Ragu

Ragu adalah hal biasa dan lumrah. Siapa pun bisa meragu dan khawatir. Sepertimu. Sepertiku. Sesekali ragu hadir mengisi relung hati kita. Sesekali ragu hadir memenuhi pikiran kita. Dan kita pun kadang hanya bisa terdiam. Kebingungan. Dan kita pun juga kadang hanya bisa merutuk tanpa mampu berbuat lebih banyak.

Namun ragu bukanlah hal yang pantas kita biarkan larut terlalu lama. Karena sekali meragu, maka sedikit demi sedikit rapuhlah ia: percaya. Karena sekali meragu, hancurlah ia: percaya. Dan kita tidak akan bisa beranjak kemana-mana.

Tahukah kamu apa yang kuinginkan ketika kita sama-sama meragu? Bukanlah pertengkaran dan bantahan yang kuinginkan. Tetapi kepercayaan dan dukungan yang kuharapkan hadir darimu. Yakinkan aku. Dan aku akan yakin denganmu. Percayai aku dan aku akan memercayaimu.

“Pernahkah kamu merasa bahwa apa yang kita lakukan selama ini hanyalah perbuatan yang sia-sia?”

Kutatap kedua bola matamu. Kupegang kedua tanganmu. “Sesekali mungkin memang pikiran seperti itu muncul. Namun aku tidak pernah mau memanjakan pikiran itu dan akhirnya membiarkan ragu itu menguasai seluruh hati dan pikiranku.”

“Aku kadang tak habis pikir dengan apa yang aku pikirkan. Kadang aku merasa semua ini sia-sia. Kadang aku merasa semua ini hanyalah perbuatan yang konyol. Aku meragu dengan apa yang kupercayai sebelumnya. Aku meragu dengan keinginanku sendiri.”

“Kamu tahu? Kadang kita seringkali berlaku seperti seorang gadis kecil yang ingin bisa mengendarai sebuah sepeda. Namun karena takut terluka dan terjatuh di tengah perjalanan ia belajar mengendarainya. Ia pun tak pernah memberanikan dirinya untuk memegang sepeda itu.”

Kamu tertawa mendengarku mengutarakan itu semua. “Bagaimana mungkin gadis kecil itu bisa mengendarai sebuah sepeda jika ia sendiri tak pernah mau memegang sepeda itu, sayang?”

“Begitu juga dengan kita. Bagaimana bisa kita tahu apa yang akan terjadi dengan kita jika kita tidak pernah mau memulai untuk percaya dengan perjalanan kita sekarang?”

Kulepaskan kedua tanganku. Kulangkahkan kakiku ke beranda rumahku. “Gadis kecil itu tahu kalau sepeda yang ia bisa naiki sudah menunggunya di garasi rumahnya. Namun dia tetap tak pernah berani melangkahkan kakinya untuk mendekat. Dia terlampau takut. Dia sudah memikirkan terlalu banyak. Dia takut terluka. Dia takut terjatuh. Dia takut dengan kejadian apa pun yang memungkinkan dia merasa sakit.”

“Lalu apa yang harus gadis itu lakukan?”

“Jika memang dia masih merasa takut. Jangan pernah berlatih sendiri. Jangan pernah memaksakan untuk berusaha sendiri. Ajaklah seseorang yang menurut dia mampu mendukungnya. Ajaklah seseorang yang menurut dia dapat diandalkan. Bila memang menjadi sulit baginya untuk berjalan sendiri dan berusaha mengalahkan ragunya.”

Kuedarkan pandanganku ke arah langit malam yang kini menaungi kami berdua. “Jika memang ragu hadir kepadamu. Utarakanlah kepadaku apa yang membuatmu ragu. Jika memang kamu merasa takut karena sesuatu membayang-bayangimu. Ceritakanlah apa yang kamu rasakan. Aku memang bukanlah orang yang bisa memberikanmu apa saja. Namun aku akan selalu berusaha melakukan apa pun yang kubisa untuk tetap bersamamu.“

Entah kamu sadari atau tidak, kulihat air mata menetes dari kedua matamu. Suaramu tertahan.  “Aku tidak mau menjadi gadis kecil yang selalu ragu itu. Aku tidak mau terus-menerus hidup dalam keragu-raguan. Temani aku.”

Aku tersenyum mendengarmu berucap seperti itu. Kupegang erat kedua tanganmu. “Kamu tak harus khawatir. Karena itu pun yang ingin aku tetap lakukan.”

 

Ps: thanks #Pram

Advertisements