja. Tak perlu lama-lama!

Jakarta, 4 Februari 2013

Tidak Mau Jadi Bunglon

Ada yang bilang enak jadi bunglon, bisa beradaptasi dengan lingkungan di mana saja. Bisa selamat ketika musuh mengamati, bisa tetap bertahan hidup dan jadi daya tarik yang kuat melekat. Tapi aku bukan bunglon, yang harus mengubah diri menjadi sosok yang selalu bisa kamu puji.

Aku tidak akan pernah berubah menjadi dia. Berubah menjadi orang yang sepertinya sangat kamu puja. Aku tak akan pernah bisa setangguh dia. Mendaki puluhan gunung, menaklukkan rasa takut, bersahabat dengan alam.

Karena aku hyperphobia. Takut akan ketinggian. Aku lebih mencintai pantai, birunya laut, dan bersihnya langit biru yang terhampar menembus batas cakrawala. Aku mencintai kehidupan bawah laut tidak sepertimu yang sepertinya alergi pada air.

Kamu juga sering memujinya yang begitu piawai merangkai kata-kata. Tidak sepertiku yang lebih senang menggambar semua yang ada di kepala. Resahku dan juga sukaku. Semua tertuang dalam kertas dan juga pensil warna. Aku memilih menyembunyikan semua yang ingin kukatakan dalam media gambar tak bersuara namun ia berbicara. Itupun jika kamu mau ‘mendengar’nya.

Kopi selalu jadi alasanmu untuk berbincang dengannya lebih lama. Bukan denganku yang lebih menyukai cokelat hangat yang rasanya terlalu manis menurutmu. Lantas, haruskah aku mengubah semua kebiasaan itu hanya untuk mendapatkan setitik perhatian semu?

Aku tidak mau jadi bunglon, yang mengubah diri untuk bisa diterima dan selamat dari maut. Aku takut lupa siapa aku nantinya. Aku tetap ingin menjadi diriku sendiri, bukan menjadi dia meski sepertinya ia telah menarik perhatianmu begitu rupa.

 

Jakarta, 31 Januari 2013
*PS: tulisan ini tidak ada hubungannya dengan diri saya pribadi. ini murni buah pikiran saya yang sedang keos siang ini. 🙂