Namaku Hujan

hujan

Perkenalkan, namaku Hujan. Di kemarau aku dirindukan. Di berbagai daerah aku dinantikan. Namun tidak di Jakarta. Saat kumenari, umpatan kudapatkan, makian dan hinaan dilontarkan, hanya karena lalu lintas yang lumpuh total. Lantas aku harus bagaimana? Kepada siapa lagi aku menuju ketika harap tak jua tersampaikan…

*otak saya kembali random saat terguyur hujan pagi tadi. foto pinjam di sini

Advertisements

Demi Eriek di Ultah Jakarta

Sabtu siang ini terlalu terik. Gumpalan putih yang biasanya berarak-arak ramai sedang absen bertugas mengganggu matahari. Alhasil, matahari agaknya jumawa. Pamer terik yang sepertinya diobral lebih dari separuh harga. Yang ada, peluh langsung kocar kacir, berlarian, seperti maling kesiangan.

Riuh rendah suara gerombolan mahasiswi membuat saya tersenyum simpul, ingat jaman kejayaan masa muda. Jaman dimana uang lima ribu bisa dapat nasi, ayam bakar plus kuah rendang yang enaknya bikin ketagihan. Belum lagi sekumpulan ibu-ibu bersama dengan anak-anak mereka yang berlarian ke sana kemari tak tentu arah. Dikira stasiun kereta lapangan bermain yang tak pernah mereka kenal semasa balita.

Ya, saya sedang berada di stasiun kereta Universitas Indonesia. Siang itu stasiun tampak tak biasa. Ramainya mengular entah sampai mana. Mereka semua punya satu tujuan yang sama, Jakarta. Saya hampir lupa, kalau ini adalah hari jadi Ibukota. Ah, selamat ulang tahun Jakarta! Tapi maaf, saat ini saya tengah menujumu bukan untuk merayakan hari jadimu.

Kereta datang, saya bergegas untuk menyebrang ke arah yang seharusnya. Saat menjejakkan kaki di lajur dua, saya tidak mendapati Mpit, kawan saya. Saya bingung mencari dia. Saya pasang mata lebih tajam mencoba mencari sosok mungil yang saya kenal. Sayangnya tak saya temukan.

“Nonaaa!”

Suara ini saya kenal betul. Saya menoleh ke arah sumber suara dari dalam kereta. Tepat ketika saya menangkap  senyum yang saya kenal sejak beberapa tahun terakhir, pintu kereta tertutup dengan suksesnya. Mpit, si pemilik senyum itu hanya melambaikan tangan. Ah, saya merasa bodoh sekali!

“Ketemu kamu kok kaya ketemu jodoh. Selalu selisipan sih?!”

Gurau Mpit melalui pesan singkat yang ia layangkan baru saja. Saya tersenyum getir. Beruntung, kereta selanjutnya datang tak berapa lama. Walhasil, saya ngobrol bareng Mpit melalui jendela chat seperti biasa. Kok ya nggak ada perubahan! Haha…

Stasiun Cawang. Persinggahan pertama saya.

Saya dan Mpit (setelah menertawakan kebodohan kami berdua) melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta. Menyusuri pinggiran rel di Cawang membuat hati saya nggak keruan rasanya. Pasalnya, jarak saya dengan rel terlampau dekat. Ngeri saat saya membayangkan terpaan angin saat kereta lewat akan menyambar saya seketika. Wuush!

Tapi pikiran itu saya usir segera. Pedagang kaki lima berjajar, berhimpitan dengan manusia yang lalu lalang di depannya. Saya yakin, mereka berdagang tidak hanya hari itu saja, melainkan berhari-hari sebelumnya. Buktinya mereka aman-aman saja. Jadi, kenapa saya harus khawatir?

Shelter Cawang siang itu tampak ramai. Terlalu ramai malah. Imbas dari gratisnya tiket TransJakarta membuat orang berbondong-bondong, jalan-jalan menggunakan alat transportasi umum ini. Tak salah memang. Tapi akhirnya penumpukan penumpang terlihat hampir di semua shelter yang ada di Jakarta. Jumlah armada yang beroperasi tak sebanding dengan tingginya minat pengguna hari itu. Hufff…

Hawa Jakarta semakin memanas. Aroma yang tercium lamat-lamat bukan lagi parfum harum, tapi sudah berbaur dengan aroma lain, tengik rambut yang terbakar matahari, asem ketiak yang membuat saya nyaris pingsan tidak tahan. Segerombolan pemuda, mungkin sekitar 14-17 tahun usianya, berbicara dalam volume suara macam di gedung pertunjukkan saja. Berisik!

Belum lagi perempuan berambut panjang di sebelah saya yang sedikit-sedikit mengibaskan rambutnya. Sekali kibas mata saya langsung kecolok! Lain lagi dengan wanita separuh baya, berkaca mata dan tampak serius dengan buku yang dipegangnya. Tak sekalipun ia berniat untuk menghentikan kegiatan membacanya, padahal bis sangat sesak ditambah ritme rem TransJakarta yang bisa bikin otot lengan langsung kekar karena menahan beban tubuh supaya tidak terjungkal. Namun sayang, saya tak berhasil menangkap judul buku yang dibacanya.

TransJakarta nampak di kejauhan. Fatamorgana di jalan mengaburkan bayangan bis besar berwarna merah-oranye terang. Decit ban hitam yang beradu dengan aspal terdengar seirama dengan langkah tergesa kaki pengunjung di koridor 10. Penumpang yang ada di dalam TransJakarta menghambur keluar, pun yang ingin masuk berdesakan takut ketinggalan.

