MARAH

MARAH. Itu yang saya rasakan pagi ini. Ketika ada yang berjalan tidak pada aturannya. Ketika hak-hak menjadi terpinggirkan karena ego yang terlalu dimanjakan pemiliknya.

Ada kecewa yang menggunung tak tertampung, hingga nyaris meledak tak tentu arah. Atau jangan-jangan marah saya sudah meledak? Entahlah. Saya tak tahu dengan pasti.

Kini, yang saya coba pahami adalah bagaimana cara meredamnya. Mengikhlaskan, berdialog kembali dengan hati, atau mencoba untuk mengerti. Meski saya tahu pasti amarah saya ini untuk sesuatu yang benar untuk diperjuangkan.

Ketika si Sabar Berkeluh Macet

Jakarta dan macet. Sepertinya duo maut yang sudah dikenal ‘akrab’ dengan masyarakat Jakarta, merambah ke seluruh pulau-pulau di Indonesia, dan kini duo maut itu juga dikenal ke berbagai belahan Negara di dunia. Hebat bukan?

Miris betul mendengar Indonesia tersohor tidak hanya karena budaya nya yang beragam tapi juga karena korupsi dan kemacetan yang luar biasa di ibukotanya, Jakarta.

Oke, kita akan mempersempit masalahnya pada macet Jakarta. Sekarang ini macet Jakarta sudah tidak bisa diprediksi lagi. Kalau dulu hanya di jam-jam tertentu sekarang hampir di semua jam tidak pernah tidak macet. Kalau beberapa tahun yang lalu hanya titik-titik tertentu yang rawan macet, kini semua titik di Jakarta menjadi langganan macet. Bahkan ke jalan-jalan tikusnya. Gilak!

jakarta

Menyiasati berangkat dari rumah lebih pagi tampaknya sia-sia. Bertahan di kantor lebih lama demi menunggu macet reda sepulang kerja juga tak ada gunanya. Karena deretan kendaraan ternyata masih mengular meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Helloooo Jakartans! Don’t you need a rest? Why you people still stay around in the middle of night, HA?!

O ya, itu teriakan saya beberapa hari lalu termasuk meneriaki diri sendiri yang masih berjibaku dengan macetnya ibu kota. Mungkin kalau melihat saya yang suka emosional menghadapi macetnya jalanan tidaklah heran. Tapi kalau melihat salah satu teman saya yang paling sabar menghadapi kemacetan berkeluh, rasanya ini memang sudah kelewatan.

Lantas, bagaimana mengatasi semua kemacetan ini? Celetukan salah seorang kawan saya di group whatsapp dua hari belakangan.

Seperti obrolan saya dengan Mas Donny BU beberapa tahun lalu. Jakarta memang sudah bukan lagi tempatnya untuk orang-orang yang bekerja mengharuskan kehadiran. Jakarta harus diubah sistem nya. Atau mungkin perusahaan kita yang mengubah sistem kerja yang diterapkan.

Yang namanya absen itu tidaklah wajib dilakukan. Pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah tidak perlu kedatangan akan mengurangi kemacetan itu sendiri. Otomatis kendaraan akan berkurang di jalan raya, dan polusi pastinya akan menurun juga. Kalau hal ini bisa dilakukan oleh banyak orang di satu perusahaan yang terus menular ke perusahaan-perusahaan lain saya rasa kemacetan Jakarta bisa sedikit teratasi. Tingkat pencemaran udara bisa berkurang beberapa persen, tingkat keluhan berkurang juga, hingga kualitas hidup manusia pastinya akan meningkat.

Sumber daya alam yang ada juga bisa terjaga lebih baik lagi. Karena kebutuhan akan energi untuk menggerakkan kendaraan akan berkurang. Dan Jakarta bisa jadi tempat yang layak huni untuk anak-anak yang sedang bertumbuh kembang.

Mungkin kalau hanya membayangkan saja, rasanya sulit. Akan ada banyak penolakan yang ada di kepala. Dan sikap kita, manusia selalu melihat sesuatu dengan kacamata ‘sepertinya sulit’. Padahal tindakan itu bisa sekali dilakukan.

