Maafin Kak Fita

Dear Tifa, sedang apa kamu di sana? Aku di sini baik-baik, meskipun terkadang angin dingin masih suka iseng mampir di tubuhku. Kalau sudah begini, hanya kerokan maut Mba Ira yang bisa menghilangkannya. Tapi apa daya? Mbak Ira sudah kau sita dulu kala, memaksaku mengalah demi kamu, si bungsu kesayangan Ibu.

Kamu tahu? Sejak kehadiranmu di rumah, suasana rumah jadi ramai. Tak ada lagi sepi yang dulu sering menghinggapi aku yang selalu sendiri. Bahkan Ibu menghentikan aktivitasnya di kantor hanya karena kehadiranmu. Ah, betapa aku menyayangimu yang telah membawa pulang Ibu.

Waktu berganti, hari berlalu, setiap tahun usia kita pun bertambah satu. Kau tumbuh jadi gadis kecil nan lucu dan masih kesayangan Ibu. Tak apa, karena aku juga menyayangimu. Tawa ibu kembali sejak kehadiranmu. Tawa yang telah lama sekali hilang sejak Ayah pergi dan tak pernah kembali.

Kamu tahu Tifa, Ibu jadi pemurung sejak itu. Ia banyak mengurung diri di kamar dan menjadi ‘bisu’. Aku hanya ditemani Mbak Ira yang selalu mengusap rambutku dan mengatakan kalau Ibu hanya lelah karena bekerja dan menjagaku.

Aku ingin sekali segera tumbuh besar. Agar Ibu tak lagi lelah menjagaku dan tak perlu menjadi ‘bisu’ di kamar pengap, tempat Ayah sering menghabiskan waktu. Tapi sepertinya waktu tak ingin aku cepat menjadi dewasa, ia inginkan aku untuk beranjak dewasa perlahan, sesuai jadwalnya.

Untung saja kamu datang segera, dan menghadirkan tawa ceria seperti dulu kala. Meskipun sikap Ibu tak lagi sama, karena tak ada sapa manis saat ia pulang kerja. Aku tak pernah tahu, apa ada yang salah dengan sikapku? Yang aku tahu hanyalah Ibu terlampau mencintaimu.

Hingga suatu hari Ibu berpamitan padaku untuk pergi bersamamu dan Mbak Ira beberapa waktu, meninggalkanku di salah satu kerabat dekat Ibu. Aku marah padamu! Kamu mencuri Ibu! Padahal kamu tahu aku begitu menyayangimu. Gara-gara itu, aku membuat permintaan pada Tuhan untuk segera menjemputmu dan mengembalikan Ibu padaku  entah bagaimana caranya.

Dua bulan berlalu, Tuhan menjawab doaku tapi tak mengembalikan Ibu ke pelukku. Kata orang, Ibu, kamu, dan Mbak Ira tersapu air laut di sana. Tak mungkin pulang kembali ke rumah kita. Maafkan Kak Fita ya, karena dulu pernah menginginkan kamu untuk dijemput Tuhan. Setelah kamu benar-benar dijemput, aku malah kesepian. Tak punya harapan lagi untuk bertemu kamu. Tifa, jaga Ibu dan Mbak Ira baik-baik di sana ya. Aku percaya sama kamu, dan kalau bertemu Ayah nanti sampaikan peluk kangenku padanya. Hmm..suratku sampai di sini dulu ya, aku harus kembali bekerja. Majikanku tak bisa melihatku menganggur sebentar saja.

 

Salam Kangen,

Kak Fita

 

*ini merupakan surat ke-3 dalam #30HariMenulisSuratCinta, sebuah keluh kesah seseorang yang saya kenal.

Untuk Kamu Dibalik Akun Itu

Hai..

Apa kabarmu di sana? Aku tahu, kamu pasti sedikit terkejut menerima sebuah surat yang dikirimkan oleh tukang pos di PosCinta. Sebelumnya aku minta maaf karena telah lancang menuliskan sebuah surat untukmu. Kamu tak mengenalku, pun aku yang tak mengenalmu dulu. Kini aku hanya mengenalmu lewat beberapa kicauan yang tak melulu terpantau oleh mata empatku.

Beberapa kali aku melihat nama akunmu berseliweran di linimasaku. Tapi tidak lantas menggelitik rasa ingin tahuku mencari tahu tentangmu lebih jauh. Beberapa kali kawan kicauku berbincang denganmu melalui media itu, pun tak menggerakkan jemariku untuk mencari tahu siapa kamu dibalik akun itu.