Saya masih berdiri di antrian. Tidak berniat beranjak, pun percuma karena penampakan TransJakarta lebih mirip kaleng sarden ketimbang bis kota. Sesaknya kebangetan!

Kini saya berada di deretan paling depan. Orang-orang di belakang saya masih umpel-umpelan mencoba menjajari barisan depan. Saya mencoba pasang kuda-kuda lebih kuat sekarang. Tak mau jatuh konyol hanya karena ulah orang-orang tak tahu aturan yang asyik dorong-dorongan.

Sebuah sedan putih susu melintas di depan saya. Di sampingnya sedan Polisi mengawal sangat rapat sambil mengeluarkan suara lewat pengeras suara. Si sedan melanggar aturan! Ia masuk ke jalur TransJakarta seenaknya saja. Pak Polisi berbadan tegap segera menghampir dan meminta si pengendara mengeluarkan tanda pengenalnya. Agak lama proses engkel-engkelan  terjadi. Mungkin si pengendara meminta jalan damai, terlanjur malu dia tertangkap tangan di depan orang-orang. Tapi sepertinya si Polisi tak memenuhi permintaannya. Ia tampak kesal. Mukanya kian ditekuk. Dinaikkannya kaca jendela dan gas ditancap dengan kencangnya. Pak Polisi menggeleng-geleng melihatnya.

Pada akhirnya, ‘Money can buy brand but not brain’. Saya dan Mpit hanya saling tatap dan senyum-senyum saja.

TransJakarta selanjutnya datang. Tidak banyak perbedaan dengan yang sebelumnya. Masih penuh sesak! Saya tak bisa lagi menghindar. Mengikuti arus hanya pilihan satu-satunya. Di dalam, sudah tak ada lagi perbedaan mana area wanita mana area pria. Semua tumplek blek jadi satu. Saling dorong, saling himpit, muka sinis, jidat berkerut jadi pemandangan umum sekarang. Saya? Hanya bisa tersenyum sambil membatin “Demi Eriek!”.

Mpit nyolek saya kemudian. “Demi mas Eriek nih ya Non..” Haha..ternyata kami satu pikiran. Ya, memang perjalanan ini kami sengaja lakukan untuk menemui sahabat kami yang sedang pulang ke Indonesia, Eriek. Awal tahun kemarin, saya tak sempat bertemu dengannya.

Siapa sangka kalau ternyata ultah Jakarta tahun ini begitu luar biasa imbasnya. Pemilihan kami di Jakarta barat bukan tanpa alasan. Jalan protokol, Sudirman hingga Thamrin ditutup sejak puluk 4 sore hingga acara usai. Tak ayal, pusat perbelanjaan dan hang out di sekitarnya pun tutup lebih awal demi merayakan ultah Jakarta yang katanya lebih merakyat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sampai di shelter Semanggi, penumpang sudah berkurang setengahnya. Ternyata benar dugaan saya, semua orang memang ingin menuju satu tujuan yang sama. Lagi-lagi saya dan Mpit hanya saling tatap dan tertawa cekikikan.

Wah.. Jakarta memang betul-betul butuh hiburan! Penat mereka dihajar rutinitas yang itu-itu saja apalagi ditambah problematika yang rasanya lebih drama dari sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri. Tak heran ketika ada sebuah perhelatan besar di pusat kota, semoa orang dari penjuru Jakarta bahkan daerah penunjang di sekitarnya ikut larut dalam keriaan. Mencoba mencuil sedikit saja bahagia yang coba ditawarkan Jakarta.

Ternyata, keramaian ini berlangsung hingga larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika saya keluar dari pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Kami; saya, Mpit, dan juga Pinkih memilih pulang menggunakan kereta. Lebih cepat alasan utama kami, dan lebih aman ketimbang kami, perempuan-perempuan manis ini harus berjuang di dalam bis kota, yang entah apakah masih beroperasi atau tidak.

Taksi jadi alternatif transportasi ketika yang lain sudah tidak bisa diharapkan. Kenapa? Jalanan menuju Depok amat panjang dan tentunya akan berbarengan dengan orang-orang yang akan pulang setelah lelah merayakan pesta rakyat. Macet tentu saya hindarkan sebisanya.

Benar saja dugaan saya. Jalan menuju stasiun kereta terdekat padat bukan main. Padahal jarak tempuh normal hanya 10 menit, tapi malam itu saya habiskan nyaris satu jam. Damn! Tutupnya beberapa ruas jalan memang menjadikan jalan yang saya pakai lebih mirip dengan parkiran ketimbang jalan raya. Tua muda tumpah ruah di jalan. Meniupkan terompet bernyanyi riang serta bersenda gurau. Saya sempat rancu, ini seperti bukan perayaan ulang tahun Jakarta saja, tapi lebih mirip malam tahun baru. Hehehe…

Tiba di Stasiun Juanda. Saya bergegas menuju lantai dua untuk membeli tiket commuter line selanjutnya. Commuter Line sebelumnya sudah bergerak meninggalkan stasiun Juanda ketika saya masih asyik di antrian lampu merah Harmoni.

Pukul 22.45 saya berdiri di depan loket. Satu stasiun lagi commuter line saya tiba. Deg-degan bukan main rasanya. Ssaya harus membeli tiket lekas-lekas dan bergegas berlari dengan cepat. Ah, moga-moga saja masih sempat. Tapi sayang, keberuntungan bukan dipihak saya. Beberapa orang tiba-tiba memotong antrian tepat di depan saya. Saya yang sudah dihajar lelah sejak sore mau tidak mau harus menegurnya.

