Namaku Hujan

hujan

Perkenalkan, namaku Hujan. Di kemarau aku dirindukan. Di berbagai daerah aku dinantikan. Namun tidak di Jakarta. Saat kumenari, umpatan kudapatkan, makian dan hinaan dilontarkan, hanya karena lalu lintas yang lumpuh total. Lantas aku harus bagaimana? Kepada siapa lagi aku menuju ketika harap tak jua tersampaikan…

*otak saya kembali random saat terguyur hujan pagi tadi. foto pinjam di sini

Advertisements

Setapak Sriwedari

Hujan di awal Juni ini syahdu rasanya. Mengalun pelan, tidak tergesa, membuai dengan lembut pipi yang kemerahan menahan dingin udara.

Ditambah senandung merdu suara Angga, vokalis Maliq and d’essenstials dengan tembang terbarunya, Setapak Sriwedari.

Membuat saya melagukan senyum, menyunggingkan nada, serupa pelangi di pagi hari.

Selamat menikmati lagu ini dengan hati yang selalu tersenyum dan pelangi yang siap mewarnai hari.

Ini laguku, apa lagumu?

Doa Sederhana

Di luar, titik-titik hujan mulai mereda. Kurapatkan sweater hijau pupusku dan menyilangkan tangan mencari setitik hangat di sela-sela ketiak. Dia masih berceloteh tentang harinya. Bagaimana ia melewati hari ini hanya di depan leptop kesayangannya.

Ia juga bertutur tentang bagaimana sesiangan tukang pompa air begitu ributnya hingga membuat ia tak bisa memejamkan mata. Ia, pria yang ada di hadapanku kini, yang tak pernah berhenti membuatku tersenyum, takjub, dan bersyukur.

Tanpa pernah ia sadari, aku banyak belajar hidup darinya. Aku belajar menganal cinta karenanya. Ia, lelaki yang menyengajakan diri datang ke ibu kota demi menjemput cintanya. Ia yang tak pernah akrab dengan  riuhnya kota dan padatnya kopaja memilih berdamai dengan itu semua demi satu cinta.

Malam semakin larut. Butir-butir hujan mulai berjejalan tergesa menyapa makhluk bumi kembali. Ia menatapku, menarik tanganku yang masih mencoba mencari hangat dari balik sweater tipis yang ternyata tak bisa menghalau dinginnya malam.

Ia menggosok-gosokkan telapak tanganku diantara telapak tangannya. Mencoba menghangatkan telapakku yang mulai memucat.Ada getar yang menelusup riang di tubuhku. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutku. Dan ada getar irama yang mengalun di dalam hatiku.

Ia masih bercerita, kali ini tentang cerita wayang yang memang kusuka. Ia menceritakan sisi lain seorang Rahwana, musuh dari Rama yang sangat kejam namun begitu romantis terhadap Dewi Shinta. Jika membangun taman asoka menjadi sangat romantis, buatku apa yang ia lakukan baru saja sudah sangat romantis. Sederhana, tapi ini yang kadang terlupa.

Seperti ada hukum alam yang mengaitkan lengkung senyum di bibirku saat melihat matanya yang membulat, mengerjap, ketika menceritakan tentang apa yang sedang dilakoninya. Ia selalu membuatku menyunggingkan senyum hanya dengan melihatnya bercerita.

Ada doa yang terangkai perlahan saat melihat wajahnya. Doa sederhana yang kupinta kepada Tuhan agar mengijinkanku sakinah bersamanya. Menjadi ­pendamping lelaki di hadapanku. Menjadi bagian dalam cerita hidupnya dan membaginya di suatu sore bersama buah hati kami nantinya. Semoga Tuhan mengabulkannya.

Dan malam ini aku hanya perlu menikmati kebersamaan kami berdua dalam rinai hujan yang mengalun perlahan dan menghilang di tengah gelapnya malam.

12 April 2013 ; 21.13

Hujan Sore Ini Romantis

hujan-jendela

Adalah seorang pria berkemeja biru muda
duduk sambil menghisap tembakau di sela jemarinya
menatap jauh ke langit yang tengah menghamburkan jutaan jarum air di kepala
dengan warna kelabu tua sebagai pengiringnya

ada sebuah kenangan tentang seseorang yang berloncatan riang di udara
yang enggan menipis sedikit saja,
serupa masa lalu yang ingin diputar semenit meski itu tak kan pernah dirasa nyata

Hujan sore ini tak akan pernah sama
bukan lagi ia sebagai temannya bercerita
namun secangkir kopi dan rinai hujan yang menjadi pendamping setianya..

