[Nyinyir] Insecure

Sore yang tidak terlalu panas, tidak juga mendung. Meski tak bisa saya bilang sejuk juga. Tapi sore kali ini cukup menyenangkan; mendengarkan lagu-lagu Neri per Caso, menikmati segelas besar Chatime, serta ‘jalan-jalan’ mengunjungi ‘rumah’ teman-teman di dunia maya. Nikmat Tuhan mana lagi yang harus saya dustakan?

Selagi menikmati sore yang masih dengan keegoisannya bermain dengan sinar mentari, tetiba saya teringat email yang dilayangkan untuk saya (juga teman-teman) beberapa waktu lalu. Sebuah email pemberitahuan tentang peraturan baru.

Dem!

Mood saya nyungsep saat itu juga. Saya meninggalkan meja kerja dan beralih ke pinggir kolam, di mana kawan-kawan saya sedang menikmati sore mereka. Meskipun tetap dengan dunia masing-masing, entah apa dan ‘dimana’.

Di dalam email itu memberitahukan bahwa berdasarkan hasil rapat yang diadakan entah antara pihak siapa dengan pihak siapa, akhirnya diputuskan diberlakukannya peraturan baru. Soal jam kerja? Saya tak bermasalah (meskipun mungkin akan seperti yang dulu-dulu, sih!) Soal mematuhi SAS? Saya masih bisa pahami. Mengenai kelengkapan data yang harus dipenuhi, ini dia biang masalahnya.

Kalau hanya kelengkapan standar, saya bisa maklum, tapi ini menyangkut ijazah. Ya, tanda kelulusan saya yang pernah duduk manis di bangku kuliah itu diminta dan harus disimpan oleh perusahaan. Untuk yang satu ini, saya keberatan. Sangat keberatan.

Meskipun ada perjanjian hitam di atas putih kalau ada kerusakan sekecil apapun dengan ijazah saya perusahaan akan bertanggung jawab. Tapi, sejauh mana perusahaan akan bertanggung jawab? Tidak ada yang tahu pasti. Dan apakah perusahaan tahu kalau birokrasi kampus dalam mengurus ijazah itu cukup sulit (di kampus saya)? Hmm.. sepertinya perusahaan tidak tahu hal itu. Dan tahukah perusahaan kalau kampus saya tidak satu lokasi dengan perusahaan? Lagi-lagi jawaban mereka tidak.

Saya jadi merenung sejenak. Sepertinya perasaan ‘insecure’ tidak hanya menimpa abege jaman sekarang ya? Tetapi juga perusahaan saya. Mereka insecure kalau-kalau karyawannya akan hengkang dengan mudahnya. Mereka seperti kehilangan rasa percaya diri dan mulai pasang ‘gigi’ untuk bisa nggigit lebih dalam. Sakit ..sakit sekalian. Jangan tanggung tanggung! Mungkinitu filosofinya.

Andai saja komunikasi dan rasa percaya tidak hanya ditanamkan untuk urusan personal saja, tapi juga secara profesional, saya rasa sikap loyal setiap orang pasti akan tercipta dengan sendirinya. Merasa enggan untuk meninggalkan perusahaan yang tidak hanya memberinya gaji setiap bulan tapi memberinya rumah serta keluarga yang selalu hangat dan menyenangkan.

Tidak hanya dijadikan sapi perahan yang diambil sarinya dan kalau sudah habis, buang saja. Tentu bukan seperti itu.

Entahlah, ini saya yang terlalu nyinyir atau ketinggalan zaman ya? Apa jangan-jangan ini adalah peraturan yang memang diberlakukan oleh hampir semua perusahaan? Hmm.. kalau memang iya, wah.. ternyata yang merasa insecure itu banyak ya. Asal jangan galau aja perusahaannya. Hehe..

Lha iya dong, kalau perusahaan galau, anak-anak yang bernaung di dalamnya gimana nasibnya? Nanti kalau sampai ada yang berkeluh di twitter kena SP lagi?! Hehe.. Tenang-tenang, ini bukan tentang ‘rumah’ saya saat ini. ‘Rumah’ tetangga yang kemarin baru berkeluh kesah..

Hmm.. semoga ini hanya perasaan saya saja. Perasaan saya yang lagi campur aduk macam adonan martbak 678 di pertigaan Sajam yang terkenal itu.

Duh! Mulai ngelantur, sepertinya saya harus pamit dulu. Udara sore kali ini sangat sayang kalau saya abaikan tanpa kesan.

Selamat berakhir pekan untuk kamu, siapa saja yang memang menyambutnya dengan suka cita #halah

Advertisements

Smartphone (Kadang) Bukan Smartuser

Judulnya ekstrem? Tapi memang begitu, bukan? Saat ini pengguna smartphone di Indonesia sangat banyak. Jangankan mereka yang berduit, masyarakat kelas bawah pun sudah dapat membeli smartphone karena saking bersaingnya harga smartphone.
Namun sayangnya tidak dibarengi pengguna yang smart.

Baiklah, smartphone yang saya bicarakan akan saya persempit. Saya (masih) pengguna blackberry, meski sebagian besar kawan-kawan saya beralih ke Android dan Apple, saya masih menggunakannya. Kenapa?

