Menjadi Kita

Together-we-are-happy-and-complete

Saat menikah ke-Aku-an mulai pudar, ke-Kamu-an juga mulai menghilang dan tergantikan dengan ke-Kita-an. Tidak ada kata Aku atau Kamu menyelinap dalam setiap pembicaraan, yang ada semuanya tergantikan dengan ‘Kita’.

Bahkan ketika menyusun daftar keinginan, bukan lagi Aku yang dipikirkan, bukan lagi Kamu yang diutamakan tapi Kita yang diperjuangkan. Lantas bagaimana menyiasati Aku dan Kamu yang terlalu lama egois dengan kesendirian demi sebuah Kita yang akan berjalan menatap masa depan?

Adalah Aku yang mencoba menyusun kembali semua daftar keinginan. Pun juga Kamu yang merangkai semua target yang ingin dicapai. Dan kolaborasi Kita yang mulai menilai dan menelaah apakah ini cukup baik dilakukan atau tidak. Apakah Kita layak untuk mengorbankan apa yang dimiliki untuk mencapainya?

Tak jarang, Aku dan Kamu akan merasa tersakiti atau kehilangan karena ada mimpi dan harapan yang sebaiknya ditinggalkan. Atau prioritasnya sudah bukan lagi di bagian paling depan dengan pertimbangan satu dan lain hal yang baik untuk Kita. Bukan baik hanya untuk Aku atau Kamu.

Untuk itu, mungkin diperlukan waktu untuk Kita sebagai dua gabungan individu, Aku dan Kamu untuk bisa beradaptasi menjadi Kita. Saling mengisi kotak mimpi masing-masing dan mulai menyusun strategi. Perang Kita bukan hanya dengan mereka yang di luar sana, tapi egoisme Aku dan Kamu yang perlu dilebur, dikikis perlahan, hingga terbentuk rencana manis menuju masa depan Kita.

Kemang, 26 Maret 2013 ; 15.00
*foto dipinjam di sini

(One Of) My Dreams Come True

Ngomongin mimpi, pasti daftarnya langsung berderet panjang. Dari yang masuk akal sampai yang dipaksa buat masuk sama akal. Pun mimpi saya demikian. Tapi kadang ada mimpi-mimpi sederhana yang tanpa sadar terwujud tanpa pernah saya rencanakan. Seperti sore itu, nyaris setahun yang lalu.

Thamrin sejak siang sudah diguyur hujan. Berdoa semoga sore nanti hujan sudah reda, karena saya ada janji temu dengan Ninit Yunita. Iya, teh Ninit yang itu tuh.. Yang nulis Kok Putusin Gue sama Test Pack. Yang suaminya penulis juga yang saya ngefans nya gila-gilaan sama mereka berdua. Iya yang itu.. 😀 (eheem! Back to topic)

Sudah beberapa minggu sebelumnya, Taufan meminta saya untuk ‘nyolek’ Teh Ninit lewat twitter. Gampang sih, tapi jujur butuh keberanian ekstra buat saya melakukannya. Bukan karena takut atau apa, tapi rasa kagum yang luar biasa bikin saya gemetaran tiap kali ingin mention sekadar tanya email. *selftoyor* *padahal alamat email tercantum di bio* *makin selftoyor*

Ndeso ya saya. Singkat cerita akhirnya saya ber-email-email ria untuk membuat janji temu. Nggak sabar banget buat ketemu sama teteh yang satu ini. Sempet kepikiran buat bawa buku-buku yang dia tulis sekalian minta tanda tangan. Tapi kayaknya nggak etis aja ya, di hari pertama ketemu malah sibuk minta tanda tangan. Hahaha…

Saya janjian di salah satu café di dekat apartemennya. Pintu café saya buka. Saya edarkan pandangan mencari sosok yang dimaksud. Hap! Saya menemukannya. Ada gemuruh di dada saya, pengen salto tapi pasti saya disuruh keluar karena merusak barang-barang yang ada di café. Pengen menghamburkan pelukan, pasti saya dikira orang gila.