Hingga akhirnya pekan kemarin, aku menemukan kicaumu yang dibagikan oleh seorang kawanku di dunia maya. Ternyata kamu adalah salah satu ‘juru kunci’ di salah satu kegiatan menulis yang aku pantau dulu sekali. Disini, rasa penasaranku mulai tersulut. Mengundang jemariku untuk bisa mengikuti cericaumu yang lain. Setiap harinya.

Banyak betul karya yang sudah tercipta lewat pikiran dan jemari yang menari lepas tak terbatas dan terangkum dalam Bianglala Kata. Aku baru tahu. Cerita-ceritamu membuat imajiku berlari liar kesana kemari dan enggan untuk berhenti, padahal malam sudah beranjak pergi.

Untukmu, di balik akun itu. Inginku hanya satu, tak perlulah beranak pinak keinginan itu. Sederhana saja, bolehkah aku mengenalmu? Berbagi cerita bersama dan membebaskan imajiku untuk berlatih menarikan jemari lebih baik lagi. Semoga kau berkenan memenuhi pintaku. Dan akhirnya aku ingin berterima kasih padamu, pemilik akun @momo_DM yang sudi meluangkan waktu membaca suratku.

 

Salam hangat,

 

Nona, si pengunjung bianglala kata

 

*Tantangan #30hariMenulisSuratCinta hari kedua, menulis surat untuk selebtwit. Bingung memilih selebtwit, saya memilih @momo_DM sebagai penerimanya. Buat saya dia itu selebtwit :D. Itu sudah.

Sedikit Pesan

Dear Mas Bro’ @herudiy

Sebelumnya, jangan bayangkan surat cinta ini penuh puja dan puji untukmu. Tolong jangan bayangkan! Dan biarkan istrimu turut membaca surat ini, mungkin sambil menikmati secangkir kopi dan juga teh hijau bersama. Entah dimana kalian ketika membaca surat ini nanti.

Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Seminggu berlalu tanpa terasa untukku, tapi kuyakin sangat terasa berbeda sensasinya untuk kalian. Hehe..

Sepertinya baru kemarin kalian berkenalan, berjalan-jalan bersama, dan  memutuskan untuk menjalin cerita cinta hingga pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Sebuah dongeng nyata, dengan kalian sebagai tokoh utamanya. Dua bulan sebelum pernikahanmu, aku memekik kaget. Betapa cepat waktu berlalu, dan akhirnya hari besarmu akan segera tiba. Semua berlalu tidak terasa!

Umm.. aku hanya ingin sedikit berpesan padamu (maaf bukan maksud sok menjadi orang tua tentunya). Tolong jaga baik-baik sahabatku (aku tahu kamu mampu), jaga hatinya agar tidak terbentur dan membiru (aku tahu kau punya segudang warna untuk itu), dan hangatkan ia ketika dinginnya suasana membekukan hatinya. Ah, kurasa kau sudah khatam untuk urusan yang satu itu.

O ya, ingatkan ia untuk tidak menguliti jemarinya. Kecup saja ia jika masih saja melakukan hal yang sama, karena sepertinya menasehatinya tidak mempan kulakukan dulu kala.

Nah, tak banyak pesanku untukmu bukan? Selamat berbahagia untukmu, untuk ia, kalian berdua. Hujan di saat akad kemarin semoga pertanda hujan berkah di perjalanan pernikahan kalian kedepannya. Dan terakhir semoga kebahagiaan kalian makin melimpah dengan kehadiran si kecil nantinya. Semoga saja aku mendengar kabar bahagia itu segera.

Salam hangat,

Nona yang menyayangi kalian berdua!

Jakarta, 14 Januari 2013
Penerima surat ini adalah seorang kawan sekaligus suami dari sahabat saya. Namanya terlintas pertama kali saat ingin menulis surat. Sedangkan surat untuk istrinya, sudah terlebih dulu terposting di ‘rumah’ ini. Sila untuk dilihat di sini.

Surat Untuk Nelli

meandnelli

Tak terasa, hari yang paling kamu tunggu akan segera datang. Cukup satu tangan saja untuk menghitung mundur hari besarmu. Hari yang selalu kamu bicarakan dulu sekali. Hari yang sering kita jadikan obrolan saat petang merayap datang di sabtu malam sambil berbincang-bincang layaknya orang pintar. Yaa, kita memang pintar bukan? Hehe

Tiba-tiba saja aku mengenang banyak hari yang kita lewati bersama. Mungkin benar kata orang, wanita memang senang menyimpan kenangan. Tapi buatku, kenangan ini memang layak untuk disimpan dan dibuka kembali suatu hari nanti. Sedangkan aku, memilih sedikit membukanya hari ini.