Pertama karena saya tipe orang yang setia pada gadget selama gadget itu (masih) mampu memenuhi semua kebutuhan saya. Kedua karena BB yang saya miliki itu merupakan hadiah dari lomba menulis yang tak pernah saya ikuti (seorang teman mengirimkan tulisan saya ke panitia lomba). Dan ketiga, kebutuhan saya masih terlampau banyak sehingga dana untuk mengganti gadget belum jadi prioritas. Hehehe.. Klise ya.

Hmm.. kebanyakan prolog. Kembali ke topik 😉

Belakangan, saya sangat terganggu dengan teman-teman saya yang sering BM alias broadcast message yang isinya,sumpah nggak penting sama sekali. Sekalinya penting, mereka nggak pernah untuk kros cek lebih dulu kebenarannya.

Contoh?

Ada doa-doa yang katanya kalau dikirimkan kepada sejumlah orang akan membantu mengalirnya rejeki. Apabila tidak disebarkan akan ada musibah yang menimpa Ibu atau keluarga.

Oh please! Sejak kapan manusia jadi Tuhan? Kenapa meminta rejeki jadi berpatokan pada berapa jumlah pesan yang harus dikirim? Agak menggelikan! Ironisnya, yang mengirimkan itu orang-orang yang cukup berpendidikan. Nggak tanggung-tanggung, sarjana semua lho!

Lalu ada lagi yang mengirimkan pesan membutuhkan bantuan. Biasanya darah. Karena modusnya membutuhkan bantuan, biasanya orang dengan mudah menyebarkan pesan tersebut. Padahal, ada modus dibalik penyebaran pesan tersebut.

Ada oknum yang mengumpulkan nomor telepon setiap orang untuk kebutuhan jualan. Seperti broadcast KTA ataupun online shop. Ini kebangetan!

Sejak tahu hal ini, saya selalu memastikan kalau memang orang yang di dalam pesan membutuhkan bantuan dengan cara invite PIN yang ada. Untuk urusan donor darah, biasanya saya infokan ke @justsilly. Tim beliau yang akan follow up masalah itu. Apakah  info itu benar atau hanya hoax.

Belum lagi yang setiap pagi harus test contact tak berkesudahan. Daripada nyebar TC seperti itu, kenapa nggak sekalian sapa? Bertanya kabar, itu jauh lebih beretika dibanding harus menyebar TC seenaknya. Hmm..kadang kita lupa cara bertegur sapa. Atau memang sudah dilupakan cara silaturahmi itu?

Ada lagi yang jualan. Broadcast message barang dagangannya, jelas itu sangat mengganggu. Bagaimana kalau misalnya si penerima pesan tengah menunggu pesan yang sangat penting. Tapi saat melihat lampu LED berkedip ia berharap orang yang ditunggu tapi ternyata hanya pesan tanpa ‘isi’ yang datang. Coba sekarang diubah posisinya, bagaimana rasanya?

Kesemua masalah di atas sudah biasa? Hmm.. bagaimana dengan yang ini. Saya baru-baru ini merasakan terganggu dengan masalah satu ini.

Recent update pada BB saya tidak saya matikan. Toh saya jarang memperhatikan recent update seseorang. Sampai suatu hari saya iseng membukanya. Alamaaaakkk!

Ada seseorang di daftar teman saya yang bergonta ganti nama dalam selang waktu 10 menit. Bergonata ganti status dalam beberapa detik. Up date lokasi terakhirnya belum lagi status jejaring sosial yang dikaitkan ke status BB nya. Ada lagi yang menuliskan pesan untuk suaminya di kolom status itu.

Untuk yang satu ini saya tidak pernah habis pikir. Kok bisa?! Pesan personal seharusnya tidak ditujukan untuk khalayak umum. Ah, atau mungkin budaya memang sudah bergeser bahkan berubah? Atau saya yang terlalu kuno menyikapinya?

Pastinya, saya terganggu. Tidak sedikit yang akhirnya saya hapus dari daftar teman di BB. Buat saya, komunikasi tidak terbatas pada chat BBM saja. Saya masih menyimpan nomor telepon orang tersebut. Kalaupun saya ingin tahu kabarnya ataupun ada keperluan lain saya akan menghubunginya via sms atau telepon.

Kalau cara saya ini dibilang kuno, monggo. Tapi saya memilih untuk tidak jadi orang yang kepo dan tidak ingin terganggu dengan intrik per-BB-an. Kalau kalian merasa terganggu dengan tulisan saya ini karena terlalu nyinyir, monggo di unfollow. Hehehe.. :p

[Random]

Menulis itu harusnya menenyangkan. Bukan beban. Memang itu yang harus ditanamkan di kepala setiap orang yang ingin menulis. Lantas, apakah saya sudah merasakannya?

Dulu sekali, saya merasakannya. Menulis itu menuangkan semua yang terkenang di kepala, tertanam di hati, tercium lamat-lamat oleh hidung, tercecap segar di lidah, tergores perih di kulit dan lainnya yang bisa dirasakan seluruh panca indera.

Kini, semua itu blur. Absurd. Antara ambisi, emosi, dan keinginan yang terlalu. Pada akhirnya kenikmatan itu hilang dan tenggelam, tidak berkesan.

Apa iya saya sudah kehilangan rasa?

