Hadiah Paling ‘Romantis’

Serangkaian bunga mawar putih yang berpilin cantik dengan lily. Ditambah dengan sekotak coklat aneka bentuk dan rasa lengkap dengan kartu ucapan berwarna jingga-yang terukir indah dengan rangkaian kata-kata manis yang berderet meluluhkan hati.

Oh well, itu hadiah ulang tahun romantis yang pernah saya dapat.

Tapi tunggu! Itu semua hanya dalam angan-angan saya belaka!

Nyatanya, saya tidak pernah mendapatkan itu. Panglima tidak datang dengan bunga ataupun sekotak cokelat. Di hari ulang tahun saya ia justru sedang sibuk dengan nara sumbernya.

Sedih? Nggak juga.

Tapi yang bikin saya sedih justru di hari ulang tahun saya, saya dikasih nikmat Tuhan berupa sakit kepala luar biasa hebatnya.

Wew..

Panglima datang sudah malam. Jangan bayangkan ia datang dengan sebuah pelukan dan kecupan di pipi kanan dan kiri saya. Ia justru datang langsung menodong saya dengan menempelkan telapak tangan di jidat. Tak ketinggalan sederet pertanyaan menyoal kondisi kesehatan saya yang sedang dropdropnya. Saya nyengir.

Setelah saya yakinkan ia bahwa saya baik-baik saja, baru ia bisa sedikit tenang. Setelah meneguk secangkir kopi hitam nasgitel racikan saya, ia mencoba mengeluarkan sesuatu dari ransel kanvas, karibnya bertugas. Hmm..deg-degan? Pastinya! Membayangkan kejutan apa yang ia tengah siapkan.

Tiba-tiba…

Ia menyorongkan sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Isinya….  setumpuk film kartun!

Haha, ulang tahun saya dihabiskan dengan menonton film kartun! Panglima benar-benar bukan pria romantis. Tapi ia tahu apa yang saya butuhkan. Saya butuh tertawa lepas. Dan ia juga tahu kalau saya tak pernah bosan menonton film kartun.

Hmm, setidaknya ini jadi sedikit obat untuk saya yang masih merasakan sakit kepala hebat hingga siang ini. Meskipun bukan pria romantis, Panglima cukup paham apa yang saya butuhkan. Yaa walaupun setiap kali ditanya alasannya kenapa harus film kartun, pasti ia langsung jawab “Kita ‘kan anti mainstream”. Hah! Rasa-rasanya saya ingin menoyor kepalanya. Toyor mesra tentu saja, hihi.

Enjoy my lovely maturity age with tons of smile and please go away headache, just allow me to laugh out loud without any pain after all… and…thank you Panglima, lot of kisses for you!

Pindah ke Surabaya

“Bulan depan kita pindah ke Surabaya ya, Non.”

Saya yang sedang asyik menikmati keripik tempe dan setumpuk film, kontan saja langsung kaget dengan keputusannya. Wajah saya seolah mengatakan, “Serius?”. Dia hanya tersenyum sambil mengecup pipi kanan saya.

Well, ada sebuah project yang akan ia kerjakan. Mengapa harus pindah? Pasalnya ini project panjang yang memakan waktu bukan hitungan bulan, tapi tahun.

Saat itu juga langsung terbayang, saya dengan kegiatan sehari-hari saya. Betapa bahagianya saya akan segera bertemu dengan kawan kriwil; bisa berkumpul, berbincang, berdiskusi di c2o, main-main di Kenjeran, lihat-lihat vihara yang selama ini saya selalu merengek untuk di ajak kesana.

Berkumpul di salah satu taman kota untuk menikmati festival purnama bersama kawankawan pencinta purnama. O ya, saya bisa makan bebek goreng sepuasnya kapan saja dan dimana saja. Tak terkecuali bebek goreng yang lokasinya harus nyeberang jembatan Suramadu itu.

Dan yang paling saya nantikan adalah saya bisa dengan mudah menjadi kutu loncat. Ha? Maksudnya? Iya, kutu loncat, yang bisa dengan mudahnya loncat ke Bali kapanpun saya butuh karena jarak Surabaya-Bali sudah sangat dekat. Macam selemparan kolor saja. Haha…

Saya bisa bolak-balik ke Malang menemui keluarga saya. Main ke kebun apel sesuka hati. Datang secepat kilat ketika tante saya mengabarkan kalau pohon durian kami berbuah dengan lebatnya. Atau pohon salak dan strawberry yang siap panen. Dan tentunya bisa main-main ke daerah-daerah lain yang dulu hanya angan, yang dulu harus dipersiapkan jauh-jauh hari agar terlaksana meskipun kadang batal juga.