Untung saja, orang ini mau mendengar dan berdiri mengikuti antrian. Tapi ternyata dia bukan satu-satunya. Ada segerombolan anak muda, serta ibu-ibu bersama dengan balitanya yang terlihat lelah teramat sangat, langsung menyodorkan uang persis di loket. Oh Tuhan!

Saya kembali menegur. Tapi sayang, ia tidak terima begitu saja, justru malah mengajak saya berdebat panjang. Berdalih mengejar commuter line yang sedang menuju stasiun Juanda. Heeeeyyy.. bukan hanya anda yang sedang diburu waktu. Tapi semua orang yang ada di antrian ini! Kali ini si Ibu yang angkat bicara, anaknya terlalu lelah jadi harus segera pulang, itu dalihnya.

Kali ini saya bicara agak tinggi (Oh Tuhan, maafkan saya yang terpancing emosi), “Kalau ibu tidak mau melihat anak Ibu kelelahan seperti ini, seharusnya Ibu sudah pulang sejak tadi. Lagipula ini bukan jam yang lazim masih mengajak anak keliaran di jalan, Bu.” Kali ini, suami istri itu diam. Mereka bersama dengan gerombolan anak muda yang langsung memilih tutup mulut mundur perlahan. Mpit mengamini omongan saya. Enggan sebenarnya jika saya harus beradu argumen dengan orang di tempat umum.

Debat kecil membuat kami terlambat mendapatkan commuter line pukul 22.50. Pilihan lainnya, kami harus menunggu hingga jam 12 malam. Itu kereta terakhir yang berangkat dari stasiun kota. Dan saat ini posisinya masih ada di stasiun Depok. Oh, my!

Tapi, kami tidak putus akal. Kami tetap menikmati malam itu dengan suka cita. Melihat gelagat masyarakat urban yang tengah bergembira, ya seperti kami ini. Semua gadget milik kami sudah terkikis baterainya sejak sejam lalu.

Stasiun ramainya mirip pasar kaget. Anak-anak kecil berlari-larian, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Yang muda bercerita sambil bersenda gurau sambil asyik nggebet gerombolan lainnya. Tidak sedikit yang menggelar tikar yang mereka bawa hanya untuk sekadar meluruskan kaki yang pegal setelah jalan sepanjang malam atau menidurkan bayi-bayi mereka. Ya, bayi. Tubuh kecil mereka sudah harus dibiasakan dengan udara malam serta pengapnya stasiun. Ck! Harusnya kalian sudah tidur pulas di ayunan, Nak.

Puncak malam itu ditutup dengan letupan kembang api yang bersahutan dekat Monumen Nasional. Liuk lampu warna warni menambah hangat suasana malam itu.

“Kembang apinya cantik, suasanya romantis, tapi kok ya aku harus nikmatinnya bareng kalian lagi..kalian lagi..”

Celetuk Mpit kontan membuat saya terbahak-bahak dibarengi jitakan halus Pinkih yang mendarat sempurna di jidatnya. Ya ya ya.. mungkin memang belum waktunya kamu menikmati kembang api bareng dia ya Mpit. Hihihi..

“Ah, aku sih masih tetep mau nikmatin sarsaparila dingin di Kaliurang. Ndak cuma wedang ronde alkid bareng kamu, Non,” seloroh Pinkih yang membuat saya mengulum senyum.

Ya, kedua kawan saya ini memang punya mimpi sederhana tentang menikmati malam romantis. Entah dimana atau dengan siapa. Kalau saya masih tetap sama. Menikmati purnama di tempat tinggi sambil menyesap secangkir kopi. Pun kalau tidak, saya masih tetap senang meneguk sarsaparila dingin di Jogja seperti mimpi Pinkih yang pernah kami cetuskan bersama.

Tapi, sebelum semua itu terjadi, kami bertiga tetap senang menikmati kembang api sederhana yang membawa senyum bahagia tersungging dari wajah-wajah lelah yang duduk manis di stasiun Juanda. Bahagia menikmatinya meski bukan dengan orang terkasih, melainkan kawan baik berbagi penat pikiran.

 

Commuter Line menuju Depok, 23 Juni 2013
*Mpit dan Pinkih sudah ngacir ke alam mimpi di kiri kanan saya.

MARAH

MARAH. Itu yang saya rasakan pagi ini. Ketika ada yang berjalan tidak pada aturannya. Ketika hak-hak menjadi terpinggirkan karena ego yang terlalu dimanjakan pemiliknya.

Ada kecewa yang menggunung tak tertampung, hingga nyaris meledak tak tentu arah. Atau jangan-jangan marah saya sudah meledak? Entahlah. Saya tak tahu dengan pasti.

Kini, yang saya coba pahami adalah bagaimana cara meredamnya. Mengikhlaskan, berdialog kembali dengan hati, atau mencoba untuk mengerti. Meski saya tahu pasti amarah saya ini untuk sesuatu yang benar untuk diperjuangkan.

Masih Tentang Russel

Pagi ini datang terlampau cepat. Aku yang semalaman tak bisa tidur karena memeriksa tugas anak kelas enam terpaksa mengambil jatah tidur malam. Dua gelas kopi hitam ternyata tak membuat mata ini berkompromi untuk tetap terjaga. Aroma teh chamomile milik Rendra- guru olah raga- menggelitik penciumanku untuk menyesapnya juga.