Mungkin aku akan sangat merindukan hari-hari dimana kita selalu menghabiskan Sabtu malam bersama. Bukan malam minggu yang banyak dinanti setiap pasangan. Sabtu malam kita, membicarakan hal-hal paling happening saat itu atau hanya sekedar diam dan saling mendengarkan.

Cerita senang, tawa bahagia, gundah di hati, atau bahkan duka yang sering kita lewati tentu akan selalu jadi momen paling kurindukan dari sekian banyak kebersamaan kita. Mungkin aku terdengar seperti orang yang patah hati. Tapi aku tidak merasakan itu semua. Kehilangan mungkin, tapi sedih? Tentu itu tak aku rasakan.

Terlalu banyak cerita terpilin diantara kita, dan terlalu sulit untuk aku ceritakan kembali satu-satu. Semuanya sudah terekam manis di sini. Di hati. Sebentar lagi, akan ada ksatria manis yang akan menjagamu. Tandanya, tugasku menjagamu sudah selesai. Tapi, peranku sebagai sahabatmu tentu tidak akan pernah selesai sampai kapanpun.

Beberapa hari lagi, statusmu sudah berubah. Bukan lagi sebagai Nona Guru, tapi akan berubah menjadi Nyonya Heru. Tak banyak pesan yang kuberikan untukmu, hanya doaku satu semoga kamu bahagia selalu. Membina keluarga yang selalu mendapatkan restu dan diberkahi anak-anak yang lucu. Baik itu Kama atau pun Cakra, siapapun nama mereka nantinya.

Selamat berbahagia, kamu! Doaku selalu teriring sejak dulu, kini, dan nanti… Jadilah istri dan Ibu yang selalu membanggakan untuk keluargamu. Dan tetap jadi sahabat kecilku yang selalu bisa kuandalkan setiap waktu. Meski fisik tak lagi bisa bertemu selalu.

 

Dari aku yang selalu menyayangimu..

 

Nona Wulan 🙂

Surat Balasan

Malam perlahan beranjak pergi, meski mentari pagi belum juga sempurna menyemburkan warnanya. Suara kokok ayam tergantikan dengan alunan sangar suara Jared Leto, vokalis 30 Seconds to Mars yang memang kugandrungi sejak dulu. Biasanya sih, bukan mata yang langsung terbuka justru mulutku meracau melafalkan liriknya. Tentu saja dengan suara setengah serak yang lebih mirip banci kaleng ketimbang merdu suara orang berdendang.

Sudah dua kali putaran lagu berkumandang, barulah aku sadar betul betul. Aku hanya bilang aku sadar. Bukan bangun dan menggerakkan tubuh sekedar olah raga alakadarnya. Kuraih telepon genggamku yang  masih asyik melantunkan ‘Closer to Edge’ dengan lantangnya.

Dismiss

Alarm sudah dimatikan, dan aku berusaha mengumpulkan seluruh nyawa yang masih bermain di awang-awang enggan sekali berkumpul bersama. Kedap kedip merah di sudut kanan atas telepon genggamku menandakan ada sebuah pesan yang kuterima.

Beberapa pesan singkat dari Allen, makian panjang karena kutinggalkan ia tanpa pamit untuk tidur semalam. Dan beberapa pesan dari Ayah, sekedar mengingatkanku untuk tak lupa makan dan segera mengirimkan foto calon menantu yang sudah didambakannya. Haha.. Ada-ada saja pikirku!

Lima buah surat elektronik dari rekan kantorku enggan kubuka segera. Aku tak ingin merusak pagi manisku plus ritual peregangan dengan memutar otak menjawab segala hal berbau urusan pekerjaan. Aku hanya ingin menikmati beberapa detik ‘me time’ dengan membangun sebuah bayangan manis untuk kejadian seharian kedepan. Aku aneh? Memang! Buatku, ini penting karena dengan begini membuatku selalu berpikir positif atas apa yang terjadi nanti. Ya, setidaknya aku berusaha untuk selalu positif memandang segala hal. Hehe..

Sampai aku menemukan sebuah surat di kotak postman pat-ku.  Surat dari alamat yang sudah tidak asing untukku. Kubaca perlahan, kutelusuri setiap kata-kata yang terangkai manis untukku. Ini seperti bukan ia yang mengirimkannya. Aku terlonjak dan rasanya ingin salto saja. *andaikan aku lupa kalau kamarku terlalu mungil bahkan untuk menari-nari kecil*

Tak perlu menunggu waktu lama untuk mengetikkan surat balasan. Aku tak mau peduli dengan detak jarum jam yang sudah mulai menghantuiku saat ini. Sedikit tergesa kuketikkan balasan untuk ia, sahabat jemariku:

Untukmu, Sahabat Ruang Mayaku…

Kamu tahu, aku ingin salto dua kali rasanya mendapatkan surat darimu. Kau benar-benar pengumpul nyawaku yang paling jitu! Bahkan Jared Leto, si tampan itu saja tidak bisa membuatku memanggil satu-satu nyawa yang tengah asyik bermain hingga fajar kadang sudah mulai beranjak siang.