Ya, sebahagia itu saya.

Ketika banyak orang justru mengernyitkan dahi dan bertanya, “Kenapa harus Surabaya?” saya justru sebaliknya. Ya, meski saya tak pungkiri kalau Surabaya pernah membuat saya mimisan saat kali pertama menginjakkan kaki di kawasan Sidoarjo. Tapi, toh Surabaya tetap bikin saya rindu.

Ditengah lamunan saya yang bikin senyam senyum sendiri, tiba-tiba saja…

“Non, kamu kenapa senyam senyum gitu?”

Dia mengagetkan saya dengan suksesnya. Bikin lamunan saya hilang seketika, dan dengan bodohnya saya bertanya…

“Kita jadi pindah ke Surabaya, kan?”

Dia tidak memberikan jawaban. Dia hanya tertawa melihat kelakuan saya. Menurutnya saya seperti anak kecil yang haus akan liburan panjang. Saya diam. Tertunduk lesu karena ternyata apa yang saya bayangkan memang hanya sebatas bayangan saja. Kami tidak akan pernah hijrah ke Surabaya. Hiks..

 

 

 

“Kita memang nggak akan pindah ke Surabaya. Tapi… akhir tahun kita akan ‘main’ ke Wamena”

 

 

Aaaaakkk!

Untuk Kamu

Ada entah apa namanya yang datang tiap kali matari pagi menyapa lembut kulit kekuningan. Mengajakku berdansa bersama kicau burung bernyanyi,yang lagi-lagi aku tak tahu di nada apa.

Saat bulir-bulir embun yang nyaris menguap menghilang karena panas yang coba ditawarkan matari yang sedang genit dengan cahayanya. Aku mengingatmu. Buncah rasanya semua rasa yang kusimpan baik-baik di dada selama ini.

Cukup dengan membayangkanmu. Tegap tubuhmu. Dada bidangmu yang diselingi aroma segar yang kerap kali menjadi penghibur penat pikiranku. Dekapan hangat yang selalu saja kau tawarkan tanpa perlu kuminta. Dan bibirmu, yang menghujaniku dengan ribuan kecupan manis yang hidup dan mengakar hingga ke hati paling dalam.

Hatiku tak keruan rasanya. Melompat-lompat, berlarian, seolah dunia bisa kukitari hanya dengan sekali lompatan panjang.

Ah, aku tak tahu bagaimana mendeskripsikan lagi hatiku saat ini. Sepertinya langit saja mulai enggan untuk membantuku melukiskanmu karena sejak tadi awan yang terbentuk hanya wajahmu. Lelah ia. Tak ada rupa lain selain kamu yang ada di pelupuk mataku.

Sayang, tunggu aku di situ, jangan kemana-mana. Aku akan kembali, secepat senja yang tertelan petang sore ini.

Kemang, 15 Mei 2013

Obrolan Cangkir Kopi

“… kamu kayaknya perlu segelas kopi deh, Non. Blandongan?”

Kata-kata itu yang kerap kali dilontarkan olehnya kalau aku mulai mencurahkan emosi yang meluap-luap. Atau aku sedang ingin mengeluarkan secuil pemikiran yang mengganjal seharian.

Ia tak pernah menyambut emosiku dengan emosi lainnya. Ia justru akan meredam emosi ini dengan ajakan secangkir kopi dan obrolan panjang seharian. Aku tetiba teringat olehnya. Ia yang kini jauh berada di kota pelajar yang sedang melanjutkan studinya.

Aku jadi berpikir, apa yang menjadikan kopi begitu nikmat? Atau bagaimana obrolan begitu bersemangat dan mengalir dengan hangat dengan secangkir kopi?

Kalau banyak penikmat nikotin mengatakan kopi dan rokok adalah sahabat, buatku kopi dan sahabat adalah kawan karib yang melegenda. Bagaimana sebuah ide tercipta hanya karena obrolan warung kopi dan bagaimana masalah bisa terselesaikan hanya karena berbagi cerita dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lainnya.