Untung saja pagi ini tidak ada kelas, kalau tidak entah bagaimana rupaku saat memasuki kelas nantinya. Aku masih ingat betul dua bulan lalu, ketika aku kekurangan tidur karena harus mengawal pementasan anak kelas 12 di GKJ. Tiba di rumah pukul 2 dini hari dan pagi hari aku harus mengajar anak kelas 1.

Sepagian mereka menyecarku dengan pertanyaan “Miss Tya matanya kenapa?” atau “Miss Tya are you okey? Are you galau miss?” yeah.. kata ‘galau’ sepertinya sudah merasuki murid-murid kecilku ini. Entah apakah mereka benar-benar tahu artinya atau hanya mengikuti tren di kalangan senior mereka di lingkungan sekolah.

Pertanyaan mereka tak kan berhenti sampai disitu saja. Mereka akan terus mencari tahu ada apa denganku dan mereka juga mencari tahu bagaimana membuat wajahku kembali ceria seperti semula.

Ada yang membelikan aku es krim, memberikan bekal makan siangnya, atau ada yang memberikanku apel dan cokelat. Bahkan, Terry, meminjamiku iguanannya yang tidak pernah absen masuk kelas. Rrrr.. aku memilih tersenyum selebar-lebarnya daripada harus mengelus-elus iguana miliknya sepanjang pelajaran.

Tapi terlepas dari semua itu, aku terharu dengan sikap mereka. Mereka begitu peduli dengan sekitarnya, dengan kawannya, dengan gurunya. Ah, semoga saja orang tua dan lingkungan tidak akan mengikis kepedulian mereka nantinya.

Karena pagi ini tidak ada kelas, aku memilih untuk menuju perpustakaan untuk mencari referensi materi mengajar, atau menikmati secangkir teh chamomile di belakang gedung perpus.

Untuk mencapai perpustakaan, aku harus melintasi dua lapangan basket yang luasnya lumayan untuk olah raga. Lapangan yang satu sedang digunakan anak-anak kelas empat untuk bermain basket sedangkan lapangan satunya dipersiapkan untuk anak kelas satu berolah raga.

Paling seru melihat anak-anak kelas satu ini berolah raga. Gayanya selalu ada saja yang bisa bikin perut sakit karena tertawa. Atau terbengong-bengong takjub karena sikap mereka yang kadang tak terpikirkan oleh nalar orang dewasa.

Sampai akhirnya, mataku menangkap sosok yang sangat akrab denganku.

“Russel,” gumamku.

Mengapa anak itu tak ikut kelas olah raga? Lalu apa yang ia lakukan di pinggir lapangan. Otakku berdialog sendiri, menerka-nerka apa yang dilakukan Russel kali ini. Apakah ia mulai berulah lagi? Ah, nanti saja aku tanyakan langsung padanya.

***

Pukul sepuluh, aku mulai mengajar di kelas satu. Suasana ramai terdengar dari ujung kelas. Teriakan Sean melengking seperti biasa. Kalau tidak Terry yang jail bersama iguananya, pastilah Russel yang mengganggunya. Selain itu, masih ada suara tawa Donny yang mirip-mirip Takeshi alias Giant di serial Doraemon. Ya, kelasku ini memang super bukan main! Super ramai, berisik, nakal, tapi sekaligus ngangenin.

Kalau mengajar di kelas ini, tidak hanya mempersiapkan materi pelajaran saja, tapi juga fisik dan mental yang berkali-kali lipat jumlahnya. Meskipun begitu, akan selalu ada serum bahagia yang terisi di pundi-pundi hati saat aku keluar dari kelas. Sederhana.

Saat aku memasuki kelas, anak-anak langsung berhamburan kembali ke bangkunya masing-masing. Remi, seorang bocah berperawakan mungil, berkacamat tebal, langsung berlari menujuku sambil menghamburkan pelukan setiap kali aku memasuki kelas. Berkali-kali aku memintanya untuk tidak melakukan hal itu kecuali jika pelajaran telah usai. Tapi ia enggan menuruti perintahku. Ini sudah seperti tradisi di keluarganya untuk memulai apapun dengan sebuah pelukan hangat. Pada akhirnya, aku berkompromi dengan itu.

Pelajaran berlangsung tanpa terasa. Kini saatnya mempersiapkan mereka untuk pulang dan sedikit memberikan ‘oleh-oleh’ untuk disantap di rumah.

Semua anak-anak berpamitan padaku. Jangan pernah bayangkan  akan ada adegan cium tangan saat pulang sekolah. Sepertinya tradisi itu hanya ada di sekolah negeri jaman aku bersekolah dulu. Sejak awal aku bergabung di sekolah ini, tidak ada kebiasaan itu. Tapi, ada beberapa anak yang selalu memberikanku pelukan serta kecupan saat pulang sekolah. Ah, hangat rasanya!

Selain Russel yang kuminta untuk tinggal di kelas, anak-anak lain sudah berpamitan. Russel tampak bingung ketika kuminta ia untuk tinggal di kelas sebentar saja. Raut wajah protes ia tampilkan seolah menolak permintaanku, tapi kuyakinkan ia ini hanya sebentar saja.

“Russel, tadi pagi kamu kenapa nggak ikut pelajaran olah raga?” tanyaku langsung padanya.

“Umm..aku..aku ikut kok Miss.”

“Hayoo, jangan bohong. Tadi pagi Miss lihat kamu duduk di pinggir lapangan sambil minum teh botol,” ujarku lagi.