Serta aku yang memandangnya dari balik jendela kaca..

 

Kemang, 20 Februari 2013
Obrolan bersama seorang kawan di sebuah meja di pinggir kolam

Skenario Tuhan

Jumat, hujan deras, sudah dipastikan macet siap menghadang. Apa mau dikata? Sudah sejak pagi Jakarta diguyur hujan. Tidak tanggung-tanggung, sejak pukul 8 pagi. Saat saya masih asyik bergelantungan di pintu kopaja tua.

Maaf hujan, saya tidak bersahabat denganmu pagi ini. Kesal sudah tiada guna. Penyesalan karena tidak mengecek tas sebelum berangkat sudah tak perlu dibicarakan lagi. Si payung beruang kawan setia saya tertinggal di rumah.

Mulut saya tak berhenti merapalkan berjuta permohonan pada Tuhan untuk menghentikan hujan barang sebentar. Namun hujan tak kunjung reda, justru makin gencar menghentakkan butir airnya. Saya lemas. Bingung tak juga rampung. Entah kata-kata apalagi yang harus saya lontarkan untuk merayu si empunya jagat raya agar tidak mengirimkan pasukan langitnya.

Pasrah. Itu sudah. Bersiap untuk lepek badan dan gigil saat tiba di ruangan. Ancang-ancang skenario sesampainya di kantor sudah saya buat. Menghalau cemas agar tak terlalu kuat bercokol di hati.

Tiba-tiba saja deras hujan berubah menjadi rintik air. Seolah menjawab semua resah, Tuhan menghalau semua prajurit airnya sejenak untuk tidak mengganggu saya yang masih bergayut di kopaja tua.

Tepat saatnya turun dari kopaja di pintu pekuburan lama. Hujan berhenti seketika. Ah, senyum lebar terkembang sempurna. Seorang pria paruh baya sudah siap menyambut kedatangan saya dengan motor tuanya dan siap membelah kemacetan Kemang Raya.

Tiba di kantor tanpa merasakan sapaan prajurit air di kemeja rasanya luar biasa. Baru saja menjejakkan kaki di lobi utama, deras hujan kembali menyapa. Bersyukur karena tak perlu ada cemas kurasa. Skenario Tuhan untuk hari ini sungguh luar biasa. Jantung yang kebat kebit, bujuk rayu yang terlontar, hingga senyum yang terkembang membuat Jumat ini sedikit lebih berwarna menggantikan rasa kecewa.

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

Sore ini hujan. Aku masih saja berkutat dengan art paper di ruangan ini. Tidak sendiri. Tapi tetap saja rasaku sepi. Suara merdu Maynard, mengalun indah. Terlebih ‘forever’, lagu yang sangat kugandrungi, sama seperti si rocker melankolis.

Hujan masih belum berhenti. Ini sudah lagu ke dua puluh dua yang kuputar sejak tadi. Aku juga belum beranjak dari meja yang super berantakan ini sekadar untuk berbenah diri. Sebentar lagi waktunya pulang. Tapi hujan enggan juga berhenti sebentar.

Kalau sudah begini, aku memilih menarik jaket tebal di kursi belakang sambil menyesap cokelat hangat yang biasa jadi bekal kemanapun aku pergi. O ya, tak lupa moachi Gemini, buah tangan dari Semarang untuk sore kali ini.

Mungkin mereka yang melihatku akan mengira aku sibuk dengan pekerjaanku. Tenggelam dengan slide-slide presentasi yang entah untuk berapa kali harus jadi korban revisi. Padahal aku sibuk dengan lalu lintas di kepalaku yang entah kapan bisa berhenti  melemparkan wajahmu untuk terus kutelusuri.

Loving you forever
Utsukushiku kagayaku
I’ve got you, you’ve got me
Yorisotte
Sono hoshi no hate made
Doko made mo together
Yasashiku aoku

Aku menginginkan kamu. Untuk kesekian kalinya, pensil ini harus menorehkan namamu besar-besar yang seharusnya nama kenamaan yang kukarang. Bukan namamu.

Perlahan, tanganku meraih telepon genggam yang tergeletak lemah di sudut meja. Mengetikkan namamu dan menekan tombol hijau.  Namun segera kutekan tombol merah sebelum nada sambung terdengar dari seberang sana.