Aku bukanlah pencinta kopi yang mengerti seluk beluk biji kopi hingga menjadi minuman lezat di pagi hari. Aku cukup menjadi penikmat kopi di mana saja, apapun bentuknya. Fresh atau siap saji, aku menikmatinya. Tak lupa seorang atau segerombolan kawan sebagai selingan saat menyesapnya.

Masih hangat dalam benakku, bagaimana perkenalan kami bermula. Secangkir kopi dan senja di sebuah kedai kopi di tengah sawah. Cerita bermula dari aku yang berkomentar tentang senja sore itu yang disambut oleh cerita tentangnya dan bagaimana ia mencintai kopi juga tembakau yang dihisapnya.

Tanpa terasa cerita demi cerita terangkai dengan manisnya dan selalu berakhir ketika senja nyaris tertelan gelapnya malam. Saat itu, aku menyudahi perjumpaan kami. Kucukupkan cerita sore itu dengan sebuah lambaian hangat sebelum kukayuh sepeda kumbangku dengan nada riang.

Begitu setiap hari. Setiap sore, kukayuh sepeda kumbang menuju kedai di tengah sawah. Di sana kutahu ia selalu menungguku dengan senyum dari bibir kehitaman dan nikotin yang terbakar di sela jemari kanan.

Dua cangkir kopi terseduh, menguarkan aroma harum yang memikat. Kusunggingkan senyum untuknya yang sudah bersabar menungguku. Sesapan pertama dan komentar tentang senja hari itu jadi pembuka. Dan menit-menit berikutnya mengalir begitu saja tentunya dengan cangkir kopi yang kembali terisi dari cangkir bergambar bunga mawar.

Aku, dia, dan cangkir-cangkir kopi merangkai cerita. Hanya dengan obrolan sederhana tentang rasa, tentang bagaimana hidup itu semestinya dimata kami, manusia. Tentang persahabatan dan juga cinta, yang terkadang jumlah duka tidak pernah seimbang dengan suka.

Tapi satu hal yang pasti, obrolan cangkir kopi ini akan terus mengalir meski kami tak lagi bisa menikmati cangkir-cangkir kopi di tengah sawah bersama senja. Meski kesibukan menenggelamkan rasa pada akhirnya. Mungkin ada waktunya nanti aku dan dirinya bisa menikmati kopi kami kembali sambil bernostalgia tentang senja, rasa, dan cinta sesama.

Dan soal kopi yang menjadi sahabat setia kala bercerita, aku masih bertanya-tanya. Kubiarkan ia tetap menjadi rahasia. Maka, nikmati saja!

cangkir kopi

 

Senin, 3 Deseber 2012
Lagi-lagi, tulisan ini saya temukan diantara file-file tulisan yang belum sempat ter-posting tahun lalu.
*foto dipinjam di sini

Doa Sederhana

Di luar, titik-titik hujan mulai mereda. Kurapatkan sweater hijau pupusku dan menyilangkan tangan mencari setitik hangat di sela-sela ketiak. Dia masih berceloteh tentang harinya. Bagaimana ia melewati hari ini hanya di depan leptop kesayangannya.

Ia juga bertutur tentang bagaimana sesiangan tukang pompa air begitu ributnya hingga membuat ia tak bisa memejamkan mata. Ia, pria yang ada di hadapanku kini, yang tak pernah berhenti membuatku tersenyum, takjub, dan bersyukur.

Tanpa pernah ia sadari, aku banyak belajar hidup darinya. Aku belajar menganal cinta karenanya. Ia, lelaki yang menyengajakan diri datang ke ibu kota demi menjemput cintanya. Ia yang tak pernah akrab dengan  riuhnya kota dan padatnya kopaja memilih berdamai dengan itu semua demi satu cinta.

Malam semakin larut. Butir-butir hujan mulai berjejalan tergesa menyapa makhluk bumi kembali. Ia menatapku, menarik tanganku yang masih mencoba mencari hangat dari balik sweater tipis yang ternyata tak bisa menghalau dinginnya malam.

Ia menggosok-gosokkan telapak tanganku diantara telapak tangannya. Mencoba menghangatkan telapakku yang mulai memucat.Ada getar yang menelusup riang di tubuhku. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutku. Dan ada getar irama yang mengalun di dalam hatiku.