Akhirnya saya mencoba berjalan biasa (nggak ngesot juga maksudnya). Njiiirrr..udah dekat banget ini sama Teh Ninit. Duh! Mau ngomong apa ya? Umm..is she a nice person? Ah, pasti nice lah ya! Nanti saya mau tanya apa ya? Garing nggak ya? Saya boleh foto bareng nggak ya? Umm..norak nggak kalo minta foto? Haha, iya itu obrolan di otak saya. Biasalah, otak sama hati suka nggak singkron.

Ngobrol ngalor ngidul soal kerjaan berjalan cukup lancar. Teh Ninit orang yang sangat ramah dan welcome dengan siapa saja, itu yang saya tangkap saat bertemu dengannya. Ternyata, bertemu dengan idola itu nggak semenakutkan yang dibayangkan otak saya.

Tadinya saya pikir saya akan tebengong-bengong sambil ileran ngeliat idola saya ada di depan mata. Tapi untungnya saya masih bisa mengendalikan iler diri saya untuk nggak melakukan itu. Tapi sayang, saya nggak sempat berfoto dengan Teh Ninit. 😥 #eaaaa #persoalanbanget

Sejak kuliah saya jatuh hati dengan suami Teh Ninit eh maksud saya dengan tulisan Kang Adit, suaminya. Dari situ saya tahu kalau Teh Ninit adalah istri dari Kang Adit dan mulailah pencarian buku-buku mereka berdua dimulai.

Saya selalu merasa kalau di setiap tulisan, baik Teh Ninit ataupun Kang Adit memasukkan unsur kehidupan mereka di dalamnya.  Saya mengagumi rasa cinta yang mereka punya. Bacain blognya Teh ninit di http://www.istribawel.com itu bikin saya pengen nikah secepatnya. Hehe.. Yes! Mencintai dan dicintai itu menyenangkan!

O ya, saya juga baru tahu kalau Teh Ninit itu anak tunggal seperti saya. Hmm..makin suka deh! Semoga saja bisa jadi penulis seperti teteh, bisa beruntung menemukan belahan jiwa yang saling melengkapi (yeah..saya ngefans sama pasangan ini nggak cuma tulisannya. Have I told you bout this? Oh udah ya? #okesip).

Dan hari ini tepat 9 tahun sudah mereka menikah. Saya justru tahu saat melihat postingan di blog milik Teh Ninit. Doa saya sederhana saja, semoga bahagia selalu menyertai kalian berdua apapun kondisinya.

Pada akhirnya, satu lagi daftar mimpi saya tercentang sudah. Semoga semakin banyak yang tercentang termasuk buku-buku hasil karya mereka yang tertoreh tanda tangan mereka berdua. (ngopi-ngopi canti seru juga. Hehe.. #ngelunjak)

 

Jakarta, 7 Februari 2013
Di suatu sore yang lumayan diguyur hujan dan bikin ngemil saya jalan terus. Hufff…

Desember

Selain September, aku  menyukai Desember. Selalu senang menyambut Desember dengan berbagai alasan yang mungkin semua orang akan mentertawakan. Aku masih bermimpi suatu hari nanti aku terbangun di Desember yang dingin dengan salju yang telah turun di malam sebelumnya.

Bermain seluncur es di atas danau yang membeku selama musim dingin, atau membuat Jack Frost seperti di banyak film keluarga saat Natal datang. Menemukan berjejer bunga-bunga berwarna merah cantik, poinsettia, serta hiasan menyambut Natal lainnya.

Aku seorang muslim, tapi aku menyukai suasana Natal. Tahun lalu aku dapat merasakan early Christmas di negeri tetangga. Tahun ini, aku hanya bisa menikmati hembusan angin dingin Jakarta.

Alasan dasar mengapa aku suka Desember dan Natal karena di bulan ini aku akan puas menonton televisi yang memutar banyak film keluarga, macam Home Alone, Charlie and Chocolate Factory, The Golden Ticket, atau mungkin The Nuttracker. Haha.. impian masa kecil sekali ya?

Menghias ginger bread, berburu foto dibawah cemara berhiaskan lampu penuh warna, dan mendengarkan Christmas carol yang dulu sering kubawakan bersama kawan-kawan di pusat perbelanjaan.