Hal kecil yang pernah dan masih saya lakukan sampai saat ini adalah nebeng. Baik saat berangkat ke kantor ataupun pulang kantor. Mungkin kalau orang picik yang melihatnya, “ih irit banget”. Atau mungkin beberapa orang juga gengsi kalau harus nebeng dengan orang lain.

Tapi kenapa harus malu? Toh selama tujuan kita sampai di kantor tepat waktunya kenapa juga harus malu untuk bilang nebeng dengan teman yang memang satu arah?!

jakarta-traffic

Coba saja perhatikan. Banyak sekali kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalanan Jakarta itu hanya berisikan satu orang saja. Padahal kalau macetnya sudah mengular pasti memerlukan waktu berjam-jam di jalanan. Lantas berapa liter bensin yang terbakar sia-sia hanya menunggu kemacetan itu terburai? Berapa banyak gas emisi yang terbuang percuma hanya demi memenuhi keegoisan para penggunanya?

Kalau saja harga setetes bensin itu bisa disumbangkan untuk kebutuhan pembangunan sekolah di pelosok desa Ripungan, Jogjakarta saya rasa yang namanya buta aksara di sana bisa dientaskan. Tapi kembali  lagi. Satu rupiah saja terasa berat ketika kita berikan secara cuma-cuma tapi akan sangat ringan mengeluarkan ratusan ribu rupiah demi berliter-liter bensin yang dibakar percuma demi bertahan di kemacetan. Ha, Jakartans! We’re kind of selfish people, aren’t we?

Okey, balik lagi bagaimana mengatasi kemacetan demi kelangsungan hidup banyak orang nantinya. Selain nebeng dengan teman yang searah (gak perlu juga sampai rumah kalau memang arah rumahnya berbeda) kita bisa saja mengajukan antar jemput dari kantor. Ini sedang saya usahakan, merayu pihak kantor. Kebetulan sekali banyak rekan-rekan kantor yang berdomisili di Depok, jadi tak ada salahnya juga jika menyediakan satu kendaraan di satu titik yang sudah ditentukan pada jam tertentu.

Saya rasa ini akan mengurangi banyak sekali kendaraan bermotor yang ada di Jakarta. Setidaknya, beberapa orang yang ikut dalam jemputan itu tidak menjadi penyebab kemacetan. Selain itu, para karyawan ini akan tiba di kantor tidak dalam penuh keluhan. Lebih fresh karena bisa beristirahat selama di perjalanan dan pulang tepat waktu sehingga kehidupan berkeluarganya juga terjaga. Kalau sudah begini hasil kerja pun akan maksimal. Happy workers are productive worker, rite?

Ah sulit, Lan!

Ya ada saja yang mengatakan demikian sama saya. Tapi kita tidak pernah mencobanya. Selama ini kita hanya memikirkan kesulitan yang akan dihadapi bukan dijalani sambil memikirkan solusi dari masalah yang mungkin terjadi. Kenapa kita tak mau berjuang demi sebuah kelangsungan hidup yang lebih baik? Dan menyerah pada sebuah pemakluman yang akhirnya mendarah daging kesemua orang?! Ini harus dipatahkan!

Hmm..  ini hanya sekelumit keluh kesah saya siang ini sepanjang perjalanan tol dalam kota menuju Kemang yang terasa tak pernah sampai pada tujuannya. Kamu yang punya solusi lebih baik, mungkin bisa berbagi di sini! 😉

Tol dakota, 6 Desember 2012

*foto pertama di ambil di sini dan foto kedua diambil di sini

Jakarta Kota Metropolitan (?)

“Lenggak lenggok Jakarta
Bagai pinggul gadis remaja
setiap pandangan slalu menatap..
penuh harapan menjamah..

Lenggak lenggok jakarta
suka membuat orang lupa..
terpikat oleh manisnya cerita mudah jadi jutawan di sana

Ribuan mimpi-mimpi ada, menggoda mereka,
jangankan cari surga dunia
neraka dunia pun ada..

Lenggak lenggok Jakarta,
Jadi simbol maju usaha..
Tak kurang banyak juga yang kecewa,
akhirnya Cuma buang waktu saja..”

Lagu yang dibawakan oleh Andi Meriem Matalatta beberapa tahun lalu ini terdengar ceria sepintas, tapi kalau ditilik dari liriknya, ada hal-hal yang cukup miris terjadi di Jakarta. Tempatnya menggapai impian tapi juga sebagai tempat terjerumus ke lembah kelam.