Ia masih bercerita, kali ini tentang cerita wayang yang memang kusuka. Ia menceritakan sisi lain seorang Rahwana, musuh dari Rama yang sangat kejam namun begitu romantis terhadap Dewi Shinta. Jika membangun taman asoka menjadi sangat romantis, buatku apa yang ia lakukan baru saja sudah sangat romantis. Sederhana, tapi ini yang kadang terlupa.

Seperti ada hukum alam yang mengaitkan lengkung senyum di bibirku saat melihat matanya yang membulat, mengerjap, ketika menceritakan tentang apa yang sedang dilakoninya. Ia selalu membuatku menyunggingkan senyum hanya dengan melihatnya bercerita.

Ada doa yang terangkai perlahan saat melihat wajahnya. Doa sederhana yang kupinta kepada Tuhan agar mengijinkanku sakinah bersamanya. Menjadi ­pendamping lelaki di hadapanku. Menjadi bagian dalam cerita hidupnya dan membaginya di suatu sore bersama buah hati kami nantinya. Semoga Tuhan mengabulkannya.

Dan malam ini aku hanya perlu menikmati kebersamaan kami berdua dalam rinai hujan yang mengalun perlahan dan menghilang di tengah gelapnya malam.

12 April 2013 ; 21.13

Rindu, Aku Pulang

Ada kerinduan yang datang pagi ini. Bukan kerinduan akan makhluk malam seperti bertahun-tahun silam. Bukan kerinduan akan angin selatan yang sekarang enggan berhembus diantara bilik hati. Dan bukan juga kerinduan akan nyanyian parau si gagak hitam di tengah rimbunnya pepohonan.

Rindu ini bukan seperti kerinduan yang kusebutkan.

Rinduku sederhana saja. Aku rindu mencumbu jejeran aksara yang terangkai dari jemari yang bebas menari seketika saat angin rindu menelusup di dada. Rindu berdialog dengan makhluk kerdil di kepala yang menuntun jemariku yang lugu untuk bernyanyi tanpa nada, tanpa suara.

Dan aku begitu rindu menggauli tuts hitam usang yang kini terduduk lesu di sudut meja pualam di tengah gelapnya ruang kerja.

Aku ingin pulang. Pulang ke pelukan ‘rumah’ku yang saat ini senyap tanpa kata dan menebus rindu yang mulai berkecamuk dengan liarnya. Aku tak ingin lagi berdusta pada dunia bahwa aku baik-baik saja. Tidak. Aku tidak baik-baik saja.

Aku merindu..

Aku ada dalam buai cinta seorang panglima yang mencoba membumikan semua cerita. Aku tak mau terbuai akan kata-katanya hingga lupa menuangkan kata-kataku sendiri yang berjejalan di kepala.

Kini, aku siap kembali. Menjadi aku yang berdendang riang dalam balutan kata-kata dan menarikan jemari seperti sedia kala.

Untukmu, siapa saja di luar sana, aku pulang.

Kemang, 11 April 2013

Menjadi Kita

Together-we-are-happy-and-complete

Saat menikah ke-Aku-an mulai pudar, ke-Kamu-an juga mulai menghilang dan tergantikan dengan ke-Kita-an. Tidak ada kata Aku atau Kamu menyelinap dalam setiap pembicaraan, yang ada semuanya tergantikan dengan ‘Kita’.

Bahkan ketika menyusun daftar keinginan, bukan lagi Aku yang dipikirkan, bukan lagi Kamu yang diutamakan tapi Kita yang diperjuangkan. Lantas bagaimana menyiasati Aku dan Kamu yang terlalu lama egois dengan kesendirian demi sebuah Kita yang akan berjalan menatap masa depan?

Adalah Aku yang mencoba menyusun kembali semua daftar keinginan. Pun juga Kamu yang merangkai semua target yang ingin dicapai. Dan kolaborasi Kita yang mulai menilai dan menelaah apakah ini cukup baik dilakukan atau tidak. Apakah Kita layak untuk mengorbankan apa yang dimiliki untuk mencapainya?