Jemariku masih asik beradu, ketak ketuk ketak ketuk tiada henti sambil sesekali merajut senyum di bibirku yang mungkin masih berbingkai kerak hasil tidur semalam.

Aku tidak pernah menyangka, kau akan mengabulkan semua pintaku. Bahkan untuk membuatkan ku sebuah lagu yang katamu “Ah, malas dan sangat tidak mungkin, Nona!” kala itu. Menurutmu, aku harus membuatmu jatuh cinta lebih dulu sebelum kau membuatkanku lagu. Yang tentunya itu mustahil aku lakukan, karena aku tahu kau tengah dilanda badai patah hati yang teramat dahsyat, dan sepertinya sulit untuk disembuhkan dalam waktu dekat. Hihihi…

Hah! Bayanganku tetiba kembali kemasa dimana kami pertama kali berkenalan. Hanya karena ruang maya dihadapanku, kini aku jadi sahabatnya. Berbagi cerita manis, sedih, dan lucu dalam keseharian. Kisah patah hati ia pun jadi menarik dibawakan karena aku selalu mem-bully dia yang pada akhirnya kami bisa tertawakan semuanya.

Hmm..omong-omong, apakah aku harus salto untuk yang ketiga kalinya untuk pujianmu tentang aku? Hihi..sepertinya kaki-kaki mungilku sudah tidak menapak lantai kamar. Dan kepala ku kian besar membaca deret puji yang kau rangkai di surat ini. Terima kasih. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi selain kata itu.

O ya, aku sudah mendengarkan lagu darimu. Aaaaaaak! Aku menyukainya! Lirik yang kau berikan manis, kau memang sahabat ‘smash’ku alias you know me so well! Very well malah. Haha.. *sudahlah terima saja kalau kau smash mania* Dan aku tidak memintamu mengubah diri menjadi Adam Levine hanya untuk menyaingi seorang Rangga yang kukatakan Kang Mas Bruno. Aku menerimamu apapun kamu!

Hehe, aku sudah bisa bayangkan pasti bibirnya beringsut ketika kukatakan ia Smash Mania. Ia tak pernah suka dikatakan demikian dan aku paling suka menggodanya seperti itu.

Sekali lagi, aku berterima kasih untukmu yang sudah menyediakan hati yang sedemikian luas dan telinga yang senantiasa mendengar semua keluhku kapanpun aku membutuhkan. Dan merangkumnya menjadi sebuah lagu sederhana namun manis adanya. Ternyata waktu tidak menjamin persahabatan itu bernilai atau tidak. Tapi satu hal yang kutahu pasti, kau selalu ada untukku pun aku untukmu. Akan kusediakan hati yang tak kalah luasnya denganmu dan telinga yang mungkin tidak hanya bisa jadi cantelan panci tapi juga dandang besar agar kau tahu aku bersedia mendengarkan semua ceritamu, mulai dari yang remeh temeh seperti cerita warna kolormu hingga masalah besarmu seperti perdebatan dengan Ibumu. Hehe..

Baiklah, aku tak mau mengganggumu dengan cericauku lebih lama lagi. Aku sudah terlambat! Kopaja butut itu pasti sudah menungguku di pangkalan depan. Sampai bertemu di layar mungil, sahabat ibu jari!

Ps: umm..lain kali boleh aku saja yang nyanyi? Umm..suaramu itu bikin laguku jadi galau. Hihihi.. *piss!

Aku pun mengakhirinya. Tanpa terasa sebulir kristal bening membelai pipiku, hangat. Haru membaca surat yang dibuatnya. Tapi jadi terkikik geli kalau kudengar lagi suaranya menyanyikan lagu itu. Lagu manis namun jadi galau ketika ia yang membawakan. Haha… kuyakin dia makin bersungut membaca komentarku ini!

Dan kau dapatkan sepenggal kisah yang mengajarkan banyak hal
Begitu mudah semua berubah, tapi terkadang tidak kita harapkan
Pengalaman membuatmu dewasa, memberikan duka, membilurkan luka, menguatkan kita…
Sekarang hidup tak lagi mudah seperti saat muda dulu..
Pengalaman memaksamu dewasa…
Bila hidup memang berputar adanya, kau akan kembali menari dalam pelukan hujan
Bahkan purnama takkan mengganggumu
Tenanglah tenang, dia pasti kan datang..
Sang senja yang menghantarkanmu petang..