“Nggak, Miss,” kilahnya.

“Kamu tahu kan, Miss Tya nggak suka kalau murid-murid Miss Tya bohong? Nah, kamu harus jawab jujur Russel,” jelasku lagi.

“Bener Miss, aku nggak bohong,” jawabnya berusaha meyakinkanku lagi.

“Lha terus, kalau bukan kamu siapa dong yang minum teh botol di pinggir lapangan? Miss Tya lihat kamu lho, Mr.  Rendra juga,”

“Iiihh..Miss Tya nggak percayaan banget sih?! Aku nggak minum teh botol! Aku minum estea tadi pagi,” penjelasannya kali ini dibarengi dengan wajah serius dan nada yang meninggi. Sedangkan aku, berusaha menahan tawa sekuat tenaga.

Oh Tuhan, Russelku ini bukannya meyakinkan aku kalau dia ikut olah raga, tapi meyakinkan aku kalau yang dia minum itu bukan teh botol seperti yang kutuduhkan padanya, melainkan estea. Hahaha…

Kemang, 29 April 2013

Yang Mencoba Membunuhku Perlahan

Sore yang hangat, meski di luar hujan sedang mendekat. Tak banyak hal yang kulakukan selain merapatkan jaket tebal (duduk dekat ruang server bisa melatihmu hidup di Eskimo nantinya) dan memasang kaos kaki rajutan untuk mengahalau dingin.

Obrolan dengan seorang kawan di ujung Timur Pulau Jawa sore kemarin sukses membawa imajinasiku melanglang buana entah kemana. Pertanyaan kenapa aku menyukai senja sepertinya terjawab sudah olehnya tanpa perlu kujelaskan secara tertulis. Tapi sialnya, ia mulai membunuhku pelan-pelan.

Ya, ia membunuhku dengan cara sederhana. Mengirimkan rekam senja yang tertangkap dari lensa kameranya. Sial! Nafas seperti tertahan, lidahku kelu, mataku terbelalak berbinar mencoba membayangkan aku sedang berada di sana. Di tempat-tempat yang ia kirimkan untukkku.

Hah! Ia tertawa puas! Kurang ajar betul, tahu saja aku tak akan rela melewatkan senja di kota lain selain Jakarta. Puncaknya, ia mengirmkanku senja di Wamena. Untuk yang satu ini, aku tidak terima. Menikmati senja di Papua adalah mimpiku yang lainnya, berharap bersama Tuan (?) yang entah sedang ada di mana.

Dan inilah beberapa senja yang ia kirimkan. Kuharap bukan hanya aku saja yang sedang dibunuhnya pelan-pelan. Selamat kehilangan nafasmu, kawan! (Note: beberapa gambar hasil jepretan kamera ponselku).

Kemang, 5 Maret 2013

Perjalanan Pagi Ini

Matahari pagi ini sedikit malu-malu menunaikan tugasnya. Mungkin ia terlalu asik membenamkan diri di peraduan karena dibuai oleh awan-awan kelabu nan gendut di atas sana. Aku memandang langit sekilas, tak menyilaukan. Aku tak perlu memicingkan mata untuk bisa menatap langit pagi ini. Dan aku tak perlu pusing memikirkan bagaimana melindungi punggung kakiku agar tidak terpanggang saat menunggu kopaja tua di ujung jalan. Kamu tahu? Lamanya serupa dijajah Belanda 350 tahun. Ya, kurasa selama itu rasanya. Dimana harap-harap cemas biasa menggayut manja.

Sebelum kulanjutkan perjalanan menggunakan kopaja, aku menggunakan angkot biru tua yang biasa menyambutku di mulut gang rumahku. Ada beda di perjalanan kali ini, aku tak mengisinya dengan tidur. Aku memilih mengedarkan pandanganku ke jalan raya yang pagi ini cukup bersahabat dengan lalu lintas hatiku. Tidak padat, tapi juga tidak lengang.

Ada aroma tanah basah yang tercium lamat-lamat oleh hidungku melalui celah jendela yang terbuka sedikit saja. Apakah pagi tadi hujan? Hmm..kurasa tidak. Ada aroma segar yang mengisi peparuku dengan cukup baik. Memberikan asupan rasa dalam kepala yang kini tengah kuolah agar tertuang dalam aksara tapi entah bagaimana menyebutnya.

Kuhirup lagi dalam-dalam aroma ini. Uhuuk! Ada bau polutan jahat yang sengaja ingin merusak pagiku. Segera kurapatkan celah jendela untuk sementara. Aku tak akan membiarkan ia masuk dalam paru-paruku dan menciutkan usaha peparu dalam menarik oksigen di udara. Tidak akan!

Mataku tertumbuk pada ruas-ruas jalan yang kini tampak berbeda. Daun-daun berserakan di sisi kiri jalan. Bukan daun kuning yang gugur karena pohon-pohon ini mulai meranggas di musim kemarau. Tapi daun ini memang sengaja dipangkas entah oleh siapa. Potongan balok-balok kayu tergolek tak berjauhan dari tumpukan sampah daun hijau di ruas kiri jalan.

Ada sedih yang tak bisa aku ungkapkan bagaimana rasanya. Pohon-pohon angsana rindang di sepanjang jalan raya Bogor kini mulai menghilang perlahan. Awalnya hanya dahan-dahan, tapi kini sudah dibabat habis hingga batang utamanya.