Tak jarang, Aku dan Kamu akan merasa tersakiti atau kehilangan karena ada mimpi dan harapan yang sebaiknya ditinggalkan. Atau prioritasnya sudah bukan lagi di bagian paling depan dengan pertimbangan satu dan lain hal yang baik untuk Kita. Bukan baik hanya untuk Aku atau Kamu.

Untuk itu, mungkin diperlukan waktu untuk Kita sebagai dua gabungan individu, Aku dan Kamu untuk bisa beradaptasi menjadi Kita. Saling mengisi kotak mimpi masing-masing dan mulai menyusun strategi. Perang Kita bukan hanya dengan mereka yang di luar sana, tapi egoisme Aku dan Kamu yang perlu dilebur, dikikis perlahan, hingga terbentuk rencana manis menuju masa depan Kita.

Kemang, 26 Maret 2013 ; 15.00
*foto dipinjam di sini

Bahagia Ini (Mungkin) Belum Waktunya

Selamat Siang Tuhan, apa kabarmu sekarang? Ah, aku yakin engkau selalu dalam kondisi super baik. Tidak terkena racun galau anak manusia yang sedang trend di sosial media. O ya, danau hatimu masih bisa menampung ceritaku bukan? Satu saja aku ingin menyampaikan keluhku padaMu. Aku janji, ini tidak akan lama. Selesai ini, aku juga berjanji untuk kembali ceria. Menebar tawa yang tak bisa membuat orang lupa. Janji! *kait kelingking*

Tuhan, engkau tentu masih ingat kejadian yang menimpaku beberapa tahun terakhir, kan? Ah, betul! Engkau memang penghapal paling juara! Saat itu aku lupa bagaimana caranya tertawa. Lupa apa itu bahagia, dan lupa bagaimana mengobati luka. Tapi, Engkau baik! Mengajarkanku pelan-pelan hingga aku bisa bangkit dan berdiri seperti sekarang ini.

Tuhan, engkau pernah berjani yang kau titipkan di salah satu umatmu yang paham betul tentang ajaranmu. Katanya, bahagia itu milik siapa saja. Bahkan untuk manusia terhina yang ada di muka bumi ini. Lantas, aku harusnya merasa beruntung karena pasti bahagiaku sudah tercatat dengan baik di buku besarmu, bukan?

Aku merasa Engkau tengah mengirimkan bahagia untukku saat ini. Ini serius! Seseorang pernah bilang padaku, kalau kamu bahagia, nikmati saja. Tidak usah tanyakan kenapa karena esensi bahagia akan hilang dikarenakan kita terlalu sibuk mencari tahu alasan kita bahagia. Umm..betul juga, ya Tuhan.

Tapi sepertinya aku tahu apa yang membuatku merasakan bahagia tanpa harus aku tanya kenapa.  Jelas betul ‘bahagia’ yang Engkau perlihatkan padaku ini. Hanya satu yang aku tidak tahu, apa tujuanMu memberikan segala macam bentuk bahagia ini dan satu petunjuk kecil yang kujumpai diantara banyak petunjuk yang berserakan.

Ah, aku sudah berjanji untuk tidak bertanya kenapa padaMu. Yang aku tahu saat ini aku harus menikmati rasa senang ini, kan? Tidak perlu bertanya kenapa, meski aku tahu bahagia yang itu mungkin belum waktunya. Aku harus mengumpulkan keeping-keping puzzle itu lagi.

Hmm.. sepertinya curhatku sampai di sini dulu. Ada seseorang yang tengah terjebak di labirin ruanganku, Tuhan. Aku harus membantunya. O ya, peta labirin hati yang kubuat sudah Engkau terima, kan? Titip itu untuk Tuan (?) ya, aku tidak ingin ia tersesat terlalu lama. Hehe.. I love you, Tuhan!

Kandang Beruang, 6 Maret 2013 ; 23.45

Karena Lelaki Juga Butuh Rindu

“Kamu kemana aja, sih? Udah dua hari nggak ada kabarnya?”

“Ada kok,”

“Iya, tapi gak berkabar itu sama aja kayak ditelen godzila!”

“Kok godzila sih?”

“Terserah aku dong. Kan yang lagi ngomel aku!”

“Lho? Kamu dari tadi ngomel ya? Aku kira kamu lagi ngerayu aku,”

“Arrrgggh! Susah ya ngomong sama kamu!”

