Jangan Tanam Terlalu Lama

Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu

Semalam saya gelisah. Tidak bisa tidur hingga pukul 2 dini hari. Lama sekali saya tidak pernah seperti ini. Ada banyak hal yang mampir dan iseng main-main di kepala saya. Berdialog dengan si kecil di kepala dan akhirnya memenuhi memori otak saya yang terbatas jumlahnya.

Ia memberikan banyak kekhawatiran dan rasa takut di kepala saya. Pada akhirnya membuat saya gelisah. Apakah ini ada kaitannya dengan informasi terbaru yang saya ketahui?

Ah, sial! Kenapa saya harus tahu kebenaran lebih dulu? Ada ketakutan yang-sialnya- memang mengahantui saya.

Tak ingin merasa gelisah dan takut sendiri, saya layangkan beberapa pesan singkat kepada dua orang sahabat saya. Saya tidak mengharapkan sebuah jawaban dari mereka. Saya tahu ini bukan jam wajar untuk berkirim pesan. Tapi setidaknya saya sedikit lega saat menuliskan pesan itu, yang entah kapan akan dibaca.

Bip bip

Sebuah pesan masuk. Pesan saya terjawab segera. Ah, senang betul saya membaca pesannya. Untung saja ia belum pergi jauh ke alam mimpi, kalau tidak tentu sangat susah untuknya dibangunkan.

Tapi saya rasa dia tengah kesambet. Jawaban yang tertulis sangatlah bijak, bukan karakternya sekali! Dia selalu saja meledek saya jarang berbalut kebijaksanaan meski saya tahu ada makna dibalik gurauannya.

Kekhawatiran memang wajar, tapi jangan dibuat berlebihan. Itu katanya. Hidup manusia berputar dan ketakutan jangan pernah bertahan lama di dalam kepala. Karena ia akan hidup dan nyata selama kita pikirkan.

“Macam kamu yang nggak pernah takut pulang malam, baik dari orang jahat ataupun hantu. Karena takutmu itu nggak pernah hinggap lama di kepala. Lantas kenapa ketakutan yang lain tidak dibuat sama dengan takutmu yang satu itu?” itu ujarnya pada saya.

Shit!

Dia benar! Saya tak pernah takut pulang malam, naik angkot kemana saja, orang jahat, jalan sendirian, hantu atau apapun. Karena saya tidak pernah menanamkan rasa takut itu di kepala lama-lama. Sebentar saja, lalu semuanya baik-baik saja.

Ya.. semuanya akan baik-baik saja. All is well!

 

*tulisan ini sudah ada di kotak draft sejak 22 Mei 2013 lalu, tapi tidak pernah sempat dipublish di sini*

Try To Be Healthy!

Ingin sehat? Gak cuma olah raga saja yang diutamakan, tapi gaya hidup sehari-hari dan juga asupan makanan setiap harinya mesti diubah. Gampang? Siapa bilang?! Susah? Tergantung dari niatnya juga. Mau sehat atau mau ngabisin duit berjuta-juta di bangsal rumah sakit di usia senja?

Hal ini yang bikin saya mulai mengubah pola hidup (meski belum benar-benar berubah juga sih). Hal pertama yang saya lakukan adalah berhenti bekerja. Loh, kok malah berhenti bekerja? Tenang-tenang! Pekerjaan yang saya tekuni setahun lalu adalah wartawan kuliner, dimana setiap harinya saya selalu makan enak! Haha..biarin dibilang sombong :p *digetok*

Dulu, makan enak itu memang agenda wajib. Belum lagi undangan-undangan dari klien, hotel, resto, atau mungkin liputan pribadi demi memenuhi kebutuhan konten. Idealnya, setelah seharian makan BESAR (after 12 resto in a row you still say it isn’t a big meal? Hell yeah!) ada jeda satu-dua hari untuk ‘mengistirahatkan’ lambung dan badan atau bahkan melakukan detox, pijat-pijat, atau perawatan SPA (dua yang terakhir hanya impian, puff!) tapi pada kenyataannya mulut ini ‘dilarang’ untuk berhenti bergoyang.

Pagi icip-icip menu baru hasil kreasi ibu bos, siang diajak makan siang di hotel, dan malam undangan dari hotel lainnya. Sehari-dua hari sih bahagia! Tapi kalau setiap hari begitu terus agak capek juga. Mungkin capek fisik tidak terlalu, tapi lambung ini kayak menjerit minta berhenti sebentaaaarrr ajah.. Daaaaan, keputusan pun saya ambil. Resign dengan cantiknya. *pakai blush on

*hadeuuh, mulai ngelantur lagi. Lanjut!*

Jadi, setelah vakum dari dunia makan enak saya mulai merasakan adanya masalah pada tubuh ini (sebenarnya sih sudah dari tahun kemarin juga sih). Saya akui sekali kalau saya kurang berolah raga. Bersepeda hanya saya lakukan di akhir pekan saja, selebihnya tidak ada gerakan-gerakan tubuh. (umm.. ngejar metro dan kopaja diitung olah raga ngga ya? #abaikan)

