Aku dan Lelaki-Lelaki Itu

Sembilan bulan mungkin terbilang waktu yang singkat untuk ukuran jam terbang bekerja di satu perusahaan. Tapi itu waktu yang cukup untukku mengenal kawan-kawan seperjuanganku. Aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di dunia IT dan juga kartu pintar. Namun pekerjaanku berkaitan dengan dunia design dan juga promosi.

Sehari-hari aku bekerja bersama dengan lima orang lelaki. Muda dan enerjik. Ada saja kekonyolan yang mereka perbuat setiap harinya. Perdebatan pun tak jarang mampir di meja. Mulai dari hal-hal berbau pekerjaan hingga wanita. Dan jika menyangkut masalah ini, mereka lupa dengan rekan mungilnya ini. *pingsan*

Mereka berlima, punya pribadi yang sangat unik. Tidak ada satupun dari kami yang memiliki benang merah dalam segala hal. Mulai dari hal yang remeh temeh hingga selera musik. Teman-teman divisi lain kalau melawati cubicle kami itu selalu saja bilang tempat kami itu gudang lagu. Just say it, I’ll play for you!

Obrolan sederhana setiap pagi bisa jadi obrolan serius sepanjang hari. Mungkin kalau orang lain yang melihatnya kami semua ini kurang kerjaan, tapi justru ini pengikat kami semua. Terakhir, obrolan yang cukup penting kami bahas adalah seputar planet dan satelit. Awkward melihatnya, tapi jujur aku justru banyak tahu tentang hal baru karena mereka. Apapun itu!

kejutan di hari ulang tahun, 2012

kejutan di hari ulang tahun, 2012

Aku jarang terlibat perdebatan atau obrolan yang berat dengan mereka. Aku hanya sebagai pemerhati saja yang sesekali mengingatkan mereka untuk break, karena jam makan siang sudah terlewat setengah jam. Hmm.. kalau dipikir-pikir aku memang macam induk untuk mereka. Seperti layaknya Ibu untuk semua cerita anak-anaknya.

Dan yang aku tahu pasti, saat ini aku menikmatinya. Meski terkadang pusing juga melihat tingkah laku mereka yang sulit diterima nalar dan logika. Hahaha…

Kemang, 11 Maret 2013

Advertisements

Everyday is Voucher Day!

Apa yang terlintas di kepala ketika mendengar kata ‘voucher’? voucher belanja? voucher menginap? atau voucher makan? Saya yakin, semua itu langsung ada di kepala kita. Siapa sih orang yang akan menolak jika diberikan voucher? Setiap mendengar kata ‘voucher’ pasti mata langsung berbinar dan rasa penasaran menggayut ingin tahu, voucher apa gerangan?

Untuk kali ini, saya tidak pernah berminat secuil pun dengan voucher. Bahkan jika harus dibayar dan diberikan secara cuma-cuma. Tidak, terima kasih!

Ini dia voucher yang saya maksud.

Voucher terlambat masuk kantor!

Ini adalah salah satu kebijakan kantor yang baru berlaku per 22 Oktober lalu. Jam kantor yang dimajukan menjadi pukul 8 pagi ini memang dikeluhkan oleh banyak pihak. Terlebih untuk divisi saya. Memang sih akhirnya jam kerja nya hanya sampai pukul 5 sore, tapi toh tidak banyak perubahan yang berarti jika jam pulang dimajukan.

Ironisnya, setiap yang terlambat akan mendapatkan surat sakti berupa ‘voucher’ yang apabila sudah tiga kali akan mendapatkan doorprize berupa Surat Peringatan alias SP dari pihak HRD. WOW!

