Pagi

kopidanroti

Buatku, pagi itu terdiri dari secangkir kopi, setangkup roti, dan kamu yang selalu mengirimkan semangat setiap hari, setiap pagi, tanpa henti.

*foto pinjam di sini

Advertisements

Senja dan Kopi

Senja dan Kopi.

Selalu saja bersama, berdampingan, entah sebagai sahabat setia atau pasangan bahagia..

Maaf jika mungkin kau bosan dengan senja dan kopi yang selalu saja tertuang di sini. Di tiap laci memori yang memang sepertinya tertata apik hanya untuk mereka.

Jika kau ingin protes, silakan saja..

Toh, senja akan selalu sama. Rasa kopi juga tidak akan pernah berbeda

Kecuali…

Ketika secangkir kopi, selembar senja dan sejumput kecil rindu sebagai ‘pemanisnya’, tentu akan jadi berbeda rasanya.

Karena tiap tetesnya berisi tentang dirimu, ceritamu, dan mimpi yang pernah ada.

Yang tiap tetesnya menenggelamkanku dalam palung rindu paling jumawa. Dan yang membuat lembayung senjaku berubah jadi kelabu tua.

Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

 

*my another random thought. just trying to keep my brain busy 🙂

Obrolan Cangkir Kopi

“… kamu kayaknya perlu segelas kopi deh, Non. Blandongan?”

Kata-kata itu yang kerap kali dilontarkan olehnya kalau aku mulai mencurahkan emosi yang meluap-luap. Atau aku sedang ingin mengeluarkan secuil pemikiran yang mengganjal seharian.

Ia tak pernah menyambut emosiku dengan emosi lainnya. Ia justru akan meredam emosi ini dengan ajakan secangkir kopi dan obrolan panjang seharian. Aku tetiba teringat olehnya. Ia yang kini jauh berada di kota pelajar yang sedang melanjutkan studinya.

Aku jadi berpikir, apa yang menjadikan kopi begitu nikmat? Atau bagaimana obrolan begitu bersemangat dan mengalir dengan hangat dengan secangkir kopi?

Kalau banyak penikmat nikotin mengatakan kopi dan rokok adalah sahabat, buatku kopi dan sahabat adalah kawan karib yang melegenda. Bagaimana sebuah ide tercipta hanya karena obrolan warung kopi dan bagaimana masalah bisa terselesaikan hanya karena berbagi cerita dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lainnya.

Aku bukanlah pencinta kopi yang mengerti seluk beluk biji kopi hingga menjadi minuman lezat di pagi hari. Aku cukup menjadi penikmat kopi di mana saja, apapun bentuknya. Fresh atau siap saji, aku menikmatinya. Tak lupa seorang atau segerombolan kawan sebagai selingan saat menyesapnya.

Masih hangat dalam benakku, bagaimana perkenalan kami bermula. Secangkir kopi dan senja di sebuah kedai kopi di tengah sawah. Cerita bermula dari aku yang berkomentar tentang senja sore itu yang disambut oleh cerita tentangnya dan bagaimana ia mencintai kopi juga tembakau yang dihisapnya.

Tanpa terasa cerita demi cerita terangkai dengan manisnya dan selalu berakhir ketika senja nyaris tertelan gelapnya malam. Saat itu, aku menyudahi perjumpaan kami. Kucukupkan cerita sore itu dengan sebuah lambaian hangat sebelum kukayuh sepeda kumbangku dengan nada riang.

Begitu setiap hari. Setiap sore, kukayuh sepeda kumbang menuju kedai di tengah sawah. Di sana kutahu ia selalu menungguku dengan senyum dari bibir kehitaman dan nikotin yang terbakar di sela jemari kanan.

Dua cangkir kopi terseduh, menguarkan aroma harum yang memikat. Kusunggingkan senyum untuknya yang sudah bersabar menungguku. Sesapan pertama dan komentar tentang senja hari itu jadi pembuka. Dan menit-menit berikutnya mengalir begitu saja tentunya dengan cangkir kopi yang kembali terisi dari cangkir bergambar bunga mawar.

Aku, dia, dan cangkir-cangkir kopi merangkai cerita. Hanya dengan obrolan sederhana tentang rasa, tentang bagaimana hidup itu semestinya dimata kami, manusia. Tentang persahabatan dan juga cinta, yang terkadang jumlah duka tidak pernah seimbang dengan suka.

Tapi satu hal yang pasti, obrolan cangkir kopi ini akan terus mengalir meski kami tak lagi bisa menikmati cangkir-cangkir kopi di tengah sawah bersama senja. Meski kesibukan menenggelamkan rasa pada akhirnya. Mungkin ada waktunya nanti aku dan dirinya bisa menikmati kopi kami kembali sambil bernostalgia tentang senja, rasa, dan cinta sesama.