Terlalu banyak aturan justru membatasi otak saya untuk berlari. Dia jadi terlalu berhati-hati. Ngeri  sama komentar sana sini. Ragu dan akhirnya buntu. Belum lagi ocehan yang justru menjerumuskan otak saya dalam labirin pikirannya. Mengatur dan mengarahkan saya untuk menjadi sepertinya. Entah seperti siapa.

Kadang saya ngobrol sama hati dan makhluk kerdil di kepala, yang kalau sedang anteng cukup bijak, bahwasanya bahasa itu hanya urusan kesepakatan saja. Mengolah rasa, kata, dan menyuguhkannya untuk para pembaca. Dan bahasa itu ndak saklek,  karena dia berurusan dengan hati yang punya selera masing-masing. Sederhana.

Tak ubahnya seorang chef yang menyajikan hidangan nan lezat yang tak hanya dicecap indera perasa tapi juga tampak cantik di mata. Setiap yang disajikan bukan hanya untuk pemuas penghuni perut saja tapi juga batin. Karena ada sebagian hati yang tulus tersisip halus untuk jadi pelengkapnya.

Serupa dengan menulis. Hati punya peran penting. Kalau pembaca tidak puas dengan apa yang dibaca, yasudah. Tak perlu dipaksakan juga untuk puas. Tinggal pindah dan cari yang lain.

Toh, buat saya saat ini menulis untuk mengeluarkan apa yang mengganjal. Bukan memenuhi kebutuhan pasar, yang sayangnya hanya bentukan karena kebutuhan.

Hhh… saya egois!

Lalu, apa yang saya lakukan sekarang? Mungkin saya harus berhenti sejenak. Istirahatkan otak yang mulai berkelahi dengan ‘si kecil’, berebutan antara hati, logika, dan pembaca.

Karenanya, saya pamit. Sebentar saja.

MARAH

MARAH. Itu yang saya rasakan pagi ini. Ketika ada yang berjalan tidak pada aturannya. Ketika hak-hak menjadi terpinggirkan karena ego yang terlalu dimanjakan pemiliknya.

Ada kecewa yang menggunung tak tertampung, hingga nyaris meledak tak tentu arah. Atau jangan-jangan marah saya sudah meledak? Entahlah. Saya tak tahu dengan pasti.

Kini, yang saya coba pahami adalah bagaimana cara meredamnya. Mengikhlaskan, berdialog kembali dengan hati, atau mencoba untuk mengerti. Meski saya tahu pasti amarah saya ini untuk sesuatu yang benar untuk diperjuangkan.

Siapa Bilang (?)

only it doesn't mean lonely  :)

only it doesn’t mean lonely 🙂

Ada yang bilang anak tunggal itu manja. Ada juga yang bilang anak tunggal itu selalu bergantung dengan orang lain. Dan nggak sedikit juga yang bilang kalau anak tunggal itu selalu saja merepotkan karena tidak bisa hidup mandiri atau sebagai biang masalah karena sifat egoisnya.

Kadang gerah juga mendengar penilaian orang tentang anak tunggal. Aku adalah anak tunggal yang hidup dengan kemandirian. Sejak kecil tidak pernah dimanja berlebihan. Setiap keinginan harus diusahakan bukan didapat dengan merengek kepada Ibu. Bahkan ketika beranjak dewasa, embel-embel anak tunggal bukan lagi jadi momok menakutkan untuk bepergian ataupun berpetualang. Ya, meskipun harus diakui kewajiban untuk membuat laporan jadi dua kali lebih banyak.

Aku lahir dan besar bukan dari keluarga yang bergelimang materi. Sejak duduk di bangku kuliah aku sudah harus mencukupi segala kebutuhan pribadi dan sesekali untuk kebutuhan di rumah. Pun biaya kuliah aku penuhi sendiri. Beruntung ada program beasiswa yang diajukan dosen kelas agar aku meneruskan kuliah. Hmm.. setidaknya untuk urusan dengan bidang kemahasiswaan bisa dibilang aman.

Sekarang, semua tanggung jawab di rumah sudah ada di pundakku. Bahkan sudah  sejak aku benar-benar terjun di dunia kerja. Dari urusan yang sangat besar seperti mengganti genteng yang bocor karena kucing kawin hingga remeh temeh macam persediaan gula dan kopi di rumah.

Kadang, ada kalanya aku merasa lelah untuk mengurusi semuanya. Ada keinginan untuk sekadar menyerahkannya kepada siapa saja di rumah. Tapi sama siapa? Haha.. Tidak ada yang bisa diserahkan tanggung jawab itu. Aku hanya sendiri, Ibu memang sebaiknya sudah tidak dibebani dengan hal-hal semacam ini lagi.

Tapi jujur aku sangat menikmati meskipun keringat dingin mendera ketika harus naik tangga yang begitu tinggi demi memasang kawat jemuran di tembok belakang. Meski sebal karena genteng pecah hanya karena lihat ‘resepsi’ kucing malam-malam. Dan pusing kepala karena harus membuat perencanaan keuangan yang sejujurnya aku tak pernah sukai sejak sekolah dulu.

Meskipun begitu, aku (sangat) menikmatinya. Dan kalau sudah seperti ini siapa yang masih mau bilang kalau anak tunggal itu nggak bisa hidup mandiri?