 

Note: Cerita ini merupakan balasan dari postingan ‘Hadiah Ulang Tahun Untukmu‘, dimana kisahnya hanya fiktif belaka 🙂

Teruntuk: Kapten Bule’ si Kawan Timur

Hei, kapten! Iya, kamu. Jangan berlagak bingung, wajahmu tak lagi sedap ketika bingung. Kemana saja dirimu? Menghilang tanpa meninggalkan pesan kepadaku yang dirundung tanya berjuta-juta. Adakah kau merindukanku? Ah, kuyakin engkau terlalu gengsi untuk menyatakan rindumu untukku.

Mungkin memang harus aku lebih dulu yang menghembuskan embun rindu di jejaring sosialmu. Yang sepertinya sudah lama betul tak kau singgahi. Bagaimana tidak, induk laba-laba saja sampai betah beranak pinak di sana. Perlukah kukirimkan sejumput bulu-bulu ayam yang terselip diantara racauanku ini? Agar kau bisa berbenah diri untuk menemuiku, menyambutku di ‘rumahmu’?

Sebenarnya aku ingin marah padamu! Karena telah meninggalkanku dalam benak yang kini bisu. Aku merana, kehilangan kata dan musuh paling setia dalam setiap canda. Tapi sepertinya rindu yang terbendung jauh lebih menguasaiku dibanding amarah yang kini tampaknya mulai luntur. Aku merindu bermain kata denganmu. Berkubang dalam imajinasi dan impian yang dulu seringkali kita pilin bersama saat senja beranjak sirna. Atau kadang kau menyapaku dengan gelisah dan hausmu akan untaian kata yang menghantui beberapa waktu.

Kapten, apa yang kau lakukan kini? Masihkah kau berkubang dengan huruf dan tanda baca? Masihkah kau membiarkan jemarimu menari tanpa jeda? Aku ragu. Tak kutemukan jejakmu yang biasa kau torehkan di dinding ‘rumahku’. Apakah rupiah sudah melenakanmu dan merenggut waktu bermain dengan jemari dan imaji? Atau rutinitas telah mengekang semua luapan kata yang biasanya membanjiri kepala hingga ingin kau bungkam sejenak rasanya? Hmmm… Aku tak mau egois, memburumu dengan beribu tanya dan rasa kesalku. Sebelum kudengar kisahmu, aku ingin berbagi sedikit…umm, mungkin keluhku. Semoga kau berkenan membiarkan matamu bekerja sedikit lebih lama untuk membaca cericauku.

Kau tahu, keseharianku kini bergelut dengan kopaja. Bergelayutan setiap harinya, tidak ubahnya monyet saja! Tak jarang aku bersitegang dengan kernet kopaja yang sering ngeyel memadatkan isi kopaja meskipun kopaja sudah oleng ke kiri. Nyawa manusia tidak ada harganya di dalam kopaja, Kapten! Berdandan cantik pun percuma ketika dihadapkan dengan kopaja. Sia-sia saja rasanya. Peluh sebesar biji jagung berlarian menggayut manja pada wajah-wajah penuh harap dan kecewa.

Belum lagi kalau kopaja tua itu terbatuk-batuk di tengah jalan bebas hambatan, ah rasanya cemas merundung semua penumpang. Jangan sampai ia mogok dan membuat satu masalah baru lagi. Mana mungkin mencari kopaja lain di tengah jalan tol. Setidaknya itu doa sederhana penumpang kopaja tua.

Kadang aku begitu merindukan desa kecil yang pernah kita tinggali tahun lalu. Setahun lalu, Kapten! Tak terasa betul waktu terbang meninggalkan kita dengan berjuta kenangan manis. Mana pernah kutemui macet yang demikian mengular di jalan raya. Aku merindukan gowes ceria, menghirup udara pagi dan diburu waktu hanya takut terlambat dan mentraktir kawan-kawan segelas Joshua atau sarapan mi goreng racikan Mba Ida. Hehe..

O ya Kapten, di Jakarta sekarang ini sudah memasuki musim penghujan. Ribuan serdadu langit biasa menyapa ketika petang menjelang. Kalau sudah begitu, sudah dipastikan bahwa beberapa daerah di Jakarta akan lumpuh total. Banjir? Oh, bukan kapten! Hanya genangan, tapi imbasnya bisa melumpuhkan banyak jalan di Jakarta. Perjalanan menuju dekapan hangat bunda pun harus tertunda selama dua hingga tiga jam dari total empat puluh lima menit seharusnya.