Desember juga membuatku bersemangat. Merangkai segala rencana untuk ditahun berikutnya. Mengemas buku mimpi yang akan kurangkai dan kujajaki ketika tahun sudah berganti nanti.

Desember juga merupakan waktu untukku berkontemplasi (padahal setiap saat pun sering). Memaknai setiap perjalanan yang sudah terjadi dan mengoreksi diri apakah sudah menjadi orang yang lebih baik lagi setiap hari?

Aku tidak ingin meratapi waktu yang sudah berlalu dan terus maju karena aku tahu, setiap waktu yang berputar selalu membuatku semakin dekat denganmu. Dengan kamu para pengisi hari-hari di waktu nanti. Yang memberikanku pelajaran untuk menjadi pribadi yang semoga menjadi inspirasi.

Meskipun lagi-lagi Desember tahun ini belum membawaku menuju negeri penuh mimpi di otakku, aku cukup berbahagia menikmati tiap bulir awan yang terjun bebas memelukku dengan dingginnnyadi Desember kali ini, karena dengan begitu aku bisa menikmati hangat dekapan yang akan ia tawarkan di penghujung malam.

september to remember, december we're together

september to remember, december we’re together

Happy Welcoming December 🙂

*foto di ambil di sini

Catatan Sederhana

notes and coffee are best friend for me

Ini bukanlah sebuah catatan tentang dunia

Ini hanya sebuah coretan sederhana tentang kita,

tentang bagaimana kamu bercerita,

tentang bagaimana aku tertawa,

dan tentang bagaimana kita berderai air mata bahagia

Simpanlah baik-baik semua catatan ini,

Karena kita kan membukanya suatu hari nanti sambil menyesap secangkir kopi,

dimana anak-anak kita telah tumbuh dan berlari mengejar mimpi

dalam selimut doa kita yang tak pernah putus terpilin rapi.

Nona Senja dan Tuan (?)
29 November 2012

Saya Malu!

Berjalan dan memperhatikan setiap gerak gerik jemari seseorang di dunia maya memang menjadi candu yang sulit hilang sebagai kebiasaan. Dan tiap kali saya berperjalanan dan mampir ke ‘rumah-rumah’ mereka yang senang bermain dengan kata dan aksara, selalu membuat saya takjub dan tercenung.

Seperti pagi ini, saya berkubang di dalam kolam aksara seseorang yang membuat saya jatuh cinta,  sejak pertama. Bukan karena ia siapa, tapi karena ia mengubah semesta menjadi sangat hidup nyata hanya dengan merangkai kata-kata. Dan sekali lagi saya katakana, saya jatuh cinta!

Ia, dengan caranya berhasil memikat mata almond saya dan menjerat jemari ini untuk terus mengikuti jejaknya sampai habis tak tersisa. Saya tak ubahnya kerbau yang dicucuk hidungnya, menuruti setiap goresan kata yang tertoreh di dalam sarang laba-labanya.

Saya hanya berani menyapanya sekali, tanpa bisa berkata-kata lain lagi. Saya tak berani mengungkapkan apapun dihadapnya, takut yang keluar hanya muntahan menjijikan yang harus duduk sejajar dengan indahnya barisan kalimatnya yang tertata manis siap untuk disajikan untuk para pencinta.

Ia begitu puitis lagi manis. Tetiba saya merasa kecil. Oh, tidak, jangan bayangkan saya yang mengubah diri menjadi liliput. Saya masih tetap gendut seperti biasa. Aaaak! Saya malu! Berandai menuliskan sebuah buku namun dengan kualitas yang masih minim saya miliki saat ini, terlebih setelah membaca deret-deret imaji yang terpilin di dinding rumahnya.

Ya..saya malu!

Biarkan saya menikmati rasa malu dan kecil saat ini untuk bisa mengoreksi diri kembali dan mencambuk rasa malas dan meniupkan topan semangat dalam diri untuk bisa lebih baik lagi. Saya masih punya mimpi. Dan saya tidak mau kecil lagi.

Suatu hari nanti, saya akan bisa menyapamu dengan kepala tegak berdiri dan membuatku pantas duduk sejajar denganmu dengan menuntun barisan kata yang siap menemani barisan katamu dalam sebuah buku. Itu janji saya.