Kemang, 18 Maret 2013
*nonayangmumetlihatpengeluaranhahahaha…

Foto dipinjam di sini

Cerita Tentang Russel

Ini adalah minggu pertama aku mengajar di sekolah ini. Sekolah bertaraf internasional yang terletak di bilangan Jakarta Barat. Tegang? Ah, tentu saja. Kali ini aku bukan menghadapi wajah-wajah mahasiswa tengil dan tukang gombal seperti tahun lalu. Sekarang yang kuhadapi adalah wajah-wajah lugu yang masih gemar minum susu.

Wajah-wajah polos yang masih sering ngompol di celana dan memberikan makan siang nya hanya karena ia tak suka bentuk potongan sayurnya. Ya, aku mulai mengajar anak-anak yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Tertantang? Ah, tentu saja!

Mengajar mereka justru lebih menantang jika dibandingkan harus menghadapi muka genit mahasiswa tingkat akhir yang kutemui hampir setiap hari.

Cerita seru selalu saja terpilin. Ada saja celotehan mereka yang membuat perutku sakit. Tak sedikit pula tingkah laku mereka yang kadang membuatku gemas namun harus kutahan rasa inginku untuk mencubit pipi gempal kemerahan itu. Kadang, aku tak tahan untuk melayangkan pelukan untuk murid-murid gempalku yang tak bisa duduk diam di bangkunya. Kalau sudah begini, mereka akan memelukku lebih erat dan mengatakan “I love you, Miss Tya”. Ah, manis!

Di kelas, ada seorang anak yang sudah mencuri perhatianku sejak pertama. Aku selalu memanggilnya Russel. Ya, karena ia mirip sekali dengan Russel si anak anggota pramuka yang ada di film UP. Gempal dan menggemaskan!

Siang ini pelajaran Bahasa Indonesia. Murid-murid di kelas kuberi tugas untuk latihan menulis selagi aku memeriksa hasil pekerjaan mereka yang lain. Disaat anak-anak yang lain asyik dengan buku dan pensil mereka, Russel justru sibuk sendiri dengan pensilnya.

Kuperhatikan ia dari tempatku yang hanya berjarak lima jengkal. Oh ya, Russel tidak pernah suka duduk di belakang. Padahal tubuhnya sering menghalangi pandangan Sean yang tubuhnya jauh lebih kecil, setengah dari tubuh Russel. Kalau sudah begini, aku harus mendamaikan mereka dengan membuat bangku sejajar dua agar mereka bisa berada di barisan depan.

Balik lagi, Russel sibuk memainkan pensil Mickey Mousenya. Setiap ia mulai menulis ia menjatuhkan pensilnya. Diambilnya pensil itu dan kembali menulis selang beberapa saat pensil itu dijatuhkannya lagi. Aku yang sejak tadi memperhatikannya jadi gerah juga. Kutegur ia.

“Russel, kalau kamu main-main terus dengan pensilmu, tugas yang Miss.Tya kasih nggak akan selesai ,” tegurku.

“Ini susah, Miss,” jawabnya tanpa mau melihat mataku langsung.

“Apanya yang susah? Kan sudah dikasih contoh tadi,” nadaku sedikit meninggi.

Ia hanya tertunduk. Memaju mundurkan pensil yang tergeletak di atas buku tulisnya. Wajahnya sulit kutebak apakah ia memang sedang memberontak dari perintahku tadi atau ia menyesal.

Tiba-tiba..

“Aku ngga bisa pakai ini, Miss,” wajahnya melihatku dengan memelas sambil menunjuk pensil yang masih dimain-mainkannya.

Aku yang bingung dengan jawabannya hanya bisa bertanya “kenapa?” sambil menunggu rangkaian jawabannya yang lain.

“Pensil ini nggak bisa aku pegang, Miss. Pasti terlepas terus,” tuturnya sambil memperlihatkan jari-jarinya yang pendek dan gempal.

Kontan saja saat itu juga tawaku ingin meledak tapi segera kutahan dengan sekuat tenaga. Jari-jari Russel yang gemuk-gemuk itu tidak bisa memegang pensil dengan benar, sehingga pensil itu selalu tergelincir dari tangannya. Mukanya yang sedih, membuatku menahan tawa segera.

“Yasudah, kamu nulisnya pelan-pelan aja ya. Biar pensil kamu nggak jatuh lagi,” hiburku yang akhirnya membuat ia kembali tersenyum dan semangat untuk menulis lagi.

***

Pekerjaanku memeriksa tugas-tugas ini hampir selesai ketika Russel mencoba mengganggu Sean yang membuat si kecil itu berteriak nyaring dan melengking. Aku menyerah kalau Sean sudah mulai berteriak-teriak. Pusing!

Aku mencoba melerainya.

“Hei..hei.. kalian kenapa ribut-ribut? “ tanyaku sambil menengahi mereka yang mencoba saling pukul.

“Itu tuh Russel Miss, masa aku disuruh-suruh terus dari tadi. Tugasku belum selesaaaaaaiiii,” teriak Sean yang nyaris menyaingi Mariah Carey dengan nada falsetonya.

Russel yang memang tahu ia bersalah, hanya  menunduk sambil memainkan ujung rompi bajunya.

“Russel, kamu minta apa sama Sean sampai Sean marah?” tanyaku pelan-pelan. Russel hanya diam. Matanya tak berani melihatku ia hanya menunduk dalam-dalam sambil terus memainkan ujung bajunya. Sedangkan Sean yang sudah mulai tenang kembali asyik dengan buku dan pensilnya. Syukurlah!