Haha.. mungkin kata-kata saya terlalu berlebihan. Tapi buat saya itu yang sebenarnya. Di Jakarta segalanya bisa didapat dengan mudah. Segala bentuk usaha ada di Jakarta. Semua pusat hiburan ada di Jakarta. Seolah-olah semua mengerucut pada Jakarta. Ingin sukses? Ya ke Jakarta. Ingin kaya? Ya di Jakarta. Itu jadi sebuah doktrin yang ditanamkan setiap orang di kepala mereka. Sepertinya.

Padahal kalau pemerataan pembangunan terjadi di kota besar hingga pelosok desa yang tersebar di Indonesia, penumpukan penduduk saya rasa tidak akan terjadi di Jakarta. Dan kemacetan yang menjadi momok hidup di Jakarta pun bisa dihindarkan.

Sebagai salah satu syarat menjadi kota metropolitan, Jakarta sepertinya sudah memenuhi standar yang diperlukan. Pusat industri, perdagangan, hiburan dan pendidikan ada di Jakarta. Tapi untuk urusan transportasi, masih banyak sekali yang harus dibenahi dari Jakarta.

Kalau menilik dari kota-kota besar di negara maju macam di benua Amerika dan Eropa sepertinya Jakarta masih jauh dari sebutan kota metropolitan. Mungkin jangkauannya akan saya persempit sedikit. Bandingkan saja dengan negara tetangga, Singapura.

Negara kecil yang sangat maju dunia industrinya, bisnis, hiburan, sampai dengan transportasinya. Di sana, kendaraan pribadi sangat jarang berseliweran di jalanan. Motor tidak akan menyemut tiap lampu merah menyala. Tapi di Singapura justru padat di transportasi umumnya. Meskipun padat, naik transportasi umum tetap saja menyenangkan. Bersih, cepat, nyaman. Itu sudah.

Kebutuhan transportasi umum di kota besar di negara maju sangatlah tinggi. Hanya ada tiga jenis transportasi umum yang menopang sarana transportasi, yaitu MRT, Bis, dan taksi. Meskipun begitu kondisi jalan raya tetap nyaman untuk berkendara. Sedangkan di Jakarta, pilihan transportasi umumnya sangat banyak sekali. Belum lagi trayek yang kadang terlampau pendek membuat penumpang harus berganti angkutan beberapa kali meskipun jarak tempuh pendek.

Masyarakat yang belum sadar betul dengan kepemilikian transportasi umum juga menjadi seenaknya saja saat berkendara. Padahal, tidak hanya kita yang memakai, masih ada orang lain lagi yang menggunakan kendaraan umum tersebut. Mungkin kerabat, saudara, sahabat, atau anak kita yang akan menggunakannya. Kalau tak nyaman, pasti keluhan juga mampir di telinga kita bukan?

Jadi , saya rasa Jakarta belum bisa menyandang kota metropolitan selama transportasi umum belum bisa layak pakai dan melakukan perjalanan tidaklah menyenangkan.. Metropolitan di mata saya tidak hanya dinilai dari kesuksesan bidang usaha di kota besar tapi harus juga diperhatikan sarana transportasinya.

Dan kalau saya ditantang untuk keluar dari Jakarta dan bertahan hidup di daerah, saya tidak pernah takut. Saya pernah hidup di daerah, mencari nafkah di sana dan bersosialisasi dengan mereka.

Takut kehilangan rejeki?

Saya tidak pernah takut kehilangan rejeki, karena rejeki sudah diatur sama si pemilik hidup. Klise? Memang. Tapi saya yakin, dimanapun kita berada, kita bisa bertahan hidup kok. Jakarta bukan segalanya, dan kenyamanan bisa didapat dimana saja. Dan jika kita mau berkontribusi untuk daerah lain di Indonesia, saya rasa akan banyak sekali kota-kota maju yang akan muncul selain Jakarta. Dengan catatan, sejarah dan budaya daerah tersebut jangan terkikis dengan sikap (sok) metropolis pendatangnya. Itu saja.