Jakarta, 22 November 2012, 10.40

Khawatir

Aku terbangun saat malam belum beranjak terlalu dalam. Saat semua lelap masih mendekap erat manusia dan bukan para nocturnal. Ketika peri mimpi masih asyik bekerja menebar debu mimpi kepada siapa saja yang membutuhkannya. Aku justru terjaga.

Aku menatap hampa gelap yang mencekam. Aku takut dan gemetar. Kulayangkan pandang, yang ada hanya kekosongan. Kecuali dengkur tipis yang terdengar mengiringimu menuju bukit mimpi terdalam. Tak ada yang kurasa selain damai melihatmu. Hilang semua gundahku. Sirna semua resah yang mengikutiku dari alam mimpi.

Tapi, sepertinya itu bukan mimpi. Semua gundah dan resah yang selalu menghantui di alam mimpi hanyalah bentuk kekhawatiranku. Alam bawah sadarku menangkapnya dan menjejaliku meski aku sudah berada di dunia yang berbeda.

Aku khawatir. Khawatir akan kamu, pendampingku yang kini masih asyik merajut mimpi. Akankah kau masih seperti ini ketika usia senja merayapi kita nanti? Mencintaiku dengan sepenuh hati?

Akankah kau masih setia mendampingiku meski raut wajahku tidak lagi seperti usia belia. Ketika semua bedak dan segala kosmetik tidak bisa menutupi keriput yang makin hari makin merajut?

Akankah kau tetap mengecup keningku setiap pagi, kala matahari menyapa lembut ruang kamar kita dan kau akan bilang “kamu bidadari tercantikku” meski kaki tua ini sudah tidak bisa berfungsi semestinya?

Akankah kau mau menemaniku bermain di taman, melihat para malaikat kecil sedang bermain gembira dengan bebasnya, meskipun riuh suara para malaikat itu belum juga mampir di rumah kita dalam waktu yang cukup lama?

Akankah kau masih mau melihatku dengan pandangan manis itu meskipun tubuhku sudah menggelambir, dan tak akan seksi lagi saat harus mengenakan busana malam yang kau belikan di kencan kita pertama?

Akankah kau mencari pelabuhan lain ketika aku tak bisa memuaskan perutmu dengan masakan lezat hasi karyaku seharian bergelut dengan pisau dan kompor?

Akankah kau mencari telinga dan hati lain ketika aku tak bisa lagi mendengar keluh dan kesahmu di kantor ketika sakit bulanan menderaku dan membuatku sendu seharian?

Ah, sepertinya aku terlalu banyak khawatir!

Aku hanya bisa menjadi diriku yang berusaha sepenuh hati menjadi bidadarimu setiap hari. Meski aku tak akan pernah cantik sepanjang waktu, meski tua akan merayap mendekat dan mahkota di kepala ku sudah mulai berubah nantinya.

Aku akan menikmati damai yang kau berikan. Damai melihatmu mendengkur halus di kala malam, dan damai ketika melihatmu tenggelam dalam kubangan buku hingga larut di ruang baca. Aku akan menikmati itu semua. Menikmati masa-masa menjadi pendampingmu kini, dan entah sampai kapan tanpa perlu khawatir yang akan terjadi nanti.

Selamat merajut mimpi ksatriaku, lelaplah dalam mimpimu, aku akan segera menyusulmu. Tunggu aku!

bahagia itu melihatmu hangat terlelap dalam mimpi

Jakarta, 1 November 2012
Nonayangmerenungpagiini
Ps: percaya atau tidak ini adalah perasaan yang akan merayap datang pada setiap perempuan entah kapan

foto  diambil di sini.

Dialog Sebelum Tidur

Dia: Hei, boleh aku bertanya? Tampaknya kau  mencintai bahasa begitu rupa, apakah bahasa kalbu sudah kau lahap juga?

Aku: Bahasa kalbu belum juga kukuasai benar, lagipula kalbu siapa yang harus kuterjemahkan?

Dia: Haruskah perlu kukatakan, bahwa bahasa kalbuku terlalu kusut untuk diterjemahkan sembarang orang? dan perlu satu penterjemah khusus untuk mengurainya? 