Dan soal kopi yang menjadi sahabat setia kala bercerita, aku masih bertanya-tanya. Kubiarkan ia tetap menjadi rahasia. Maka, nikmati saja!

cangkir kopi

 

Senin, 3 Deseber 2012
Lagi-lagi, tulisan ini saya temukan diantara file-file tulisan yang belum sempat ter-posting tahun lalu.
*foto dipinjam di sini

Secangkir Rindu untuk Sahabat

secangkir rindu tersaji di meja aksara untuk siapa saja yang ingin melepas dahaga akan cinta

secangkir rindu tersaji di meja aksara untuk siapa saja yang ingin melepas dahaga akan cinta

Entah ini kali keberapa aku membaca tulisan kawan cungkring nan tampan layaknya manusia imigran dari tanah nya para londo. Hehe.. Rio namanya. Kesibukan menenggelamkanku sehingga urung berkali-kali membalas suratnya beberapa waktu lalu.

Semalam, seseorang memintaku membacakan surat milik Rio. Tentu dengan gaya membacaku, yang menurutnya bisa jadi pengantar tidur paling ampuh. Hmm.. tampaknya aku harus mulai memikirkan tarif membaca jika ada yang perlu lullaby sebelum tidur nih. Hehe

Setelah membaca lagi dan lagi, ada rasa hangat yang asing hinggap di hati. Entah apa itu namanya. Rindukah? Mungkin saja. Karena ada senyuman yang tersungging tiap kali ibu jariku beradu dengan benda mungil berlayar sentuh ini ketika aku dan dia bertukar kabar. Ketika ia mulai mengeluhkan semua resahnya karena sulit menelurkan pikiran dalam sebuah tulisan.

Setelah selesai berbincang-bincang si Coach yang kerap kali dipanggil Kuch ketimbang Coach, aku  jadi tergelitik untuk membuka catatan pribadiku selama berperjalanan ke desa kecil di belahan timur pulau Jawa. Di salah satu desa dimana aku mulai kembali menata kehidupanku, menata kembali peta yang pernah robek beberapa waktu lalu dan mulai kembali menghadapi hidupku seperti sedia kala.

Aku tidak akan menceritakan apa yang aku kerjakan di sana, bagaimana kehidupanku di sana atau bagaimana akhirnya aku terdampar di desa kecil namun mulai menggeliat menjadi sebuah desa ‘modern’ dengan caranya.

Aku hanya ingin sedikit bernostalgia dengan mengenang celoteh ngelantur yang pernah aku lakukan dengan beberapa kawan selama di sana. Ya, kawan-kawan tunggu.,. mereka saudara buatku. Saudara yang aku miliki meskipun hanya beberapa waktu kami habiskan bersama.

Aku masih ingat betul kali pertama bagaimana akhirnya aku bisa ‘masuk’ dalam lingkaran pertemanan mereka. Secangkir kopi. Ya, secangkir kopi menyatukan obrolan kami yang awalnya kaku menjadi seperti aliran air dari hulu sungai menuju hilir hingga laut lepas.

***

Sore itu, setelah berkeliling desa dengan menggunakan sepeda kumbang, aku menyempatkan diri mampir di sebuah kedai kopi sederhana yang memang sering aku singgahi sendirian. Entah itu sekedar membaca buku, memesan ketan susu, atau memesan secangkir kopi. Ketika sedang asyik berjibaku dengan buku, ternyata ada segerombolan anak dari asrama lain datang. Aku mengenal mereka.

Sungkan awalnya mengajak mereka untuk duduk satu bangku dan bertukar cerita dalam satu kali sesapan kopi. Tapi, akhirnya salah satu mereka bisa duduk dan mulai membagi ceritanya. Ada hal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Namun yang pasti persahabatanku dimulai di sana. Di kedai ketan tercinta.

Hari demi hari berganti, cangkir demi cangkir kopi telah terisi. Ditemani ketan susu ataupun ketan bubuk atau sebatang tembakau yang disulut bergantian oleh mereka yang sering aku protes karena aromanya. Cerita pun mengalir tidak hanya membahas problematika negara tapi juga keluarga hingga cinta.

Kini, kami semua sudah terpisah di berbagai kota di seluruh Indonesia. Selalu saja ada rindu yang menggayut manja, minta untuk ditimang dan dibuka kembali. Entah siapa saja yang mulai menyulutnya.

Banyak pelajaran hidup yang aku dapat dari mereka. Belajar melihat kembali manusia dari sudut pandang yang berbeda. Melihat suatu hubungan bukan hanya sekedar memberi dan menerima. Dan makin meyakinkanku bahwa berbagi itu membuat hidup jauh lebih bahagia.

Dan kini, cerita kembali dirajut dengan mesra meski medianya tidak lagi sama. Bukan lagi kopi dan ketan susu atau sepeda ceria yang mengawali cerita, tapi sebentuk kerinduan yang membuncah yang selalu jadi alasan utama  untuk kami memilin romansa.

Meskipun ekspresi tak pernah terlihat lagi sama, tapi nada bicara masih kudengar sama di udara. Dan kini aku memulainya dengan celotehan sederhana dalam media aksara yang kurangkai untuk menebus rindu akan kamu, dia, mereka, dan kebersamaan kita. Selamat merindu dan bercumbu dengan aksara, kita! Cangkir rindu ini untuk kita habiskan bersama dalam tawa bahagia.