“Russel.. Miss Tya tanya sama kamu lho..” aku coba bertanya lagi padanya.

“Aku Cuma minta tolong ambilkan pensil ku yang jatuh di lantai doang kok Miss,”jawabnya sambil menunjuk pensil yang terjatuh di lantai.

“Kenapa kamu nggak ambil sendiri?” tanyaku lagi.

“Nggak bisa!” sanggahnya dingin. Ah, anak ini sedang berulah lagi rupanya. Aku mulai memaksa ia untuk mengambil pensil yang jatuh. Dan ia tetap menolak.

“AKU NGGAK BISA, MISS!” teriaknya kepadaku. Aku mulai sedikit memaksa ia untuk mengambilnya dengan sedikit memberikan pandangan tajam ke arahnya.

Dengan berat hati ia mulai mencoba meraih pensil itu. Tapi tidak bisa. Tangannya tak sanggup menggapai pensil itu.

“Russel, kalau kamu ngambilnya begitu pasi susah, coba jongkok dan ambil,” kataku sambil terus memperhatikan apa yang dikerjakannya.

“Uh..uh.. sulit Miss!”

AStaga! Sial! Aku baru menyadari satu hal. Russel tidak bisa jongkok! Paha dan betis yang gempal agaknya menyulitkan ia untuk melakukan itu terlebih perutnya yang tambun makin mempersulit ruang geraknya.

Tapi demi Tuhan, di luar rasa kasihanku melihatnya yang bersusah payah mencoba mengambil pensil itu aku tertawa melihat pemandangan lucu di hadapanku. Tapi aku urungkan niat menolongnya. Ia harus belajar untuk berusaha mengambil apa yang ia memang inginkan dan perlukan.

Ada rasa inginku untuk memberi tahunya untuk mencari cara lain, tapi ia tetap berusaha jongkok untuk mengambil pensil itu. Peluh sudah mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam menahan sesak saat ia mulai jongkok. Tapi tiba-tiba ia berdiri. Dan men gembangkan senyum lebar. Aku heran dengan sikapnya.

Lalu dalam hitungan detik ia duduk dan tengkurap untuk bisa menjangkau pensil yang ada di bawah mejanya. Ah, Russelku pintar! Aku menahan tawa melihat gaya nya yang lucu saat mencoba menggapai pensil itu. Tapi akujuga terharu dengan usahanya.

Satu masalah selesai,  masalah lainnya muncul. Ia tak bisa berdiri! Haha.. Akhirnya aku tak tega, dan memutuskan untuk membantunya. Kulihat bajunya sudah basah dengan peluh lengkap dengan debu yang menempel akibat aksinya tadi.

Aku langsung menghamburkan pelukan untuknya yang langsung disambut dengan sebuah pertanyaan yang tak akan aku lupa hingga sekarang.

“Miss Tya udah nggak marah lagi kan?”

“Ngga dong. Kamu kan pinter!” jawabku sambil mengusap kepalanya.

“Horeeee!! Aku takut liat Miss. Tya tadi, matanya kayak mau copot! Kayak Mad-Eye Moody di Harry Potter!” tuturnya riang sambil memamerkan deret gigi yang tak lagi utuh karena cokelat dan permen.

Aaaaakkk!!! Anak ini! Aku makin menghujaninya dengan pelukan erat sambil mencubit-cubit pipi gemuknya tanpa peduli ia yang berontak ingin kabur dariku.

Kemang, 4 Maret 2013

Terjebak MLM

“Lo nggak tahu rasanya dijebak sih! Sebel banget gue. Kalau bukan temen main gue dari kecil udah gue damprat tuh orang”

Aku hanya manggut-manggut saat temanku menceritakan kisahnya baru saja. Ia merasa dijebak oleh kawannya yang alih-alih ingin bertemu karena rindu, tidak tahunya ia justru ditawari untuk ikut salah satu multi-level marketing alis MLM yang cukup terkenal di Jakarta.

Aku tersenyum melihat ia yang masih bersungut-sungut menceritakan kisahnya. Seperti tak terima dengan apa yang baru saja menimpanya, aku maklum. Aku pernah berada di posisinya. Hanya saja saat itu aku tidak merasa dijebak. Aku datang karena aku memang ingin tahu, ingin menjadi salah satunya, dan ingin sukses bersama. Haha.. pemikiran seorang anak sekolah yang ingin memiliki uang saku sendiri.

Mungkin sebagian besar orang saat itu (termasuk aku), merasa sangat keren menjadi salah satu dari ‘orang-orang penting’ berdasi lengkap dengan jas dan rambut yang tertata klimis. Hampir setiap minggu aku mengikuti pertemuannya. Sederhana saja alasanku, aku senang berada di antara orang-orang yang punya semangat dan pikiran yang positif. Aku membuat penyeimbang dalam hidup. Tak mau melulu jadi pemberontak di dunia kampus, tapi juga ingin sukses berpenghasilan. Itu sih pikiran sederhana kala itu.

Temanku masih terus saja menceritakan apa saja kejadian yang dialami selama tiga jam terjebak di dalamnya. Ia menceritakan kalau ia disuruh menulis beberapa mimpi yang paling ia inginkan dalam selembar kertas, di pertemuan pertamanya.