Jakarta, 7 Desember 2012, 09.49
*hanya sekelumit opini resah saya selama di perjalanan menuju kantor pagi tadi

Everyday is Voucher Day!

Apa yang terlintas di kepala ketika mendengar kata ‘voucher’? voucher belanja? voucher menginap? atau voucher makan? Saya yakin, semua itu langsung ada di kepala kita. Siapa sih orang yang akan menolak jika diberikan voucher? Setiap mendengar kata ‘voucher’ pasti mata langsung berbinar dan rasa penasaran menggayut ingin tahu, voucher apa gerangan?

Untuk kali ini, saya tidak pernah berminat secuil pun dengan voucher. Bahkan jika harus dibayar dan diberikan secara cuma-cuma. Tidak, terima kasih!

Ini dia voucher yang saya maksud.

Voucher terlambat masuk kantor!

Ini adalah salah satu kebijakan kantor yang baru berlaku per 22 Oktober lalu. Jam kantor yang dimajukan menjadi pukul 8 pagi ini memang dikeluhkan oleh banyak pihak. Terlebih untuk divisi saya. Memang sih akhirnya jam kerja nya hanya sampai pukul 5 sore, tapi toh tidak banyak perubahan yang berarti jika jam pulang dimajukan.

Ironisnya, setiap yang terlambat akan mendapatkan surat sakti berupa ‘voucher’ yang apabila sudah tiga kali akan mendapatkan doorprize berupa Surat Peringatan alias SP dari pihak HRD. WOW!

Agak-agak aneh peraturan baru ini. Sejujurnya, saya dan kawan-kawan di Brand Development memang agak susah yang namanya datang pagi. Maklumlah, kami ini para pencinta dunia malam ketimbang pagi. Hehe.. *bukan alasan woy!*

Saya bukan morning person. Meskipun sudah datang sejak pagi, otak belum bisa tune langsung. Biasanya saya baru bisa mulai bekerja antara pukul 11 siang atau bahkan sehabis makan siang. Itu waktu-waktu riskan saya untuk bekerja. Jadi maaf kalau ada bbm atau sms yang lama sekali terbalaskan diatas jam makan siang. Hihihi..

Lha terus kalau pagi saya ngapain? Eits tenang, saya dan teman-teman biasanya akan diskusi pagi tentang banyak hal. Tentang ide-ide apa yang akan dikembangkan nantinya atau bahkan info-info terbaru seputar dunia digital dan juga design. So, saya ngga nganggur-nganggur banget laaah! Hihi.. *ditoyor HRD*

Jadilah, tanggal 22 Oktober lalu itu hari pertama diberlakukannya peraturan ini. Pagi-pagi benar saya sudah bergelut dengan angkot dan kemacetan jalan raya Bogor. Saingan saya dalam memperebutkan angkot tercinta ternyata bukan hanya sesama pekerja saja, tapi juga dengan pelajar! Gilak, rebutannya ngalahin orang-orang yang ambil uang pensiunan!

*emang para mbah-mbah itu kalau ambil uang pension rusuh ya?*
*ditimpuk sandal*

Belum lagi ada pelajar yang melambaikan uang 5ribu demi dapat diangkut oleh angkot sok jual mahal itu. Beuuhh…saya harus pasang strategi nih!

*berniat pasang foto JUPE* *plaaak!*

Volume kendaraan di Senin pagi itu ibarat rindu pelaut pada daratan. Semua berlomba untuk segera sampai, semua memadati jalan raya, klakson saling berteriak nyaring, tidak ada yang mau mengalah. Apalagi ketika sebuah kopaja dengan lancangnya memotong perjalanan sebuah sedan hitam mulus seperti baru saja keluar dari show room. Umpatan tentu saja tak terelakkan. Saya? Tidur!

Sampai di pemberhentian pertama. Huff.. peluh sudah membanjiri kening dan baju, hingga dalemannya. Sudah tak peduli lagi riasan muka masih tampak atau sudah luntur bersama dengan keringat yang mengalir deras.

Perjuangan saya belum berakhir. Kopaja tercinta belum tampak batang persenelingnya *ngeri bener kalau batang perseneling keliatan*. Padahal ribuan jemaah haji puluhan orang sudah harap-harap cemas menantikan kedatangan sang pujaan hati, si kopaja tua.