Agak-agak aneh peraturan baru ini. Sejujurnya, saya dan kawan-kawan di Brand Development memang agak susah yang namanya datang pagi. Maklumlah, kami ini para pencinta dunia malam ketimbang pagi. Hehe.. *bukan alasan woy!*

Saya bukan morning person. Meskipun sudah datang sejak pagi, otak belum bisa tune langsung. Biasanya saya baru bisa mulai bekerja antara pukul 11 siang atau bahkan sehabis makan siang. Itu waktu-waktu riskan saya untuk bekerja. Jadi maaf kalau ada bbm atau sms yang lama sekali terbalaskan diatas jam makan siang. Hihihi..

Lha terus kalau pagi saya ngapain? Eits tenang, saya dan teman-teman biasanya akan diskusi pagi tentang banyak hal. Tentang ide-ide apa yang akan dikembangkan nantinya atau bahkan info-info terbaru seputar dunia digital dan juga design. So, saya ngga nganggur-nganggur banget laaah! Hihi.. *ditoyor HRD*

Jadilah, tanggal 22 Oktober lalu itu hari pertama diberlakukannya peraturan ini. Pagi-pagi benar saya sudah bergelut dengan angkot dan kemacetan jalan raya Bogor. Saingan saya dalam memperebutkan angkot tercinta ternyata bukan hanya sesama pekerja saja, tapi juga dengan pelajar! Gilak, rebutannya ngalahin orang-orang yang ambil uang pensiunan!

*emang para mbah-mbah itu kalau ambil uang pension rusuh ya?*
*ditimpuk sandal*

Belum lagi ada pelajar yang melambaikan uang 5ribu demi dapat diangkut oleh angkot sok jual mahal itu. Beuuhh…saya harus pasang strategi nih!

*berniat pasang foto JUPE* *plaaak!*

Volume kendaraan di Senin pagi itu ibarat rindu pelaut pada daratan. Semua berlomba untuk segera sampai, semua memadati jalan raya, klakson saling berteriak nyaring, tidak ada yang mau mengalah. Apalagi ketika sebuah kopaja dengan lancangnya memotong perjalanan sebuah sedan hitam mulus seperti baru saja keluar dari show room. Umpatan tentu saja tak terelakkan. Saya? Tidur!

Sampai di pemberhentian pertama. Huff.. peluh sudah membanjiri kening dan baju, hingga dalemannya. Sudah tak peduli lagi riasan muka masih tampak atau sudah luntur bersama dengan keringat yang mengalir deras.

Perjuangan saya belum berakhir. Kopaja tercinta belum tampak batang persenelingnya *ngeri bener kalau batang perseneling keliatan*. Padahal ribuan jemaah haji puluhan orang sudah harap-harap cemas menantikan kedatangan sang pujaan hati, si kopaja tua.

Saat kopaja datang, olala.. ternyata sudah ada generasi tarzan bergelantungan di tiap pintunya. Tak tanggung-tanggung ada enam orang tengah melatih otot lengan mereka. Saya? Memilih menunggu saja. Saya masih belum berniat jadi binaragawati dan bersaing dengan para tarzan dadakan ini.

Setelah menunggu, akhirnya kopaja lainnya tiba. Tak kalah sesak dengan sebelumnya tapi masih lebih ‘manusiawi’ sedikit, meskipun beda kadarnya hanya 10 persen saja. Paling tidak saya tak perlu jadi monyet kopaja pagi itu.

Perjuangan lagi-lagi belum berakhir. Jalanan padat merayap sejak masuk pintu tol hinggaaaa….Kemang Raya! *pingsan*

Pasrah, hanya satu-satunya cara selain doa menghadapi jalanan seperti ini. Turun dari kopaja dan cari alternatif lainnya? Hmm..saya enggan latihan tarik urat dengan tukang ojek di pangkalan yang bersikukuh memasang tarif yang bisa merenggut kejayaan makan siang saya nantinya.