Tiba-tiba keringat deras mengucur dari jemariku. Mulutku meracau mengutuki diri dengan kebodohan yang nyaris kulakukan. Ku ketikkan kembali namamu.

Hai.. lagi apa? Basi. Hapus

Aku kangen. Umm..big no! Hapus.

Sudah mak.. Hapus.

Lama kutimang telepon genggam di tanganku. Hingga…

Jakarta hujan deras. Jangan kemana-mana ya.. .

Kirim.

Di hatiku saja lebih lama.

Simpan.

Jakarta, 23 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-11

(Lagi-lagi) Hujan

changing-season

Hujan datang, aku seperti di medan peperangan
dengan awan yang menyentakkan berjuta peluru air
menghantam kepala yang berisi kenangan dan memaksanya keluar tanpa pernah bisa berhenti

lagi-lagi aku limbung,
terjatuh dan akhirnya tenggelam
entah sampai kapan

—–

foto ini saya pinjam dari Bang Citra, blogger asal Aceh. hujan yang berhasil ia ‘tangkap’ membuat saya jatuh hati sejak kali pertama melihatnya. :’)

Menerima Keputusan

Aku tengah belajar ikhlas
menerima sebuah keputusan Tuhan
tersenyum, sudah kulakukan

Tuhan tak pernah diam, pun tidak bungkam
Ia pasti akan mengirimku pada sebuah cerita lain yang tak kalah seru
dan mungkin saat ini kamu bukan tujuanku

Aku ikhlas..
Kamu pasti akan kusinggahi lain waktu

hanya sebuah pemikiran yang tengah berloncatan di sore yang mendung dan penuh dengan serdadu air di luar sana.

Topan Semalam

Gemuruh terdengar rusuh di kejauhan,
pun kilat sambar menyambar tampak berdesakan.
Hembusan angin tak lagi sepoi dirasakan,
melainkan badai yang datang menerjang…
Tak ada kekuatan besar mencoba menghalang,
yang ada hanya ratap miris ketakutan
yang mencuat dari bibir tipis di sudut keremangan..
Mengharap Tuhan menghentikan sebentar amarahnya sebelum luluh lantak bumi ini dihardiknya.

setelah badai besar di Makassar semalam, 9 Januari 2013.

Perasaan Siang Ini

Aroma mi instan rasa soto masih kuat menguar di udara. Membelai perut-perut yang kelaparan tak bisa memamah biak apapun kecuali angin yang sejak tadi terhirup tanpa sadar. Hujan sejak pagi enggan berhenti sejenak saja membuat banyak orang malas untuk menggerakkan tubuhnya bahkan sekadar untuk mencari sesuatu yang bisa membuat penghuni lambung berhenti berdemo sementara waktu.

Kamu masih saja asyik mengunyah mi instan rasa soto di hadapanmu. Tak peduli pandangan sinis dia yang sejak tadi ingin meminta kuah mi instanmu sedikit saja. Kamu seperti tak peduli padanya. Menikmati mi instan rasa soto dalam duniamu saja.

Tiba-tiba…

“Kamu ngga tahu perasaanku saat ini sih,” katamu padanya ketika ia mencoba menarikmu dalam dunia nyata.

“Memang apa yang kamu rasakan?” akhirnya ia bertanya.

“Kamu tahu, betapa berharganya suapan terakhir dari setiap mangkuk mi instan, kan? It’s priceless! Dan aku mengacaukannya!”

Seolah tak mengerti akan racauanmu, ia kembali bertanya “maksudmu?”.

“Aku menggigit sesuatu. Dan itu rasanya pahit. Aku tak mau membayangkan apa itu,” mukamu pasi saat menjawabnya.

“Sepertinya aku telah menamatkan hidup seekor lalat siang ini. Lalat yang sejak tadi ingin nimbrung makan mi instan bersamaku sepertinya berhasil masuk bersama kuah mi instan tanpa kutahu,” penjelasanmu membuat ia terbahak-bahak hingga mulas rasanya.

“Haha..itu balasan setimpal untuk orang yang pelit hanya sekadar berbagi kuah mi instan!” tawanya membahana ke seluruh penjuru ruangan yang makin membuatmu keki dan menjadikan bibir tipismu makin manyun beberapa senti.

PS: cerita ini fakta adanya. nama pelaku tidak dicantumkan untuk menghindari hal-hal yang sangat diinginkan. Hihihi…