Mungkin ini memperhitungkan faktor keselamatan pengguna jalan raya. Aku masih ingat betul bagaimana salah satu pohon ini tumbang dan akhirnya menimpa salah satu mobil yang sedang melaju di jalan raya. Mobil yang berada tepat di depan angkutan yang sedang kugunakan.

Lantas bagaimana dengan konsep lahan hijau yang ingin diciptakan kalau semua pohon-pohon ini harus dipangkas habis? Bagaimana nasib peparu yang masih merindukan oksigen di udara? Jika setiap pagi saja sudah harus mencium polutan yang berterbangan dengan bebasnya. Bahkan merpati saja kini tak lagi terbang bebas, tak seperti lagu yang dibawakan Kahitna.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menikmati setiap oksigen yang mengisi peparu perlahan, meskipun ada saja orang yang merusak pagi dengan mengepulkan asap tembakau seenaknya. Tidakkah mereka pernah merasakan indahnya pagi tanpa harus memulainya dengan sebatang tembakau yang terhisap dalam-dalam di bibir kehitaman? Ah, aku terlalu nyinyir pagi ini.

Kopaja tua sudah terlihat di ujung jalan sana. Aku harus bersiap untuk turun. Menghentikan lamunan serta obrolan di kepala segera, jika tidak ingin tertinggal laju kopaja. Ya, pagiku tak seindah yang kulamunkan baru saja. Aku masih harus menjadi monyet kopaja untuk waktu yang entah berapa lama.

 

Pagi Semestaaa.. 🙂

Jakarta, 14 Februari 2013

Tak Akan Lama. Janji!

Memulai hari dengan sebuah air mata rasanya itu akan mengacaukan mood satu harian. Entah untuk orang lain, tapi buat saya Senin pagi ditambah air mata menghasilkan jenuh sejadinya, mellow se-mellow-mellownya, dan semua yang kelabu ‘mampir’ seenaknya.

Saya nggak pernah tahu ada apa dengan saya hari ini. Pagi tadi saya mendapat telepon dari seseorang yang belakangan memang mengisi hidup saya. Nothing special. But I know my morning will be fine after his call. Berangkat kerja lebih pagi dari biasanya mencoba menghindari macet di Senin yang luar biasa.

Tiba di tempat kopaja tua biasa menyandarkan tubuh ringkihnya. Tidak ada satupun kopaja mangkal di sana. Saya memilih untuk naik kowanbisata, dengan resiko ongkos saya lebih mahal dari yang seharusnya (selain ojek yang saya harus hitung lebih jauh jaraknya).

Bis kowanbisata sudah terlalu penuh. Untunglah saya masih bisa berdiri dengan baik di ambang pintu. Sampai sini, saya masih baik-baik saja. Ada seorang pria berbadan sedikit tambun langsung menjejakkan kakinya di ambang pintu, mendesak saya hingga terhimpit diantara laki-laki lain yang berdiri di dekat saya. Di sini, posisi saya sudah tidak tegak sempurna.

Pinggang saya mulai sakit terdesak benda entah apa yang dibawa seorang wanita di belakang saya. Bersabar hanya satu kuncinya. Macet mengular sejak memasuki pintu tol hingga berada di sepanjang jalur lingkar luar Jakarta. Menyemangati diri untuk tetap optimis, semangat, tidak boleh menyerah saya lakukan terus menerus. Berusaha tersenyum melihat pantulan wajah saya di salah satu kaca yang ada di pintu.

Menarik nafas dan membuangnya sambil meneriakkan dalam hati, “Kamu Bisa! Impian kamu ada di depan mata!”. Ya, kata itu saya lantunkan berulang kali. Terus menerus hingga mungkin lelaki yang bergelayutan di sebelah saya menganggap saya aneh dengan racauan yang keluar dari bibir saya.

Mobil melaju kencang ketika jalanan sedikit lengang, namun ngerem mendadak tiba-tiba. Pinggang saya terdesak oleh benda yang dibawa penumpang lainnya. Sakit bukan main rasanya. Tiba-tiba saya terbayang wajah Mama, dia yang ada di Jogja, masa depan saya, mimpi saya, dan juga apa yang sedang saya perjuangkan saat ini.

Deg! Saya mellow. Ada gemuruh di dada saya dan rasa yang tertahan di tenggorokan mendesak minta keluar. Saya menahannya, mencoba menyebut nama Tuhan sebanyak yang saya bisa. Saya tak mau kalah dengan kondisi yang harus saya jalani pagi ini. Tanpa terasa ujung mata saya menghangat. Sepasang air mata saya jatuh, meski terhalang dengan sapu tangan yang saya dekapkan erat di hidung menghindari polutan jahanam yang ada di jalanan. Sedih sejadi-jadinya, tapi saya mencoba untuk tegar.

Hingga tiba di perempatan Cilandak, seorang kernet mendorong saya selagi bis masih melaju dengan cepatnya. Saya meminta ia untuk tidak mendorong saya.

“Bang jangan dorong-dorong, nanti saya jatuh,” itu yang saya katakana padanya.

“Makanya naik ke atas!” hardiknya membuat saya kesal. Tapi saya mencoba mengatakan padanya dengan nada biasa saja.