Saat kopaja datang, olala.. ternyata sudah ada generasi tarzan bergelantungan di tiap pintunya. Tak tanggung-tanggung ada enam orang tengah melatih otot lengan mereka. Saya? Memilih menunggu saja. Saya masih belum berniat jadi binaragawati dan bersaing dengan para tarzan dadakan ini.

Setelah menunggu, akhirnya kopaja lainnya tiba. Tak kalah sesak dengan sebelumnya tapi masih lebih ‘manusiawi’ sedikit, meskipun beda kadarnya hanya 10 persen saja. Paling tidak saya tak perlu jadi monyet kopaja pagi itu.

Perjuangan lagi-lagi belum berakhir. Jalanan padat merayap sejak masuk pintu tol hinggaaaa….Kemang Raya! *pingsan*

Pasrah, hanya satu-satunya cara selain doa menghadapi jalanan seperti ini. Turun dari kopaja dan cari alternatif lainnya? Hmm..saya enggan latihan tarik urat dengan tukang ojek di pangkalan yang bersikukuh memasang tarif yang bisa merenggut kejayaan makan siang saya nantinya.

Iya, biasanya tukang ojek itu sok jual mahal kalau lagi dibutuhin. Jadi, saya hanya bisa bersabar sambil sesekali menahan nafas karena lelaki di samping saya sepertinya lupa membubuhi ketiaknya dengan roll on sebelum berangkat. *rasanya pengen pingsan lagi*

Voila.. saya tiba! Belum, belum tiba di kantor. Baru sampai di perempatan jalan. Saya harus berjalan kaki sekitar 200 meter untuk sampai di lokasi. Dan setibanya di depan kantor, muka saya sepertinya sudah tidak keruan. Terlihat sekali dari wajah Pak Sunarto, satpam kantor yang terpekik kaget lihat wajah saya. *kayaknya letak hidung sudah pindah entah dimana*

Dan tiba saatnya finger print. Jeng..jeng! Saya tiba dikantor pukul 8.45 menit. Terlambat empat puluh lima menit dari jadwal masuk seharusnya. Wohoooo!!!! *salto*

Jadilah saya mendapatkan voucher berhadiah berlibur ke Bali seumur hidup yang harus ditanda tangani oleh direktur marketing. (kenapa direktur marketing? Oh, don’t ask me why, karena sampai sekarang saya juga belum tahu alasannya).

Obrolan di ruangan Mr.Ganteng:

Me : “Pak, saya mau minta tanda tangan untuk ini (sambil menyodorkan sebuah voucher berhadiah)”

Him : (tersenyum) “Wah, telat kamu lama banget. Memang berangkat dari rumah jam berapa?”

Me : “Umm..kalau ngga salah ingat, jam 6 pagi pak” *nyengir lebar, garuk-garuk kepala*

Him : “Ha?! Okey, jadi perjalanan kamu hampir 3 jam ya? Ckckck.. kalau gini sih saya gak bisa nyuruh kamu berangkat lebih pagi ya.. kecuali kamu mau buka tenda di depan kantor!” *tertawa geli seolah habis mengusulkan Timbuktu pindah ke Nusakambangan*

Me : “…” (heee..bapak lucu deh, boleh dicubit-cubit dikit gak? ßtentunya hanya di dalam hati) *digetok*

Dan akhirnyaaaaa… sebuah voucher dengan dibubuhi tanda tangan Mr.Ganteng pun sudah dikantongi tinggal diberikan ke HRD. Hahaha… *tertawa puas penuh kemenangan*

***

Hari-hari berikutnya, saya tetap mendapatkan voucher berhadiah. Dan setiap hari pula saya harus mengejar Mr.Ganteng untuk minta tanda tangan yang susahnya ngalahin minta tanda tangan artis saking sibuknya dia. Serius deh, ini masih ada dua lagi yang masih butuh tanda tangan. Padahal ini voucher minggu kemarin. Hufff…

Dan tiap pagi pula ibu saya dengan eksisnya ngabsen  saya dengan meng-sms demikian:

“Gimana dek, hari ini dapet tiket konser apa? Hahaha…”

Bah! Dikira saya asoy geboy kali ya dapat voucher ini. Pengen sih bilang, kalau pagi ini saya dapat tiket menuju hatinya… *blushing* *curcol woy!* Huff.. kita lihat, sampai kapan voucher ini akan berlaku. Sebulan. Dua bulan. Atau bahkan setahun? Entahlah..