Aku jadi ingat, apa alasanku pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Ada banyak hal yang tidak sejalan dengan hatiku. Tiap kali bertemu, mereka selalu menonjolkan kemewahan, kesuksesan, hingga membuat banyak orang bermimpi. Bagus memang, tapi ada hal-hal yang tidak mereka tunjukkan secara sosial.  Itu menurut kacamataku.

Suatu hari, aku pernah disuruhnya menuliskan mimpi di selembar kertas. Dengan senang hati aku menuliskannya. Terlalu banyak memang tapi aku tahu apa yang teratas saat itu. Saat itu kami dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu leader yang mencoba membimbing kami menulis mimpi. Hmm..aneh, kenapa mimipi pribadi harus dibimbing juga? Baiklah aku turuti sampai situ.

Saatnya membacakan mimpi di depan anggota kelompok. Sayangnya, mimpi yang kupunya dicibir olehnya, pemimpin kelompok kecil itu. Menurutnya mimpi ku terlalu sederhana, kurang spektakuler. Saat itu juga aku merasa direndahkan. O ya, buatku mimpi itu seperti harga diri. Aku bukan dari keluarga berada yang punya materi. Tapi aku punya mimpi yang bikin aku tetap hidup sampai hari ini. Tentu dengan ijin Tuhanku.

Jadi kalau ada yang menginjak-injak mimpi, aku tak terima. Apapun mimpi yang orang punya harus dihargai apapun bentuknya. Setiap orang pun punya prioritas, jadi jangan samakan. Sejak saat itu, aku memutuskan keluar dan tidak akan pernah datang lagi. Haha.. Aku yang emosional. Memilih untuk pergi saja dan mengabaikan segala bentuk undangan yang dilayangkan. Bahkan mereka tak segan-segan untuk datang ke rumahku. Tapi aku tak bergeming.

Sekarang, aku hanya tersenyum mengingat kejadian itu. Mereka, teman-temanku yang pernah mengajakku bergabung di sana masih menjadi orang yang sama. Tidak berbeda dengan sebelumnya bertahun tahun silam. Dan aku, bahagia dengan apa yang aku kerjakan sekarang. Buatku, puzzle mimpiku sedang tersusun pelan-pelan, karena Tuhan bekerja dengan caranya bukan cara yang kita punya. Dan ukuran sukses seseorang nggak melulu ditakar melalui rupiah yang dihasilkan. Itu saja.

Depok, 3 Maret 2013

Ada Sempurna di Ketidaksempurnaan

Siang ini, aku memilih ‘mengasingkan’ diri di salah satu sudut café yang lokasinya tak jauh dari kantor. Kebetulan sekali salah satu manager di tempat ini adalah kawanku. Jadi tak pernah masalah untuk datang ke sana meskipun aku hanya membeli segelas jus buah atau secangkir kopi karena makan siang biasanya aku membawanya dari rumah.

Tidak jarang aku menghabiskan siang, sore, bahkan malam di tempat ini. Jujur, suasana yang tercipta di sini membuat makan siang sederhana dalam kotak berwarna jingga jadi istimewa rasanya. Sebuah kebun terhampar luas yang dihiasi berbagai macam tanaman bunga. Kolam besar ada di salah satu sudutnya, membuat pandangan jadi terasa segar dengan riak yang terpantul di permukaannya.

Aku memilih duduk di salah satu meja yang menghadap kolam. Dengan sebuah payung besar menduhkan pandangan serta melindungiku dari paparan matahari siang ini. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan makan siangku. Cukup 15 menit saja. Sisanya, aku akan menenggelamkan diri dalam rentetan kata yang kubaca di dunia maya. Atau akan mengulik beragam rekam gambar untuk keperluan ilustrasi sore nanti.

“Ah, nggak mau ah.. Ulangi lagi!”

Sebuah teriakan dari arah kolam menggangguku. Kulihat sekilas, ada sekelompok perempuan berbaju serupa – merah muda – tengah menjalankan aksinya di depan kamera. Aku hanya tersenyum-senyum saja melihatnya.

Aku tenggelam lagi dalam media yang tengah kubaca sambil sesekali menyesap Flores Bajawa. Ah, Tuhan.. nikmat mana lagi yang harus kudustakan? Aku tersenyum sendiri, menikmati semua yang ada dihadapanku saat ini.

“Iiihh..kenapa sih? Gue gak suka. Ulangi lagi!”

Kembali suara itu tertangkap telingaku. Entah apa kali ini masalahnya.

“Pokoknya Lo kudu ambil bagian sini, jangan sebelah sini. Gue nggak suka,” kata-katanya barusan terdengar biasa saja. Tapi saat kulihat ia mengatakannya ada kesan mengintimidasi kawannya yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku jadi penasaran apa yang sedang ia debatkan. Kini, bacaanku tidak lagi menarik setelah melihat objek nyata yang tengah menarik urat di pinggir kolam sana. Ya, aku masih manusia yang punya rasa ingin tahu besar juga. Meskipun ini sebenarnya bukan urusanku juga.

“Aaaah, ini masih keliatan Je! Ulangi lagi, Ah!”