Aku: Baiklah, untuk pangeran malam yang tengah kesepian, aku persiapkan diri jadi penterjemahmu urusan kalbu. Oya, kau tahu, hujan datang! Seperti biasa, lalu lintas di Jakarta lumpuh total.. kalau sudah begini, masihkah kau menginginkan untuk tinggal di Jakarta?

Dia: Entahlah, sejujurnya aku tidak pernah bisa berlama di Jakarta. Pun untuk tinggal di sana.

Aku: Meskipun kamu bisa bertemu dengan aku setiap minggunya?

Dia:Hmm..itu adalah yang paling kutunggu. Bingung, jika pertimbangan itu yang harus kubayar. Tapi bukankah berkelana tidak mengapa sebelum usiaku genap 30?

Aku: Ah, benar katamu! Mungkin aku akan merencanakan untuk berkelana, bepergian dan mencipta bahagia. Seperti katamu, sebelum genap usia menjadi kepala tiga.

Dia: Hei! Jika saat itu aku memutuskan untuk menetap di Jakarta, dan kau malah memilih untuk berkelana? Tega! Aku akan membencimu seumur hidupku!

Aku: Ahaha, sebegitu pentingnya kah hadirku untuk mu? Apakah kau  mampu untuk sekedar melayangkan sehelai benci untuk aku, jika setiap hirupan nafas yang kau ingat hanya namaku?

Dia: Hufff,,,memang harus kuakui, kata-katamu benar adanya. Aku terlalu bergantung padamu. Seperti mati jika tidak mendengar ceritamu sehari saja. Kamu itu udara bagi peparuku!

Aku: Aku punya sepenggal sajak untukmu, semoga kau sudi membacanya:

Hei, aku hujan.. Tunggu! Jangan kau lari, aku takkan menyakitimu, menengadahlah agar aku bisa memelukmu dan memberi sejuk yang kau tunggu.

Dia: Haha,masih kau mencintai hujan? Ia telah berkhianat padamu! Dan sayang hujan tidak lagi sejuk, hujan mengandung asam sekarang. Hanya bikin iritasi saja

Aku: Ah, sinis betul kau dengan hujan?! Segitu tidak diindahkannya kah hujan saat ini? Begitu hinakah ia sekarang sampai-sampai harus mendapat umpatan dan keluhan?

Dia: Hujan hanya korban, dan kita, manusia  yang membuat ia hina

Aku: Aku tetap ingin hujan. Hujan buatku tenang. Hujan buatku memiliki angan, meski hujan juga yang membuatku memutar kenangan..

Dia: Well, if it’s makes you happy, it can’t be that bad

Aku: Kamu menyerah?

Dia: Menyerah demi dia, yang tak pernah bisa pudar cintanya pada rintik air langit

Aku: Dan kau merasa tersaingi oleh prajurit langit yang kau bilang hanya sekumpulan rintik?

Dia: Mengapa aku harus merasa tersaingi dengan prajurit langitmu?

Aku: Entahlah, aku merasa kamu cemburu pada prajurit langit.

Dia: Karena prajurit langit lebih menarik  perhatianmu?

Aku: Aku tidak pernah bilang begitu, kamu yang memiliki penilaian itu

Dia: Hmm.. baiklah.. Menarik jika kamu mampu merasakan itu.

Aku: Hei, aku pamit ya.. peri mimpi sudah menegurku. Ia tidak bisa menjalankan tugasnya jika aku belum juga beranjak ke negerinya.

Dia: Baiklah, jaga dirimu di dunia mimpi sana ya.. Pastikan petamu mengarah pada tujuan yang sama. Dimana aku sudah menantimu, kita lanjutkan obrolan ini di dunia mimpi saja. Oya, aku juga sudah meminta purnama untuk turut serta mengawalmu menuju negeri mimpi

Aku: Ah, terima kasih! Aku undur diri sekarang ya.. Kereta kencanaku sudah datang.. jangan lupa sediakan untukku sebuah penyambutan..

Dia: Hanya penyambutan? Aku akan menyiapkan sejuta keinginan yang selalu engkau harapkan untuk dikabulkan. Selamat malam, Luna. 🙂

PS: obrolan ini tercipta atas imaji sebelum merajut mimpi 😉

02Oktober2012