Kamu tentu ingat, betapa aku menyukai hujan bukan?! Ingat saat kita mengayuh sepeda ke lapangan dekat dengan kuburan, dan mengabadikan momen itu dalam bidikan kameraku dengan pemandangan lembayung senja ditengah hamparan perkebunan tebu sebagai  latarnya? Tetiba hujan datang, mengguyur kita. Kita berlarian, dan segera menyambar sepeda tua sewaan yang entah berapa kali bermasalah dengan rodanya. Haha, tapi kita menikmatinya! Umm..maaf, aku ralat. Aku yang sangat menikmatinya, dan kau hanya bergeleng-geleng kepala melihat kelakuanku yang menikmati terpaan lembut prajurit air sore itu.

Aku juga masih ingat betul, obrolan kita yang lebih mirip perdebatan mengenai ‘orang buta dan warna’ yang tidak pernah berakhir sampai kepulanganku ke ibukota. Nasi gila racikan Mak Eka tidak pernah terasa sedap tanpa bumbu perbincangan kita tiap malam. Sayangnya, waktu tidak pernah berpihak pada kita dan selalu saja habis ketika perdebatan sedang menuju puncaknya. Dan, kita harus berpisah karena jam malam yang diberlakukan asramaku kala itu.

Ah, maafkan aku! Membuatmu mengingat semua kenangan manis di sana. Mencungkil-cungkil kenangan yang selalu membuatku haru adalah candu ketika Jakarta begitu hebat merajamku dengan penat. Sesak terhimpit waktu sampai kadang membuatku lupa untuk sekedar memutar kembali apa saja yang patut kusyukuri seharian ini.

Hmm..sepertinya cericauku sudah ngelantur kemana-mana. Kucukupkan dulu saja, aku tak mau kau mati bosan mendengar suaraku bercerita dan membuat matamu pegal membacanya. Aku menantikan ceritamu dari timur sana. Seperti apa kondisimu saat ini? Apakah masih tak berdaging seperti dulu? Hehe.. apapun ceritamu, kutunggu! Meski senja telah beranjak petang yang membuatku harus bekerja ekstra agar mata ini bisa beradaptasi dengan layar mungil di hadapanku.

Salam Rindu,

Nona Senja

Ps: Tulisan ini dibuat demi menebus rindu kawan lama yang sekarang berada di Indonesia Timur. Semoga kau berkenan membacanya, kawan! ^^

Menulis Surat Cinta

Dear Kamu,

Ternyata aku makin mengagumi setiap apapun yang berhubungan dengan mu. Tidak hanya aroma tubuhmu yang selalu segar setiap hari, tawa renyahmu yang membahana hanya dengan kelakar kecil, dan sekarang aku mengagumi pemikiranmu. Mengagumi pemilihan katamu, dan mengagumi puisi kecil yang sering kau selipkan dalam petikan gitar manis di kala senja menyapaku..

Apakah kamu menyadari akan hadirku, senja? Maaf, aku sudah lancang memberikan secuil nama yang memang kukagumi sejak lama. Ya, menurutku kau ibarat senja. Yang memang enak dinikmati sambil menyesap kopi hangat sehangat sikapmu. Aku ingin jadi penyeimbangmu. Pelengkap hidupmu, dan menjadi alarm ketika kamu mulai melangkah jauh.

Kamu tahu senja, aku sangat menikmati diskusi ringan kita. Diskusi sok pintar yang membuka mataku akan sosokmu. Dan terperangah kagum menemukan banyak benang merah yang terajut antara aku dan juga kamu.

Aku mengerti kamu masih berharap padanya, meski aku tidak sesempurna dia namun aku layak untuk kau lihat dan pertimbangkan.

Senja aku tak pernah berani untuk menunjukkan rasa ini padamu. Ternyata rasa takutku lebih besar sehingga membungkam suara yang sudah bercokol di tenggorokan dan ingin segera terlontar keluar. Aku terlalu lemah untuk pemikiranku yang juga belum tentu akan terjadi.

Aku tak siap dengan penolakan yang akan mengubah sikapmu kepadaku. Lebih baik aku dihujani rayuan banci perempatan yang selalu saja bikin degup jantungku berhenti daripada harus melihatmu menjauh pergi dari hadapku. Ya, aku memang pengecut! Aku mengakuinya, dan aku memilih menikmatimu dalam diam. Menikmatimu dalam sebuah nada sederhana yang mengalun manis tiap kali sore menjelang.

Sebuah doa sederhana pun tak luput kusenandungkan. Sebuah doa yang kurangkai dengan menjalin sebuah harapan dan menyimpulpenantian kuharapkan bisa menggapai dasar hatimu yang sepertinya masih disesaki bayangan dirinya.