Perintah si wanita itu. Lambat laun aku menyadari satu hal. Ia menginginkan hasil rekam gambar di ponsel miliknya tidak boleh memperlihatkan bagian tubuhnya yang terlihat gemuk. Ia ingin tampak sempurna, langsing seperti kawan-kawan lainnya. Padahal menurutku, tidak ada yang salah dengannya. Ia masih juga cantik, tidak ada yang kurang. Dan menurutku, ia cenderung seksi. Terlebih dengan kandungan yang sepertinya sudah menginjak usia lebih dari 7 bulan yang membuat dirinya semakin cantik dimataku.

Oh percayalah, seorang wanita akan semakin cantik saat ia mengandung. Setidaknya itu obrolan yang pernah kutangkap diantara teman-teman priaku. Mereka justru tak peduli dengan lemak yang timbul karena porsi makan yang menjadi berkali-kali lipat banyaknya. Karena menurut mereka (pria) ada cinta yang tengah dilindungi di dalam rahim wanita. Itu yang membuat wanita selalu tampak berbeda ketika sedang berbadan dua. Atau aku bisa menyebutnya, sempurna.

Kemang, 14 Februari 2013

Perjalanan Pagi Ini

Matahari pagi ini sedikit malu-malu menunaikan tugasnya. Mungkin ia terlalu asik membenamkan diri di peraduan karena dibuai oleh awan-awan kelabu nan gendut di atas sana. Aku memandang langit sekilas, tak menyilaukan. Aku tak perlu memicingkan mata untuk bisa menatap langit pagi ini. Dan aku tak perlu pusing memikirkan bagaimana melindungi punggung kakiku agar tidak terpanggang saat menunggu kopaja tua di ujung jalan. Kamu tahu? Lamanya serupa dijajah Belanda 350 tahun. Ya, kurasa selama itu rasanya. Dimana harap-harap cemas biasa menggayut manja.

Sebelum kulanjutkan perjalanan menggunakan kopaja, aku menggunakan angkot biru tua yang biasa menyambutku di mulut gang rumahku. Ada beda di perjalanan kali ini, aku tak mengisinya dengan tidur. Aku memilih mengedarkan pandanganku ke jalan raya yang pagi ini cukup bersahabat dengan lalu lintas hatiku. Tidak padat, tapi juga tidak lengang.

Ada aroma tanah basah yang tercium lamat-lamat oleh hidungku melalui celah jendela yang terbuka sedikit saja. Apakah pagi tadi hujan? Hmm..kurasa tidak. Ada aroma segar yang mengisi peparuku dengan cukup baik. Memberikan asupan rasa dalam kepala yang kini tengah kuolah agar tertuang dalam aksara tapi entah bagaimana menyebutnya.

Kuhirup lagi dalam-dalam aroma ini. Uhuuk! Ada bau polutan jahat yang sengaja ingin merusak pagiku. Segera kurapatkan celah jendela untuk sementara. Aku tak akan membiarkan ia masuk dalam paru-paruku dan menciutkan usaha peparu dalam menarik oksigen di udara. Tidak akan!

Mataku tertumbuk pada ruas-ruas jalan yang kini tampak berbeda. Daun-daun berserakan di sisi kiri jalan. Bukan daun kuning yang gugur karena pohon-pohon ini mulai meranggas di musim kemarau. Tapi daun ini memang sengaja dipangkas entah oleh siapa. Potongan balok-balok kayu tergolek tak berjauhan dari tumpukan sampah daun hijau di ruas kiri jalan.

Ada sedih yang tak bisa aku ungkapkan bagaimana rasanya. Pohon-pohon angsana rindang di sepanjang jalan raya Bogor kini mulai menghilang perlahan. Awalnya hanya dahan-dahan, tapi kini sudah dibabat habis hingga batang utamanya.

Mungkin ini memperhitungkan faktor keselamatan pengguna jalan raya. Aku masih ingat betul bagaimana salah satu pohon ini tumbang dan akhirnya menimpa salah satu mobil yang sedang melaju di jalan raya. Mobil yang berada tepat di depan angkutan yang sedang kugunakan.

Lantas bagaimana dengan konsep lahan hijau yang ingin diciptakan kalau semua pohon-pohon ini harus dipangkas habis? Bagaimana nasib peparu yang masih merindukan oksigen di udara? Jika setiap pagi saja sudah harus mencium polutan yang berterbangan dengan bebasnya. Bahkan merpati saja kini tak lagi terbang bebas, tak seperti lagu yang dibawakan Kahitna.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menikmati setiap oksigen yang mengisi peparu perlahan, meskipun ada saja orang yang merusak pagi dengan mengepulkan asap tembakau seenaknya. Tidakkah mereka pernah merasakan indahnya pagi tanpa harus memulainya dengan sebatang tembakau yang terhisap dalam-dalam di bibir kehitaman? Ah, aku terlalu nyinyir pagi ini.

Kopaja tua sudah terlihat di ujung jalan sana. Aku harus bersiap untuk turun. Menghentikan lamunan serta obrolan di kepala segera, jika tidak ingin tertinggal laju kopaja. Ya, pagiku tak seindah yang kulamunkan baru saja. Aku masih harus menjadi monyet kopaja untuk waktu yang entah berapa lama.

 

Pagi Semestaaa.. 🙂

Jakarta, 14 Februari 2013

Tak Akan Lama. Janji!