Jakarta, 6 November 2012

*tulisan ini merupakan balasan surat dari Rio, sahabat bule saya 🙂

*foto diambil di sini

Filosofi Kopi

(Saat membaca judul nya, pasti langsung teringat dengan salah satu novel Dee beberapa tahun lalu. Tapi saya tidak membicarakan perihal novel DEE meskipun masih ada hubungannya seperti judul cerpen yang ada di dalamnya)

Saya adalah pecinta kopi, bahkan dari dulu saya sangat menyukainya (meskipun sudah berkurang saat ini). Saya hanya penikmat, jangan pernah tanyakan saya perihal jenis kopi ataupun perbedaan antara esspresso, arabika, robusta, luwak atau yang lainnya. Yang saya tahu, kopi enak itu yang aromanya harum yang mampu membangunkan saya di pagi hari seperti di iklan-iklan dan juga tidak meninggalkan ampas yang berlebih.

Yah, meskipun setiap harinya saya harus ‘menyerah’ dengan kopi instan siap minum yang banyak dijual di warung dekat rumah dengan berbagai merek. Sejak tahun 2007 kedai kopi di Jakarta pun mulai bermunculan, ini pasti karena semakin banyak pecinta kopi setiap harinya. Atau mungkin hanya sekedar trend takut kalau dibilang ‘gak gaul’ kalau belum pernah atau bahkan gak pernah mencoba kedai kopi yang banyak bertebaran di mal-mal itu. Sampai suatu hari saya hadir dalam sebuah symposium kopi di Jakarta. Bukan karena kesengajaan, tapi lebih tepatnya saya ‘kepleset’ hingga akhirnya bisa mendatangi acara ini.

Suatu hari saya menulis ‘coffe latte or hot chocolate’ di situs jejaring sosial ini. Sebenarnya sih bukan tanpa alasan saya menulis demikian. Itu semua karena sebuah film yang saya tonton dan juga kedai kopi yang baru saja say adatangi(ini beneran kedai kaki lima loh!). Saya jadi teringat akan sebuah email dan beberapa artikel yang pernah saya baca dan semuanya tentang kopi. Hubungan jenis kopi dengan karakter si peminum dan juga apa efek dari kopi itu sendiri.

Ini penjabaran kopi menurut saya dari berbagai sumber yang.. hmm.. boleh dipercaya boleh tidak.. hehe

Espresso, merupakan salah satu kopi klasik yang pekat dan memiliki aroma dan citarasa yang kuat. Kalau ada yang menyebutkan kopi espresso, berarti ia menyebutkan ‘kopi kopi’, karena dalam bahasa Italia espresso memiliki arti kopi. Espresso ini adalah dasar dari minuman kopi lainnya. Untuk membuat espresso dibutuhkan mesin khusus (saya tidak tahu kalau tidak pakai mesin apakah bisa jadi espresso :p)

Espresso sebenarnya mirip dengan kopi tubruk. Bedanya espresso tidak ada ampas yang mengganggu di akhir tegukan. Tapi entah mengapa, saya lebih menyukai kopi tubruk dibandingkan dengan espresso itu sendiri. Yah, meskipun kadang sering dibilang ndeso, tapi memang itu adanya!

Konon katanya, mereka yang menyukai kopi jenis ini adalah orang yang memiliki pribadi yang penuh tanggung jawab, mandiri, namun tidak romantis. Hmm.. benarkah? Ah, itu semua kembali lagi kepada masing-masing orang (jangan terpengaruh yah ^^) Tapi kalau ada yang suka dengan kopi tubruk saya sedikit bisa menyimpulkan kalau ia adalah orang yang sederhana meskipun kadang tampak sedikit kasar tapi mampu mempengaruhi sekitar seperti aromanya yang tajam! (ini berdasarkan pengamatan saya terhadap si peminum kopi tubruk di daerah Bawen)

Cappucino, nama keren dari kopi susu. Perbandingan kopi, crema(busa susu) dan juga susu harus seimbang. Kalau kopi jenis ini cenderung ke kawula muda. Mungkin karena rasanya lebih ringan. Sedangkan coffee latte yah sebelas dua belas dengan cappucinno tapi kombinasinya lebih dominan susu. Dan biasanya, coffe latte disajikan dengan tampilan yang sangat menarik. Dengan hiasan-hiasan diatasnya atau latte art. (sampai detik ini saya masih tak habis pikir, kok bisa?!)

Oya, ada juga yang menghubungkan kopi dengan bintang lahir. Sampai sekarang sih saya tidak menemukan dimana korelasinya. Yah, kalau saya suka ya saya minum. Jika tidak, ya saya tinggalkan saja! Simple toh?! Sampai saat ini kopi yang saya bawa dari Bawen tetap yang menjadi ‘raja’ di rumah. Tidak terlalu pekat, rasanya juga lebih ringan(ini ukuran perut saya), dan juga harumnya itu yang bikin saya nagih lagi dan lagi..

041109