Semoga secuil tempat masih tersisa untukku. Akan kupatri sebuah nama di dindingnya agar kau selalu ingat bahwa ada seorang wanita yang menantikanmu diujung senja. 🙂

Dari pengagum setiamu..

Days – 7 #7daysofwriting

from baltyra

from baltyra

Hi kamu.. penguntai kata-kata dan perayu paling setia! Apa kabar sore mu? Bagaimana senjamu di ujung sana? Kamu mau tahu seperti apa senjaku kali ini? Senjaku tidak ada yang seindah dirimu.

Kamu masih ingat saat kita berada di sebuah hutan kecil dipinggir kota? Itu adalah hari terindah dalam hidupku. Karena akumendapatkan dua buah senja manis sekaligus dalam sekali hirupan nafas panjang.

Senja berwarna jingga kemerahan menggayut manja diujung barat, menyembul diantara rimbunnya pohon tua, serta senja yang menebarkan aroma nan rupawan yang kini berjalan bersisian denganku.Aku tidak menyangka, betapa Tuhan menyayangiku begitu dalamnya sehingga Ia pun dengan senang hati memberiku begitu banyak bonus kebahagian sore itu.

Aroma pohon pinus yang tercium lamat-lamat menebarkan kesegaran yang berbaur dengan dentingan dawai gitar yang menelusup memberikan semangat yang selalu kunantikan.

Dan apakah kamu masih ingat, tupai kecil yang jatuh saat membawa kenari tua, yang berusaha melompat namun harus pasrah menerima nasib terjatuh karena beban perutnya yang sedikit bergelambir? Lalu kamu yang mengeluh sebal karena harus tertiban tubuh gempalnya tepat diatas kepala? Haha.. Maafkan aku saat itu yang hanya bisa tertawa melihatnya. Aku terlalu sibuk memegangi perutku yang sakit karena bibirmu yang makin bersungut ketika si tupai kecil yang malang meninggalkan hadiah sempurna hasil fermentasi di lambungnya.

Haha.. meskipun sebal, toh akhirnya kau berdamai dengannya, bukan? Aku senang melihatnya. Sisi manismu masih tetap ada, meskipun usiamu tidak lagi terbilang muda. Dan si tupai kecil pun jadi hewan pertama yang kita namakan berdua.

Stitch nama yang akhirnya kita putuskan bersama. Meskipun aku tidak terlalu setuju, melihat si tupai itu terlalu lugu juga lucu harus menyanding nama stitch si monster biru yang bersahabat dengan Lilo. Tapi aku jauh lebih tidak setuju ketika kamu ingin menamakannya Scratch si tupai yang ada di Ice Age favorit kita.

Aku tak mau kalau sampai tupai mungil umm.. tunggu aku ralat, tupai gembul ini menjadi begitu serakah seperti scratch. Alasan tidak masuk akalku yang membuatmu terpingkal geli karena menganggap aku terlalu mendramatisir situasi ini. Tapi kau mengamini nya juga bukan?

Aku juga masih ingat betul muka keberatanmu ketika aku melontarkan nama ‘Luna’ untuk si tupai. “Masa tupai namanya sama kayak kucingnya Usagi Tsukino?!” Sanggahanmu yang membuatku terkejut dan terpana,membongkar sebuah rahasia kecil kalau ternyata kau adalah pencinta Sailormoon seperti halnya aku! Hahaha..

Dan kita pun bersenandung riang ketika senja mulai terkerat setengah sempurna. “Kubermandikan cahaya bulan, yang cemerlang dimalam yang terang..” sayup sayup terdengar senandung riang ost sailormoon yang kita nyanyikan bersama. Dan tawa pun mengalun dengan riangnya.

Tanganmu dan tanganku bertautan, melenggang meninggalkan hutan di pinggiran kota. Melambaikan salam perpisahan untuk si tupai yang kini sudah aman berada di lubangnya yang kita beri nama, “Rahasia”.

Day – 6 #7daysofwriting

Day – 6

Langit sore yang kelabu membawa anganku terbang ke hari itu. Hari dimana kamu dengan manisnya duduk di sampingku, menjadi ‘pahlawan’ kotak karton!

Derasnya hujan sepertinya enggan pergi walau sebentar, malam kian larut dan kini tinggal aku dan kamu di teras ini. Wajahmu cemas tapi tidak denganku. Mataku membulat, senyum tipis samar tersungging. Saat kau bilang “tunggu” selagi kau berlari menerjang hujan menuju pelataran parkir yang sudah basah dan tergenang air, aku memilih menyusulmu dan ikut larut dalam rinai hujan yang mengalun.