“Kalau nggak mau ngomong sama aku kamu bisa nulis di surat kok. Aku juga bisa baca. Seru!”

“Tuh kan! Ada aja deh jawabannya. Kamu itu gak kangen apa sama aku?”

“Hmm…”

“Jawab kangen atau nggak aja pake mikir! Gimana kalau aku tanya, kamu cinta nggak sih sama aku? kamu jawabnya bisa lebaran monyet kali ya?”

“Hahaha..”

“Aku nggak lagi bercanda. Jangan ketawa!”

“Umm.. oke oke.”

“Begini sayang, ada masa dimana pria akan merasakan rindunya. Dan kamu tahu, apa fungsi pasangan hidup untuk si pria?”

“….”

“Seperti  yang pernah kamu bilang dulu, kalau peran pasangan hidup bagi seorang pria itu ibarat rumah. Ketika si pria merasa rindu, ia akan kembali pulang ke rumah dimana ia dirindukan. Dan sekarang aku sedang kembali ke ‘rumahku’. Sedang menikmati  omelan kamu seperti sekarang ini, karena aku tahu kamu menyayangiku dengan caramu.”

“….”

“Kamu tahu, secuek apapun seorang lelaki ia tetap butuh rindu. Tetap butuh rumah dimana ia bisa mengadu. Butuh dekap hangat serta omelan yang membuatnya selalu merasa disayang dan dikhawatirkan. Dan saat ini aku sedang  menjemput rinduku,”

Aaaakkkk! Ingin rasanya menghamburkan pelukan untuknya saat itu juga. Meskipun aku tahu, aku harus sabar menunggu 2 tahun lagi untuk bisa melakukannya, disaat kami sudah bisa bertatap muka. Bukan hanya bertatap di layar laptop saat pagi merayap datang.

Jakarta, 5 Februari 2013

LDR is about Understanding 

long-distance

Long Distance Relationship atau yang sering mereka bilang LDR menjadi momok menakutkan untuk sebagian besar orang. Pun saya kini. Dulu sekali, LDR memang tidak sempat mampir pada saya, tapi berhubungan layaknya LDR terlalu sering saya jalani. Kesibukan dan lokasi rumah plus kantor yang berbeda arah mata angin membuat hubungan kami macam LDR saja. Tapi sejauh itu, hubungan kami tidak ada masalah sama sekali. Berakhirnya hubungan itu juga bukan karena jarangnya komunikasi dan jarangnya pertemuan setiap harinya. Kami mencoba untuk mengerti satu sama lain.

Meskipun terkadang kesal dengan sikap cueknya ketika saya sedang membutuhkan sedikit perhatian karena pekerjaan yang semakin menggila dan mengharuskan saya pulang dini hari. Tapi, lagi-lagi saya mencoba mengerti dan kembali mengalah.

Sekarang, tidak ada lagi LDR. Short distance pun tidak. Tapi hal ini justru membuat saya berpikir. Berpikir lama sekali. Bagaimana mungkin hubungan sebatas pacaran jadi masalah ketika jarak terpisah jauh sekali, tapi ada sebuah pernikahan yang tetap berjalan baik adanya meskipun jarak dan zona waktu berbeda sedemikian rupa?

Pada akhirnya satu yang saya pahami, kalau jarak ataupun waktu tidak bisa menjadi alasan sebuah perpisahan. Kita manusia diberi hati untuk saling memahami dan akal untuk bisa mencari solusi mengatasi setiap masalah itu.

Namun, terkadang manusia juga lupa kalau saling mengerti dan percaya serta membebaskan adalah landasan awal berjalannya sebuah hubungan. Tidak perlulah lagi merasa insecure untuk sebuah hubungan. LDR is about understanding. Ya, memahami, mengerti, dan mau saling mendengarkan. Mungkin terdengar klise, tapi belum tentu mudah dijalankan. Meski tak mudah, bukan berarti tak mungkin, bukan? Semua hanya butuh usaha dan keikhlasan menjalankannya. Toh Tuhan itu tidak pernah tidur. Ia sangat tahu mana umatnya yang benar-benar berusaha menjalankan hubungan di jalanNya. Dan pada akhirnya, saling mengerti adalah hal yang paling dibutuhkan kini.

Kandang Beruang, menuju 9 Januari 2013.
*foto dipinjam di sini