Tapi menurut saya pribadi, hal ini sangat tidak efisien. Setiap manusia yang bekerja, mereka sudah punya tanggung jawab pada diri sendiri dan perusahaan masing-masing. Meskipun saya datang siang, saya tahu harus pulang pukul berapa.

Sayangnya, ketika keberadaan di kantor lebih dari jam kerja hal itu tidak lantas jadi bahan pertimbangan perihal keterlambatan. Semua dipukul rata. Itu dianggap loyalitas. Lantas, bagaimana dengan kondisi pekerja itu sendiri? Bukankah happy workers are productive workers? Kalau sudah terkekang masalah ini, apakah akan terus jadi happy workers? Entahlah, saya masih mencari jawabannya. Tapi sejauh ini, I do really enjoy with what I’m doing now! ^^

Jakarta, 31 Oktober 2012
Nonayangmasihmeratapivoucherdimeja

Perjalanan Singkat Malam Ini

Hari ini saya pulang sedikit lebih larut dari biasanya. Padahal hari ini pekerjaan sedang tidak menumpuk, tapi saya sedikit malas untuk beranjak dari kursi panas ini (hmm.. tampak seperti mas Tantowi saja). Yah, ini karena tuntutan teman-teman untuk mengupload foto pernikahan sahabat semasa kuliah dulu, Leman.

Yah, dengan sedikit kesabaran dan emosi tingkat tinggi melihat foto-foto yang diupload tak kunjung berhasil semakin membuat saya malas beranjak. Huufff!!! Perbincangan dengan seorang teman yang ‘ngotot’ ngajakin saya nonton KCB2 makin bikin emosi(Ketika Cinta Bersambung, hehe sorry ndud) yang jelas-jelas KCB satu saja saya tak menyaksikannya. Gimana mau nonton yang dua?! Ada-ada saja..

Mata lelah dan akhirnya berhasil juga foto-foto ini saya upload. “Waktunya pulang!!” Beres-beres meja dan siap meluncur. Sayang hari ini saya tidak bercengkrama besama rekan sejawat saya di per75an.. Sena. Dia sudah pulang lebih dulu karena sedang mogok bicara! (sariawan plus sakit gigi, ada yang lebih parah?)

Jalanan dari Buncit ke Ragunan masih saja padat, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. Biasanya jalan sudah sangat lengang, tapi kali ini padat merayap! Yak, lengkap sekali malam ini.. Macet ditambah gak ada temen untuk berceloteh riang.

Disaat saya sedang melamun, tiba-tiba ada tiga orang yang naik bis. Betapa kagetnya saya melihat orang-orang ini. Kalau diibaratkan film kartun, mungkin mata saya langsung berbinar-binar saat melihat mereka dengan hujan bunga sebagai backgroundnya (Yak, cukup lebay!). Mereka adalah para pengamen jalanan idola saya. Mungkin beberapa dari teman saya sudah pernah mendengar (banyak) cerita tentang pengamen jalanan ini. Betapa saya merindukan si pengamen jalanan ini, ia sudah membuat saya ‘jatuh hati’ sampai detik ini.

Jalanan sudah kembali ‘normal’, deru kendaraan diluar tak membuat saya hilang konsentrasi mendengarkan alunan merdu gesekan biolanya(duh, saya tak pandai mengungkapkannya). Seperti biasa dia membawakan lagu-lagu (hmm.. instrument lebih tepatnya) dari The Corrs. Dan cuma satu kata yang terlontar “KEREN!!!!” Tiba-tiba saja saya merindukan suasana MACET TOTAL di kawasan Pejaten, hanya demi mendengarkan permainannya lebih lama! Huh, ironis!

Kalau sering dengar kalimat “don’t judge the book by its cover” mungkin inilah yang dimaksudkan. Penampilan yang tak jauh dari kata ‘preman’ ini memang membuat orang berpikir dua kali untuk mendekatiya. Sekujur tubuh yang penuh dengan hiasan dan tulisan alias tato, rambut panjang yang digimbal ini selalu diikatnya tak pernah rapi.