Belakangan saya tahu kalau saya bermasalah dengan pencernaan. Masalah standar, susah BAB. Spele kelihatannya, tapi imbasnya GEDE banget! Proses metabolisme tubuh saya juga tidak seperti kebanyakan orang, cenderung lambat. Jadi, saya harus menyiasatinya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah, mengubah pola makan. Saya tidak bilang melakukan diet ketat atau bahkan berhenti mengkonsumsi makanan tertentu. Tidak. Saya tetap makan seperti biasanya, tetap doyan kulineran seperti dulu, hanya saja lebih MANUSIAWI kali ini. Hihihi….

Setiap pagi, setelah bangun tidur dan melakukan sit up alakadarnya (karena biasanya mata saya masih setengah merem) air putih segelas besar habis saya tenggak atau saya langsung meminum segelas besar mix jus; pepaya, tomat, dan wortel yang di blender kasar tanpa menggunakan gula ataupun madu. Kenapa diblender kasar? Ini cara saya mendapatkan asupan serat yang jarang sekali saya dapatkan kalau di kantor. Selain itu, bisa bikin saya kenyang juga.

Soal rasa, tentunya jus ini enak sekali. Bukan promosi, tapi beneran enak. Saya orang yang tidak terlalu suka dengan pepaya kecuali di jus. Tapi aromanya bikin saya eneg, dan tomat menghilangkan aroma papaya itu. Sedangkan wortel untuk membantu proses pengurangan minus mata. Pernah mencoba paduan lainnya, dengan apel atau dengan jeruk. Ternyata saya kurang cocok. Jeruk bikin lambung saya perih sedangkan apel, tekstur nya sedikit pesak. Kalau untuk jus sayuran, saya pernah mencoba brokoli dicampur dengan seledri, nanas dan jeruk. Tapi lagi-lagi, lambung saya bermasalah. Yang ada gas lambung malah naik meskipun rasanya cukup enak.

Selain jus buah, saya tetap sarapan. Biasanya dilakukan setelah sampai kantor atau sebelum berangkat kerja. Kalau sudah sarapan, dijamin di jam-jam ‘berbahaya’ ngga bakalan ngantuk! (ini serius lho! Sudah ada risetnya juga)

Siang, saya makan seperti biasanya. Saya bukan pemakan nasi tapi juga bukan pembenci. Biasanya saya lebih memilih beras olahan, maksudnya tidak dimasak dalam bentuk  nasi tapi lebih pada lontong atau ketupat. Berusaha sekuat tenaga mendampinginya dengan sayuran, meskipun si penjual biasanya PELIT banget kasih sayur banyak. Kalaupun tidak makan nasi, saya makan mi (iya, mi itu makanan favorit banget).

Dan kalau sudah malam, biasanya saya jarang makan malam karena malas (tolong yang ini jangan ditiru). Saya memilih makan buah atau minum susu/yoghurt. Alasan pertama, biar bisa tidur lebih cepat. Kalaupun lapar, di rumah, Ibu saya biasa menyimpan pisang kepok kuning atau pisang susu kesukaan saya. Jadi si lambung aman dari  kelaparan tengah malam. Hahaha…

O ya, saya juga tidak mengkonsumsi susu sapi bubuk karena sedikit alergi. Terbukti beberapa kali sukses jadi fans toilet (baca: diare). Jadi, Ibu saya dengan baik hatinya membuatkan susu kedelai yang biasanya dicampur dengan jahe dan daun serai yang bikin rasanya makin yummy! (How grateful I am for all things you’ve done mom! I Love you!)

Dan terakhir, pola istirahat. Syukur Alhamdulillah, saat ini saya sudah bukan lagi menjadi penghuni dini hari. Meskipun saya masih tidur jam 11 atau 12 malam tapi setidaknya sudah maju dua jam dari biasanya. *senyum bangga*

Meskipun masih JAUH sekali dari yang namanya gaya hidup sehat, tapi saya sedang berusaha menuju kesana. Peer yang masih harus saya penuhi adalah olah raga teratur, berenang, dan mengurangi cabai. *doakan saya ya!* *menatap langit penuh keyakinan*

Selama niat masih bertengger dengan kuatnya, saya masih tetap yakin kualitas hidup bisa lebih baik. Amiin, pemirsa? AllahummaAmiin….

mix jus rebutan sama si teddy :p

PS: untuk buat jus buah seperti saya, pastikan papaya yang digunakan adalah papaya masak pohon.  Agar manisnya pas sehingga tidak perlu menambahkan gula atau madu. Sedangkan tomat, baiknya memakai tomat merah. Jangan tomat hijau karena jenis itu biasanya digunakan untuk bikin asem-asem daeging :p hehe….

Foto diambil disini.