Memulai hari dengan sebuah air mata rasanya itu akan mengacaukan mood satu harian. Entah untuk orang lain, tapi buat saya Senin pagi ditambah air mata menghasilkan jenuh sejadinya, mellow se-mellow-mellownya, dan semua yang kelabu ‘mampir’ seenaknya.

Saya nggak pernah tahu ada apa dengan saya hari ini. Pagi tadi saya mendapat telepon dari seseorang yang belakangan memang mengisi hidup saya. Nothing special. But I know my morning will be fine after his call. Berangkat kerja lebih pagi dari biasanya mencoba menghindari macet di Senin yang luar biasa.

Tiba di tempat kopaja tua biasa menyandarkan tubuh ringkihnya. Tidak ada satupun kopaja mangkal di sana. Saya memilih untuk naik kowanbisata, dengan resiko ongkos saya lebih mahal dari yang seharusnya (selain ojek yang saya harus hitung lebih jauh jaraknya).

Bis kowanbisata sudah terlalu penuh. Untunglah saya masih bisa berdiri dengan baik di ambang pintu. Sampai sini, saya masih baik-baik saja. Ada seorang pria berbadan sedikit tambun langsung menjejakkan kakinya di ambang pintu, mendesak saya hingga terhimpit diantara laki-laki lain yang berdiri di dekat saya. Di sini, posisi saya sudah tidak tegak sempurna.

Pinggang saya mulai sakit terdesak benda entah apa yang dibawa seorang wanita di belakang saya. Bersabar hanya satu kuncinya. Macet mengular sejak memasuki pintu tol hingga berada di sepanjang jalur lingkar luar Jakarta. Menyemangati diri untuk tetap optimis, semangat, tidak boleh menyerah saya lakukan terus menerus. Berusaha tersenyum melihat pantulan wajah saya di salah satu kaca yang ada di pintu.

Menarik nafas dan membuangnya sambil meneriakkan dalam hati, “Kamu Bisa! Impian kamu ada di depan mata!”. Ya, kata itu saya lantunkan berulang kali. Terus menerus hingga mungkin lelaki yang bergelayutan di sebelah saya menganggap saya aneh dengan racauan yang keluar dari bibir saya.

Mobil melaju kencang ketika jalanan sedikit lengang, namun ngerem mendadak tiba-tiba. Pinggang saya terdesak oleh benda yang dibawa penumpang lainnya. Sakit bukan main rasanya. Tiba-tiba saya terbayang wajah Mama, dia yang ada di Jogja, masa depan saya, mimpi saya, dan juga apa yang sedang saya perjuangkan saat ini.

Deg! Saya mellow. Ada gemuruh di dada saya dan rasa yang tertahan di tenggorokan mendesak minta keluar. Saya menahannya, mencoba menyebut nama Tuhan sebanyak yang saya bisa. Saya tak mau kalah dengan kondisi yang harus saya jalani pagi ini. Tanpa terasa ujung mata saya menghangat. Sepasang air mata saya jatuh, meski terhalang dengan sapu tangan yang saya dekapkan erat di hidung menghindari polutan jahanam yang ada di jalanan. Sedih sejadi-jadinya, tapi saya mencoba untuk tegar.

Hingga tiba di perempatan Cilandak, seorang kernet mendorong saya selagi bis masih melaju dengan cepatnya. Saya meminta ia untuk tidak mendorong saya.

“Bang jangan dorong-dorong, nanti saya jatuh,” itu yang saya katakana padanya.

“Makanya naik ke atas!” hardiknya membuat saya kesal. Tapi saya mencoba mengatakan padanya dengan nada biasa saja.

“Saya turun di depan kok bang,”

“ASTAGAAA! Hari gini masih ada ajah orang SOMBONG! Susah banget diatur!” teriaknya kepada saya. Saya kaget dengan kata-katanya. Mungkin kalau saya tadi berbicara dengan nada yang ketus saya maklum dia membalasnya seperti itu. Tapi, ini…

Akhirnya saya memutuskan untuk turun meskipun saya harus berjalan kaki sangat jauh karenanya. Saat saya mencoba menyebrangi jalanan dan berharap lampu lalu lintas masih merah menyala, saya dengar si kernet kurang ajar itu meneriakkan makian pada saya. Makian yang seharusnya tidak saya dengar di Senin pagi. Makian yang bikin siapa saja yang mendengarnya pasti ingin mendaratkan sebuah bogem mentah di mulut kernet kurang ajar itu.

Tapi saya memilih untuk berjalan dan meninggalkannya. Mencoba menghilangkan suaranya dari kepala. Apa daya, suaranya masih saja nyaring di telinga. Saya sakit hati. Air mata saya keluar makin menjadi. Saya terisak di pinggir jalan raya. Mengeluarkan emosi yang sejak tadi mengganjal. Saya marah? Iya. Saya terhina? Iya. Tapi untuk apa saya ladeni makhluk tak berhati tadi? Untuk sebuah kepuasan sesaat? Tidak akan saya biarkan. Jadi saya mengalah hari ini, menangis hari ini karena saya masih manusia. Saya butuh mengeluarkan secuil kerikil yang mengganjal di hati kecil saya. Membersihkan mata saya dengan air mata sementara. Ya, cukup sementara saja. Tak perlu lama-lama!

Jakarta, 4 Februari 2013