“Saya turun di depan kok bang,”

“ASTAGAAA! Hari gini masih ada ajah orang SOMBONG! Susah banget diatur!” teriaknya kepada saya. Saya kaget dengan kata-katanya. Mungkin kalau saya tadi berbicara dengan nada yang ketus saya maklum dia membalasnya seperti itu. Tapi, ini…

Akhirnya saya memutuskan untuk turun meskipun saya harus berjalan kaki sangat jauh karenanya. Saat saya mencoba menyebrangi jalanan dan berharap lampu lalu lintas masih merah menyala, saya dengar si kernet kurang ajar itu meneriakkan makian pada saya. Makian yang seharusnya tidak saya dengar di Senin pagi. Makian yang bikin siapa saja yang mendengarnya pasti ingin mendaratkan sebuah bogem mentah di mulut kernet kurang ajar itu.

Tapi saya memilih untuk berjalan dan meninggalkannya. Mencoba menghilangkan suaranya dari kepala. Apa daya, suaranya masih saja nyaring di telinga. Saya sakit hati. Air mata saya keluar makin menjadi. Saya terisak di pinggir jalan raya. Mengeluarkan emosi yang sejak tadi mengganjal. Saya marah? Iya. Saya terhina? Iya. Tapi untuk apa saya ladeni makhluk tak berhati tadi? Untuk sebuah kepuasan sesaat? Tidak akan saya biarkan. Jadi saya mengalah hari ini, menangis hari ini karena saya masih manusia. Saya butuh mengeluarkan secuil kerikil yang mengganjal di hati kecil saya. Membersihkan mata saya dengan air mata sementara. Ya, cukup sementara saja. Tak perlu lama-lama!

Jakarta, 4 Februari 2013

Cek Dulu!

Pagi ini seperti biasa. Hanya saja, hujan tidak jadi teman setia perjalanan menuju kantor  kali ini. Tukang ojek sudah menanti saya di ujung jalan menuju Kemang Utara. Menyapa si bapak berkuncir kuda serta melemparkan senyuman manis padanya. Perjalanan kami berdua pun dimulai.

Ditengah serunya membelah jalan Kemang Raya yang padat tanpa merayap, tetiba si Bapak mengatakan sesuatu. Berikut ini percakapan saya pagi tadi:

Bapak TO: “Neng, jumat kemarin pas ujan-ujan saya salah bawa penumpang, lho!” dengan nada takjub sekaligus bangga.

Saya: “Kok bisa Pak?”

Bapak TO: “Iya Neng. Pas  605 berhenti di pengkolan, saya langsung siap-siap. Kan jam segitu (8.30) biasanya  Neng turun. Selesai pakai helm sama jaket, neng juga udah duduk manis di jok belakang. Langsung deh tancep gas!”

Saya: “Terus? Bapak nggak liat siapa penumpangnya?” bingung mau reaksi apa.

Bapak TO: “Liat. Tapi Cuma liat kalau pakai kerudung. Hahaha”

Saya: “Jiaahh, si Bapak. Terus gimana?”

Bapak TO: “Yaudah, saya langsung ke Kemang Utara kan tuh yaa.. masuk ke kantornya eneng. Tapi kok eneng gak turun turun. Saya bingung. Pas nengok, taunya bukan eneng. Hihihi”

Saya: “Wuaduh! Penumpangnya marah nggak Pak?”

Bapak TO: “Nah, itu yang bikin saya makin bingung. Itu penumpang nggak protes sama sekali. Padahal saya udah belok dan masuk ke kantornya eneng lho.. hahaha.. Penumpang yang aneh!”

Saya: “Hahaha, Bapak juga sih!”

Bapak TO: “Saya jadi inget kejadian waktu itu neng. Yang saya anterin eneng hari sabtu sore ke depan kantor tapi kata eneng bukan.”

Saya: “Umm.. kalau yang itu jangan di bahas lagi Pak. “

Bapak TO: “Hehehe…takut ya?”

Saya: “(____ ____!)”

Jakarta, 28 Januari 2013

Skenario Tuhan

Jumat, hujan deras, sudah dipastikan macet siap menghadang. Apa mau dikata? Sudah sejak pagi Jakarta diguyur hujan. Tidak tanggung-tanggung, sejak pukul 8 pagi. Saat saya masih asyik bergelantungan di pintu kopaja tua.

Maaf hujan, saya tidak bersahabat denganmu pagi ini. Kesal sudah tiada guna. Penyesalan karena tidak mengecek tas sebelum berangkat sudah tak perlu dibicarakan lagi. Si payung beruang kawan setia saya tertinggal di rumah.

Mulut saya tak berhenti merapalkan berjuta permohonan pada Tuhan untuk menghentikan hujan barang sebentar. Namun hujan tak kunjung reda, justru makin gencar menghentakkan butir airnya. Saya lemas. Bingung tak juga rampung. Entah kata-kata apalagi yang harus saya lontarkan untuk merayu si empunya jagat raya agar tidak mengirimkan pasukan langitnya.

Pasrah. Itu sudah. Bersiap untuk lepek badan dan gigil saat tiba di ruangan. Ancang-ancang skenario sesampainya di kantor sudah saya buat. Menghalau cemas agar tak terlalu kuat bercokol di hati.

Tiba-tiba saja deras hujan berubah menjadi rintik air. Seolah menjawab semua resah, Tuhan menghalau semua prajurit airnya sejenak untuk tidak mengganggu saya yang masih bergayut di kopaja tua.

Tepat saatnya turun dari kopaja di pintu pekuburan lama. Hujan berhenti seketika. Ah, senyum lebar terkembang sempurna. Seorang pria paruh baya sudah siap menyambut kedatangan saya dengan motor tuanya dan siap membelah kemacetan Kemang Raya.