Iya, biasanya tukang ojek itu sok jual mahal kalau lagi dibutuhin. Jadi, saya hanya bisa bersabar sambil sesekali menahan nafas karena lelaki di samping saya sepertinya lupa membubuhi ketiaknya dengan roll on sebelum berangkat. *rasanya pengen pingsan lagi*

Voila.. saya tiba! Belum, belum tiba di kantor. Baru sampai di perempatan jalan. Saya harus berjalan kaki sekitar 200 meter untuk sampai di lokasi. Dan setibanya di depan kantor, muka saya sepertinya sudah tidak keruan. Terlihat sekali dari wajah Pak Sunarto, satpam kantor yang terpekik kaget lihat wajah saya. *kayaknya letak hidung sudah pindah entah dimana*

Dan tiba saatnya finger print. Jeng..jeng! Saya tiba dikantor pukul 8.45 menit. Terlambat empat puluh lima menit dari jadwal masuk seharusnya. Wohoooo!!!! *salto*

Jadilah saya mendapatkan voucher berhadiah berlibur ke Bali seumur hidup yang harus ditanda tangani oleh direktur marketing. (kenapa direktur marketing? Oh, don’t ask me why, karena sampai sekarang saya juga belum tahu alasannya).

Obrolan di ruangan Mr.Ganteng:

Me : “Pak, saya mau minta tanda tangan untuk ini (sambil menyodorkan sebuah voucher berhadiah)”

Him : (tersenyum) “Wah, telat kamu lama banget. Memang berangkat dari rumah jam berapa?”

Me : “Umm..kalau ngga salah ingat, jam 6 pagi pak” *nyengir lebar, garuk-garuk kepala*

Him : “Ha?! Okey, jadi perjalanan kamu hampir 3 jam ya? Ckckck.. kalau gini sih saya gak bisa nyuruh kamu berangkat lebih pagi ya.. kecuali kamu mau buka tenda di depan kantor!” *tertawa geli seolah habis mengusulkan Timbuktu pindah ke Nusakambangan*

Me : “…” (heee..bapak lucu deh, boleh dicubit-cubit dikit gak? ßtentunya hanya di dalam hati) *digetok*

Dan akhirnyaaaaa… sebuah voucher dengan dibubuhi tanda tangan Mr.Ganteng pun sudah dikantongi tinggal diberikan ke HRD. Hahaha… *tertawa puas penuh kemenangan*

***

Hari-hari berikutnya, saya tetap mendapatkan voucher berhadiah. Dan setiap hari pula saya harus mengejar Mr.Ganteng untuk minta tanda tangan yang susahnya ngalahin minta tanda tangan artis saking sibuknya dia. Serius deh, ini masih ada dua lagi yang masih butuh tanda tangan. Padahal ini voucher minggu kemarin. Hufff…

Dan tiap pagi pula ibu saya dengan eksisnya ngabsen  saya dengan meng-sms demikian:

“Gimana dek, hari ini dapet tiket konser apa? Hahaha…”

Bah! Dikira saya asoy geboy kali ya dapat voucher ini. Pengen sih bilang, kalau pagi ini saya dapat tiket menuju hatinya… *blushing* *curcol woy!* Huff.. kita lihat, sampai kapan voucher ini akan berlaku. Sebulan. Dua bulan. Atau bahkan setahun? Entahlah..

Tapi menurut saya pribadi, hal ini sangat tidak efisien. Setiap manusia yang bekerja, mereka sudah punya tanggung jawab pada diri sendiri dan perusahaan masing-masing. Meskipun saya datang siang, saya tahu harus pulang pukul berapa.

Sayangnya, ketika keberadaan di kantor lebih dari jam kerja hal itu tidak lantas jadi bahan pertimbangan perihal keterlambatan. Semua dipukul rata. Itu dianggap loyalitas. Lantas, bagaimana dengan kondisi pekerja itu sendiri? Bukankah happy workers are productive workers? Kalau sudah terkekang masalah ini, apakah akan terus jadi happy workers? Entahlah, saya masih mencari jawabannya. Tapi sejauh ini, I do really enjoy with what I’m doing now! ^^

Jakarta, 31 Oktober 2012
Nonayangmasihmeratapivoucherdimeja