Tapi orang ini-yang saya sebut ‘Bang G’-telah membuat saya jatuh hati dengan gesekan biolanya! Tak banyak bicara, namun setiap alunan merdu biolanya mengungkap berjuta makna (halah..lebay mode ON). Kalian yang pernah naik 75 dan bertemu dengannya pasti akan mengatakan hal yang serupa! (pemaksaan ya..) Dan lagi-lagi saya tak bisa mengadakan sebuah wawancara kecil perihal dia dan biolanya. Berhubung panggilan saya untuk segera mengakhiri perjalanan di metro ini. (Pals, u should pay 4 this!)

Jakarta, 19 Oktober 2009 (metro 75 Blok M-Ps.Minggu)
Septia Wulan

*foto dari mbah google

Hampir Aja Diculik!

Entah ada apa dengan hari itu, Jumat kalau saya tidak salah ingat tanggal 22 Mei . Semua pekerjaan sudah selesai lebih cepat dari perkiraan saya, bahkan saya sempat pergi menghibur diri di sebuah gedung pertunjukkan di GI tentu saja dengan rekan kerja saya.

Tak perlu mengantri, tak perlu memakai uang cash kami menggunkaan fasilitas yang sudah diberikan oleh pihak pengelola gedung pertunjukkan (bukan promosi nih!) Tak perlu menungu lama saya sudah berada di dalamnya dan menikmati film yang disajikan. Tapi saya tidak akan membahas tentang film ini, justru kejadian sesudah acara menonton berlangsung yang akan saya ceritakan.

Kira-kira begini ceritanya…

Setelah berpisah dengan rekan saya di Bundaran Hotel Indonesia, saya langsung naik metromini jurusan Tanah Abang-Ps.Minggu (640). Suasana bus tidak terlalu ramai, saya memilih duduk di pojok dekat dengan jendela. Suasana jalan sore itu cukup padat merayap, yang akhirnya membuat saya asyik ngoprek-ngoprek HP dan tenggelam dalam ‘dunia saya’.

Jalanan yang memang padat karena hari Jumat, harinya kongkow se-Jakarta membuat saya hanya mampu menghela nafas dan berkali-kali berdecak gelisah. Lelah dan sudah benar-benar ‘death style’ alias mati gaya akhirnya jatuh terlelap.. zzzzz… (ini akibat tidak menggunakan operator ‘anti’ mati gaya,hehehe)

Ditengah asyik-asyik nya mimpi (untungnya gak ngiler, sluuurrp!), samar-samar saya mendengar orang ribut-ribut tapi saya abaikan karena mata ini agak sedikit sulit diajak kompromi. Sampai akhirnya saya merasa ada yang ‘membisikkan’ telinga saya dan membuat saya terbangun juga(akhirnya..).

Anehnya, semua penumpang sudah tidak ada.. Waduuh!! Saya mulai terjaga.. Entah karena panik, bingung, atau apa tiba-tiba saja saya lose in direction alias ‘kayanya nyasar’. Sambil berusaha menenangkan diri, saya panggil kondekturnya.

“Bang, penumpangnya pada kemana?”, kata saya sambil berusaha tetap tenang dan biasa saja.

Dengan tampang bingung sambil mengulum senyum si Abang dengan santainya menjawab “Lah neng, udah pada turun barusan. Kan tadi abang oper, si neng duduk dimana kaga keliatan sama Abang,” terang si abang kondektur sambil cekikikan.

“Apaaaaa?! #&^%@&*%#*%!!!!!” (Kaga keliatan?! maksud loooo????!!!!)

Tanpa pikir panjang lagi saya langsung turun dari mobil, untung saja mobil berjalan belum terlalu jauh dari tempat semula. Masih sambil berusaha menenangkan diri, tiba-tiba si abang berteriak,” Neng, hampir aja diculik jadi istri Abang neng!” si Abang pun berlalu sambil tertawa terbaha-bahak puas tanpa peduli saya yang masih shock ditinggal di metromini sendirian dan makin shock saat si Abang menawarkan niat baiknya ‘menculik’ saya. *sigh*

Saya hanya terpaku mendengarnya! (Siyaaaaaallll!!!)