Perjalanan Singkat Malam Ini

 Hari ini saya pulang sedikit lebih larut dari biasanya. Padahal hari ini pekerjaan sedang tidak menumpuk, tapi saya sedikit malas untuk beranjak dari kursi panas ini (hmm.. tampak seperti mas Tantowi saja). Yah, ini karena tuntutan teman-teman untuk mengupload foto pernikahan sahabat semasa kuliah dulu, Leman.

Yah, dengan sedikit kesabaran dan emosi tingkat tinggi melihat foto-foto yang diupload tak kunjung berhasil semakin membuat saya malas beranjak. Huufff!!! Perbincangan dengan seorang teman yang ‘ngotot’ ngajakin saya nonton KCB2 makin bikin emosi(Ketika Cinta Bersambung, hehe sorry ndud) yang jelas-jelas KCB satu saja saya tak menyaksikannya. Gimana mau nonton yang dua?! Ada-ada saja..

Mata lelah dan akhirnya berhasil juga foto-foto ini saya upload. “Waktunya pulang!!” Beres-beres meja dan siap meluncur. Sayang hari ini saya tidak bercengkrama besama rekan sejawat saya di per75an.. Sena. Dia sudah pulang lebih dulu karena sedang mogok bicara! (sariawan plus sakit gigi, ada yang lebih parah?)

Jalanan dari Buncit ke Ragunan masih saja padat, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. Biasanya jalan sudah sangat lengang, tapi kali ini padat merayap! Yak, lengkap sekali malam ini.. Macet ditambah gak ada temen untuk berceloteh riang.

Disaat saya sedang melamun, tiba-tiba ada tiga orang yang naik bis. Betapa kagetnya saya melihat orang-orang ini. Kalau diibaratkan film kartun, mungkin mata saya langsung berbinar-binar saat melihat mereka dengan hujan bunga sebagai backgroundnya (Yak, cukup lebay!). Mereka adalah para pengamen jalanan idola saya. Mungkin beberapa dari teman saya sudah pernah mendengar (banyak) cerita tentang pengamen jalanan ini. Betapa saya merindukan si pengamen jalanan ini, ia sudah membuat saya ‘jatuh hati’ sampai detik ini.

Jalanan sudah kembali ‘normal’, deru kendaraan diluar tak membuat saya hilang konsentrasi mendengarkan alunan merdu gesekan biolanya(duh, saya tak pandai mengungkapkannya). Seperti biasa dia membawakan lagu-lagu (hmm.. instrument lebih tepatnya) dari The Corrs. Dan cuma satu kata yang terlontar “KEREN!!!!” Tiba-tiba saja saya merindukan suasana MACET TOTAL di kawasan Pejaten, hanya demi mendengarkan permainannya lebih lama! Huh, ironis!

Kalau sering dengar kalimat “don’t judge the book by its cover” mungkin inilah yang dimaksudkan. Penampilan yang tak jauh dari kata ‘preman’ ini memang membuat orang berpikir dua kali untuk mendekatiya. Sekujur tubuh yang penuh dengan hiasan dan tulisan alias tato, rambut panjang yang digimbal ini selalu diikatnya tak pernah rapi.

Tapi orang ini-yang saya sebut ‘Bang G’-telah membuat saya jatuh hati dengan gesekan biolanya! Tak banyak bicara, namun setiap alunan merdu biolanya mengungkap berjuta makna (halah..lebay mode ON). Kalian yang pernah naik 75 dan bertemu dengannya pasti akan mengatakan hal yang serupa! (pemaksaan ya..) Dan lagi-lagi saya tak bisa mengadakan sebuah wawancara kecil perihal dia dan biolanya. Berhubung panggilan saya untuk segera mengakhiri perjalanan di metro ini. (Pals, u should pay 4 this!)

echa, 19 Oktober 2009 (metro 75 Blok M-Ps.Minggu)

Advertisements

Hampir Aja Diculik!

Entah ada apa dengan hari itu, Jumat kalau saya tidak salah ingat tanggal 22 Mei . Semua pekerjaan sudah selesai lebih cepat dari perkiraan saya, bahkan saya sempat pergi menghibur diri di sebuah gedung pertunjukkan di GI tentu saja dengan rekan kerja saya.

Tak perlu mengantri, tak perlu memakai uang cash kami menggunkaan fasilitas yang sudah diberikan oleh pihak pengelola gedung pertunjukkan (bukan promosi nih!) Tak perlu menungu lama saya sudah berada di dalamnya dan menikmati film yang disajikan. Tapi saya tidak akan membahas tentang film ini, justru kejadian sesudah acara menonton berlangsung yang akan saya ceritakan.

Kira-kira begini ceritanya…

Setelah berpisah dengan rekan saya di Bundaran Hotel Indonesia, saya langsung naik metromini jurusan Tanah Abang-Ps.Minggu (640). Suasana bus tidak terlalu ramai, saya memilih duduk di pojok dekat dengan jendela. Suasana jalan sore itu cukup padat merayap, yang akhirnya membuat saya asyik ngoprek-ngoprek HP dan tenggelam dalam ‘dunia saya’.

Jalanan yang memang padat karena hari Jumat, harinya kongkow se-Jakarta membuat saya hanya mampu menghela nafas dan berkali-kali berdecak gelisah. Lelah dan sudah benar-benar ‘death style’ alias mati gaya akhirnya jatuh terlelap.. zzzzz… (ini akibat tidak menggunakan operator ‘anti’ mati gaya,hehehe)

Ditengah asyik-asyik nya mimpi (untungnya gak ngiler, sluuurrp!), samar-samar saya mendengar orang ribut-ribut tapi saya abaikan karena mata ini agak sedikit sulit diajak kompromi. Sampai akhirnya saya merasa ada yang ‘membisikkan’ telinga saya dan membuat saya terbangun juga(akhirnya..).

Anehnya, semua penumpang sudah tidak ada.. Waduuh!! Saya mulai terjaga.. Entah karena panik, bingung, atau apa tiba-tiba saja saya lose in direction alias ‘kayanya nyasar’. Sambil berusaha menenangkan diri, saya panggil kondekturnya.

“Bang, penumpangnya pada kemana?”, kata saya sambil berusaha tetap tenang dan biasa saja.

Dengan tampang bingung sambil mengulum senyum si Abang dengan santainya menjawab “Lah neng, udah pada turun barusan. Kan tadi abang oper, si neng duduk dimana kaga keliatan sama Abang,” terang si abang kondektur sambil cekikikan.

“Apaaaaa?! #&^%@&*%#*%!!!!!” (Kaga keliatan?! maksud loooo????!!!!)

Tanpa pikir panjang lagi saya langsung turun dari mobil, untung saja mobil berjalan belum terlalu jauh dari tempat semula. Masih sambil berusaha menenangkan diri, tiba-tiba si abang berteriak,” Neng, hampir aja diculik jadi istri Abang neng!” si Abang pun berlalu sambil tertawa terbaha-bahak puas tanpa peduli saya yang masih shock ditinggal di metromini sendirian dan makin shock saat si Abang menawarkan niat baiknya ‘menculik’ saya. *sigh*

Saya hanya terpaku mendengarnya! (Siyaaaaaallll!!!)