Aku, Kamu, atau Status Kita?

Tak ada pesta yang tak pernah berakhir. Sebuah kalimat sederhana yang terus menerus terngiang di kepalaku ini (bahkan untuk kawanku yang buang hajat saat ini, ah sial dia telah membuyarkan pikiranku!).

Bukan hanya hubungan pernikahan saja yang bisa berakhir (perceraian ataupun kematian), hubungan sebatas pacaran juga bisa berakhir. Pun dengan persahabatan. Namun yang terakhir ini bukan dalam konteks negatif tentu saja.

Tak peduli sedekat apapun hubungan ku dengan sahabat-sahabatku, sebuah pernikahan pasti (dan telah) mengubah banyak hal. Apa yang bisa kulakukan saat ini selain mengikhlaskan dan turut bahagia?

Sebelum membaca terlalu jauh, tolong jauhkan pemikiran mu tentang aku yang iri akan kebahagian mereka. Tidak tentu saja! Tidak ada rasa iri sedikitpun terbersit untuk kebahagiaan dia, mereka, sahabatku. Untukku, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan ku juga. Tak sedikit sahabatku yang menikah dengan pacar yang dulu memang aku jodohkan. (Alhamdulillah)

Dulu, kali pertama seorang sahabat menceritakan perihal rencana pernikahannya, setitik kristal bening jatuh membuat garis mengkilap di pipiku. Ini bentuk bahagiaku.

Satu persatu sahabatku berpamitan untuk menikah. Aku tetap antusias, tetap senang, tetap gembira. Tapi tidak dengan hatiku. Ada dingin yang menelusup perlahan namun pasti menyergap tiba-tiba. Membuatku kelu, membeku terpaku dan aku sulit untuk mengutarakannya.

Sekali lagi kutegaskan, ini bukan rasa iri!

Aku hanya merasa kehilangan. Kehilangan waktu bersama dengan mereka. Kehilangan tawa canda yang biasanya kami habiskan bersama. Mungkin aku egois, dan yang yang kupikirkan hanya keakuanku saja. Sampai akhirnya aku menghilang karena merasa terabaikan. Namun  itu semua ternyata salah. Bukan itu seharusnya seorang sahabat yang baik. Aku ternyata belum menjadi seorang sahabat yang baik untuk mereka.

Sedihku makin menjadi ketika seorang sahabat enggan menceritakan perihal kebahagiaannya menemukan belahan jiwanya. Hanya karena dia takut melukai hatiku hanya karena aku belum berpasangan saat ini. Oh Tuhan, sebegitu egoiskah diriku sampai-sampai sahabatku sendiri enggan untuk berbagi kebahagiaan hanya karena takut aku terluka?

Dan hari ini, aku mendapatkan kabar bahagia kembali. Salah seorang sahabatku akan menikah dalam waktu dekat. Perasaanku campur aduk (aku hanya berusaha jujur). Hanya mempertanyakan, “akankah aku kehilangan waktu bersamanya juga?”

menggenggam bukan mengekang namun menguatkan

  Dear you, saat aku menuliskan ini tolong buang jauh-jauh pemikiran negatif mu. Aku hanya berusaha  jujur dengan diri sendiri, dan tentunya dengan mu. Jauh di lubuk hatiku, bahagia ku hanya untukmu. Kuselipkan doa semoga segala persiapanmu dimudahkan. Dan kuyakin doa mu pun terangkai untukku. Semoga tidak ada yang berubah diantara kita. Cukup statusmu saja. Dari Nona menjadi Nyonya..

 trully yours

 

29Juli2012

Advertisements