Tiba di kantor tanpa merasakan sapaan prajurit air di kemeja rasanya luar biasa. Baru saja menjejakkan kaki di lobi utama, deras hujan kembali menyapa. Bersyukur karena tak perlu ada cemas kurasa. Skenario Tuhan untuk hari ini sungguh luar biasa. Jantung yang kebat kebit, bujuk rayu yang terlontar, hingga senyum yang terkembang membuat Jumat ini sedikit lebih berwarna menggantikan rasa kecewa.

Slruup.. Sehat Unik Soyabean Shabu-Shabu

Soybean Shabu shabu

Soybean Shabu shabu

Hidangan Jepang yang satu ini terbilang unik. Kalau biasanya direbus dengan menggunakan kuah kaldu ikan ataupun daging, kini shabu-shabu hadir dengan kuah susu kacang kedelai. Isiannya komplet dan di santap dengan saus kacang almond atau saus ponzu yang asam asin. Hmm.. sehat dan yummy!!

Hidangan Jepang tidak hanya sebatas sushi saja, masih ada sashimi, ramen, udon, shabu-shabu, tepanyaki, dan lain-lain. Menjamurnya resto Jepang di Jakarta kadang memang bikin bingung. Sebagian besar citarasa nya sudah diadaptasi dengan lidah orang Indonesia. Namun, salah satu resto Jepang yang terletak di Intercontinental MidPlaza ini menghadirkan citarasa hidangan Jepang yang otentik.

Honzen Japanese Resto, adalah sebuah resto Jepang yang mulai beroperasi sejak 2004 silam, mencoba mengedepankan citarasa negeri sakura yang otentik. Memasuki resto berkapasitas sekitar 60 orang ini, suasananya sangat berbeda. Jalan yang menanjak dan sebuah kolam kecil di sisi kiri jadi pemandangan yang unik.

Ruangannya terbagi menjadi ‘table’, ‘tatami’ dan juga ‘private’. O ya, selain ruangan bersantap di Honzen juga terdapat sushi dan sashimi bar yang berada di bagian depan dan juga ruangan kushiage yang berada di bagian tengah. Jadi pengunjung dengan bebas dapat memilih ruangan bersantap yang mana.

Melihat beberapa pengunjung memesan shabu-shabu, saya pun lantas memesan menu yang sama. Satu set shabu-shabu, hadir lengkap. Sepiring irisan tipis daging sapi dan sayur mayur di piring lainnya. Seorang pelayan dengan sigap memanaskan susu kedelai dan memasukkan semua isinya.

Isiannya berupa jamur shitake, tofu, daun bawang, rebung (takenoko), sawi putih, sungiku, jamur enoki dan juga harusame(noodle glass). Sayuran dimasak tidak terlalu layu, sehingga teksturnya masih kres..kres renyah. Rasa gurih susu kedelai nya meresap ke dalam sayuran dan juga dagingnya.

Untuk menyantapnya, saya diberikan dua pilihan saus. Ponzu, saus berwarna kecokelatan mirip dengan soyu namun dengan rasa yang asin dan asam. Sedangkan saus satunya gomatare, gerusan kacang almond yang rasanya gurih. Pelengkap lainnya adalah bawang putih yang dihaluskan, cabai rawit iris,dan irisan daun bawang.

Ternyata perpaduan sayur dengan saus kacangnya menimbulkan sensasi gurih yang unik. Apalagi ditambah irisan cabai rawit yang pedas menggigit. Bikin mata yang ngantuk jadi melek! Saus ponzu yang gurih asam memberi aksen rasa istimewa saat dicelupkan pada daging rebus. Nyam..nyam..sedap!

Berbeda dengan teman saya yang lebih memilih dragon roll. Sushi roll dengan ukuran yang cukup besar ini penyajiannya cantik dan menarik. Bentuknya mirip dengan naga, dengan balutan abon sapi di seluruh permukaan sushi. Di bagian dalamnya berisis unagi alias belut panggang. Ada rasa gurih beradu dengan abon yang manis renyah. Hmm.. enak di lidah.

O ya, yang suka dengan makanan yang digoreng, bermacam-macam kushiage bisa dipilih. Sate dalam set kusiage, berisi jamur shitake, udang, asparagus, scallop, sishito alias cabai Jepang yang diisi dengan cacahan daging udang.

Sebagai teman menyantapnya, disediakan pula potongan paprika, lobak, daun bawang dan juga kol segar. Rasa segar renyahnya membuat cita rasa gurih minyak tidak terasa kuat. Sayuran mentah ini dicocol dengan saus yang terbuat dari kacang almond yang digerus bersama dengan wijen hitam dan gerusan kasar lada hitam. Hmm.. krenyes..krenyes gurih!

Untuk soyabean shabu-shabu bisa ini bisa dipesan khusus vegetarian. Isinya hanya sayuran saja.  Tapi kalau memang tidak suka dengan susu kedelai, kuahnya pun masih tetap bisa dipilih kaldu biasa. Hmm.. santap siang saya benar-benar istimewa. Potongan buah dan juga sorbet semangka menutup acara makan siang saya dengan manis.

Honzen
Intercontinental Hotel, LG Floor
Jl.Jend. Sudirman Kav. 10-11, Jakarta
Telp: 021-5707796
Jam buka: 11.30-14.00 (lunch)
17.30-22.00 (dinner)

PS: Tulisan ini pernah ditayangkan di detikfood (21 Januari 2011) dan ditayangkan kembali pada 26 Desember 2012. Namun sayang, nama penulis (saya) diganti dengan orang lain.