Betapa terkejutnya dirimu mendapatiku sudah bersisian denganmu dengan ratusan prajurit air yang bergayut manja di wajahku. Matamu yang teduh seolah bertanya “Kenapa gak nunggu?” Ah..andai saja kau tahu, aku tidak akan pernah tahan melihat ribuan pasukan langit yang berkumpul menerjang bumi. Hati kecilku selalu berlonjak gembira dan kaki ini seperti ingin menari bersama mereka. Apalagi semenjak hatiku yang tak pernah bisa diam saat bersamamu memang harus diredam dengan sejuknya air hujan.

Kamu tergelak mendengar cericau ku, soal hujan, pelangi, dan imajiku. Layaknya anak kecil yang menceritakan petualangan serunya di negeri dongeng, aku pun demikian. Betapa hujan memberiku sensasi manis menggelitik perut dan mendorong semua hasrat untuk menerjang semua rasa malu. Dihadapmu.

Aku juga ingat, wajah khawatirmu sesaat sebelum kita berpisah. Resah yang coba kau tutupi dengan sedikit nada marah justru membuatku terkikik geli. Ada getaran kecil yang menjalar ke sekujur tubuh. Seperti tersengat medan listrik yang membuat ku meremang karena sikap manismu.

Ah, aku makin menyukai hujan. Terlebih menyukaimu, mendambamu dalam berjuta rintik yang mengalir. Setidaknya embun rinduku telah luruh dan berpadu dengan gemercik lembut suaramu disela gerimis yang tersisa.

Rain release the pain

Rain release the pain

*Foto Sumber : google

Surat Dari TUHAN

Pagi tadi, setibanya saya di depan meja dan mulai menyalakan komputer, saya langsung cek email hari ini. Ada sebuah email yang masuk dari teman kantor saya. Email yang membuat saya kembali teringat akan apa yang sudah saya lewati dan tak lupa untuk bersyukur setiap harinya…

Surat dari Tuhan

Aku Tuhan, hari ini Aku yang akan menangani semua masalahmu.
Aku tidak butuh bantuanmu.
Jadi, salam dan Aku mencintaimu selalu.

Catatan: Dan ingat…
Bila dunia ini menyodorkan masalah yang tidak dapat kau tangani sendiri, jangan berusaha menyelesaikan masalah itu. Tetapi, letakkanlah masalah itu di dalam doamu (Untuk diselesaikan Oleh Tuhan). Aku akan menyelesaikan masalahmu sesuai JADWAL yang Aku tentukan sendiri.. Semua masalahmu PASTI akan Aku selesaikan, tetapi sesuai jadwalKu, bukan jadwalmu.

Setelah semua masalahmu kamu letakkan dalam doamu, janganlah kamu pikirkan dan khawatirkan. Sebaliknya, fokuslah kepada semua hal-hal baik yang sedang terjadi padamu sekarang.
Bila kamu terjebak kemacetan di jalan, janganlah marah, sebab masih banyak orang didunia ini yang tidak pernah naik mobil seumur hidupnya.

Bila kamu berhadapan dengan masalah di tempat kerja, berpikirlah bahwa masih banyak orang yang menganggur bertahun-tahun tanpa pekerjaan.

Bila kamu sedih karena hubungan keluarga, pikirkanlah orang-orang yang belum pernah merasakan mencintai dan dicintai.

Bila kamu merasa bosan dengan akhir minggu, pikirkanlah orang-orang yang harus lembur siang malam tanpa libur untuk menghidupi keluarga & anak-anaknya.

Bila mobil kamu mogok & mengharuskan kamu berjalan kaki, janganlah marah, pikirkanlah orang-orang cacat yang sangat ingin merasakan berjalan diatas kaki sendiri seperti kamu sekarang.

Bila kamu melihat dicermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih, sebab mempunyai rambut hanyalah merupakan impian bagi orang-orang yang dalam perawatan kemoterapi.

Bila kamu merenungi makna hidupmu didunia ini & merenungi apa tujuan hidupmu ini?
Bersyukurlah, karena banyak orang yang tidak punya kesempatan hidup yang cukup lama untuk merenungi hidup mereka.

Bila kamu merasa tidak nyaman karena terkena imbas dari kemarahan dan kekecewaan orang lain, ingatlah, situasi bisa menjadi jauh lebih buruk; yaitu kamulah yang merasakan kemarahan & kekecewaan tersebut!

Bila kamu memutuskan untuk meneruskan surat ini ke orang lain, terima kasih. Kamu telah menyentuh kehidupan mereka dalam banyak hal yang tidak pernah kamu bayangkan!

Salam,

TUHAN

Jakarta,301009